Memilih Suami (Part 4): 1/3

Saya pernah ditawari menikah dengan seorang lelaki. Iyalah. Lelaki. Namun tidak seperti kebanyakan lelaki yang mampir di hidup saya. Lelaki ini agak sedikit kurang beruntung secara finansial. Di saat sekarang saya dan teman-teman saya dilimpahkan rejeki finansial yang cukup. Saya agak merasa miris akan hidupnya. Ke mana ia buang usianya hingga masih berada pada posisi selevel fresh graduate?

Namun, ia lelaki baik. Agamis namun tidak humoris. Calon imam yang cocok untuk membimbing saya ke surga. Pikir saya. Jadilah saya mempertimbangkan tawarannya untuk menjadikan saya istrinya.

Dasar perempuan. Dasar juga saya yang perhitungan. Saya lalu ngambil kalkulator dan itung-itungan.

Gaji saya+ gaji dia       = aaah… masih terbilang cukup untuk hidup di aceh.

2

 

 

Bahkan pendapatan kami setelah dijumlahi dan dibagi dua itu sama hasilnya dengan kebanyakan penghasilan lelaki rata-rata yang bekerja di aceh dengan istrinya tidak bekerja. Bila mereka saja masih bisa hidup ya berarti saya juga.

Saya mantapkan hati saya untuk mengatakan iya. Atau mempertimbangkan mengatakan iya. Karena selain materi tentu saja saya harus lebih mengenalnya secara jauh. Kepribadiannya terutama. Karena saya gak mau terjebak dengan muka aja yang innocent tapi kelakuan bajingan.

Di tengah-tengah pertimbangan. Benak saya kembali ke perihal gajinya yang (maaf) hanya sepertiga dari penghasilan bulanan saya.

Lalu dengan jumawanya tetiba otak saya membuat suatu pertanyaan,

Entar kalau kami menikah apakah aku masih bisa beli lipstik tiap bulan ya? Atau apakah belanja lipstik harus dikurangi?”

Beberapa menit kemudian saya sontak kaget dengan pikiran saya sendiri. Bagaimana bisa saya membandingkan suatu pernikahan dengan lipstik. Kayaknya saya kebanyakan makan micin nih. Udah gak bener otak saya.

Cepat saya gelengkan kepala saya. Membuang pikiran itu jauh ke Tapak Tuan.

Tapi lalu…

Apakah iya, saya harus cukup punya lipstik satu sampai habis?”

Memilih Suami (Part 2): Hedonis vs yang Penting Bukan Pengemis

Saya ini tipikal perempuan yang diajak hidup hedonis gampang banget. Diajak hidup sederhana ayo-ayo aja. Saya bisa berada di dua gaya hidup tersebut. Yakin.

Hidup sederhana adalah hidup yang diberikan oleh orang tua saya. Dari kecil kehidupan kami pas-pasan meski jauh dari kata melarat. Hidup serba ada dan tetap irit bisa saya lakoni. Belum lagi pengalaman bekerja di Jakarta yang bergaji sungguh bikin prihatin. Berbulan-bulan di sana saya tetap survive dengan gaji apa adanya kok. Bisa tidur dengan fasilitas seadanya. Ngeluh sih. Tapi tetap bisa saya jalani.

Hidup mewah. Laah.. siapa juga yang gak mau, kan? Untuk perempuan apa lagi. Dikasih uang yang digitnya banyak gak perlu pusing gimana habisinnya. Mall banyak. Gak ada mall, online shop juga banyak, seperti: Lazada, Zalora, Hijup, Berrybenka, Sephora tersedia di gadget. Abisin duit mah lebih gampang ketimbang abisin krim malam.

Lalu di antara dua gaya hidup itu manakah yang saya ingini?

