Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.

Coba Tanyakan Lagi Besok

“Saya sedang tidak ingin menikah”.

Wajahmu tercengang. Tak bisa kutebak apa artinya. Entah kamu bersyukur lega atau menganggap saya aneh. Baru kemarin saya begitu marah ketika kamu katakan hubungan kita dihentikan saja sebab restu tak berpihak pada kita. Pada saya lebih tepatnya. Dari ayahmu.

“Itu pikiran hari ini”, lanjut saya.

Sebab hari ini saya begitu lelah. Badan saya lelah menyangga hati saya yang terus terluka. Telinga saya lelah mendengar cemoohan. Mata saya lelah melihat masa lalu pahit saya.

 

“Tapi gak tau kalau besok”.

Kamu melongomu makin menjadi. Sudah tidak dianugerahi garis wajah cerdas tambah lagi ekspresi konyolmu. Tapi justru membuatku tertawa. Tawaku semakin membuatmu bingung. Tapi yakinlah, saya sedang tidak keracunan minuman chocolate mint yang baru saja saya minum.

“Coba aja besok tanya lagi, ya?”

“Kenapa?” akhirnya kamu bisa bersuara. Suara menggemakan pertanyaan.

“Sebab saat ini pikiran saya penuh dengan indomie telur rawit. Pikiran tentang menikah tak bisa saya sisipkan di kepala kecil saya ini.”

 

 

Biar Seperti Orang-Orang

“Sekarang sih pergi kondangan harus cantik maksimal. Biar ada yang ngelirik.”

“Ada?” tantangku yakin jawabannya tidak.

“Gak.” Jawabnya tertunduk lesu. Saya tertawa. Dia juga tertawa. Kami tertawa.

“Kita dandan cantik. Pergi kondangan. Lalu berharap ada yang merhatiin kita dari jauh lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Gak ada itu sih,” saya balas.

“Iya. Di novel-novel aja itu sih adanya. Lalu kisah cinta semasa kecil. Suka dari kanak-kanak lalu jatuh cinta ketika dewasa dan menikah. Drama doang itu sih. Novel aja.”

Saya tertawa, “Iya. Aslinya gak ada yang kayak gitu di kehidupan nyata.”

“Iya. Gak ada. Novel doang,” dia bersikeras.

“Mungkin karena kita kebanyakan baca novel, Ka. Jadi mengkhayal deh.”

“Mungkin, sih.” Jawabnya males.

 

Iya. Kisah bertemu tak sengaja di keramaian lalu jatuh cinta pada pandangan pertama sebab kita tampil cantik dan anggun itu gak nyata.

Kisah cinta semasa kecil yang terus tumbuh hingga dewasa lalu menikah juga palsu.

Kisah jatuh cinta sebab tak sengaja bertemu dengan orang yang tepat ketika di pesawat juga gak ada.

Disapa lelaki keren ketika sedang duduk cantik di coffe shop drama banget.

Semua itu gak ada di dunia nyata. Kenyataan gak semanis romantis itu.

 

Akhirnya kita pakai cara klasik. Menambahkan akun sosial media seseorang lalu berkenalan via japri.

Atau minta dikenalin sama temen.

Atau minta pin bb perempuan single.

Atau malu-malu tapi mau minta dikenalin sama si bos oleh  ponakannya yang tampan.

Atau dijodohin ortu.

Pake koneksi abang atau kakak.

Yaah semacam itulah.

Agar bisa kayak orang-orang. Menikah.

 

Memilih Suami (Part 4): 1/3

Saya pernah ditawari menikah dengan seorang lelaki. Iyalah. Lelaki. Namun tidak seperti kebanyakan lelaki yang mampir di hidup saya. Lelaki ini agak sedikit kurang beruntung secara finansial. Di saat sekarang saya dan teman-teman saya dilimpahkan rejeki finansial yang cukup. Saya agak merasa miris akan hidupnya. Ke mana ia buang usianya hingga masih berada pada posisi selevel fresh graduate?

