Biar Seperti Orang-Orang

“Sekarang sih pergi kondangan harus cantik maksimal. Biar ada yang ngelirik.”

“Ada?” tantangku yakin jawabannya tidak.

“Gak.” Jawabnya tertunduk lesu. Saya tertawa. Dia juga tertawa. Kami tertawa.

“Kita dandan cantik. Pergi kondangan. Lalu berharap ada yang merhatiin kita dari jauh lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Gak ada itu sih,” saya balas.

“Iya. Di novel-novel aja itu sih adanya. Lalu kisah cinta semasa kecil. Suka dari kanak-kanak lalu jatuh cinta ketika dewasa dan menikah. Drama doang itu sih. Novel aja.”

Saya tertawa, “Iya. Aslinya gak ada yang kayak gitu di kehidupan nyata.”

“Iya. Gak ada. Novel doang,” dia bersikeras.

“Mungkin karena kita kebanyakan baca novel, Ka. Jadi mengkhayal deh.”

“Mungkin, sih.” Jawabnya males.

 

Iya. Kisah bertemu tak sengaja di keramaian lalu jatuh cinta pada pandangan pertama sebab kita tampil cantik dan anggun itu gak nyata.

Kisah cinta semasa kecil yang terus tumbuh hingga dewasa lalu menikah juga palsu.

Kisah jatuh cinta sebab tak sengaja bertemu dengan orang yang tepat ketika di pesawat juga gak ada.

Disapa lelaki keren ketika sedang duduk cantik di coffe shop drama banget.

Semua itu gak ada di dunia nyata. Kenyataan gak semanis romantis itu.

 

Akhirnya kita pakai cara klasik. Menambahkan akun sosial media seseorang lalu berkenalan via japri.

Atau minta dikenalin sama temen.

Atau minta pin bb perempuan single.

Atau malu-malu tapi mau minta dikenalin sama si bos oleh  ponakannya yang tampan.

Atau dijodohin ortu.

Pake koneksi abang atau kakak.

Yaah semacam itulah.

Agar bisa kayak orang-orang. Menikah.

 

Telepon Rumah

Apakah kamu pernah memunyai pengalaman menelpon atau ditelpon gebetan menggunakan telepon rumah?

Kalau pernah. Kamu tua.onion-emoticons-set-6-46

 

Membaca novel Dilan karya Pidi Baiq membawa kita kembali ke masa lalu. Iya, sih settingan cerita itu terjadi saat saya baru lahir. Padahal penokohannya berumur remaja SMA. Jadi memang bukan di level umur saya. Tapi membaca adegan-adegan yang menggunakan telepon rumah membuat saya tertawa dan mengenang masa lalu.

12980585_10204922753783122_1948718380_n

Iya. Saya sempat berada dalam kondisi di mana telepon rumah masih jaya-jayanya. Telepon rumah di rumah saya dipasang ketika saya SD. Agak telat emang dibandingan rumah-rumah lainnya. Saya ingat ketika kali pertama telepon itu berdering di rumah semua orang gabuk untuk mengangkatnya. Tentu saja yang paling gabuk itu saya dan adik saya. Padahal kala itu adik saya masih kecil banget. Mungkin dia masih TK tapi udah pengen angkat telepon.

Oke. Kita skip bagian itu dan kita masuki bagian saya dan telepon rumah pada momen remaja saya. Ketika SMP saat ada lelaki khilaf yang sedang PDKT sama saya, mereka pasti nanya nomer telepon rumah. Bukan nomer urut absen saya. Karena nomer urut absen ditanyakan hanya pada saat ujian guna menilik apakah seseorang layak dijadikan target nyontek atau tidak.

Umumnya, ketika PDKT saya akan ditelpon di malam hari. Dan biasanya saya akan malu bila yang ngangkat telepon itu orang lain dan ketahuan saya ditelpon oleh lelaki. Dan kamu tahulah telepon rumah itu berkabel, gak nyaman banget bicara di ruang tengah (atau ruang manapun) saat ada orang lain yang bisa mendengarnya.

