Tidur Siang di Pantai

Menikah itu bagi saya tidak mudah. Memutuskan untuk menikah sukses membuat saya uring-uringan. Setengah gila. Seperempat waras. Seperempatnya lagi pura-pura amnesia.

Saya ingin sekali mengatakan “iya” dengan mudah untuk sebuah lamaran. Tapi ada hati kecil saya yang seakan menolak itu. Yang seolah berkata, “serius, Tan? Gak takut nyesel?”

Saya pergi liburan kala itu. Trip singkat nan dekat. Pergi untuk menghilang sejenak dari lelaki itu. Dari suaranya dan dari hadirnya. Menghilang dari keluarga yang melulu bertanya. Menghindar dari rutinitas harian.

Kala itu saya pergi berdua dengan teman saya. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu hingga dia tidak tahu menahu kondisi terkini saya. Seorang teman yang saya yakin tidak akan bertanya apapun perihal kalutnya pikiran saya.

Paling ketika ditanya tujuan liburan saya apa, saya hanya menjawab, “ingin tidur siang di pantai”

Angin syahdu, suara debur ombak saya rasa itu suatu terapi alami yang menenangkan. Saya butuh tenang.

Memejamkan mata di bawah sinar mentari yang iseng masuk di balik teduhnya dedaunan batang pohon. Membaringkan tubuh di atas pasir putih yang adem. Disenandungkan suara ombak. Saya terbuai. Terbuai dengan ketenangan ini. Ini yang saya cari.

Hari kedua liburan saya masih mencari pantai. Ingin menghirup aroma pantai di pagi hari. Dalam sesekali berkejaran dengan riak kecil ombak, saya ikut berharap keraguan saya pergi jauh dibawa ombak ke tengah lautan. Agar ragu itu menghilang. Lenyap dari jangkauan saya.


Karena… Pada ketenangan dari pantai ini. Dari alpanya pertemuan kami. Dari tiadanya suara kami yang menyapa. Saya merasa, saya menginginkannya.

Teman saya di depan saya, asyik masyuk berpoto-poto. Syukurlah ia tidak pernah bertanya apapun dan tidak tahu tujuan saya melarikan diri ini.

Saya menyusulnya. Memintanya bergantian saling poto.

Namun sebelumnya, saya ingin menjawab.

Advertisements

Saingan Soong Joong Ki

Siang itu. Peluh bercucuran. Dahaga kering. Kaki terasa begitu kaku diajak mendaki selama setengah jam lamanya. Itu adalah perjalanan di Pulau Breuh tahun lalu. Perjalanan dari desa tempat kami menginap menuju ke mercusuar yang kalau tidak salah saya harus ditempuh selama 30 menit atau lebih.

Siang itu kami selonjoran ngasal di bawah mercusuar melepas lelah. Berharap angin berhembus kencang untuk menghilangkan keringat.

Siang itu, sekelompok traveler yang berasal dari bermacam latar belakang ini melepas lelah. Ada yang dengan cara tiduran hingga tidur beneran. Ada yang ngobrol bergosip. Ada yang sibuk berfoto-foto. Ada yang main domino. Dan ada seorang anak perempuan bandel yang iseng banget pengen cobain motor trail. Iya, saya bilangnya bandel. Soalnya ini anak emang kayaknya penokohannya bandel dan usil. Tapi orangnya asyik dan baik.

Si perempuan yang kita sebut saja bernama Mona ini emang tomboy. Tomboy namun suka pakai rok bunga bunga. Katanya sih, pencitraan. Ayahnya udah lelah melihat ia berwatak dan berpenampilan seperti lelaki. Jadinya ia mengubah citra agar terlihat sedikit perempuan. Berhasil sih. Menurut saya, tapi bandelnya gak ilang.

Mona nyobain motor trail dari penjaga mercusuar. Kami hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja melihat aksinya. Namun, baru beberapa saat motor melaju, motor itu tersendat pada jalanan menanjak yang tak rata. Mona sepertinya kehilang kendali dan jatuhlah Mona.

Detik-detik sebelum Mona jatuh kami terus mengawasi dari kejauhan. Antara was-was namun berharap ia berhasil. Namun nyatanya, ia gagal. Ia jatuh. Dan tepat saat itu seorang lelaki berdiri sigap dan berseru “Mona lon!” (Mona-ku). Lalu ia bergegas lari menuju ke arah Mona tanpa menggunakan alas kaki. Di siang terik. Pasti tanahnya panas. Dan diluar area mercusuar ini tanahnya tak rata. Bebatuan tajam pasti siap menghujam kaki si lelaki itu.

 

Suasana lalu riuh. Ada yang tertawa. Ada yang takjub. Ada yang berseru, “Bang Li udah kayak descendant of the sun (sebuah judul film Korea).”

Saat itu saya belum menonton Descendant of The Sun jadi saya gak tau miripnya di mana. Namun sekarang saat saya udah nonton pun saya gak tau juga adegan itu mirip di mananya. Mungkin secara umum aja ya. Ada seorang lelaki yang sigap banget menolong wanita yang disukainya.

Disukainya…

Selama berada di Pulau Breuh itu, saya menganggap kisah romansa Mona dan lelaki yang berlari itu adalah sebuah lelucon saja. Lelakinya iseng. Perempuan juga becanda. Tim hore-horenya banyak tapi. Belakangan saya malah jadi tim hore-hore juga.

Tapi saat saya melihat lelaki itu berlari sigap cepat seperti itu saya tercenung. Dalam hati saya berkata, “Dia beneran suka sama Mona.”

Semua anggota trip makin heboh, terus heboh melihat aksi lelaki itu. Saya Cuma diam, melihat, menikmati dan meresapi. Pikiran saya Cuma satu saat itu ketika menyadari lelaki itu beneran suka dengan Mona.

“Cerita ini wajib masuk dalam blog”

Namun ketika saya pulang kembali ke Banda Aceh urung saya lakukan.  Para anggota trip yang meng-add akun facebook saya kian banyak. Dan beberapa mereka rutin baca blog saya. ntar ketahuan dong kalau saya ghibah di blog sendiri. Huahahaha.

Tapi beneran kisah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Makanya saya tuliskan juga. Nanti saya tinggal purapura gila aja kalau anak-anak yang ngetrip ke Pulau Breuh kmarin itu komentarin.

Kisah ini seperti perwujudan pengorbanan lelaki yang siap sedia. Bagi penyuka film korea pasti bakal ngefans sama lelaki itu. Saya aja, kalau udah gak tau diri mungkin bakal ikutan ngefans sama lelaki itu. Ya gak tau diri soal umur, ya gak tau diri kalau di Banda Aceh sana ada tiga lelaki sedang saya pehape-in.

