Hari tentang doa yang masih sama

Tiga bulan yang lalu usia saya telah sampai ke angka dua yang di belakangnya sudah banyak. Ke umur duapuluh yang ampir dekat ke angka tiga puluh. Di mana krim anti aging makin rutin saya pakai. Di mana kehilangan tabir surya lebih bikin saya sewot ketimbang kehilangan pacar.

Ulang tahun kemarin berlalu  biasa. Penambahan umur seperti seharusnya. Ucapan-ucapan yang biasa disertai iringan doa yang masih sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi.

Klasik.

Semoga jodoh saya disegerakan.

Dan sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi, balasan aamiin dengan khidmat saya lantunkan. Agar semesta mendengarkan meski suara saya terlalu sayup.

Tulisan tematik mengenai ulang tahun say,a memang berniat saya tuliskan. Karena entah sejak usia berapa, tulisan mengenai penambahan umur rutin saya tulis meskipun terkadang telat. Bahkan telat sebulan. Ini telat 3 bulan malah.

Ya… mengenai jarang nulis ini, bukan saya aja kok yang ngalamin. Bloger-bloger kece favorite saya juga blognya lama yang hiatus. Setahun posting Cuma 3 tulisan. Atau malah ada yang memang sudah menutup blognya. Entah karena ngeblog tidak seheboh dulu lagi. Entah para blogger yang semakin banyak urusan dunia yang mesti dibenahi.

 

Untuk saya, males dan lebih suka nonton streaming drama korea.

 

Minggu lalu, seluruh pegawai di kantor saya nongkrong cantik di sebuah kafe nge-hits di Banda Aceh. Ngobrol ngalor ngidul. Begosip ini itu. Sesekali bahas OSL dan target. Sesekali adu-aduan NPL. Entahlah…

Hingga ke percakapan tentang bunga. Tentang rangkaian bunga super besar yang diberikan rekan kerja saya ke kekasihnya yang wisuda. Lalu ditimpali dengan rangkaian bunga tak kalah aduhai dari seseorang untuk rekan satu kantor kami. Buket bunga ulang tahun. Yang jumlah mawarnya setara dengan usia dia. 22 tangkai untuk ulang tahun ke 22.

Lalu tetiba saya ingat. Ulang tahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu saya juga diberikan rangkaian bunga mawar oleh seseorang.  Namun jumlah tangkai mawar segar berwarna merah seperti warna kesukaan saya itu tidak menunjukkan jumlah usia saya.

Jumlah tangkai mawar itu hanya 4. Sedangkan usia saya  7  kali lipatnya.

Namun meskipun hanya berjumlah 4 tangkai, tidak membuat saya sirik dengan rekan saya yang berjumlah 22 tangkai. Saya malah senyum geli sendiri dengan bunga tersebut. Hingga sore itu ingatan saya melayang ke hari saya menerima bunga mawar ulang tahun saya.

 

Itu kali pertama saya diberikan bunga. Oleh lelaki pula. Di ulang tahun saya pula.

Apa masih harus saya tidak bersyukur?

Meskipun saya bukan tipikal pecinta bunga. Dan bukan tim perempuan sumringah dikasih bunga saat ulang tahun. Namun, hari itu saya senang. Saya bahagia.

Sesuatu yang pertama memang mampu menjadikan suatu hal spesial. Mendapatkan bunga untuk pertama kalinya memang sukses membuat saya merasa itu ulang tahun yang spesial. Ulang tahun yang saya anggap biasa namun berbeda.

Rangkaian bunga mawar saya yang sederhana membuat senyum saya terkembang hari itu. Diberikan oleh seorang lelaki spesial. Lelaki yang sungguh saya tak menyangka mampu memberikan saya bunga.

Karena awalnya saya udah pasrah dia bakal biasa aja di hari ulang tahun saya. Kalau dia lupapun saya gak bisa marah. Karena memang tipikal lelaki yang seperti itu. Bukan lelaki romantis namun dia klimis.

 

Saya memang gak menganggap bunga sebagai salah satu hadiah yang cocok buat saya. Saya lebih memilih diberikan sepasang sepatu, buku, atau tiket pesawat PP ke Turki. Atau dikasih combo ketiganya malah saya gak mampu nolak. Namun bunga ulang tahun kemarin cukup mampu membuat saya merasa kalau saya ini ternyata perempuan juga. Dan bersyukur lelaki klimis ini mengganggap saya perempuan dan layak mendapatkan bunga mawar berwarna merah.

 

Yah.. meskipun setelah puas saya menimang bunga tersebut saya sibuk mencari-cari apakah ada bingkisan lainnya sebagai kado ulang tahun saya. Syukurnya ada. Karena kalau tidak, apalah arti ulang tahun tanpa kado yang menyenangkan hati. Yang berharga, bernilai dan bisa dipakai. Bukan Cuma bunga yang dipajang beberapa hari lalu layu terbuang.

Hahaha… iya. Itulah kenapa saya kurang sreg ama bunga. Nilai ekonomisnya terlalu cepat menyusut. Hilang lalu dibuang.