Mungkin akan dikatakan munafik, tapi saya lebih memilih kehidupan sederhana. Bukan berarti melarat dan makan sekali cuma dua kali tanpa lauk pula. Bukan juga berarti hidup jauh dari peradaban. Hidup berkecukupan. Cukup buat makan sehari tiga kali. Cukup buat jajan. Cukup buat hangout cantik di weekend. Cukup buat jalan-jalan ke luar kota setahun sekali dan luar negeri setahun sekali.

Eh bukan ya? Itu bukan sederhana ya?

Hahahaha…

Maaf.. jiwa foya-foya saya emang suka keluar tanpa logika.

Nah.. itu dia masalahnya. Foya-foya semacam bakat tersembunyi. Entah juga ini ambisi terpendam. Sekarang setelah punya penghasilan sendiri doyannya belanja tanpa mikir. Sukanya jalan-jalan. Di sinilah letak masalah diri saya.

Karena saya punya masalah seperti ini, itulah kenapa saya enggan bersanding dengan lelaki mapan luar biasa. Penghasilan berkali-kali lipat dari saya. Karena saya takut. Jiwa hedonis saya gak bakal bisa kebendung. Nah.. lumayan kalau punya suami kaya tapi orangnya sederhana. Ini suami kaya hidupnya hedonis pula. Klop kali lah sama saya. Bakal terperangkap kehidupan duniawi yang melenakan. Kehidupan yang senang hanya untuk berlomba-lomba menghabiskan. Kehidupan yang dipayungi naungan godaan setan.

Jujur, saya enggan.

Bilamana saya bersuamikan lelaki kaya namun bersikap bijak dan mampu mengeram sifat boros saya sih oke aja. Tapi bila tidak, saya akan lebih memilih suami yang tak mengapa tak mapan. Tak mengapa tak rupawan. Asal dirinya mampu memenjarakan jiwa hedonis saya. Asal dirinya mampu menuntun saya menjadi perempuan yang lebih sholehah.

Makanya, bila ada yang mempertanyakan kewarasan saya menolak lelaki mapan, itu semua bukan karena saya tak suka menjadi kaya, namun karena saya tahu. Gaya hidup ‘abang itu’ gak cocok ama saya. Gak cocok ama cita-cita saya.

Karena bila ingin foya-foya, saya hanya ingin melakukannya selagi single. Selagi memakan uang keringat sendiri.

Ini bukan munafik. Ini sebenarnya perencanaan. Perencaan untuk anak-anak saya kelak.

Saya gak ingin menjadi sepasang orangtua yang mengajarkan kehidupan serba ada serba gampang untuk anak-anak saya. Saya tidak ingin anak-anak saya kelak menjadi manja. Menjadi manusia tanpa usaha tanpa derita. Bukannya saya ingin membuat anak saya susah. Namun saya hanya ingin mengajarkan bahwa hidup itu sulit dan kita harus terbiasa. Mendidik mental baja bagi anak harus dilakukan sejak dini. Harus dicontohkan orangtuanya. Nah… bila saya terlihat terlalu foya-foya bagi anak saya. Bisa jadi entar tingkah anak saya melebihi saya. Kalau saya dulu ngambek sama orangtua, merajuk dan mengurung diri di kamar. Anak saya mungkin bakal lebih ekstrem. Merajuk, ngurung diri dan gunting-guntingin uang jajannya. Whoaaaaaaah….

Hiduplah sederhana. Hidup berkecukupan tanpa kekurangan. Ada tanpa berhutang. Hidup dengan usaha dan kerja keras. Agar kita lebih menghargai hasil. Agar kita tahu dunia tak bisa dilakoni dengan sikap manja. Karena tak selamanya hidup selalu di atas. Karena dunia berputar. Entah pada rotasi ke berapa, kita mungkin berada di bawah. Bersiaplah…

Jadi sebelum saya cuap-cuap soal anak dan ngedidik anak tapi anaknya belum ada. Saya kini tengah fokus memilih ayah dari anak-anak saya kelak. Seorang lelaki yang dalam sekali bertandang (baca: lamaran) mampu menggugurkan segala ragu di hati. Segala ketidaksiapan diri.

