Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Advertisements

Aku Malu

Malam itu kamu mengusap kepalaku lembut. Namun efeknya dadaku bergemuruh hebat. Segera kusingkap jemari tanganku ke bawah meja. Agar gemetarannya tak kamu lihat. Agar saat kamu iseng menyentuh tanganku dinginnya tak kamu rasa.

Tatapan matamu yang syahdu mendebarkan. Membuat aku bertanya, tentang apa yang kamu lihat pada diriku. Malam itu cuma sepulas lipstik bertengger di bibirku. Lainnya tiada. Masihkah aku terlihat cantik?

Bila kamu menemukan rona merah di kedua pipiku, kamu beruntung. Itu berarti aku tengah malu-malu. Malu-malu bertemu kamu untuk pertama kali hanya berdua.

Kamu bilang kita semestinya sering bertemu. Aku jawab tidak. Tidak usah terlalu sering. Bukan tidak rindu. Namun biarkan rinduku hanya Tuhan yang tahu.

Anggap saja setiap pagi aku mengucapkan selamat pagi untukmu selepas bangun dari tidur. Meski tidak kamu dengar namun begitulah adanya.

Anggap saja setiap malam aku mengucap rindu padamu. Meski tidak terkatakan namun itu nyata.

Anggap saja, ketika kamu memanggil sayang, kubalas juga dengan panggilan sayang. Meski aku bungkam, aku juga ingin.

Biarkan diamku menjadi tanda aku malu. Biarkan aku merasa malu dengan jilbab yang kukenakan. Biarkan aku menjaga lisan dan perbuatanku demi terjaganya marwahku. Biarkan aku simpan buncahnya perasaanku hingga nanti telah tiba waktunya.

Malam itu. Kamu minta kita untuk sering bertemu. Lain kali, biarkan kubawa adikku ikut serta. Seperti biasanya bila kita bertemu. Agar terjaga lisan dan tanganku.

Ingatlah, meskipun aku kaku, namun nyatanya ingin kugenggam tanganmu.

Bye…

Hey… apa kabar? Apa efek setelah adanya teroris beberapa waktu lalu bagi kondisi mental dan fisik mu? Aku yakin tak mengapa bagimu. Karena bukan teroris yang kau takutkan melainkan kurs mata uang Indonesia yang melemah. Kalau akibat dari teroris maka mata uang Indonesia terus merosot aku yakin kamu pasti akan makin memaki-maki si teroris yang masih diragukan keterorisannya.

Aku masih mengingat betapa banyaknya kicauanmu saat kemarin Rupiah kita melemah. Rupiah melemah aja kamu sewot. Gimana kalau aku yang melemah? Melemah, tak berdaya, terkapar seperti saat keracunan karbon monoksida tempo hari, akankah sewot dan panikmu sama?

Maafkan aku tidak mengetahui kapan tanggal ulang tahunmu. Iya. Tidak tahu. Bukan lupa. Dalam ingatanku hanya bulannya saja yang kuketahui tidak beserta tanggal. Namun ketika aku semakin menyadari Januari semakin bergerak kian habis, kenapa ulang tahunmu belum juga muncul?

Maksudku.. di zaman media sosial semarak ini dan kamu begitu aktifnya di jejaring Path. Kenapa lelaguan ulang tahunmu tak bersuara. Maka, siang itu aku putuskan untuk kepoin akun media sosialmu. Mencari tahu kapan hari lahirmu.

Daan… maaf. Aku telat tiga hari. Maaf. Aku tidak memperlakukan ulang tahunmu layaknya kamu memperlakukan ulang tahunku. Maaf.

Jadi.. selamat ulang tahun, lelaki sombong. Ya.. aku memanggilmu begitu. oh.. tidak tepat begitu ya? Biarlah itu menjadi di antara kita saja karena aku tidak ingin mengumbar statusmu di blogku.