 

 

Jadi, ulangtahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu. Di doa-doa yang dipanjatkan rekan, sahabat, dan keluarga yang mengharapkan agar jodoh saya mendekat dan ijab terucap cepat demi acara pernikahan yang akan dihelat. Saya berharap, doa itu mampu menembus langit. Diijabah oleh-Nya. Menjadikan saya dan lelaki klimis itu sepasang. Sepasang di dunia dan akhirat. Agar kelak, doa soal jodoh terhenti tahun ini. Agar rekan, sahabat, dan kerabat mampu mengimajinasikan untaian doa lainnya lagi untuk saya tahun depan.

 

Ketik Aamiin atau Like di kolom komentar, tapi gak menjamin kamu masuk surga sih.

 

Bisakah?

Saya seorang perempuan dewasa. Berusia 27 tahun. Memunyai karir. Hidup dengan perjuangan. Memiliki hobi membaca, menulis, jalan-jalan, makan, dan mencintai seseorang dengan setia.

Saya memunyai dua gelar di belakang nama yang kedua orang tua saya berikan. Nama saya bagus, begitu kata orang kebanyakan. Meski tidak pernah ber-ipk 4 dan gagal lulus cumlaude saya ini termasuk perempuan yang pintar. Memang masih kalah sama yang lainnya, tapi setidaknya saya gak bego banget.

Saya perempuan yang memiliki ambisi, cita-cita dan sangat tahu harus bagaimana menjalani hidup saya. Pun saya tahu pasti apa-apa yang ingin saya capai di kehidupan mendatang.

Saya memang lebih sering terlihat memakai sneaker ketimbang heels, tapi saya punya cukup banyak koleksi heels. Saya bisa jadi sering tampil tanpa alis yang tercetak sempurna. Tapi alat make-up saya tak kalah lengkap.

Saya boleh jadi tidak berdandan seperti perempuan-perempuan seumuran saya pada umumnya. Dengan sanggul kepala mengalahkan sanggul Cut Nyak Dhien. Dengan tas petak besar mentereng khas ibu pejabat. Dengan wedges setinggi 7 cm. Saya jauh dari itu. Saya lebih suka berpenampilan sedikit sporty. Tapi jangan kaget bila suatu ketika saya mampu tampil anggun dengan gaun dan heels. Itu saya.

Saya boleh jadi suka ngawur dan bercanda, tapi saya tahu jelas apa yang saya inginkan atau tidak inginkan. Saya boleh jadi suka ketawa ngakak dan kadang kekanakan tapi saya tahu harus bersikap bagaimana pada orang yang bagaimana.

Tutur kata bahasa saya baik. Saya sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Dalam percakapan melalui teks pun saya tidak alpa tanda baca. Saya pecandu aksara.

Dengan usia saya, dengan passion saya, dengan karakter saya, bagaimana bisa kamu menempatkan saya pada level yang begitu rendah? Dengan sikap saya yang tegas, bagaimana bisa kamu menaruh saya sejajar dengan anak SMP?

Kalau kamu mencintai saya. Cintai saya dengan usia saya, yang juga usia kamu. Kita bukan monyet. Jangan masuk dalam romansa cinta monyet khas anak SMP. Jangan meminta reremehan khas anak SMP. Usia kita telah terbang jauh dari angka belasan. Bisakah mencintai saya lebih berkelas? Karena mungkin kelak cintamu akan saya balas.

10 September yang Kasak-kusuk

Ini postingan yang telat banget kalau saya mau membahas perihal ulang tahun saya yang ke dua puluh sekian jelang tiga puluh. Telat sebulan lebih. Tepatnya saya berulang tahun pada tanggal 10 September. Tadinya saya gak mau dan (beneran) gak sempat tulis perihal ulang tahun saya. Tapi karena sekarang lagi rajin-rajinnya nulis ngalahin rajinnya tahajud minta jodoh maka saya tulis meskipun terlambat.

Ulang tahun kemarin ulang tahun paling singkat menurut saya. Waktu terasa begitu cepat berkejaran di hari itu seiring dengan deru nafas saya yang memburu dikejar waktu.

Masih teringat ketika itu di pagi hari. Selepas shalat shubuh ponsel saya riuh. Dari tanda pesan singkat masuk, notif bbm, wasap, line dan bahkan facebook berlomba-lomba mengucapkan selamat ulang tahun beserta doa kepada saya dari itu. Senyum tentunya tersungging. Masih banyak teman yang peduli. Masih banyak teman yang turut mendoakan segala hal terbaik bagi saya selain keluarga saya.

Sesampai di kantor. Sembari melaksanakan ritual harian membuka kantor saya membalas satu persatu ucapan selamat. Bercanda di grup. Menerima telepon ucapan selamat. Hingga ponsel kantor saya berdering. Dari si Pak Bos saya. Memberitahukan kalau saya harus berangkat ke Padang untuk Diklat.

Masih anteng saya Cuma menjawab, “Kapan, Pak?”

“Nah ini. Kamu jangan kaget.”

“Kenapa, Pak?”

“Kamu harus berangkat hari ini juga, karena semestinya kamu tiba di Padang hari ini,” jawab si Pak Bos tenang dan kalem seperti biasa.

