Memilih Suami (part 6): Sesederhana Tas Kantor Saya

Pada satu bentuk persahabatan saya yang diisi dengan 3 perempuan cantik lainnya, kami memunyai ritual tahunan yang sudah berjalan sejak kami saling mengenal 2006 lalu. Itu artinya tahun ini sudah 11 tahun kami temenan. Alhamdulillah.

Ritual tahunan itu adalah memberikan kado ulang tahun. Jadi dalam setahun ada 4 kali kami melakukan ritual ini 
Seiring dengan bertambahnya usia. Kekurangannya waktu. Dan sudah terlalu banyak kado yang diberikan hingga kami terjebak pada satu pertanyaan pada setiap salah satu ulang tahun kami: “mau kasih kado apa lagi?”
Hingga akhirnya pada beberapa tahun terakhir, saya memberikan solusi. Solusi ini membuat kami memunyai satu tema ketika memberikan kado.

Temanya adalah: Gift by Request.

Jadi. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun kami akan menanyakan pada yang ulang tahun mau kado apa.

Cara ini berhasil menyingkat waktu pencarian kado. Yang kalau dulu bisa seharian bahkan dua harian. Kali ini cukup beberapa jam aja. 

Dengan begini pun kami merasa bahagia. Karena mendapatkan kado berupa barang yang kami sedang butuhkan atau inginkan. Sampai sampai saya dan salah satu teman saya yang belum menikah tergoda untuk meminta kado berupa jodoh saja. Karena itulah hal yang paling kami inginkan dan butuhkan.

Dengan sistem seperti ini semua pihak senang. Meskipun euforia menebak isi kado ketika membuka bungkusnya telah hilang. Tapi masih ada sih sedikit.

Si ulang tahun juga bebas mau memberikan spesifikasi seperti apa. Semisal temen saya pernah meminta tas, ukuran 15-20 cm, warna kuning. 

Atau ketika giliran ulamg tahun saya tiba. Saya yang memang banyak maunya langsung request kado berupa tas warna coklat, ukurannya besar tapi tidak terlalu besar, yang bisa dipake ke kantor dan mampu menampung dompet, mukena dan botol minum, bertali panjang, tidak mengkilat, tidak ada mainan, tidak ada motif atau gambar, tidak ada gembok.

Intinya. Tas berwarna coklat, berukuran sedang dan sederhana.
Meski detil yang saya sebutkan banyak namun kadonya hanya menginginkan tas sederhana. Detil itu saya sebutkan agar definisi sederhana saya tertangkap.

Sederhana.

Lama saya renungkan. Saya menginginkan lelaki sesederhana tas kantor saya untuk dijadikan suami.

Tidak banyak corak. Tidak banyak gaya.

Tidak bermotif. Tidak memakai modus lain hati lain bicara dan penuh rayuan semata.

Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Pas masuk ke hati saya. 

Lelaki yang sederhana. Biasa. Tidak heboh. Tidak terlalu banyak memakai printilan.

Sederhana namun tetap mampu menunjukkan ketampanannya dengan cara yang sederhana. 

Sederhana sikapnya. Sederhana perilakunya.
Ah… Tak tahu kapan teman teman saya bakal mengiyakan jodoh sebagai kado ulang tahun yang bisa di –request


*Baru kali ini nulis pake android. Gak tau gimana penampakannya. Apakah bagus atau ndak.

Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.

Memilih Suami (Part 4): 1/3

Saya pernah ditawari menikah dengan seorang lelaki. Iyalah. Lelaki. Namun tidak seperti kebanyakan lelaki yang mampir di hidup saya. Lelaki ini agak sedikit kurang beruntung secara finansial. Di saat sekarang saya dan teman-teman saya dilimpahkan rejeki finansial yang cukup. Saya agak merasa miris akan hidupnya. Ke mana ia buang usianya hingga masih berada pada posisi selevel fresh graduate?

Namun, ia lelaki baik. Agamis namun tidak humoris. Calon imam yang cocok untuk membimbing saya ke surga. Pikir saya. Jadilah saya mempertimbangkan tawarannya untuk menjadikan saya istrinya.

Dasar perempuan. Dasar juga saya yang perhitungan. Saya lalu ngambil kalkulator dan itung-itungan.