Tapi untuk pemuja keromantisan, percayalah. Jangan jauh-jauh berharap lelaki korea untuk menjadi pendampingmu. Lelaki Aceh-pun mampu melakukan hal serupa. Mampu bergerak cepat menjadi superhero untuk pujaan hatinya. Mampu melakukan apa saja untuk kekasihnya. Mau berkorban. Mau menderita asal pasangannya selamat dan bahagia.

Karena sebenarnya pemicu itu bukan tentang Korea atau suku. Bukan tentang kulit putih mulus ala lelaki Korea. Namun yang mampu menggugah hati lelaki mau berbuat apa saja demi perempuan itu adalah satu kata yang selama ini kita kenal dengan sebutan: cinta.

Sepulang dari Pulau Breuh saya tidak tahu kelanjutan kisah mereka. Namun sejak itu saya jadi tim pendukung cinta lelaki superhero itu. Yang mana, kalau mereka jadian saya turut senang. Kalau tidak ya tidak mengapa.

Karena siang itu. Saya melihat bukti cinta. Cinta yang bukan becanda. Karena bagi mata saya siang itu aksinya bukanlah becanda. Ia memang terlihat khawatir.

Kalaupun siang itu mata saya salah. Sungguh itu acting yang sangat luar biasa sekali. Dan kalau itu acting, sungguh Song Joong Ki punya saingan dari Aceh sekarang.

 

Prolog: Trip Singkat Ke Pulau Breuh

Awal Januari 2016 saya berikrar: Bulan Mei 2016 saya menikah. Salah satu kesongongan lainnya tentang saya. Tentang saya yang PD menaklukan apapun. Menyangka semua obsesi tentu akan dapat saya taklukan asal saya bekerja keras, asal saya berusaha.

Namun seperti mimpi-mimpi tahun lalu. Cita-cita tentang menikah selalu tak pernah kecapaian hingga sekarang. Kesongongan saya menargetkan kapan saya menikah tak pernah (atau belum) menjadi nyata. Lagi dan lagi. Bulan Mei tidak merupakan bulan di mana saya memakai baju pengantin.

Di akhir bulan Maret saya menyadari. Rencana saya kembali gagal. Dan libur panjang di minggu pertama bulan Mei yang saya ancang-ancang menjadi hari pernikahan saya lekas saya ganti jadwal menjadi libur untuk travelling.

Suatu malam, saya japri temen SMA saya yang hobi keliling Aceh. Saya tanyakan rencananya di long weekend (tanggal 5 Mei-8 Mei). Seperti dugaan saya dia punya rencana. Saya minta diikutsertakan. Dia sih bilang yes.

April dia ngasih kabar kalau trip yang bakal dilakukan adalah ke Pulau Breuh. Mengetahui bakal ke pulau rasa excited saya kembali buncah. Tentang patah hati dan patah semangat gagal menikah terabaikan sudah. Tergantikan khayalan tentang trip seru di salah satu tempat indah di Aceh.

Beberapa hari kemudian si temen ngasih tau lagi kalau trip yang bakal dijalankan bakalan diselingin dengan aksi donasi ke anak-anak di Pulau Breuh. Nah, ini bukan tentang aksi sosial yang disempetin buat liburan. Ini kebalikan, liburan yang diselingi dengan aksi donasi. Temen saya keren. Idenya dan beberapa temannya yang merencakan trip ini keren menurut saya. Jadilah nama trip kami menjadi: Gerakan 1000 Buku Tulis Untuk Anak Pulau Breuh.

Mengetahui hal itu saya langsung merasa keren. Apalagi ngebayangin saya bakalan terlibat dalam aksi sosial itu. Ini pengalaman pertama bagi saya. Pengalaman pertama ngetrip di kampung sendiri dan pengalaman pertama menjadi salah satu kontributor dalam donasi tersebut. Tetiba saya ngerasa mirip Mbak Nadine Chandrawinata.

Saat rapat pertama saya ikutan dan dikasih tau kalau yang bakal ikutan ngetrip berjumlah sekitar 30 orang. Rame banget pikir saya. Mereka dari berbagai kalangan, latar belakang dan komunitas. Semakin seru nih kayaknya. Saya selalu senang melakukan perjalanan dengan orang yang tak saya kenal sebelumnya. Semacam mendapatkan kejutan. Mendapatkan teman baru. Yang kalau cocok maka bakal jadi teman sesungguhnya. Yang bila tidak terlalu cocok, lumayanlah dapat kenalan baru yang entar kalau ketemu di lampu merah bisa kita tegur atau klakson.

Pada akhirnya yang ikut serta berjumlah 25 orang. Campuran lelaki dan perempuan. Campuran berbagai usia. Campuran komunitas. Campuran latar belakang. Campuran style. Yang kesemuanya punya kisah masing-masing.

Berbagai kisah dalam benak yang tetap membuat semuanya tetap kuat dan ceria. Berbagai kisah yang tetap membuat masing-masing orang merasa, melakukan perjalanan ini adalah sesuatu yang tepat. Sesuatu yang benar.

Tentang kisah cinta yang tak berbalas. Tentang mencintai dalam diam. Tentang rela berkorban demi perempuan yang dicintai. Tentang kangen suami yang tidak ikut serta. Tentang menunggu sebuah kepastian. Tentang lari dari kebisingan untuk menenangkan hati dan pikiran guna menetapkan pilihan kepada siapa hati harus dilabuhkan. Tentang memaksa hati agar tidak jatuh cinta sembarangan. Tentang kisah pahit yang terlarang untuk jatuh cinta. Tentang membagi hati. Tentang tidak mampu menerima cinta. Tentang terus menanti tanpa kehilangan asa bahwa seseorang yang bakal menjaga hati itu pasti akan datang. Tentang menikmati kesendirian. Tentang berjuang melawan segala keterbatasan. Tentang berbagi. Tentang 25 kisah orang yang melatarbelakangi sebuah senyuman yang tercipta kala menikmati sunset dan debur ombak di Pulau Breuh.

Saya tidak sehebat 24 orang lainnya. Saya tidak punya pengalaman traveling sebanyak mereka. Saya tidak melakukan aksi sehebat mereka. Saya hanyalah seorang karyawati biasa yang mencoba melihat mereka satu persatu. Melihat sisi melankolis sekaligus humoris dari setiap orang. Untuk saya rekam dalam ingatan. Menjadikan cerita. Lalu saya ambil pelajarannya. Bahwa bila kita berduka, duka itu bukan hanya milik kita. Bila kita tertawa, ajaklah orang lain untuk tertawa bersama. Karena dunia itu indah. Karena pun kadang dunia sedang tidak adil, tapi kita selalu punya harapan bahwa duka tak pernah abadi.

Perjalanan ke Pulau Breuh pada rentang waktu 5 hingga 8 Mei kemarin adalah salah satu pengalaman hebat lainnya dalam hidup saya. Meski pulang dengan wajah gosong dan kulit yang perih akibat tak tahan sinar matahari, tapi saya merasa pain yang saya dapat setara dengan gain yang saya genggam.