“Whaaaat? Gak salah?” shock2 onion head

“Gak. Kesalahan ada di pihak SDM. Mereka berpesan kepada saya, ‘tolong sampaikan maaf kami ke Intan karena pemberitahuan dadakan’.”

“Ini terlalu mendadak, Pak.”seperti biasa. Saya sewot.

“Iya. Tapi tadi kan udah minta maaf.” serenade onion head

Helaan nafas saya panjang. Telepon ditutup setelahnya. Lalu tiba-tiba saja saya teringat sesuatu info onion head

Mungkin ini becandaan dan keisengan aja karena saya ulang tahun. Soalnya si Pak Bos ini memang sudah tak diragukan lagi dalam hal keisengannya. Terutama isengin karyawannya. Terutama isengin saya meh onion head

Demi membenarkan dugaan saya tersebut saya santai saja. Sampai singkat ceritanya, pihak SDM sendiri yang menelepon saya.

 

Barulah saya panik. Ternyata harus tiba di balai diklatnya ya tanggal 10 September itu. Kecuali pakai Pintu Kemana Saja-nya Doraemon mustahil saya tiba di Padang hari itu juga. Lagian penerbangan dari Banda Aceh ke Padang sehari satu.

Singkat ceritanya lagi. Hari itu di kala tetep harus bekerja seperti biasa pikiran saya terbagi-bagi antara, nasabah, tiket pesawat, pas photo yang harus dicuci (syarat diklat yang harus dibawa), serah terima pekerjaan, packing dan baju seragam kantor yang belum dicuci.

Ucapan selamat ulang tahun tak lagi sempat saya acuhkan. Bahkan saya udah memasabodohkan ulang tahun saya.

Yang saya ingat setelahnya adalah selepas serah terima pekerjaan saya langsung ke kosan. Dan memasukkan semua baju beserta kosmetik juga sepatu dan kebutuhan pribadi saya lainnya ke dalam koper. Asal. Timpa dan timpa aja. Persis kayak adegan di sinetron-sinetron yang istrinya ngambek dan mau minggat dari rumah. Masukin baju ke koper asal. Seret koper dan naik travel menuju ke Banda Aceh. Iya. Saya bahkan harus ke Banda Aceh dulu menjangkau bandaranya dari tempat saya kerja.

 

Sesampai di kediaman orangtua di Banda Aceh (yang Cuma saya datangi tiap akhir pekan) pada waktu selesai magrib, saya langsung memasukkan pakaian kotor yang harus di bawa ke Padang ke mesin cuci. Setelahnya saya masih harus buru-buru ke banyak tempat menyiapkan apa yang di minta untuk di bawa ke tempat diklat.

Setiba di rumah saya kaget. Saya pikir saya udah salah pulang. Ini bukan rumah saya. Ini laundry pikir saya. Gimana tidak, jemuran pindah ke dalam rumah. Diangin-anginkan pakai kipas angin agar baju seragam kantor saya lekas kering. Agar bisa segera di packing karena penerbangan saya jam 5 pagi. Lagi saya mengelus dada. Lagi saya bener-bener harus bersabar atas ‘hadiah’ dari kantor saya berupa tiket gratis ke Padang.

 

Sudah jam 11.30 malam. Saya sudah lelah. Beranjak ke tempat tidur membaca ucapan selamat ulang tahun yang terlewatkan. Ketika mata hendak terpejam, deringan panggilan telepon memaksa saya untuk mengangkatnya. Dari seorang teman, ucapan selamat ulang tahun terakhir.

Hari itu, cara merayakan ulang tahun yang paling sibuk dan melelahkan yang pernah saya alami. Antara senang bisa diklat sambil jalan-jalan gratisan ke Padang namun juga ngedumel seolah pihak SDM ngerjain saya di hari ulang tahun saya. Membuat saya kasak-kusuk gak keruan running onion head di hari ulang tahun saya dengan pemanggilan diklat dadakan.

 

Hari itu, di hari ulang tahun ke dua puluh sekian jelang tiga puluh tahun. Tuhan masih memberkahi hari saya. Membiarkan saya merayakan ulang tahun saya dengan cara yang berbeda dari ulang tahun sebelumnya.

Berbeda. Hingga tak terasa. Pun terasa, terlalu singkat. Karena deru nafas saya memburu dikejar waktu alih-alih meniup kue ulang tahun.

 

 

 

Dua Puluh Enam

Umur dua puluh enam udah pantes menggunakan krim anti aging belum siy?

Ini catatan ulang tahun yang terlambat. Sama seperti menstruasi saya yang terlambat datang bulan ini. Usia 26 tepat menghampiri saya pada tanggal 10 kemarin, namun sebab galau tak berkesudahan (sekarang sih sudah) mengingat umur yang sudah tak lagi muda membuat saya urung menulis.

Aaak…

Saya merasa saya sudah tua…

Karena bahkan seperempat abad lebih sudah saya lalui. Huvt…

Mengingat umur pasti juga mengingat pencapaian yang telah diraih.