Gaji saya+ gaji dia       = aaah… masih terbilang cukup untuk hidup di aceh.

2

 

 

Bahkan pendapatan kami setelah dijumlahi dan dibagi dua itu sama hasilnya dengan kebanyakan penghasilan lelaki rata-rata yang bekerja di aceh dengan istrinya tidak bekerja. Bila mereka saja masih bisa hidup ya berarti saya juga.

Saya mantapkan hati saya untuk mengatakan iya. Atau mempertimbangkan mengatakan iya. Karena selain materi tentu saja saya harus lebih mengenalnya secara jauh. Kepribadiannya terutama. Karena saya gak mau terjebak dengan muka aja yang innocent tapi kelakuan bajingan.

Di tengah-tengah pertimbangan. Benak saya kembali ke perihal gajinya yang (maaf) hanya sepertiga dari penghasilan bulanan saya.

Lalu dengan jumawanya tetiba otak saya membuat suatu pertanyaan,

Entar kalau kami menikah apakah aku masih bisa beli lipstik tiap bulan ya? Atau apakah belanja lipstik harus dikurangi?”

Beberapa menit kemudian saya sontak kaget dengan pikiran saya sendiri. Bagaimana bisa saya membandingkan suatu pernikahan dengan lipstik. Kayaknya saya kebanyakan makan micin nih. Udah gak bener otak saya.

Cepat saya gelengkan kepala saya. Membuang pikiran itu jauh ke Tapak Tuan.

Tapi lalu…

Apakah iya, saya harus cukup punya lipstik satu sampai habis?”

Memilih Suami (Part 3): Bagaimana Bila dan Bagaimana Bila yang Banyak Sekali.

Saya takjub sama orang-orang yang telah menikah. Meskipun saya tidak tahu bagaimana proses ia akhirnya menentukan teman hidupnya. Setidaknya ia telah membuat keputusan. Sedangkan saya, hingga kini terus lari dari kenyataan.

Kenyataan yang menagih keputusan saya untuk menikah. Menikah dengan siapa. Menerima pinangan lelaki.

Dipikir-dipikir lebih dari 7 kali bahkan hingga habis pikir. Saya masih gak bisa juga mengatakan, “iya, ayo kita menikah”. Makin dipikir saya makin ragu. Makin tersesat. Makin ingin melarikan diri ke hutan belok ke pantai. Sungguh menikah gak pernah menjadi persoalan gampang.

Saya ingat akan perjodohan yang pernah terjadi pada diri saya. Saat itu bukannya saya tidak bimbang dan galau. uh.. butuh beberapa bulan bagi saya meyakinkan diri saya kalau saya akan menikah dengan seorang lelaki. Bahwa kelak saya akan menjadi istri. Usai cincin tunangan tersematkan, butuh berkali-kali saya tampar wajah saya untuk mengingatkan diri betapa jalan saya menuju seorang istri tak lama lagi. Iya. Segitunyalah saya harus terima kenyataan dengan sebuah pernikahan.

Makanya, terlepas dari siapa yang mutusin siapa atau siapa yang patut disalahkan atas putusnya pertunangan kemarin. Efek kecewa saya begitu besar. Ini bukan perkara hati yang patah. Namun ini perkara amarah yang ada akibat betapa segitu usahanya saya untuk meyakinkan diri bahwa menikah itu bukanlah sesuatu yang mengerikan. Dan ketika saya sudah siap dan bisa menerima kenyataan justru yang terjadi sebaliknya. Saya tidak jadi menikah.

Dulu saya agak sedikit mudah memutuskan karena dijodohkan. Ada pihak-pihak yang turut memberikan testimoni. Sekarang lamaran yang datang di hadapan saya muncul bukan dari perjdoohan siapapun. Hingga saya tak punya sumber testimoni. Menjadi galau berkepanjangan pada akhirnya.

Memilih lelaki tak segampang memilih lipstik. Memilih untuk dijadikan suami yang cukup satu dan sekali seumur hidup tak menjadi soal yang gampang. Lantas kenapa lingkungan sekitar saya terlalu maruk memburunya?

Bagaimana bila ia tidak sebaik yang saya kira?

