Sebuah Film: The Proposal

Hasil dari menonton ulang film The Proposal adalah saya jadi semakin menyadari kalau menikah benar-benar akan mengubah hidup seseorang. Baik mengubah menjadi lebih bahagia, atau mengubah menjadi suram bak neraka. Maka itu, tak heranlah ada sebuah gambar sepasang pengantin menikah dengan latar belakang pantai suram berikut kata-katanya, “Game Over”, yang teman saya temukan di google.

Mari kita bahas Film yang diperankan oleh Sandra Bullock berpadu dengan Ryan Gosling.

Oh no. Ryan Reynolds rupanya. Saya sering kebalik sih ama nama mereka berdua. Kalau soal cakepan mana, saya sih akan menunjuk Ryan Gosling. Menurut mata saya ya.

Jadi film ini mengisahkan seorang wanita karir bernama Margareth Tate yang sangat ambisius dalam bekerja dan tipikal workaholic, independen, single, kaya, cantik, berkuasa, sukses dan ya pokoknya fantastic yang membuat saya berandai-andai agar saya bisa jadi setengahnya aja dari karakter Margareth Tate ini. Tapi mungkin sudah setengahnya sih kalau patokannya adalah status singlenya.

Margareth Tate harus berurusan dengan pihak imigrasi mengenai perpanjangan visanya yang tak ia lakukan hingga telat, lalu pihak imigrasinya memutuskan mendeportasi Margareth.

Demi tidak ingin didepak kembali ke negara asalnya di Kanada  dan kehilangan karir sebagai Kepala Editor di sebuah penerbit buku, sekonyong-konyong ia menjadikan asistennya yang bernama Andrew Paxton (Ryan Reynolds) sebagai tunangannya dan calon suaminya. Secara sepihak Margareth memutuskan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Tentu saja pernikahan ini palsu dan sebuah trik agar Margareth tetap bisa tinggal di Amerika dengan alasan ikut warga negara suami.

Menjelang pernikahan, Margareth menjadi tak tega melanjutkan pernikahan kontrak dengan Andrew. Ia merasa iba dan tak sampai hati harus merusak hidup Andrew yang bahagia dan damai serta dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai Andrew (keluarga, teman dan mantan pacar). Ia merasa, membuat Andrew menikahinya hanya untuk kepentingan pribadinya akan merusak masa depan Andrew. Dan ia tak tega. Tentu saja ia tak tega karena akhirnya perlahan ia mulai mencintai Andrew.

 

Nah.. kalimat perpisah Margareth untuk Andrew –lah yang membuat saya melek (lagi) soal pernikahan.

“…menghancurkan kehidupan seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi ketika kau tahu betapa bahagianya kehidupan orang tersebut.”

Begitulah penggalan kalimat Margareth di depan altar ketika hendak mengucapkan janji nikah. Tentu saja kalimat menghancurkan kehidupan itu berkaitan dengan pernikahan.

Bila mengingat-ingat lagi. Pernikahan memang bisa saja menjadi penghancur masa depan orang. Bila salah satunya menjalani tidak siap, ikhlas, atau tidak cinta. Atau bila siap di awal tapi melupakan tanggung jawab setelah dijalani.

Pernikahan gak melulu membawa kebahagian, itu yang saya amati dari kisah hidup orang. Maka dari itu, alangkah bijaknya, sebelum menikah pastikan dulu satu hal, lamaranmu akan menghancurkan hidup seseorang atau malah membahagiakan seseorang?

Sebaliknya, jawaban “Iya”-mu pada pelamar akan melengkapi hidupnya atau akan membuat suram masa depannya.

 

Pastikan itu. Setelah pasti maka jalanilah sesuai tekad. Karena hidup seseorang bukanlah bahan becandaan karena kita kurang piknik. *note to my self*

Akhirnya tentu saja film The Proposal yang rilis di tahun 2009 ini berakhir Happy Ending. Margareth dan Andrew menyadari kalau mereka saling cinta. Dan pernikahan mereka akhirnya terjadi dengan tanpa paksaan atau kepentingan salah satu pihak. Tidak menghancurkan hidup satu sama lain.

Saya suka film ini. Makanya ini mungkin kali ketiga saya nonton ulang. Saya menyukai karakter Margareth dan saya suka kisah yang memunyai unsur keluarganya. Di mana dalam film ini keluarga hangat dan lucu yang dimunculkan adalah keluarga Andrew.

 

Oke. Silahkan nonton kalau berminat. Kalau gak suka ya bukan salah saya. Beda selera aja sih kita.

Advertisements

Ketika Belum Mampu Melamar

Saya tahu sih beberapa lelaki ada yang ingin memperbaiki diri, mempersiapkan mental, fisik, jiwa, raga, bahkan keuangan hingga akhirnya ia berani melamar seorang gadis untuk menjadi istrinya. Itu sungguh hal yang mulia menurut saya ketimbang lelaki itu dengan mental abege cuma berani ngajak pacaran.

Lelaki yang seperti itu menurut saya lelaki yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga terhadap calon istrinya siapapun itu. dan lelaki seperti ini tentu saja digilai perempuan kan? Okeh deh. Saya deh saya. kalau saya pasti tergila-gila dengan lelaki seperti ini.

Kebanyakan dari mereka sebenernya tengah naksir dengan perempuan idaman. Dengan perempuan yang untuk dirinyalah segela persiapan menuju kematangan dan kemapanan diri ia persiapkan agar kelak pantas untuk meminang gadis itu. Sementara gadis itu pun juga tahu kalau sang lelaki menaruh hati padanya hanya saja tak juga berani diutarakan.

