Jembatan Jiwa

Ini mengenai salah satu dialog dalam adegan drama korea Good Doctor. Drama Korea yang berjumlah 20 episode yang mengisahkan tentang Kehidupan Dokter Bedah Anak. Tokoh utamanya adalah seorang Dokter Bedah Anak autis yang mengidap savant syndrome. Ya.. begitulah kisah umumnya dari drama tersebut. Ini bukan blog drama korea jadi saya ogah menceritakan detilnya atau previewnya karena jumlah episode-nya banyak. Dua puluh. Banyak kan?

Tapi jujur, saya suka drama ini karena memberi saya pengetahuan baru akan dunia kedokteran. Yah.. meskipun banyak kesempatan saya harus pause tontonannya dan beralih ke google guna mencari tau makna dari perkataan dalam dialog dengan tema kedokteran ini.

 

Episode 19. Ada scene yang menceritakan di mana Dokter Park Shi On (dokter autis) merayakan hari pertamanya berpacaran dengan Dokter Cha Yoon Soe dengan pergi ke suatu tempat. Tempat yang dipilih adalah ke tukang ramal.

 

Dokter Cha menanyakan bagaimana kelak hubungannya dengan Dokter Park, apakah akan baik-baik saja. Si Peramal mengatakan hubungan mereka akan baik-baik saja tanpa hambatan. Namun, mereka hanya memiliki satu jembatan jiwa.

Jembatan jiwa.

Apa itu?

Bagi pasangan yang putus lalu kembali bersama, maka mereka memiliki banyak jembatan jiwa. Namun bagi Dokter Park dan Dokter Cha, mereka hanya memiliki satu jembatan jiwa. Yang mana, bila itu hilang mereka tidak akan bisa bersama lagi. Gak ada istilah balikan setelah jadi mantan.

Jembatan jiwa.

Hmmm…

Saya punya prinsip. Gak pernah mau balikan ama mantan. Sekeras apapun usaha mantan ngajak balikan, saya tetap gak mau. Bukan tanpa alasan, tentunya dengan pemikiran matang.

*halagh…

Jadi gini, menurut saya, suatu hubungan itu gak selamanya mulus seperti paha JKT 48. Pasti akan ada liku, konflik dan segala perintilan masalah. Ini adalah sebuah keniscayaan. Maka itu, diharapkan bila sudah memutuskan untuk berkomitmen, maka sebaiknya segala permasalahan diselesaikan baik-baik, bukannya melarikan diri dari masalah lalu dengan gampangnya minta putus.

Saya pernah ngasih tau salah satu mantan saya yang saya lupa mantan ke berapa. *halagh*

Ngasih taunya gini.

“Bila ada masalah sebaiknya kita selesaikan. Kita evaluasi bersama. Lihat di mana, apa dan siapa yang salah. Jangan langsung minta putus. Kalau kayak gini, gimana entar kita menikah. Jangan-jangan kalau ada masalah Abang langsung ceraikan Intan,”

Nah.. buat kamu yang merasa mantan saya, dan ngerasa pernah saya katakan hal tersebut di atas boleh ngasih tau saya sebenarnya kamu mantan yang mana.

*disemprot baygon*

Yap. Setelah berhasil menghindar dari semprotan baygon, saya akan melanjutka tulisan ini.

Saya memang bukan pasangan yang baik. Banyak pacar saya terdahulu menyoalkannya. Saya tidak perhatianlah, tidak menunjukkan cinta lah, tidak bersikap layaknya pacar. Iya. Ketika saya memutuskan mau berpacaran, saya memang masih menutup diri dan mengindari kontak fisik dalam wujud apapun. Mungkin itulah yang membuat mereka tidak yakin dengan perasaan saya. Namun, dibandingkan dengan perasaan, saya punya keteguhan yang kuat. Bilamana saya telah memutuskan untuk berkomitmen dengan satu orang, maka saya akan serius dengannya. Cuma dia. Hanya dia. Bahkan meski saya digoda lelaki tampan mirip Adam Levine pun saya bergeming. Pasangan saya akan menang mutlak dibandingkan siapapun di dunia ini.

Itu saya.

Makanya, ketika ada suatu masalah. Saya selalu sebagai pihak yang paling ngotot untuk mempertahankan hubungan. Ini artinya juga, saya selalu menjadi pihak yang diputuskan atau ditinggalkan. Karena karakter saya yang bertahan saya gak pernah memutuskan siapapun sebesar apapun masalahnya. Sebesar apapun kesalahannya. Entah saya terlalu baik hati, entah bodoh. Namun bagi saya, hubungan bukan suatu bercandaan yang bisa ditinggalkan kala bosan.

Kesetiaan saya boleh diadu. Keteguhan saya boleh diuji. Silahkan saja. Namun bila semua sudah berkhir, jangan pernah muncul dan memintanya kembali. Jangan.

Seperti teguhnya hati saya mempertahankan hubungan yang krisis, begitulah juga teguhnya hati saya tak pernah mau berbalikan sama mantan.

Kesempatan kedua?

Tentu kesempatan kedua bagi saya bukanlah menerima kembali mantan. Saya telah berikan kesempatan itu. Tentunya ketika kata putus terucap, di situ saya telah meminta penangguhan waktu untuk berpikir ulang. Berpikir matang. Berpikir bijaksana. Menyelesaikan masalah bukan menghindarinya. Itulah kesempatan kedua yang saya berikan. Saya berikan untuknya. Untuk saya. untuk hubungan kami.