Bagaimana bila ternyata dia punya kelainan seksual? Seperti Mr. Grey misalnya.

Bagaimana bila ia bukan lelaki baik-baik?

Bagaimana dan bagaimana yang hanya akan saya ketahui jawabannya setelah menikah.

Bagaimana dan bagaimana yang kelak harus saya tanggung sendiri.

Bagaimana dan bagaimana yang terus menghantui saya.

Dan kamu, iya kamu. Bila kamu membaca ini. Alih-alih kamu menyalahkan saya, tidak bisakah kamu menenangkan hati saya agar kelak saya dapat memenangkan hatimu? Menjadikanmu sang juara bagi hati saya.

Memilih Suami (Part 2): Hedonis vs yang Penting Bukan Pengemis

Saya ini tipikal perempuan yang diajak hidup hedonis gampang banget. Diajak hidup sederhana ayo-ayo aja. Saya bisa berada di dua gaya hidup tersebut. Yakin.

Hidup sederhana adalah hidup yang diberikan oleh orang tua saya. Dari kecil kehidupan kami pas-pasan meski jauh dari kata melarat. Hidup serba ada dan tetap irit bisa saya lakoni. Belum lagi pengalaman bekerja di Jakarta yang bergaji sungguh bikin prihatin. Berbulan-bulan di sana saya tetap survive dengan gaji apa adanya kok. Bisa tidur dengan fasilitas seadanya. Ngeluh sih. Tapi tetap bisa saya jalani.

Hidup mewah. Laah.. siapa juga yang gak mau, kan? Untuk perempuan apa lagi. Dikasih uang yang digitnya banyak gak perlu pusing gimana habisinnya. Mall banyak. Gak ada mall, online shop juga banyak, seperti: Lazada, Zalora, Hijup, Berrybenka, Sephora tersedia di gadget. Abisin duit mah lebih gampang ketimbang abisin krim malam.

Lalu di antara dua gaya hidup itu manakah yang saya ingini?

Mungkin akan dikatakan munafik, tapi saya lebih memilih kehidupan sederhana. Bukan berarti melarat dan makan sekali cuma dua kali tanpa lauk pula. Bukan juga berarti hidup jauh dari peradaban. Hidup berkecukupan. Cukup buat makan sehari tiga kali. Cukup buat jajan. Cukup buat hangout cantik di weekend. Cukup buat jalan-jalan ke luar kota setahun sekali dan luar negeri setahun sekali.

Eh bukan ya? Itu bukan sederhana ya?

Hahahaha…

Maaf.. jiwa foya-foya saya emang suka keluar tanpa logika.

Nah.. itu dia masalahnya. Foya-foya semacam bakat tersembunyi. Entah juga ini ambisi terpendam. Sekarang setelah punya penghasilan sendiri doyannya belanja tanpa mikir. Sukanya jalan-jalan. Di sinilah letak masalah diri saya.

Karena saya punya masalah seperti ini, itulah kenapa saya enggan bersanding dengan lelaki mapan luar biasa. Penghasilan berkali-kali lipat dari saya. Karena saya takut. Jiwa hedonis saya gak bakal bisa kebendung. Nah.. lumayan kalau punya suami kaya tapi orangnya sederhana. Ini suami kaya hidupnya hedonis pula. Klop kali lah sama saya. Bakal terperangkap kehidupan duniawi yang melenakan. Kehidupan yang senang hanya untuk berlomba-lomba menghabiskan. Kehidupan yang dipayungi naungan godaan setan.

Jujur, saya enggan.

Bilamana saya bersuamikan lelaki kaya namun bersikap bijak dan mampu mengeram sifat boros saya sih oke aja. Tapi bila tidak, saya akan lebih memilih suami yang tak mengapa tak mapan. Tak mengapa tak rupawan. Asal dirinya mampu memenjarakan jiwa hedonis saya. Asal dirinya mampu menuntun saya menjadi perempuan yang lebih sholehah.

Makanya, bila ada yang mempertanyakan kewarasan saya menolak lelaki mapan, itu semua bukan karena saya tak suka menjadi kaya, namun karena saya tahu. Gaya hidup ‘abang itu’ gak cocok ama saya. Gak cocok ama cita-cita saya.