Dan, ya.. memilih itu sulit. Saya lebih suka jawab soal Fisika yang meskipun pas SMA saya selalu remedial.

Jadi, jangan tambah-tambahin dengan pertanyaan, “Kapan nikah?”

Bye…

Hey… apa kabar? Apa efek setelah adanya teroris beberapa waktu lalu bagi kondisi mental dan fisik mu? Aku yakin tak mengapa bagimu. Karena bukan teroris yang kau takutkan melainkan kurs mata uang Indonesia yang melemah. Kalau akibat dari teroris maka mata uang Indonesia terus merosot aku yakin kamu pasti akan makin memaki-maki si teroris yang masih diragukan keterorisannya.

Aku masih mengingat betapa banyaknya kicauanmu saat kemarin Rupiah kita melemah. Rupiah melemah aja kamu sewot. Gimana kalau aku yang melemah? Melemah, tak berdaya, terkapar seperti saat keracunan karbon monoksida tempo hari, akankah sewot dan panikmu sama?

Maafkan aku tidak mengetahui kapan tanggal ulang tahunmu. Iya. Tidak tahu. Bukan lupa. Dalam ingatanku hanya bulannya saja yang kuketahui tidak beserta tanggal. Namun ketika aku semakin menyadari Januari semakin bergerak kian habis, kenapa ulang tahunmu belum juga muncul?

Maksudku.. di zaman media sosial semarak ini dan kamu begitu aktifnya di jejaring Path. Kenapa lelaguan ulang tahunmu tak bersuara. Maka, siang itu aku putuskan untuk kepoin akun media sosialmu. Mencari tahu kapan hari lahirmu.

Daan… maaf. Aku telat tiga hari. Maaf. Aku tidak memperlakukan ulang tahunmu layaknya kamu memperlakukan ulang tahunku. Maaf.

Jadi.. selamat ulang tahun, lelaki sombong. Ya.. aku memanggilmu begitu. oh.. tidak tepat begitu ya? Biarlah itu menjadi di antara kita saja karena aku tidak ingin mengumbar statusmu di blogku.

Selamat ulang tahun. Serta mulia dan bahagia. Hiduplah lebih bahagia dari hari yang lalu. Hari yang penat yang berhasil kamu lewati. Hiduplah lebih bersyukur pada-Nya. Bersyukur atas apa yang telah dan sedang terjadi pada hidupmu. Semoga rahmat dan anugerah-Nya terlimpah untukmu agar semakin tercapai segala ambisimu.

Ngomong-ngomong soal ambisi. Aku inget betapa ambisimulah yang sekarang menjadi prioritasmu. Aku tidak menghujatnya. Dalam sisi yang profesional aku malah mengagumi ambisimu dan mengganggap begitulah seharusnya lelaki.

Seharusnya…

Ohiya… masih ingat akan lamaran tiba-tibamu saat aku sedang membeli koper? Bukan belagak bodoh tapi awalnya aku memang tidak ngeh. Bagaimana bisa? Kenapa aku? Kok kita? Aneh. Sudah bingung mencari koper yang kece ditambah lagi bingung harus bereaksi bagaimana atas pernyataanmu. Tapi lalu sebuah kalimat, “Liburan aja dulu. Senang-senang dulu. Nanti aja jawabnya,” membuatku akhirnya mampu membuat keputusan. Ya.. keputusan tentang koper mana yang kupilih untuk kubeli.

Lalu deringan telepon darimu mulai kerap. Pesan whatsappmu kian banyak. Rayuanmu kian marak. Pertimbangan-pertimbanganku mulai nyata. Dan kita mulai menyatukan visi dan misi. Mensketsa masa depan. Menggubah masa lalu menjadi pelajaran masa akan datang. Menggoreskan mimpi. Lalu membuat keputusan.