Lelaki tak berani mnegutarakan karena faktor dirinya yang belum matang dan mapan baik secara batin maupun keuangan.

Menurut saya nih ya, kenapa lelaki itu tak meminta sang gadis untuk menunggu?

Saat belum mampu berkata, maukah kau menikah denganku?, kenapa tidak bertanya, maukah kau menungguku?

Resikonya sama saja kan? Bakal diterima atau ditolak. Bakal diiyakan atau ditidakacuhkan.

Sama.

Tapi akhirnya dengan bertanya bersediakan perempuan itu menunggunya maka si perempuan tahu kalau ia tak bertepuk sebelah tangan. Bahwa ia tak sedang digantung. Meskipun belum pasti tapi bukankah ini salah satu bentuk kepastian ditengah-tengah ketidakpastian?

Perempuan manapun menginginkan kepastian. Diminta untuk menunggu menurut saya juga sebuah kepastian. Maka dari situ kita bisa tahu kalau sang lelaki begitu menginginkan si gadis dan tak ingin si gadis bersama yang lain. karena dirinya belum siap maka ia meminta diberi waktu.

Nah, tinggal hati si gadis saja. Kalau ia memang menyukai dan juga menginginkan si lelaki pasti ia mau menunggu.

Saya deh saya.

Kalau ada lelaki yang dengan sungguh ingin menjadikan saya istrinya namun masih ada hal yang harus ia lakukan sebelum ia bisa melamar saya, saya mau kok menunggunya. Tentu saja bila ia meminta.

Karena menikah kan gak bisa asal-asalan kan yak. Butuh persiapan. Kalau emang hati udah cucok dan hanya diminta menunggu ya kenapa tidak?

Tapi kebanyakan dari lelaki yang mendekati saya sih gak pernah menyuruh saya demikian. Cuma selalu bilang sama saya, ‘andai aku udah punya kerjaan bagus, pasti berani deh lamar kamu, Tan,’ dengan nada pesimis.

Padahal nih ya, kalau ia berani membuat suatu janji sama saya lalu meminta saya menunggu ada kemungkinan loh saya mau menunggu.

Kemungkinan loh yak. Hehehehe..

Karena menurut saya permintaan itu juga merupakan sebuah keputusan akan kepastian. Supaya kelak gak ada yang menyesal. Supaya kelak gak ada yang namanya terlambat datang. Supaya semuanya menjadi jelas bahwa posisi kita ada di mana pada hati satu sama lain.

(Bukan) Melamar Kerja

Saya baru sampai di kantor sepulang dari bank ketika saya melihat lelaki itu mengintip-ngintip kantor saya melalui pintu kaca hitam di depan. Dengan kemeja hijau, celana rapi tersetrika dan sepatu yang bersih gak mungkin ini abang penjual mie depan kantor menagih pembayaran makan siangku kemarin, pikirku. Saya sapa lelaki ini, “Selamat pagi”

Tampak badanya bergidik terkejut lalu dia menoleh kepada saya. Giliran saya yang terkejut. Cakep. Saya senyum dan bertanya, “Ada perlu apa ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”

Jleb. Saya lemes seketika. Dia tersenyum. Cakep banget.

“Ah iya. Ini saya mau mencoba masukin lamaran” ujarnya sambil menyerahkan amplop coklat ke tangan saya

“Oh.. iya. Makasih, Pak. Nanti akan saya kasih ke HRD-nya” saya senyum. Berharap senyum saya cukup menawan. Dan berharap perusahaan saya membutuhkan lelaki ini bergabung di sini. Aah lumayan. Bisa cuci mata.

“Eh jangan. Jangan kasih ke HRD” ucapnya

“Loh? Jadi ini lamaran mau diapakan kalau bukan ke HRD?” saya heran

“Anda saja yang buka” jawabnya sambil tersipu malu.

“Saya bukan bagian HRD, Pak. Saya accounting” Jawab saya makin heran.

“Iya saya tau Anda bagian accounting. Maka itu saya berharap neraca cinta kita selalu balance. Anda cinta Saya. Saya cinta Anda.” Jawabnya sambil tetep senyum sumringah.

“Bakbudik”* saya terkaget-kaget

“Ini surat lamaran ditujukan bukan untuk perusahaan ini. Tetapi untuk Anda. Mohon dipertimbangkan ya.” Ucapnya menutupi perbincangan dan berlalu begitu saja meninggalkan saya yang bengong memegang amplop coklat berisi surat lamaran.

Sejurus kemudian saya tersadar dan segera menuju meja kerja demi sesegera mungkin membuka surat lamaran itu. Saya baca kalimat ‘dapat menjadi pendamping Anda’ dengan seksama. Lalu saya perhatikan CV-nya.

Kemampuan:
1. Mampu mengoperasikan hati anda agar terus senang. Ya Cuma ANDA.

2. Mampu berinteraksi dengan baik.

3. Berpenampilan MENARIK. Bukankah Anda juga mengakuinya?

Selebih saya tak perduli lagi. Mata saya kembali meliar ke bagian atas CV. No hape-nya.

Saya ambil hp saya dan mengetak-ngetikkan sederet kalimat.

“Sehubungan dengan surat lamaran yang telah saudara kirim ke saya, maka dengan ini saya harap kesediaan saudara untuk dapat hadir pada tahap Wawancara Tahap Awal pada hari Minggu pukul 16.30 WIB di Café Cinta dengan berpakaian yang rapi”**

*Bakbudik. Suatu ucapan jelmaan dari ekspresi terkejut yang sering digunakan orang Aceh.

** Kira-kira beginilah redaksi kalimat sms yang saya dapati bila saya dipanggil untuk wawancara kerja