Kepatahhatian (2)

Menyambung tentang kepatahhatian cerita sebelumnya. Jalinan hubungan lain yang mampu membuat saya patah hati dan menangis pilu adalah ketika dihadapkan pada kelutnya romansa persahabatan.

Air mata saya pernah bercucuran berkali-kali tentang memercayai teman. Teman saya sedikit. Itu-itu saja. Namun yang itu-itu sajalah yang sudah mampu membuat saya cukup dan bahagia. Bila ada yang menyakiti, melupakan, dan meninggalkan saya yang saya rasakan adalah gedebam rasa sakit patah hati.

 

Belum lama ini. Saya pernah dikecewakan lagi oleh seseorang yang sangat saya percaya, sangat saya bela, sangat saya sayangi, sangat saya perlukan. Saya berpikir selama ini saya juga seperti itu di hatinya. Meskipun mungkin perasaan kami tidak sama banyak, namun entah kenapa saya yakin kalau dia menganggap saya sebagai salah satu temannya yang ia sayangi. Yang ia pedulikan dan ia ingat.

 

Namun.. layaknya cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin rasa perteman yang saya alami juga bertepuk sebelah tangan. Tangannya tak pernah menggenggam tangan saya sebagai salah satu temannya. Sahabatnya. Atau mungkin tidak lagi. pernah tapi itu dulu. Tahun lalu. Atau entah kapan berhentinya. Hanya dia yang tahu.

 

Saya malas menggangapnya hanya sebuah kesalahpahaman saja. Sebagai seorang yang hrausnya merasa teman harusnya kesalahpahaman itu tidak terjadi. Namun karena terjadi, saya menyadari satu hal.

Posisi saya tidak sehebat itu di dalam laman hati bertajuk “teman” miliknya.

Mungkin saya hanya tipikal teman yang biasa saja. Teman sekedar kenal. Tahu nama dan pernah beberapa kali nongkrong bareng. Sekedar itu saja. Cukup kita ketahui saja.

 

Dipatahhatikan oleh seorang teman seperti dia membuat surut rasa percaya saya. kikis rasa sayang saya. membludak amarah saya. Namun mengingat umur yang tidak lagi di era main engklek makan es goreng, maka saya memutuskan dan dengan pasti mengucapkan kalimat ini dari bibir saya kepadanya, “Saya gak bisa maksa kamu untuk menyukai dan berteman dengan saya. Saya akan mencoba untuk tahu diri. Mulai sekarang kita hanya akan menjadi teman biasa saja. Saya tidak mengatakan tidak akan bicara lagi pada kamu atau memutuskan hubungan. Namun, saya hanya akan berbicara padamu bila itu perlu saja.” Saya mengucapkan kalimat itu dengan kepalan tangan yang tergenggam. Kepalan tangan yang tergenggam guna menahan agar air mata tak jatuh. Kepalan tangan sekuat tenaga.

Meskipun melankolis untuk hal beginian, namun saya masih ingin terlihat kuat. Entah terlalu malu dengan usia masih merengek durja karena urusan pertemanan. Entah karena terlalu gengsi padanya dan seolah menunjukkan. Antara saya dia. Sayalah yang jatuh hati lebih dalam dalam hubungan pertemanan yang kami jalani selama beberapa tahun ini.

 

Akhirnya… siang itu. Setelah berbicara dalam atmosfir tak mengenakkan, saya pergi lebih dulu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan dia. Meninggalkan apa-apa yang selama ini pernah kami jalani. Dalam suka, dalam duka. Dalam tawa, banyak canda. Dalam sulit dalam mudah.

 

Siang itu, dalam lirih, saya meminta Tuhan menghapus rasa sayang saya padanya. Meskipun sulit menghapus kenangan yang yang telah kami cetak dalam banyak poto-poto yang memenuhi memory, tapi saya ingin rasa kecewa saya cukup besar untuk menghapus rasa sayang, rasa peduli dan rasa kagum saya padanya.

 

Demi mengalihkan kepatahhatian, saya menghibur diri. Bahwa, tidaklah mengapa kehilangan seorang teman karena toh kelak hidup saya akan lebih ribet dan masalah akan lebih ruwet daripada dilupakan oleh seorang teman.

 

Iya… untuk hal hati yang telah saya percayakan pada suatu sosok. Untuk sosok yang telah saya patri dalam hati, saya memang lebay. Saya bisa merasakan patah hati dan terpuruk parah akibat dikecewakan.

Padahal ini hanya untuk urusan hubungan atasan-bawahan dan teman. Bagaimana lagi bila hati saya dipatahkan oleh pasangan saya. mungkin efeknya, akan-jauh—lebih-besar.

Advertisements

Lala yang Lelaki

Pada zaman Rasulullah SAW, ada beberapa hadist yang berhubungan dengan kaum Khunsa dan mukhannast. Khunsa maksudnya mereka yang tidak jelas jenis kelaminnya, sedangkan mukhannast (dan murajjil) adalah mereka yang punya kelamin tertentu tapi berprilaku sebaliknya (sumber: situnis.com)

 

Saya punya teman mengaji semasa kecil yang bernama Lala (bukan nama sebenarnya). Seorang anak perempuan yang usianya terpaut setahun lebih tua dari saya. Kendati demikian saya tak memanggilnya dengan sapaan ‘Kak’, hanya nama saja. Lala.

Lala berkulit hitam. Berpostur tubuh kekar dan besar. Gaya sikapnya sedikit tomboy. Hanya sedikit. Karena ia tak memungkiri sama sekali kalau di adalah anak perempuan. Namun dari segi penampilan ia jauh dari kata imut-imut ala gadis kecil. Ia bersuara besar. Ia tertawa keras. Ia lucu. Saya menyukainya. Dia teman yang baik hati dan suka menolong dengan keriangannya. Bermain bersamanya sungguh menyenangkan. Ohiya. Karena dia teman mengaji saya, saya tahu dia masuk dalam jajaran santriwati yang jago mengaji. Ia cepat tangkap setiap kali diajarin tajwid. Untuk urusan tajwid mengaji (pada masa itu) kami sering bersaing dalam siapa dulu lebih paham. Namun untuk urusan kuatnya mengambil nafas dan irama saya kalah telak.

Setelah saya ingat-ingat lagi sekarang. Lala kecil itu bersuara agak sedikit menyerupai lelaki. Iya.. sepertinya begitu.

Pada kelas 6 SD saya pindah rumah. Otomatis saya dan Lala yang menjadi teman ngaji sekaligus teman bermain menjadi terpisahkan oleh jarak. Saya ingat betapa hati saya susah tak bisa bertemu lagi dengannya. Iya, meski masih sama-sama tinggal di kota yang sama namun jarak yang jauh gak memungkinkan untuk seorang anak SD bermain dan bertemu kala itu. Kendaraan andalan kami sepeda. Kalau nekad mau ketemu naik sepeda ya bisa pingsan di tengah jalan.

Bertahun berlalu, pada suatu momen tidak terduga saya bertemu Lala ketika kami memakai segaram putih-abu-abu pada sebuah angkutan umum.

Kami duduk saling berhadapan di labi-labi (red: angkot), namun saya agak ragu itu dia. Awalnya bahkan butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari kalau sosok perempuan berjilbab lebar di depan saya adalah teman kecil saya. Wajahnya ia tutupi dengan sapu tangan. Hanya alisnya yang hitam lebat dan matanya yang besar yang terlihat. Namun dari dua bagian wajah itu, saya seperti yakin itu adalah Lala.