Karena bila ingin foya-foya, saya hanya ingin melakukannya selagi single. Selagi memakan uang keringat sendiri.

Ini bukan munafik. Ini sebenarnya perencanaan. Perencaan untuk anak-anak saya kelak.

Saya gak ingin menjadi sepasang orangtua yang mengajarkan kehidupan serba ada serba gampang untuk anak-anak saya. Saya tidak ingin anak-anak saya kelak menjadi manja. Menjadi manusia tanpa usaha tanpa derita. Bukannya saya ingin membuat anak saya susah. Namun saya hanya ingin mengajarkan bahwa hidup itu sulit dan kita harus terbiasa. Mendidik mental baja bagi anak harus dilakukan sejak dini. Harus dicontohkan orangtuanya. Nah… bila saya terlihat terlalu foya-foya bagi anak saya. Bisa jadi entar tingkah anak saya melebihi saya. Kalau saya dulu ngambek sama orangtua, merajuk dan mengurung diri di kamar. Anak saya mungkin bakal lebih ekstrem. Merajuk, ngurung diri dan gunting-guntingin uang jajannya. Whoaaaaaaah….

Hiduplah sederhana. Hidup berkecukupan tanpa kekurangan. Ada tanpa berhutang. Hidup dengan usaha dan kerja keras. Agar kita lebih menghargai hasil. Agar kita tahu dunia tak bisa dilakoni dengan sikap manja. Karena tak selamanya hidup selalu di atas. Karena dunia berputar. Entah pada rotasi ke berapa, kita mungkin berada di bawah. Bersiaplah…

Jadi sebelum saya cuap-cuap soal anak dan ngedidik anak tapi anaknya belum ada. Saya kini tengah fokus memilih ayah dari anak-anak saya kelak. Seorang lelaki yang dalam sekali bertandang (baca: lamaran) mampu menggugurkan segala ragu di hati. Segala ketidaksiapan diri.

Dan, ya.. memilih itu sulit. Saya lebih suka jawab soal Fisika yang meskipun pas SMA saya selalu remedial.

Jadi, jangan tambah-tambahin dengan pertanyaan, “Kapan nikah?”

Cinta Pak Sopir

Kalau perempuan setia itu biasa. Lelaki setia? Standing ovation buatnya.

 

Salah seorang sopirnya seorang bapak-bapak di level pejabat di perusahaan saya telah diganti. Usut punya usut, yang lama ternyata telah dipecat.

Saya tidak menaruh perhatian lebih atas pemecatan sang sopir. Paling mangkir. Benar ternyata, namun ketika mengetahui cerita dibalik hingga ia terpaksa mangkir membuat rasa makan siang saya tak lagi sama. Malu hati pada si Pak Sopir tambah rasa haru juga bangga.

Pak sopir. Istrinya menderita kanker payudara. Atas alasan itu ia harus selalu berada di samping sang istri. Mengantarkan berobat ke luar kota dan membantu segala keperluan istri. Dengan aksinya yang demikian ia tak bisa masuk kerja. Pada kesempatan pertama, bosnya masih memaklumi dan memaafkannya, namun karena jumlah bolosnya sudah terlalu banyak terpaksa juga dipecat atas nama kedisiplinan.

Pak Sopir ikhlas. Sudahlah pikirnya, istrinya lebih penting menurutnya.

Cerita yang membuat saya terenyuh kagum pada lelaki berpostur pendek dengan kepala setengah botak itu adalah fakta bahwa ia ingin terus bersama istrinya dan terus menuruti keinginan istrinya.

Saya tidak tahu apakah penyakit istrinya sudah pada level parah. Yang jelas, ketulusan Pak Sopir mengiyakan segala pinta manja istir dan tetap setia dalam susah membuat saya terharu. Betapa setianya Pak Sopir. Betapa tabahnya beliau. Betapa tulus cintanya buat sang istri.

Dengan cerita demikian saya langsung menyimpulkan, cinta Pak Sopir buat sang istri tidak main-main. Ia sungguh mencintai istrinya. Ia rela meninggalkan pekerjaannya demi menghabiskan hari yang diminta oleh sang istri. Bersama berdua menghabiskan waktu. Cinta yang membuat senja iri karena keromantisan cinta mereka mengalahkan pendar mewah senja.

