Kala itu, Sepanjang Luengputu-Banda Aceh

Juni 2016 saya dimutasikan ke kantor Cabang Banda Aceh. Kembali ke rumah orang tua. Meninggalkan sebuah desa yang membuat saya selalu merasa sepi di desa yang memang sepi. Meninggalkan semua hal yang tidak pernah saya sukai. Meninggalkan luka hati sendirian. Meninggalkan sebuah kamar kos berukuran 3×4 yang merekam jejak pilu kesepian saya, tangis amarah saya akibat dipermainkan oleh orang, menangkap aroma keringat sepulang kantor, kamar yang memeluk saya dengan suasana hening menyengsarakan.

Saat itu saya tengan tiduran, sambil megang hape. Suatu aktivitas yang kerap saya lakukan sepulang kantor. Ponsel saya berdering dan menampilkan nama Bos saya. Saya angkat. Lalu beliau mengabari kalau saya mutasi ke cabang Banda Aceh. Dan mulai bekerja di sana pada tanggal 1 Juni.

Masih tak percaya awalnya karena si Bos yang suka becanda. Namun akhirnya saya girang bukan kepalang. Itu artinya, bulan puasa tahun 2016 gak berulang dua kali saya habiskan di Luengputu sendirian. Itu akhirnya bulan puasa tahun 2016 saya kembali ke keluarga saya. Itu artinya hidup ditemani dispenser dan kipas angin berakhir sudah.

Demi meluapkan kebahagian. Saya peluk kipas angin. Saya kabarkan kalau kami bakalan meninggkan desa ini untuk tinggal di rumah Ibu saya. Dia (kipas angin) ikut bahagia. Hal itu dibuktikan dengan masih berputarnya kipas dengan kencang untuk menghilangkan keringat bau saya di kamar kos pengap itu.

Lalu saya kabari adik dan ibu saya. Mereka senang. Tentu saja.

Lalu saya meragu untuk mengabari seseorang lagi. Seseorang yang sebulanan itu tengah dekat dengan saya.

Akhirnya saya telponlah beliau itu. Rupanya ia sama senangnya dengan keluarga saya. Lalu ia menawarkan diri untuk menjemput saya ketika saya pindahan.

 

Saya iyakan saja walaupun ini suatu hal yang aneh bagi saya. Selama hidup saya jarang bergantung pada orang lain selain keluarga inti. Jadi ketika ada yang repot repot mau ngejmeput saya pindah dari Luengputu ke Banda Aceh yang berjarak 3 jam perjalanan merupakan hal baru bagi saya. Saya anti bergantung pada orang lain yang bukan keluarga.

 

Ibu saya aja, saking cuek dan mandirinya saya gak lagi bertanya apakah saya butuh bantuan beliau dan ayah saya untuk pindahan. Karena ibu saya tahu, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri. Toh ini bukan kali pertama saya pindahan antarkabupaten. Selama 3 tahun kerja di perusahaan sekarang. Saya udah pindah kosan 3 kali. Dan selalu pindahnya jauh jauh. Saya kemas barang barang saya sendiri, saya angkut sendiri dan kadang dengan bantuan security kantor saya. Saya cara angkutan untuk pindahan sendiri. Dan cari kosan sendiri. Semua sendiri sudah biasa. Maka ketika dibantu saya justru tak biasa.

 

Singkat cerita hari kepindahan saya tiba. Sesuai yang dijanjikan lelaki itu datang menjemput saya. untuk pertama kalinya saya pindahan dengan bantuan orang lain. Barang barang saya diangkatin. Saya tak perlu berlelah-lelah. Semuanya lelaki ini yang angkut.

Siang itu Luengputu panas sekali. Ditambah dengan aktivitas mengangkat-angkat tersebut peluh bercucuran dari pelipisnya. Membasahi wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, hati saya tersentuh. Tangan saya tergerak untuk mengusap peluhnya. Sudah setengah jalan mendekati wajahnya lalu saya urung. Saya turunkan tangan saya. Dia menyadari hal itu, dia hanya tersenyum dan mengusap peluh yang tidak jadi saya lakukan.

Setelah itu saya hanya memberinya sebotol air minum dan tissue. Untuk ia tuntaskan mengelap peluhnya. Kala itu, di melelehnya keringatnya, hati saya meleleh.

 

Sudahkan saya merasa jatuh cinta?

Saya terus bertanya pada diri saya sepanjang perjalanan kami dari kosan saya di Luengputu hingga ke rumah di Banda Aceh.

Ataukah mungkin hanya karena ini suatu hal yang baru bagi saya? Menerima kebaikan hati seorang lelaki untuk membantu saya.

Mungkin ini hal sepele bagi orang lain. Sepele bagi seseorang yang memang selalu tersedia lelaki untuk memecahkan masalahnya dan meringankan bebannya. Namun bagi saya, ini suatu hal baru yang tidak biasa. Amat janggal.

