Perkara Nama

Kala itu, saya dan sahabat-sahabat perempuan saya semasa SMA berkumpul. Nongkrong-nongkrong cantik. Dari anggota yang 5 orang. Yang ikut 4 orang. Ketiganya bawa anak. Satu sisanya bawa adek. Yang bawa adek itu saya 😑
Setelah gosip mengudara, perut kenyang, dan stress sedikit hilang karena udah ghibah (jangan ditiru), tibalah saatnya kami pulang.

Seorang teman menelpon suaminya buat minta dijemput. Pada layar ponselnya tertangkap nama lengkap suaminya. Dalam hati saya terbersit, ternyata sudah menikahpun masih pakai nama lengkap buat nama panggilan di kontak hape. Saya mengira pasangan yang telah menikah pastinya punya panggilan sayang atau khusus, semisal: suamiku, my husband, my hubby, my sweetheart, dan my my lainnya. Nyatanya si temen saya gak juga.

Teringat saya sama nama yang saya tulis di nomor kontak untuk semua lelaki yang hadir dalam hidup saya. Mereka semua saya perlakukan sama seperti teman lainnya. Saya tulis nama lengkapnya. Seperti lazimnya nama di kontak hape saya.

Untuk yang sekarang, nama lelaki yang tengah dekat dengan saya ini memiliki nama yang (kalau boleh dibilang dan mohon tidak tersinggung) pasaran. Dan ada 3 teman saya yang bernama sama persis.  6 orang hanya sama nama depannya. Dan kasus salah telepon atau salam nge-bbm kerap terjadi sama saya untuk ngehubungi beliau.

Sampai suatu hari dia komplen. Meminta saya untuk membuat nama khusus buat dia.

Saya tanya, “nama apa?”

“Apa, kek. ‘Sayang, bisa. Calon suami, bisa juga”.

“Gak usah pake calon calon. Nanti aja kalau udah suami beneran. Intan bikin kontak abang jadi ‘suami'”.

Ketika saya memikirkan hal ini, teman saya yang satunya yang duduk di sebelah kirinya yang juga dapat melihat layar hape si temen, berujar, “buset…. Nama lengkap ya kamu buat di kontak?”

Si temen yang ini langsung nyaut dengan nada emosi, “Iya. Aku kesal. Masak dia buat nama aku, ya nama lengkap aku di hapenya dia. Aku ganti jugalah. Biar sama”

Saya tertawa. Keras sekali 

Ternyata oh ternyata…

Lalu kami membahas soal keharusan mengganti panggilan sayang di kontak hape. 

Selain si temen yang lagi kesel tadi. Semuanya membuat nama panggilan khusus di hapenya untuk pasangan mereka. Ya… Seharusnya memang begitu menurut mereka. 

Panggilan khusus wajib ada.

Panggilan khusus yang terus dituntut lelaki itu untuk dibuat di hapenya. Selayaknya dia membuat panggilan khusus untuk saya di hapenya.

Namun bagi saya itu belumlah menjadi keharusan. Dia masih berupa calon. Calon yang akan mengisi hati saya selamanya. Nanti. Belum tau iya atau tidak. Makanya saya katakan, ketika sudah menikahlah baru akan saya ganti namanya.

Jadi kalian, apa nama kontak kekasih hati kalian yang tertera di ponsel?

Tidur Siang di Pantai

Menikah itu bagi saya tidak mudah. Memutuskan untuk menikah sukses membuat saya uring-uringan. Setengah gila. Seperempat waras. Seperempatnya lagi pura-pura amnesia.

Saya ingin sekali mengatakan “iya” dengan mudah untuk sebuah lamaran. Tapi ada hati kecil saya yang seakan menolak itu. Yang seolah berkata, “serius, Tan? Gak takut nyesel?”

Saya pergi liburan kala itu. Trip singkat nan dekat. Pergi untuk menghilang sejenak dari lelaki itu. Dari suaranya dan dari hadirnya. Menghilang dari keluarga yang melulu bertanya. Menghindar dari rutinitas harian.