Namun, ia lelaki baik. Agamis namun tidak humoris. Calon imam yang cocok untuk membimbing saya ke surga. Pikir saya. Jadilah saya mempertimbangkan tawarannya untuk menjadikan saya istrinya.

Dasar perempuan. Dasar juga saya yang perhitungan. Saya lalu ngambil kalkulator dan itung-itungan.

Gaji saya+ gaji dia       = aaah… masih terbilang cukup untuk hidup di aceh.

2

 

 

Bahkan pendapatan kami setelah dijumlahi dan dibagi dua itu sama hasilnya dengan kebanyakan penghasilan lelaki rata-rata yang bekerja di aceh dengan istrinya tidak bekerja. Bila mereka saja masih bisa hidup ya berarti saya juga.

Saya mantapkan hati saya untuk mengatakan iya. Atau mempertimbangkan mengatakan iya. Karena selain materi tentu saja saya harus lebih mengenalnya secara jauh. Kepribadiannya terutama. Karena saya gak mau terjebak dengan muka aja yang innocent tapi kelakuan bajingan.

Di tengah-tengah pertimbangan. Benak saya kembali ke perihal gajinya yang (maaf) hanya sepertiga dari penghasilan bulanan saya.

Lalu dengan jumawanya tetiba otak saya membuat suatu pertanyaan,

Entar kalau kami menikah apakah aku masih bisa beli lipstik tiap bulan ya? Atau apakah belanja lipstik harus dikurangi?”

Beberapa menit kemudian saya sontak kaget dengan pikiran saya sendiri. Bagaimana bisa saya membandingkan suatu pernikahan dengan lipstik. Kayaknya saya kebanyakan makan micin nih. Udah gak bener otak saya.

Cepat saya gelengkan kepala saya. Membuang pikiran itu jauh ke Tapak Tuan.

Tapi lalu…

Apakah iya, saya harus cukup punya lipstik satu sampai habis?”

Memilih Suami (Part 3): Bagaimana Bila dan Bagaimana Bila yang Banyak Sekali.

Saya takjub sama orang-orang yang telah menikah. Meskipun saya tidak tahu bagaimana proses ia akhirnya menentukan teman hidupnya. Setidaknya ia telah membuat keputusan. Sedangkan saya, hingga kini terus lari dari kenyataan.

Kenyataan yang menagih keputusan saya untuk menikah. Menikah dengan siapa. Menerima pinangan lelaki.

Dipikir-dipikir lebih dari 7 kali bahkan hingga habis pikir. Saya masih gak bisa juga mengatakan, “iya, ayo kita menikah”. Makin dipikir saya makin ragu. Makin tersesat. Makin ingin melarikan diri ke hutan belok ke pantai. Sungguh menikah gak pernah menjadi persoalan gampang.

Saya ingat akan perjodohan yang pernah terjadi pada diri saya. Saat itu bukannya saya tidak bimbang dan galau. uh.. butuh beberapa bulan bagi saya meyakinkan diri saya kalau saya akan menikah dengan seorang lelaki. Bahwa kelak saya akan menjadi istri. Usai cincin tunangan tersematkan, butuh berkali-kali saya tampar wajah saya untuk mengingatkan diri betapa jalan saya menuju seorang istri tak lama lagi. Iya. Segitunyalah saya harus terima kenyataan dengan sebuah pernikahan.

Makanya, terlepas dari siapa yang mutusin siapa atau siapa yang patut disalahkan atas putusnya pertunangan kemarin. Efek kecewa saya begitu besar. Ini bukan perkara hati yang patah. Namun ini perkara amarah yang ada akibat betapa segitu usahanya saya untuk meyakinkan diri bahwa menikah itu bukanlah sesuatu yang mengerikan. Dan ketika saya sudah siap dan bisa menerima kenyataan justru yang terjadi sebaliknya. Saya tidak jadi menikah.