Dalam hati saya bertaruh. Bila ia turun dari angkot ini di persimpangan menuju rumahnya maka bisa dipastikan itu Lala 100%. Tak lama kemudian ia memencet bel labi-labi agar labi-labi berhenti. Dan benar saja seperti dugannya saya, ia turun di persimpangan yang saya maksud. Ketika hendak turun dari labi-labi sapu tangan yang menutupi wajahnya ia sibak sebentar. Dalam momen yang sangat singkat itu saya melihat sesuatu yang membuat saya kaget.

Lala. Perempuan yang telah tumbuh menjadi gadis remaja itu memiliki kumis. Bukan kumis tipis ala-ala Iis Dahlia. Tapi kumis yang membuat saya kaget.

Setelah ia turun pikiran saya berkecamuk. Apakah karena itu ia menghindari kontak mata pada saya? Apakah karena itu ia tidak bertegur sapa dan tidak mengacuhkan saya? Seolah kami tidak saling kenal. Seolah kenangan kami tertawa di bawah rinai hujan deras sambil bermain sepeda tak pernah terjadi.

Bila memang karena bulu-bulu yang tumbuh di atas bibirnya itu membuat ia enggan menyapa saya, saya ikhlas. Mungkin itu lebih baik bagi kami.

Setelah itu kami tidak pernah bertemu atau berpapasan lagi di suatu tempat, hingga….

Kala itu saya masih OJT di perusahaan saya sekarang ini. Tahun 2013. Tapi saat itu OJT tahap 2 pasca diklat. Jadi saya sudah boleh melayani nasabah secara langsung. Di hadapan saya ada sebuah cincin dan selembar KTP. Usai cincin itu saya taksir saya baca nama di KTP untuk memanggil si pemilik cincin guna bernegosiasi soal uang pinjaman yang diinginkan.

Lala Mufadah (bukan nama sebenarnya). Hati saya berdesir. Saya hapal nama ini. Mungkinkah ini orang yang sama? Karena nama serupanya (namanya yang sebenarnya) lazim digunakan.

Saya panggil nama tersebut menggunakan sapaan, “Ibu Lala Murfadah” ke ruang tunggu nasabah. Seseorang datang mendekat, namun saya abaikan karena yang saya tunggu adalah seorang perempuan. Namun ketika sosok yang datang mendekat itu tepat berdiri di hadapan saya, kaget sulit rasanya saya hilangkah dari wajah saya.

Mungkin saat itu mulut saya melongo sejenak. Mata saya membesar sebelum saya mampu menguasai diri saya dengan keadaan yang harus saya terima di depan saya.

Untuk mengonfirmasi saya mengulangi namanya, “Lala Mufadah?”

“Iya,” jawab sosok berpotongan rambut pendek khas lelaki, baju kemeja lengan pendek kotak-kotak, dan celana bahan, beserta ransel di punggungnya.

Setelah mampu menguasai keadaan, saya melakukan percakapan formal lazimnya kepada nasabah. Hingga proses taksiran dan uang pinjaman disetujui akhirnya ia kembali ke tempat duduk di ruang tunggu. Menunggu pencairan uang pinjaman oleh kasir.

Berulang kali saya membaca keterangan di KTP-nya. Namanya jelas benar. Jenis kelaminnya perempuan. Namun penampilannya lelaki tulen. Dan itu didukung oleh paras wajahnya yang lebih mirip lelaki ketimbang perempuan.

FYI. Kami tinggal di Aceh. Propinsi dengan syariat islam. Perempuan menggunakan jilbab menjadi Perda di daerah ini. Maka siapapun dia yang beragama islam dan taat agama juga taat peraturan pemerintah setempat pastilah menggunakan jilbab bila ia perempuan. Itulah kenapa tadinya saya tidak acuh ketika nama Lala saya panggil yang datang malah sesosok lelaki. Karena tentu saja pandangan saya layangkan ke siapa saja yang mengenakan jilbab.

Mungkin sudah berselang 9 atau 10 tahun sejak kami bertemu di Labi-labi kala kami SMA saat itu. Namun perubahan penampilannya membuat saya syok. Lala yang saya temui saat di labi-labi adalah seorang perempuan dengan jilbab besar khas perempuan jilbaber. Namun Lala yang saya temui di tahun 2013 berubah menjadi sosok lelaki. Saya yakin, tak ada yang menyadari kalau Lala pernah menjadi perempuan.

Saat dia sedang berada di kasir untuk mengambil sejumlah uang. Saya perhatikan lekat ke bagian dadanya. Tak ada ciri fisik perempuan di sana. Hanya nama dan jenis kelamin di KTP yang menjadi bukti kalau Lala itu adalah Lala teman mengaji saya ketika kecil. Hanya itu. Kini ia menjadi lelaki sepenuhnya. Saya yang tahu wajah masa kecilnya tak bisa merasa ragu kalau itu Lala. Karena wajah dewasanya meski dengan penampilan laki masihlah menyerupai Lala gadis kecil teman ngaji saya. Alis matanya yang lebat. Matanya yang besar. Kulitnya yang gelap. Itu Lala.

Pertanyaan demi pertanyaan mengusik saya saat itu. Apakah ia akhirnya memilih menjadi lelaki karena akhirnya tubuhnya lebih menyerupai lelaki daripada perempuan? Apakah ia masih berkelamin perempuan namun berkarakter lelaki? Apa yang terjadi pada Lala? Inikah hemaprodit itu? Ataukah inikah transgender?

Sebulan kemudian Lala kembali datang ke kantor saya. Saat itu saya diposisikan sebagai kasir oleh pinca saya. Anak OJT memang harus menguasai semua bagian di kantor cabang meskipun itu bukan posisinya kelak ketika pengangkatan.

Lala datang hendak menebus cincinnya. Saya memberikan senyum standar pelayanan padanya. Kali ini saya tak menggunakan sapaan “Bu” ataupun “Pak” padanya. Hanya menggunakan namanya saja ketika berbicara formal pada nasabah.

Saya tak mencuri kesempatan itu untuk mengonfirmasi apakah ia masih ingat saya atau tidak. Saya tidak ingin melukai hatinya atau mempermalukannya. Saya tahu pasti, dari geriknya yang tidak nyaman berhadapan dengan saya dua kali di kantor ini merupakan pertanda dia ingat pada saya. Saya teman mengajinya. Teman masa kecilnya yang gemar main sepeda bareng.

Ketika Lala berlalu bersama cincinnya dan saya menatap punggung lelakinya dari belakang saya mencoba menerima kenyataan. Teman masa kecil saya mengalami kehidupan yang tidak mudah. Teman mengaji saya berubah menjadi lelaki. Saya berharap, keputusannya ini merupakan keputusan tepat. Keputusan benar. Keputusan yang membuatnya nyaman hidup sebagai manusia. Untuk selanjutnya saya serahkan pada Tuhan. Karena saya yakin, ia berubah bukan karena ingin melawan fitrahnya. Ia berubah hanya untuk membuat ia tahu harus berada di tempat yang mana.

………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Kisah saya di atas adalah salah satu kisah tentang seorang trangender atau intersex. Dalam hal ini saya akan mengutip sebuah postingan yang bagus dari seorang Psikiatri asal Aceh. Yang menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Lala.