Dengan perasaan syukur mengetahui cinta seperti itu nyata dan dekat dan tak perlu jauh-jauh melihat cinta Habibie pada Ainun. Saya lantunkan banyak doa, agar lelaki setia dengan cintanya seperti itu dilapangkan dadanya dan diberikan lindungan Allah swt. Saya rapalkan doa agar sang istri mendapatkan kesembuhan. Agar mereka berdua mendapatkan hal baik yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

 

Tak lupa hati kecil berharap, agar semakin banyak lelaki dengan cinta luar biasa seperti Habibie dan Pak Sopir di dunia ini.

If I got locked away

And we lost it all today

Tell me honestly, would you still love me the same?

If I showed you my flaws

If I couldn’t be strong

Tell me honestly, would you still love me the same?

 Locked Away –R City ft Adam Levine

Indonesia Luas Banget

Saat itu saya tengah mengikuti diklat di Padang. Pada salah satu sesi coffe break curhatlah para pakbapak-buibu ini tentang kangennya mereka sama anak dan pasangan yang ditinggal diklat. Saya Cuma diam. Ya bisa apa? Cuma saya yang single. Masa iya saya harus ikutan curhat bilang kangen kakak kost sih?

Salah satu peserta diklat dari Bogor seorang mbak-mbak berwajah manis berkata, “Saya sama suami udah gak tau lagi bilang kangennya. Ketemu 6 bulan sekali,”

Nah, iya nih. Sebagian peserta diklat ini harus menjalani rumah tangga jarak jauh. Suami dan istri. Si mbak-mbak manis dari Bogor tersebut malah beda pulau lagi. dia di pulau Jawa suami di pulau Sulawesi. Jauh yak? Makanya terus dia berkomentar, “Indonesia tu luas banget, yak? Kalau LDR jauh. Mau ketemu berat di ongkos.” Saya mengiyakan banget pernyataan logis tersebut.

Banyak memang rekan seperusahaan dari yang secabang hingga beda cabang, yang saya ketahui melakoni kehidupan rumah tangga LDR lintas propinsi bahkan lintas pulau. Semua karena alasan kerjaan. Semua karena konsekuensi bersedia ditempatkan di mana saja. Mungkin karena satu-dua alasan mereka tidak bisa bersatu. Bisa karena pekerjaan, bisa karena ogahnya si istri ikut suami ke pelosok. Kasus yang sering terjadi sih karena pekerjaan. Ya lumrahlah ya. Jaman sekarang wajar banget kalau istri juga harus kerja. Karena suami gak bisa bedakan mana lipstick 500k dan yang 50k.

Benak saya terbayang akan hubungan saya yang terdahulu. Si mantan yang memang asli Aceh bekerja di Pulau Jawa, sedangkan saya terdampar di pelosok salah satu kabupaten di Aceh. LDR pasti akan menjadi lika-liku hubungan kami kelak pikir saya. maka itu saya membuat beberapa opsi untuk kami pilih nanti bila kami menikah.

  1. Saya bikin mutasi ikut suami ke Pulau Jawa yang pastinya susah banget untuk perusahaan kayak saya.
  2. Suami bikin mutasi minta dipindahkan kembali ke asal yang memang gampang karena dia PNS tapi dengan konsekuensi produktivitas kerjanya akan jauh menurun karena berada di kota kecil.
  3. Bila kedua opsi di atas gak bisa juga terjadi, maka saya yang akan ikut dia lalu resign dari kerjaan saya. Tentu saja ini bila pernikahan sudah berjalan minimal 3 tahun dan tidak ada tanda-tanda akan tinggal bersama kecuali saya bikin keputusan manuver dalam karir saya.

Dan nyatanya, saya gak perlu menjalani ketiga opsi itu karena saya batal nikah sama dia.