 

Mutasi ini sendiri menurut saya sebuah hal yang seperti berkaitan dengan dirinya. Sebulan mengenalnya saya langsung dimutasikan. Feeling saya ketika itu adalah, sepertinya Tuhan ingin mencetak jejak langkah baru menuju jodoh buat saya. Didekatkan-Nya, dimudahkan-Nya.

Langkah awalnya adalah diletakkannya kami di satu kota. Kota tempat kami tinggal. Agar terhindar dari LDR.

 

Lalu, hati saya ketika itu mencelos lugu.

 

Iyakah, saya akan berjodoh dengan lelaki ini? Iyakah, mutasi ini salah satu cara Tuhan membuat langkah saya menuju jodoh saya menjadi dekat?

 

Pertanyaan yang terus saya ulang-ulang sepanjang perjalanan dari Luengputu ke Banda Aceh. Kala itu.

 

 

to be cont…

Advertisements

Kepatahhatian (1)

Saya tipikal perempuan sensitif nan perasa. Iya. Boleh gak percaya. Boleh terbahak. Bebas. Muka jutek, nada bicara judes dan gaya serampangan gak cocok emang kalau mau mengaku hatinya ini sensitif dan mudah tersakiti.

 

Namun nyatanya, untuk beberapa hal saya bisa menangis haru. Meski menurut adik saya bahkan pilem india yang tingkat sedihnya level juarapun tak mampu membuat saya menitikkan air mata.

Saya orang yang tidak bisa dikecewakan. Tidak boleh ditinggalkan. Tidak suka dilupakan. Bila hati saya telah saya percayakan pada satu orang, lalu bilang orang tersebut mengkhianati saya. Hancurlah perasaan saya.

Ini tidak hanya soal asmara pada lawan jenis. Namun ini juga berlaku kasih sayang pada keluarga. Romantisme persahabatan. Dan hormat dan menghargai pada rekan kerja atau bos.

 

Saya ingin bercerita…

Tentang bagaimana sakit hati saya ketika saya mengetahui bos saya pernah lain di depan saya lain di belakang saya. Tentang bagaimana ia manis di depan saya namun menjelekkan di belakang saya. Dia adalah sosok yang saya hormati. Saya banggakan pada teman-teman sekantor yang lain. Amat sering saya memuja kelebihan, kehebatan, kepintaran dan kebaikan bos saya. Tentu saja untuk dibandingkan pada bos mereka. Intinya, pada bos itu saya jatuh hati. Jatuh hatinya seorang bawahan pada atasan. Sebuah kisah jatuh hati dalam sebuah keprofesional.

Untuk memastikan tidak ada pembaca yang menafsirkan metamofa saya dengan pikiran pendek lebih baik saya jelaskan. Maskud kata-kata “jatuh hati” di atas tidak sama seperti perasaan jatuh hati sama lawan jenis ya. Maksdunya hanya perasaan hormat dan kagum pada atasan.

Lanjut…

Lalu pada suatu ketika saya mengetahui suatu hal. Bahwa kejelekan saya sebagai anak buahnya pernah ia sebarluaskan pada semua orang. Semua orang kecuali saya. Disitu terhenyak kecewa saya. Pikir saya ia sosok bijaksana. Yang akan mengevaluasi kesalahan anak buahnya hanya demi kebaikan anak buahnya. Akan menegur langsung anak buahnya bukan membicarakan anak buahnya di belakang. Yang paling membuat saya menjadi seperti orang bodoh adalah saya tidak pernah benar-benar tahu kesalahan saya apa karena tidak pernah ditegur. Namun semua rekan sekantor mengetahui apa salah saya. Yang paling membuat saya terlihat konyol adalah tentang saya yang terus bertingkah semua baik-baik saja yang padahal tidak. Semua karena tidak pernah ada teguran atau peringatan atas apa yang saya lakukan. Yang lalu hanya saya terima adalah hukuman. Hukuman tanpa tahu salah saya apa.

Kecewa iya. Terluka sangat. Dan jangan tanya kepatahhatian apa yang saya rasakan. Rasa kepercayaan saya pada seseoang terus makin kikis makin tipis. Semuanya terasa sadis.

 

Sejak itu saya memandang curiga pada semua orang sekantor. Pindah ke kantor baru membuat saya seperti harus memasang tembok pertahanan untuk diri sendiri. Untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang. Tidak terlalu kagum pada orang. Dan tidak usah terlalu dekat dengan atasan. Awalnya… saya jalani kehidupan di kantor dengan kepribadian robot. Diam bila tak perlu bicara. Menghindari keramaian dan manusia. Dan saya menatap mata-mata yang seolah memojokkan dan menyalahkan saya.