Transgender dalam Islam

Dalam Islam, transgender dikenal dengan istilah mukhannast dan murajjil. Orang laki-laki yang menyerupai perempuan disebut dengan Mukhannast, sebaliknya perempuan yang menyerupai laki-laki disebut murajjil. Mengenai golongan ini, rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat mukhannats kaum laki-laki yang menyerupai perempuan, dan mutarajjil dari kaum perempuan yang menyerupai laki-laki.” [HR. Ahmad]

Pun demikian, ulama berpendapat – seperti dijelaskan Imam Nawawi, bahwa mukhannast ini terdiri dari dua macam. Pertama mukhannast yang memang dari “sononya” sudah begitu. Meski lahir sebagai anak laki-laki, tapi dari kecil dia sudah berjiwa dan merasa sebagai seorang perempuan, suka berpakaian dan bermain layaknya anak perempuan, semuanya alami tanpa dibuat-buat. Para ulama berpendapat bahwa kelompok ini tidak termasuk yang dicela oleh Rasulullah SAW, seperti di hadist diatas. Mereka tidak bersalah, tidak berdosa dan tidak boleh dihukum. Mereka menajdi seperti karena memang pemberian Allah SWT. Sedangkan kelompok mukhannast yang kedua adalah yang lahir dan besar secara normal, tapi belakangan berbuat-buat seolah-olah dia seorang perempuan. Baik dandanan, cara bicara, dan kebiasaannya. Kelompok inilah yang sebenarnya yang tercela dan dilaknat oleh Rasullah dalam haditnya tersebut. Mereka harus dibimbing untuk menerima fitrahnya sebagai laki-laki, karena memang perilakunya bertentangan dengan fitrahnya sebagai manusia.

Dari pembahasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok LGBT atau LGBTIQ ini harus dipisah dulu, karena memang sebenarnya mereka tidak sama dalam pandangan islam. Kelompok pertama, Lesbian dan Gay jelas hukumnya haram. Begitu juga dengan kelompok biseksual, karena secara langsung dia juga menyukai sesama jenis, inni juga diharamkan. Sedangkan kelompok transgender, intersex dan questioning, harus diperiksa dulu atau dilihat dulu kecenderungan mereka bagaimana, apakah mereka berbuat-buat seperti itu, atau memang dari lahirnya mereka sudah seperti itu, sehingga hukum dan pandangan islam terhadap kelompok ini juga bisa di luruskan.

Dikutip dari postingan berjudul: LGBT Menurut Pandangan Islam. Silahkan klik di sini untuk membaca postingan penuhnya.

Akhirnya Menikah

Saya selalu suka menghadiri pernikahan sahabat dekat saya. Sahabat ya, seseorang yang kita tahu perjalanan jatuh bangunnya. Seseorang yang kita usap air matanya, yang kita peluk ketika dia bahagia namun kita tertawakan dengan jumawa ketika dia melakukan hal konyol. Pernikahan sahabat membuat hati saya merasakan sesuatu.

Ada tiga kisah menuju pernikahan yang saya inget dari sahabat yang sangat menyentuh. Yang membuat mata saya menuju ke pelaminan dengan penuh kesenangan melihat mereka bahagia.

Pernikahan pertama dari seorang sahabat semasa SMA. Tahu tentang kisah asmaranya. Tahu tentang keinginannya. Tau tentang perjuangan pacarnya demi bisa menikahi sahabat saya itu membuat saya bener-bener bahagia ketika mendapatkan kabar mereka akan melangsungkan pernikahan.

Pernikahan di awal tahun 2015 kemarin menjadi pernikahan sahabat saya yang penuh saya syukuri.

Pernikahan kedua terjadi di bulan Februari atau Maret. Saya lupa. Kisah sahabat ini sebenarnya bisa dibilang mulus tanpa aral. Sebuah pernikahan paling mulus dan lancar jaya yang pernah saya dengarkan ceritanya. Yang saya ikuti kisahnya. Namun yang membuat saya haru adalah, tentang sosok perempuan itu. Tentang janji Allah akan menghadirkan lelaki baik-baik buat wanita baik-baik. Menurut saya sahabat saya dan suaminya itu memenuhi kriteria atas janji Allah swt itu.

Kisah menuju pernikahannya membuat saya merasa, seorang perempuan tulus yang hanya mengharapkan ridha Allah dan memilih suami tanpa mandang bulu kakinya lebat atau tidak dan hanya berserah pada kuasa Allah sungguh luar biasa. Perempuan yang menjadi sahabat saya itu menempatkan pernikahan sebagai ibadah.

Jadi, melihat perempuan yang usianya lebih muda dua tahun dari saya, ketika ijab kabul terdengar atas namanya membuat sontak hati saya bergetar. Dia menikah. Pada lelaki yang tidak ia lihat dari tampang atau hartanya. Namun dari hati dan agamanya. Pernikahan atas dasar ibadah.

Proses menuju pernikahan yang ketiga yang membuat saya lega dan bahagia baru saja terjadi kemarin. Seoarang sahabat yang malam-malamnya pernah diliputi kegundahan, kekalutan dan kegamangan. Seorang perempuan dengan tekad luar biasa. Dengan kegigihan yang tanpa ampun. Dengan mental yang sudah terbukti. Dengan hati kuat yang sudah teruji. Dengan ketegaran melewati segala hujatan dan ledekan para sahabatnya (termasuk saya) juga tentunya.

Melihatnya kemarin di pelamin saya berkata dalam hati, “kamu menang. Kamu hebat.” Andai beragam hiasan kepala pengantin ribet itu tidak menghalangi pelukan kemenangan yang saya berikan untuknya, pastilah pelukan itu saya berikan dengan lebih lama dan lebih kuat. Sebagai bukti betapa saya kagum dan turut senang dengan keberhasilannya mewujudkan mimpinya jadi nyata.

Sebagai yang turut mendengar kisahnya. Sebagai yang turut kesel ketika dia murka. Sebagai yang turut juga menertawainya saya tahu satu hal: sahabat saya itu kuat. Dan semoga apa-apa yang telah ia usahakan demi terwujudnya mimpinya diberi keberkahan dan rahmat dari Allah swt.

Tiga kisah sahabat yang saya tuturkan di atas adalah kisah perjuangan dan lika-liku mereka menuju pernikahan impian mereka. Bukan kisah perjalanan meniti pernikahan hingga akhir usia. Karena cerita pernikahan tentunya pasti lebih berat dari cerita menuju pernikahan. Dan bagi saya, biarlah itu menjadi kisah pembelajaran dan pendewasaan bagi mereka sendiri. Biar mereka saja yang mengetahui dan menjalani lika-likunya.

Sebagai penulis blog, saya hanya ingin meniru kisah para pendongeng sekelas Cinderella. Mengetahui lika-liku mereka lalu mengakhirinya dengan sebuah momen penutup berupa pernikahan bahagia dan memberikan standing ovation atas kebahagian mereka.

Untuk urusan selanjutnya. Saya undur diri. Sebuah pernikahan yang layak diceritakan dan ditonton memang sebatas ketika di pelaminan. Selebihnya mereka yang menikahlah yang harus bertanggung jawab bagaimana menjalankan dongeng mereka sendiri.

Pun demikian. Ketika saya turun dari pelaminan usai memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin, dan berlalu menuju keluar gedung. Pun meski saya hanya mengisahkan hingga acara pernikahan mereka terwujud, pun akhirnya saya berpamitan. Saya terus berdoa agar pernikahan mereka hingga ke surga.

Agar pernikahan sahabat-sahabat saya, baik yang menyentuh hati saya ataupun yang biasa saja, juga pernikahan saya nanti (yang entah kapan), berjalan di dunia, berakhir di surga.