Baiklah. Alhamdulillah atas usia yang masih diberikan Allah swt, atas raga dan jiwa yang (kadang2) sehat, atas pekerjaan yang mengasyikkan, atas rejeki-Nya yang tak berkesudahan, atas kebahagian yang saya nikmati, atas keluarga yang selalu ada buat saya, atas sahabat yang selalu masih setia, atas rekan kerja yang baik hati, daaan… atas seseorang lelaki yang pada ulang tahun lalu tak tahu saya sebut apa namun dia special, kini dengan bangga saya menyebutnya tunangan saya (sebab sudah nangkring sebuah cincin di jari manis saya), atas calon mertua yang baik banget ama saya, meskipun belakangan saya menyesal telah menyia-nyiakan kebaikan mereka.

Ya.. atas semua itu saya bisa tersenyum bangga karena mendapatkannya di usia saya yang ke 26.

Setiap ulang tahun selalu punya cerita sendiri. Memang momen ulang tahun tak lagi menarik bagi saya sejak umurnya 23 tahun. Seingat saya, dua kali saya bahkan melupakan hari ulang tahun saya. Hohoho…

Ulang tahun kali ini, pagi2 sekali saya mendapatkan kejutan dari temen se-kosan yang meletakkan kado di tempat tidur saya kala saya mandi.

20140910_072458

Lalu setelah itu pergi ke kantor dan mendapati, rekan kerja saya yang usianya hanya 5 tahun lebih muda dari ayah saya membelikan saya sarapan. Dia tahu saya jarang sarapan sejak tinggal dan bekerja di Ulee Glee. Dan ini merupakan hadiah ulang tahun darinya.

Camera 360

Malamnya saya mendapati donat dari teman sebagai hadiah kue ulang tahun untuk saya.

20140910_230753

Tidak lupa banyak ucapan dari teman, sahabat, dan keluarga.

Lalu bagaimana dengan tunangan saya?

Bila tahun lalu dia orang pertama yang mengucapkan ulang tahun pada saya, kini ia menjadi orang yang terakhir ngucapin. depressed1 onion head

Bila tahun lalu dia begitu romantis mengucapkan ulang tahun sambil menyanyikan lagu dari David Lee- Happy Birthday, tahun ini dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun.sigh onion head

Bila tahun lalu dia ingat, tahun ini saya harus berucap “Bang, Intan ulang tahun loh hari ini?”.

Ya… dia lupah sodara-sodara… whip onion head

Huahahahahaha

*ketawa setan*

Well… tapi saya yang pernah berjanji gak akan mempermasalahkan momen-lupa-hari-ulang-tahun-di-momen-ulang-tahun maka saya gak marah-marah ama diayawn onion head . Ya… wajar siy kalau dia lupa. Soalnya sejak sebulan belakangan kerjaanya begitu padat, ditambah lagi di hari ulang tahun saya dia tengah mengikuti diklat yang mana menyita seluruh harinya untuk belajar. Makanya saya gak heran dia lupa. Saya justru heran kalau dia ingat. Karena sudah menebak inilah makanya saya gak mencak-mencak.

Lagian, seperti yang adik saya katakan, bila saya sendiri pernah melupakan hari ulang tahun saya, kenapa justru heran bila orang sesibuk dan secuek tunangan saya melupakan hari ulang tahun saya.

Hahahaha…

Iya. Ini aneh.

Hmmm…

Harapan di ulang tahun lalu adalah semoga di ulang tahun akan datang (yang mana sekarang) saya sudah menikah atau paling tidak sedang menyiapkan pernikahan saya.

Kejadiaaan??

Tentu tidak sodarah sodarah..hell yes onion head

Saya belum menikah, dan bahkan saya tidak sedang menyiapkan apapun untuk pernikahan saya.

Ya… gak semua harapan itu terkabulkan. Mungkin Tuhan punya rencana lain, dan biarkan saya bersabar menunggu doa saya dikabulkan.

Well…

Mau tau apa harapan saya tahun ini?

Lebih spesifik dari harapan tahun lalu.

Ya.. saya ingin menikah. Tahun depan saat ulang tahun ke 27 saya harus sudah menjadi seorang istri. Istri dari tunangan saya sekarang.

Yang bilang aamiin mana suaranyaaaaa??

happy onion head

Sementara itu, Para Para Perempuan Single

Tanpa secangkir kopi di meja kerja, tangan saya sibuk menari-nari di layar ponsel saya. Aktivitas di pagi hari itu adalah mengobrol dengan beberapa teman melalui aplikasi chating. Nasabah belum datang pada jam segini, maka saya manfaatkan waktu saya untuk bertukar kabar dengan beberapa teman lama atau teman gak pake lama demi menjaga hubungan. Bertanya hal biasa seperti kabar, kerjaan dan kesibukan. Untuk beberapa yang sudah mempunya pasangan saya tanya pasangannya, yang sudah punya anak saya tanya kabar anaknya.

Setelah itu saya beralih melakukan percakapan di salah satu grup chating yang isinya rekan-rekan kerjanya. Lingkupnya kecil. Rekan kerja tapi yang berteman dekat. Perempuan semua.