Awalnya saya sempat ragu untuk ke Pulau Breuh. Bagaimana tidak, awalnya saya traveling hanya ingin melarikan diri dari kenyataan kalau saya lagi-lagi batal kawin. Persis seperti traveling saya ke Korea akhir 2014 lalu. Lalu hanya beberapa minggu sebelum saya berangkat saya punya harapan baru. Jadi ya saya semacam kasian long weekend dipake buat traveling. Mending kencan pikir saya. Soalnya saya dan dia tinggal di kota berbeda karena faktor kerjaan. Sempat galau. Namun akhirnya saya putuskan pergi juga.

Syukurlah saya pergi. Terbebas dari sinyal hingga membuat saya lost contact dengan peradaban membuat saya benar-benar menikmati perjalanan dengan segala keindahan alamnya. Dan dari keheningan tanpa sinyal juga, saya jadi benar-benar berpikir dan menentukan pada siapa saya harus memberikan kepercayaan, hati dan harapan saya. Meyakini bahwa dia yang saya pilih insyaallah menjadi orang yang tepat. Memastikan hati saya tak lagi maju mundur cantik untuk berkomitmen.

Dan ya, meski saya tak jadi kencan namun saya pulang dengan membuat sebuah keputusan mantap. Dan semoga ini keputusan terakhir.

13214952_10205066630539951_492596024_o(1)

Episode 1 Trip KL-Spore

Memunyai gebetan itu baik. Punya gebetan yang mau nganterin ke bandara lebih baik. Tapi memunyai gebetan yang gak datang telat untuk ngejemput di rumah plus nyetirnya ngebut pas udah telat jauh jauh lebih mulia di mata sang kakak gebetan.

Adalah hari keberangkatan kami ke KL siang itu. Gebetan adik saya menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke bandara. Tentu aja ketika adik saya mengatakan hal ini saya gak mikir dua kali. Langsung saya iyakan.

Si gebetan datang ngejemput telat. Dua teman kami di bandara udah was-was menunggu kami. Saya lebih was-was menunggu si gebetan adik saya.

Tapi akhirnya dia muncul. Lalu nyetirnya lambat. Mulailah saya keluarkan tanda ‘awas, kakak gebetan galak’ kepada lelaki muda tersebut. Tentu kesan pertama kami tidak bagus. Saya dicap galak. Dia saya cap lambat tak mutu.

Singkat cerita dengan adegan drama berlarian di bandara kami nyampe di Bandara kebanggaan warga Aceh yang kesyil bangeeet. Kerasa banget kecil kalau kita abis dari Kuala Namu atau Kuala Lumpur airport. Turun pesawat. Turun eskalator langsung nemu pintu keluar. Cocok sih buat orang yang gak kuat sendinya buat jalan jauh kayak saya. Jadi gak capek.

Setelah mengudara tibalah kami di bandara KLIA2. Menurut hasil baca-baca saya, bagusnya kami naik shuttle bus menuju hotel di Bukit Bintang. Setelah membeli tiket di loket shuttle bus yang terletak di pintu keluar kami langsung berganti armada dari pesawat ke bus. Harga tiket bus ini kalau saya gak salah inget sih 15 RM.

Setelah macet yang cukup lama dan perut yang sudah berdendang nyaring tiba-tiba bus berhenti di pinggir jalan. Penumpang yang menuju Bukit Bintang di turunkan di situ. Di sebuah lokasi yang tanpa Bukit dan Bintang yang tak terlalu keliatan. Ternyata, kami disuruh naik bus mini semacam travel untuk melanjutkan perjalanan. Bus inilah yang akan mengantarkan kami tepat di depan hotel kami. Sebelum mengantarkan kami, si sopir nganterin penumpang lainnya yang menginap di hotel berbeda. Mirip-mirip ama angkutan L300 yang ngehits di Aceh.

Kami diturunkan di sebuah hotel yang berwarna keemasan dari luar. Terlihat mewah dan classy. Saya mendongakkan leher hingga ke lantai paling tinggi hotel tersebut hingga si sopir berkata, kalau hotel yang saya booking berada di belakang hotel yang mewah di depan kami.

oh.. pantes namanya beda.

Setelah menyeret koper ke dalam lorong kebingungan dimulai. Manakah hotelnya? Lalu karena muka kami yang keliatan bingung dan disadari oleh beberapa penjualan makanan di sekitar situ, mereka mengatakan kalau hotel berada di lantai atas.

Lantai atas mana?

Lalu kami ditunjukkan ke sebuah tangga kecil menuju lantai atas.

Agak horor hotelnya.

Ya namanya juga hotel budget ya. Jadi ya seadanya.

Sampai di atas kami ketemu resepsionis bertampang bule. Kepaksa deh saya ngomong sanglish. Iya. Sableng english. English acakadut versi saya. Mau gimana si resepsionis cuma bisa berbahasa inggris dan berbahasa arab-arab gitu deh kayaknya. Diajak melayu dia gak mau.

Setelah masuk kamar dan menempatkan barang bawaan kami pergi mencari makan. Tentu aja tempat yang dituju adalah Alor Street. Setiap kita baca itinerary orang lain pasti mereka makannya di sini. Apalagi ini lokasinya deket ama hotel kami menginap.

Setelah berjalan sedikit, tibalah kami di sebuah jalanan yang penuh dengan lampion menyala. Pedagang yang berjualan di sisi kanan kiri jalan. Warung tenda sepanjang mata. Bau makanan menyebar membuat dendangan perut semakin kencang.

Nyatanya, jarang ada pedagang makanan yang memanggil-manggil kami menawarkan makanan.

Ah, pantas saja. Kami berempat mengenakan jilbab dan kebanyakan makanan di situ tidak halal. Kami pun agak kesusahan mencari makanan halal. Selain meragukan juga sih pedagang di situ. Takutnya katanya aja halal.

Cara cepat adalah melihat perempuan yang berjilbab yang makan di suatu warung tenda, jadi kemungkinan besar makanan itu halal. Maka kami temukan perempuan di suatu warung, setelah didekati benar ternyata di spanduknya ada tertera logo halal.

Kami memesan tomyam dan es teh tarik. Sebenarnya saya gak suka minuman yang mengandung susu. Namun, seorang teman pernah berkata teh tarik di Malaysia itu enak. Maka saya pengen coba. Dan ternyata benar. Rasa tehnya lebih mendominasi rasa susunya hingga lidah saya nurut. Namun perut? Sebagai orang yang alergi laktosa, dapat dipastikan, setelah minum susu saya sakit perut.

Setelah makanan datang kami menyerbu rakus tomyam dan nasi hangat yang tersaji. Lapar sangat mendominasi. Namun karena malam itu adalah malam ketibaan, kami masih tertawa lepas walaupun rasa capek dan ngantuk melanda.

