Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.

Advertisements

Kepatahhatian (2)

Menyambung tentang kepatahhatian cerita sebelumnya. Jalinan hubungan lain yang mampu membuat saya patah hati dan menangis pilu adalah ketika dihadapkan pada kelutnya romansa persahabatan.

Air mata saya pernah bercucuran berkali-kali tentang memercayai teman. Teman saya sedikit. Itu-itu saja. Namun yang itu-itu sajalah yang sudah mampu membuat saya cukup dan bahagia. Bila ada yang menyakiti, melupakan, dan meninggalkan saya yang saya rasakan adalah gedebam rasa sakit patah hati.

 

Belum lama ini. Saya pernah dikecewakan lagi oleh seseorang yang sangat saya percaya, sangat saya bela, sangat saya sayangi, sangat saya perlukan. Saya berpikir selama ini saya juga seperti itu di hatinya. Meskipun mungkin perasaan kami tidak sama banyak, namun entah kenapa saya yakin kalau dia menganggap saya sebagai salah satu temannya yang ia sayangi. Yang ia pedulikan dan ia ingat.

 

Namun.. layaknya cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin rasa perteman yang saya alami juga bertepuk sebelah tangan. Tangannya tak pernah menggenggam tangan saya sebagai salah satu temannya. Sahabatnya. Atau mungkin tidak lagi. pernah tapi itu dulu. Tahun lalu. Atau entah kapan berhentinya. Hanya dia yang tahu.

 

Saya malas menggangapnya hanya sebuah kesalahpahaman saja. Sebagai seorang yang hrausnya merasa teman harusnya kesalahpahaman itu tidak terjadi. Namun karena terjadi, saya menyadari satu hal.

Posisi saya tidak sehebat itu di dalam laman hati bertajuk “teman” miliknya.

Mungkin saya hanya tipikal teman yang biasa saja. Teman sekedar kenal. Tahu nama dan pernah beberapa kali nongkrong bareng. Sekedar itu saja. Cukup kita ketahui saja.

 

Dipatahhatikan oleh seorang teman seperti dia membuat surut rasa percaya saya. kikis rasa sayang saya. membludak amarah saya. Namun mengingat umur yang tidak lagi di era main engklek makan es goreng, maka saya memutuskan dan dengan pasti mengucapkan kalimat ini dari bibir saya kepadanya, “Saya gak bisa maksa kamu untuk menyukai dan berteman dengan saya. Saya akan mencoba untuk tahu diri. Mulai sekarang kita hanya akan menjadi teman biasa saja. Saya tidak mengatakan tidak akan bicara lagi pada kamu atau memutuskan hubungan. Namun, saya hanya akan berbicara padamu bila itu perlu saja.” Saya mengucapkan kalimat itu dengan kepalan tangan yang tergenggam. Kepalan tangan yang tergenggam guna menahan agar air mata tak jatuh. Kepalan tangan sekuat tenaga.

Meskipun melankolis untuk hal beginian, namun saya masih ingin terlihat kuat. Entah terlalu malu dengan usia masih merengek durja karena urusan pertemanan. Entah karena terlalu gengsi padanya dan seolah menunjukkan. Antara saya dia. Sayalah yang jatuh hati lebih dalam dalam hubungan pertemanan yang kami jalani selama beberapa tahun ini.

 

Akhirnya… siang itu. Setelah berbicara dalam atmosfir tak mengenakkan, saya pergi lebih dulu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan dia. Meninggalkan apa-apa yang selama ini pernah kami jalani. Dalam suka, dalam duka. Dalam tawa, banyak canda. Dalam sulit dalam mudah.

 

Siang itu, dalam lirih, saya meminta Tuhan menghapus rasa sayang saya padanya. Meskipun sulit menghapus kenangan yang yang telah kami cetak dalam banyak poto-poto yang memenuhi memory, tapi saya ingin rasa kecewa saya cukup besar untuk menghapus rasa sayang, rasa peduli dan rasa kagum saya padanya.

 

Demi mengalihkan kepatahhatian, saya menghibur diri. Bahwa, tidaklah mengapa kehilangan seorang teman karena toh kelak hidup saya akan lebih ribet dan masalah akan lebih ruwet daripada dilupakan oleh seorang teman.

 

Iya… untuk hal hati yang telah saya percayakan pada suatu sosok. Untuk sosok yang telah saya patri dalam hati, saya memang lebay. Saya bisa merasakan patah hati dan terpuruk parah akibat dikecewakan.

Padahal ini hanya untuk urusan hubungan atasan-bawahan dan teman. Bagaimana lagi bila hati saya dipatahkan oleh pasangan saya. mungkin efeknya, akan-jauh—lebih-besar.

Kepatahhatian (1)

Saya tipikal perempuan sensitif nan perasa. Iya. Boleh gak percaya. Boleh terbahak. Bebas. Muka jutek, nada bicara judes dan gaya serampangan gak cocok emang kalau mau mengaku hatinya ini sensitif dan mudah tersakiti.

 

Namun nyatanya, untuk beberapa hal saya bisa menangis haru. Meski menurut adik saya bahkan pilem india yang tingkat sedihnya level juarapun tak mampu membuat saya menitikkan air mata.

Saya orang yang tidak bisa dikecewakan. Tidak boleh ditinggalkan. Tidak suka dilupakan. Bila hati saya telah saya percayakan pada satu orang, lalu bilang orang tersebut mengkhianati saya. Hancurlah perasaan saya.

Ini tidak hanya soal asmara pada lawan jenis. Namun ini juga berlaku kasih sayang pada keluarga. Romantisme persahabatan. Dan hormat dan menghargai pada rekan kerja atau bos.

 

Saya ingin bercerita…

Tentang bagaimana sakit hati saya ketika saya mengetahui bos saya pernah lain di depan saya lain di belakang saya. Tentang bagaimana ia manis di depan saya namun menjelekkan di belakang saya. Dia adalah sosok yang saya hormati. Saya banggakan pada teman-teman sekantor yang lain. Amat sering saya memuja kelebihan, kehebatan, kepintaran dan kebaikan bos saya. Tentu saja untuk dibandingkan pada bos mereka. Intinya, pada bos itu saya jatuh hati. Jatuh hatinya seorang bawahan pada atasan. Sebuah kisah jatuh hati dalam sebuah keprofesional.

Untuk memastikan tidak ada pembaca yang menafsirkan metamofa saya dengan pikiran pendek lebih baik saya jelaskan. Maskud kata-kata “jatuh hati” di atas tidak sama seperti perasaan jatuh hati sama lawan jenis ya. Maksdunya hanya perasaan hormat dan kagum pada atasan.

Lanjut…

Lalu pada suatu ketika saya mengetahui suatu hal. Bahwa kejelekan saya sebagai anak buahnya pernah ia sebarluaskan pada semua orang. Semua orang kecuali saya. Disitu terhenyak kecewa saya. Pikir saya ia sosok bijaksana. Yang akan mengevaluasi kesalahan anak buahnya hanya demi kebaikan anak buahnya. Akan menegur langsung anak buahnya bukan membicarakan anak buahnya di belakang. Yang paling membuat saya menjadi seperti orang bodoh adalah saya tidak pernah benar-benar tahu kesalahan saya apa karena tidak pernah ditegur. Namun semua rekan sekantor mengetahui apa salah saya. Yang paling membuat saya terlihat konyol adalah tentang saya yang terus bertingkah semua baik-baik saja yang padahal tidak. Semua karena tidak pernah ada teguran atau peringatan atas apa yang saya lakukan. Yang lalu hanya saya terima adalah hukuman. Hukuman tanpa tahu salah saya apa.

Kecewa iya. Terluka sangat. Dan jangan tanya kepatahhatian apa yang saya rasakan. Rasa kepercayaan saya pada seseoang terus makin kikis makin tipis. Semuanya terasa sadis.