Selamat ulang tahun. Serta mulia dan bahagia. Hiduplah lebih bahagia dari hari yang lalu. Hari yang penat yang berhasil kamu lewati. Hiduplah lebih bersyukur pada-Nya. Bersyukur atas apa yang telah dan sedang terjadi pada hidupmu. Semoga rahmat dan anugerah-Nya terlimpah untukmu agar semakin tercapai segala ambisimu.

Ngomong-ngomong soal ambisi. Aku inget betapa ambisimulah yang sekarang menjadi prioritasmu. Aku tidak menghujatnya. Dalam sisi yang profesional aku malah mengagumi ambisimu dan mengganggap begitulah seharusnya lelaki.

Seharusnya…

Ohiya… masih ingat akan lamaran tiba-tibamu saat aku sedang membeli koper? Bukan belagak bodoh tapi awalnya aku memang tidak ngeh. Bagaimana bisa? Kenapa aku? Kok kita? Aneh. Sudah bingung mencari koper yang kece ditambah lagi bingung harus bereaksi bagaimana atas pernyataanmu. Tapi lalu sebuah kalimat, “Liburan aja dulu. Senang-senang dulu. Nanti aja jawabnya,” membuatku akhirnya mampu membuat keputusan. Ya.. keputusan tentang koper mana yang kupilih untuk kubeli.

Lalu deringan telepon darimu mulai kerap. Pesan whatsappmu kian banyak. Rayuanmu kian marak. Pertimbangan-pertimbanganku mulai nyata. Dan kita mulai menyatukan visi dan misi. Mensketsa masa depan. Menggubah masa lalu menjadi pelajaran masa akan datang. Menggoreskan mimpi. Lalu membuat keputusan.

Ambisimu. Toleransiku. Tak cocok.

Adakah yang lebih aneh dari dilamar dan ditolak oleh lekaki yang sama? Iya. Kamu yang melamarku, lalu setelah segala penjelasan dan penjelasan kamu malah menolakku ketika hampir kukatakan iya. Ketika aku memberikan toleransi demi terwujudnya ambisimu. Lalu bahkan toleransiku belum cukup untuk ambisimu.

Dilamar dan ditolak oleh lelaki yang sama. Aneh.

Akhirnya kita menyerah. Aku lelah. Kamu berlalu. Aku tak menyalahkan jarak atau ambisimu. Aku juga tak menghujat Tuhan. Aku hanya menganggap takdir jodoh tidak menyinggungkan perasaanmu pada perasaanku. Kita tidak berjodoh.

Maka.. biarlah kita hanya terus menjadi teman. Teman dari SD hingga sekarang. Teman yang melulu bertemu di sekolah yang sama. SD, SMP, SMA, hingga kuliah di kampus yang sama. Biarlah kita terus seperti itu. Biarlah aku tetap menyebutmu teman SD. Atau teman kampus.

Dan ya.. sosok kawan ngajak kawin tidak ternobatkan untuk kamu padaku.

Iya.. begitu saja.

Jadi.. sekali lagi. Selamat Ulang Tahun. Sehat-sehat dan berbahagialah di sana. Ingat shalat, ingat Tuhan. Teruslah bekerja keras dan menjadi kaya raya namun tak lupa sedekah. Jadilah seorang lelaki yang baik dan temukan jodohmu.

Jangan khawatirkan aku. Bila pun masih tak tertebak kapan aku akan menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang harus merasa beruntung. Pada masa penantian itu, aku akan baik-baik saja. Tetap optimis dan semakin cantik. Kamu jangan pernah menyesali yang telah berlalu. Bukan mendendam, seperti tak ada pisang berbuah dua kali. Tak ada pula lamaran yang kuterima dua kali dari lelaki yang sama.

Ohiya. Sepasang sepatu hadiah ulang tahun darimu untukku September lalu mungkin akan selalu jadi alarm. Setiap kali kupakai otomatis benakku akan teringat padamu. Kamu beruntung.

Sejujurnya aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini. Namun bila terjadi maka mungkin kamu masih penasaran terhadapku. Hahaha.