Ambisimu. Toleransiku. Tak cocok.

Adakah yang lebih aneh dari dilamar dan ditolak oleh lekaki yang sama? Iya. Kamu yang melamarku, lalu setelah segala penjelasan dan penjelasan kamu malah menolakku ketika hampir kukatakan iya. Ketika aku memberikan toleransi demi terwujudnya ambisimu. Lalu bahkan toleransiku belum cukup untuk ambisimu.

Dilamar dan ditolak oleh lelaki yang sama. Aneh.

Akhirnya kita menyerah. Aku lelah. Kamu berlalu. Aku tak menyalahkan jarak atau ambisimu. Aku juga tak menghujat Tuhan. Aku hanya menganggap takdir jodoh tidak menyinggungkan perasaanmu pada perasaanku. Kita tidak berjodoh.

Maka.. biarlah kita hanya terus menjadi teman. Teman dari SD hingga sekarang. Teman yang melulu bertemu di sekolah yang sama. SD, SMP, SMA, hingga kuliah di kampus yang sama. Biarlah kita terus seperti itu. Biarlah aku tetap menyebutmu teman SD. Atau teman kampus.

Dan ya.. sosok kawan ngajak kawin tidak ternobatkan untuk kamu padaku.

Iya.. begitu saja.

Jadi.. sekali lagi. Selamat Ulang Tahun. Sehat-sehat dan berbahagialah di sana. Ingat shalat, ingat Tuhan. Teruslah bekerja keras dan menjadi kaya raya namun tak lupa sedekah. Jadilah seorang lelaki yang baik dan temukan jodohmu.

Jangan khawatirkan aku. Bila pun masih tak tertebak kapan aku akan menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang harus merasa beruntung. Pada masa penantian itu, aku akan baik-baik saja. Tetap optimis dan semakin cantik. Kamu jangan pernah menyesali yang telah berlalu. Bukan mendendam, seperti tak ada pisang berbuah dua kali. Tak ada pula lamaran yang kuterima dua kali dari lelaki yang sama.

Ohiya. Sepasang sepatu hadiah ulang tahun darimu untukku September lalu mungkin akan selalu jadi alarm. Setiap kali kupakai otomatis benakku akan teringat padamu. Kamu beruntung.

Sejujurnya aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini. Namun bila terjadi maka mungkin kamu masih penasaran terhadapku. Hahaha.

Bye…

 

Sebuah Film: The Proposal

Hasil dari menonton ulang film The Proposal adalah saya jadi semakin menyadari kalau menikah benar-benar akan mengubah hidup seseorang. Baik mengubah menjadi lebih bahagia, atau mengubah menjadi suram bak neraka. Maka itu, tak heranlah ada sebuah gambar sepasang pengantin menikah dengan latar belakang pantai suram berikut kata-katanya, “Game Over”, yang teman saya temukan di google.

Mari kita bahas Film yang diperankan oleh Sandra Bullock berpadu dengan Ryan Gosling.

Oh no. Ryan Reynolds rupanya. Saya sering kebalik sih ama nama mereka berdua. Kalau soal cakepan mana, saya sih akan menunjuk Ryan Gosling. Menurut mata saya ya.

Jadi film ini mengisahkan seorang wanita karir bernama Margareth Tate yang sangat ambisius dalam bekerja dan tipikal workaholic, independen, single, kaya, cantik, berkuasa, sukses dan ya pokoknya fantastic yang membuat saya berandai-andai agar saya bisa jadi setengahnya aja dari karakter Margareth Tate ini. Tapi mungkin sudah setengahnya sih kalau patokannya adalah status singlenya.

Margareth Tate harus berurusan dengan pihak imigrasi mengenai perpanjangan visanya yang tak ia lakukan hingga telat, lalu pihak imigrasinya memutuskan mendeportasi Margareth.