 

Sejak itu saya memandang curiga pada semua orang sekantor. Pindah ke kantor baru membuat saya seperti harus memasang tembok pertahanan untuk diri sendiri. Untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang. Tidak terlalu kagum pada orang. Dan tidak usah terlalu dekat dengan atasan. Awalnya… saya jalani kehidupan di kantor dengan kepribadian robot. Diam bila tak perlu bicara. Menghindari keramaian dan manusia. Dan saya menatap mata-mata yang seolah memojokkan dan menyalahkan saya.

 

Butuh berbulan kemudian untuk move on dari patah hati. Untuk bisa menerima kekecewaan atas kepercayaan pada mantan bos. Hingga pada suatu pertemuan kantor ketika saya bertemu dia (si bos), saya bisa menjabat tangannya, menanyakan kabar, dan lalu mencandai satu sama lain seperti biasa. Seperti dulu. Kalau kata temen saya. saya udah baikan sama bos saya. Ya meskipun mantan bos saya gak tau saya marah padanya, seperti saya tidak tahu bahwa ia tak suka cara kerja saya. Tapi setidaknya saya sudah memaafkan. Memaafkan sakit hati yang ia ciptakan. Runtuhnya kagum saya padanya tak bisa saya bangun lagi.

 

Begitulah perasaan saya. begitulah sakit hatinya saya ketika dikecewakan seseorang ketika sosoknya telah saya pigura rapi di hati saya.

 

 

Anaknya Dua

Mata saya beradu pandang pada sesosok wanita cantik dengan alis tercetak sempurna. Pada detik pandangan kami bertemu ia sunggingkan sebuah senyum. Di tengah kesibukan melayani nasabah batin saya membenak, bahwa saya seperti mengenal senyum tersebut. Namun alih-alih mencoba mengingat saya hanya mampu membalas senyumnya dengan senyum dadakan yang tak sempurna.

 

Tiba giliran wanita tadi maju ke loket. Setelah cincinnya saya terima untuk saya taksir jumlah pinjamannya saya melihat kartu identitasnya. Namanya. Ah iya. Dia adalah sesosok wanita yang pernah saya kenal di masa lampau. Saya tidak ingat namanya. Saya juga agak sedikit meragukan tadi mengingat wajahnya. Namun bila wajah itu dipadukan dengan nama yang saya baca di KTP-nya maka saya tahu bahwa dia adalah adik kelas saya ketika SMP.

 

Jumlah uang pinjaman yang bisa diberikan telah ditentukan. Namanya saya panggil. Ia bangkit dari ruang tunggu dan berdiri di depan loket dengan penuh percaya diri dan lagi-lagi dengan senyum yang masih sama sejak bertahun-tahun lalu.

 

Setelah menyepakati jumlah pinjaman dan saya tau ia seperti mengenali saya, saya bertanya.

“Kita kenal kayaknya ya?”

“Iya kayaknya. Kakak SMP 3, bukan?”

“Iya. Ah.. berarti kita satu SMP,” jelas saya.

“Iya,”

 

Beginilah serunya bekerja di bagian layanan. Setiap hari kita ketemu dengan orang berbeda dengan banyak ragam maunya. Serunya lagi kali ini saya bekerja di bagian layanan dan di kota tempat saya tinggal. Bukan lagi merantau. Di mana sering saya jumpai orang-orang yang saya kenal sejak kecil. Seperti momen ketika saya bertemu dan melayani temen SMA saya yang dulunya tukang teriak-teriak di kelas kini sudah bersorban dan berjanggut. Saya temui guru Matematika saya ketika SMP. Saya temui teman masa kecil saya. Saya temui adek kelas saya.

Beberapa membuat saya takjub, betapa waktu mampu mengubah tidak hanya penampilan namun juga karakter. Beberapa tetap setia dengan gaya dulunya. Seperti wanita yang tengah saya layani tadi. Si adek kelas.

Posisi kami yang sama-sama berdiri membuat saya ciut. Seingat saya dulu tinggi kami tidak berbeda. Namun kini ia tampak begitu tinggi. Saya mencoba tidak minder saat itu juga karena berpikir mungkin dia pakai heels sementara saya pakai sepatu flat.

 

Oh.. .. Gosh.. ini sesuatu yang tidak bisa saya hindari untuk lihat. Dadanya. Dengan posisi berdiri berhadapan ukuran dadanya sungguh sangat mengintimidasi milik saya. Begitu aduhai.

Jadi selain wajah dengan cetakan alis sempurna, senyum bibir basah yang sejak SMP sudah ia miliki bahkan tanpa perlu menggunakan lipgloss, tubuh tinggi semampai, berdada besar, berpinggang ramping lenggak-lenggok, si adek kelas saya itu sungguh telah tumbuh sempurna. Menjadi wanita cantik yang ummmm…. sungguh menggoda iman lelaki.

 

“Berapa udah anggota, Kak?” pertanyaannya mengalihkan pandangan mata saya dari dadanya.

“Haaa?” saya kikuk.

“Berapa anggota, kakak?”

“Di sini?” tanya saya bego. Saya ngertinya dia sedang bertanya di kantor saya berapa orang anggotanya. Walaupun saya bingung juga ngapain dia tanya gituan.

“Anak kakak. Udah berapa?” dia bertanya sambil kembali tersenyum. Mungkin kali ini senyumnya sambil ngejek saya yang jadi bego

“Oh… dua,”

Makjleb. Saya jawab spontan tanpa mikir. Biasanya saya jawab gituan kalau ada nasabah iseng tanya saya udah berkeluarga apa belum. Atau tanya status saya atau tanya anak berapa. Saya jawab aja singkat. Daripada saya jawab sebenarnya terus saya diceramahi -oleh nasabah yang gak kenal-kenal amat- soal usia perempuan dan karir yang jangan terlalu dikejar.

Nasabah kurang tau. Hari-hari, selain mengejar nasabah jatuh tempo saya nyambi ngejar jodoh.

“Sama. Saya juga udah dua, Kak,”

Wow… tetiba saya bersyukur menjawab kalau anak saya udah dua. Jadi setidaknya tanggapannnya kemudian yang entah apapun itu kalau tahu saya belum menikah tidak membuat saya minder. Biarlah dia kena saya bohongi. Saya berharap tidak ada kelak hingga ia tahu saya berbohong ternyata.

Iseng, saya perhatikan KTP-nya. Berharap saya bisa melihat dengan siapa dia menikah. Penasaran lelaki seperti apa yang berhasil mendapatkan nona cantik walau otaknya biasa-biasa saja ini.

Namun, KTP mana sih yang menjelaskan kita menikah dengan siapa? Tok hanya tertulis status: KAWIN sebagai penanda statusnya. Lalu mata saya melihat ke informasi tanggal lahirnya. Ebuset.. ternyata dia lebih tua 3 bulan dari saya dengan tahun kelahiran sama. Dan dia manggil saya kakak?

Oke.. gak bisa disalahkan sih. Toh ketika sekolah dia memang di kelas yang di bawah saya setingkat. Wajar aja dia manggil saya kakak.

“Kegiatannya apa sekarang?”

“Di rumah aja, Kak. Jadi ibu dan istri yang baik aja,” dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum bibir basahnya lagi.

Saya memberikan sebuah senyuman. Gimanapun setelah berhasil tumbuh menjadi sesosok wanita cantik sempurna, punya anak dua, menjadi ibu rumah tangga adalah poin ketiga yang saya iri dari wanita ini.

“Sebenarnya ada jualan online juga sih, Kak,”

“Ohya? Jualan apa?”

“Tas”

Reflek saya melihat tas yang ia tenteng. Sebuah tas hitam metalik. Dandanan dia jauh dari kata ibu rumah tangga biasa memang. Bahkan ia lebih modis ketimbang pegawai bank. Polesan wajahnya lebih cantik ketimbang SPG kosmetik. Tubuhnya setara pramugari.

 

Setelah uang pinjaman ia terima, ia berlalu. Nasabah mengantri masih banyak. Pikiran saya tentangnya tak boleh menyita waktu saya. Namun, di akhir benak, saya ingat.