Kala itu saya pergi berdua dengan teman saya. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu hingga dia tidak tahu menahu kondisi terkini saya. Seorang teman yang saya yakin tidak akan bertanya apapun perihal kalutnya pikiran saya.

Paling ketika ditanya tujuan liburan saya apa, saya hanya menjawab, “ingin tidur siang di pantai”

Angin syahdu, suara debur ombak saya rasa itu suatu terapi alami yang menenangkan. Saya butuh tenang.

Memejamkan mata di bawah sinar mentari yang iseng masuk di balik teduhnya dedaunan batang pohon. Membaringkan tubuh di atas pasir putih yang adem. Disenandungkan suara ombak. Saya terbuai. Terbuai dengan ketenangan ini. Ini yang saya cari.

Hari kedua liburan saya masih mencari pantai. Ingin menghirup aroma pantai di pagi hari. Dalam sesekali berkejaran dengan riak kecil ombak, saya ikut berharap keraguan saya pergi jauh dibawa ombak ke tengah lautan. Agar ragu itu menghilang. Lenyap dari jangkauan saya.


Karena… Pada ketenangan dari pantai ini. Dari alpanya pertemuan kami. Dari tiadanya suara kami yang menyapa. Saya merasa, saya menginginkannya.

Teman saya di depan saya, asyik masyuk berpoto-poto. Syukurlah ia tidak pernah bertanya apapun dan tidak tahu tujuan saya melarikan diri ini.

Saya menyusulnya. Memintanya bergantian saling poto.

Namun sebelumnya, saya ingin menjawab.

Adopsi Bayi atau Kucing?

Sebelumnya di: Kesunyian Beda Kelas

3 tahun hidup sendiri makan ditemani kipas angin dan ngobrol dengan dispenser cukup merusak otak saya hingga akhirnya sebelum otak saya rusak parah saya memutuskan:

 

NIKAH ENAK KALI YAK

 

Hidup makin datar. Begitu begitu saja. Bangun pagi pergi kerja. Pulang kerja pergi tidur. Senin sampe sabtu. Minggu. Besoknya senin lagi. selasa. Rabu. Kamis. Jumat. Sabtu. Bulan berganti. Tahun ganti juga. Hidup masih gini-gini aja. Gak ada tantangan.

Mau lanjutin kuliah tapi malas. Lagian otak saya udah tumpul kayaknya. 8X7 aja saya jawabnya mikir. Kalau ditambah sambil kunyah bakwan ngejawabnya bisa sampe menitan.

Kerja udah pas lah. Pas untuk liburan setahun sekali. Pas untuk beli lipstick 500k tapi kembalian 375k.

Tapi bosan.

Saya memulai percakapan di sebuah chat grup sama temen kerja saya.

“Kasih saran dong. Ngapain enaknya biar gak bosan di kosan? Pengen ngadopsi anak bayi deh”

Sambutan lumayan bagus. Mereka menolak keras mengadopsi bayi. Karena untuk pelihara kucing saja saya diragukan.

Ada yang menyarankan pelihara ikan. Ada yang menyarankan merawat tanaman aja karena gak ribet sama kotorannya. Tapi entah kenapa hati saya lebih ke milih merawat kucing.

Konon kucing binatang yang mau mendengarkan. Memelihara binatang bagus untuk orang kesepian. Dan saya pernah ngebaca tweet Raditya Dika tentang hubungannya sama kucingnya. Intinya, kucing binatang yang bisa dijadikan sahabat dan mendengarkan curhat kita.

 

Udah ngerasa aura ngenesnya hidup saya belum sih?

Well… hidup saya memang ngenes. Ngenes akibat hidup sendirian di sebuah desa yang gak ada bakso enaknya.

Suatu malam, saya memulai percakapan dengan seorang teman. Ia yang saya tahu memelihar kucing. Jadinya saya tanya di mana saya pet shop di Banda Aceh, karena saya mau beli kucing. Gak mau kucing kampung. harus kucing cantik supaya bisa masuk instagram buat gaya-gayaan.