Namun kala palu sudah diketuk tanda keputusan sudah membulat maka semuanya berakhir. Selanjutnya, jangan pernah meminta mengulang sesuatu yang telah diputuskan. Jangan pertanyakan lagi rasa saya. Semua berakhir.

Seperti menjilat ludah sendiri. Itulah analogi yang saya berikan ke mantan saya kala dia meminta balikan. Kasar memang. Tapi menurut saya demikian adanya.

“Untuk masalah kemarin saja, Abang memilih mundur dan meminta putus. Bukan gak mungkin ke depannya Abang akan melakukan hal yang sama. Sekali Abang gak mampu bertahan, itu berarti selamanya,” itulah jawaban saya ketika mantan meminta putus.

Bukan tentang jembatan jiwa saya dan mantan saya Cuma satu. Bukan. Ramalan itu hanya di drama dan saya tidak memercayainya. Hanya saja, ini sebuah prinsip saya.

Jadi, sekeras apapun mantan meminta kembali pada saya. Saya hanya bisa bersimpati atas segala penyesalannya. Penyesalan berupa dia pernah menyia-nyiakan perempuan seperti saya.

Pada episode 20 yang menjadi episode terakhir drama bertajuk Good Doctor muncul lagi si Peramal dalam sebuah scene dengan Dokter Cha. Akhirnya terkuaklah bahwa ramalannya hanya omong kosong belaka. Bahwa Jembatan Jiwa hanya akal-akalan dia saja agar semua pasangan berhati-hati dengan hubungan mereka. Dan konsep “jembatan jiwa Cuma satu” dia katakan ke semua pasangan.

Drama Good Doctor ini sendiri entah kenapa membuat saya penasaran dengan dunia kedokteran. Padahal sebelumnya saya tak pernah bercita-cita menjadi dokter. Bercita-cita menjadi istri dokter sih pernah. Untuk itu, mungkin kini saya perlu bermunajat lagi pada-Nya, meminta Ia memunculkan sesosok dokter tampan, mapan, dermawan yang kali-kali aja mau ngelamar saya.

 

Allahumma aamiin…

 

Hadir di Masa Lalu, Kini Malah Mengganggu

Orang-orang yang pernah hadir di masa lalu kehadirannya memang memberi arti, entah pelajaran, entah sebagai hadiah. Namun nyatanya hadir di masa lalu, menganggu di masa sekarang.

Seperti mantan yang cintanya belum kelar. Satu jenis orang.

Seperti lelaki yang pernah naksir setengah mati namun cintanya kita tolak. Satu jenis lainnya.

Bahkan seperti lelaki yang telat menyadari betapa dulu kita pernah menaruh rasa padanya sepenuh hati. Satu jenis lainnya lagi.

Kepada mereka sebenarnya masa lalu cukuplah berada di masa lalu. Entah untuk dikenang atau untuk dijadikan pembelajaran kini. Namun tidak seharusnya mereka eksis di masa sekarang apapun alasannya untuk kembali membawa-bawa sebuah kata bernama ‘rasa’.

 

Tahun berganti tahun. Intan yang berusia 18 tahun tak jauh berbeda dengan Intan sekarang. Meski 9 tahun beranjak mengganti kelander demi kelander, Intan tetaplah seperti ini. Perempuan yang masih berusaha untuk gemuk, hobi menulis meski tak kunjung menjadi penulis, dan masih belum menikah.

Salah seorang Abang angkatan semasa kuliah. Ketika itu saya baru lulus kuliah dan dia pernah menyapa saya di kolom pesan facebook hanya untuk mengatakan, kalau seharusnya saya dulu menerimanya, karena dengan begitu saya sudah menikah dengannya. Jadinya saya gak jomblo usai kuliah.

Salah satu seorang lelaki lainnya yang pernah dekat namun tak kunjung mau saya jadikan pacar pernah meledek saya juga dengan status saya yang hingga kini masih sendiri sementara dia sudah ‘sukses’ (menurutnya).

Orang-orang seperti itu banyak. Saya tak pernah ambil pusing. Mau dia sudah menikah kek, mau nikah cerai nikah lagi kek, mau saya hingga kini belum menikah pun, gak pernah menjadi suatu hal yang patut saya risaukan. Ketika mereka berbicara meledek saya begitu saya malah Cuma ketawa sendiri. Dalam hati pengen bilang, “kok ngomong berasa dendam gitu? Ada rasa yang belom kelar ya?”onion-emoticons-set-6-58

Iya. Entah kenapa kalau ada yang samperin saya hanya untuk berusaha bikin saya sebel, saya ngerasa sebenarnya mereka belum bisa lepas dengan pesona saya onion-emoticons-set-6-15 *disemprot baygon ama pembaca

Seperti beberapa hari lalu. Seorang lelaki masa lalu, kami tidak pernah pacaran, namun dekat, lalu karena suatu hal di masa lalu saya menyuruhnya menghilang dari hidup saya, jangan pernah muncul lagi. Secara teknis, dia memang tak pernah muncul lagi face to face ama saya, namun dalam dunia maya dia masih berseliweran.