 

Tadi siang, setelah pintu kantor saya dia tutup. Ketika ia pergi melanggak-lenggok di atas heelsnya hinggal membuat potongan baju peplumnya menari-nari. Bukan tubuh moleknya yang saya irikan.

 

“Anak dua,”

Itu yang terus terngiang. Betapa saya iri ketika ia dengan senang mengatakan anaknya sudah dua dan menjadi ibu rumah tangga. Sementara saya hanya membual dan terus masih harus menghadapi nasabah setiap harinya.

 

Pertanyaan Juara Dua

Kemarin sempat ngeliat sedikit adegan film Kambing Jantan di TV. Saya sih gak tengah nonton. Cuma pas lagi mau makan, nyalakan TV dan langsung terpapar muka Raditya Dika yang masih aneh menurut saya. Ya.. saat itu kan debutnya ya. Sekarang udah cakepan mas Raditya Dika itu menurut mata saya yang minusnya nambah lagi.

Adegan yang saya dapatkan adalah ketika Raditya Dika ketemu gebetannya pas SD di toilet. Singkat kata ada dialog kayak gini deh:

Cewek: Aku baca blog kamu, loh.

Raditya: Ohya? Makasih. *Raditya ngasih senyum yang sumpah aneh banget seringainya*

Cewek: Iya. Aku suka blog kamu. Bagus. Kenapa gak dibukuin aja?

Raditya: Oh iya.. iya.. idenya menarik *masih ngasih senyum dengan seringai aneh*

Sekitar seminggu sebelumnya, saya bertemu dengan seorang teman. Tidak begitu dekat, kami pernah satu sekolah di kala SMA dan satu fakultas saat kuliah namun berbeda jurusan. Setelah bertegur sapa, tak saya sangka, ia membuka percakapan dengan saya. Well, dia memang terkenal ramah banget orangnya. Setelah bertanya soal kabar, soal tempat tinggal, kerjaan dan hal-hal umum lainnya maka ia memunculkan dialog hampir mirip dengan dialognya Raditya Dika dan mantan gebetannya.

Ia bertanya kenapa saya gak bikin buku.

Pertanyaan ini adalah pertanyaan paling sering saya dapatkan. Bila saya bikin daftar FAQ, pertanyaan ini dulunya pernah jadi pertanyaan sang jawara dalam daftar. Namun 2 tahun belakangan, ia harus rela berada di posisi kedua setelah pertanyaan “Kapan Nikah?”

Menjawab pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda itu kadang memang membuat lelah. Selelah kita nyebar kode tapi sang gebetan tak kunjung peka. Selelah menanti jodoh. Selelah mencintai sebelah hati.

Tapi saat itu saya senyum. Karena yang bertanya seorang perempuan yang ketika berbicara senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Iya, seperti kantuk. Senyum itu menular.

Jadi sembari senyum saya menjawab, “Iya, ada kok dibikin. Tapi gak jadi-jadi.”

Itu hanya kalimat jawaban singkat yang bisa saya jelaskan. Sebenarnya banyak kalimat sambungan. Tapi saya tahu durasi pertemuan kami itu tidak cocok buat saya adakan curhat selama 1 jam 36 menit, demi mengetahui kenapa saya gak juga bikin buku.

Jadi gini, akan saya jelaskan di sini saja kenapa saya gak juga menerbitkan buku.

  1. Saya pekerja kantoran yang suka letih sepulang kerja, dan butuh hiburan di kala weekend. Jadi saya akan gunakan alasan klasik: “Gak punya waktu” sebagai jawaban pertama.
  2. Saya pernah mencoba tapi lalu setelah halaman ke 60 sekian saya jadi males. Mati ide. Ngerasa alur cerita berjalan lambat. Kurang ilmu. Dan bosen.
  3. Saya pernah ditolak penerbit. Itu artinya tulisan saya gak cukup kece untuk memenuhi keinginan pasar dan penerbit tentunya.
  4. Saya cuma blogger amatiran yang suka curhat. Nulis santai sederhana. Dan bikin sebuah buku gak sesederhana itu, teman.
  5. Meskipun kamu katakan tulisan saya bagus dan kamu suka. Penerbit dan pasar tidak sependapat dengan kamu. Maaf. Lagi. Saya ini cuma tukang curhat. Nulis artikel yang terkesan ekslusif atau cerdas dikit aja saya gak mampu.
  6. Saya saat ini memang tengah fokus menerbitkan buku. Buku Nikah. Memang gak harus seleksi di editor namun tetep ini gak kalah sulit tantangannya dengan bikin novel. Jadi doakan aja. Setidaknya ada satu jenis buku yang berhasil saya bikin.
  7. Saya gak sekece badai Raditya Dika yang tulisannya mampu membuat editor jatuh cinta. Tulisan saya kalah jauh. Masih banyak blogger lainnya yang tulisannya kocak dan cerdas yang mampu menghibur hati yang lara nan kesepian.

Jadi begitulah. Itulah alasan saya kenapa saya gak punya buku. Bukan gak mau. Mau banget malah. Tapi ya itu tadi, baca lagi alasan nomer 1 hingga 7.

Mungkin someday, ya. Mungkin.

Lala yang Lelaki

Pada zaman Rasulullah SAW, ada beberapa hadist yang berhubungan dengan kaum Khunsa dan mukhannast. Khunsa maksudnya mereka yang tidak jelas jenis kelaminnya, sedangkan mukhannast (dan murajjil) adalah mereka yang punya kelamin tertentu tapi berprilaku sebaliknya (sumber: situnis.com)

 

Saya punya teman mengaji semasa kecil yang bernama Lala (bukan nama sebenarnya). Seorang anak perempuan yang usianya terpaut setahun lebih tua dari saya. Kendati demikian saya tak memanggilnya dengan sapaan ‘Kak’, hanya nama saja. Lala.

Lala berkulit hitam. Berpostur tubuh kekar dan besar. Gaya sikapnya sedikit tomboy. Hanya sedikit. Karena ia tak memungkiri sama sekali kalau di adalah anak perempuan. Namun dari segi penampilan ia jauh dari kata imut-imut ala gadis kecil. Ia bersuara besar. Ia tertawa keras. Ia lucu. Saya menyukainya. Dia teman yang baik hati dan suka menolong dengan keriangannya. Bermain bersamanya sungguh menyenangkan. Ohiya. Karena dia teman mengaji saya, saya tahu dia masuk dalam jajaran santriwati yang jago mengaji. Ia cepat tangkap setiap kali diajarin tajwid. Untuk urusan tajwid mengaji (pada masa itu) kami sering bersaing dalam siapa dulu lebih paham. Namun untuk urusan kuatnya mengambil nafas dan irama saya kalah telak.

Setelah saya ingat-ingat lagi sekarang. Lala kecil itu bersuara agak sedikit menyerupai lelaki. Iya.. sepertinya begitu.

Pada kelas 6 SD saya pindah rumah. Otomatis saya dan Lala yang menjadi teman ngaji sekaligus teman bermain menjadi terpisahkan oleh jarak. Saya ingat betapa hati saya susah tak bisa bertemu lagi dengannya. Iya, meski masih sama-sama tinggal di kota yang sama namun jarak yang jauh gak memungkinkan untuk seorang anak SD bermain dan bertemu kala itu. Kendaraan andalan kami sepeda. Kalau nekad mau ketemu naik sepeda ya bisa pingsan di tengah jalan.

Bertahun berlalu, pada suatu momen tidak terduga saya bertemu Lala ketika kami memakai segaram putih-abu-abu pada sebuah angkutan umum.

Kami duduk saling berhadapan di labi-labi (red: angkot), namun saya agak ragu itu dia. Awalnya bahkan butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari kalau sosok perempuan berjilbab lebar di depan saya adalah teman kecil saya. Wajahnya ia tutupi dengan sapu tangan. Hanya alisnya yang hitam lebat dan matanya yang besar yang terlihat. Namun dari dua bagian wajah itu, saya seperti yakin itu adalah Lala.

