Tidur Siang di Pantai

Menikah itu bagi saya tidak mudah. Memutuskan untuk menikah sukses membuat saya uring-uringan. Setengah gila. Seperempat waras. Seperempatnya lagi pura-pura amnesia.

Saya ingin sekali mengatakan “iya” dengan mudah untuk sebuah lamaran. Tapi ada hati kecil saya yang seakan menolak itu. Yang seolah berkata, “serius, Tan? Gak takut nyesel?”

Saya pergi liburan kala itu. Trip singkat nan dekat. Pergi untuk menghilang sejenak dari lelaki itu. Dari suaranya dan dari hadirnya. Menghilang dari keluarga yang melulu bertanya. Menghindar dari rutinitas harian.

Kala itu saya pergi berdua dengan teman saya. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu hingga dia tidak tahu menahu kondisi terkini saya. Seorang teman yang saya yakin tidak akan bertanya apapun perihal kalutnya pikiran saya.

Paling ketika ditanya tujuan liburan saya apa, saya hanya menjawab, “ingin tidur siang di pantai”

Angin syahdu, suara debur ombak saya rasa itu suatu terapi alami yang menenangkan. Saya butuh tenang.

Memejamkan mata di bawah sinar mentari yang iseng masuk di balik teduhnya dedaunan batang pohon. Membaringkan tubuh di atas pasir putih yang adem. Disenandungkan suara ombak. Saya terbuai. Terbuai dengan ketenangan ini. Ini yang saya cari.

Hari kedua liburan saya masih mencari pantai. Ingin menghirup aroma pantai di pagi hari. Dalam sesekali berkejaran dengan riak kecil ombak, saya ikut berharap keraguan saya pergi jauh dibawa ombak ke tengah lautan. Agar ragu itu menghilang. Lenyap dari jangkauan saya.


Karena… Pada ketenangan dari pantai ini. Dari alpanya pertemuan kami. Dari tiadanya suara kami yang menyapa. Saya merasa, saya menginginkannya.

Teman saya di depan saya, asyik masyuk berpoto-poto. Syukurlah ia tidak pernah bertanya apapun dan tidak tahu tujuan saya melarikan diri ini.

Saya menyusulnya. Memintanya bergantian saling poto.

Namun sebelumnya, saya ingin menjawab.

Sabang dan Takengon

 

Suatu ketika di tengah-tengah obrolan tentang jejak-jejak liburan saya yang dibahas oleh beberapa teman, terdengar sebuah celetukan, “Tan, liburan ke Lombok, yuk?”

Untuk sesaat saya terdiam. Bingung harus berucap apa dan ngerasa ini seperti deja vu.

Kenapa harus bingung diajakin ke Lombok ya, kan?

Namun saya dan Lombok punya rencana sendiri. Dan ketika rencana itu disinggung oleh orang lain terutama lelaki, otomatis banyak kelebatan pikiran berdansa di kepala saya.

Saya yakin, si temen yang ngajakin ke Lombok itu bercanda. Karena dia memang tukang bercanda. 95% isi omongannya hanya candaan semata. Tapi hati saya tergetar juga. Semua karena Lombok dan cerita lalu.

Lombok saya tasbihkan sebagai destinasi liburan sekaligus bulan madu saya. Saya hanya akan ke Lombok dengan seorang lelaki beruntung yang akan menjadi suami saya nanti. Jadi, kalau kamu perempuan jangan ajak saya ke Lombok. Karena saya simpan tempat itu untuk tujuan khusus dan juga saya bukan pelaku LGBT.onion-emoticons-set-6-118

Juga, terlebih kalau kamu lelaki. JANGAN SUKA ASAL NGAJAK SAYA KE LOMBOK KALAU GAK MAU BIKIN SAYA BAPER.onion-emoticons-set-6-107

Mengajak saya ke Lombok saya anggap sebuah modus ngajakin saya ke KUA. Iya gitu. Saya mau ke Lombok hanya dengan suami saya nanti. Jadi kalau kamu ngajakin saya ke Lombok kamu mesti jadi suami saya dulu.onion-emoticons-set-6-140

Becandaan temen saya itu membuat memori saya terlempar ke ingatan beberapa waktu lalu. Ketika seseorang menyetujui ikut ke Lombok bersama saya. Ketika kami selesai membahas segala perintilan sketsa masa depan. Ketika saya hampir aja yakin dialah lelaki yang menemani saya ke Lombok.

Becandaan temen saya itu entah hanya kebetulan entah karena dia memang kerap membaca blog saya dan mengingat detil apa yang saya tulis. Saya gak menganggapnya kebetulan. Saya lebih menganggapnya iseng mempermainkan saya mengingat dia suka becanda. Jadi dia sengaja. Sengaja membuat beberapa kelebatan memori kembali tayang dalam pikiran saya.

Nah, kalau keinginan tujuan bulan madu saya adalah Lombok. Lain halnya dengan sahabat saya yang baru menikah.

Tujuannya ialah Sabang. Namun suaminya malah ingin ke Takengon. Lah.. ini gimana? Apa mereka pergi solo aja ke masing-masing tempat yang mereka inginkan?

Inilah susahnya kalau punya destinasi bulan madu yang berbeda dengan pasangan. Maka itu, saya menjadikan bulan madu ke Lombok sebagai syarat dan pertimbangan maunya saya menikah dengan seorang lelaki. Semua semata agar keinginan saya tercapai.

Ohya.. buat kamu pembaca blog ini dan berasal dari luar Aceh yang gak tau di mana itu Sabang dan Takengon. Berikut saya kasih tau sedikit info.

Dua tempat itu masuk dalam wilayah Aceh. Sabang yang lebih terkenal berada di ujung Aceh. Sabang sendiri merupakan pulau yang gampang dituju dengan menggunakan kapal. Sabang terkenal dengan keindahan lautnya dan biota alamnya. Cocok buat yang pengen leha-leha menikmati romantisme angin sepoi pantai bersama pasangan sah. Bisa snorkeling dan diving juga.

Takengon terletak di bagian tengahnya Aceh. Takengon ini suasananya pegunungan. Sejuk dan enak buat pasangan baru menikah yang mau pelukan mulu. Ada Danau Laut Tawar merupakan destinasi wisata yang layak dikunjugi. Ada Sungai Alas yang menyaingi Sungai Amazon.

Berikut akan saya bagikan poto-poto Sabang dan Takengon agar kamu menjadikan Aceh sebagai destinasi liburan kamu.

Pulau Weh (Sabang)
Pulau Weh (Sabang)
Pulau Rubiah (Sabang)
Pulau Rubiah (Sabang)
Takengon
Takengon
Danau Laiut Tawar (Takengon)
Danau Laiut Tawar (Takengon)
Sungai Alas Taman Gunung Leuser (Takengon)
Sungai Alas Taman Gunung Leuser (Takengon)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar dicomot dari FB Page: Piknik Yuk yang tersebar di timeline FB

 

Melihat perpaduan gambar Sabang dan Takengon saya rasa wajar sahabat saya dan suaminya rebutan mau ke salah satu tempat. Sabang menyajikan pantai yang romantis, Takengon menyajikan perpaduan alam yang indah dengan udara yang sejuk.

 

Lah terus kalau dua-duanya masih ngotot ke salah satu tempat kenapa mereka gak langsung aja naik L300 pergi ke kedua tempat tersebut kan? Istri senang. Suami bahagia.