Lepas dari dia, tentu saja sekarang saya lebih berhati-hati. Memilih calon suami yang deket-deket aja. Minimal masih satu provinsi-lah walau akhirnya kami harus berpisah kabupaten. Tapi tetep, bila akhirnya tidak bisa bersatu saya rela kok keluar dari perusahaan ini. Ya tergantung pekerjaan suami tapi yah. Cukup gak gajinya belikan saya lipstick yang bukan 50K. *ditoyor penghulu*

Beberapa waktu lalu ada yang ngelamar saya, dia orang Aceh juga dan bekerja di Jakarta. Ah elah… problematika yang sama lagi pikir saya. gini-gini aja kok yang ngelamar pikir saya? tapi karena saya udah pernah punya tiga opsi dalam hidup saya perihal rumah tangga yang LDR, saya diskusikan dengan dia tentang kemungkinan-kemungkinan dari hubungan kami.

Tapi lalu ketiga opsi saya ditolak. Lamaran dibatalkan.

Ini apa cuma saya ya yang ngalamin dilamar terus yang nolak juga pihak yang ngelamar? Kok aneh-aneh aja sih jalan hidup asmara saya?

 

Saya harus punya perencanaan matang terkait dengan pernikahan dan pekerjaan saya. Maka itu, pada sesiapapun yang datang ngelamar baik ke saya pribadi atau ke orangtua saya, langsung saya katakan kondisi saya. Lalu saya serahkan padanya segala keputusan atas tiga pilihan yang saya ajukan. Karena ini adalah konsekuensi saya yang telah bersedia bekerja di perusahaan yang ditempatkan di seluruh Indonesia. Tapi juga saya punya keinginan berumahtangga, makanya pilihan mau digimanakan hubungan rumah tangga saya kelak, saya serahkan ke calon imam saya. Ke calon pemimpin rumah tangga saya kelak.

Ada yang telah setuju atas satu dari opsi saya. Ada yang bahkan tidak mempermasalahkan apapun sebelum merasakannnya. Tapi lalu ya namanya juga belum jodoh ya, ada aja pasti kendalanya. Ya inilah, ya itulah. Yang sayalah. Yang dialah. Ya gitu-gitu aja terus ampe Ibu saya sewot.

Tapi ya, saya kepikiran akan perkataan si mbak-mbak temen diklat saya itu. Indonesia luas banget. Tetiba saya kepikiran. Apa jadinya kalau saya tidak lahir di Indonesia tapi lahir di Negara kecil sebut saja Singapore atau Monako. Akankah masalah karir dan kehidupan rumah tangga menjadi tidak sepelik ini? Ah sudahlah, bila saya tidak tinggal di Indonesia mana lah saya kenal dengan Jokowi dan bisa baca hates-speech-nya Jokowi haters kan yak?

Indonesia luas. Jatuh cintalah pada lelaki/perempuan yang dekat. Agar rumah tangga tak dipisahkan garis bujur dan garis lintang. Agar rindu tak terhalang tiket pesawat. Agar komitmen tidak dibiaskan oleh musim dan zona waktu yang berbeda. Iya, jatuh cintalah pada lelaki/ perempuan yang dekat. Seperti sebuah lagu dangdut, Pacar Lima Langkah.

ind

Seperti Dialog Sinetron Saja

Entah ulang tahun yang ke berapa, saya dapati diri saya kaget mendapatkan sebuah sms ucapan selamat ulang tahun dari seorang lelaki yang gak pernah saya sangka. Ketidaksangkaan berupa ia ingat hari lahir saya, ketidaksangkaan yang kalaupun ingat dia sempatkan dirinya untuk mengetik beberapa huruf menjadi rangkaian kalimat “Selamat Ulang Tahun”

Saat itu saya tengah berada di kota yang berbeda dengannya. Demi mendapatkan ucapan itu saya kaget luar biasa. Lelaki ini, bisa perhatian juga. Lelaki ini bisa romantis (ala kadarnya juga). Senyum saya terkembang. Sms itu merupakan ucapan selamat ulang tahun paling berkesan dari lelaki yang paling berkesan. Sms itu mengalahkan ucapan ulang tahun lainnya. Sms ulang tahun juara.