Dalam hati saya bertaruh. Bila ia turun dari angkot ini di persimpangan menuju rumahnya maka bisa dipastikan itu Lala 100%. Tak lama kemudian ia memencet bel labi-labi agar labi-labi berhenti. Dan benar saja seperti dugannya saya, ia turun di persimpangan yang saya maksud. Ketika hendak turun dari labi-labi sapu tangan yang menutupi wajahnya ia sibak sebentar. Dalam momen yang sangat singkat itu saya melihat sesuatu yang membuat saya kaget.

Lala. Perempuan yang telah tumbuh menjadi gadis remaja itu memiliki kumis. Bukan kumis tipis ala-ala Iis Dahlia. Tapi kumis yang membuat saya kaget.

Setelah ia turun pikiran saya berkecamuk. Apakah karena itu ia menghindari kontak mata pada saya? Apakah karena itu ia tidak bertegur sapa dan tidak mengacuhkan saya? Seolah kami tidak saling kenal. Seolah kenangan kami tertawa di bawah rinai hujan deras sambil bermain sepeda tak pernah terjadi.

Bila memang karena bulu-bulu yang tumbuh di atas bibirnya itu membuat ia enggan menyapa saya, saya ikhlas. Mungkin itu lebih baik bagi kami.

Setelah itu kami tidak pernah bertemu atau berpapasan lagi di suatu tempat, hingga….

Kala itu saya masih OJT di perusahaan saya sekarang ini. Tahun 2013. Tapi saat itu OJT tahap 2 pasca diklat. Jadi saya sudah boleh melayani nasabah secara langsung. Di hadapan saya ada sebuah cincin dan selembar KTP. Usai cincin itu saya taksir saya baca nama di KTP untuk memanggil si pemilik cincin guna bernegosiasi soal uang pinjaman yang diinginkan.

Lala Mufadah (bukan nama sebenarnya). Hati saya berdesir. Saya hapal nama ini. Mungkinkah ini orang yang sama? Karena nama serupanya (namanya yang sebenarnya) lazim digunakan.

Saya panggil nama tersebut menggunakan sapaan, “Ibu Lala Murfadah” ke ruang tunggu nasabah. Seseorang datang mendekat, namun saya abaikan karena yang saya tunggu adalah seorang perempuan. Namun ketika sosok yang datang mendekat itu tepat berdiri di hadapan saya, kaget sulit rasanya saya hilangkah dari wajah saya.

Mungkin saat itu mulut saya melongo sejenak. Mata saya membesar sebelum saya mampu menguasai diri saya dengan keadaan yang harus saya terima di depan saya.

Untuk mengonfirmasi saya mengulangi namanya, “Lala Mufadah?”

“Iya,” jawab sosok berpotongan rambut pendek khas lelaki, baju kemeja lengan pendek kotak-kotak, dan celana bahan, beserta ransel di punggungnya.

Setelah mampu menguasai keadaan, saya melakukan percakapan formal lazimnya kepada nasabah. Hingga proses taksiran dan uang pinjaman disetujui akhirnya ia kembali ke tempat duduk di ruang tunggu. Menunggu pencairan uang pinjaman oleh kasir.

Berulang kali saya membaca keterangan di KTP-nya. Namanya jelas benar. Jenis kelaminnya perempuan. Namun penampilannya lelaki tulen. Dan itu didukung oleh paras wajahnya yang lebih mirip lelaki ketimbang perempuan.

FYI. Kami tinggal di Aceh. Propinsi dengan syariat islam. Perempuan menggunakan jilbab menjadi Perda di daerah ini. Maka siapapun dia yang beragama islam dan taat agama juga taat peraturan pemerintah setempat pastilah menggunakan jilbab bila ia perempuan. Itulah kenapa tadinya saya tidak acuh ketika nama Lala saya panggil yang datang malah sesosok lelaki. Karena tentu saja pandangan saya layangkan ke siapa saja yang mengenakan jilbab.

Mungkin sudah berselang 9 atau 10 tahun sejak kami bertemu di Labi-labi kala kami SMA saat itu. Namun perubahan penampilannya membuat saya syok. Lala yang saya temui saat di labi-labi adalah seorang perempuan dengan jilbab besar khas perempuan jilbaber. Namun Lala yang saya temui di tahun 2013 berubah menjadi sosok lelaki. Saya yakin, tak ada yang menyadari kalau Lala pernah menjadi perempuan.

Saat dia sedang berada di kasir untuk mengambil sejumlah uang. Saya perhatikan lekat ke bagian dadanya. Tak ada ciri fisik perempuan di sana. Hanya nama dan jenis kelamin di KTP yang menjadi bukti kalau Lala itu adalah Lala teman mengaji saya ketika kecil. Hanya itu. Kini ia menjadi lelaki sepenuhnya. Saya yang tahu wajah masa kecilnya tak bisa merasa ragu kalau itu Lala. Karena wajah dewasanya meski dengan penampilan laki masihlah menyerupai Lala gadis kecil teman ngaji saya. Alis matanya yang lebat. Matanya yang besar. Kulitnya yang gelap. Itu Lala.

Pertanyaan demi pertanyaan mengusik saya saat itu. Apakah ia akhirnya memilih menjadi lelaki karena akhirnya tubuhnya lebih menyerupai lelaki daripada perempuan? Apakah ia masih berkelamin perempuan namun berkarakter lelaki? Apa yang terjadi pada Lala? Inikah hemaprodit itu? Ataukah inikah transgender?

Sebulan kemudian Lala kembali datang ke kantor saya. Saat itu saya diposisikan sebagai kasir oleh pinca saya. Anak OJT memang harus menguasai semua bagian di kantor cabang meskipun itu bukan posisinya kelak ketika pengangkatan.

Lala datang hendak menebus cincinnya. Saya memberikan senyum standar pelayanan padanya. Kali ini saya tak menggunakan sapaan “Bu” ataupun “Pak” padanya. Hanya menggunakan namanya saja ketika berbicara formal pada nasabah.

Saya tak mencuri kesempatan itu untuk mengonfirmasi apakah ia masih ingat saya atau tidak. Saya tidak ingin melukai hatinya atau mempermalukannya. Saya tahu pasti, dari geriknya yang tidak nyaman berhadapan dengan saya dua kali di kantor ini merupakan pertanda dia ingat pada saya. Saya teman mengajinya. Teman masa kecilnya yang gemar main sepeda bareng.

Ketika Lala berlalu bersama cincinnya dan saya menatap punggung lelakinya dari belakang saya mencoba menerima kenyataan. Teman masa kecil saya mengalami kehidupan yang tidak mudah. Teman mengaji saya berubah menjadi lelaki. Saya berharap, keputusannya ini merupakan keputusan tepat. Keputusan benar. Keputusan yang membuatnya nyaman hidup sebagai manusia. Untuk selanjutnya saya serahkan pada Tuhan. Karena saya yakin, ia berubah bukan karena ingin melawan fitrahnya. Ia berubah hanya untuk membuat ia tahu harus berada di tempat yang mana.

………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Kisah saya di atas adalah salah satu kisah tentang seorang trangender atau intersex. Dalam hal ini saya akan mengutip sebuah postingan yang bagus dari seorang Psikiatri asal Aceh. Yang menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Lala.