Dalam grup itu berisikan 4 perempuan yang berusia antara 23-26. Usia segitu di mana ada perkumpulan perempuan lain yang sibuk membahas mengenai pentingnya ASI dan tempat baby spa yang bagus, atau membahas menu masakan yang sehat bergizi untuk keluarga beserta riwil harga sembako naik, sementara kami….

Kami, para perempuan single berkarir ini malah berasyik masyuk membahas perbandingan harga emas, toko emas yang bagus, dan kadar emas yang baik (ini releven dengan pekerjaan saya yang bergelut di hal-hal beginian)

Ya… kata salah satu temen saya itu, untuk sementara inilah kehidupan yang kita punya. Kehidupan yang hanya berisi percakapan soal pekerjaan yang di-sharing.

Saya setujui, dan berharap kelak, pembahasan kami akan melebar. Ke ranah kehidupan perempuan sebagai istri atau ibu, tidak lagi hanya perempuan berkarir.

Lain Batu Lain Karang

Maaf banget bagi pembaca yang mungkin mulai ngerasa jenuh dengan isi blog saya yang belakangan membahas jodoh dan nikah mulu. Maaf banget. Tapi ya mau gimana lagi, ini faktor usia sih. *sigh*

Namun hal ini masuk akal sih. Blog saya itu punya tagline Intan dan Jejak Langkahnya di Bumi. Maka dari itu, isi blog saya adalah perihal semua kegiatan dan warna-warni kehidupan saya plus lika likunya di fase usia tertentu.

Pas masih kuliahan ya blog saya gak jauh-jauh ama cerita seputar kehidupan kampus dan skripsi. Pas udah kerja berubah lagi tentang menceritakan bos-bos saya dan rekan-rekan kerja saya (ghibah ini mah). Lalu saat akhirnya saya memutuskan untuk pacaran, isi blog saya penuh dengan bahasan cecintaan. Lalu sekarang ini, ketika saya sudah memunyai kerjaan tetap, umur sudah seperempat abad, apalagi sih yang dibahas kalau gak jauh-jauh dari perihal menikah. Kemana kaki melangkah pasti isu menikah aja yang dibahas.

Ya.. metamorphosis hidup saya lah.

Lucu emang kalau dibaca-baca lagi tentang tulisan lama saya yang segimana skeptisnya sama cinta, lalu eh malah beberapa tahun kemudian blog ini malah penuh dengan sajak cinta.

Aneh emang ketika dulu saya menjadi perempuan anti menikah eh sekarang malah sibuk ngebahas jodoh dan malah berniat menikah di tahun 2014.

Lain batu lain karang lah ini namanya yak.

Yah.. ini bukti bahwa saya bermetamorfosis. Bahwa memang tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Bahwa kita memang hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Bahwa kita memang tak tahu tentang masa depan.

Namun meski saya begitu malu membaca tulisan lama saya, terlebih lagi, saya malu ketika masih ada aja orang yang membaca tulisan lama saya, tetep aja saya gak menyesali apapun yang terjadi di halaman-halaman belakang blog ini. Karena halaman-halaman itulah yang mengantarkan saya kepada diri saya yang sekarang. Diri yang juga masih akan terus berubah tentunya. Dan semoga berubah ke arah yang lebih baik.

Moment yang Menjadi Datar

Tetiba saya ingat, saya punya teman semasa kecil yang hari ulang tahunnya tepat bersamaan dengan saya. Tanggal, bulan, dan tahun yang sama persis. Lalu kedua Ibu kami juga sempat membandingkan siapa yang lebih dulu lahir. Ternyata teman saya itu lebih duluan lahir beberapa jam di banding saya.

Saya mengenalnya sejak SD, tak ingat kelas berapa persisnya. Tapi setiap kali ulang tahun saya selalu ingat, kalau di hari saya ulang tahun ada seorang perempuan lainnya yang juga sedang berulang tahun. Sejak SMP saya tak lagi bermain dengannya karena keluarga saya pindah rumah. Tapi saya masih mengingatnya sampai SMA.

Setelah itu boro-boro saya ingat ada orang lain yang berulang tahun sama persis kayak saya, ulang tahun sendiri aja saya beberapa kali lupa.

Ulang tahun tak menarik lagi bagi saya. Hari ulang tahun bukan lagi hari yang saya nanti. Sejak berada di tahun terakhir kuliah, saya mulai biasa aja sama moment ulang tahun. Dan melewati hari ulang tahun dengan perasaan yang datar. Paling cuma senyum dikit ketika ada yang menyalami saya dan memberi selamat. Mendapat kado-pun tak se-excited dulu saya terima. Senang siy, tapi hmmm… seperti tidak begitu menarik lagi.

Malah sejak lulus kuliah saya cenderung lupa sama umur saya. Kalau saya harus mengisi biodata dan menulis jumlah umur, maka tak spontan saya isi. Saya mengambil jeda dengan menghitung umur saya dari tahun saya lahir. Ya, saya kerap lupa.

Bukan menolak fakta bahwa tiap harinya saya makin tua, hanya saja perkara usia, ulang tahun sudah menjadi urutan ke sekian-sekian menjadi hal yang saya pikiran di otak saya setelah ini dan itu yang lebih penting bagi saya, keluarga saya, masa depan saya dan hidup saya.