Dulu saya agak sedikit mudah memutuskan karena dijodohkan. Ada pihak-pihak yang turut memberikan testimoni. Sekarang lamaran yang datang di hadapan saya muncul bukan dari perjdoohan siapapun. Hingga saya tak punya sumber testimoni. Menjadi galau berkepanjangan pada akhirnya.

Memilih lelaki tak segampang memilih lipstik. Memilih untuk dijadikan suami yang cukup satu dan sekali seumur hidup tak menjadi soal yang gampang. Lantas kenapa lingkungan sekitar saya terlalu maruk memburunya?

Bagaimana bila ia tidak sebaik yang saya kira?

Bagaimana bila ternyata dia punya kelainan seksual? Seperti Mr. Grey misalnya.

Bagaimana bila ia bukan lelaki baik-baik?

Bagaimana dan bagaimana yang hanya akan saya ketahui jawabannya setelah menikah.

Bagaimana dan bagaimana yang kelak harus saya tanggung sendiri.

Bagaimana dan bagaimana yang terus menghantui saya.

Dan kamu, iya kamu. Bila kamu membaca ini. Alih-alih kamu menyalahkan saya, tidak bisakah kamu menenangkan hati saya agar kelak saya dapat memenangkan hatimu? Menjadikanmu sang juara bagi hati saya.

Memilih Suami (Part 2): Hedonis vs yang Penting Bukan Pengemis

Saya ini tipikal perempuan yang diajak hidup hedonis gampang banget. Diajak hidup sederhana ayo-ayo aja. Saya bisa berada di dua gaya hidup tersebut. Yakin.

Hidup sederhana adalah hidup yang diberikan oleh orang tua saya. Dari kecil kehidupan kami pas-pasan meski jauh dari kata melarat. Hidup serba ada dan tetap irit bisa saya lakoni. Belum lagi pengalaman bekerja di Jakarta yang bergaji sungguh bikin prihatin. Berbulan-bulan di sana saya tetap survive dengan gaji apa adanya kok. Bisa tidur dengan fasilitas seadanya. Ngeluh sih. Tapi tetap bisa saya jalani.

Hidup mewah. Laah.. siapa juga yang gak mau, kan? Untuk perempuan apa lagi. Dikasih uang yang digitnya banyak gak perlu pusing gimana habisinnya. Mall banyak. Gak ada mall, online shop juga banyak, seperti: Lazada, Zalora, Hijup, Berrybenka, Sephora tersedia di gadget. Abisin duit mah lebih gampang ketimbang abisin krim malam.

Lalu di antara dua gaya hidup itu manakah yang saya ingini?

Mungkin akan dikatakan munafik, tapi saya lebih memilih kehidupan sederhana. Bukan berarti melarat dan makan sekali cuma dua kali tanpa lauk pula. Bukan juga berarti hidup jauh dari peradaban. Hidup berkecukupan. Cukup buat makan sehari tiga kali. Cukup buat jajan. Cukup buat hangout cantik di weekend. Cukup buat jalan-jalan ke luar kota setahun sekali dan luar negeri setahun sekali.

Eh bukan ya? Itu bukan sederhana ya?

Hahahaha…

Maaf.. jiwa foya-foya saya emang suka keluar tanpa logika.

Nah.. itu dia masalahnya. Foya-foya semacam bakat tersembunyi. Entah juga ini ambisi terpendam. Sekarang setelah punya penghasilan sendiri doyannya belanja tanpa mikir. Sukanya jalan-jalan. Di sinilah letak masalah diri saya.

Karena saya punya masalah seperti ini, itulah kenapa saya enggan bersanding dengan lelaki mapan luar biasa. Penghasilan berkali-kali lipat dari saya. Karena saya takut. Jiwa hedonis saya gak bakal bisa kebendung. Nah.. lumayan kalau punya suami kaya tapi orangnya sederhana. Ini suami kaya hidupnya hedonis pula. Klop kali lah sama saya. Bakal terperangkap kehidupan duniawi yang melenakan. Kehidupan yang senang hanya untuk berlomba-lomba menghabiskan. Kehidupan yang dipayungi naungan godaan setan.