Nah… beberapa hari lalu melalui pesan BBM dia chating ama saya. Karena saya tahu diri dengan statusnya yang sudah menikah anak satu, dan saya perempuan single, berkarir dengan pesona luar biasaonion-emoticons-set-6-11 *disemprot baygon lagi karena yang tadi gak bikin mati, saya agak malas membalas BBM-nya kala malam beranjak larut. Meskipun saya belum tidur saya berpura-pura saja sudah tidur. Esok paginya saya bales, dan bilang semalam udah tidur. Itu saja. Dan herannya di pagi, jam-jam enak-enaknya sarapan di kantor dia malah membalas BBM-nya sambil mengenang masa lalu. Mengenang apa-apa yang pernah kami lakukan bertahun-tahun ke belakang.

Hellow…

Kepalamu di tempatnya, Bang?

Isi BBM-nya sangat gak bernilai bagus bila dikaitkan dia yang sudah menikah. Dan karena saya merasa saya wanita terhormat maka saya putuskan imajinasi masa lalunya. Saya gak mau ini menjadi sebuah skandal.

Lucu adalah ketika dia yang pernah dan selalu saja mengejek saya dengan status saya yang belum menikah sekarang malah mengutarakan nostalgianya yang jelas-jelas mempermalukan rumah tangganya yang selama ini dia pamerkan sama saya.

Mencoba bersabar dan tetap kalem. Saya hanya timpali sederhana meskipun mulut judes saya pengen banget nyalurkan energy ke jemari saya untuk ngetik,

kalau-pun pernikahan kamu tidak bahagia, berpura-puralah saja bahagia,”

Tapi karena saya masih mencoba bersikap tenang, pernyataan itu urung saya katakan.

 

Beberapa hari berikutnya. Dia muncul lagi. Dengan hinaan lain lagi untuk saya.

Ya.. orang-orang yang hadir di hidup kita memang ada yang memberi kita pelajaran agar lebih bisa memaknai hidup, namun ada juga yang memang hanya untuk menguji kesabaran kita.

Ya.. kadang masa lalu bisa begitu menganggu.

Ini hal terakhir. Setelah ini delete contact yang akan beraksi. Karena memang tidak seharusnya saya menjaga perasaan orang yang tahunya hanya untuk memainkan emosi saya saja.

Kalau Gaji Saya Terancam Turun Barulah Saya

Ada kan orang yang khawatir kalau mantannya lebih dulu menikah, dan yang lebih ngenes lagi kalau mantan menikah eh dianya belum juga punya pasangan baru. Ngenes combo kalau belum move-on.

Pernah hal seperti itu saya singgung di tulisan saya, tentang temen saya yang gengsi karena mantannya menikah terlebih. Demi mendengar pernyataan tersebut, senyum simpul saya layangkan, namun pikiran panjang yang gak pro sama si temen hanya saya tuangkan melalui postingan.

Mantan menikah bukan urusan saya. Mantan lebih dahulu menikah ya itu juga bukan urusan saya. Karena kalau saya sirik dia nikah duluan, entar kalau dia mati duluan terus apakah saya harus sirik juga?

Karena kan jodoh, rezeki dan maut itu sederajat. Dalam artian segala ketetapannya unruk setiap orang sudah diatur Allah swt.

Pada suatu siang yang panas. Di akhir pekan yang kere, sambil makan bakso goreng dan minum teh pucuk. Ibu saya berkata, “adek nikah terus makanya, jangan sampe diduluan sama dia (red: mantan)”

Masih fokus dengan bakso goreng saya menjawab santai.

Tergantung sih. Kalau dia menikah duluan terus gaji adek (red: saya)jadi turun ya, akan diusahakan menikah sebelum dia. Tapi kalau siapapun di antara kami yang menikah duluan dan itu gak berefek ke naik/turunnya gaji adek sih, adek gak mau maksa kehendak Tuhan.”

Adik perempuan saya ngakak.

Ohiya. Saya money oriented emang.

Iya. Saya gak pernah terlalu gabuk galau mantan menikah duluan. Bukan urusan saya. Jodohnya adalah jodohnya. Jodoh saya ya jodoh saya. Ketika Tuhan memutuskan kami tidak berjodoh dunia maupun surga maka saya putuskan urusan jodohnya dari benak saya. Bukan urusan saya.onion-emoticons-set-6-118

Seperti yang saya pernah ucapkan. Jodoh di tangan Tuhan, bukan di omongan orang. Kali ini akan saya tambahkan. Jodoh di tangan Tuhan, bukan di omongan orang, apalagi ngurusin nikahnya mantan.

Saya gak pernah merasa kalah bila mantan menikah duluan. Saya juga gak merasa menang ketika saya menikah duluan. Menikah bukan perlombaan siapa yang lebih dulu. Namun menikah, tentang berlomba-lomba siapa yang mampu bertahan selama-lamanya usia.

Tips Melupakan Mantan

Internet banking saya sukses terblokir. Tentu saja karena kesalahan memasukkan password. Padahal saya yakin itu passwordnya. Tapi salah. Saya lupa.