Dimulai Dari Nol, Ya

Dimulai dari nol, ya. Adalah tagline pamungkas dari Pertamina saat kita mau ngisi bahan bakar kendaraan bermotor kita di SPBU. Tagline yang bermakna positif, bila tidak semua petugas SPBU mengatakannya dan melakukannya, ya sudah, saya bisa apa? Bawa motor aja gak bisa. Jadi gak mungkin ada momen di mana saya ngisi bahan bakar di SPBU.

Dalam hidup banyak kejadian kita harus memulia dari nol. Saat pindah kerja misalnya. Saat melanjutkan kuliah. Saat menikah. Saat pindah ke kota lain karena alasan kerja atau ikut suami. Saat melanjutkan kuliah. Saat keguguran padahal usia kandungan sudah hampir trimester ketiga. Atau yang paling ditakuti perempuan, memulai hubungan yang baru.

Pada satu sesi curhat dengan seorang sahabat lewat telepon dengan memanfaatkan paket telepon gratis, seorang sahabat berkata, “Gak mungkin aku putus. Nanti masa aku harus mulai lagi yang baru. Umur aku udah berapa? Emang mungkin masih ada lagi yang mau?”

Iya. Banyak memang orang, khususnya perempuan, yang takut banget untuk berpisah dari kekasih hatinya sekarang meskipun hubungan telah tidak sehat. Tidak sehat itu ragam macam, dari mulai rasa yang sudah menguap, hubungan yang banyak adu jotosnya, hubungan yang terlalu posesif dan mengekang, hubungan sadokis masokis, hubungan yang gak ada rasa perhatiannya lagi, juga hubungan yang entah mau dibawa ke mana hubungan ini.

Padahal hati sakit, ada luka menganga mempertahankan hubungan tersebut. Ada wajah muram yang dipaksa bahagia. Ada sedih yang terus mendera. Tapi demi sebuah kata ‘putus’ yang dianggap monster pelepas jodoh, banyak orang bertahan. Meski terluka. Meski terus bersedih. Meski tersakiti. Meski usia terus menanjak naik tapi gak kunjung dilamar.

Sebenarnya saya salah satu perempuan yang demikian. Perempuan yang takut putus. Mengingat usia yang tak lagi belia namun juga gak bisa dikatakan tua, faktor usia menjadi salah satu penentu saya males putus. Faktor lainnya seperti malas sekali untuk harus memulai hubungan dari nol dengan fase: menemukan-mendekati-merayu-memahami-menerima-menyayangi-mencintai-membuat komitmen. Malas mengulangi lagi hal yang sama. Malas memutuskan sesuatu yang terjalin sudah lama. Juga, masih ada alasan takut putus lainnya yaitu, gimana kalau gak ada yang mau lagi sama saya?

Untuk hal terakhir saya pernah dikecam oleh seorang teman. Dia berkata, “Siapa Intan berani ngomong kayak gitu? Jangan pernah mendahului takdir Tuhan.” Suatu perkataan yang membuat pedang terhunus di sanubari saya. Saya malu. Saya merasa kerdil. Iya. Kenapa saya mendahului Tuhan?

Saya tahu rasanya enggan mengakhiri hubungan yang telah terjalin hingga kalender berganti. Saya tahu gimana rasa malasnya memulai dari nol. Tapi ketika saya (terpaksa) melakukannya ternyata rasanya gak separah apa yang saya pikirkan.

Suatu nongkrong cantik bersama sahabat, salah satu sahabat berkata, “Gimana rasanya putus tunangan?”


“Errr…. Ya gitu. Biasa aja sih.”

Tuhkan, biasa aja pada akhirnya. Gak seburuk yang kamu pikirkan, kan? Segala yang kamu takuti itu gak kejadian, kan? Bahkan malupun cuma bertahan 1-2 bulan saja paling lama.”

Iya”, jawab saya sambil nyengir memamerkan deretan gigi saya yang tak layak jadi model iklan pasta gigi.

Iya. Saya yang udah parno duluan ternyata seperti mendahului ketetapan-Nya. Seperti tidak memercayai keajaban yang mampu Dia berikan kepada hamba-Nya.

Sejak mengakhiri hubungan awalnya memang terasa berat. Namun akhirnya seperti ada beban yang terlepas di pundak. Lepasnya beban ini akhirnya menghilangkan segala rasa khawatir yang selama ini melanda karena menunggu seusuatu yang tidak pasti. Menghilangkan rasa sakit hati dan perasaan diinjak-injak harga dirinya. Menghilangkan kegalauan. Menghilang kesedihan tak berkesudahan akibat hubungan tak sehat.

Ketakutan tidak ada lagi yang menyukai saya? sekarang saya Cuma bisa ketawa aja. Memang hingga kini saya masih belum menemukan jodoh saya yang sebenar-benarnya jodoh, namun yang naksir masih banyak. Pertanda saya masih laku, kan? *dicocol air raksa*

Jadi gini, ketika kita sedang memunyai pasangan kita cenderung menutup hati dan diri, jadi wajar saja kalau ngerasa gak ada lagi yang mau sama kita. Bukan kitanya sudah hilang pesona, tapi semua karena kita begitu fokus sama hubungan yang sedang dijalani meski tidak sehat.

Ketika hubungan berakhir, ketika kita tidak merasa terikat dan mengikat, pandangan kita menjadi lebih luas karena fokus tidak ada lagi. Dan kalau mau kita perhatikan, ternyata kita masihlah laku. Ternyata kemungkinan mendapatkan pasangan yang lebih baik terbuka lebar.

Iya. Melepaskan seseorang itu sebenarnya suatu hal yang bagus kalau saya pikir sekarang ini. Melepaskan berarti mengijinkan lelaki lain yang lebih baik untuk masuk. Lelaki yang mudah-mudahan juga menjadi takdir kita. Lelaki yang pada akhirnya membuat Tuhan dan kita sepakat bahwa dia adalah yang terbaik bagi kita. Bukan hanya terbaik menurut kita.

Kalau hubungan itu bikin sedih mulu dan bikin marah-marah mulu, itu bukan hubungan yang sehat. Bisa jadi kekasih hati sekarang bukanlah yang sebenarnya jodoh. Bisa jadi kita harus menguatkan hati mengatakan putus untuk memulai dari nol dan menemukan orang yang tepat.

Memulai dari nol itu sulit tapi juga melegakan. Karena akhirnya kita bisa lebih peka terhadap apa yang hati rasakan. Jangan biarkan hati kita terus menerus menahan sakit. Ia berhak bahagia. Hingga kelak, kita gak akan iri sama pasangan lain yang hidup rukun, bahagia penuh cinta kasih. Hingga kita gak menyesal di kemudian hari. Hingga hari-hari kita dipenuhi rasa syukur kian melimpah pada-Nya karena telah percaya dan mengharap hanya pada-Nya.

Ia, bila kamu terlalu lelah dengan hubungan yang tak sehat. Akhiri saja. Lalu serahkan urusan jodohmu pada Tuhan. Percaya dan berharaplah pada-Nya. Karena bila percaya dan mengharap pada manusia, kita hanya akan sakit hati juga kecewa.

Memulai dari nol. Saya kini tengah memulai dari nol. Di usia 27 tahun. Merelakan yang lalu, berharap dengan optimis untuk hubungan baru. Hubungan yang semoga segera diaamiinkan para malaikat. Hubungan yang membawa saya ke surga-Nya.

Si Kriwil Siti Nurjannah

Rambutnya ikal-ikal kecil, selalu dikuncir kuda dan berwarna agak kekuningmerahan. Perawakannya besar untuk anak umur 6 tahunan. Pemberani. Galak. Namanya Siti Nurjannah. Nama yang gak akan saya lupakan seumur hidup saya. Sahabat pertama saya. Pahlawan saya. Pembela saya. My partner in crime.