Bertahun-tahun kemudian. Setelah menjalani hari-hari yang kembali biasa. Dan lelaki tersebut tak pernah lagi menunjukkan sikap manisnya. Tibalah saya pada suatu masalah yang sangat membuat dunia saya jumpalitan. Hari saya kacau. Pikiran saya mumet hingga ingin sekali saya gantikan kepala saya dengan kepalanya Dian Sastro. Lumayan kan, punya kepala dari artis plus mukanya juga sekalian. Gak kebayang deh entar pasti banyak lelaki yang kepincut ama saya.

Saat kelam itu ialah saat saya harus merelakan harapan saya pupus. Cita-cita saya menguap. Impian saya lebur. Seakan masa depan kelam bagi saya.

Usia saya 26, awal tahun 2015. Dan itu merupakan masalah terbesar dalam hidup saya sepanjang 26 tahun berwara wiri di dunia. Masalah yang sukses menjadikan saya merasa kerdil. Dan sukses menampar yang membuat saya teringat akan kalimat.

Manusia bisa berencana. Namun Tuhanlah yang menentukan.

Iya. Saya kerdil banget. Segala kuasa itu ada di tangan Tuhan, bukan manusia. Karena selama ini saya berharap kepada ‘manusia’ maka pantaslah saya kecewa begitu besar. Karena harusnya saya berharap, memohon, meminta pada Allah swt semata.

Dengan deraian air mata yang entah sudah berapa kubik menderas. Saya menangis tersedu di pelukan lelaki yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Kepada lelaki yang pernah membuat saya girang setengah mati karena sebuah pesan singkat darinya, saya ceritakan semua kelu. Saya bagikan air mata bersimbah peluh padanya. Saya lemah. Saya tak berdaya kala itu. Saya luluh lantak di hadapannya. Suatu hal yang mungkin setelah dewasa baru kali itu saya lakukan di hadapannya.

Lelaki itu mengelus pundak saya lembut. Menenangkan. Mengelus kepala saya sayang. Lalu berkata, “Udah… jangan menangis lagi. Adek kan masih punya Papi disini,” demi mendengar kalimat yang biasanya cuma saya dengar di dialog sinetron Indonesia, saya pun menghambur ke pelukannya. Memeluknya erat. Memeluk lelaki itu. Lelaki yang dari dialah saya ada di dunia ini. Lelaki yang menurunkan sebagian besar sifat dan karakternya kepada saya. Lelaki yang lazimnya disebut Ayah. Namun saya memanggilnya Papi.

Sekarang ketika mengenang dua moment tersebut saya menyadari satu hal. Lelaki… sedingin, secuek, setua, sekampungan, senorak apapun pasti punya sisi romantisnya. Yang akan ditujukannya kepada perempuan perempuan pilihan hatinya. Pada istrinya, pada anak perempuannya.

Selamat Hari Ayah.

Hadir di Masa Lalu, Kini Malah Mengganggu

Orang-orang yang pernah hadir di masa lalu kehadirannya memang memberi arti, entah pelajaran, entah sebagai hadiah. Namun nyatanya hadir di masa lalu, menganggu di masa sekarang.

Seperti mantan yang cintanya belum kelar. Satu jenis orang.

Seperti lelaki yang pernah naksir setengah mati namun cintanya kita tolak. Satu jenis lainnya.

Bahkan seperti lelaki yang telat menyadari betapa dulu kita pernah menaruh rasa padanya sepenuh hati. Satu jenis lainnya lagi.

Kepada mereka sebenarnya masa lalu cukuplah berada di masa lalu. Entah untuk dikenang atau untuk dijadikan pembelajaran kini. Namun tidak seharusnya mereka eksis di masa sekarang apapun alasannya untuk kembali membawa-bawa sebuah kata bernama ‘rasa’.

 

Tahun berganti tahun. Intan yang berusia 18 tahun tak jauh berbeda dengan Intan sekarang. Meski 9 tahun beranjak mengganti kelander demi kelander, Intan tetaplah seperti ini. Perempuan yang masih berusaha untuk gemuk, hobi menulis meski tak kunjung menjadi penulis, dan masih belum menikah.

Salah seorang Abang angkatan semasa kuliah. Ketika itu saya baru lulus kuliah dan dia pernah menyapa saya di kolom pesan facebook hanya untuk mengatakan, kalau seharusnya saya dulu menerimanya, karena dengan begitu saya sudah menikah dengannya. Jadinya saya gak jomblo usai kuliah.