Puas makan kami berkeliling sebentar dan mengambil beberapa poto. Tapi anehnya, ketika saya cari kok poto di Alor Street malah gak ada. Mungkin kehapus. Jadi ya sudah, saya gak nampilin poto saya dengan latar belakang Alor Street. Toh ngegugel juga ketemu kok gimana penampakannya.

Selesai makan, keliling dan poto-poto kami pulang ke hotel murah meriah di kawasan bukit bintang yang sungguh tanpa bukit namun alpa saya ingat kehadiran bintang. Kami kembali ke hotel untuk mandi dan tidur.

Sebuah Prolog dari Perjalanan ke KL dan Singapore

Pada durasi tanggal 4 hingga 11 kemarin saya mengambil masa cuti saya untuk berlibur ke negera tetangga. Destinasi yang dipilih karena adanya promo tiket seharga 1 dollar itu adalah Kuala Lumpur. Selanjutnya dari KL kami berencana menyambung perjalanan ke negera sebelahnya lagi, yakni Singapura.

Mengetahui adanya tiket tersebut saya berburu siapa aja orang yang bisa dijadikan partner ngebolang. Rekan kerja saya menjadi salah satu target. Awalnya ia galau. Kekhawatirannya adalah bagaimana bila tanggal keberangkatan itu merupakan tanggal pernikahannya atau dekat dengan tanggal pernikahannya. Dengan sederhana saya memberikan kalimat penghibur, “Kalau bentrok ya tinggal tunda aja toh pernikahannya. Jangan sampelah pernikahan menggangu jadwal liburan.”

Saya beruntung Ibu teman saya itu tidak mengetahui saya berucap demikian, karena bila tidak mungkin saya udah disikat pake sapu lidi.

Setelah galau temen saya yang berkepanjangan akhirnya berkesudahan, akhirnya kami membeli 4 tiket. Temen saya membawa adiknya. Saya bawa adik saya. Karena bukan cuma Raffi Ahmad aja yang mampu bawa keluarga jalan-jalan ke luar negeri. Pegawai pas-pasan kayak kami juga mampu. Ya.. meskipun levelnya beda jauh ya. Negara tujuan beda, jumlah anggota yang diboyong juga beda.

Setelah tiket terbeli adik saya berkomentar lirih, “Jadi, Kak, harga nyawa kita cuma seharga 1 dollar ya?”

iya, tiket promo dari Aceh ke KL harganya 1 dollar, tapi belum termasuk airport tax. Setelah airport tax dan bagasi untuk pulang kami membayar sekitar 300 atau 400 ribuan rupiah seorang.

Namun kendala terjadi. Jadwal pernikahan temen saya hanya selisih 9 hari lagi dari jadwal kepulangan kami. Galau menerpa lagi. Gundah menerjang. Dia mumang (artinya: pusing) lagi. Namun si temen sih kayaknya ngotot juga pengen liburan sebelum berstatus istri. Setelah berunding sama keluarganya diberi ijin juga dia untuk liburan ke KL dan Singapore seperti rencana 4 bulan lalu ketika kami membeli tiket.

Akhirnya kombinasi dua perempuan ditambah seorang adik dari masing-masing perempuan tersebut mengukuhkan niat dan mentalnya untuk berpetualang di negeri Upin Ipin tersebut. Sebenarnya kombinasi utuhnya 5 orang. Kayak jumlah Power Ranger namun seorang lagi perginya telat dua hari dari kami. Ada banyak urusan negara yang harus dia urus sebelum keberangkatan. Urusan negara menyangkut keselamatan dunia.

Di hari keberangkatan ada sedikit kejadian heboh. Gebetan adik saya yang entah nomer urut keberapa mengajukan diri untuk mengantarkan kami ke bandara. Nah, entah karena dia harus spa dan luluran dulu sebelum ngejemput kami di kediaman kami, ia tibanya telat. Singkat cerita kami tiba di bandara hanya 15 menit jelang boarding pass.

Saya yang memang selalu pengen mengambil adegan dalam sebuah film sebetulnya menikmati aksi lari-larian saya di bandara. Turun dari mobil langsung berlarian menuju konter buat mengganti kertas boardingnya. Saya berasa jadi Cinta yang ngejar Rangga di bandara loh saat itu. Saya juga jadi ngerti gimana perasaan Cinta di mobil yang kalut banget takut ketinggalan pesawat yang membawa pergi Rangga dari pandangan. Saya akhirnya ngerti apa rasanya jadi Cinta. Ngerti paniknya buru-buru ke bandara.

Namun, saat saya sedang menghayati perasaan Cinta, temen saya dan adiknya sedang menahan napas menunggu saya gak datang-datang. Keberangkatan hanya tinggal sebentar lagi, tapi bahkan batang hidung saya belum keliatan. Ya.. gimana coba, batang hidung saya kan gak mungkin pergi mandiri tanpa saya. Kalau saya belum nongol otomatis batang hidung, daun telinga, dan bibir saya juga belum nongol. Cih!

Akhirnya setelah adegan layaknya film itu saya mampu juga mendaratkan diri saya untuk duduk di ruang tunggu. Sirna sudah khayalan uang tiket bakal melayang plus deposit dan bayaran atas segala macam booking-an lain. Uang saya tak jadi merugi.

Jadi kombinasi perjalanan kali ini terdiri dari 3 orang wanita karir yang bekerja di sebuah instansi yang sama plus dua orang adik mereka yang ikutan nebeng.

Perjalanan yang ditempuh dengan jarak yang dekat, bahasa yang masih dipahami, tulisan yang menggunakan huruf yang sama, membuat perjalanan pasti mudah. Begitu pikir kami.

Jadi.. semuanya akan saya bahas hari perharinya nanti kalau saya sempat ya. Ini mukadimahnya aja dulu. Namun seperti biasa, saya gak pinter me-review ala ala backpacker. Jadi saya cuma sekedar berkisah saja. Jangan berharap lebih pada blogger abal-abal kayak saya.onion-emoticons-set-6-118

Sabang dan Takengon

 

Suatu ketika di tengah-tengah obrolan tentang jejak-jejak liburan saya yang dibahas oleh beberapa teman, terdengar sebuah celetukan, “Tan, liburan ke Lombok, yuk?”

Untuk sesaat saya terdiam. Bingung harus berucap apa dan ngerasa ini seperti deja vu.

Kenapa harus bingung diajakin ke Lombok ya, kan?

Namun saya dan Lombok punya rencana sendiri. Dan ketika rencana itu disinggung oleh orang lain terutama lelaki, otomatis banyak kelebatan pikiran berdansa di kepala saya.

Saya yakin, si temen yang ngajakin ke Lombok itu bercanda. Karena dia memang tukang bercanda. 95% isi omongannya hanya candaan semata. Tapi hati saya tergetar juga. Semua karena Lombok dan cerita lalu.