Siti Nurjannah. Kami satu kelas di kelas nol besar di sebuah TK yang dulunya sangat ternama di Banda Aceh. Entah bagaimana mulanya pokoknya dia sudah menjadi sahabat saya. Perawakannya yang tomboy dan pemberani membuat hidup saya semasa TK menjadi sangat gampang. Di TK saya dulu wahana mainan khas TK seperti ayunan, jungkat-jangkit, perosotan, panjat-panjatan memang banyak namun tetap saja terasa tidak cukup karena dimainkan secara berkelompok lalu dikuasai.

Semua mainan tersedia dalam jumlah lebih dari satu untuk setiap mainan. Ada yang diletakkan di halaman depan ada yang di halaman belakang. Kalau ingatan saya tidak salah, yang di depan diperuntukkan anak kelas nol kecil, sebaliknya, yang di belakang anak kelas nol besar. Tempat saya, Siti dan seluruh angkatan kami yang kebanyakan pasti lahirnya tahun 1988.

Dengan Siti yang tomboy dan berani, kami selalu mendapatkan setiap mainan yang kami inginkan. Dia bisa mengusir anak lelaki yang merebut ayunan yang hendak saya mainkan. Dia bisa membuat beberapa teman perempuan lari secepat kilat ketika kami sudah ada di ujung perosotan pertanda kami ingin naik. Sosoknya begitu menakutkan bagi yang lain, tapi bagi saya dia pembela saya. Dia yang melindungi saya ketika ada anak lelaki yang menjahili saya, dia menemani saya kala saya belum dijemput, dia membantu saya menghabiskan sup sayur yang jadi menu hari Senin dan juga susu yang rutin disajikan di hari Sabtu yang tak saya sukai. Sebaliknya, ketika hari jumat dan menu sarapannya adalah bubur kacang ijo kesukaan saya ataupun kolak, ia merelakan punyanya untuk saya makan sebagian. Entah ia tidak doyan, entah memang dia ingin berbagi jatahnya.

Dia baik. Baik sekali. Cuma cara bicaranya yang kasar hingga jarang ada yang mau berteman dengan kami terutama Siti. Siti tomboy dan kayak anak laki. Dia suka manjat-manjat sementara saya anteng main ayunan. Meski berbeda kami selalu bersama.

Di TK ada suatu ruangan berukuran 3×3. Suatu arena rumah-rumahan, ada tempat tidur beserta bayi, ada dapur beserta peralatan masak mainan, ada perlengkapan dokter-dokteran, ini adalah salah satu tempa favorit bagi anak perempuan dan selalu antrian untuk dapat bermain di dalamnya. Di kala anak perempuan lain bermain di rumah-rumahan ini berkelompok dengan jumlah 3-5 orang, kami hanya bermain berdua saja tanpa mengijinkan orang lain ikutan gabung saat kami berhasil mendapatkan ruang rumah-rumahan lebih dulu dari yang lain. Entah Siti tidak ijinkan, entah tidak ada yang berani dengannya. Namun suatu ketika ada seorang anak perempuan lugu memberanikan diri minta ikut gabung bermain di dalam rumah-rumahan bersama kami. Satu yang saya ingat jelas, Siti mengijinkannya bermain bersama kami dengan satu syarat: dia menjadi orang yang bertugas ambil-ambil air, dengan kata lain, dia kebagian tugas paling gak enak ketika saya berperan sebagai dokter sementara Siti menguasai dapur. Kalau kita mau kasar sih, kita menyebut si perempuan lugu itu kacung.

Memori tersebut memori paling susah saya lupakan. Dengan muka mau gak mau akhirnya si anak perempuan tersebut mengiyakan perkataan Siti dengan harapan dia bisa kebagian peran menjaga bayi mungkin. Kelak, si anak perempuan ini menjadi salah satu sahabat saya hingga ke bangku SMA. Ia, kami terus bertemu di sekolah yang sama hingga SMA.

 

Dalam hal keusilan Siti memang jagonya. Di sebelah kelas kami ada lorong yang tersambung ke pintu belakang sekolah. Kalau kami membuka pintu yang entah kenapa tidak dikunci itu kami temukan orang gila tidur di sebelah dinding yang menjadi tembok ruang kelas kami bagian luar. Di sebelah tubuh orang gila tersebut ada got kecil. dengan beraninya si Siti kerap menganggu orang gila tersebut dengan berusaha membangunkannya menggunakan ilalang untuk gelitikin tapak kaki si orang gila. Hal yang bahkan anak lelaki saja takut melakukannya. Ketika aksi itu dilakukan, Siti tidak sendirian. Ada beberapa orang termasuk saya berada di dekatnya. Tapi kami bagian menonton dan tertawa saja ketika orang gila itu bangun karena kegelian. Dan menjadi yang pertama melarikan diri saat orang gila tersebut marah. Itu cerita Siti dan ulah jahilnya.

Seingat saya ayah Siti adalah oom-oom tinggi besar berkepala nyaris botak dengan baju loreng-loreng. Pikir saya, wajar Siti bermental baja seperti itu.

Ingatan saya lompat. Akhirnya tibalah hari pertama saya masuk SD. Dengan gugup saya masuk ke dalam kelas. Lalu saya ingat betul, Ibu saya yang memilihkan bangku untuk saya duduk. Lalu saya melihat dia. Si perempuan lugu yang menjadi pesuruh angkat-angkat air. Karena merasa hanya dialah yang saya kenal saya meminta Ibu saya untuk menjadikannya teman sebangku saya. Ibunya dan Ibu saya setuju. Dia juga setuju. Akhirnya saya tahu, namanya Dina.

 

Beberapa hari berlalu. Ketika saya jalan bersama Dina, kami digangguin oleh anak lelaki teman sekelas kami, saat itulah dia muncul. Siti muncul.

Saya kaget sekaligus heran. Siti ternyata masuk di sekolah yang sama dengan saya. Kelaspun sama, tapi kenapa saya gak sadar? Ternyata Siti duduk di bangku paling belakang karena badannya yang besar. Saya dan Dina yang bertubuh mungil harus puas duduk di bangku kedua dekat meja guru.

Sejak saat itu kami main bertiga, saya, Siti dan Dina. Siti tetap menjadi penjaga saya. penjaga Dina juga. Dia masih menjadi Siti Pemberani yang mampu melawan anak lelaki iseng dan nakal.

 

Penampilan Siti selalu sama. Rambut ikat kuda. Hanya pitanya saja yang berganti ganti. Setiap kali melangkah, rambut kriwilnya bergoyang lucu. Saya dan Dina sebaliknya, rambut kami lurus terurai.

Siti selalu bawa bekal ke sekolah, saya sih tidak selalu. Sesempat Ibu saya menyiapkan saja. Bekal Siti selalu sama. Indomi goreng. Karena kegemarannya membawa mie dia sempat diejek kalau rambut kriwilnya itu karena ia terlalu banyak makan mie. Ia tak hiraukan perkataan orang dan terus memakan mie dengan lahapnya. Saat saya tidak membawa bekal, dengan senang hati Siti akan berbagi mie dengan saya. Membagi dua. Tapi jangan harap Siti mau berbagi mie dengan yang lain, termasuk dengan Dina. Cuma sayalah teman yang mau ia bagikan apapun.