Transgender dalam Islam

Dalam Islam, transgender dikenal dengan istilah mukhannast dan murajjil. Orang laki-laki yang menyerupai perempuan disebut dengan Mukhannast, sebaliknya perempuan yang menyerupai laki-laki disebut murajjil. Mengenai golongan ini, rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat mukhannats kaum laki-laki yang menyerupai perempuan, dan mutarajjil dari kaum perempuan yang menyerupai laki-laki.” [HR. Ahmad]

Pun demikian, ulama berpendapat – seperti dijelaskan Imam Nawawi, bahwa mukhannast ini terdiri dari dua macam. Pertama mukhannast yang memang dari “sononya” sudah begitu. Meski lahir sebagai anak laki-laki, tapi dari kecil dia sudah berjiwa dan merasa sebagai seorang perempuan, suka berpakaian dan bermain layaknya anak perempuan, semuanya alami tanpa dibuat-buat. Para ulama berpendapat bahwa kelompok ini tidak termasuk yang dicela oleh Rasulullah SAW, seperti di hadist diatas. Mereka tidak bersalah, tidak berdosa dan tidak boleh dihukum. Mereka menajdi seperti karena memang pemberian Allah SWT. Sedangkan kelompok mukhannast yang kedua adalah yang lahir dan besar secara normal, tapi belakangan berbuat-buat seolah-olah dia seorang perempuan. Baik dandanan, cara bicara, dan kebiasaannya. Kelompok inilah yang sebenarnya yang tercela dan dilaknat oleh Rasullah dalam haditnya tersebut. Mereka harus dibimbing untuk menerima fitrahnya sebagai laki-laki, karena memang perilakunya bertentangan dengan fitrahnya sebagai manusia.

Dari pembahasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok LGBT atau LGBTIQ ini harus dipisah dulu, karena memang sebenarnya mereka tidak sama dalam pandangan islam. Kelompok pertama, Lesbian dan Gay jelas hukumnya haram. Begitu juga dengan kelompok biseksual, karena secara langsung dia juga menyukai sesama jenis, inni juga diharamkan. Sedangkan kelompok transgender, intersex dan questioning, harus diperiksa dulu atau dilihat dulu kecenderungan mereka bagaimana, apakah mereka berbuat-buat seperti itu, atau memang dari lahirnya mereka sudah seperti itu, sehingga hukum dan pandangan islam terhadap kelompok ini juga bisa di luruskan.

Dikutip dari postingan berjudul: LGBT Menurut Pandangan Islam. Silahkan klik di sini untuk membaca postingan penuhnya.

Episode 6 di Korea Selatan & Epilog

Ketika telah dimulai harus diakhiri. Itulah yang mendasari saya tetep ngeyel bikin postingan lanjutan soal liburan saya ke Korea tahun 2014 silam. Ya.. hampir satu setengah tahun ceritanya belum tamat. Gak heran kenapa novel saya gak kunjung rampung.

Tulisan kali ini menjadi episode terakhir liburan di Korea Selatan sekaligus sebagai Epilog. Biar hutang (pada diri sendiri) segera lunas.

Hari terakhir di Korea Selatan merupakan jadwal kosong nan bebas. Karena kami men-skip jadwal pergi ke Busan pada hari ketiga dan memajukan jadwal lainnya otomatis hari terakhir menjadi jadwal kosong.

Jadwal kosong diisi dengan mengulang pergi ke tempat yang sudah pernah yaitu ke Itaewon dan Namdaemoon Market dengan alasan ada sesuatu yang harus dibeli lagi di kedua daerah tersebut.

Di Itaewon Rizka membeli Quran dengan terjemah berbahasa Korea. Si penjual memberikan harga murah banget karena katanya Qurannya terjadi salah cetak. Mungkin beberapa ayatnya kali yang salah. Karena Rizka bertujuan mengoleksi maka ia pun tak mengapa dengan Quran salah cetak tersebut yang penting ada huruf korea-nya lah pikirnya.

Selesai menemaini Rizka kembal menjelajah Itaewon kami ke Namdaemoon Market (lagi). Belanja ngabisan won terakhir. Kami menuju pintu masuk yag berbeda dari sebelumnya, otomatis kami berada di area penjualan yang berbeda pula.

Seingat saya, saya sibuk memilih baju buat para lelaki di rumah saya, Ayah, abang dan adik. Rizka mencari baju buat dijadikan oleh-oleh. Suci berburu tas pesanan Ibunya.

Langkah kaki saya semakin berat. Engsel lutut saya tak berfungsi lagi. Otot kaki saya memang lemah dan hasil pemeriksaan dokter pun berkata demikian. Kaki saya pantang dibikin capek.

Hari terakhir merupakan penderitaan terberat. Setiap ngeliat tangga saya pengen ngesot. Jalan saya seperti seorang renta. Spasi antara saya dan kedua teman saya begitu jauh. Asal mereka gak meninggalkan saya ketika naik subway dan tetap melihat saya ke belakang sih saya gak apa ditinggalkan langkah. Toh saya gak bisa mengejar langkah mereka lagi.

Hari itu kegiatan kami tak banyak. Selesai belanja kami langsung pulang. Sore sudah tiba kembali di hostel. Saatnya saya beristirahat demi utuhnya kaki saya untuk dibawa pulang ke Aceh esok harinya.

Suci melanjutkan nongkrong dengan teman Koreanya. Yang pulang ke hostel hanya saya dan Rizka.

Ketika saya sibuk mengoleskan krim buat peregangan otot di kaki saya, Rizka beberes koper. Lalu saya tidur. Dan terbangun di tengah malam untuk mandi. Besok harus sudah tiba di bandara pukul 5 pagi. Karena pasti mandi pagi itu wacana banget di tengah musim gugur yang dingin makanya saya mandinya malam aja. Gak sempatpun kalau mandi pagi.

Jam 4 pagi sudah nyeret koper ditengah sepi dan dinginnya pagi musim gugur Korea ke halte bus. Dingin. Lapar. Tapi saat itu belum patah hati. Jadi nelangsanya gak combo.

Singkat cerita malam harinya saya tiba di Aceh masih dengan coat hitam melekat di tubuh. Begitu tiba di Aceh suasana hangat menyapa. Aaah.. tetiba saya rindu panasnya Aceh. Benar adanya. Ketika disuruh milih panas atau dingin, maka saya akan memilih cuaca yang panas ketimbang dingin. Beberapa kali pembuktian tubuh saya gak cocok sama udara dingin. Seperti ketika Latihan Militer penerimaan pegawai, saya mengalami hipotermia akibat main hujan tengah malam dalam agenda jurit malam. Lalu ketika di Korea, kulit wajah dan kaki saya mengering dan keriput akibat cuaca dingin.

Pergi ke Korea merupakan perjalanan terjauh pertama saya. Perjalanan ke luar negeri pertama saya. Dalam empat kombinasi perempuan yang melakukan perjalanan bersama ke Korea Selatan ini satu diantaranya temen saya, dua baru saya kenal ketika melakukan perjalanan ini.

Saya selalu exciting bepergian dengan orang yang tak saya kenal. Selain menambah temen baru yang berarti bisa nambah kontak di wasap atau bbm juga berarti menambah wawasan saya terhadap apapun kelebihan orang tersebut yang patut dipelajari.

Seperti betapa kagumnya saya melihat Suci yang jago baca peta. Rizka juga bisa. Tapi perjalanan kali ini digawangi oleh Suci karena selain baca peta dia juga bisa membaca tulisan Korea yang petak-petak bulet-bulet itu. Saya kagum dan iri dengan Carina yang stempel di paspor-nya udah banyak dan betapa ini anak suka membaca. Bacaannya novel Haruki Murakami versi bahasa inggris. Ketika saya pinjem buat baca, kok susah banget saya move on dari halaman pertama ya? (red: harus pigi les lagi, Tan)

Lalu ada Rizka yang penuh perhatian terhadap rekan seperjalanan. Terlihat gimana dia yang selalu memastikan saya masih ada dalam jangkauan matanya ketika kaki saya mulai melemah buat dipake jalan dan naik turun tangga yang tiada akhir saat di stasiun subway. Juga bagaimana paniknya dia karena Suci yang belum pulang pada jam yang telah ia janjikan untuk tiba kembali ke hostel saat nongkrong cantik bersama teman Koreanya.