Lombok saya tasbihkan sebagai destinasi liburan sekaligus bulan madu saya. Saya hanya akan ke Lombok dengan seorang lelaki beruntung yang akan menjadi suami saya nanti. Jadi, kalau kamu perempuan jangan ajak saya ke Lombok. Karena saya simpan tempat itu untuk tujuan khusus dan juga saya bukan pelaku LGBT.onion-emoticons-set-6-118

Juga, terlebih kalau kamu lelaki. JANGAN SUKA ASAL NGAJAK SAYA KE LOMBOK KALAU GAK MAU BIKIN SAYA BAPER.onion-emoticons-set-6-107

Mengajak saya ke Lombok saya anggap sebuah modus ngajakin saya ke KUA. Iya gitu. Saya mau ke Lombok hanya dengan suami saya nanti. Jadi kalau kamu ngajakin saya ke Lombok kamu mesti jadi suami saya dulu.onion-emoticons-set-6-140

Becandaan temen saya itu membuat memori saya terlempar ke ingatan beberapa waktu lalu. Ketika seseorang menyetujui ikut ke Lombok bersama saya. Ketika kami selesai membahas segala perintilan sketsa masa depan. Ketika saya hampir aja yakin dialah lelaki yang menemani saya ke Lombok.

Becandaan temen saya itu entah hanya kebetulan entah karena dia memang kerap membaca blog saya dan mengingat detil apa yang saya tulis. Saya gak menganggapnya kebetulan. Saya lebih menganggapnya iseng mempermainkan saya mengingat dia suka becanda. Jadi dia sengaja. Sengaja membuat beberapa kelebatan memori kembali tayang dalam pikiran saya.

Nah, kalau keinginan tujuan bulan madu saya adalah Lombok. Lain halnya dengan sahabat saya yang baru menikah.

Tujuannya ialah Sabang. Namun suaminya malah ingin ke Takengon. Lah.. ini gimana? Apa mereka pergi solo aja ke masing-masing tempat yang mereka inginkan?

Inilah susahnya kalau punya destinasi bulan madu yang berbeda dengan pasangan. Maka itu, saya menjadikan bulan madu ke Lombok sebagai syarat dan pertimbangan maunya saya menikah dengan seorang lelaki. Semua semata agar keinginan saya tercapai.

Ohya.. buat kamu pembaca blog ini dan berasal dari luar Aceh yang gak tau di mana itu Sabang dan Takengon. Berikut saya kasih tau sedikit info.

Dua tempat itu masuk dalam wilayah Aceh. Sabang yang lebih terkenal berada di ujung Aceh. Sabang sendiri merupakan pulau yang gampang dituju dengan menggunakan kapal. Sabang terkenal dengan keindahan lautnya dan biota alamnya. Cocok buat yang pengen leha-leha menikmati romantisme angin sepoi pantai bersama pasangan sah. Bisa snorkeling dan diving juga.

Takengon terletak di bagian tengahnya Aceh. Takengon ini suasananya pegunungan. Sejuk dan enak buat pasangan baru menikah yang mau pelukan mulu. Ada Danau Laut Tawar merupakan destinasi wisata yang layak dikunjugi. Ada Sungai Alas yang menyaingi Sungai Amazon.

Berikut akan saya bagikan poto-poto Sabang dan Takengon agar kamu menjadikan Aceh sebagai destinasi liburan kamu.

Pulau Weh (Sabang)
Pulau Weh (Sabang)
Pulau Rubiah (Sabang)
Pulau Rubiah (Sabang)
Takengon
Takengon
Danau Laiut Tawar (Takengon)
Danau Laiut Tawar (Takengon)
Sungai Alas Taman Gunung Leuser (Takengon)
Sungai Alas Taman Gunung Leuser (Takengon)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar dicomot dari FB Page: Piknik Yuk yang tersebar di timeline FB

 

Melihat perpaduan gambar Sabang dan Takengon saya rasa wajar sahabat saya dan suaminya rebutan mau ke salah satu tempat. Sabang menyajikan pantai yang romantis, Takengon menyajikan perpaduan alam yang indah dengan udara yang sejuk.

 

Lah terus kalau dua-duanya masih ngotot ke salah satu tempat kenapa mereka gak langsung aja naik L300 pergi ke kedua tempat tersebut kan? Istri senang. Suami bahagia.

 

 

 

Episode 6 di Korea Selatan & Epilog

Ketika telah dimulai harus diakhiri. Itulah yang mendasari saya tetep ngeyel bikin postingan lanjutan soal liburan saya ke Korea tahun 2014 silam. Ya.. hampir satu setengah tahun ceritanya belum tamat. Gak heran kenapa novel saya gak kunjung rampung.

Tulisan kali ini menjadi episode terakhir liburan di Korea Selatan sekaligus sebagai Epilog. Biar hutang (pada diri sendiri) segera lunas.

Hari terakhir di Korea Selatan merupakan jadwal kosong nan bebas. Karena kami men-skip jadwal pergi ke Busan pada hari ketiga dan memajukan jadwal lainnya otomatis hari terakhir menjadi jadwal kosong.

Jadwal kosong diisi dengan mengulang pergi ke tempat yang sudah pernah yaitu ke Itaewon dan Namdaemoon Market dengan alasan ada sesuatu yang harus dibeli lagi di kedua daerah tersebut.

Di Itaewon Rizka membeli Quran dengan terjemah berbahasa Korea. Si penjual memberikan harga murah banget karena katanya Qurannya terjadi salah cetak. Mungkin beberapa ayatnya kali yang salah. Karena Rizka bertujuan mengoleksi maka ia pun tak mengapa dengan Quran salah cetak tersebut yang penting ada huruf korea-nya lah pikirnya.

Selesai menemaini Rizka kembal menjelajah Itaewon kami ke Namdaemoon Market (lagi). Belanja ngabisan won terakhir. Kami menuju pintu masuk yag berbeda dari sebelumnya, otomatis kami berada di area penjualan yang berbeda pula.

Seingat saya, saya sibuk memilih baju buat para lelaki di rumah saya, Ayah, abang dan adik. Rizka mencari baju buat dijadikan oleh-oleh. Suci berburu tas pesanan Ibunya.

Langkah kaki saya semakin berat. Engsel lutut saya tak berfungsi lagi. Otot kaki saya memang lemah dan hasil pemeriksaan dokter pun berkata demikian. Kaki saya pantang dibikin capek.

Hari terakhir merupakan penderitaan terberat. Setiap ngeliat tangga saya pengen ngesot. Jalan saya seperti seorang renta. Spasi antara saya dan kedua teman saya begitu jauh. Asal mereka gak meninggalkan saya ketika naik subway dan tetap melihat saya ke belakang sih saya gak apa ditinggalkan langkah. Toh saya gak bisa mengejar langkah mereka lagi.

Hari itu kegiatan kami tak banyak. Selesai belanja kami langsung pulang. Sore sudah tiba kembali di hostel. Saatnya saya beristirahat demi utuhnya kaki saya untuk dibawa pulang ke Aceh esok harinya.