Terhenyak karena internet banking yang terblokir saya jadi mikir. Sekarang ini begitu banyak password yang harus kita ingat karena begitu banyak akun yang kita gunakan:

  1. Akun media social dari facebook, twitter, instagram, path, wordpress, dan entah apa lagi. kecuali facebook saya sering lupa passwordnya apa. Makanya, begitu ter-logout dari ponsel, sudahlah saya harus semedi beberapa minggu guna mengingat apa kombinasi password saya.
  2. Aplikasi BBM. Yang punya email dan password juga. Jadi kalau mau clear data untuk meringankan memory, saya semedi dulu ingat-ingat lagi apa passwordnya.
  3. Masalah perbankan. Internet banking yang sumpah saya lupa banget itu apa passwordnya. PIN ATM
  4. Aplikasi belanja online seperti Zalora. Juga pembelian tiket seperti Traveloka.
  5. Urusan kantor menyangkut, web kantor untuk melakukan operasional kantor. Portal, web untuk ngeliat gaji. Lalu ada lagi password brankas dan kode alarm.
  6. Beberapa email saya. Email pribadi untuk urusan ringan. Email resmi untuk urusan kerjaan. Dan email yang diperuntukkan untuk media social. Lalu ada lagi email yang sinkron dengan ponsel pintar ini.
  7. Banyak
  8. Banget

 

Harusnya hal ini menjadi gampang andai saja semua akun emailnya sama aja. Tapi selain itu berbahaya ada beberapa hal yang menetapkan kombinasi tertentu atau jumlah karakter yang dibatasi hingga kita gak bisa menyamakan passwordnya. Sebut saja internet banking saya. Jumlah karakter dibatasi 8 dengan kombinasi angka. Sebaliknya, web kantor minimal 8 karakter dengan kombinasi angka dan tanda baca. Lalu yang lain bisa kita menggunakan hanya kata-kata saja.

 

Masalah lain muncul. Ada juga yang saya tau passwordnya tapi lupa email atau user apa yang dipakai. Yang selalu ingin saya ganti emailnya begitu keingat tapi seringnya males.

 

Inilah kerumitan hidup saya sekarang ini, bukan hanya ribet masalah kantor, membayar tagihan, membagi waktu untuk kehidupan social dan keluarga, mencari jodoh, tapi juga harus ditambah dengan mengingat password.

 

Fenomena ini membuat saya kepikiran satu hal jitu yang susah banget dilakukan banyak orang belakangan ini.

 

Melupakan mantan.

 

Hujan dikit. Keingat mantan. Denger lagu. Keingat mantan. Mencium aroma parfum yang mantan pake. Keingat mantan.sigh onion head

 

Susah banget ya kayaknya melupakan mantan.

 

Hujan. Menjadi momok yang paling fatal. Ketika masyarakat Riau dan Jambi bersorak sorai datangnya hujan karena dapat mengurangi asap. Eh.. kita malah keingat mantan. Gak penting banget.

 

Nah.. demi bisa melupakan mantan dengan mudah, mungkin kita bisa menggunakan seperti tragedy yang saya alami.

 

Iya. Banyak-banyakin aja jumlah mantannya kayak jumlah username dan password yang harus kita ingat. Karena saking banyaknya entar kita bakal lupa dengan sendirinya.

 

Sakit Hati atau Sakit Gigi ya enaknya?

Pilih mana sakit hati atau sakit gigi?

Alm. Om Meggy Z jelas memilih sakit gigi. Saya sendiri belum bisa menentukan pilihan yang mana, karena saya belum pernah merasakan sakit gigi.

Sangat tidak adil ketika saya memutuskan suatu hal bila mana kedua hal yang dibandingkan itu belum saya ketahui salah satunya. Makanya saya abstain untuk pertanyaan di awal tulisan ini.

Kamu bagaimana?

Saya tak tahu seberapa sakit sih hati sih Om Meggy Z sehingga ia menasbihkan kalau dirinya lebih baik sakit gigi ketimbang hati. Satu yang saya tahu, saya juga pernah sakit hati.

Mari kita kerucutkan sakit hati ini merujuk pada pembahasan putus cinta atau patah hati.

Saya pernah patah hati.

Sakit?

Jelas dong.

Sekarang?

Sudah lupa tuh.

Ia sakit hati itu ya kayak gitu. Gak kekal. Jadi ya gak usah ditakuti sedemikian rupa. Saya bersyukur hati saya pernah dilukai oleh seseorang, karena akhirnya hal tersebut mengajari saya. Hal tersebut saya jadikan pengalaman. Akibat pernah patah hati saya akhirnya tak lagi penasaran atau bertanya-tanya bagaimana reaksi hati, jiwa dan raga saya terhadap patah hati. Lalu apa yang akan menjadi jalan keluar bagi saya menghadapi diri saya yang hatinya patah.

Dulu saya philophobia. Takut jatuh cinta dan dicintai. Saya rasa ketakutan saya akan jatuh cinta itu ujung-ujungnya karena saya takut terluka, takut patah hati, takut mewek-mewek kayak abege labil yang sangat bertolak belakang dengan pribadi saya yang lebih dikenal oleh orang lain sebagai perempuan keras.

Cukup sekali aku merasaaa….

Kegagalan cinta….

Tak’kan terulang kedua kali…

Di dalam hidupku…

Memang saya gak berharap selanjutnya saya akan merasakan lagi patah hati akibat cinta yang kembali gagal. Tapi saya tahu diri resiko selalu ada. Makanya untuk saat ini saya berpikir simple. Kalaupun akhirnya kelak saya harus patah hati lagi saya pasti lebih siap ketimbang yang dulu. Karena saya udah pengalaman. Dan saya akan terus mengingatkan diri saya bahwa sakit itu tak kekal. Akan hilang tak bersisa bahkan terlupakan sakitnya oleh waktu.