Aah..

Apakah saya sdah terlihat membosankan? Apakah ini pertanda kalau saya sudah tua?

Saat Malaikat Maut ‘Lupa’ Mencabut Nyawa

Suatu pagi saya mendapati rekan kerja saya gelisah. Tidak fokus dan tampak panik. Saya dapat merasakan kalau tengah terjadi sesuatu dengannya tapi saya belum tahu itu apa. Awalnya saya tak mau tahu apa masalah yang tengah ia hadapi, tetap saja saya meminta dia melakukan apa-apa yang memang menjadi tugasnya.

Setelah nasabah tak ada lagi dan memang tak ada yang tengah diperbuat, saya perhatikan dia sibuk menelepon seseorang yang sepertinya orang yang ditelepon tak jua mengangkat panggilan telepon rekan saya ini. Semakin gelisahlah dia. Dia beranjak dari kursinya dan duduk di ruang tunggu nasabah. Menceritakan masalahnya dengan security. Saya mencuri dengar. Penasaran booook..

Dan diketahuilah akhirnya kalau ia baru saja mendapatkan kabar kalau tadi pagi pacarnya meninggal.

*tarik nafas*

Tiba-tiba jemari saya dingin seketika.

Meninggal.

Pacar rekan saya meninggal.

Ingatan saya terlempar ke moment setahun lalu. Ketika suatu sore saya dapati kabar kalau pacar saya tidak berhasil ditolong oleh dokter ketika ia tengah kritis. Ketika akhirnya jantung dan hatinya mengalami komplikasi.

Ruangan senyap. Kantor tempat saya bekerja hanyalah sebuah unit pada sebuah ruko. Sebagaimana standar unit kantor khas Instansi saya, ruangan ini kecil. Hanya kami bertiga di ruangan kecil itu dan senyap meyelimuti ruangan yag sejuk ini.

Beberapa menit kemudian seorang nasabah datang. Saya meladeni nasabah tersebut sementara membiarkan rekan kerja saya yang bertugas sebagai kasir termenung bego sendiri. Saya maklum dengan kondisinya, pasti ia tengah kacau dan tidak bisa berpikir. Maka dari itu tugas dia melayani nasabah yang ingin membayar saya handle.

Dia masih bercakap dengan security, katanya ia ingin ke Lhoksemawe untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Tapi security menyarankan agar ia mencoba menghubungi keluarga pacarnya terlebih dahulu.

Singkat cerita setelah hampir sejam kemudian rekan saya akhirnya mendapatkan kabar kalau…

Kalau…

Kalau…

Si pacar TIDAK JADI MENINGGAL.

Kenapa?

Karena barangkali malaikat maut lupa dan melewati namanya untuk dicabut nyawanya pada pagi hari itu.

-__________________________________-“

Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Singkat cerita si pacar rekan ngambek dan belagak pura-pura mati untuk mengetahui seberapa cinta rekan saya ini sama dia. Jadinya dia menggunakan telepon selular adiknya untuk mengabari pacarnya kalau dia sudah meninggal.

Bodoh?

Kampungan?

SANGAT.

Saat itu juga rasanya saya yang jadinya pengen ke Lhoksemawe lalu menemui perempuan gila itu lalu menamparnya bolak-balik biar kesadarannya kembali.

*tarik nafas*

*benerin lipstick*

*bercermin*

*senyum*

E bentar, saya minum dulu. Emosih nih.

Kematian. Dimana sih otaknya orang-orang yang mempermainkan kematian? Di mana sih perasaan mereka menjatuhkan semangat seseorang hingga sampai panik dengan berita kematian sementara dia senyum-senyum bego karena siasatnya berhasil?

Apa mereka punya otak? Punya hati?

Saya bilang tidak.

Perkara kematian itu melibatkan banyak orang. Setelah seseorang mati, maka yang merasa nelangsa itu adalah orang-orang yang ditinggalkan. Ada kepanikan di sana, ada kesedihan, kehampaan dan segala emosi negative lainnya.

Perkara kematian bagi saya bukan sesuatu yang bisa dipermainkan seperti itu. Seseorang harus berhati-hati dengan yang satu itu.

Ini bukan pertama kalinya saya mendengar lelucon kematian. Beberapa bulan sebelum ini seorang kerabat mengaku telah meninggal karena ia merasa ditelantarkan oleh keluarganya. Padahal keluarganya menelantarkannya hanya agar membuat efek jera padanya yang kelakuannya sudah diambang batas toleransi kesabaran pihak keluargnya.

Lalu seperti perempuan bodoh di cerita pertama, kerabat saya batal meninggal. Lagi-lagi, malaikat maut ‘silap’ sehingga nama mereka lolos dari orang-orang yang mati pada hari itu.

*tarik nafas*

Saya bingung bagaimana menutup tulisan ini. Saya emosi dengan perempuan bodoh itu. saya emosi dengan cara dia yang kekanakan hingga membuat rekan saya drop. Karena saya tahu persis bagaimana rasanya itu.