Jujur, saya enggan.

Bilamana saya bersuamikan lelaki kaya namun bersikap bijak dan mampu mengeram sifat boros saya sih oke aja. Tapi bila tidak, saya akan lebih memilih suami yang tak mengapa tak mapan. Tak mengapa tak rupawan. Asal dirinya mampu memenjarakan jiwa hedonis saya. Asal dirinya mampu menuntun saya menjadi perempuan yang lebih sholehah.

Makanya, bila ada yang mempertanyakan kewarasan saya menolak lelaki mapan, itu semua bukan karena saya tak suka menjadi kaya, namun karena saya tahu. Gaya hidup ‘abang itu’ gak cocok ama saya. Gak cocok ama cita-cita saya.

Karena bila ingin foya-foya, saya hanya ingin melakukannya selagi single. Selagi memakan uang keringat sendiri.

Ini bukan munafik. Ini sebenarnya perencanaan. Perencaan untuk anak-anak saya kelak.

Saya gak ingin menjadi sepasang orangtua yang mengajarkan kehidupan serba ada serba gampang untuk anak-anak saya. Saya tidak ingin anak-anak saya kelak menjadi manja. Menjadi manusia tanpa usaha tanpa derita. Bukannya saya ingin membuat anak saya susah. Namun saya hanya ingin mengajarkan bahwa hidup itu sulit dan kita harus terbiasa. Mendidik mental baja bagi anak harus dilakukan sejak dini. Harus dicontohkan orangtuanya. Nah… bila saya terlihat terlalu foya-foya bagi anak saya. Bisa jadi entar tingkah anak saya melebihi saya. Kalau saya dulu ngambek sama orangtua, merajuk dan mengurung diri di kamar. Anak saya mungkin bakal lebih ekstrem. Merajuk, ngurung diri dan gunting-guntingin uang jajannya. Whoaaaaaaah….

Hiduplah sederhana. Hidup berkecukupan tanpa kekurangan. Ada tanpa berhutang. Hidup dengan usaha dan kerja keras. Agar kita lebih menghargai hasil. Agar kita tahu dunia tak bisa dilakoni dengan sikap manja. Karena tak selamanya hidup selalu di atas. Karena dunia berputar. Entah pada rotasi ke berapa, kita mungkin berada di bawah. Bersiaplah…

Jadi sebelum saya cuap-cuap soal anak dan ngedidik anak tapi anaknya belum ada. Saya kini tengah fokus memilih ayah dari anak-anak saya kelak. Seorang lelaki yang dalam sekali bertandang (baca: lamaran) mampu menggugurkan segala ragu di hati. Segala ketidaksiapan diri.

Dan, ya.. memilih itu sulit. Saya lebih suka jawab soal Fisika yang meskipun pas SMA saya selalu remedial.

Jadi, jangan tambah-tambahin dengan pertanyaan, “Kapan nikah?”

Memilih Suami (Part 1): Lelaki Bukan Lipstik

Saya tidak habis pikir bagaimana seorang perempuan bisa begitu mudah memilih lelaki yang kemudian dia tentukan dengan pasti menjadi suaminya. Pendamping hidupnya. Selamanya (niatnya).

Lalu… dalam sekali anniversary mereka bercerai…

Setiap kali melihatnya berwara-wiri di recent update BBM, setiap kali pula saya teringat akan bagaimana ia berpacaran dengan begitu heboh umbar kemesraan. Lalu tentang bagaimana dia bermuram durja di status perihal perceraiannya.

Pengen saya tanya, waras, mbak?

Oke. Saya memang tidak tahu dan tidak mau tahu kenapa dua insan dimabuk cinta pamer mesra bisa bercerai. Alasan dibalik perceraian bukan urusan saya. Hanya saja, saya yang sepertinya masih punya RAM otak tersisa untuk dipake berpikir berulang kali bertanya dalam hati.