Bye…

 

Mencontek Dia

Biasanya hal yang paling saya inginkan dari peralatan Doraemon adalah Pintu Kemana Saja. Bayangkan, dengan pintu ajaib itu kita bisa ke mana saja yang kita inginkan tanpa perlu berlelah-lelah dalam perjalanan, tanpa perlu waktu khusus dan terlebih lagi tanpa perlu biaya. Sekali lagi, bayangkan, bila ada alat itu saya bahkan mungkin bisa ke Belanda, negara impian saya tanpa perlu modal yang banyak.

Namun saat ini saya tak ingin Pintu ke Mana Saja Doraemon, saya ingin laci meja belajar Nobita. Laci yang oleh Doraemon disulap menjadi lorong waktu.

Ya saya menginginkan Lorong Waktu tersebut.

Saya ingin kembali ke tahun-tahun sebelumnya. Ke tahun-tahun di mana hidup saya tak sedikitpun bersinggungan denganmu. Ke tahun sebelum ada sebuah sua yang mengikat kita.

Ada yang ingin saya ketahui. Tentang bagaimana kamu, bagaimana dia, bagaimana kalian. Bagaimana kamu terhadapnya, bagaimana dia terhadapmu. Bagaimana kalian saling. Bagaimana kalian bersama.

Karena menghadapimu saya tak punya petunjuk.

Jadi mungkin saya ingin mencontek sedikit saja caranya.

images

 

Tidak Sedang Menggombal

Seperti tadi malam. Percakapan sebentar melalui telepon. Saya bertanya apa yang telah kamu lakukan hari ini. Kamu bercerita seluruh kegiatanmu yang seperti biasa, selalu padat dan bikin lelah tentu saja.

Kamu balik bertanya, apa saja yang saya lakukan seharian tadi. Saya berkata, hari saya hanya diliputi oleh ingatan tentang kamu. Sedang sarapan saya ingat kamu. Sedang mandi ingat kamu. Sedang kerja ingat kamu. Sedang nunggu bus ingat kamu. Sedang buang airpun ingat kamu.

Kita tertawa.

Kita berdua sama-sama tahu saya menggombali kamu.

Tapi memang kegiatan saya tak begitu menarik untuk diceritakan, bagi saya lebih menarik lagi menggoda kamu dengan gombalan saya lalu kita tertawa.

Tertawa untuk meluruhkan rasa letihmu. Tertawa untuk membuat kita semakin akrab. Tertawa untuk memberikan saya rasa terbiasa nanti.

Ya, agar nanti saya selalu bisa menjadi tempat kamu melepaskan lelah seharian bekerja. Menggantikan kepenatan dengan tawa. Mungkin untuk itu saya dituntut untuk lebih kreatif agar kelak gombalan-gombalan saya selalu memberimu kejutan, dan mungkin juga debaran.

Tapi tak mengapa, apa yang enggak sih buat kamu?

Seperti tadi malam. Saya terdengar ceria dan begitu senang. Ya memang. Seharian itu saya memang bahagia. Bagaimana tidak, pagi-pagi saja saya sudah mendengar suara kamu. Lalu hari saya diakhiri dengan mendengar suara kamu mengucapkan selamat malam buat saya. Bagaimana saya tidak bahagia?

Jangan tertawa. Saya sedang tidak menggombal kali ini. Saya serius.

You-and-Me

Satu-satunya Alasan

Dalam semua aktivitas rutin dan padatmu, saya sungguh tak ingin mencuri perhatianmu. Saya ingin kamu dengan tenang bekerja.

Saya tak pernah mau mengganggumu, dalam setiap sibuknya kamu hingga larut yang turut menemani lelahmu, saya tak pernah mau rewel dan minta di nomorsatukan.

Namun, ada kalanya, saat pagi menyapa. Saat kamu tengah buru-buru ke kantor, saya ingin sedikit saja mengusikmu. Mengatakan selamat pagi.

Lalu sekali lagi saat kamu makan siang. Di tengah santapanmu yang lahap saya ingin sekali menyunggingkan senyummu sedikit di tengah hari lelahmu. Hanya agar kamu tahu, sesibuk apapun kamu, sesibuk apapun saya, kamu tetaplah dalam ingatan saya.