Melakukan perjalanan selalu menyenangkan. Menjadi suatu tim dan bagaimana tim itu bekerja menjadi perhatian saya kini. Bagaimana komunikasi dan hubungan yang terjalin akibat suatu perjalanan bersama menjadi hal yang candu bagi saya. Ingin rasanya di lain waktu saya bepergian dengan orang berbeda dan karakter berbeda pun bila perlu ditambah dengan orang yang belum saya kenal.

Karakter setiap orang yang berbeda membawa warna tersendiri pada setiap perjalanan. Inti dari perjalanan bukan hanya melihat suatu tempat baru, berpose di suatu lokasi yang bakal bikin iri orang yang belum pernah ke sana, makan makanan khas negara/daerah tersebut, namun juga, menambah teman dan menciptakan interaksi baru dari segala lika-liku perjalanan yang pasti selalu ada intrik-nya.

Untuk perjalanan Korea Selatan di musim gugur tahun 2014 lalu saya mengucapkan terima kasih pada Suci yang udah mau mengikutsertakan saya dan berkat jasanyalah saya bisa melihat Korea Selatan tidak hanya melalui drama saja. Makasih buat Rizka yang pada suatu malam iseng nge-wasap saya ngajakin ke Korea Selatan yang langsung bikin saya mupeng. Makasih buat Carina, menjadi teman bercanda di subway yang selalu kebagian jatah berdiri dan memandang iri pada ahjumma-ahjumma yang dapat kursi prioritas.

Korea Selatan. Terima kasih.

Bye…

Hey… apa kabar? Apa efek setelah adanya teroris beberapa waktu lalu bagi kondisi mental dan fisik mu? Aku yakin tak mengapa bagimu. Karena bukan teroris yang kau takutkan melainkan kurs mata uang Indonesia yang melemah. Kalau akibat dari teroris maka mata uang Indonesia terus merosot aku yakin kamu pasti akan makin memaki-maki si teroris yang masih diragukan keterorisannya.

Aku masih mengingat betapa banyaknya kicauanmu saat kemarin Rupiah kita melemah. Rupiah melemah aja kamu sewot. Gimana kalau aku yang melemah? Melemah, tak berdaya, terkapar seperti saat keracunan karbon monoksida tempo hari, akankah sewot dan panikmu sama?

Maafkan aku tidak mengetahui kapan tanggal ulang tahunmu. Iya. Tidak tahu. Bukan lupa. Dalam ingatanku hanya bulannya saja yang kuketahui tidak beserta tanggal. Namun ketika aku semakin menyadari Januari semakin bergerak kian habis, kenapa ulang tahunmu belum juga muncul?

Maksudku.. di zaman media sosial semarak ini dan kamu begitu aktifnya di jejaring Path. Kenapa lelaguan ulang tahunmu tak bersuara. Maka, siang itu aku putuskan untuk kepoin akun media sosialmu. Mencari tahu kapan hari lahirmu.

Daan… maaf. Aku telat tiga hari. Maaf. Aku tidak memperlakukan ulang tahunmu layaknya kamu memperlakukan ulang tahunku. Maaf.

Jadi.. selamat ulang tahun, lelaki sombong. Ya.. aku memanggilmu begitu. oh.. tidak tepat begitu ya? Biarlah itu menjadi di antara kita saja karena aku tidak ingin mengumbar statusmu di blogku.

Selamat ulang tahun. Serta mulia dan bahagia. Hiduplah lebih bahagia dari hari yang lalu. Hari yang penat yang berhasil kamu lewati. Hiduplah lebih bersyukur pada-Nya. Bersyukur atas apa yang telah dan sedang terjadi pada hidupmu. Semoga rahmat dan anugerah-Nya terlimpah untukmu agar semakin tercapai segala ambisimu.

Ngomong-ngomong soal ambisi. Aku inget betapa ambisimulah yang sekarang menjadi prioritasmu. Aku tidak menghujatnya. Dalam sisi yang profesional aku malah mengagumi ambisimu dan mengganggap begitulah seharusnya lelaki.

Seharusnya…

Ohiya… masih ingat akan lamaran tiba-tibamu saat aku sedang membeli koper? Bukan belagak bodoh tapi awalnya aku memang tidak ngeh. Bagaimana bisa? Kenapa aku? Kok kita? Aneh. Sudah bingung mencari koper yang kece ditambah lagi bingung harus bereaksi bagaimana atas pernyataanmu. Tapi lalu sebuah kalimat, “Liburan aja dulu. Senang-senang dulu. Nanti aja jawabnya,” membuatku akhirnya mampu membuat keputusan. Ya.. keputusan tentang koper mana yang kupilih untuk kubeli.

Lalu deringan telepon darimu mulai kerap. Pesan whatsappmu kian banyak. Rayuanmu kian marak. Pertimbangan-pertimbanganku mulai nyata. Dan kita mulai menyatukan visi dan misi. Mensketsa masa depan. Menggubah masa lalu menjadi pelajaran masa akan datang. Menggoreskan mimpi. Lalu membuat keputusan.

Ambisimu. Toleransiku. Tak cocok.

Adakah yang lebih aneh dari dilamar dan ditolak oleh lekaki yang sama? Iya. Kamu yang melamarku, lalu setelah segala penjelasan dan penjelasan kamu malah menolakku ketika hampir kukatakan iya. Ketika aku memberikan toleransi demi terwujudnya ambisimu. Lalu bahkan toleransiku belum cukup untuk ambisimu.

Dilamar dan ditolak oleh lelaki yang sama. Aneh.

Akhirnya kita menyerah. Aku lelah. Kamu berlalu. Aku tak menyalahkan jarak atau ambisimu. Aku juga tak menghujat Tuhan. Aku hanya menganggap takdir jodoh tidak menyinggungkan perasaanmu pada perasaanku. Kita tidak berjodoh.

Maka.. biarlah kita hanya terus menjadi teman. Teman dari SD hingga sekarang. Teman yang melulu bertemu di sekolah yang sama. SD, SMP, SMA, hingga kuliah di kampus yang sama. Biarlah kita terus seperti itu. Biarlah aku tetap menyebutmu teman SD. Atau teman kampus.

Dan ya.. sosok kawan ngajak kawin tidak ternobatkan untuk kamu padaku.

Iya.. begitu saja.

Jadi.. sekali lagi. Selamat Ulang Tahun. Sehat-sehat dan berbahagialah di sana. Ingat shalat, ingat Tuhan. Teruslah bekerja keras dan menjadi kaya raya namun tak lupa sedekah. Jadilah seorang lelaki yang baik dan temukan jodohmu.

Jangan khawatirkan aku. Bila pun masih tak tertebak kapan aku akan menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang harus merasa beruntung. Pada masa penantian itu, aku akan baik-baik saja. Tetap optimis dan semakin cantik. Kamu jangan pernah menyesali yang telah berlalu. Bukan mendendam, seperti tak ada pisang berbuah dua kali. Tak ada pula lamaran yang kuterima dua kali dari lelaki yang sama.

Ohiya. Sepasang sepatu hadiah ulang tahun darimu untukku September lalu mungkin akan selalu jadi alarm. Setiap kali kupakai otomatis benakku akan teringat padamu. Kamu beruntung.

Sejujurnya aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini. Namun bila terjadi maka mungkin kamu masih penasaran terhadapku. Hahaha.

Bye…

 

Si Kriwil Siti Nurjannah

Rambutnya ikal-ikal kecil, selalu dikuncir kuda dan berwarna agak kekuningmerahan. Perawakannya besar untuk anak umur 6 tahunan. Pemberani. Galak. Namanya Siti Nurjannah. Nama yang gak akan saya lupakan seumur hidup saya. Sahabat pertama saya. Pahlawan saya. Pembela saya. My partner in crime.

Siti Nurjannah. Kami satu kelas di kelas nol besar di sebuah TK yang dulunya sangat ternama di Banda Aceh. Entah bagaimana mulanya pokoknya dia sudah menjadi sahabat saya. Perawakannya yang tomboy dan pemberani membuat hidup saya semasa TK menjadi sangat gampang. Di TK saya dulu wahana mainan khas TK seperti ayunan, jungkat-jangkit, perosotan, panjat-panjatan memang banyak namun tetap saja terasa tidak cukup karena dimainkan secara berkelompok lalu dikuasai.