 

Butuh berbulan kemudian untuk move on dari patah hati. Untuk bisa menerima kekecewaan atas kepercayaan pada mantan bos. Hingga pada suatu pertemuan kantor ketika saya bertemu dia (si bos), saya bisa menjabat tangannya, menanyakan kabar, dan lalu mencandai satu sama lain seperti biasa. Seperti dulu. Kalau kata temen saya. saya udah baikan sama bos saya. Ya meskipun mantan bos saya gak tau saya marah padanya, seperti saya tidak tahu bahwa ia tak suka cara kerja saya. Tapi setidaknya saya sudah memaafkan. Memaafkan sakit hati yang ia ciptakan. Runtuhnya kagum saya padanya tak bisa saya bangun lagi.

 

Begitulah perasaan saya. begitulah sakit hatinya saya ketika dikecewakan seseorang ketika sosoknya telah saya pigura rapi di hati saya.

 

 

Aneh-anehnya Security

Mungkin agak kurang pas pendengaran.

Saya: M… tolong tutup pintunya

Security: Iya, Bu.

Lalu hening…

Saya: * ulang* M, tolong tutup pintunya

Security: *hening

Pintu masih terbuka. Lalu saya bangkit dari kursi melongok ke ruang nasabah tempat security bertengger di dekat pintu masuk outlet.

Saya: M… tutup pintu saya bilang, kan? *nada suara meninggi

Security: Udah Bu.

Saya: Mana?

Security; Ini lampunya udah mati, Bu.

Saya: Masyallah… Saya bilang tutup pintu.

Security: Iya, Bu.

*Masih anteng gak nutup pintu

Saya: * Bangkit dan keluar ke ruang nasabah menuju pintu masuk outlet.* Saya bilang, tutup pintu. Pintu. * sambil nunjuk pintu dan nutup dengan penuh angkara*

Security: *Cengengesan genit

Masih Security sama dengan Pengelola berbeda. Telinganya harus diperiksa.

Pengelola Tampan: M… tolong hidupkan lampu.

Security: *pergi ke belakang lalu muncul dengan sapu

Pengelola Tampan: tolong sebentar hidupkan lampunya.

Security: Ini, Pak. *ngasih sapu

Pengelola Tampan: Buat apa?

Security: Tadi bapak minta.

Pengelola Tampan: * istighfar sambil salto*. Ya udah kamu sapu di sini yang bersih. Setelah itu hidupkan lampu ya. Lampu. *nunjukin tangan ke lampu

Security: Iya, Pak.

Akronim yang ambigu.

Saya: tolong antarkan saya ke PP**, ya?

Security MZ: Iya, kak. Boleh.

Saya: * ngerasa ragu*. Kamu tau PP kan?

Security MZ: Taulah, Kak. * muka sombong*. Pulang-Pergi kan, Kak?

Saya: *melongo *

**PP merupakan singkatan lazim yang banyak diketahui orang dari Pante Pirak. Sebuah swalayan yang sempat berjaya di Aceh sebelum wabah Indomaret masuk dan Suzuya kini berkuasa.

Alarmnya Jangan Ditekan

Saya: Bang J, kita test alarm ya?
Satpam J: Iya, Bu Intan.
Saya: Saya tekan ntar Bang J langsung matikan ya?
Satpam J: Siap, Bu Intan.
Saya: Oke. *siap tekan tombol*
Satpam J: Bentar, Bu Intan. Jangan ditekan. *Panik*
Saya: Kenapa?
Satpam: Nanti alarmnya hidup.
Saya: Ya namanya juga test alarm, Bang J -____-“

Membicarakan Bos

Sesi ngobrol cantik bersama dengan teman yang cantik-cantik dan saya yang juga tak kalah cantik *tsah* diwarnai banyak topik. Banyak topik yang menyita waktu yang tak sedikit. Dari makan siang hingga berpindah tempat ke sebuah restoran menikmati lelehan eskrim.

Tetiba saya menyimpulkan sesuatu dari obrolan ke obrolan. Dari satu sesi nongkrong ke sesi nongkrong lainnya. Dari tahun ke tahun. Dari pekerjaan pertama ke pekerjaan ke dua. Dari kantor pertama ke kantor kedua, ketiga dan entah hingga kapan.

Kesimpulan saya adalah, seringnya kami menggosipkan bos kami ditengah-tengah pembicaraan soal nostalgia semasa kuliah, rumah tangga (bagi yang sudah menikah), jodoh, teman. Persoalan karir yang paling sering dibahas. Mungkin frekuensinya sebelas dua belas dengan persoalan jodoh. Tapi membahas karir dengan segala lika liku lucu namun juga kadang bikin menggerutu adalah sebuah hal seru.

Membicarakan bos salah satu subtopik dibalik pembahasan karir.

Saya sudah bekerja di tiga tempat. Dua orang teman di dua tempat. Seorang lagi setia di satu kantor dari semenjak lulus hingga sekarang. Dari kantor pertama hingga kantor sekarang kami selalu membicarakan bos kami.