Bagaimana bisa mereka yang berpacaran bertahun-tahun. Pamer mesra sana-sini. Lalu bercerai dalam setahun perayaan pernikahan?

Kemana perasaan cinta menggebu menguap? Ke mana terbangnya keyakinan ketika memilih suami untuk dijadikan pendamping sepenuh hati, setiap hari, sampai mati? Kenapa cuma sementara?

Kenapa tidak dipertahankan? Kenapa tidak diusahakan?

Sungguh pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya menjadi momok yang kemudian menghantui saya dalam memilih suami sekali seumur hidup bagi saya.

Ketika orang yang memilih jalan berpacaran lalu dalam sekali kibasan emosi bisa-bisanya bercerai, bagaimana saya yang memutuskan memilih suami tanpa melalui proses pacaran?

Selama ini metode saya menjadikan seseorang sebagai calon suami ya melalui proses perjodohan keluarga, dikenalin temen, temen lama yang tetiba naksir. Dari mereka semua tidak saya kesankan keinginan saya berpacaran. Pun mereka cukup tahu diri, mereka menawarkan lamaran.

Namun.. dalam sejuta pikiran dan pertanyaan berkelebatan dan belum menemukan jawaban, tidak satupun lamaran yang saya iyakan lagi setelah gagal bertunangan melalui metode perjodohan.

Saya bohong ketika saya mengatakan akan menerima sesiapun yang datang duluan melamar.

Nyatanya, setiap kali lelaki menawarkan diri hendak melamar ketika itu juga saya lebih pengen disuruh jawab soal persamaan reaksi kimia ketimbang menjawab lamarannya.

Saya bohong ketika mengatakan saya tidak mementingkan status ekonomi, pekerjaan, fisik. Nyatanya, datang yang tampan rupawan namun gendut tidak mampu membuat saya terpesona.

Saya bohong ketika siap menikah pada lelaki yang berani datang melamar. Nyatanya, kedatangannya bersama orangtuanya selalu saya cari seribu alasan untuk tidak ke rumah.

(Mungkin) saya bohong ketika berkata saya sudah siap menikah. Nyatanya saya hanya males menjawab pertanyaan basi, “kapan nikah” dari handai tolan.

Mungkin saya hanya sulit memilih suami tuk dijadikan pendamping sehidup semati. Satu sampai tua. Berdua tanpa ada pihak ketiga. Setia dalam suka dan duka. Kemudian bersatu di surga.

Karena meski saya dikatakan cerdas, saya bodoh soal menilai lelaki. Meski saya mudah menentukan pilihan, namun tidak soal jodoh.

Karena lelaki bukan lipstik. Yang bisa saya pilih dengan sekali pandang. Saya pastikan cocok dengan sekali pulas. Saya yakin dengan sekali pembayaran.

Karena lelaki bukan lipstik yang hanya mampu mencerahkan bibir dan mengupgrade pesona saya. Namun lelaki yang menjadi suami adalah dia yang nantinya mencerahkan hari saya. Yang karenanya saya terpesona setiap hari, tanpa henti.

Karena lelaki bukan lipstik. Ketika saya memilih lipstik yang salah. Tidak enak tersentuh di bibir, bisa saya buang atau ngasih ke teman.

Karena memilih lelaki. Memilih suami, gak pernah mudah. Gak semudah kamu bertanya, “Kapan nikah?”

jadi.. mengertilah. Saya sudah ruwet untuk memilih. Jangan lagi usil dengan kepo bertanya, “Kapan nikah?”

Karena bila lelaki serupa lipstik, yakinlah, lelaki yang baik yang akan menjadi suami panutan tidak akan bisa dihargai hanya senilai 500k.

Akhirnya Menikah

Saya selalu suka menghadiri pernikahan sahabat dekat saya. Sahabat ya, seseorang yang kita tahu perjalanan jatuh bangunnya. Seseorang yang kita usap air matanya, yang kita peluk ketika dia bahagia namun kita tertawakan dengan jumawa ketika dia melakukan hal konyol. Pernikahan sahabat membuat hati saya merasakan sesuatu.