Semua mainan tersedia dalam jumlah lebih dari satu untuk setiap mainan. Ada yang diletakkan di halaman depan ada yang di halaman belakang. Kalau ingatan saya tidak salah, yang di depan diperuntukkan anak kelas nol kecil, sebaliknya, yang di belakang anak kelas nol besar. Tempat saya, Siti dan seluruh angkatan kami yang kebanyakan pasti lahirnya tahun 1988.

Dengan Siti yang tomboy dan berani, kami selalu mendapatkan setiap mainan yang kami inginkan. Dia bisa mengusir anak lelaki yang merebut ayunan yang hendak saya mainkan. Dia bisa membuat beberapa teman perempuan lari secepat kilat ketika kami sudah ada di ujung perosotan pertanda kami ingin naik. Sosoknya begitu menakutkan bagi yang lain, tapi bagi saya dia pembela saya. Dia yang melindungi saya ketika ada anak lelaki yang menjahili saya, dia menemani saya kala saya belum dijemput, dia membantu saya menghabiskan sup sayur yang jadi menu hari Senin dan juga susu yang rutin disajikan di hari Sabtu yang tak saya sukai. Sebaliknya, ketika hari jumat dan menu sarapannya adalah bubur kacang ijo kesukaan saya ataupun kolak, ia merelakan punyanya untuk saya makan sebagian. Entah ia tidak doyan, entah memang dia ingin berbagi jatahnya.

Dia baik. Baik sekali. Cuma cara bicaranya yang kasar hingga jarang ada yang mau berteman dengan kami terutama Siti. Siti tomboy dan kayak anak laki. Dia suka manjat-manjat sementara saya anteng main ayunan. Meski berbeda kami selalu bersama.

Di TK ada suatu ruangan berukuran 3×3. Suatu arena rumah-rumahan, ada tempat tidur beserta bayi, ada dapur beserta peralatan masak mainan, ada perlengkapan dokter-dokteran, ini adalah salah satu tempa favorit bagi anak perempuan dan selalu antrian untuk dapat bermain di dalamnya. Di kala anak perempuan lain bermain di rumah-rumahan ini berkelompok dengan jumlah 3-5 orang, kami hanya bermain berdua saja tanpa mengijinkan orang lain ikutan gabung saat kami berhasil mendapatkan ruang rumah-rumahan lebih dulu dari yang lain. Entah Siti tidak ijinkan, entah tidak ada yang berani dengannya. Namun suatu ketika ada seorang anak perempuan lugu memberanikan diri minta ikut gabung bermain di dalam rumah-rumahan bersama kami. Satu yang saya ingat jelas, Siti mengijinkannya bermain bersama kami dengan satu syarat: dia menjadi orang yang bertugas ambil-ambil air, dengan kata lain, dia kebagian tugas paling gak enak ketika saya berperan sebagai dokter sementara Siti menguasai dapur. Kalau kita mau kasar sih, kita menyebut si perempuan lugu itu kacung.

Memori tersebut memori paling susah saya lupakan. Dengan muka mau gak mau akhirnya si anak perempuan tersebut mengiyakan perkataan Siti dengan harapan dia bisa kebagian peran menjaga bayi mungkin. Kelak, si anak perempuan ini menjadi salah satu sahabat saya hingga ke bangku SMA. Ia, kami terus bertemu di sekolah yang sama hingga SMA.

 

Dalam hal keusilan Siti memang jagonya. Di sebelah kelas kami ada lorong yang tersambung ke pintu belakang sekolah. Kalau kami membuka pintu yang entah kenapa tidak dikunci itu kami temukan orang gila tidur di sebelah dinding yang menjadi tembok ruang kelas kami bagian luar. Di sebelah tubuh orang gila tersebut ada got kecil. dengan beraninya si Siti kerap menganggu orang gila tersebut dengan berusaha membangunkannya menggunakan ilalang untuk gelitikin tapak kaki si orang gila. Hal yang bahkan anak lelaki saja takut melakukannya. Ketika aksi itu dilakukan, Siti tidak sendirian. Ada beberapa orang termasuk saya berada di dekatnya. Tapi kami bagian menonton dan tertawa saja ketika orang gila itu bangun karena kegelian. Dan menjadi yang pertama melarikan diri saat orang gila tersebut marah. Itu cerita Siti dan ulah jahilnya.

Seingat saya ayah Siti adalah oom-oom tinggi besar berkepala nyaris botak dengan baju loreng-loreng. Pikir saya, wajar Siti bermental baja seperti itu.

Ingatan saya lompat. Akhirnya tibalah hari pertama saya masuk SD. Dengan gugup saya masuk ke dalam kelas. Lalu saya ingat betul, Ibu saya yang memilihkan bangku untuk saya duduk. Lalu saya melihat dia. Si perempuan lugu yang menjadi pesuruh angkat-angkat air. Karena merasa hanya dialah yang saya kenal saya meminta Ibu saya untuk menjadikannya teman sebangku saya. Ibunya dan Ibu saya setuju. Dia juga setuju. Akhirnya saya tahu, namanya Dina.

 

Beberapa hari berlalu. Ketika saya jalan bersama Dina, kami digangguin oleh anak lelaki teman sekelas kami, saat itulah dia muncul. Siti muncul.

Saya kaget sekaligus heran. Siti ternyata masuk di sekolah yang sama dengan saya. Kelaspun sama, tapi kenapa saya gak sadar? Ternyata Siti duduk di bangku paling belakang karena badannya yang besar. Saya dan Dina yang bertubuh mungil harus puas duduk di bangku kedua dekat meja guru.

Sejak saat itu kami main bertiga, saya, Siti dan Dina. Siti tetap menjadi penjaga saya. penjaga Dina juga. Dia masih menjadi Siti Pemberani yang mampu melawan anak lelaki iseng dan nakal.

 

Penampilan Siti selalu sama. Rambut ikat kuda. Hanya pitanya saja yang berganti ganti. Setiap kali melangkah, rambut kriwilnya bergoyang lucu. Saya dan Dina sebaliknya, rambut kami lurus terurai.

Siti selalu bawa bekal ke sekolah, saya sih tidak selalu. Sesempat Ibu saya menyiapkan saja. Bekal Siti selalu sama. Indomi goreng. Karena kegemarannya membawa mie dia sempat diejek kalau rambut kriwilnya itu karena ia terlalu banyak makan mie. Ia tak hiraukan perkataan orang dan terus memakan mie dengan lahapnya. Saat saya tidak membawa bekal, dengan senang hati Siti akan berbagi mie dengan saya. Membagi dua. Tapi jangan harap Siti mau berbagi mie dengan yang lain, termasuk dengan Dina. Cuma sayalah teman yang mau ia bagikan apapun.

Saya merasa Siti selalu ada untuk saya. selalu menolong saya. selalu memberi tanpa mengharap balasan. Dan saya pun gak pernah tahu harus memberi apa untuk Siti yang selalu bisa, selalu punya dan selalu mampu apapun sendiri.

Naik Kelas Dua saya dan Siti duduk bareng. Dengan postur tubuh berbeda Guru tidak mengijinkan kami berbagi meja pada mulanya. Kalau saya duduk di belakang saya tidak akan mampu melihat papan tulis karena dihalangi tubuh teman yang duduk di depan saya dan lebih besar, namun bila Siti duduk di depan dia akan menganggu teman di belakangnya.

Bukan Siti namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Seingat saya, besoknya oom-oom berkepala nyaris botak dan berbaju loreng datang ke sekolah. Dan voilaaa… saya dan Siti duduk bareng. Kami duduk di bangku terdepan namun di sudut ruangan. Siti kebagian di sisi dinding agar tubuhnya tak menganggu sesiapun.