Bahwa sesusah apapun komunikasi kita berdua akibat waktu yang tidak memihak, saya tetaplah ingin menjadi satu-satunya alasan senyummu tersungging saat penat menyergapmu. Karena begitulah saya dibuat olehmu selama ini.

2638487

Lelaki yang Pergi di Bulan Agustus

Sehabis lebaran adalah janji yang kamu buat untuk datang berkunjung ke kota saya. Perkiraannya adalah di bulan Agustus.

Saya sudah tak sabar rasanya ingin memperlihatkan padamu bagaimana kota tempat saya tinggal, tumbuh dan besar. Saya akan memperkenalkan kamu pada keluarga saya.  saya juga akan mengajak kamu ke tempat makan favorit saya. Nanti bila kita melewati suatu jalan yang mempunyai kenangan bagi saya, akan saya ceritakan padamu kalau di tempat itulah saat saya pernah ketabrak pohon yang menyebabkan saya trauma mengendarai motor.

Lalu akan saya tunjukan juga tempat saya sekolah kala SD. Tempat saya mengaji. Tempat saya sering nongkrong bersama sahabat-sahabat saya. Tak lupa, kamu harus mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman. Landmark-nya Banda Aceh.

Menunggu Agustus semenjak Juli bukanlah hal yang mudah. Saya tak sabar. Saya ingin segera janjimu terpenuhi agar kita kembali bertemu dalam sunggingan senyum yang tak terlupakan. Sebab di dalamnya merupakan arti dari sebuah kerinduan akibat jarak.

Bahkan saat Agustus telah tiba. Gejolak dalam diri saya semakin menjadi. Semakin tak sabar rasanya. Semakin ingin mempercepat laju waktu agar kita segera bersua.

Lalu..

Angan tinggallah angan.

Agustus mendekati akhir. Dan kamu tidak datang.

Lebih tepatnya tidak pernah datang dan tidak akan datang. Baik di bulan Agustus meski saya menunggu sampai tanggal terakhir ataupun di bulan-bulan selanjutnya.

Sebab kamu pergi. Kamu pergi meninggalkan saya di bulan Agustus bahkan sebelum kita sempat bertemu.

Saya gagal memperlihatkan padamu sekolah saya dan di mana saya pernah belajar naik sepeda. Saya gagal mempertemukanmu dengan keluarga saya. sebab kamu pergi.

Kamu pergi. Menjelang akhir Agustus kamu pergi. Benar-benar pergi.

Kini setahun sudah berlalu sejak kepergianmu. Masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana saya menangis sampai muntah ketika mendengar kabar kepergianmu. Tapi setelah setahun saya kini telah baik-baik saja. Sangat baik. Jauh lebih baik.

Kamu. Selamat jalan. Beristirahatlah dengan tenang. Mungkin ini kali terakhir saya menulis tentangmu. Bukan melupakanmu. Kamu tetap punya tempat di hati saya dan bagaimanapun tak mungkin saya bisa melupakanmu. Namun, kehidupan saya yang pernah mati telah sirna. Kini saya telah kembali hidup dan hidup harus berlanjut.

Kamu, lelaki yang pergi di bulan Agustus. Saya rapalkan doa-doa agar tempatmu beristirahat di sana menjadi nyaman.

 

Rindu Merindukanmu

Aku mulai lupa bagaimana wangi candu merindu. Salahkan laju waktu.

Kala sketsa wajahmu mulai terkikis cepat, dan gerak waktu berlari hebat, aku teringat. Aku telah lupa.

Ada pagi. Ada siang. Ada sore. Dan ada hari menjadi larut malam kala buncah di dadaku menyebut namamu. Pertanda rindu.

Lalu menjadi pagi yang kosong. Siang yang sibuk. Sore yang berlalu begitu saja. Dan malam yang keletihan. Semua tanpa kamu.

Aku telah lupa bagaimana merindu. Bagaimana aku pernah mencandu. Salahkan waktu.