Lalu niat saya ditolak keras oleh si temen. Katanya saya gak boleh pelihara kucing. Kasian kucingnya. Nanti pasti saya telantarkan. Kasian kucingnya nanti pasti ngenes hidup sama saya yang gak sayang binatang. Gak sayang kucing. Kasian kucingnya nanti gak dikasih makan sama saya. ya… begitulah komentar pecinta kucing.

Lagi. Saya diragukan tentang kemampuan memberikan kasih sayang dan merawat sesuatu yang hidup.

Tapi kali ini saya gak ngeyel. Saya juga meragukan saya bisa hidup akur sama kucing. Apalagi kalau nanti harus ngajarin kucingnya toilet training. Saya kan judes orangnya. Melihara kucing saya urungkan.

 

Lalu apa?

Pelihara bunga?

Hmmm… adopsi anak?

Aaah… punya anak aja kali yak. Kan lucu.

Tapi…

Nikah dulu kali yak.

 

To be cont…

 

Saingan Soong Joong Ki

Siang itu. Peluh bercucuran. Dahaga kering. Kaki terasa begitu kaku diajak mendaki selama setengah jam lamanya. Itu adalah perjalanan di Pulau Breuh tahun lalu. Perjalanan dari desa tempat kami menginap menuju ke mercusuar yang kalau tidak salah saya harus ditempuh selama 30 menit atau lebih.

Siang itu kami selonjoran ngasal di bawah mercusuar melepas lelah. Berharap angin berhembus kencang untuk menghilangkan keringat.

Siang itu, sekelompok traveler yang berasal dari bermacam latar belakang ini melepas lelah. Ada yang dengan cara tiduran hingga tidur beneran. Ada yang ngobrol bergosip. Ada yang sibuk berfoto-foto. Ada yang main domino. Dan ada seorang anak perempuan bandel yang iseng banget pengen cobain motor trail. Iya, saya bilangnya bandel. Soalnya ini anak emang kayaknya penokohannya bandel dan usil. Tapi orangnya asyik dan baik.

Si perempuan yang kita sebut saja bernama Mona ini emang tomboy. Tomboy namun suka pakai rok bunga bunga. Katanya sih, pencitraan. Ayahnya udah lelah melihat ia berwatak dan berpenampilan seperti lelaki. Jadinya ia mengubah citra agar terlihat sedikit perempuan. Berhasil sih. Menurut saya, tapi bandelnya gak ilang.

Mona nyobain motor trail dari penjaga mercusuar. Kami hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja melihat aksinya. Namun, baru beberapa saat motor melaju, motor itu tersendat pada jalanan menanjak yang tak rata. Mona sepertinya kehilang kendali dan jatuhlah Mona.

Detik-detik sebelum Mona jatuh kami terus mengawasi dari kejauhan. Antara was-was namun berharap ia berhasil. Namun nyatanya, ia gagal. Ia jatuh. Dan tepat saat itu seorang lelaki berdiri sigap dan berseru “Mona lon!” (Mona-ku). Lalu ia bergegas lari menuju ke arah Mona tanpa menggunakan alas kaki. Di siang terik. Pasti tanahnya panas. Dan diluar area mercusuar ini tanahnya tak rata. Bebatuan tajam pasti siap menghujam kaki si lelaki itu.

 

Suasana lalu riuh. Ada yang tertawa. Ada yang takjub. Ada yang berseru, “Bang Li udah kayak descendant of the sun (sebuah judul film Korea).”

Saat itu saya belum menonton Descendant of The Sun jadi saya gak tau miripnya di mana. Namun sekarang saat saya udah nonton pun saya gak tau juga adegan itu mirip di mananya. Mungkin secara umum aja ya. Ada seorang lelaki yang sigap banget menolong wanita yang disukainya.

Disukainya…

Selama berada di Pulau Breuh itu, saya menganggap kisah romansa Mona dan lelaki yang berlari itu adalah sebuah lelucon saja. Lelakinya iseng. Perempuan juga becanda. Tim hore-horenya banyak tapi. Belakangan saya malah jadi tim hore-hore juga.

Tapi saat saya melihat lelaki itu berlari sigap cepat seperti itu saya tercenung. Dalam hati saya berkata, “Dia beneran suka sama Mona.”

