Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Advertisements

Latar Belakang Saya Menulis

Ketika seorang teman memergoki blog ini lalu ketemu saya secara langsung pertanyaan, “Sejak kapan mulai nulis, Tan?” adalah pertanyaan paling kerap saya dengar. Tentunya gak saya jawab ngasal seperti, “Sejak TK. Sejak pertama diajarin baca tulis.” Meskipun saya suka bercanda, saya juga tipikal orang gak tegaan menjawab pertanyaan yang mengharapkan jawaban serius dengan lelucon garing.

Saya mulai menulis dan disebarkan di dunia maya ini sejak (antara) tahun 2007-2009. Saat itu Friendster media sosial yang lagi booming. Lalu ada seorang lelaki yang menambahkan saya ke daftar temannya. Saya buka profilnya ternyata dia punya kumpulan tulisan. Iya, Friendster juga menyediakan fasilitas blog atau catatan/note kalau di facebook. Saya baca-baca dan saya langsung jatuh hati pada tulisan beliau. Lalu saya mikir, ternyata gaya tulisan model ginian (gabungan antara curhat dan ngasih opini) bisa dijadikan sebuah tulisan dan dipublish ya ternyata? Pemahaman saya yang cetek banget dalam dunia kepenulisan hanya beranggapan nulis itu berkisar puisi, cerpen, novel atau karya ilmiah dan berita. Gak ada model tulisan literature pribadi seperti ini. Gaya nulis gini akhirnya dipopulerkan oleh Raditya Dika di kalangan Indonesia. Mungkin sebelumnya sudah ada sebelum Raditya Dika, tapi Radiya Dika lah yang paling popular karena mewabah di kalangan remaja. CMIIW.

Sebelumnya bila saya ingin nulis catatan harian pribadi plus apa yang menjadi buah pikiran saya, hanya saya tulis di diary. Dan menurut saya itulah tempat paling layak. Maksudnya siapa sih yang mau tau apa yang saya pikirkan? Tapi ternyata tidak, banyak kok orang-orang yang menyukai tulisan berupa opini pribadi menyoal hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang menjadi bagian di kehidupan kita setiap saat. Hal dari yang remeh hingga melegenda. Karena dari situ banyak pengalaman dan nasehat yang dapat dipetik.

Mungkin saya harus berterima kasih pada lelaki yang menambahkan saya sebagai temannya di Friendster itu, yang juga akhirnya menambahkan saya sebagai satu lagi temannya dari sekian banyak teman yang sudah dia punya di dunia nyata. Dari dia saya punya wawasan baru. Dari dia saya banyak belajar. Dari dia saya bisa juga nulis. Dari dialah saya berani mempublish tulisan saya di dunia maya dan dibaca banyak orang. Dialah pertama kali yang membuat saya ingin menulis bukan hanya di diary. Dia idola saya. Saya sungguh mengidolakannya. Hingga sekarang, setelah kami kenal sekitar 7-8 tahun lamanya, saya masih sangat mengidolakannya. Mengaguminya. Lebih dari itu, menghormatinya. Pemikiran-pemikirannya dari yang ngasal hingga serius sangat cocok untuk dikepoin kalau lagi membuka akun media sosial.

Lelaki tersebut namanya Hendra. Lelaki yang membuat saya menulis. Juga membuat saya sedikit patah hati ketika dia menikah beberapa tahun lalu. Tapi saya rasa bukan hanya saya, banyak perempuan lain yang juga patah hati pastinya mengingat begitu populernya dia.

Saya mengatakan patah hati saya sedikit karena saat saya menerima undangan pernikahannya, saya sedang sibuk berduka atas meninggalnya pacar saya. Duka yang begitu dalam.

Balik lagi ke soal menulis. Bang Hendra memang sosok yang membuat saya menulis, namun ada sosok-sosok lain yang menyadari potensi saya dalam bidang menulis jauh lebih lama sebelum bang Hendra.

Mereka adalah sahabat saya ketika SMA. Kelas satu SMA saya memiliki tiga sahabat, Rona, Yuyun dan Almh.Maria. Pada ulang tahun saya yang ke 15 saya mendapatkan sebuah buku catatan cantik berwarna warni dan wangi (bukan diary, yang ada gemboknya apalagi) sebagai salah satu hadiah yang mereka berikan pada saya. Saya lupa siapa yang mengatakan, “Kamu kan suka nulis, makanya kami ngasih buku ini. Biar hobi dan bakat kamu tersalurkan,”, yang jelas saat itu hati saya merasa hangat. Mereka memang sebenar-benarnya sahabat. Mengetahui kebiasan saya. bahkan ketika saya tidak menyadarinya. Iya. Saya tidak menyadari akan kebiasan saya yang suka menulis atau berkisah. Kalau dipikir-pikir memang iya. Saya sering mencoret buku tulis saya dan membuat kisah atas suatu kejadian sepele. Kadang memang tanpa sengaja mereka membacanya.