Ada tiga kisah menuju pernikahan yang saya inget dari sahabat yang sangat menyentuh. Yang membuat mata saya menuju ke pelaminan dengan penuh kesenangan melihat mereka bahagia.

Pernikahan pertama dari seorang sahabat semasa SMA. Tahu tentang kisah asmaranya. Tahu tentang keinginannya. Tau tentang perjuangan pacarnya demi bisa menikahi sahabat saya itu membuat saya bener-bener bahagia ketika mendapatkan kabar mereka akan melangsungkan pernikahan.

Pernikahan di awal tahun 2015 kemarin menjadi pernikahan sahabat saya yang penuh saya syukuri.

Pernikahan kedua terjadi di bulan Februari atau Maret. Saya lupa. Kisah sahabat ini sebenarnya bisa dibilang mulus tanpa aral. Sebuah pernikahan paling mulus dan lancar jaya yang pernah saya dengarkan ceritanya. Yang saya ikuti kisahnya. Namun yang membuat saya haru adalah, tentang sosok perempuan itu. Tentang janji Allah akan menghadirkan lelaki baik-baik buat wanita baik-baik. Menurut saya sahabat saya dan suaminya itu memenuhi kriteria atas janji Allah swt itu.

Kisah menuju pernikahannya membuat saya merasa, seorang perempuan tulus yang hanya mengharapkan ridha Allah dan memilih suami tanpa mandang bulu kakinya lebat atau tidak dan hanya berserah pada kuasa Allah sungguh luar biasa. Perempuan yang menjadi sahabat saya itu menempatkan pernikahan sebagai ibadah.

Jadi, melihat perempuan yang usianya lebih muda dua tahun dari saya, ketika ijab kabul terdengar atas namanya membuat sontak hati saya bergetar. Dia menikah. Pada lelaki yang tidak ia lihat dari tampang atau hartanya. Namun dari hati dan agamanya. Pernikahan atas dasar ibadah.

Proses menuju pernikahan yang ketiga yang membuat saya lega dan bahagia baru saja terjadi kemarin. Seoarang sahabat yang malam-malamnya pernah diliputi kegundahan, kekalutan dan kegamangan. Seorang perempuan dengan tekad luar biasa. Dengan kegigihan yang tanpa ampun. Dengan mental yang sudah terbukti. Dengan hati kuat yang sudah teruji. Dengan ketegaran melewati segala hujatan dan ledekan para sahabatnya (termasuk saya) juga tentunya.

Melihatnya kemarin di pelamin saya berkata dalam hati, “kamu menang. Kamu hebat.” Andai beragam hiasan kepala pengantin ribet itu tidak menghalangi pelukan kemenangan yang saya berikan untuknya, pastilah pelukan itu saya berikan dengan lebih lama dan lebih kuat. Sebagai bukti betapa saya kagum dan turut senang dengan keberhasilannya mewujudkan mimpinya jadi nyata.

Sebagai yang turut mendengar kisahnya. Sebagai yang turut kesel ketika dia murka. Sebagai yang turut juga menertawainya saya tahu satu hal: sahabat saya itu kuat. Dan semoga apa-apa yang telah ia usahakan demi terwujudnya mimpinya diberi keberkahan dan rahmat dari Allah swt.

Tiga kisah sahabat yang saya tuturkan di atas adalah kisah perjuangan dan lika-liku mereka menuju pernikahan impian mereka. Bukan kisah perjalanan meniti pernikahan hingga akhir usia. Karena cerita pernikahan tentunya pasti lebih berat dari cerita menuju pernikahan. Dan bagi saya, biarlah itu menjadi kisah pembelajaran dan pendewasaan bagi mereka sendiri. Biar mereka saja yang mengetahui dan menjalani lika-likunya.

Sebagai penulis blog, saya hanya ingin meniru kisah para pendongeng sekelas Cinderella. Mengetahui lika-liku mereka lalu mengakhirinya dengan sebuah momen penutup berupa pernikahan bahagia dan memberikan standing ovation atas kebahagian mereka.