Saling beradu bos mana yang paling reseh. Bos mana yang paling aneh. Atau bos mana yang paling juara sifat baiknya hingga disayang karyawan.

Dibalik itu pasti ada cerita ketika si bos yang reseh kadang bisa jadi super lucu. Si bos yang baik hati bisa jadi super nyebelin. Si bos yang pendiam bisa juga ngakak ternyata. Bos perempuan. Bos laki. Kami punya. Kami punya semua cerita.

Nasib menjadi bawahan. Kita memang tidak bisa memilih siapa bos kita. Tapi kita bisa menghibur diri kita akan tingkah bos kita dengan menceritakan bos kita kepada teman. Lalu teman lainnya mendengarkan, menimpali atau malah menambahkan cerita tentang bosnya.

Teringat saya akan sebuah novel My Stupid Boss yang pernah saya baca ketika semasih kuliah. Ketika membaca itu saya geleng-geleng kepala sembari ngakak hebat membaca tingkah bos yang diceritakan di novel tersebut. Kadang ngerasa gak habis pikir dan gak masuk di akal ada seorang bos dengan tingkah luar biasa demikian. Namun akhirnya saya alami juga.

Iya. Ketika saya bekerja barulah saya temui kalau bos pada ada sifat dan sikap anehnya. Tapi memang bos-bosnya saya gak sampe luar biasa sikapnya kayak si bos di novel tersebut. Namun kalau saya kumpulkan bos saya dan bos teman-teman saya, pasti ada 3-4 tingkahnya mereka masing-masing yang mirip kelakukan si Pak Bos di novel My Stupid Boss.

Jadi ya begitulah sejatinya menjadi Bos ya. Dibicarakan anak buah.

 

 

 

 

Alter Ego

Mulanya saya tak ingin blog saya ini dibaca oleh rekan-rekan sekantor. Termasuk Facebook saya. Namun ada beberapa kondisi akhirnya saya terpaksa menerima permintaan pertemanan di facebook oleh rekan kantor saya yang dulu. Lalu setelah diterima saya atur privasi-nya agar segala status dan postingan blog yang otomatis ter-update ke lini masa facebook, gak dapat terlihat oleh mereka, teman sekantor saya.

Kantor kedua saya lakukan hal serupa tapi lalu terkaget-kaget ketika mendapat Manajer Auditor saya malah menemukan blog saya bahkan tanpa berteman di FB. Sungguh jiwa auditor-nya benar-benar sangat kompeten. Tak usah diragukan. Dibaca. Ya sudahlah.. terkuaklah siapa saya sebenarnya.

Karena blog ini senyata-nyatanya saya. sebenar-benarnya pikiran saya, dari mulai pikiran aneh, serius, kadang nyebelin atau bahkan sisi vulgar saya terungkap semua di blog. Bagaimana keadaan saya, sedihkah, senangkah, bahagiakah, semua terpatri nyata di blog ini. Maka itu saya ingin sembunyikan ke komunitas professional saya. Yaitu lingkungan kerja.

Di kantor ketiga, saya berteman di facebook dengan teman sekantor. Namun hanya yang seangkatan saja. Belakangan karena ngerasa tidak enak oleh permintaan teman satu perusahaan yang kian banyak bahkan dari kalangan bos, maka saya terimalah mereka di FB. Kali ini mengingat saya sudah banyak insyaf-nya dengan tidak menulis status aneh-aneh maka saya biarkan tanpa settingan privasi.

Hal itulah yang membuat akhirnya blog Kura kura Hitam menjadi diketahui oleh beberapa rekan kerja. Awalnya seperti biasa, saya tak menduga mereka akan membacanya namun akhirnya saya tahu mereka membacanya. Dan sudahlah… saya biarkan saja pun ini blog untuk khalayak umum. Lagian pembaca lama juga udah jarang nongol. Kan saya sedih kalau jumlah visitor blog saya menurun. Ini aja udah menurun setengahnya dari jumlah visitor 2-3 tahun lalu loh.

Ada alasan kenapa saya tak ingin berteman dengan rekan kantor di FB atau pun rekan kantor membaca blog saya. karena FB dan blog saya menjadi Intan yang suka ngasal, cekakakan, tak elegan namun banyak fans-nya. Hahaha..

Alasannya adalah saya ingin menciptakan wujud Intan yang lain di dunia kerja. Ya, saya membuat alter ego ketika di dunia kerja. Alter ego yang saya ciptakan dengan karakter seorang Intan yang elegan, pendiam, tegas, keras, tangguh, professional, berkelas, cerdas, dinamis, dan segala hal yang membuat image wanita karir melekat erat di wajah saya.

Gagal? Sepertinya.

Hahahah..