Mungkin akan menjadi drop di awal-awal, mewek banjir air mata, tapi tetap harus ingat untuk kembali bangkit. Untuk kembali hidup. Karena sakit hati, putus cinta, akibat diselingkuhi, diputusin, ditinggal kawin, semua rasa pedih itu akan hilang pada waktunya.

Sekarang saya tanya deh, kapan terakhir kali kamu patah hati? Untuk yang menjawab lebih dari sebulan lalu, saya akan kembali bertanya, masih terasa rasa sakitnya?

Gak, kan?

Atau gak terlalu kerasa deh.

Nah, untuk itulah, kenapa harus takut patah hati dan putus cinta. Maka beranilah untuk patah hati karena itu artinya kamu membuka kesempatan hati kamu untuk mendapatkan yang lebih baik <== kalimat yang ditujukan buat diri sendiri.

Kalau kamu rasa pasangan yang sekarang lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya bagi hati, jiwa, raga, dan dompetmu, maka tak ada salahnya putuskan saja pacarmu, lalu bilang ailofyu pada yang lain. Berani ambil keputusan. Jangan menzalimi diri pada cinta yang gak membahagiakan. Masih banyak orang di luar sana (semoga juga banyak yang jomblo dan tidak homoseksual). Setelah berpisah dari satu orang, akan ada orang lain yang lebih baik. Bila harus dibayar dengan sakit hati dan mewek di awal-awal, maka akan ada pendaran kebahagian dari pancaran matamu di kemudian hari.

Yap. Tulisan ini berdasarkan kisah nyata si penulis. Boleh diambil hikmahnya kalau kamu, boleh diabaikan bila dianggap tak penting. Karena tulisan ini hanya untuk kembali mengingatkan saya agar kembali berani membuka hati dengan resiko hati yang (mungkin dan amit-amit jabang bayi) akan kembali hancur.

Tak ada yang kekal dari sebuah rasa sakit. Jangan lebay. Baik sakit hati maupun sakit gigi, semua hanya bersifat sementara asal kita mau berobat yang bener.

Maharnya Semayam Aja Dah

Kalau udah siang saya galau mau makan pake apa. Kalau dulunya bingung karena banyak pilihan yang tersaji dan saya pengen semuanya, kini di di daerah terpencil di salah satu kecamatan di Bireuen ini saya bingung makan apa karena memang pilihan makanan yang minim. Tiap siang udah deh saya galau. Hal ini salah satu penyebab ketidakbetahan saya di Bireuen. Ragam makanannya kurang.

Seperti biasa kalau jam makan siang saya selalu nitip ama partner kerja saya.

Nitip makan siang yak,” pinta saya

Nitip apa?” tanyanya

Gak tahu. Bingung udah Intan nih,”

Alih-alih menjawab dia malah tertawa. Baru kemudian dia berujar, “Gak apa, nanti kalau udah nikah baru gak bingung lagi mau makan apa.”

Lah gimana bisa? Emang ntar yang masak siapa? Kan Intan juga, gak mungkin suami yang nyediain makanan buat Intan.”

Yah, cari suami yang mau masak. Gantian.”

Ebuset ini anak pikirannya absurd juga. Kalau partner yang dulu menjawab seperti di tulisan ini, maka ini jawaban yang lebih tau-banget-kalau-saya-gak-bisa-masak.

Ada emang? Kalau ada cariin dong satu buat Intan.”

Ada. Langka emang. Tapi mungkin ada, entar dicariin.”

Muka saya langsung sumringah, Kalau emang beneran ada laki kayak gitu (red: mau masakin buat istrinya setiap hari), Intan rela kok maharnya dikit. Semayam dua mayam pun boleh.”

Setelah tertawa mendengar jawab saya, dia pergi bersama pesanan saya yang masih belum tahu akan dia belikan apa. Tinggallah saya sendiri di ruang kantor senyum-senyum sendiri akibat percakapan konyol itu.

Gak kalimat saya yang saya tebalkan gak saya aamiinkan. Gak berharap banget jadi kenyataan. Karena nyatanya saya gak mau punya suami yang malah melayani saya. saya tetep perempuan tahu diri kok walau sedikit angkuh. Syalalalala~~~~~~~

 

Catatan: Mayam adalah hitungan berat emas yang lazim digunakan di Aceh. 1 Mayam setara dengan 3.3 gram emas (atau 3 gram untuk beberapa kabupaten di Aceh). Kadar emasnya biasanya adalah 99%.

Anti Hadiah dan Poto Bersama

Sejak memutuskan memunyai seorang pacar ketika berusia 22 (telat memang), ada 2 hal yang tak ingin saya lakukan bersama pacar saya.

Pertama, saya melarangnya memberikan saya sesuatu. Saya tak mau diberi hadiah berupa benda yang tak kan habis. Semisal boneka, hiasan, atau apapun itulah yang tak habis dimakan.

Kedua, saya menolak membuat poto bersama.

Pengen tau alasannya?

Ya elah..

Kepo banget sih kalian?

*disiram air keras*

Saya tak ingin mempunyai kenangan. Itu alasan saya.