Suci melanjutkan nongkrong dengan teman Koreanya. Yang pulang ke hostel hanya saya dan Rizka.

Ketika saya sibuk mengoleskan krim buat peregangan otot di kaki saya, Rizka beberes koper. Lalu saya tidur. Dan terbangun di tengah malam untuk mandi. Besok harus sudah tiba di bandara pukul 5 pagi. Karena pasti mandi pagi itu wacana banget di tengah musim gugur yang dingin makanya saya mandinya malam aja. Gak sempatpun kalau mandi pagi.

Jam 4 pagi sudah nyeret koper ditengah sepi dan dinginnya pagi musim gugur Korea ke halte bus. Dingin. Lapar. Tapi saat itu belum patah hati. Jadi nelangsanya gak combo.

Singkat cerita malam harinya saya tiba di Aceh masih dengan coat hitam melekat di tubuh. Begitu tiba di Aceh suasana hangat menyapa. Aaah.. tetiba saya rindu panasnya Aceh. Benar adanya. Ketika disuruh milih panas atau dingin, maka saya akan memilih cuaca yang panas ketimbang dingin. Beberapa kali pembuktian tubuh saya gak cocok sama udara dingin. Seperti ketika Latihan Militer penerimaan pegawai, saya mengalami hipotermia akibat main hujan tengah malam dalam agenda jurit malam. Lalu ketika di Korea, kulit wajah dan kaki saya mengering dan keriput akibat cuaca dingin.

Pergi ke Korea merupakan perjalanan terjauh pertama saya. Perjalanan ke luar negeri pertama saya. Dalam empat kombinasi perempuan yang melakukan perjalanan bersama ke Korea Selatan ini satu diantaranya temen saya, dua baru saya kenal ketika melakukan perjalanan ini.

Saya selalu exciting bepergian dengan orang yang tak saya kenal. Selain menambah temen baru yang berarti bisa nambah kontak di wasap atau bbm juga berarti menambah wawasan saya terhadap apapun kelebihan orang tersebut yang patut dipelajari.

Seperti betapa kagumnya saya melihat Suci yang jago baca peta. Rizka juga bisa. Tapi perjalanan kali ini digawangi oleh Suci karena selain baca peta dia juga bisa membaca tulisan Korea yang petak-petak bulet-bulet itu. Saya kagum dan iri dengan Carina yang stempel di paspor-nya udah banyak dan betapa ini anak suka membaca. Bacaannya novel Haruki Murakami versi bahasa inggris. Ketika saya pinjem buat baca, kok susah banget saya move on dari halaman pertama ya? (red: harus pigi les lagi, Tan)

Lalu ada Rizka yang penuh perhatian terhadap rekan seperjalanan. Terlihat gimana dia yang selalu memastikan saya masih ada dalam jangkauan matanya ketika kaki saya mulai melemah buat dipake jalan dan naik turun tangga yang tiada akhir saat di stasiun subway. Juga bagaimana paniknya dia karena Suci yang belum pulang pada jam yang telah ia janjikan untuk tiba kembali ke hostel saat nongkrong cantik bersama teman Koreanya.

Melakukan perjalanan selalu menyenangkan. Menjadi suatu tim dan bagaimana tim itu bekerja menjadi perhatian saya kini. Bagaimana komunikasi dan hubungan yang terjalin akibat suatu perjalanan bersama menjadi hal yang candu bagi saya. Ingin rasanya di lain waktu saya bepergian dengan orang berbeda dan karakter berbeda pun bila perlu ditambah dengan orang yang belum saya kenal.

Karakter setiap orang yang berbeda membawa warna tersendiri pada setiap perjalanan. Inti dari perjalanan bukan hanya melihat suatu tempat baru, berpose di suatu lokasi yang bakal bikin iri orang yang belum pernah ke sana, makan makanan khas negara/daerah tersebut, namun juga, menambah teman dan menciptakan interaksi baru dari segala lika-liku perjalanan yang pasti selalu ada intrik-nya.

Untuk perjalanan Korea Selatan di musim gugur tahun 2014 lalu saya mengucapkan terima kasih pada Suci yang udah mau mengikutsertakan saya dan berkat jasanyalah saya bisa melihat Korea Selatan tidak hanya melalui drama saja. Makasih buat Rizka yang pada suatu malam iseng nge-wasap saya ngajakin ke Korea Selatan yang langsung bikin saya mupeng. Makasih buat Carina, menjadi teman bercanda di subway yang selalu kebagian jatah berdiri dan memandang iri pada ahjumma-ahjumma yang dapat kursi prioritas.

Korea Selatan. Terima kasih.

Belitung

Bulan Agustus lalu, saya mengambil cuti singkat untuk trip yang tak kalah singkat. 3 hari saja untuk melakukan perjalanan ke Belitung.

Perjalanan kali itu amat exciting bagi saya karena Belitung merupakan salah satu destinasi impian yang tertera di dalam Bucket List.

Awal mula ketertarikan tentu saja karena novel Laskar Pelangi yang dikarang oleh Andrea Hirata yang kemudian dibikinkan film. Ketika berwujud film, tentu saja pesona kecantikan Belitung menarik hati saya. Hingga saya yang saat itu masih kuliah bercita-cita bila suatu kelak telah berduit saya ingin ke Belitung.

Alhamdulillah. Bersyukur campur tak percaya ketika saya akhirnya mampu menjejakkan kaki di Pulau Belitung ketika baru saja turun dari Pesawat pada Agustus 2015. Bertahun-tahun setelah cita-cita terpatri di sanubari.

Awal mulanya, seorang teman yang mengetahui saya akan ke Belitung berujar, “Ngapain ke Belitung, toh pantai pantai juga yang ada di sana. Di Aceh aja juga banyak pantainya”

Dia benar. Aceh juga memiliki pantai yang tak kalah menariknya. Bahkan pantai-pantai di Sabang menjadi destinasi wisatawan dunia. Hanya saja saya tahu pasti, ke Raja Ampat-pun entar yang saya cari pantai juga. Kenapa?

Karena setiap pantai di setiap daerah pasti memiliki keunikannya sendiri. Hingga kita akan bertambah rasa takjub dan syukurnya akan kuasa Allah swt.

Perjalanan kali itu saya ditemani oleh seorang teman yang saya kenal melalui situs Ngerumpi(dot)com yang sekarang telah tutup. Si Mbak-nya membawa dua teman semasa sekolahnya. Jadilah kami empat perempuan kece menjamah Pulau Belitung dengan lantunan asma Allah yang tak henti-hentinya kami lafazkan.

Masyaallah… Allahuakbar.

DSC_0357Danau Kaolin

Poto kedua adalah poto yang di ambil di Danau Kaolin. Danau buatan atau lebih tepat danau jadi-jadian. Danau yang terjadi akibat dari bekas pertambangan yang sudah tidak dipergunakan. Kemudian alam-lah yang mengindahkannya. Campuran air hujan dan Kaolin membentuk warna yang emejing. Kaolin sendiri merupakan suatu bahan kimia gitu deh. Gak bisa jelaskan banyak tentang Kaolin karena Kimia saya pas SMA cukup-cukup gak remedial aja deh.