Semua anggota trip makin heboh, terus heboh melihat aksi lelaki itu. Saya Cuma diam, melihat, menikmati dan meresapi. Pikiran saya Cuma satu saat itu ketika menyadari lelaki itu beneran suka dengan Mona.

“Cerita ini wajib masuk dalam blog”

Namun ketika saya pulang kembali ke Banda Aceh urung saya lakukan.  Para anggota trip yang meng-add akun facebook saya kian banyak. Dan beberapa mereka rutin baca blog saya. ntar ketahuan dong kalau saya ghibah di blog sendiri. Huahahaha.

Tapi beneran kisah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Makanya saya tuliskan juga. Nanti saya tinggal purapura gila aja kalau anak-anak yang ngetrip ke Pulau Breuh kmarin itu komentarin.

Kisah ini seperti perwujudan pengorbanan lelaki yang siap sedia. Bagi penyuka film korea pasti bakal ngefans sama lelaki itu. Saya aja, kalau udah gak tau diri mungkin bakal ikutan ngefans sama lelaki itu. Ya gak tau diri soal umur, ya gak tau diri kalau di Banda Aceh sana ada tiga lelaki sedang saya pehape-in.

Tapi untuk pemuja keromantisan, percayalah. Jangan jauh-jauh berharap lelaki korea untuk menjadi pendampingmu. Lelaki Aceh-pun mampu melakukan hal serupa. Mampu bergerak cepat menjadi superhero untuk pujaan hatinya. Mampu melakukan apa saja untuk kekasihnya. Mau berkorban. Mau menderita asal pasangannya selamat dan bahagia.

Karena sebenarnya pemicu itu bukan tentang Korea atau suku. Bukan tentang kulit putih mulus ala lelaki Korea. Namun yang mampu menggugah hati lelaki mau berbuat apa saja demi perempuan itu adalah satu kata yang selama ini kita kenal dengan sebutan: cinta.

Sepulang dari Pulau Breuh saya tidak tahu kelanjutan kisah mereka. Namun sejak itu saya jadi tim pendukung cinta lelaki superhero itu. Yang mana, kalau mereka jadian saya turut senang. Kalau tidak ya tidak mengapa.

Karena siang itu. Saya melihat bukti cinta. Cinta yang bukan becanda. Karena bagi mata saya siang itu aksinya bukanlah becanda. Ia memang terlihat khawatir.

Kalaupun siang itu mata saya salah. Sungguh itu acting yang sangat luar biasa sekali. Dan kalau itu acting, sungguh Song Joong Ki punya saingan dari Aceh sekarang.

 

Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.

Kepatahhatian (2)

Menyambung tentang kepatahhatian cerita sebelumnya. Jalinan hubungan lain yang mampu membuat saya patah hati dan menangis pilu adalah ketika dihadapkan pada kelutnya romansa persahabatan.

Air mata saya pernah bercucuran berkali-kali tentang memercayai teman. Teman saya sedikit. Itu-itu saja. Namun yang itu-itu sajalah yang sudah mampu membuat saya cukup dan bahagia. Bila ada yang menyakiti, melupakan, dan meninggalkan saya yang saya rasakan adalah gedebam rasa sakit patah hati.

 

Belum lama ini. Saya pernah dikecewakan lagi oleh seseorang yang sangat saya percaya, sangat saya bela, sangat saya sayangi, sangat saya perlukan. Saya berpikir selama ini saya juga seperti itu di hatinya. Meskipun mungkin perasaan kami tidak sama banyak, namun entah kenapa saya yakin kalau dia menganggap saya sebagai salah satu temannya yang ia sayangi. Yang ia pedulikan dan ia ingat.

 

Namun.. layaknya cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin rasa perteman yang saya alami juga bertepuk sebelah tangan. Tangannya tak pernah menggenggam tangan saya sebagai salah satu temannya. Sahabatnya. Atau mungkin tidak lagi. pernah tapi itu dulu. Tahun lalu. Atau entah kapan berhentinya. Hanya dia yang tahu.