Demi tidak ingin didepak kembali ke negara asalnya di Kanada  dan kehilangan karir sebagai Kepala Editor di sebuah penerbit buku, sekonyong-konyong ia menjadikan asistennya yang bernama Andrew Paxton (Ryan Reynolds) sebagai tunangannya dan calon suaminya. Secara sepihak Margareth memutuskan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Tentu saja pernikahan ini palsu dan sebuah trik agar Margareth tetap bisa tinggal di Amerika dengan alasan ikut warga negara suami.

Menjelang pernikahan, Margareth menjadi tak tega melanjutkan pernikahan kontrak dengan Andrew. Ia merasa iba dan tak sampai hati harus merusak hidup Andrew yang bahagia dan damai serta dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai Andrew (keluarga, teman dan mantan pacar). Ia merasa, membuat Andrew menikahinya hanya untuk kepentingan pribadinya akan merusak masa depan Andrew. Dan ia tak tega. Tentu saja ia tak tega karena akhirnya perlahan ia mulai mencintai Andrew.

 

Nah.. kalimat perpisah Margareth untuk Andrew –lah yang membuat saya melek (lagi) soal pernikahan.

“…menghancurkan kehidupan seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi ketika kau tahu betapa bahagianya kehidupan orang tersebut.”

Begitulah penggalan kalimat Margareth di depan altar ketika hendak mengucapkan janji nikah. Tentu saja kalimat menghancurkan kehidupan itu berkaitan dengan pernikahan.

Bila mengingat-ingat lagi. Pernikahan memang bisa saja menjadi penghancur masa depan orang. Bila salah satunya menjalani tidak siap, ikhlas, atau tidak cinta. Atau bila siap di awal tapi melupakan tanggung jawab setelah dijalani.

Pernikahan gak melulu membawa kebahagian, itu yang saya amati dari kisah hidup orang. Maka dari itu, alangkah bijaknya, sebelum menikah pastikan dulu satu hal, lamaranmu akan menghancurkan hidup seseorang atau malah membahagiakan seseorang?

Sebaliknya, jawaban “Iya”-mu pada pelamar akan melengkapi hidupnya atau akan membuat suram masa depannya.

 

Pastikan itu. Setelah pasti maka jalanilah sesuai tekad. Karena hidup seseorang bukanlah bahan becandaan karena kita kurang piknik. *note to my self*

Akhirnya tentu saja film The Proposal yang rilis di tahun 2009 ini berakhir Happy Ending. Margareth dan Andrew menyadari kalau mereka saling cinta. Dan pernikahan mereka akhirnya terjadi dengan tanpa paksaan atau kepentingan salah satu pihak. Tidak menghancurkan hidup satu sama lain.

Saya suka film ini. Makanya ini mungkin kali ketiga saya nonton ulang. Saya menyukai karakter Margareth dan saya suka kisah yang memunyai unsur keluarganya. Di mana dalam film ini keluarga hangat dan lucu yang dimunculkan adalah keluarga Andrew.

 

Oke. Silahkan nonton kalau berminat. Kalau gak suka ya bukan salah saya. Beda selera aja sih kita.

Lamaran Jackpot

“Kamu mau dilamar di pantai sambil menunggu sunset, kan. Oke. Siapkan waktu kosongmu. Kita akan ke sana dan aku akan mewujudkan mimpimu.” Itu kalimat terpanjang dengan nafas terburu yang diusahakannya agar terdengar setenang mungkin.

“Kamu melamarku?”

“Belum. Akan. Nanti. Ditempat yang kamu inginkan, di waktu yang kamu dambakan,”

“Kamu sekarang sudah melamarku. Dan gak akan menjadi kejutan lagi nantinya,” Perasaan apa ini? Kenapa ada debaran di dadaku. Tapi kenapa juga aku merasakan kesal?

“Baiklah. Anggap saja ini pra-lamaran.”