Namun tidak 100% gagal. Alter ego yang saya ciptakan berhasil setidaknya setengahnya menurut saya. Karena beberapa orang masih tidak tahu seberapa amburadulnya isi otak saya yang saya tuangkan di sini. Segimana parahnya saya, dan segimana vulgarnya kadang saya berpikir. Karena masih saja tuh saya di cap, “Intan tuh rada pendiam ya orangnya?”

Pendiam? Are u sure?

Saya bahkan bisa menari hula-hula kalau pikiran saya stress dan bisa salto-salto kalau gelisah. Namun ya itu, saya berusaha tidak terlalu grasak grusuk.

 

Di awal bergabung dengan perusahaan sekarang ini saya ingat saya pernah menjadi orang pendiam dan hanya fokus sama diri sendiri. Karena saya tidak ingin berbaur. Tidak ingin mereka tahu betapa tidak elegannya saya. Namun apa daya, diklat selama hampir 3 bulan di Surabaya dan bersama satu atap dari bangun tidur hingga tidur lagi membuat siapa saya sesungguhnya terlihat. Tak bisa ditutupi. Ya sudahlah. Alter ego kembali gagal saya kembangkan.

 

Kenapa saya terlalu kepengen menciptakan alter ego yang elegan dan bla bla bla seperti yang saya sebutkan di atas. Mungkin karena saya jengah disepelekan. Dengan tingkah saya ini, banyak teman yang seakan tak rela dan tak percaya ketika saya mendapatkan prestasi di kelas semasa sekolah ataupun masuk ke dalam peringkat 10 besar di kelas inti pula.

Dengan tingkah saya ini yang agak serampangan saya pernah sakit hati ketika seorang abang angkatan semasa kuliah berkata, “Sama Intan untuk apa sopan-sopan dan jaim. Intan-nya aja kek gitu,” oh.. sungguh mematahkan hati saya. Entah kenapa saat itu saya sirik dengan sahabat saya yang gak pernah dirayu atau digoda lelaki karena sifatnya yang cool hingga membuat lelaki segan mendekatinya. Kalau mau dekati dia, saya dulu yang diincer ama orang untuk mengorek tentang sahabat saya itu. Sementara bila ada lelaki yang naksir saya, mereka akan maju tanpa babibu tanpa perantara. Entah kenapa saya tidak suka.

Bentar ya, saya mau ketawa dulu. Inget tentang masa kuliah dulu banyak hal yang bisa ditertawakan emang. Apalagi piciknya pikiran saya ketika itu.

 

Sekarang ini keinginan saya membuat alter ego di dunia kerja hanya semata ingin dianggap sebagai seorang wanita karir. Wanita karir sesungguhnya yang tangguh. Yang bisa bekerja. Yang cerdas, cantik dan berkualitas.

Tapi ya sudahlah… alter ego buatan memang tak bakal menjadi sempurna. alter ego sedemikian rupa biarkanlah hanya dalam angan saya. Dalam angan yang mungkin bisa saya hidupkan menjadi karakter cerita fiksi saya. Makanya, kalau membaca fiksi saya kebanyakan saya memakai nama sendiri untuk nama tokohnya. Hal yang membuat beberapa orang kepo dan mengira itu adalah cerita nyata saya.

Dan inilah, bagi teman-teman yang telah membaca blog saya dan melihat bagaimana gaya saya menulis. Kenalilah saya seperti ini. Seorang Intan yang selalu mengaku cantik, cerdas, berkualitas, hobi menulis namun tak kunjung menjadi penulis, masih terus berusaha untuk gemuk dan tetap memimpikan bisa menjejakkan kaki di Belanda sebelum usia saya usai.

Namun bila kamu mengenali saya dengan cara yang lain, dengan cara yang berbeda. Seperti judes, egois, pemarah, blak-blakan, itulah sesungguhnya saya, Intan yang sesungguhnya.

Tapi bila kamu punya deskripsi lain selain hal-hal di atas. Ya sudah. Suka-suka kamu ajalah.

Terima kasih atas kunjungannya. Rajin-rajin ke mari ya. Supaya total kunjungan perharinya banyak.

 

Karena Poto Selembar Rusuh Anggota Seangkatan

Sebuah grup BBM lagi rusuh. Sedang ada yang dibully. Aksi bully akibat salah seorang anggota grup kedapatan berpoto berdua dengan lelaki.

Siyalnya. Perempuan di poto itu adalah saya.

Poto biasa aja sih. Tak ada cerita di balik poto tersebut. Hanya sekedar seorang fans yang minta poto bareng idolanya *disiram air uji sama satu angkatan*

Namanya juga grup haus hiburan. Namun ketimbang haus hiburan para anggotanya lebih haus kasih sayang. Makanya, ada poto sedemikian rupa jadi heboh. Ini bukan kali pertama. Ini keusilan kali kesekian.