Jadi ya itu, ketiga sahabat saya-lah yang membuat saya sadar saya menyukai menulis. Lalu bang Hendra menunjukkan jalan dan menambah wawasan. Pada mereka saya bersyukur. Bersyukur mengenal mereka. Karena merekalah saya bisa menyukai dunia menulis seperti sekarang. Memang, saya belum menjadi penulis professional dan tidak ada buku yang telah saya terbitkan. Namun, memunyai suatu hobi yang dapat dengan mudah disalurkan juga sebagai obat pengendali kewarasan adalah suatu hal yang sangat saya syukuri. Menulis, membuat saya bahagia. Menulis membuat saya waras. Menulis membuat saya mampu mengeluarkan emosi apapun yang terpendam. Amarah, sedih juga bahagia.

Jadi ya itu, sepenggal kisah tentang awal mula saya menulis. Blog ini sendiri lahir bertahun-tahun setelah saya memulai nulis di Friendster lalu dilanjut ke Facebook. Karena untuk membuat blog saya membutuhkan energi rasa percaya diri yang berlebih. Tahun 2010-lah rasa percaya diri itu muncul. Dan hingga kapan? Entahlah. Semoga selamanya. Soalnya ada studi yang mengatakan, menulis mencegah kita dari kepikunan. Menulis membuat otak kita terus bekerja. Jadi ya, saya akan terus menulis. Meski mungkin akan selalu soal remeh-temeh seperti yang ada di blog ini.

Rekap 30 Hari di November

Kalau ngeliat widget kalender di blog ini maka akan terlihat semua tanggal berwarna merah. Ini bukannya tingkah delusional saya yang ngarep bulan ini libur sebulan penuh ya. Warna merah pada tanggal ada karena itu artinya pada tanggal tersebut blog ini punya tulisan yang di publish. Artinya, bulan November 2015 saya full publish tulisan setiap hari.

Bentar saya bikin dramatis dulu.

SETIAP HARI.

Ini adalah hal pertama kali terjadi sepanjang blog ini aktif di tahun 2010 lalu. Memang bulan November bukan menjadi bulan di mana tulisan terbanyak terjadi. Karena tulisan terbanyak terjadi di bulan September tahun 2011 sebanyak 32 judul. Sedangkan bulan ini hanya 30 judul sesuai tanggal di kalender. Namun di bulan ini lah saya tekun dan niat banget nulis hingga tercapai tulisan satu hari satu.

Sempat hampir putus asa karena ada saat di mana stok tulisan habis tapi saya gak puny ide baru untuk dipublish esoknya. Namun dengan modal coklat dan memasang lagu-lagu yan sudah lama tak didengar di playlist winamp saya paksa diri saya memainkan jemari di tuts laptop mini saya.

Sempat cuti beberapa hari lalu juga bikin saya kalang kabut. Lagi asyik-asyiknya cuti teringat lagi stok tulisan habis. Jadinya setelah lelah seharian main ke sana ke mari, saya memaksa mata saya terbelalak hingga tengah malam untuk menciptakan satu-dua postingan.

Namun akhirnya semua kendala dan harapan yang hampir pupus terselamatkan karena bulan ini saya emang niat banget usaha supaya setiap hari tanpa absen ada tulisan yang saya publish.

Meski isinya masih banyak hal remeh-temeh gak penting yang jadi cirri khas blog ini, namun saya juga menyisipi beberapa tulisan informatif serta tips bener seperti tulisan: Pegadaian Semua Bisa, Serba Bisa dan #Pejuang 20 Ribu. Ada juga kisah saya yang ingin saya bagikan untuk sekedar menjadi cerita seperti Jamrud dan Tragedi Nista atau untuk diambil pelajaran seperti Meninggalkan, Merebut, atau sepenggalan pikiran yang terinspirasi dari sebuah drama Korea dengan judul tulisan Jembatan Jiwa. Tips ngasal tentang Donat, beberapa postingan berbau galau: Usang, Lima Huruf, Bertepuk Sebelah Tangan. Tulisan tematik musiman yang gak pernah saya lakukan sebelumnya tentang Ayah saya dan disengajakan publish di hari Ayah. Dan tulisan-tulisan lainnya yang berhasil menyemarakan blog saya di bulan November.