Meski selalu berjanji dan bertekad ketika memulai hubungan dengannya akan menjadikannya yang terakhir, tapi entah kenapa jauh di lubuk hati saya seperti mengatakan kalau ia bukan jodoh saya. Bukan lelaki yang akan berada di sisi kanan saya ketika saya membuka mata di pagi hari, bukan pula lelaki yang akan masih menggenggam jemari keriput saya kelak. Bukan dia.

Hadiah apapun itu hanya akan mengingatkan saya padanya kelak ketika hubungan telah kandas. Sebuah barang yang mungkin kelak sayang bila dibuang namun tak berarti bila disimpan.

Begitu juga dengan poto bersama. Saat ketika seutas senyum saya terukir di sana pastilah saya tengah bahagia kala itu. tapi kebahagian itu tak akan menjadi apapun setelah hubungan kandas.

Dua hal itu tak berguna bagi saya. dan saya tak suka terjerat kenangan. Bila hubungan sudah kandas ya kandas saja. Bukan karena saya mendendam atau apa. Saya hanya ingin mengakhiri hidup yang terlanjur terlewati dengan perasaan agar ke depannya saya lebih baik. Tentu saja dengan tanpa melupakan kalau mereka pernah memberi saya pelajaran dan pengalaman penting yang telah menjadikan saya seperti sekarang.

Tibalah saya dua kali putus. Pacar ketiga, sekonyong-konyong dia memberikan saya hadiah. Boneka pula. Suatu barang yang sangat tidak saya harapkan menjadi hadiah yang diberikan pada saya.

Selain boneka kami malah terlanjur banyak membuat poto bersama. Dari poto biasa hingga poto konyol lucu-lucuan. Ya saya memang tengah amat bahagia saat itu. sempat meragu kala ingin mengambil poto bersama, lalu keraguan itu segara saya hapuskan dan sembari tersenyum bahagia dengan dia di sebelah saya kami mengambil beberapa poto bersama.

Jadilah, saya punya dua hal bersama dia.

Hadiah pemberiannya dan poto bersama.

Lalu hanya beberapa bulan setelah itu dia pergi untuk selama-lamanya dari sisi saya.

Hanya boneka dan wajahnya di poto yang tertinggal di dunia ini yang bisa saya dekap dan saya lihat setiap hari.

Kenangan.

Dibuang sayang, tetap tinggal gak baik buat hati.

Lalu sekarang, lelaki baru hadir mengisi hari dan (mungkin) hati. Pada ulang tahun saya ke-25 kemarin dia memberikan saya sebuah jam tangan berwarna merah dengan sebuah kotak cantik berwarna hitam dan sebuah kartu ucapan berwarna putih. Ketiga elemen warna kesukaan saya dia jadikan satu pada sebuah hadiah ulang tahun.

Saya menerimanya dengan suka cita riang gembira. Dan memakainya selalu. Tapi belakangan saya meragu.

Saya memang meminta pada Tuhan agar menjadikan ia sebagai sosok terakhir yang menetap di hati saya. Orang yang kelak akan saya habiskan hari-hari bersama dari pertama membuka mata hingga mata tertutup untuk selamanya. Tapi ada sebagian di hati saya rasa untuk mempertahankan diri. Rasa ingin menyelamatkan hati agar tidak terpuruk lengser jatuh terlalu dalam.

Sejak itu, jam pemberiannya tak lagi saya pakai setiap hari. Hanya sesekali ketika pakaian yang saya kenakan cocok bersanding dengan jam berwarna merah.

Mungkin ada perasaan dalam hati saya yang masih meragu. Kelak akankah jam itu akan saya pakai selamanya seperti keinginan  awal saya, atau malah akan saya simpan kembali dalam kotak berwarna hitam tanpa ingin membukanya lagi.

Kenangan.

Barang kenangan.

Saya masih parno sama yang satu itu.

Ceritanya Saya Trauma

“Kak, jangan makan mie ya. Nanti mati loh!”

Kalimat tersebut semakin sering saya denger sekarang inih terlontar dari mulut adik saya. sebuah perhatian emang. Namun saya yang mendengar semacam absurd. Kalimat perhatian tapi ujungnya gak ngenakin onion-emoticons-set-2-54

Kenapa dia bisa bilang begitu tentu ada alasannya.

Beberapa Minggu lalu, seorang teman seperjuangan kala saya kuliah -dan karena suatu takdir kami mendapatkan dosen pembimbing yang sama- meninggal dunia. Asam lambung yang menjadi penyebabnya. Mendengar itu saya sontak kaget. Saya juga penderita asam lambung. Tingkat parah malah. Saya sempat diopname gegara penyakit ini. Dan penyakit ini sudah bertahun-tahun saya idap.

Tak lama setelah kabar duka cita saya dapatkan, saya memanggil tukang pijat ke rumah untuk mijitin saya. dan ketika si kakak tukang pijat menekan perut saya, dia langsung memvonis kalau saya ini penderita asam lambung tingkat parah. Malah dia tau saya udah mengidap penyakit ini sejak SD.

Dua hal tersebut membuat saya ngeri. Saya ceritakan hal ini pada adik dan Ibu saya. dan kemudian saya dikecam untuk tak makan mie lagi.

Mie.

Suatu makanan yang saya gemari. Dari mie Aceh, mie ayam, mie kocok, mie pangsit, mie caluk, sampai mie instant adalah semuanya kegemaran saya. dalam sehari saya pasti makan salah satu mie tersebut. Pasti.