Grup ini adalah grup yang terdiri dari orang-orang yang pernah diklat bareng ketika pengangkatan pegawai tahun 2013 di perusahaan saya. Grup ini mempersempit populasinya dengan hanya beranggotakan teman-teman yang diklat bareng dan berada di Kelas 1 Penerimaan Angkatan 2013 saja.

Tentang poto saya itu. Udah saya abaikan tapi komen temen-temen tetep aja bikin gatel jari saya tuk bales. Akhirnya setelah mereka meminta klarifikasi saya katakan kalau lelaki yang dimaksudkan hanyalah seorang fans. Namun yang terjadi adalah hal berikut yang akhirnya menjadi titik mula terbentuknya postingan ini.

“Fans—>Kagum—>Cinta

Seperti integral. Integral (∫) tingkat satu itu fans. Dideferensialkan menjadi kagum. Deferensialkan lagi jadi cinta.”

(Firdaus Safran. Panggil Bang Fir jangan Bang Daus. Lelaki terganteng di kelas 1 angkatan 2013. Digadang-gadang sebagai Direksi di era mendatang. Kini menuai penghasilan bulanan dengan menjadi Kepala Unit di Sinabang. Jauh ya? Iyak. Sinyal aja suseh)

Membaca komen seperti itu saya tergelitik membalas

“Dalam akuntansi, fans diletakkan di neraca. Bagian aktiva. Tapi aktiva tidak berwujud. Tidak berwujud cinta.”

(Intan. Pemilik Blog Kura kura Hitam. Korban bullying. Selalu mengaku cantik, cerdas dan berkualitas yang ditempatkan sebagai Kepala Unit di Luengputu)

Dibalas lagi oleh alumni Fakultas Hukum.

“Fans adalah terpidana hati. Karena telah mencuri hati idolanya.”

(Nasrial, dipanggil ‘Uda’ meski bukan berdarah Minang. Single, Available dan jangan ragukan harta yang dimiliknya. Dia punya brangkas berisi harta hasil jerih payahnya yang kemudian kami sebut sebagai OSL. Jangan tanya apa itu OSL. Tapi kalau mau tanya no hape Uda Nasrial dipersilahkan di kolom komentar.)

Membaca komentar tersebu,t saya memancing para anggota grup lainnya untuk memberi komentar bernada sama namun sesuai background pendidikan masing-masing.

Dan inilah dia.

“Cintanya ibarat autonomous consumption. Ada atau gak ada uang, aku tetap butuh kamu.”

(Yuni, Calon Ibu Muda yang tengah hamil tua. Kepala Unit Rimo yang jauh di mato.Kini sedang mendelegasikan tugasnya pada teman seangkatan lain yang tidak berdosa karena mengaku tengah menjalani cuti yang bikin sirik)

“Cinta selalu disirami kebahagian, dipupuki oleh kebersamaan dan disinari oleh kehangatan cinta abadi. Sehingga hubungan ini akan berbunga mekar di pelaminan.”

(Andi, S1 di Pertanian lalu S2 di Manajemen. Dinobatkan sebagai Kepala Unit paling rajin promosi. Wilayah kekuasannya Manggeng)

Cinta itu menguatkan. Layaknya suatu bangunan yang indah. Dimulai dengan air, pasir, dan semen. Menyatu, menguatkan setiap balok, kolom dan dinding.

(Arif, background pendidikan Teknik Sipil, pekerjaan sampingan adalah sebagai ustadz-nya angkatan 2013, penggemar Ustad Yusuf Mansyur, kadang baca blog saya juga. Kepala Unit Calang yang suka pamer lobster)

“Melekat erat bagaikan aspal yang merangkul material A dan filler untuk menuju jalan yang lebih baik.”

(Rahmad. Masih mencoba menjadi Playboy. Saya baru tau dia jurusan Teknik Sipil. Kirain Teknik Industri. Mintalah donat padanya ketika kamu ulang tahun karena dia yang paling baik hatinya)

“Menemukanmu menghentikanku mencari arti penyesuaian atas jurnal kasih yang pada akhirnya menyeimbangkan neraca kehidupan.”

(Rinaldy, Peraih Pon 3 kali namun saya kurang tahu apa jenis medalinya, bertubuh hampir 2 meter. Meski berwajah baby face dan punya pribadi yang super, maaf ladies. He is sold out. Baru saja menjadi pengantin baru. Baru sekali)

The last but ya… least.

“Cinta mereka…Cuma sekedar endofrin dan interaksi individual dengan komposisi 75:25”

(Dimas. Lama menghilang di grup dan baru muncul kembali. Akhir-akhir ini ada yang mengadu kalau habis di-delcon sama dia)

Itu dia komentar dari beberapa teman saya. Sisanya yang berjumlah belasan orang hanya jadi tim hore-hore. Berkomentar merusuh suasana.