 

Ternyata bener adanya, kini tren berubah. Blog saya paling banyak dikunjungi di hari Sabtu dan Minggu. Saya akan ingat, untuk memastikan punya tulisan yang di publish di hari Sabtu dan Minggu.

 

Selain menulis, saya juga punya target lain di Bulan November ini. Target menaikkan berat badan yang Alhamdulillah berhasil naik 4 kilo. Dari 44 kilo ke 48 kilo. Tersisa 2 kilo lagi untuk keberhasilan misi.

Di bidang kerjaan, saya punya target agar tahun ini unit yang saya kelola mengalami peningkatan pada omset. Dimulai dari senyum dan lebih ramah kepada nasabah hingga melakukan berbagai macam cara promosi mengenalkan produk ke masyarakat. Seperti berat badan saya yang sekilo demi sekilo naik. Unit saya yang menjadi salah satu unit tak sehat ini juga merangkak selangkah demi selangkah menaikkan OSL.

Tahun 2015. Mungkin akan menjadi tahun nano-nano bagi saya. Dari kecutnya hidup, manisnya perhatian dan cinta dari keluarga dan sahabat, asin lucunya cerita cinta yang ditawarkan orang-orang, semua bersatu di tahun 2015.

Tiga puluh satu hari di bulan Desember sudah tidak sabar ingin saya jalani. Meski sepertinya lagi dan lagi, satu cita-cita terbawa angin ditertawakan kumbang, tak mengapa. Seperti November yang berhasil saya taklukan saya juga ingin membuat Desember takluk pada pesona saya.

Terima kasih untuk 30 hari penuh cerita, November 2015.

Tentang Kura-kura Hitam

Kalau kamu melirik ke sisi sebelah kanan blog ini (dibaca melalui desktop) atau di bagian bawah (menggunakan ponsel pintar dengan browser tertentu) akan kamu lihat kolom dengan tajuk: Yang Ada di Blog Ini. Ini seperti menu makanan yang ada di kafe sebenarnya. Kalau kamu mau minum jus, maka matamu akan tertuju ke kolom tulisan berjudul minuman.

Nah.. karena belakangan saya banyak kedatangan pengunjung baru dan entah ini perlu atau tidak, tapi saya ingin memberikan petunjuk kepada pembaca agar lebih enak memilih bacaan seperti apa yang hendak diinginkannya.

Sebelumnya, saya ingin ngasih tau. Baca blog saya ini bukan hal penting. Jauh lebih penting mengerjakan rukun islam yang 5. Baca blog saya juga gak bakal bikin pinter hingga kamu bisa jawab soal-soal di Game Duel Otak.

Tapi kalau kamu tetap mau baca saya bersyukur. Karena toh saya nulisnya juga setelah menunaikan rukun islam kecuali rukun terakhir.

Barisan Puisi

Seperti judulnya. Isi tulisan di sini adalah puisi-puisi saya. Entah romantis entah gagal. Entah menyentuh entah tidak. Pokoknya menurut saya itu puisi.

Demi Sebongkah Berlian

Hal yang saya tulis di bagian ini adalah segala perintilan hidup saya di dunia kerja. Tentang karir saya atau cerita-cerit lucu, gemesin di kantor. Kalau gak gemesin tapi memang layak masuk blog saya ceritakan juga sih.

Gak Penting Episode…

Bagian ini memiliki kontribusi paling kecil. Mungkin karena judulnya Gak Penting. Awal mula kategori ini terbentuk adalah untuk menampung tulisan yang saya bingung menetapkan judulnya apa. Jadilah setiap judul di kategori ini memunyai judul yang sama yaitu Gak Penting Episode xxx (di mana xxx mengarah ke angka berupa urutan).

Belakangan saya berpikir ingin menghapus kategori ini dan memindahkan kontennya yang meskipun gak penting ke kategori lain.

Jangan Serius Kali Ah…

Konten tulisan ini berisi tulisan sok tau, atau sok-sokan ngasih informasi, beberapa kejadian sebenarnya yang kemudian saya jadikan becandaan semena-mena atau tips dan trik tapi isinya becandaan semata. Bukan informasi sebenarnya. Cuma akal-akalan saya aja.

