Adopsi Bayi atau Kucing?

Sebelumnya di: Kesunyian Beda Kelas

3 tahun hidup sendiri makan ditemani kipas angin dan ngobrol dengan dispenser cukup merusak otak saya hingga akhirnya sebelum otak saya rusak parah saya memutuskan:

 

NIKAH ENAK KALI YAK

 

Hidup makin datar. Begitu begitu saja. Bangun pagi pergi kerja. Pulang kerja pergi tidur. Senin sampe sabtu. Minggu. Besoknya senin lagi. selasa. Rabu. Kamis. Jumat. Sabtu. Bulan berganti. Tahun ganti juga. Hidup masih gini-gini aja. Gak ada tantangan.

Mau lanjutin kuliah tapi malas. Lagian otak saya udah tumpul kayaknya. 8X7 aja saya jawabnya mikir. Kalau ditambah sambil kunyah bakwan ngejawabnya bisa sampe menitan.

Kerja udah pas lah. Pas untuk liburan setahun sekali. Pas untuk beli lipstick 500k tapi kembalian 375k.

Tapi bosan.

Saya memulai percakapan di sebuah chat grup sama temen kerja saya.

“Kasih saran dong. Ngapain enaknya biar gak bosan di kosan? Pengen ngadopsi anak bayi deh”

Sambutan lumayan bagus. Mereka menolak keras mengadopsi bayi. Karena untuk pelihara kucing saja saya diragukan.

Ada yang menyarankan pelihara ikan. Ada yang menyarankan merawat tanaman aja karena gak ribet sama kotorannya. Tapi entah kenapa hati saya lebih ke milih merawat kucing.

Konon kucing binatang yang mau mendengarkan. Memelihara binatang bagus untuk orang kesepian. Dan saya pernah ngebaca tweet Raditya Dika tentang hubungannya sama kucingnya. Intinya, kucing binatang yang bisa dijadikan sahabat dan mendengarkan curhat kita.

 

Udah ngerasa aura ngenesnya hidup saya belum sih?

Well… hidup saya memang ngenes. Ngenes akibat hidup sendirian di sebuah desa yang gak ada bakso enaknya.

Suatu malam, saya memulai percakapan dengan seorang teman. Ia yang saya tahu memelihar kucing. Jadinya saya tanya di mana saya pet shop di Banda Aceh, karena saya mau beli kucing. Gak mau kucing kampung. harus kucing cantik supaya bisa masuk instagram buat gaya-gayaan.

Lalu niat saya ditolak keras oleh si temen. Katanya saya gak boleh pelihara kucing. Kasian kucingnya. Nanti pasti saya telantarkan. Kasian kucingnya nanti pasti ngenes hidup sama saya yang gak sayang binatang. Gak sayang kucing. Kasian kucingnya nanti gak dikasih makan sama saya. ya… begitulah komentar pecinta kucing.

Lagi. Saya diragukan tentang kemampuan memberikan kasih sayang dan merawat sesuatu yang hidup.

Tapi kali ini saya gak ngeyel. Saya juga meragukan saya bisa hidup akur sama kucing. Apalagi kalau nanti harus ngajarin kucingnya toilet training. Saya kan judes orangnya. Melihara kucing saya urungkan.

 

Lalu apa?

Pelihara bunga?

Hmmm… adopsi anak?

Aaah… punya anak aja kali yak. Kan lucu.

Tapi…

Nikah dulu kali yak.

 

To be cont…

 

Advertisements

Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.