10 September yang Kasak-kusuk

Ini postingan yang telat banget kalau saya mau membahas perihal ulang tahun saya yang ke dua puluh sekian jelang tiga puluh. Telat sebulan lebih. Tepatnya saya berulang tahun pada tanggal 10 September. Tadinya saya gak mau dan (beneran) gak sempat tulis perihal ulang tahun saya. Tapi karena sekarang lagi rajin-rajinnya nulis ngalahin rajinnya tahajud minta jodoh maka saya tulis meskipun terlambat.

Ulang tahun kemarin ulang tahun paling singkat menurut saya. Waktu terasa begitu cepat berkejaran di hari itu seiring dengan deru nafas saya yang memburu dikejar waktu.

Masih teringat ketika itu di pagi hari. Selepas shalat shubuh ponsel saya riuh. Dari tanda pesan singkat masuk, notif bbm, wasap, line dan bahkan facebook berlomba-lomba mengucapkan selamat ulang tahun beserta doa kepada saya dari itu. Senyum tentunya tersungging. Masih banyak teman yang peduli. Masih banyak teman yang turut mendoakan segala hal terbaik bagi saya selain keluarga saya.

Sesampai di kantor. Sembari melaksanakan ritual harian membuka kantor saya membalas satu persatu ucapan selamat. Bercanda di grup. Menerima telepon ucapan selamat. Hingga ponsel kantor saya berdering. Dari si Pak Bos saya. Memberitahukan kalau saya harus berangkat ke Padang untuk Diklat.

Masih anteng saya Cuma menjawab, “Kapan, Pak?”

“Nah ini. Kamu jangan kaget.”

“Kenapa, Pak?”

“Kamu harus berangkat hari ini juga, karena semestinya kamu tiba di Padang hari ini,” jawab si Pak Bos tenang dan kalem seperti biasa.

“Whaaaat? Gak salah?” shock2 onion head

“Gak. Kesalahan ada di pihak SDM. Mereka berpesan kepada saya, ‘tolong sampaikan maaf kami ke Intan karena pemberitahuan dadakan’.”

“Ini terlalu mendadak, Pak.”seperti biasa. Saya sewot.

“Iya. Tapi tadi kan udah minta maaf.” serenade onion head

Helaan nafas saya panjang. Telepon ditutup setelahnya. Lalu tiba-tiba saja saya teringat sesuatu info onion head

Mungkin ini becandaan dan keisengan aja karena saya ulang tahun. Soalnya si Pak Bos ini memang sudah tak diragukan lagi dalam hal keisengannya. Terutama isengin karyawannya. Terutama isengin saya meh onion head

Demi membenarkan dugaan saya tersebut saya santai saja. Sampai singkat ceritanya, pihak SDM sendiri yang menelepon saya.

 

Barulah saya panik. Ternyata harus tiba di balai diklatnya ya tanggal 10 September itu. Kecuali pakai Pintu Kemana Saja-nya Doraemon mustahil saya tiba di Padang hari itu juga. Lagian penerbangan dari Banda Aceh ke Padang sehari satu.

Singkat ceritanya lagi. Hari itu di kala tetep harus bekerja seperti biasa pikiran saya terbagi-bagi antara, nasabah, tiket pesawat, pas photo yang harus dicuci (syarat diklat yang harus dibawa), serah terima pekerjaan, packing dan baju seragam kantor yang belum dicuci.

Ucapan selamat ulang tahun tak lagi sempat saya acuhkan. Bahkan saya udah memasabodohkan ulang tahun saya.

Yang saya ingat setelahnya adalah selepas serah terima pekerjaan saya langsung ke kosan. Dan memasukkan semua baju beserta kosmetik juga sepatu dan kebutuhan pribadi saya lainnya ke dalam koper. Asal. Timpa dan timpa aja. Persis kayak adegan di sinetron-sinetron yang istrinya ngambek dan mau minggat dari rumah. Masukin baju ke koper asal. Seret koper dan naik travel menuju ke Banda Aceh. Iya. Saya bahkan harus ke Banda Aceh dulu menjangkau bandaranya dari tempat saya kerja.

 

Sesampai di kediaman orangtua di Banda Aceh (yang Cuma saya datangi tiap akhir pekan) pada waktu selesai magrib, saya langsung memasukkan pakaian kotor yang harus di bawa ke Padang ke mesin cuci. Setelahnya saya masih harus buru-buru ke banyak tempat menyiapkan apa yang di minta untuk di bawa ke tempat diklat.

Setiba di rumah saya kaget. Saya pikir saya udah salah pulang. Ini bukan rumah saya. Ini laundry pikir saya. Gimana tidak, jemuran pindah ke dalam rumah. Diangin-anginkan pakai kipas angin agar baju seragam kantor saya lekas kering. Agar bisa segera di packing karena penerbangan saya jam 5 pagi. Lagi saya mengelus dada. Lagi saya bener-bener harus bersabar atas ‘hadiah’ dari kantor saya berupa tiket gratis ke Padang.