Saya merasa Siti selalu ada untuk saya. selalu menolong saya. selalu memberi tanpa mengharap balasan. Dan saya pun gak pernah tahu harus memberi apa untuk Siti yang selalu bisa, selalu punya dan selalu mampu apapun sendiri.

Naik Kelas Dua saya dan Siti duduk bareng. Dengan postur tubuh berbeda Guru tidak mengijinkan kami berbagi meja pada mulanya. Kalau saya duduk di belakang saya tidak akan mampu melihat papan tulis karena dihalangi tubuh teman yang duduk di depan saya dan lebih besar, namun bila Siti duduk di depan dia akan menganggu teman di belakangnya.

Bukan Siti namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Seingat saya, besoknya oom-oom berkepala nyaris botak dan berbaju loreng datang ke sekolah. Dan voilaaa… saya dan Siti duduk bareng. Kami duduk di bangku terdepan namun di sudut ruangan. Siti kebagian di sisi dinding agar tubuhnya tak menganggu sesiapun.

 

Setahun di TK, dua tahun di bangku sekolah dasar ternyata harus puas saya lakoni jejak masa kecil saya bersama Siti. Ketika pembagian rapor kenaikan kelas Siti pamit. Ia mengatakan ia akan pindah sekolah, dan itu artinya kami tidak akan menemui lagi anak perempuan berambut keriting penyuka indomi goreng di kelas tiga. Sedih. Banget. Sahabat saya, pembela saya, penyelamat saya, pelindung saya tidak ada lagi. Pergi. Dan saya ditinggal. Mau tak mau, saya harus ikhlas. Saya harus bisa menghadapinya.

 

Ketika hari pertama tahun ajaran baru dimulai. Di kelas tiga. Itulah saya harus bisa terima kenyataan Siti Nurjannah tidak akan ada lagi di sekolah ini. Teman saya telah pergi. Setelah itu saya tetap sekolah seperti biasa, lambat laun akhirnya saya bisa berbaur dengan teman lain. Bermain dengan semua teman. Ketika diusili oleh anak lelaki nakal, saya harus mampu bertahan dan melawan sendiri. Tidak ada lagi pembela.

Dua puluh tahun telah berlalu sejak saya pertama kali mengenal Siti. Usia telah kami lalu banyak. Sejak hari pembagian rapor itu tak lagi saya dengar kabar tentang Siti. Hingga sekarang saya tak tahu dia ada dimana dan bagaimana kabarnya.

Pernah saat awal mula Facebook muncul saya mencari namanya di kolom pencarian. Nama Siti Nurjannah cukup banyak, wajahnya pun pasti sudah berubah dan susah dikenali, bila ingin berpatokan dengan rambutnya yang kriwil lucu juga sulit. Bisa jadi dia telah meluruskan rambutnya atau mengenakan jilbab seperti saya.

Jadi begitulah, Siti Nurjannah. Sahabat pertama saya. pembela saya. Meski kini saya tak tahu kabarnya, saya berharap ia memiliki kehidupan yang baik. Namun bila keajaiban terjadi pada kami, dan dia membaca tulisan saya lalu menyadari saya sedang menceritakan dia. Sungguh saya ingin bertemu lagi dengannya. Dengan sahabat masa kecil saya. sahabat tak terlupakan. Sahabat berambut kriwil, penyuka indomi goreng, usil dan pemberani bernama Siti Nurjannah.

 

 

Siti, Ini saya Intan Khuratul Aini. Teman yang selalu bersama kamu sejak TK. Teman yang tubuhnya mungil dan selalu kamu lindungi. Saya ingin ketemu kamu.

Jamrud dan Tragedi Nista

Pernah gak sih membenci suatu Grup Band? Benci sekali, hingga lagunya muak untuk didengar. Hingga bila nama Band itu disebut tubuh jadi merinding gak nyaman. Hingga bila apapun yang berkaitan ama Band tersebut tetiba bikin emosi gak stabil?

Apa Cuma saya aja?

*tertawa nista*

Iya. Saya pernah. Bukan pada Band seperti kangen band, wali band atau setia band. Terus emang kenapa dengan band tersebut ya? *kedip-kedip manja*

Kebencian saya ada pada suatu band cadas yang popular di era 90-an. Band tersebut bernama Jamrud.

Waaaah… kok bisa?

Sebenarnya Jamrud sendiri gak pernah punya salah sama saya. Malah meskipun dulu saya masih bocah ingusan saya suka sama lagu Jamrud. Lirik-liriknya gak terlalu puitis. Liriknya bahasa sehari-hari. Namun kena. Nancep. Yah.. ada sih beberapa lagu yang saya gak suka. Yang terlalu vulgar atau tersirat makian misalnya.

Beberapa hari lalu ketika saya hendak pulang ke Banda Aceh dari lokasi tempat saya ngekost dan kerja, di dalam kendaraan yang saya tumpangi terdengarlah lagu Jamrud berkumandang.

Aku di sini, dan engkau di sana.

Membentang luas samudra biru, memisahkan kita.

Inginku berenang ke kotamu

Tapi pasti tenggelam dan kau sedih

Kirimi aku kabarmu di sana

Lewat telepon, surat, faksimili, ngobatin rinduku

Kirim juga foto ukuran jumbo

Biar nanti kupajang di kamarku

Lirik kocak, makna romantic, suara serak khas. Jamrud. Deg…

Sebuah lagu membuka pintu lorong waktu bagi saya. Ingatan saya terdampar ke beberapa tahun lalu. Ke masa ketika usia saya masih 13 atau 14 tahun. Masih belia. Masih belum kenal deodorant.

Semasa SMP di era saya, sedang terjangkit wabah: keren itu kalau nge-band. Entah di era sekarang masih, saya gak tahu. Meski nge-band itu keren saya tetep aja memilih ekskul Palang Merah Remaja, alih-alih ngeband. Ya mau gimana, suara kalau ngomong aja fals, main gitar gak bisa, nabuh drum gak bisa, bass? Are you kidding me?

Namun seorang sahabat saya yang deket pake banget kala SMP ngeband. Dia membentuk sebuah grup band bersama dengan teman seangkatan berbeda kelas. Si sahabat vokalis. Kami selalu pulang sekolah bersama, dan dia bersama band-nya sering banget latihan sepulang jam sekolah. Jadinya dengan masih berseragam saya ikut dia dan anggota band-nya ke studio sewaan buat latihan. Gak ngerti juga kenapa saya mau ngikut dia. Entah saya kurang kerjaan, entah saya emang kurang kerjaan banget.

Saat mereka latihan saya cuma duduk anteng baca komik dan sesekali dimintai komentar oleh mereka. Ya syukur saya gak harus benerin kabel. Namun, entah di latihan ke berapa tetiba jadi ada yang suka duduk di sebelah saya di dalam studio latihan, ketika sahabat saya dan bandnya sedang… tentu aja latihan bukan nyuci.

Yang turut menemani saya seorang lelaki. Dengan penampilan rocker abis. Pakaian serba itam. Muka kucel kayak gak mandi. Ada rantai-rantai di celananya. Mungkin rantai sepeda. Dan sepedanya udah dicuri jadi ia mengenang rantainya saja. Mungkin. Untuk usia saya tak bisa menaksir berapa, yang jelas jauh lebih tua dari saya. Mungkin ukuran 25 tahun. Selisih lebih dari 10 tahun deh dari saya. Tua dibandingkan dengan gadis remaja baru baligh kayak saya saat itu.