Penderita asam lambung gak boleh makan mie. Begitu katanya. Apalagi pedes-pedes. Nah, saya ini kalau udah makan mie pasti pedesnya level setan deh. Semua makanan yang masuk mulut saya harus pedes (kecuali kue-kue-an yak), makan mie dengan kuah yang pedes lebih utama bagi saya. selayaknya haram hukumnya bila makan makanan berkuah tak pedes. Nah, inilah penyebab bertahun-tahun asam lambung mampir sama saya.

Tapi karena berita duka itu saya tobat. Belum nasuha sih. Tapi ini beneran tobat. Setiap kali saya hampir lap ences kalau inget pengen makan mie. Tapi juga setiap kali saya kukuhkan niat untuk gak makan. Singkat cerita saya trauma. Saya masih pengen hidup. Saya belum kawin euy onion-emoticons-set-2-46

Nah, adik saya yang tetiba jadi perhatian sama saya. dia selalu ingatkan kalau saya gak boleh makan mie lagi setiap kali saya ngeluh saya bosan makan di Bireun ini. Yah, saya memang akan bosan kalau setiap kali dan setiap hari makannya nasi terus. Tapi ragam aneka makanan memang tak bisa dibilang banyak di Bireuen ini. Jadilah saya terpaksa makannya nasi saja. Terkadang diselingi sate. Itu saja.

Trauma. Semakin tua, rasa-rasanya semakin banyak yang saya takuti. Kalian ngerasa gitu juga gak sih? Parno di mana-mana dan kemana-mana dan ngapa-ngapain? Gak ya?  onion-emoticons-set-5-17Tapi saya gitu ding.

Cerita lainnya tentang keparnoan saya adalah menyangkut (lagi-lagi) kematian. Almarhum pacar saya itu meninggal akibat katup jantungnya bocor. Pas dia mau meninggal sih, konon katanya komplikasi hati dan jantung. Dua organ tubuhnya itu rusak. Penyebabnya? Tentu saja rokok. Dia penghisap rokok kelas kakap. Sudah sejak lama dia hidup dengan menjadi pemuja rokok dan manusia nocturnal. Hidup gak beres. Setahun sebelum kenal saya dia sudah berhenti merokok. Insyaf katanya. Tapi tetep saja, hal yang sudah menimbun bertahun-tahun tidak serta merta hilang. Akibatnya dia menderita sakit jantung yang akhirnya membawa dia pergi dari hidup saya dan dari dunia ini.

Saat ini, saya tengah dekat dengan seseorang. Hemmm… mari kita sebut dia sebagai Lelaki Agustus. Dia punya kebiasaan yang membuat trauma saya dateng. Dia pemuja rokok juga  onion-emoticons-set-2-133. Bahkan menurut pengakuannya, dia telah merokok sejak SD. Ebuset… anak macam apa itu ngerokok sejak SD? onion-emoticons-set-5-51

Tapi udahlah, saya gak mau menggurui masa lalunya. Toh, sekarang dia saya nilai sebagai sosok bertanggung jawab yang perlahan-lahan telah membuat hati saya merekah lagi.

Pola hidupnya memang tak seberantakan almarhum pacar saya. tapi tetep saja, terkadang dia bisa lembur kerja sampai tengah malam atau bahkan gak tidur-tidur. Seperti minggu lalu. Setiap harinya ia hanya mampu memejamkan mata selama 2 jam saja.

Saya perempuan yang tak suka dengan lelaki perokok. Saya perempuan pengagum lelaki non perokok. Saya perempuan yang akan migren dan menderita gangguan tenggorokan kalau sudah menghirup asap rokok selama 2 hari berturut-turut meski gak intens. Namun, saya tak pernah melarang lelaki merokok terutama untuk menghentikan kebiasannya merokok. Saya merasa belum dalam kapasitas itu. Maka dari itu ketika saya pernah berpacaran dengan lelaki perokok saya biasa saja. Tak melarangnya bahkan ketika dia merokok di depan saya. namun saya berpikir, kelak ketika saya telah menikah dengannya maka jangan pernah berpikir akan sebebas ini lagi.

Si Lelaki Agustus pernah berkata, “Intan boleh minta apa aja sama Abang, asal jangan minta abang berhenti meokok.”

Ketika dia ucapkan kalimat itu, saya gak tengah melarang dia sebenarnya. Saya hanya mengeluh ketika dia memberitahu baru saja dari mini market untuk beli rokok. Lalu dengan jelas saya sebutkan ketidaksukaan saya dan saya katakana itu akan membunuhnya.

Seperti lelaki perokok kebanyakan, dia tentu saja membantah kalau rokok dapat membunuh seseorang. Ajal di atur sama Tuhan.

Saya tak mau berdebat. Sungguh saya tak mau jadi perempuan cerewet yang menyuruh pasangannya berhenti merokok. Apalagi dalam status saya yang belum resmi menjadi pasangannya.

Lalu, dalam hati saya hanya mampu berucap, “Gimana kalau sebaliknya, Bang? Intan gak akan meminta apapun, kecuali satu hal. Berhentilah merokok. Hiduplah sehat. Dan hiduplah terus bersama hingga tua.”