Keluarga bakal tahu dan paling tidak menerka-nerka apa yang saya obrolkan. Dan biasanya telponanpun tidak bisa berlama-lama. Paling hanya 15 menit paling lama. Lebih dari itu pegel, kuping panas, dan sesak pipis pasti bakal jadi alasan kenapa telepon dihentikan. Ohiya, termasuk juga pandangan mata tajam Ibu saya yang mengindikasikan bahwa saya sudah memakai telepon terlalu lama. Itu baru ditelepon ya, kalau saya yang menelepon, di mata Ibu saya kadang bisa kita lihat percikan api kecil kalau saya gunakan telepon terlalu lama.

Yang menarik dari telepo rumah adalah kemungkinan besar kita bisa berbohong. Saya ini paling takut didekati oleh lawan jenis ketika SMP. Apalagi bila lawan jenisnya lebih tua dari saya. Iya, saat SMP saya lebih sering didekati oleh anak SMA bahkan kuliah. Sekarang juga gak beda sih. Masih didekatin oleh anak kuliah. Tapi sayanya udah tua.

Saya curiga, faktor ketikdakbisaan saya melukis alis membuat umur saya terkamuflase. Pasti banyak yang mikir saya anak kuliahan gegara alis yang tipis ini. Atau bisa jadi, si anak kuliahan itu rabun hingga gak bisa melihat kerutan halus di bawah mata saya. Cih!

Balik ket telepon rumah dan takutnya saya didekati oleh lelaki. Misalnya si lelaki udah nelepon secara rutin di waktu tertentu, biasanya ketika dia telepon lebih dari kali ketiga saya akan meminta bantuan kepada kakak sepupu saya (kala itu kakak sepupu saya tinggal dengan saya) untuk mengangkat telepon dan mengatakan saya tidak ada di rumah.

Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya bagi kakak saya. Kenapa yang kemarinnya saya tidak memperbolehkan siapapun mengangkat telepon pada jam yang saya infokan kini malah saya yang tidak mau menerima telepon. Biasanya, kalau sudah begini, barulah saya ceritakan pada Ibu dan kakak saya bahwa saya takut. Bukan karena lelaki itu jahat atau macam-macam sama saya. Lelaki itu cuma satu macam. Dan macamnya dia adalah menyukai saya. Dan bagi Intan SMP, disukai lelaki adalah hal yang lebih menakutkan ketimbang terlambat masuk sekolah dan kena damprat oleh guru BP (yang terkenal killer).

Dan pernah aja, si lelaki mengubah trik. Dia tidak menelepon pada jam biasanya dan karena telepon rumah saya belum canggih yang mana bisa menampilkan nomer pemanggil, jadilah saya angkat teleponnya. Dan ya, saya kejebak.

Tapi dia menggunakan trik, saya lebih menggunakan trik. Ketika dia berbicara, “Bisa bicara dengan Intan?”

Saya langsung jawab, “Intannya lagi di rumah Tantenya dan bakal balik malam hari,”

entah dia sadar atau tidak saya bohongin dia tapi yang pasti setelah itu dia menutup teleponnya.

Saya pernah berharap telepon rumah saya berpindah lokasi dari di ruang tengah ke ruang tamu yang lebih jarang dihuni oleh penghuni rumah. Namun karena alasan kabelnya hal itu tidak terjadi.

Soalnya saya pernah ketahuan ditembak oleh teman sekolah saya gegara ia menyatakan cintanya lewat telepon rumah. Dan itu sungguh hal yang memalukan ketika diketahui oleh seisi rumah.

Ketika dia nembak dan saya jawab, “Aku gak bisa jawab sekarang, aku bingung. Aku pikirin dulu,” dengan suara perlahan, kakak sepupu yang sedang berada di dekat saya sambil nonton TV langsung tahu itu merupakan indikasi dari pertanyaan macam apa.

Ketika SMA. Telepon rumah masih populer walau kebanyakan orang sudah menggunakan ponsel. Eh pas SMP udah banyak yang gunakan ponsel juga sih, namun saya belum pake ponsel makanya saya masih ditelpon pake telepon rumah.

Saat SMA telepon rumah masih digunakan untuk PDKT bila mau ngobrol lama. Soalnya dulu belum ada paket telepon menggunakan ponsel. Jadi telepon rumah adalah solusi.