“Oh Tuhan…”

Rabu sore. Suasana Pantai Lampuuk tidak begitu ramai. Weekdays memang jarang orang yang berkunjung ke pantai. Waktu menunjukkan lima menit lagi akan berada di pukul 6 petang tepat.

Yusuf sudah berdiri di sebelahku. Sedari tadi suasana agak canggung. Canggung sejak ia menjemputku di kantor.

Langkah kakinya melaju. Tolehan kepalanya padaku seakan menyuruhku mengikutinya. Aku mengikutinya. Dia duduk di pasir pantai. Aku mengikutinya. Meletakkan tas tangan di sebelah kananku. Sepasang high heels berwarna merah yang senada dengan tas tanganku di sebelah kiri.

Jantungku bergemuruh. Mau beradu rebut dengan riak ombak sepertinya. Tapi aku bersyukur ini pantai. Aku berterima kasih pada ombak. Yusuf tak perlu tahu gemuruh detak jantungku. Sama sekali tidak perlu. Sudah cukup pipiku yang memerah yang tidak mampu kusembunyikan.

“Intan, menunggu sunset takutnya entar kita telat magribnya. Aku lamar sekarang aja ya?”

Yusuf melirik jam tangannya. Aku ikut-ikutan. Jarum jam menunjukkan 5 menit sudah berlalu dari jam 6.

“Yusuf, ini cara melamar yang aneh.”

“Entahlah, Intan. Melamar bukan hal yang mudah. Lebih baik kamu diam saja. Kamu tidak tahu pergulatan batin lelaki ketika melamar, kan?”

Mau tak mau aku tertawa mendengar repetan Yusuf.

“Eh itu sunsetnya mulai deh,”

“Oke. 1.. 2… 3…” Yusuf lalu berhitung. Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Ya tentu saja. Ini lamaran. Dan ini aneh. Perpaduan antara deg-degan dan bingung ini sebuah moment absurd buatku.

“Bismillahirrahmanirrahim…” ada jeda dan tarikan nafas dalam ucapan Yusuf.

“Intan, maukah kamu menikah denganku dan menjadi istriku? Bersama hingga kakek nenek?”

Oke. Ini yang namanya lamaran. Setelah penasaran selama 27 tahun akhirnya aku tahu juga perasaan ketika dilamar itu bagaimana. Dan mungkin setiap wanita mempunyai pengalaman dan debar jantung yang berbeda pada sebuah moment lamaran.

Harusnya mudah saja aku mengatakan, iya. Aku mau.

“Kamu mau kalau setelah menikah kita berbulan madu di Lombok?”

Yusuf kaget. Aku lebih kaget. Kenapa malah kalimat itu yang aku ucapkan alih alih Cuma menjawab ‘iya’.

Telanjur. Sudahlah. Otak dan lidahku kadang suka mengkhianti hati. Lain kali aku harus membriefing mereka bertiga agar kompak. Seperti briefing mingguan yang aku lakukan pada kasir dan tiga security kantorku.

“Er… itu agak sulit sepertinya. Mungkin akan susah bagiku mendapatkan cuti setelah cuti dipakai untuk pernikahan dan segala urusannya. Kalaupun bisa cuti mungkin lebih baik yang dekat-dekat saja”.

Aku melotot. Merajuk. Entah sungguhan entah cuma rajukan er… manja mungkin?

“Oke. Baiklah. Aku akan menunggu lamaran lelaki lain yang mau menjadi suamiku sekaligus berbulan madu ke Lombok denganku.” Aku sudah siap memegang tas di tangan kananku dan mengambil sepasang sepatu di tanganku kiriku ketika Yusuf memegang lenganku sepintas yang sepersekian detik kemudian ia lepaskan lagi.

“Oke. Baiklah. Aku mau dan bisa berbulan madu ke Lombok,”

Aku menatapnya tajam. Mencari keyakinan dan kebulatan tekad.

“Aku berjanji, Intan,” pernyataannya separuh meyakinkankan separuh memohon.