Saya trauma. Ketika almarhum pacar saya meninggal saya lalui hidup dengan kacau dan berantakan. 4 bulan pertama saya lalui dengan rembesan air mati membanjiri muka saya. jarang mandi dan males makan. Enggan keluar rumah dan males nongkrong sama temen. Uring-uringan dan tidur seharian. Karena takut ketika mata terbuka yang ada air mata yang terus mengalir.

4 bulan selanjutnya tahap berusaha move on. Susah payah. Akibat kesibukan saya dengan pekerjaan baru yang mengharuskan saya diklat dan membuat saya super sibuk. Sedih saya teralihkan. Namun tetap saja ada momen-momen di mana saya galau lagi.

4 bulan penghujung satu tahun sejak kepergiannya. Saya berusaha ikhlas. Saya berusaha menata hidup dengan lebih baik. Mencoba membuka hati lagi. mencoba riang dan gembira lagi. Dan memang akhirnya berhasil.

Nah, untuk semua yang telah saya alami. Saya gak mau kalau sampai itu terjadi lagi. saya gak mau untuk menjadi terpuruk lagi akibat kepergian seseorang. Bila ia pergi, maka pergilah saja dari hidup saya, tapi jangan sampai orang itu juga ikut pergi dari dunia ini. Pergi meninggalkan dunia ini begitu cepat jelas akan membuat saya down lagi. Terlebih karena ia adalah seseorang yang ada di hati saya.  Orang yang mampu membuat hati saya kembali hangat.

Yah.. trauma. Untuk ditinggalkan saya trauma, maka dari itu saya ingin dia berhenti merokok. Untuk meninggalkannya juga saya tak tega, maka itu saya berusaha menahan keinginan saya memakan mie. Saya usahakan akan menguranginya sekurang-kurangnya.  Begitu juga dengan makanan pedas. Lalu berharap hidup kami sehat dan bersama hinggal tua. Hingga usialah yang membuat kami saling meninggalkan.

Pecinta Bodoh

Saya yang tak pernah berhenti menyukaimu. Meski dalam diam.

 

Luar biasa rasanya mengetahui bahwa cinta beberapa tahun lalu masih berbekas, hmmm.. atau lebih tepatnya masih utuh ada untuk seseorang seperti saya. Takjub mengetahuinya. Betapa waktu, jarak bahkan luka yang sempat tercipta tak membuat sebuah rasa cinta menjadi pupus.  Tapi rasa takjub hanya sesaat saya rasakan. Berikutnya saya hanya merasa iba.

Iba, mengetahui sepotong hati menyimpan cinta untuk seseorang yang bahkan tak pernah bisa sedikitpun menyukainya. Bahkan ketika seseorang itu tengah berusaha keras. Ya, hati tak bisa dipaksa. Ia punya cara sendiri bagaimana bekerja untuk sebuah rasa.

Setelah iba. Saya lalu merasa amat mengerti. Amat mengetahui bagaimana rasanya hati yang masih terus bisa menyimpan utuh sebuah rasa bertahun-tahun lamanya dan sialnya tak dibalas. Saya mengerti karena saya juga seperti itu.

Saya, menyukai orang lain dalam diam telah bertahun-tahun lamanya. Semuanya saya simpan di hati saya sendiri. Cinta saya lebih mengenaskan, karena cinta saya tak bersuara. Sedikitpun tidak. Beda dengan cintanya yang setidaknya mampu ia suarakan.

Lalu, pada suatu kebersamaan saya merasa mempunyai kesamaan dengan dia. Kami sama-sama tak kunjung mampu mematikan rasa di hati kami terhadap orang yang kami suka. Kami terus mencintai padahal laju waktu terus berganti. Lalu kami seperti hanya sebuah raga yang terus beraktivitas tanpa hati ikut bergerak. Hati kami stuck. Terus berada pada titik yang sama. Mencintai seseorang dalam diam. Mencintai dengan tepukan sebelah tangan. Dan ini sebenar-benarnya ketololan dalam cinta.

Saya sempat mencemoohnya tentang bagaimana ia tak kunjung sadar kalau saya tak pernah bisa membalas perasaannya pada saya, dan saya berharap dia berhenti melakukan hal bodoh. Lalu seketika juga saya sadar. Apa bedanya saya dan dia? saya juga terus tanpa henti dan bahkan sangat enggan untuk berhenti mencintai seseorang.

Saya dan dia sama-sama mencintai dalam diam. Sama. Bukan saling. Dia mencintai saya. Saya mencintai lelaki lain. Ah.. kami memang pecinta bodoh.

tumblr_m0p3ybfVB81qcxieko1_500

Mantan yang Baik

Setelah sekian lama tak bertemu semenjak berpisah, kami kembali duduk berhadapan. Berdua sambil bercerita. Berkisah apa saja.

Kecuali tentang masa lalu.

Tak sekalipun dia mengungkit kisah kami yang gagal.

Tak sata katapun dia tanyakan mengapa saya pernah begitu menjahati dia.

Tak ada juga omongan berkisar kenangan masa lalu.

Kami bertemu sekarang benar-benar untuk menghadapi hari sekarang. Hari perjumpaan kami itu.

Lalu, aku berpikir tentang satu hal.

Betapa hubungan kami baik-baik saja meskipun telah berpisah.

Betapa kami saling menghargai dan tetap bisa menjadi mantan yang baik untuk satu sama lain.

Mantan yang memang meninggalkan segala kenangan di belakang tanpa pernah mengungkitnya untuk masa sekarang.

Dan itu melegakan.