 

Setahun di TK, dua tahun di bangku sekolah dasar ternyata harus puas saya lakoni jejak masa kecil saya bersama Siti. Ketika pembagian rapor kenaikan kelas Siti pamit. Ia mengatakan ia akan pindah sekolah, dan itu artinya kami tidak akan menemui lagi anak perempuan berambut keriting penyuka indomi goreng di kelas tiga. Sedih. Banget. Sahabat saya, pembela saya, penyelamat saya, pelindung saya tidak ada lagi. Pergi. Dan saya ditinggal. Mau tak mau, saya harus ikhlas. Saya harus bisa menghadapinya.

 

Ketika hari pertama tahun ajaran baru dimulai. Di kelas tiga. Itulah saya harus bisa terima kenyataan Siti Nurjannah tidak akan ada lagi di sekolah ini. Teman saya telah pergi. Setelah itu saya tetap sekolah seperti biasa, lambat laun akhirnya saya bisa berbaur dengan teman lain. Bermain dengan semua teman. Ketika diusili oleh anak lelaki nakal, saya harus mampu bertahan dan melawan sendiri. Tidak ada lagi pembela.

Dua puluh tahun telah berlalu sejak saya pertama kali mengenal Siti. Usia telah kami lalu banyak. Sejak hari pembagian rapor itu tak lagi saya dengar kabar tentang Siti. Hingga sekarang saya tak tahu dia ada dimana dan bagaimana kabarnya.

Pernah saat awal mula Facebook muncul saya mencari namanya di kolom pencarian. Nama Siti Nurjannah cukup banyak, wajahnya pun pasti sudah berubah dan susah dikenali, bila ingin berpatokan dengan rambutnya yang kriwil lucu juga sulit. Bisa jadi dia telah meluruskan rambutnya atau mengenakan jilbab seperti saya.

Jadi begitulah, Siti Nurjannah. Sahabat pertama saya. pembela saya. Meski kini saya tak tahu kabarnya, saya berharap ia memiliki kehidupan yang baik. Namun bila keajaiban terjadi pada kami, dan dia membaca tulisan saya lalu menyadari saya sedang menceritakan dia. Sungguh saya ingin bertemu lagi dengannya. Dengan sahabat masa kecil saya. sahabat tak terlupakan. Sahabat berambut kriwil, penyuka indomi goreng, usil dan pemberani bernama Siti Nurjannah.

 

 

Siti, Ini saya Intan Khuratul Aini. Teman yang selalu bersama kamu sejak TK. Teman yang tubuhnya mungil dan selalu kamu lindungi. Saya ingin ketemu kamu.

Sedikit Berlebih Namun Begitulah Dia Menjaga Cinta

Saya punya teman, teman saya punya pacar, pacarnya punya orangtua, orangtua-nya punya rumah, rumahnya diberi nama White House.

*ini cuma lelucon garing antara saya dan temen-temen saya aja

Serius. Saya cuma mau mengisahkan pacarnya temen saya itu. Teman saya lelaki, jadi pacarnya pastilah perempuan. Karena kalau pacarnya juga lelaki, saya pasti udah rukiyah dia. Karena saya termasuk golongan orang yang kontra dengan LGBT.

Pacarnya. Bikin kzl iya. Bikin sebel iya. Bukan karena pacarnya cantik hingga saya jadilah sirik. Bukan. Karena saya sendiri memiliki kecantikan tersendiri.

Guys… mau ke mana? Gak mau lanjut baca? Guys? Guys?

Tingkah polah pacarnya ini yang membuat saya mikir keras. Menurut saya pacarnya terlalu protektif. Nih ya, contoh aja. Si pacar temen yang kita sebut aja bernama Sandra, karena kalau pake nama Melati kayak korban pelecehan seksual aja. Jadi si Sandra menghapus kontak saya dari daftar kontak BBM temen saya. Sumpah saya dendam kesumat. Murka angkara jadinya. Gimana gak. Karena pada suatu ketika saya ingin nge-bbm temen saya lalu saya kebingungan sendiri karena namanya hilang dari kontak saya.

Kebingungan saya terjawab karena akhirnya kabar tersiar kalau sedang adanya penghapusan kontak massal dari hape temen saya yang dilakukan oleh Sandra, pacarnya sebagai tersangka.

Yang lebih bikin heboh lagi adalah ketika yang di-delcon adalah kontak-kontak bernama perempuan yang memasang DP wajah sendiri. Jadi kalau namanya perempuan tapi depe-nya bersama suami atau anak sih aman.

Sampai tahap ini saya mulai terusik kesabarannya. Karena menurut saya ini sudah aneh. Ini sudah mengganggu privasi temen saya. Masak iya dia gak boleh berteman dengan perempuan lagi karena berpacaran dengannya.

Delcon ini hal ketiga yang aneh dari polah pacarnya. Hal pertama yang bikin saya dan teman-teman ngakak adalah ketika dia menghampiri teman saya di rumahnya hanya untuk menyuruh temen saya mengganti DP BBM dengan potonya atau poto berdua. Jadi maksudnya kalau pasang poto sendiri menyiratkan ke-single-an.

12214308_10204068642390871_1017100532_o

Polah kedua adalah dia menyabotase hape temen saya. Disita.

Wow…

WOW

Sungguh cinta mati dengan gaya pengekspresian luar biasa.

Menurut saya tingkah polahnya itu menganggu. Namun selain sindiran dan memberi pemahaman ke temen saya kalau pacarnya itu aneh saya tak bisa berbuat apa-apa. Toh itu hubungan mereka, ya terserah mereka gimana jalaninya. Saya cuma sewot di bagian kontak saya dihapus aja. Lagian si temen selain sakit kepala gimana setiap kali harus memberi penjelasan kepada pacarnya ketika dia ngambek kayaknya selebihnya dia terima-terima aja. Nyantai aja menghadapi pacarnya yang cemburu buta tak keruan.

Karena menurut saya satu. Dia cinta. Makanya dia betah dan gak mempermasalahkan segala polah pacarnya. Itulah kenapa akhirnya saya memilih mundur. Tak bermain lagi dengan teman saya karena gak mau pacarnya meneror saya karena cemburu atau minimal salah paham. Pun mau bilang gak ada yang perlu dicemburukan dari saya, karena saya dan si temen memang temenan tanpa baper, percuma saja. Jadi saya yang menghilang dan biarkan mereka bersama. Apa coba hak kita melarang orang lain bahagia.

Karena saya orangnya suka mikir, jadilah ini jadi bahan renungan saya di kosan sambil ngadem di depan kipas angin.

Cara mencintai.

Iya. Cara mencintai setiap orang berbeda. Cara menjaga cinta-pun berbeda. Menurut Sandra begitulah cara dia mencintai pasangannya. Begitulah cara dia menjaga cintanya. Begitulah cara agar dia tak memberi celah kepada siapapun untuk memasuki hubungan cinta mereka.

Tetiba saya berpikir lagi. Think-ception.

Mungkin harusnya saya seperti Sandra.

Nah loh?

Iya. Mungkin harusnya saya dalam menjalin hubungan haruslah berbuat seperti Sandra meski agak ekstrim menurut saya. Tapi mungkin dengan cara itu saya bisa menyelamatkan hubungan saya. Dengan nyolot, dengan protektif berlebih, dengan sangat dominan mungkin saya bisa menjaga hati seseorang hanya untuk saya. Mungkin saya bisa membuat dunia dia hanya tentang saya. Mungkin…

mungkin…

tapi tidak.

Saya bukan Sandra. Saya Intan. Punya cara mencintai sendiri. Saya memang salah ketika mempercayai pasangan saya sepenuhnya. Tapi ya itu, cinta saya soal kepercayaan. Bukan soal mengekang.

Kini seperti saya akhirnya dapat memaklumi Sandra dengan cara mencintainya terhadap pasangannya. Saya juga ingin cara mencintai saya dimaklumi. Tak perlu oleh orang banyak.

Ya.. cukup dimaklumi oleh dia yang saya cintai. Cara mencintai versi saya.