Ngobrol ama gebetan melalui telepon rumah mesti pelan-pelan. Ngobrolnya lama sampe pegel. Sampe kuping panas. Dan harus memastikan bahwa sayalah yang angkat telepon kalau gak mau menanggung malu diledekin sama keluarga karena yang telepon lelaki.

“Halo… bisa bicara dengan Intan?”

“Iya, ini Intan.”

“Halo… bisa bicara dengan Bu Lela?”
“Ah iya.. sebentar…”

Telepon rumah. Kadang berbunyi nyaring. Dan ketika diangkat lalu mati seketika. Itu tandanya si penelpon tahu siapa yang angkat dan itu bukanlah targetnya makanya langsung ia matikan. Atau bisa jadi, itu targetnya, namun jantung langsung berdegup lebih kencang dan membuat suaranya tercekat hanya dengan mendengar kata “Halo” dari gebetan.

Telepon rumah. Kita tidak bisa menebak siapa yang mengangkatnya. Dan kita tidak bisa tahu siapa penelponnya.

Dan ya, pernah remaja saat telepon rumah masih jaya-jayanya sesuatu yang sangat pantas untuk diceritakan pada anak cucu.

Kembali

Pada tanggal 4 Februari hingga 11 Februari lalu saya menjalanka cuti dengan agenda travelling ke luar negeri. Demi itu, blog saya kosong hingga kemarin. Ada cerita yang ingin saya abadikan di blog saya mengenai kunjungan saya ke negara tetangga kemarin. Namun rasa malas masih menyergap. Efek libur belum sepenuhnya move on dari saya. Saya masih enggan beraktivitas, terutama kembali bekerja.

Maklum saja, travelling ala backpacker bawa koper selalu menyisakan kelelahan fisik. Butuh cuti setelah liburan sebenarnya. Namun apa bisa dikata bila saya ingin menghemat-hemat sisa cuti saya. Jadinya, kelar liburan dan masih bau pesawat harus udah mejeng di kantor.

Pulang liburan meski masih malas ke kantor dan belum sepenuhnya kembali menjadi wanita karir. Saya tetiba memunyai beberapa ide. Anggap saja oleh-oleh liburan.

Oleh-oleh untuk saya sendiri.

Saya ingin berbisnis. Iya, saya ingin nekad berbisnis. Tahun ini kepikiran dua bisnis yang ingin saya jalani. Satu bisnis kecil-kecilan yang insyaallah akan launching di awal bulan tiga nanti. Satunya lagi bisnis besar dengan modal gede. Jadi tahun ini pelaksanaan bisnis kedua hanyalah seputar bisnis plan dan survey.

Ya.. dengan mengucapkan bimillahirrahmannirrahim, saya mantap ingin jadi wanita pebisnis. Allahumma aamiin..

Jadi kalau ada yang nyariin saya, katakan aja saya lagi sibuk bikin bisnis plan.

Bye.

Aneh-anehnya Security

Mungkin agak kurang pas pendengaran.

Saya: M… tolong tutup pintunya

Security: Iya, Bu.

Lalu hening…

Saya: * ulang* M, tolong tutup pintunya

Security: *hening

Pintu masih terbuka. Lalu saya bangkit dari kursi melongok ke ruang nasabah tempat security bertengger di dekat pintu masuk outlet.

Saya: M… tutup pintu saya bilang, kan? *nada suara meninggi

Security: Udah Bu.

Saya: Mana?

Security; Ini lampunya udah mati, Bu.

Saya: Masyallah… Saya bilang tutup pintu.

Security: Iya, Bu.

*Masih anteng gak nutup pintu

Saya: * Bangkit dan keluar ke ruang nasabah menuju pintu masuk outlet.* Saya bilang, tutup pintu. Pintu. * sambil nunjuk pintu dan nutup dengan penuh angkara*

Security: *Cengengesan genit

Masih Security sama dengan Pengelola berbeda. Telinganya harus diperiksa.

Pengelola Tampan: M… tolong hidupkan lampu.

Security: *pergi ke belakang lalu muncul dengan sapu

Pengelola Tampan: tolong sebentar hidupkan lampunya.

Security: Ini, Pak. *ngasih sapu

Pengelola Tampan: Buat apa?

Security: Tadi bapak minta.