Aku senyum, “Oke. Aku mau kamu jadi suamiku.”

“Alhamdulillah… makasih, Intan.”

Aku Cuma senyum geli. “Ya sudah. Yuk kita jalan. Sebentar lagi adzan nih, kita harus cari mesjid terdekat.”

Yusuf bangkit dan berjalan di depanku. Di dua langkah di belakang Yusuf aku tersenyum senang dalam hati.

Menikah dan berbulan madu ke Lombok itu bonus. Dinikahi Yusuf itulah Jackpot-nya.

Terima kasih Tuhan. Ini namanya double combo.

index

(Bukan) Melamar Kerja

Saya baru sampai di kantor sepulang dari bank ketika saya melihat lelaki itu mengintip-ngintip kantor saya melalui pintu kaca hitam di depan. Dengan kemeja hijau, celana rapi tersetrika dan sepatu yang bersih gak mungkin ini abang penjual mie depan kantor menagih pembayaran makan siangku kemarin, pikirku. Saya sapa lelaki ini, “Selamat pagi”

Tampak badanya bergidik terkejut lalu dia menoleh kepada saya. Giliran saya yang terkejut. Cakep. Saya senyum dan bertanya, “Ada perlu apa ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”

Jleb. Saya lemes seketika. Dia tersenyum. Cakep banget.

“Ah iya. Ini saya mau mencoba masukin lamaran” ujarnya sambil menyerahkan amplop coklat ke tangan saya

“Oh.. iya. Makasih, Pak. Nanti akan saya kasih ke HRD-nya” saya senyum. Berharap senyum saya cukup menawan. Dan berharap perusahaan saya membutuhkan lelaki ini bergabung di sini. Aah lumayan. Bisa cuci mata.

“Eh jangan. Jangan kasih ke HRD” ucapnya

“Loh? Jadi ini lamaran mau diapakan kalau bukan ke HRD?” saya heran

“Anda saja yang buka” jawabnya sambil tersipu malu.

“Saya bukan bagian HRD, Pak. Saya accounting” Jawab saya makin heran.

“Iya saya tau Anda bagian accounting. Maka itu saya berharap neraca cinta kita selalu balance. Anda cinta Saya. Saya cinta Anda.” Jawabnya sambil tetep senyum sumringah.

“Bakbudik”* saya terkaget-kaget

“Ini surat lamaran ditujukan bukan untuk perusahaan ini. Tetapi untuk Anda. Mohon dipertimbangkan ya.” Ucapnya menutupi perbincangan dan berlalu begitu saja meninggalkan saya yang bengong memegang amplop coklat berisi surat lamaran.

Sejurus kemudian saya tersadar dan segera menuju meja kerja demi sesegera mungkin membuka surat lamaran itu. Saya baca kalimat ‘dapat menjadi pendamping Anda’ dengan seksama. Lalu saya perhatikan CV-nya.

Kemampuan:
1. Mampu mengoperasikan hati anda agar terus senang. Ya Cuma ANDA.

2. Mampu berinteraksi dengan baik.

3. Berpenampilan MENARIK. Bukankah Anda juga mengakuinya?

Selebih saya tak perduli lagi. Mata saya kembali meliar ke bagian atas CV. No hape-nya.

Saya ambil hp saya dan mengetak-ngetikkan sederet kalimat.

“Sehubungan dengan surat lamaran yang telah saudara kirim ke saya, maka dengan ini saya harap kesediaan saudara untuk dapat hadir pada tahap Wawancara Tahap Awal pada hari Minggu pukul 16.30 WIB di Café Cinta dengan berpakaian yang rapi”**

*Bakbudik. Suatu ucapan jelmaan dari ekspresi terkejut yang sering digunakan orang Aceh.

** Kira-kira beginilah redaksi kalimat sms yang saya dapati bila saya dipanggil untuk wawancara kerja