Poto di Danau Kaolin itu ketika saya sebarkan di berbagai media sosial yang saya punya banyak dikomentari dengan “editan yaaa”. Mereka tidak bertanya melainkan memberikan pernyataan.

Pergilah ke Belitung. Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri. Lalu buktikan sendiri itu editan atau malah matamu menggunakan lensa aplikasi edit poto otomatis.

Tanpa edit. Tanpa filter. Tanpa photosop. Hanya kamera Handpone yang beresolusi tinggi dan keindahan alam yang emejing.

Saldo Bikin Stress

Passport selesai kini tinggal ribet ngurus visa. Saya gak tau kalau ternyata pengajuan visa itu gak semuanya diterima. Dan ternyata syarat mendapatkan visa itu kok ya ribetnya nyaingin syarat mau nikah siy?

Okay.. mungkin ini siy semacam latihan buat saya sebelum nikah. Ribet-ribetan dulu ngurus visa sebelum ribet-ribetan ngurus buku nikah.

Bentar, teringat soal buku nikah, saya teringat tunangan saya yang karena saking sibuknya gak bisa nikahin saya tahun ini. Bentar ya, saya mau nyapa dia dulu. Mau tau masih hidup apa kagak.

Oke. Masih hidup. Masih ada harapan saya menikah tahun depan. Tapi sebelum nikah saya mau foya-foya dulu. Mau liburan selagi single dulu. Dan seperti yang saya bilang kemarin di sini, pas banget ada tiket promo.

Visa.

Hal pertama yang saya tau dari syarat ngurus visa adalah kalau kita diharuskan mempunyai saldo di rekening dengan jumlah tertentu dan minimal saldo itu ngendap selama 3 bulan.

Berapa saldonya?

Awalnya dikata 10 juta.

Aman. Ada lah segitu.

Seminggu kemudian saya baca-baca blog orang yang telah pergi ke korea katanya saldo rekening bank harus ada sekitar 20 juta. Menurut Bapak Agen Pengurusan Visa juga, minimal saldo sekitar 20-25 juta. Hal ini katanya sudah ia konfirmasi ke pihak kedutaan di Jakarta.

Ebuset.. naik euy.

Sampai sini saya mulai mikir. Soalnya selama ini tabungan saya itu dalam bentuk emas. Iya. Saya berinvestasi emas. Saya gak punya tuh saldo bank kecuali untuk kebutuhan hari-hari. Investasi emas saya lakukan karena saya paling gak bisa nyimpen uang. Lain halnya kalau udah berbentuk emas. Saya jadi lebih hemat.

Sempat kepikiran kalau ingin saya gadaikan saja emas-emasnya demi saldo saya meningkat.

Tapi lalu… ada kabar lagi kalau ke korea itu butuh saldo rekening 50 juta.

stoned onion head

EBUSET. 50 JUTA WOY… setahu saya ini kalau mau ke Eropa baru segini.

Ini ngapain coba uang segitu dipake ke KOREA? Apa saya udah gila? nonono onion head

Emang siy, saya tau ketentuan minimal saldo ini hanya supaya meyakinkan pihak kedutaan aja kalau kita di sana terjamin secara financial dan gak jadi pengemis di negeri abang Lee Dong Wook yang badannya nyenderable banget. Tapi ya, mikir juga lah. Ngapain coba minimal saldo 50 juta. Minimal ya. 50 juta ya. Ebuset noooo onion head

Sampe di sini saya dan temen-temen saya mulai stress. Mulai susah tidur. Mulai susah makan. Okeh.. 2 terakhir itu saya aja yang ngalamin itu juga gegara jadi anak kost yang ngekost di daerah pelosok.

Fiuh.. kami ini hanya ingin liburan. Hanya ingin poto-poto terus pamer di instagram. Bukan pengen buka warung babi panggang dan soju pinggir jalan di sana.

Padahal menurut saya 10 juta cukuplah jadi saldo minimal. Bahkan juga ada beberapa blog yang menyatakan kalau ia bisa mendapatkan visa hanya dengan jumlah saldo 10 juta. Ada juga yang 20 juta. Nah.. berhubung passport saya masih kosong dan belum pernah ada cap visanya, maka saya berusaha yang maksimal aja. Lagian saya gak mau rugi udah beli tiket.

Maka jadilah saldo rekening saya 30 juta. Cuma segitu kemampuan sayasweating onion head . Untung juga kemarin selain gaji ada tambahan dari uang lembur dan uang tunjangan cuti.

Maka dengan saldo 30 juta ini saya cetak rekening Koran selama 3 bulan terakhir. Karena ngurus visanya bulan 10. Maka saya cetak rekening Koran bulan 7, 8 dan 9.

Oiya. Kenapa saya ribet soal saldo dan rekening Koran? Karena hal ini merupakan salah satu syarat kelengkapan dokumen pengajuan visa.

Berikut beberapa dokumen untuk mengajukan visa.

  1. Passport asli
  2. Fotokopi passport
  3. Formulir aplikasi (http://idn.mofat.go.kr/languange/as/idn/im)
  4. Pas photo 2 lembar (ukuran dan warna latarnya beda-beda info yang saya dapat, jadinya saya ngasih 3×4 warna 2 lembar, dan 3×4 latar putih 2 lembar juga 4×5 latar putih 2 lembar)
  5. Fotokopi kartu keluarga
  6. Surat keterangan bekerja (bila telah bekerja)
  7. SIUP tempat bekerja
  8. Surat keterangan mahasiswa/pelajar (bila masih kuliah atau sekolah)
  9. Fotokopi Bukti Keuangan (pilih satu atau lebih)
  10. Fotokopi SPT no 1770/1770 ss
  11. Rekening Koran selama 3 bulan terakhir dengan minimal saldo 30 juta.
  12. Referensi Bank
  13. Slip Gaji (bila bekerja)
  14. Kartu Jamsostek
  15. Fotokopi e-Ticket
  16. Fotokopi e-Accomodation
  17. Itinerary selama di Korea
  18. ID Card
  19. Fotokopi Akta Kelahiran

Yang saya baca-baca dari blog orang yang udah pernah ngurus visa, lebih baik dokumen itu selengkap mungkin. Jadi ya saya usahakan memberikan semua dokumen itu. Sampai-sampai kartu jamsostek dan NPWP pun saya fotokopi. Fiuh..

Deg-degan euy…smoking1 onion head

Yang ngurus visa saya dan temen-temen yang akan berangkat ke Korea adalah salah satu temennya kami yang udah pernah ngurus visa. Kami minta tolong sama dia. Gak jadi pake Bapak Agen Pengurus Visa. Mahal euy ama dia. Visa Korea Rp480.000. fee buat dia Rp600.000. total bayar Rp1.080.000. Fiuh…

Sama si temen ini kami cukup bayar Rp600.000 aja. Kelebihan setelah dipotong uang visa itu kami anggap buat ongkos jalannya dia aja.