Ketika duduk bersisian namun tak dekat dia mengajak saya ngobrol. Saya jawab aja semua pertanyaannya. Selama dia gak ngasih saya pertanyaan Fisika sih saya ladeni. Mau bahas biologi, bahasa inggris, matematika saya paham. Asal jangan tanya aja masalah tegangan listrik, arus listrik ama saya. Tegang luan rambut adek, bang.

Lalu saya tahu. Dia penggemar band Jamrud. Band yang dia mainkan beraliran Jamrudisme. Lagu-lagu yang dia bawakan lagu Jamrud semua. Penampilan dia dan anggota bandnya Jamrud abis. Dia Jamrud lover.

Suatu ketika, ada sebuah festival kompetisi band. Band sahabat saya dan Band Jamrud wanna be itu ikutan. Saya dipaksa hadir. Pokoknya saya disuruh nonton pertunjukan mereka.

Singkat cerita pengumuman pemenang kompetisi diumumkan. Band Jamrud Wanna Be menang. Saya lupa juara berapa. Lalu setelah hingar bingar keriaan. Tawa bahagia tercipta lalu terjadilah moment itu.

Abang suka sama Intan. Pacaran yuk?”

Napas saya terhenti. Jantungnya mungkin lagi cuti. Soalnya mendadak darah seperti gak ngalir. Wajah pucat pasi. Tangan mendingin.

Saya gak pernah mimpi aneh sebelumnya. Tapi jujur aja ditembak oleh lelaki vokalis band Jamrud Wanna Be yang jaaaaauuh lebih tua dari saya yang tampilannya akan membuat ayah saya pengen guyur air seembar adalah bukan hal baik. Amat sangat gak baik.

Ketika itu kata Pedophilia belum masuk dalam list kata dalam otak saya. Tapi kala itu juga, menurut saya tingkah dia menembak saya adalah suatu hal yang gak bermoral dan emm… menjijikan.

Pautan usia yang terlampau jauh dan saya yang masih SMP saya rasa kelakuannya gak pantas. Menurut Intan yang berusia 13-14 tahun itu gak pantas. Namun menurut Intan yang sekarang berusia 27 tahun, seorang lelaki berusia dewasa menembak anak SMP polos juga adalah hal yang gak pantas.

Saya gak ingat bagaimana saya melarikan diri dari moment canggung itu. Yang saya ingat adalah, esoknya saya gak pernah mau ikutan ke studio lagi temenin sahabat saya latihan. Saya gak pernah mau temenin dia ketika ada festival. Saya gak mau melihat abang vokalis Jamrud Wanna Be. Yang lebih parah. Saya membenci Jamrud sejak saat itu. Lagu Ada Pelangi di Matamu yang sempat saya favoritkan jadi lagu yang enggan saya dengar. Saya tak ingin telinga saya mendengar lagu Jamrud apapun. Karena bila saya melihat atau mendengar sesuatu tentang Jamrud ingatan saya akan melayang ke adegan pernyataan perasaan yang konyol tersebut.

 

Lama….

Trauma tak kunjung pulih.

Kalau udah trauma akan sesuatu hal saya memang gitu. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk berani lagi mengatasi apa yang menjadi trauma saya itu.

 

Lalu beberapa hari lalu. Untuk pertama kalinya. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun. Saya tidak lagi membenci Jamrud. Iya. Band Jamrud yang sebenarnya. Tidak lagi panas telinga saya ketika mendengar lagu bertajuk Kabari Aku yang saya cantumkan liriknya di atas tadi.

Kirimi aku kabarmu di sana

Lewat telepon, surat, faksimili, ngobatin rinduku

Kirim juga foto ukuran jumbo

Biar nanti kupajang di kamarku

 

Lirik lagu Jamrud manis dan sederhana. Namun kalau kita gunakan lagu ini untuk merayu kekasih di era sekarang udah gak relevan lagi. Kita gak pakai surat apalagi faksimili. Kita hanya perlu telepon atau bahkan video call kalau kangen. Kita gak butuh foto dipajang di kamar. Poto kekasih ada ratusan di galeri ponsel kita. Bahkan di media sosialnya juga tak kalah banyak.

Seperti itu juga dengan saya. bertahun-tahun telah berlalu. Jamrud yang membuat saya benci dan jijik tidak ada lagi. Bahkan perasaan jijik saya pada Abang vokalis itu tak terasa lagi, meskipun momentnya masih saya ingat.

Karena kini, akhirnya saya telah berdamai dengan hal yang membuat saya benci itu. Dibantu oleh waktu. Dilupakan oleh pergantian kalender.

Kini lagu Jamrud bisa saya nikmati dengan santai. Tanpa merasa terlecehkan, malu, marah atau jijik.

Ngurangi beban ini

Ngurangi sesak ini

Ngurangin rasa ingin bertemu

Enggak perlu curiga

Karna tahu kau masih

Memengang janji yang dulu pernah kita s’pakati

Kabari Aku- Jamrud

Sedikit Berlebih Namun Begitulah Dia Menjaga Cinta

Saya punya teman, teman saya punya pacar, pacarnya punya orangtua, orangtua-nya punya rumah, rumahnya diberi nama White House.

*ini cuma lelucon garing antara saya dan temen-temen saya aja

Serius. Saya cuma mau mengisahkan pacarnya temen saya itu. Teman saya lelaki, jadi pacarnya pastilah perempuan. Karena kalau pacarnya juga lelaki, saya pasti udah rukiyah dia. Karena saya termasuk golongan orang yang kontra dengan LGBT.

Pacarnya. Bikin kzl iya. Bikin sebel iya. Bukan karena pacarnya cantik hingga saya jadilah sirik. Bukan. Karena saya sendiri memiliki kecantikan tersendiri.

Guys… mau ke mana? Gak mau lanjut baca? Guys? Guys?

Tingkah polah pacarnya ini yang membuat saya mikir keras. Menurut saya pacarnya terlalu protektif. Nih ya, contoh aja. Si pacar temen yang kita sebut aja bernama Sandra, karena kalau pake nama Melati kayak korban pelecehan seksual aja. Jadi si Sandra menghapus kontak saya dari daftar kontak BBM temen saya. Sumpah saya dendam kesumat. Murka angkara jadinya. Gimana gak. Karena pada suatu ketika saya ingin nge-bbm temen saya lalu saya kebingungan sendiri karena namanya hilang dari kontak saya.

Kebingungan saya terjawab karena akhirnya kabar tersiar kalau sedang adanya penghapusan kontak massal dari hape temen saya yang dilakukan oleh Sandra, pacarnya sebagai tersangka.

Yang lebih bikin heboh lagi adalah ketika yang di-delcon adalah kontak-kontak bernama perempuan yang memasang DP wajah sendiri. Jadi kalau namanya perempuan tapi depe-nya bersama suami atau anak sih aman.

Sampai tahap ini saya mulai terusik kesabarannya. Karena menurut saya ini sudah aneh. Ini sudah mengganggu privasi temen saya. Masak iya dia gak boleh berteman dengan perempuan lagi karena berpacaran dengannya.

Delcon ini hal ketiga yang aneh dari polah pacarnya. Hal pertama yang bikin saya dan teman-teman ngakak adalah ketika dia menghampiri teman saya di rumahnya hanya untuk menyuruh temen saya mengganti DP BBM dengan potonya atau poto berdua. Jadi maksudnya kalau pasang poto sendiri menyiratkan ke-single-an.

12214308_10204068642390871_1017100532_o

Polah kedua adalah dia menyabotase hape temen saya. Disita.

Wow…

WOW

Sungguh cinta mati dengan gaya pengekspresian luar biasa.