Mendengar kabar kematian orang terdekat, orang yang kita cintai, hari itu tentu akan menjadi hari yang buruk untuk dijalani.

 

Ceritanya Saya Trauma

“Kak, jangan makan mie ya. Nanti mati loh!”

Kalimat tersebut semakin sering saya denger sekarang inih terlontar dari mulut adik saya. sebuah perhatian emang. Namun saya yang mendengar semacam absurd. Kalimat perhatian tapi ujungnya gak ngenakin onion-emoticons-set-2-54

Kenapa dia bisa bilang begitu tentu ada alasannya.

Beberapa Minggu lalu, seorang teman seperjuangan kala saya kuliah -dan karena suatu takdir kami mendapatkan dosen pembimbing yang sama- meninggal dunia. Asam lambung yang menjadi penyebabnya. Mendengar itu saya sontak kaget. Saya juga penderita asam lambung. Tingkat parah malah. Saya sempat diopname gegara penyakit ini. Dan penyakit ini sudah bertahun-tahun saya idap.

Tak lama setelah kabar duka cita saya dapatkan, saya memanggil tukang pijat ke rumah untuk mijitin saya. dan ketika si kakak tukang pijat menekan perut saya, dia langsung memvonis kalau saya ini penderita asam lambung tingkat parah. Malah dia tau saya udah mengidap penyakit ini sejak SD.

Dua hal tersebut membuat saya ngeri. Saya ceritakan hal ini pada adik dan Ibu saya. dan kemudian saya dikecam untuk tak makan mie lagi.

Mie.

Suatu makanan yang saya gemari. Dari mie Aceh, mie ayam, mie kocok, mie pangsit, mie caluk, sampai mie instant adalah semuanya kegemaran saya. dalam sehari saya pasti makan salah satu mie tersebut. Pasti.

Penderita asam lambung gak boleh makan mie. Begitu katanya. Apalagi pedes-pedes. Nah, saya ini kalau udah makan mie pasti pedesnya level setan deh. Semua makanan yang masuk mulut saya harus pedes (kecuali kue-kue-an yak), makan mie dengan kuah yang pedes lebih utama bagi saya. selayaknya haram hukumnya bila makan makanan berkuah tak pedes. Nah, inilah penyebab bertahun-tahun asam lambung mampir sama saya.

Tapi karena berita duka itu saya tobat. Belum nasuha sih. Tapi ini beneran tobat. Setiap kali saya hampir lap ences kalau inget pengen makan mie. Tapi juga setiap kali saya kukuhkan niat untuk gak makan. Singkat cerita saya trauma. Saya masih pengen hidup. Saya belum kawin euy onion-emoticons-set-2-46

Nah, adik saya yang tetiba jadi perhatian sama saya. dia selalu ingatkan kalau saya gak boleh makan mie lagi setiap kali saya ngeluh saya bosan makan di Bireun ini. Yah, saya memang akan bosan kalau setiap kali dan setiap hari makannya nasi terus. Tapi ragam aneka makanan memang tak bisa dibilang banyak di Bireuen ini. Jadilah saya terpaksa makannya nasi saja. Terkadang diselingi sate. Itu saja.

Trauma. Semakin tua, rasa-rasanya semakin banyak yang saya takuti. Kalian ngerasa gitu juga gak sih? Parno di mana-mana dan kemana-mana dan ngapa-ngapain? Gak ya?  onion-emoticons-set-5-17Tapi saya gitu ding.

Cerita lainnya tentang keparnoan saya adalah menyangkut (lagi-lagi) kematian. Almarhum pacar saya itu meninggal akibat katup jantungnya bocor. Pas dia mau meninggal sih, konon katanya komplikasi hati dan jantung. Dua organ tubuhnya itu rusak. Penyebabnya? Tentu saja rokok. Dia penghisap rokok kelas kakap. Sudah sejak lama dia hidup dengan menjadi pemuja rokok dan manusia nocturnal. Hidup gak beres. Setahun sebelum kenal saya dia sudah berhenti merokok. Insyaf katanya. Tapi tetep saja, hal yang sudah menimbun bertahun-tahun tidak serta merta hilang. Akibatnya dia menderita sakit jantung yang akhirnya membawa dia pergi dari hidup saya dan dari dunia ini.

Saat ini, saya tengah dekat dengan seseorang. Hemmm… mari kita sebut dia sebagai Lelaki Agustus. Dia punya kebiasaan yang membuat trauma saya dateng. Dia pemuja rokok juga  onion-emoticons-set-2-133. Bahkan menurut pengakuannya, dia telah merokok sejak SD. Ebuset… anak macam apa itu ngerokok sejak SD? onion-emoticons-set-5-51

Tapi udahlah, saya gak mau menggurui masa lalunya. Toh, sekarang dia saya nilai sebagai sosok bertanggung jawab yang perlahan-lahan telah membuat hati saya merekah lagi.

Pola hidupnya memang tak seberantakan almarhum pacar saya. tapi tetep saja, terkadang dia bisa lembur kerja sampai tengah malam atau bahkan gak tidur-tidur. Seperti minggu lalu. Setiap harinya ia hanya mampu memejamkan mata selama 2 jam saja.