Konon kalau suruh bikin ama travel biayanya Rp700.000. Tapi mah, orang travel cerewet. Kitanya mesti punya saldo minimal 50 juta di rekening Koran.

Akhirnya setelah semua dokumen lengkap berkas kami dikirim tanggal 1 Oktober lalu. Dan baru ada kabar mengenai visa kami di tanggal 20.

Yeaaaay…love onion head

Akhirnya visa kami semuanya diterima euy. Kami boleh ke Korea.

Ajaib. Pikir saya.

Soalnya saya ngerasa syarat saya banyak yang kurang. Pertama mengenai jumlah minimal saldo rekening Koran, kedua passportnya saya masih virgin kayak saya (eh?)

Ternyata saya dapet visanya.

Senang bukan main. Gelisah selama 3 minggu sirna sudah.

Koreaaaa… I am coming wow2 onion head

Bikin Passport

Gagal menikah, cuti tahun ini saya pakai buat liburan. Emang siy, udah niat dari awal, kalau batal nikah tahun ini saya emang bakal liburan ke luar negeri. Foya-foya. Ngilangin stress. Awalnya destinasinya paling yang deket-deket aja kayak Malaysia, Singapore, Thailand. Eh… gak taunya tetiba pada suatu malam seorang temen mengatakan kalau lagi ada promo tiket murah ke Korea. Maka… jadilah saya mengatur liburan ke korea. Pas ada temen jalan, pas ada tiket murah, pas cuti belum kepake, pas nikah yang tertunda, pas ada duit.

Yihaaaaaaaaaaaa…

Tiket dibeli.

Tapi lalu… saya belum punya passport.

Iya. Saya sama sekali belum pernah pergi ke luar negeri, makanya gak punya passport. Karena tiket udah dibeli (Cuma maskapai Air Asia bisa beli tiket tanpa adanya nomor passport) maka saya bikin passport dulu.

Ternyata bikin passport itu gak njelimet. Kebetulan saat itu saya juga gak pake antri lama karena datang pagi-pagi. Apalagi saya juga udah daftar online.

Jadi menurut temen, alangkah baiknya kita mendaftar online dulu sebelum datang ke kantor imigrasi biar cepet kelar. Ya.. walaupun udah nyampe di sana kitanya disuruh tunggu dulu dengan alasan diri kita didata dulu. Lah? Leh? Loh? Kan kita udah data online kan?

Udah iyain aja. Emang gitu (mungkin juga ini hanya gaya kantor imigrasi di Aceh). Tapi yang jelas kalau kita udah daftar online ada prosedur yang kita lewati di kantor imigrasi yang akhirnya bikin proses kita cepat kelar. Gegara inilah hingga ada ibu-ibu sewot kenapa saya duluan yang dipanggil tuk poto padahal dia duluan datang.

Nah.. berikut langkah-langkah yang bakal saya beritahukan kalau kamu sama kayak saya yang belum pernah keluar negeri hingga gak punya passport.

ONLINE:

  1. Daftar Online di imigrasi.go.id. Masuk ke menu Pra Permohonan Passport. Lalu isi data sesuai yang diminta.
  2. Setelah data diisi ntar mereka ngirim email konfirmasi. Dalam email itu ada lampiran surat pengantar ke bank.
  3. Bawa surat pengantar ke bank BNI (konon katanya harus BNI) dan bayar Rp355.000+5000 (adm bank)= Rp360.000
  4. Setelah bayar entar kita bakal konfirmasi lagi di webnya untuk memilih kapan jadwal datang ngurus passport.
  5. Bawa bukti bayar dari bank ke kantor imigrasi.

DI KANTOR IMIGRASI

  1. Siapkan dokumen asli dan fotokopi: KTP, KK, Ijazah, Akta Kelahiran, dan Surat Keterangan Bekerja dari kantor kamu bila status di KTP kamu Karyawan.
  2. Isi form yang dikasih oleh petugas imigrasi. Iya. Emang. Kita udah daftar online kan? Udah iyain aja. Isi aja.
  3. Masukan semua fotokopi dokumen dan form ke dalam map yang diberikan petugas imigrasi dan serahkan melalui loket 1 (kalau gak salah).
  4. Katakan pada petugas loket kalau kita sudah daftar online dan minta nomer antrian. Ntar petugas loket bilang kalau data kita harus diinput ulang. Lah? Leh? Loh? Kita udah daftar online kan? Udah iyain aja.
  5. Tunggu dipanggil. Setelah itu baru kita dapat nomor antrian pembayaran.
  6. Nah di loket pembayaran bilang aja kita udah bayar di bank dengan nunjukin bukti pembayaran dari bank BNI.
  7. Setelah itu kita dapet nomor antrian lagi. kali ini nomer antrian untuk poto. Sebaiknya jangan memakai baju putih atau jilbab putih karena latar poto putih. Dan.. bagi kamu pengguna contact lens harap dilepas dulu itu lensanya. Soalnya ntar saat dipoto akan keliatan retina kita aneh dan gak pas. Saya aja yang contact lens-nya warna bening dan selama ini berhasil mengelabui banyak orang ketauan juga oleh si kamera imigrasi euy.
  8. Setelah poto kita diwawancara dan diminta memperlihatkan dokumen asli (KTP, KK, Ijazah, Akta Kelahiran).
  9. Saat wawancara palingan ditanya apa tujuan kita buat passport. Pelis… jangan bilang ingin liburan karena patah hati ditundanya pernikahan. Pelis jangan. Pelis…
  10. Saat wawancara juga ditanya apakah nama kita udah betol atau kagak. Saat wawancara juga gak ditanya aneh-aneh asalkan kamu juga gak jawab aneh-aneh saat ditanya apa tujuan bikin passport.
  11. Setelah itu petugas imigrasi ngasih lagi bukti pembayaran bank tadi yang telah distempel tanggal pengambilan passport. Bukti ini disimpan ya.
  12. Biasanya passport kelar 3 hari kerja dari pengurusan. Nah. Saat tanggal yang tertera datang. Maka pergilah ke kantor imigrasi lagi untuk ambil passport kita yang udah jadi dengan menyerahkan bukti pembayaran bank.

Naah.. itu langkah-langkah (kok banyak ya?) untuk bikin passport. Langkah-langkah ini sebenarnya didikte oleh teman saya yang telah terlebih dahulu ngurus passport. Soalnya saya yang kini tinggal di daerah karena bekerja butuh waktu khusus ke ibukota propinsi untuk bikin passportnya. Makanya saya tanya syarat dan caranya yang lengkap biar gak ribet bolak-balik.

Maka dari itu selesailah passport saya