Untuk urusan selanjutnya. Saya undur diri. Sebuah pernikahan yang layak diceritakan dan ditonton memang sebatas ketika di pelaminan. Selebihnya mereka yang menikahlah yang harus bertanggung jawab bagaimana menjalankan dongeng mereka sendiri.

Pun demikian. Ketika saya turun dari pelaminan usai memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin, dan berlalu menuju keluar gedung. Pun meski saya hanya mengisahkan hingga acara pernikahan mereka terwujud, pun akhirnya saya berpamitan. Saya terus berdoa agar pernikahan mereka hingga ke surga.

Agar pernikahan sahabat-sahabat saya, baik yang menyentuh hati saya ataupun yang biasa saja, juga pernikahan saya nanti (yang entah kapan), berjalan di dunia, berakhir di surga.

Cinta Pak Sopir

Kalau perempuan setia itu biasa. Lelaki setia? Standing ovation buatnya.

 

Salah seorang sopirnya seorang bapak-bapak di level pejabat di perusahaan saya telah diganti. Usut punya usut, yang lama ternyata telah dipecat.

Saya tidak menaruh perhatian lebih atas pemecatan sang sopir. Paling mangkir. Benar ternyata, namun ketika mengetahui cerita dibalik hingga ia terpaksa mangkir membuat rasa makan siang saya tak lagi sama. Malu hati pada si Pak Sopir tambah rasa haru juga bangga.

Pak sopir. Istrinya menderita kanker payudara. Atas alasan itu ia harus selalu berada di samping sang istri. Mengantarkan berobat ke luar kota dan membantu segala keperluan istri. Dengan aksinya yang demikian ia tak bisa masuk kerja. Pada kesempatan pertama, bosnya masih memaklumi dan memaafkannya, namun karena jumlah bolosnya sudah terlalu banyak terpaksa juga dipecat atas nama kedisiplinan.

Pak Sopir ikhlas. Sudahlah pikirnya, istrinya lebih penting menurutnya.

Cerita yang membuat saya terenyuh kagum pada lelaki berpostur pendek dengan kepala setengah botak itu adalah fakta bahwa ia ingin terus bersama istrinya dan terus menuruti keinginan istrinya.

Saya tidak tahu apakah penyakit istrinya sudah pada level parah. Yang jelas, ketulusan Pak Sopir mengiyakan segala pinta manja istir dan tetap setia dalam susah membuat saya terharu. Betapa setianya Pak Sopir. Betapa tabahnya beliau. Betapa tulus cintanya buat sang istri.

Dengan cerita demikian saya langsung menyimpulkan, cinta Pak Sopir buat sang istri tidak main-main. Ia sungguh mencintai istrinya. Ia rela meninggalkan pekerjaannya demi menghabiskan hari yang diminta oleh sang istri. Bersama berdua menghabiskan waktu. Cinta yang membuat senja iri karena keromantisan cinta mereka mengalahkan pendar mewah senja.

Dengan perasaan syukur mengetahui cinta seperti itu nyata dan dekat dan tak perlu jauh-jauh melihat cinta Habibie pada Ainun. Saya lantunkan banyak doa, agar lelaki setia dengan cintanya seperti itu dilapangkan dadanya dan diberikan lindungan Allah swt. Saya rapalkan doa agar sang istri mendapatkan kesembuhan. Agar mereka berdua mendapatkan hal baik yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

 

Tak lupa hati kecil berharap, agar semakin banyak lelaki dengan cinta luar biasa seperti Habibie dan Pak Sopir di dunia ini.

If I got locked away

And we lost it all today

Tell me honestly, would you still love me the same?

If I showed you my flaws

If I couldn’t be strong

Tell me honestly, would you still love me the same?