 

Saya malas menggangapnya hanya sebuah kesalahpahaman saja. Sebagai seorang yang hrausnya merasa teman harusnya kesalahpahaman itu tidak terjadi. Namun karena terjadi, saya menyadari satu hal.

Posisi saya tidak sehebat itu di dalam laman hati bertajuk “teman” miliknya.

Mungkin saya hanya tipikal teman yang biasa saja. Teman sekedar kenal. Tahu nama dan pernah beberapa kali nongkrong bareng. Sekedar itu saja. Cukup kita ketahui saja.

 

Dipatahhatikan oleh seorang teman seperti dia membuat surut rasa percaya saya. kikis rasa sayang saya. membludak amarah saya. Namun mengingat umur yang tidak lagi di era main engklek makan es goreng, maka saya memutuskan dan dengan pasti mengucapkan kalimat ini dari bibir saya kepadanya, “Saya gak bisa maksa kamu untuk menyukai dan berteman dengan saya. Saya akan mencoba untuk tahu diri. Mulai sekarang kita hanya akan menjadi teman biasa saja. Saya tidak mengatakan tidak akan bicara lagi pada kamu atau memutuskan hubungan. Namun, saya hanya akan berbicara padamu bila itu perlu saja.” Saya mengucapkan kalimat itu dengan kepalan tangan yang tergenggam. Kepalan tangan yang tergenggam guna menahan agar air mata tak jatuh. Kepalan tangan sekuat tenaga.

Meskipun melankolis untuk hal beginian, namun saya masih ingin terlihat kuat. Entah terlalu malu dengan usia masih merengek durja karena urusan pertemanan. Entah karena terlalu gengsi padanya dan seolah menunjukkan. Antara saya dia. Sayalah yang jatuh hati lebih dalam dalam hubungan pertemanan yang kami jalani selama beberapa tahun ini.

 

Akhirnya… siang itu. Setelah berbicara dalam atmosfir tak mengenakkan, saya pergi lebih dulu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan dia. Meninggalkan apa-apa yang selama ini pernah kami jalani. Dalam suka, dalam duka. Dalam tawa, banyak canda. Dalam sulit dalam mudah.

 

Siang itu, dalam lirih, saya meminta Tuhan menghapus rasa sayang saya padanya. Meskipun sulit menghapus kenangan yang yang telah kami cetak dalam banyak poto-poto yang memenuhi memory, tapi saya ingin rasa kecewa saya cukup besar untuk menghapus rasa sayang, rasa peduli dan rasa kagum saya padanya.

 

Demi mengalihkan kepatahhatian, saya menghibur diri. Bahwa, tidaklah mengapa kehilangan seorang teman karena toh kelak hidup saya akan lebih ribet dan masalah akan lebih ruwet daripada dilupakan oleh seorang teman.

 

Iya… untuk hal hati yang telah saya percayakan pada suatu sosok. Untuk sosok yang telah saya patri dalam hati, saya memang lebay. Saya bisa merasakan patah hati dan terpuruk parah akibat dikecewakan.

Padahal ini hanya untuk urusan hubungan atasan-bawahan dan teman. Bagaimana lagi bila hati saya dipatahkan oleh pasangan saya. mungkin efeknya, akan-jauh—lebih-besar.

Kesunyian Beda Kelas

Tahun lalu saya masih ngekos di sebuah desa di Kabupaten yang berjarak 3 jam dari kota Banda Aceh. Di sana demi bisa mengumpulkan receh untuk mejeng di bandara dalam maupun luar negeri. Di sana untuk melangsungkan hidup. Di sana untuk tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesendirian dan kesepian.

 

Mundur ke beberapa tahun silam. Tepat ketika saya masih berkutat dengan segala keruwetan dan keidealisan seorang mahasiswi, saya pernah memiliki suatu cita-cita. Kelak, bila telah menjadi dewasa saya ingin menjadi perempuan mandiri. Bekerja di suatu perusahaan, hidup mandiri jauh dari orang tua, dan menjalani serta bertanggung jawab dengan diri sendiri.