Pengelola Tampan: * istighfar sambil salto*. Ya udah kamu sapu di sini yang bersih. Setelah itu hidupkan lampu ya. Lampu. *nunjukin tangan ke lampu

Security: Iya, Pak.

Akronim yang ambigu.

Saya: tolong antarkan saya ke PP**, ya?

Security MZ: Iya, kak. Boleh.

Saya: * ngerasa ragu*. Kamu tau PP kan?

Security MZ: Taulah, Kak. * muka sombong*. Pulang-Pergi kan, Kak?

Saya: *melongo *

**PP merupakan singkatan lazim yang banyak diketahui orang dari Pante Pirak. Sebuah swalayan yang sempat berjaya di Aceh sebelum wabah Indomaret masuk dan Suzuya kini berkuasa.

Alarmnya Jangan Ditekan

Saya: Bang J, kita test alarm ya?
Satpam J: Iya, Bu Intan.
Saya: Saya tekan ntar Bang J langsung matikan ya?
Satpam J: Siap, Bu Intan.
Saya: Oke. *siap tekan tombol*
Satpam J: Bentar, Bu Intan. Jangan ditekan. *Panik*
Saya: Kenapa?
Satpam: Nanti alarmnya hidup.
Saya: Ya namanya juga test alarm, Bang J -____-“

Dibetah-betahin

Banyak yang komentar sok tau dengan mengatakan, “Betah kali kayaknya di Pidie Jaya ya?”. Komentar sok tau itu juga pernah keluar dari mulut orang tua saya. Yang lalu saya jawab, “Kalau betah gak tiap wiken adek pulang, Mi.”

Kalau temen yang sesekali jumpa lalu ngasal komentar gitu sih saya kasih senyum pepsoden aja. Malas jelasin.

Bukan betah. Yang ada hanyalah bertahan hidup. Demi berlian di jari, tiket pesawat buat liburan, lipstick 500 k, dan dompet Charles & Keith. *edisi sombong*

Sebenarnya saya suntuk di lokasi penempatan saya kerja. Sebuah kampung yang sering mati lampu. Hari-hari yang saya lalui hanyalah menghitung kapan Sabtu tiba. Senin menjadi pengawal Minggu yang malas tapi kerjaan pasti sibuk banget untuk perusahaan jasa keuangan yang saya geluti. Selasa menunggu Rabu. Rabu terasa lama. Kamis juga lama. Jumat senyum mulai terkembang dan Sabtu senyum lebar karena bisa pulang ke rumah orang tua.

Di Pidie Jaya saya Cuma menghitung hari. Kalau di kantor saya ngeliatin jam dinding, berharap jarum jam berlari cepat ke arah jam 3. Sepulang kantor rutinitas standar dan gitu-gitu aja dimulai.

Pulang kantor.

Mandi.

Shalat.

Tidur/nonton/main game/masak

Kalau tidur bangun pas adzan margib.

Kadang kalau datang sisi alimnya: bisa ngaji, zikir, doa minta jodoh yang panjaaaaaang banget doanya sambil tunggu isya.

Kalau lagi datang setan malas: Doa alakadarnya. Lipet mukena.

Dan nonton sambil makan malam.

Baca novel/main game. Belakangan sering main game duel otak. Ya mumpung punya otak ya di pake ya. Sebelum dijual ama adek saya ke OXL.

Shalat Isya.

Lanjut nonton. Sambil chating di grup angkatan sesama pegawai Perusahaan satu angkatan. Belakangan grup ini sering rame. Obrolannya cukup menghibur kami-kami yang penempatan di rantau jauh dari keluarga dan minim fasilitas hiburan karena di pelosok desa.

Terkadang saya juga chating sambil curhat sama sahabat-sahabat.

Terkadang ya gini, bikin tulisan buat blog sambil dengerin musik.

Jam 11 paling cepat saya tidur. Paling telat jam 12. Lewat dari itu jerawatan.

Bangun tidur pergi kantor. Dan hari terulang kembali begitu-begitu saja.

 

Saya betah banget di Pidie Jaya?

Dibetah-betahin iya. Yaaa.. selama masih hidup dan gaji rutin masuk ke rekening sih ya gitu, dibetah-betahin.

Dibetah-betahin.

Sekali lagi, dibetah-betahin.

Oke. Saya udah ngantuk. Bye.