Menurut saya tingkah polahnya itu menganggu. Namun selain sindiran dan memberi pemahaman ke temen saya kalau pacarnya itu aneh saya tak bisa berbuat apa-apa. Toh itu hubungan mereka, ya terserah mereka gimana jalaninya. Saya cuma sewot di bagian kontak saya dihapus aja. Lagian si temen selain sakit kepala gimana setiap kali harus memberi penjelasan kepada pacarnya ketika dia ngambek kayaknya selebihnya dia terima-terima aja. Nyantai aja menghadapi pacarnya yang cemburu buta tak keruan.

Karena menurut saya satu. Dia cinta. Makanya dia betah dan gak mempermasalahkan segala polah pacarnya. Itulah kenapa akhirnya saya memilih mundur. Tak bermain lagi dengan teman saya karena gak mau pacarnya meneror saya karena cemburu atau minimal salah paham. Pun mau bilang gak ada yang perlu dicemburukan dari saya, karena saya dan si temen memang temenan tanpa baper, percuma saja. Jadi saya yang menghilang dan biarkan mereka bersama. Apa coba hak kita melarang orang lain bahagia.

Karena saya orangnya suka mikir, jadilah ini jadi bahan renungan saya di kosan sambil ngadem di depan kipas angin.

Cara mencintai.

Iya. Cara mencintai setiap orang berbeda. Cara menjaga cinta-pun berbeda. Menurut Sandra begitulah cara dia mencintai pasangannya. Begitulah cara dia menjaga cintanya. Begitulah cara agar dia tak memberi celah kepada siapapun untuk memasuki hubungan cinta mereka.

Tetiba saya berpikir lagi. Think-ception.

Mungkin harusnya saya seperti Sandra.

Nah loh?

Iya. Mungkin harusnya saya dalam menjalin hubungan haruslah berbuat seperti Sandra meski agak ekstrim menurut saya. Tapi mungkin dengan cara itu saya bisa menyelamatkan hubungan saya. Dengan nyolot, dengan protektif berlebih, dengan sangat dominan mungkin saya bisa menjaga hati seseorang hanya untuk saya. Mungkin saya bisa membuat dunia dia hanya tentang saya. Mungkin…

mungkin…

tapi tidak.

Saya bukan Sandra. Saya Intan. Punya cara mencintai sendiri. Saya memang salah ketika mempercayai pasangan saya sepenuhnya. Tapi ya itu, cinta saya soal kepercayaan. Bukan soal mengekang.

Kini seperti saya akhirnya dapat memaklumi Sandra dengan cara mencintainya terhadap pasangannya. Saya juga ingin cara mencintai saya dimaklumi. Tak perlu oleh orang banyak.

Ya.. cukup dimaklumi oleh dia yang saya cintai. Cara mencintai versi saya.

Sore Kemarin

Sore kemarin hujan turun dengan derasnya. Di luengputu. Di sebuah desa tempat saya harus tinggal dan bekerja demi rupiah yang melayang ke rekening pribadi setiap tanggal 25.

Sepulang kantor yang terlalu lelah, sore kemarin, ingin rasanya saya menangis. Mungkin hingga tersedu-sedan. Atau merengek tak karuan. Namun urung. Alih-alih menangis (walaupun pengen sekali) saya mengambil ponsel pintar saya. Memilih aplikasi chating. Masuk ke grup chat. Lalu curhat bertubi-tubi dengan teman-teman saya yang masih satu perusahaan namun berbeda cabang.

Sore kemarin, saya ceritakan keluh kesah saya. Tentang nasabah yang sangat mempermainkan emosi dan hati saya. Yang bukan hanya membuat saya marah, tapi bahkan ingin membuat saya menangis. Menyerah. Resign. Lalu jadi ibu rumah tangga yang baik. Namun sayang, belum ketemu bapak-bapak yang bisa diajak berumah tangga lonely onion head

Tentang saya yang tidak kompeten dan tidak berhasil dalam mengelola unit saya. Tentang sindiran, ancaman, dan segala hal buruk yang dilabelkan kepada saya akan kerjaan saya.

Tentang keniscayaan dari sebuah kewajiban menuruti kemauan perusahaan dan bersembunyi di balik topeng profesionalisme dan loyalitas. Tentang sebenarnya enggan menuruti itu semua namun apa daya bila kehidupan saya ditopang oleh perusahaan. Hanya bisa diam. Laksanakan hak dan mendapati kewajiban.

Bukan. Saya tidak sedang mengatakan hidup tidak adil buat saya. Bukan tentang ini suatu hal yang gak masuk akal. Bukan juga tentang mengatakan segala tetek bengek pekerjaan saya seperti monster tak punya nurani. Bukan.

Saya tahu pasti itu memang sudah seharusnya begitu.

 

Hanya saja. Ya.. hanya saja. Sore kemarin saya terlalu penat menghadapinya. Sore kemarin saya benar-benar sedang demotivasi.

 

Sore kemarin pada hujan yang turun dengan derasnya tidak melayangkan benak saya pada mantan atau pun keinginan akan indomie rebus. Sore kemarin saya hanya ingin menangis. Berima seirama dengan derunya suara hujan yang deras.

 

Empat yang Bertambah Banyak

Hari Minggu kemarin saya tidak bisa turut ayah ke kota naik delman istimewa ku-duduk di muka. Karena salah satu sahabat saya melangsungkan pesta pernikahannya. Sahabat yang sudah Sembilan tahun lamanya bersama. Sejak dari hari pertama kami menjadi seorang mahasiswa.
Tak dinyana tak diduga sang pengantin pria ternyata adalah abang angkatan kami di jurusan yang sama pula. Sebelum pernikahan terjadi kami memang sudah mengorek informasi mengenai calonnya. Kenal di mana, tentu pertanyaan paling utama.
Jadi, si pengantin pria merupakan teman sekantor dan satu bagian juga dengan sahabat kami. Selain itu satu jurusan saat kuliah walaupun beda satu tahun angkatan.
Voilaa…
Begitulah jodoh.
Wara-wiri ke sana ke mari. Bertemu salah dengan orang yang bukan jodohnya. Dipatah atau mematahatikan akhirnya yang namanya jodoh bukan juga dengan orang yang baru. Bukan dengan wajah baru. Bukan dengan orang yang diperkenalkan orang lain.
Namun… jodoh bisa jadi dia, yang selama dua tahun bersama bekerja di satu bagian yang sama di sebuah perusahaan. Bersama dia yang berbagi tawa dan lelah bersama membuat laporan bulanan. Bersama dia yang saling menceritakan sialnya patah hati. Bersama dia yang ternyata abang angkatan namun tak pernah saling mengenal di kampus.
Aneh.
Luar biasa.
Tangan Tuhan memainkan jalur hidup manusia luar biasa. Luar biasa membuat kita deg-degan dan luar biasa memainkannya dengan sempurna. Karena Tuhanlah yang paling tau kapan dua hati manusia siap untuk disatukan. Iya. Bukan pada saat masih kuliah. Karena itu bukan waktu yang tepat.
Akhirnya… satu lagi dari kami berempat telah mengubah status. Menjadikan ganda. Membuat keberempatan kami selama 9 tahun menjadi semakin banyak.
Barakallah Maulia. Selamat menjadi bagian empatnya kami, Abang Suami Maulia.
Kini empatnya kami tinggal dua yang masih berjuang menemukan jodohnya. Menunggu Tuhan mempertemukan satu hati lagi. Dengan cemas, dengan deg-degan. Namun pasti tak kalah luar biasa.