 

Bayangan kala itu merujuk ke penokohan suatu karakter di film holiwud. Seorang perempuan muda dewasa, cantik, pintar dengan karir cemerlang. Hidup single namun jumawa di kota besar dan tinggal sendiri di apartemen yang tidak terlalu besar namun tidak kumuh. Memunyai cukup uang untuk kesenangan sendiri. Berkutat dengan segala kesibukan kerja hingga lupa asmara. Pulang kerja ketika membuka pintu apartement yang didapati hanya sebuah kegelapan namun kesunyian yang dirindukan setelah seharian penat dengan tumpukan kerjaan dan klien. Menyiapkan makan malam ditemani suara TV yang menyiarkan entah itu siaran komedi atau berita yang isinya entah apa. Hanya diperlukan kebisingan untuk menemani proses memasak spageti instan lalu segera memakannya. Setelah itu, mandi dan mengakhiri hari dengan tidur tenang nyaman seorang diri.

Yang saya narasikan di atas adalah sebuah kehidupan yang sempat saya cita-citakan. Sebuah pencapaian hidup menurut saya. Namun, memang Tuhan maha baik. Ia berikan kehidupan yang saya inginkan tersebut untuk saya jalani. Sama namun beda kelas.

Nyatanya….

Menjadi perempuan dewasa iya. Cantik ya dipaksain dengan fitur kamera hp dan perawatan wajah menguras dompet. Pintar, ya gak bisa dibilang bodoh juga. Karir cemerlang? Ya udah syukur dapat kerjaan. Tinggal mandiri jauh dari keluarga, iya banget. Namun bukan di apartement bagus, melainkan kos-kosan tanpa ventilasi yang baik di sebuah desa yang tidak ada keriuhan dan kepikukan sama sekali. Hidup single, iya banget. Memunyai cukup uang iya sih. Namun yang berbeda adalah sensasi pulang kantor. saya pikir, ketika membuka pintu dan mencumbu kegelapans aya akan merasakan kebebasan dan kenyamanan. Nyatanya, ketika pintu kosan saya buka setiap saya pulang kerja, yang saya temui adalah kehampaan dan kesepian yang memilukan. Yang bila diresapi membuat saya jatuh nelangsa dan terus bertanya, “ngapain saya harus membuang waktu saya di desa ini? Sedangkan orang-orang desa ini malah merantau ke kota tempat tinggal saya atau bahkan luar kota dan luar negeri?”

Iya. Pulang ke kosan setiap harinya itu menjadi hal terburuk. Sepi dan sunyi bukan sebuah kemewahan yang seperti selama ini saya pikirkan. Pulang ke kosan bukannya masak, malah menyurutkan nafsu makan saya. terlalu banyak malam saya lewati tanpa makan malam. Terlalu banyak malam saya merasa menyesal pernah ingin hidup sendiri jauh dari rumah. Terlalu banyak malam saya pikirkan dalam sepi kalau Tuhan memang mewujdukan doa saya. namun saya lupa mengatakan kalau maksudnya saya itu ingin tinggalnya di kota bukan di desa.

3 tahun hidup sendiri makan ditemani kipas angin dan ngobrol dengan dispenser cukup merusak otak saya hingga akhirnya sebelum otak saya rusak parah saya memutuskan:

 

NIKAH ENAK KALI YAK.

 

 

To be cont…

Hari tentang doa yang masih sama

Tiga bulan yang lalu usia saya telah sampai ke angka dua yang di belakangnya sudah banyak. Ke umur duapuluh yang ampir dekat ke angka tiga puluh. Di mana krim anti aging makin rutin saya pakai. Di mana kehilangan tabir surya lebih bikin saya sewot ketimbang kehilangan pacar.

Ulang tahun kemarin berlalu  biasa. Penambahan umur seperti seharusnya. Ucapan-ucapan yang biasa disertai iringan doa yang masih sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi.

Klasik.

Semoga jodoh saya disegerakan.

Dan sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi, balasan aamiin dengan khidmat saya lantunkan. Agar semesta mendengarkan meski suara saya terlalu sayup.