Atau aku?

Aku yang berkhianat.

Aku telah lupa bagaimana merindu. Dan saat ini justru yang aku rindukan adalah merindukanmu.

malu

Sudah Setahun

Bulan ini, setahun yang lalu. Ada kamu ada aku. Dalam sebuah temu yang bermula malu-malu. Siapa sangka setelahnya ternyata canda tawa yang berderai di antara waktu kebersamaan kita membuat binary senyum mengisi hati kita. Hati kita yang merona merah jambu.

 

Tanggal yang sama, setahun telah terlewati. Ada rasa dalam hati. Dalam setiap pertemuan yang membuat kita sering memproklamirkan janji. Siapa sangka ternyata hati kita bertaut begitu lekat. Ingin selalu dekat dalam detak detik yang bergerak cepat. Agar kebersamaan kita terkungkung dalam sebuah tirai yang selalu kita harap sebagai sebuah hal bernama jodoh.

 

Setahun telah berlalu. Masih kuingat pertemuan pertama kita. Mungkin aku curang karena mengingatnya bukan murni dari ingatanku, melainkan dari contekan tulisan dalam blogku setahun lalu yang kuceritakan tentang bagaimana pertama kali aku bertemu kamu. Tentang keceriaan yang coba kamu selipkan di antara kepedihanku. Tentang rasa pedulimu. Tentang kamu yang akan selalu kuingat.

 

Kamu apa kabar?

Semoga selalu tenang dan Tuhan mengampuni dosamu.

Setahun sejak perjumpaan pertama kita, aku sudah berubah, kerjaanku berbeda, teman-temanku makin banyak, kuliahku sudah berjalan lagi, dan kini saat aku menulis ini aku tengah berada di kota Surabaya.

Beberapa bulan sejak kepergianmu masih sesekali aku merindukanmu dan berharap kepalaku bisa kusandarkan pada pundakmu, seperti kerap yang kulakukan di tahun lalu sepulang kerja.

Beberapa bulan sejak kepergianmu telah kulalui banyak hari dan aku begitu merindukan bagaimana aku bisa menceritakan setiap detailnya padamu.

Beberapa bulan sejak kepergianmu aku kembali memasang poto kita bersama sebagai wallpaper di handphoneku. Hal ini mengundang berbagai reaksi. Ada yang menyuruhku mengganti poto tersebut di ponsel sekaligus di hatiku. Menyuruhku move-on. Kala yang melihatnya secara tak sengaja ada teman-teman baruku di lingkungan kerjaku, mereka begitu rebut meminta informasi siapakah lelaki yang turut serta di poto tersebut yang telah membuatku menyungingkan senyum begitu lebar. Dan untuk semua reaksi yang kulakukan hanyalah tersenyum.

Karena mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu kalau kamu telah tiada. Mereka tidak tahu kalau kamu masih ada.

Bukan tak ingin melanjutkan hidup dan terpenjara dengan memori indah bersamamu. Kamu tentu tahu aku kuat dan terus mengharapkan hidupku menjadi lebih baik.

Hanya saja…

Masih hanya saja…

Aku masih merindukanmu.

 

 

Kamu penguat.

Kamu penyemangat.

Kamu.

Kamu.

Masih kamu.

 

Kala kerjaanku terasa penat, menjenuhkan dan melelahkan aku bisa kembali tersenyum dan bersemangat hanya dengan memandang gambarmu dalam poto yang kita buat bersama.

Kala aku begitu lelah dengan rangkaian pelatihan ini aku mampu bangkit dengan mengingat memori yang telah kita buat.

 

Aku merindukanmu.

Hanya merindukanmu, karena aku berharap kamu tenang di sana. Tenang dan damai. Tenang dan selalu kupanjatkan doa agar segala salahmu diampuni-Nya, agar segala ibadahmu diterima-Nya.

 

Sudah setahun.

Setahun lalu saat kita pertama bertemu.

Sudah setahun berlalu.

 

 

 

  Surabaya, 3 Maret 2013