Salah satu seorang lelaki lainnya yang pernah dekat namun tak kunjung mau saya jadikan pacar pernah meledek saya juga dengan status saya yang hingga kini masih sendiri sementara dia sudah ‘sukses’ (menurutnya).

Orang-orang seperti itu banyak. Saya tak pernah ambil pusing. Mau dia sudah menikah kek, mau nikah cerai nikah lagi kek, mau saya hingga kini belum menikah pun, gak pernah menjadi suatu hal yang patut saya risaukan. Ketika mereka berbicara meledek saya begitu saya malah Cuma ketawa sendiri. Dalam hati pengen bilang, “kok ngomong berasa dendam gitu? Ada rasa yang belom kelar ya?”onion-emoticons-set-6-58

Iya. Entah kenapa kalau ada yang samperin saya hanya untuk berusaha bikin saya sebel, saya ngerasa sebenarnya mereka belum bisa lepas dengan pesona saya onion-emoticons-set-6-15 *disemprot baygon ama pembaca

Seperti beberapa hari lalu. Seorang lelaki masa lalu, kami tidak pernah pacaran, namun dekat, lalu karena suatu hal di masa lalu saya menyuruhnya menghilang dari hidup saya, jangan pernah muncul lagi. Secara teknis, dia memang tak pernah muncul lagi face to face ama saya, namun dalam dunia maya dia masih berseliweran.

Nah… beberapa hari lalu melalui pesan BBM dia chating ama saya. Karena saya tahu diri dengan statusnya yang sudah menikah anak satu, dan saya perempuan single, berkarir dengan pesona luar biasaonion-emoticons-set-6-11 *disemprot baygon lagi karena yang tadi gak bikin mati, saya agak malas membalas BBM-nya kala malam beranjak larut. Meskipun saya belum tidur saya berpura-pura saja sudah tidur. Esok paginya saya bales, dan bilang semalam udah tidur. Itu saja. Dan herannya di pagi, jam-jam enak-enaknya sarapan di kantor dia malah membalas BBM-nya sambil mengenang masa lalu. Mengenang apa-apa yang pernah kami lakukan bertahun-tahun ke belakang.

Hellow…

Kepalamu di tempatnya, Bang?

Isi BBM-nya sangat gak bernilai bagus bila dikaitkan dia yang sudah menikah. Dan karena saya merasa saya wanita terhormat maka saya putuskan imajinasi masa lalunya. Saya gak mau ini menjadi sebuah skandal.

Lucu adalah ketika dia yang pernah dan selalu saja mengejek saya dengan status saya yang belum menikah sekarang malah mengutarakan nostalgianya yang jelas-jelas mempermalukan rumah tangganya yang selama ini dia pamerkan sama saya.

Mencoba bersabar dan tetap kalem. Saya hanya timpali sederhana meskipun mulut judes saya pengen banget nyalurkan energy ke jemari saya untuk ngetik,

kalau-pun pernikahan kamu tidak bahagia, berpura-puralah saja bahagia,”

Tapi karena saya masih mencoba bersikap tenang, pernyataan itu urung saya katakan.

 

Beberapa hari berikutnya. Dia muncul lagi. Dengan hinaan lain lagi untuk saya.

Ya.. orang-orang yang hadir di hidup kita memang ada yang memberi kita pelajaran agar lebih bisa memaknai hidup, namun ada juga yang memang hanya untuk menguji kesabaran kita.

Ya.. kadang masa lalu bisa begitu menganggu.

Ini hal terakhir. Setelah ini delete contact yang akan beraksi. Karena memang tidak seharusnya saya menjaga perasaan orang yang tahunya hanya untuk memainkan emosi saya saja.

Surat

Ulee Glee, 14 Juni 2014

Kepada:

Calon Suamiku

Assalamu’alaikum wr, wb.

Dengan surat ini aku ingin menyampaikan bahwa, kamu, duhai calon suamiku bukanlah lelaki cinta pertamaku.

Pun juga bukan cinta mati dan cinta penasaranku.

Namun aku yakin, kamu adalah satu cinta yang mampu mengajakku ke surga.

Ttd

Calon istrimu yg tidak bisa masak.