Tulisan tematik mengenai ulang tahun say,a memang berniat saya tuliskan. Karena entah sejak usia berapa, tulisan mengenai penambahan umur rutin saya tulis meskipun terkadang telat. Bahkan telat sebulan. Ini telat 3 bulan malah.

Ya… mengenai jarang nulis ini, bukan saya aja kok yang ngalamin. Bloger-bloger kece favorite saya juga blognya lama yang hiatus. Setahun posting Cuma 3 tulisan. Atau malah ada yang memang sudah menutup blognya. Entah karena ngeblog tidak seheboh dulu lagi. Entah para blogger yang semakin banyak urusan dunia yang mesti dibenahi.

 

Untuk saya, males dan lebih suka nonton streaming drama korea.

 

Minggu lalu, seluruh pegawai di kantor saya nongkrong cantik di sebuah kafe nge-hits di Banda Aceh. Ngobrol ngalor ngidul. Begosip ini itu. Sesekali bahas OSL dan target. Sesekali adu-aduan NPL. Entahlah…

Hingga ke percakapan tentang bunga. Tentang rangkaian bunga super besar yang diberikan rekan kerja saya ke kekasihnya yang wisuda. Lalu ditimpali dengan rangkaian bunga tak kalah aduhai dari seseorang untuk rekan satu kantor kami. Buket bunga ulang tahun. Yang jumlah mawarnya setara dengan usia dia. 22 tangkai untuk ulang tahun ke 22.

Lalu tetiba saya ingat. Ulang tahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu saya juga diberikan rangkaian bunga mawar oleh seseorang.  Namun jumlah tangkai mawar segar berwarna merah seperti warna kesukaan saya itu tidak menunjukkan jumlah usia saya.

Jumlah tangkai mawar itu hanya 4. Sedangkan usia saya  7  kali lipatnya.

Namun meskipun hanya berjumlah 4 tangkai, tidak membuat saya sirik dengan rekan saya yang berjumlah 22 tangkai. Saya malah senyum geli sendiri dengan bunga tersebut. Hingga sore itu ingatan saya melayang ke hari saya menerima bunga mawar ulang tahun saya.

 

Itu kali pertama saya diberikan bunga. Oleh lelaki pula. Di ulang tahun saya pula.

Apa masih harus saya tidak bersyukur?

Meskipun saya bukan tipikal pecinta bunga. Dan bukan tim perempuan sumringah dikasih bunga saat ulang tahun. Namun, hari itu saya senang. Saya bahagia.

Sesuatu yang pertama memang mampu menjadikan suatu hal spesial. Mendapatkan bunga untuk pertama kalinya memang sukses membuat saya merasa itu ulang tahun yang spesial. Ulang tahun yang saya anggap biasa namun berbeda.

Rangkaian bunga mawar saya yang sederhana membuat senyum saya terkembang hari itu. Diberikan oleh seorang lelaki spesial. Lelaki yang sungguh saya tak menyangka mampu memberikan saya bunga.

Karena awalnya saya udah pasrah dia bakal biasa aja di hari ulang tahun saya. Kalau dia lupapun saya gak bisa marah. Karena memang tipikal lelaki yang seperti itu. Bukan lelaki romantis namun dia klimis.

 

Saya memang gak menganggap bunga sebagai salah satu hadiah yang cocok buat saya. Saya lebih memilih diberikan sepasang sepatu, buku, atau tiket pesawat PP ke Turki. Atau dikasih combo ketiganya malah saya gak mampu nolak. Namun bunga ulang tahun kemarin cukup mampu membuat saya merasa kalau saya ini ternyata perempuan juga. Dan bersyukur lelaki klimis ini mengganggap saya perempuan dan layak mendapatkan bunga mawar berwarna merah.

 

Yah.. meskipun setelah puas saya menimang bunga tersebut saya sibuk mencari-cari apakah ada bingkisan lainnya sebagai kado ulang tahun saya. Syukurnya ada. Karena kalau tidak, apalah arti ulang tahun tanpa kado yang menyenangkan hati. Yang berharga, bernilai dan bisa dipakai. Bukan Cuma bunga yang dipajang beberapa hari lalu layu terbuang.