 

Jejak Langkahku di Bumi

Kategori yang menguasai hampir setengah postingan. Berisi tentang kehidupan sehari-hari saya yang umum. Mungkin kelak postingan Gak Penting Episode… akan dimasukkan ke dalam kategori ini. Atau juga tidak.

Selain menceritakan saya sehari-hari, dalam kategori ini juga masuk postingan yang tema-nya gak tau saya masukkan ke kategori lain yang sesuai. Jadi ini postingan dengan tema umum.

Kala Saya Berpikir

Kategori dengan postingan yang berupa opini atau isi pikiran saya tentang suatu fakta, fenomena atau masalah apapun yang terjadi di dunia ini yang saya atau orang lain alami. Ini kategori berisi tulisan paling serius yang ada di blog ini. Kadang juga saya memberikan informasi bermanfaat di sini. Info sebenarnya. Gak becanda.

Mungkin ini CINTA

Dengan penekanan di kata ‘CINTA’. Karena saya sendiri gamang ketika memutuskan apakah tulisan saya di kategori ini sudah termasuk cerita cecintaan. Kegamangan lain berupa, apa benar yang saya rasakan dan kemudian saya salurkan dalam bentuk aksara ini adalah perasaan berupa cinta.

Diawali kata mungkin membuat kategori ini seolah menjadi tameng buat saya ketika saya salah mengartikan. Cinta atau bukan cinta.

Kebanyakan tulisannya menye-menye sok romantis namun dengan jumlah postingan terbanyak kedua. Kayaknya saya udah terjerat penyakit cinta akut.

Seingat saya ini kategori terakhir yang saya bikin. Muncul ketika saya akhirnya memutuskan berpacaran dan merasa tulisan menye-menye harus punya kategori sendiri.

Saya Nonton Film

Bukan tentang review film. Saya gak mahir. Kategori dengan jumlah sedikit namun saya harap terus naik jumlahnya. Kategori ini berisi pemikiran saya atas sebuah film yang baru aja saya nonton. Mirip kayak ketika kita habis keluar bioskop lalu kita masih membahas film yang baru aja ditonton secara keseluruhan atau adegan tertentu yang membekas, atau malah dialog tertentu yang bagus banget.

Film yang berhasil masuk kategori ini belum tentu film favorit saya juga. Dan film favorite saya malah kebanyakan gak saya jadikan postingan.

Film yang saya kembangkan menjadi sebuah inspirasi tulisan di sini bisa jadi karena salah satu adegan, pemeran, dialog, quote, setting, atau penokohannya membekas di saya dan terbersit ide untuk ditulis. Kadangkala saya kaitkan dengan kejadian yang saya alami atau saya harapkan terjadi.

 

Itu saja kategori dan deskripsi dari setiap kategori di blog ini.Dan satu hal lagi, kadang kala satu postingan bisa menjadi bagian dari lebih dari satu kategori bilamana temanya terkait di dua atau tiga kategori.

Beberapa kali sempat saya kepikiran untuk membuat kategori baru berjudul ‘Fiksi’ di blog saya. Agar pembaca yang kadang suka kepo atau suka ngasal ngambil kesimpulan bisa membedakan kalau tulisan itu beneran pengalaman saya atau hanyalah fiksi semata.

Sementara ini saya masih memasukkan fiksi ke Jejak Langkahku di Bumi lalu memberikan tag: fiksi. Karena menurut saya tagline Blog  (Intan dan Jejak Langkahnya di Bumi) ini seperti tidak sesuai kalau saya harus posting tulisan fiksi saya, karena fiksi bukan jejak langkah kaki saya sebenanrnya. Namun sejak ngerumpi(dot)com tutup dan saya gak punya wadah untuk share fiksi abal-abal saya, beberapa fiksi saya posting juga di sini.

Kepikiran ingin menaruh fiksi bukan di bagian kategori namun di bagian page. Ya.. entarlah ya.. kalau pikiran sudah matang.

Untuk mengubah domainnya menjadi berbayar saya masih gak kepikiran. Pelit sih iya, tapi lebih ke gak PD aja bikin domain pribadi untuk blog abal-abal gini. Yah.. sekarang sih belum kepikiran. Besok juga gak. Lusa juga gak. Gak tau sih kalau 73 hari dari sekarang, mungkin pikiran saya berubah. Seperti mungkin saja kelak saya bisa mencintai kamu. Iya, kamu.