 

Sudah jam 11.30 malam. Saya sudah lelah. Beranjak ke tempat tidur membaca ucapan selamat ulang tahun yang terlewatkan. Ketika mata hendak terpejam, deringan panggilan telepon memaksa saya untuk mengangkatnya. Dari seorang teman, ucapan selamat ulang tahun terakhir.

Hari itu, cara merayakan ulang tahun yang paling sibuk dan melelahkan yang pernah saya alami. Antara senang bisa diklat sambil jalan-jalan gratisan ke Padang namun juga ngedumel seolah pihak SDM ngerjain saya di hari ulang tahun saya. Membuat saya kasak-kusuk gak keruan running onion head di hari ulang tahun saya dengan pemanggilan diklat dadakan.

 

Hari itu, di hari ulang tahun ke dua puluh sekian jelang tiga puluh tahun. Tuhan masih memberkahi hari saya. Membiarkan saya merayakan ulang tahun saya dengan cara yang berbeda dari ulang tahun sebelumnya.

Berbeda. Hingga tak terasa. Pun terasa, terlalu singkat. Karena deru nafas saya memburu dikejar waktu alih-alih meniup kue ulang tahun.

 

 

 

Tips Melupakan Mantan

Internet banking saya sukses terblokir. Tentu saja karena kesalahan memasukkan password. Padahal saya yakin itu passwordnya. Tapi salah. Saya lupa.

Terhenyak karena internet banking yang terblokir saya jadi mikir. Sekarang ini begitu banyak password yang harus kita ingat karena begitu banyak akun yang kita gunakan:

  1. Akun media social dari facebook, twitter, instagram, path, wordpress, dan entah apa lagi. kecuali facebook saya sering lupa passwordnya apa. Makanya, begitu ter-logout dari ponsel, sudahlah saya harus semedi beberapa minggu guna mengingat apa kombinasi password saya.
  2. Aplikasi BBM. Yang punya email dan password juga. Jadi kalau mau clear data untuk meringankan memory, saya semedi dulu ingat-ingat lagi apa passwordnya.
  3. Masalah perbankan. Internet banking yang sumpah saya lupa banget itu apa passwordnya. PIN ATM
  4. Aplikasi belanja online seperti Zalora. Juga pembelian tiket seperti Traveloka.
  5. Urusan kantor menyangkut, web kantor untuk melakukan operasional kantor. Portal, web untuk ngeliat gaji. Lalu ada lagi password brankas dan kode alarm.
  6. Beberapa email saya. Email pribadi untuk urusan ringan. Email resmi untuk urusan kerjaan. Dan email yang diperuntukkan untuk media social. Lalu ada lagi email yang sinkron dengan ponsel pintar ini.
  7. Banyak
  8. Banget

 

Harusnya hal ini menjadi gampang andai saja semua akun emailnya sama aja. Tapi selain itu berbahaya ada beberapa hal yang menetapkan kombinasi tertentu atau jumlah karakter yang dibatasi hingga kita gak bisa menyamakan passwordnya. Sebut saja internet banking saya. Jumlah karakter dibatasi 8 dengan kombinasi angka. Sebaliknya, web kantor minimal 8 karakter dengan kombinasi angka dan tanda baca. Lalu yang lain bisa kita menggunakan hanya kata-kata saja.

 

Masalah lain muncul. Ada juga yang saya tau passwordnya tapi lupa email atau user apa yang dipakai. Yang selalu ingin saya ganti emailnya begitu keingat tapi seringnya males.

 

Inilah kerumitan hidup saya sekarang ini, bukan hanya ribet masalah kantor, membayar tagihan, membagi waktu untuk kehidupan social dan keluarga, mencari jodoh, tapi juga harus ditambah dengan mengingat password.

 

Fenomena ini membuat saya kepikiran satu hal jitu yang susah banget dilakukan banyak orang belakangan ini.

 

Melupakan mantan.

 

Hujan dikit. Keingat mantan. Denger lagu. Keingat mantan. Mencium aroma parfum yang mantan pake. Keingat mantan.sigh onion head

 

Susah banget ya kayaknya melupakan mantan.

 

Hujan. Menjadi momok yang paling fatal. Ketika masyarakat Riau dan Jambi bersorak sorai datangnya hujan karena dapat mengurangi asap. Eh.. kita malah keingat mantan. Gak penting banget.

 

Nah.. demi bisa melupakan mantan dengan mudah, mungkin kita bisa menggunakan seperti tragedy yang saya alami.

 

Iya. Banyak-banyakin aja jumlah mantannya kayak jumlah username dan password yang harus kita ingat. Karena saking banyaknya entar kita bakal lupa dengan sendirinya.