Hahaha… iya. Itulah kenapa saya kurang sreg ama bunga. Nilai ekonomisnya terlalu cepat menyusut. Hilang lalu dibuang.

 

 

Jadi, ulangtahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu. Di doa-doa yang dipanjatkan rekan, sahabat, dan keluarga yang mengharapkan agar jodoh saya mendekat dan ijab terucap cepat demi acara pernikahan yang akan dihelat. Saya berharap, doa itu mampu menembus langit. Diijabah oleh-Nya. Menjadikan saya dan lelaki klimis itu sepasang. Sepasang di dunia dan akhirat. Agar kelak, doa soal jodoh terhenti tahun ini. Agar rekan, sahabat, dan kerabat mampu mengimajinasikan untaian doa lainnya lagi untuk saya tahun depan.

 

Ketik Aamiin atau Like di kolom komentar, tapi gak menjamin kamu masuk surga sih.

 

Adalah

Adalah suatu kebodohan menyatakan perasaan ketika dalam hitungan jam status kamu akan berubah. Mendapatkan gelar baru yang begitu didamba. Menjadi seorang suami.

Adalah sebuah kemustahilan pernyataan perasaanku mampu menggoyahkan yakinmu berijab kabul. Hidup terlalu ribet untuk dianggap seumpama adegan sinetron. Biaya yang keluar demi sebuah prosesi dan resepsi akad nikah bukan perkara sederhana.

Adalah aku yang patah hati.

 

Apa yang salah dari menyukai kamu hingga kamu bertanya letak alasan aku menyukaimu. Apa yang aneh dari rasa suka pada lawan jenis hingga kamu meragukan perasaan sukaku.

Apa yang begitu mewah dari sebuah rasa cinta diam-diam hingga aku ngerasa begitu berharga perasaan ini untuk diumbar percuma.

Akhirnya yang ada hanya…

Seorang perempuan tengah patah hati. Di antara tumpukan daftar nasabah jatuh tempo.

 

 

 

 

 

Biar Seperti Orang-Orang

“Sekarang sih pergi kondangan harus cantik maksimal. Biar ada yang ngelirik.”

“Ada?” tantangku yakin jawabannya tidak.

“Gak.” Jawabnya tertunduk lesu. Saya tertawa. Dia juga tertawa. Kami tertawa.

“Kita dandan cantik. Pergi kondangan. Lalu berharap ada yang merhatiin kita dari jauh lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Gak ada itu sih,” saya balas.

“Iya. Di novel-novel aja itu sih adanya. Lalu kisah cinta semasa kecil. Suka dari kanak-kanak lalu jatuh cinta ketika dewasa dan menikah. Drama doang itu sih. Novel aja.”

Saya tertawa, “Iya. Aslinya gak ada yang kayak gitu di kehidupan nyata.”

“Iya. Gak ada. Novel doang,” dia bersikeras.

“Mungkin karena kita kebanyakan baca novel, Ka. Jadi mengkhayal deh.”

“Mungkin, sih.” Jawabnya males.

 

Iya. Kisah bertemu tak sengaja di keramaian lalu jatuh cinta pada pandangan pertama sebab kita tampil cantik dan anggun itu gak nyata.

Kisah cinta semasa kecil yang terus tumbuh hingga dewasa lalu menikah juga palsu.

Kisah jatuh cinta sebab tak sengaja bertemu dengan orang yang tepat ketika di pesawat juga gak ada.

Disapa lelaki keren ketika sedang duduk cantik di coffe shop drama banget.

Semua itu gak ada di dunia nyata. Kenyataan gak semanis romantis itu.

 

Akhirnya kita pakai cara klasik. Menambahkan akun sosial media seseorang lalu berkenalan via japri.

Atau minta dikenalin sama temen.

Atau minta pin bb perempuan single.

Atau malu-malu tapi mau minta dikenalin sama si bos oleh  ponakannya yang tampan.

Atau dijodohin ortu.

Pake koneksi abang atau kakak.

Yaah semacam itulah.

Agar bisa kayak orang-orang. Menikah.