 Locked Away –R City ft Adam Levine

Sistem Kerja Jodoh

Dengar-dengar pernikahan Fedi Nuril ditasbihkan sebagai Hari Patah Hati Nasional ya? Kamu salah satunya gak sih? Saya sih gak. Saya patah hati hebat hingga ogah kerja ketika hari pernikahan Dude Harlino. Pernikahannya membuat saya tak ada alasan lagi untuk terus sendiri. Namun hampir dua tahun dia menikah, saya belum bisa menggantikan sosok Dude Harlino di hati saya. Efeknya, saya masih makan malam sendirian di kosan hanya ditemani dispenser.

Mengikuti cerita alur cinta Fedi Nuril dengan sang istri  dari kenalan hingga ke pelaminan yang saya kepoin akibat judul berita yang sangat menggoda penasaran, diketahui bahwa Fedi Nuril melakukan proses ta’aruf dengan seorang perempuan yang dia kenal hanya karena sebuah broadcast.

Fakta tersebut membuat adik saya tak habis pikir dan dia merasa penting untuk membahasnya dengan saya. Si adik gak ngerasa seorang Fedi Nuril yang artis kece itu bisa-bisanya menambahkan pin seorang perempuan yang disebarkan melalui broadcast. Dan bisa-bisanya ia (Fedi Nuril) melakukan proses kenalan seperti lelaki pada umumnya: bbm-kopi darat-lanjut berhubungan. Dalam pikiran si adik hal tersebut terlalu sepele untuk dilakukan lelaki sekelas Fedi Nuril.

Saya tak yakin, apakah si adik ikut menjadi korban patah hati atau tidak. Tapi satu yang saya yakin. Begitulah cara kerja jodoh yang Tuhan tetapkan buat Fedi Nuril dan Istri.

Sistem kerja jodoh bagi setiap orang berbeda-beda. Gak melulu dramatis harus ketabrak dan mungut buku bareng atau sebaheula zaman Siti Nurbaya yang dijodohkan. Kadang ya gitu, seumum dan selazimnya yang lagi ngetrend berapa tahun belakangan ini. Melalui media sosial. Tanpa pandang bulu, bahkan sistem kerja jodoh yang dianggap sepele atau mungkin gak berkelas (bagi sebagaian orang) ini pun bisa terjadi pada artis. Pada sang Fedi Nuril yang tetep masih kalah kece dibanding Abang Dude Harlino.

Menurut pengakuan Fedi Nuril, ia biasanya tak menghiraukan broadcast sebar nomor kontak tersebut. Namun entah kenapa, untuk nama satu tersebut hatinya merasa ingin menjadikannya sebagai salah satu teman di daftar kontaknya yang kemudian berujung menjadi teman seumur hidup (insyaallah.. allahumma aamiin).

Ya begitulah jodoh. Begitulah skenario yang Allah reka untuk mereka. Sesederhana dan seumum itu. Dan bila memang sudah ditakdirkan bersama, tak mesti sebuah pertemuan hebat menjadi awal mula hati membuahkan cinta. Bila memang sudah ditakdirkan, sebuah broadcast-pun mampu mendesirkan hati yang menuntut kepada sebenar-benarnya jodoh.

Adik sepupu saya menambahkan kalau mulai sekarang ia tak akan lagi mengabaikan sms dari nomer tak dikenal atau permintaan pertemanan di jalur BBM. Yah.. mana tahu selanjutnya giliran Adipati Dolken yang lagi nyari jodoh.

Lalu bagaimana dengan kamu?

Masih mengharapkan akan ada lelaki yang menawarkan jaketnya padamu di halte saat kamu tengah berteduh kedinginan sebagai langkah awal penentu jalan jodoh?

Karena mungkin sistem kerja jodohmu bukan seperti itu. Tidak seromantis itu. Tapi satu hal, apapun sistem kerja jodoh yang tengah/akan/sudah Allah berikan kepada kita, pastinya itu akan menjadi satu moment indah tak terlupakan seumur hidup. Apapun temanya. Romantis. Komedi. Horor. Drama. Atau mungkin thriller.

Persiapkan dirimu.