Saya perempuan yang tak suka dengan lelaki perokok. Saya perempuan pengagum lelaki non perokok. Saya perempuan yang akan migren dan menderita gangguan tenggorokan kalau sudah menghirup asap rokok selama 2 hari berturut-turut meski gak intens. Namun, saya tak pernah melarang lelaki merokok terutama untuk menghentikan kebiasannya merokok. Saya merasa belum dalam kapasitas itu. Maka dari itu ketika saya pernah berpacaran dengan lelaki perokok saya biasa saja. Tak melarangnya bahkan ketika dia merokok di depan saya. namun saya berpikir, kelak ketika saya telah menikah dengannya maka jangan pernah berpikir akan sebebas ini lagi.

Si Lelaki Agustus pernah berkata, “Intan boleh minta apa aja sama Abang, asal jangan minta abang berhenti meokok.”

Ketika dia ucapkan kalimat itu, saya gak tengah melarang dia sebenarnya. Saya hanya mengeluh ketika dia memberitahu baru saja dari mini market untuk beli rokok. Lalu dengan jelas saya sebutkan ketidaksukaan saya dan saya katakana itu akan membunuhnya.

Seperti lelaki perokok kebanyakan, dia tentu saja membantah kalau rokok dapat membunuh seseorang. Ajal di atur sama Tuhan.

Saya tak mau berdebat. Sungguh saya tak mau jadi perempuan cerewet yang menyuruh pasangannya berhenti merokok. Apalagi dalam status saya yang belum resmi menjadi pasangannya.

Lalu, dalam hati saya hanya mampu berucap, “Gimana kalau sebaliknya, Bang? Intan gak akan meminta apapun, kecuali satu hal. Berhentilah merokok. Hiduplah sehat. Dan hiduplah terus bersama hingga tua.”

Saya trauma. Ketika almarhum pacar saya meninggal saya lalui hidup dengan kacau dan berantakan. 4 bulan pertama saya lalui dengan rembesan air mati membanjiri muka saya. jarang mandi dan males makan. Enggan keluar rumah dan males nongkrong sama temen. Uring-uringan dan tidur seharian. Karena takut ketika mata terbuka yang ada air mata yang terus mengalir.

4 bulan selanjutnya tahap berusaha move on. Susah payah. Akibat kesibukan saya dengan pekerjaan baru yang mengharuskan saya diklat dan membuat saya super sibuk. Sedih saya teralihkan. Namun tetap saja ada momen-momen di mana saya galau lagi.

4 bulan penghujung satu tahun sejak kepergiannya. Saya berusaha ikhlas. Saya berusaha menata hidup dengan lebih baik. Mencoba membuka hati lagi. mencoba riang dan gembira lagi. Dan memang akhirnya berhasil.

Nah, untuk semua yang telah saya alami. Saya gak mau kalau sampai itu terjadi lagi. saya gak mau untuk menjadi terpuruk lagi akibat kepergian seseorang. Bila ia pergi, maka pergilah saja dari hidup saya, tapi jangan sampai orang itu juga ikut pergi dari dunia ini. Pergi meninggalkan dunia ini begitu cepat jelas akan membuat saya down lagi. Terlebih karena ia adalah seseorang yang ada di hati saya.  Orang yang mampu membuat hati saya kembali hangat.

Yah.. trauma. Untuk ditinggalkan saya trauma, maka dari itu saya ingin dia berhenti merokok. Untuk meninggalkannya juga saya tak tega, maka itu saya berusaha menahan keinginan saya memakan mie. Saya usahakan akan menguranginya sekurang-kurangnya.  Begitu juga dengan makanan pedas. Lalu berharap hidup kami sehat dan bersama hinggal tua. Hingga usialah yang membuat kami saling meninggalkan.

25 yang Perak

Akhirnya nyampe juga saya pada usia perak saya.

Happy birthday 25th to me…

*nyanyi* onion-emoticons-set-3-84

Syukurlah hari ini saya gak melupakan ulang tahun saya kayak tahun kemarin. Gila aja ya, ultah sendiri lupa onion-emoticons-set-3-12

Ulang tahun kali ini saya senang dan excited banget. Bener-bener umur yang perlu saya syukuri. 25 tahun sudah saya di dunia, banyak sudah cita dan impian saya yang diwujudkan Allah. Dan, seperti sifatnya manusia yang gak pernah puas. Untuk umur ini, saya kembali menengadahkan tangan pada Yang Maha Mendengar agar pada ulang tahun di tahun depan saya sudah menikah atau sudah akan segera menikah. Bisa dibilang itulah apa yang saya haturkan saat seseorang meminta saya make a wish semalam.

Yup. Setelah beberapa hal dalam hidup saya mulai teratur, sudah layaknya saya memikirkan pernikahan. Dan kali ini bukan Cuma mikir tapi diusahakan dan didoakan agar segera terwujud.

Nah, jadi untuk tahun ini permintaan saya pada orang-orang yang ngucapin selamat ulang tahun kepada saya Cuma satu:

Doakan saya menikah tahun depan.onion-emoticons-set-2-32