Memilih Suami (part 6): Sesederhana Tas Kantor Saya

Pada satu bentuk persahabatan saya yang diisi dengan 3 perempuan cantik lainnya, kami memunyai ritual tahunan yang sudah berjalan sejak kami saling mengenal 2006 lalu. Itu artinya tahun ini sudah 11 tahun kami temenan. Alhamdulillah.

Ritual tahunan itu adalah memberikan kado ulang tahun. Jadi dalam setahun ada 4 kali kami melakukan ritual ini 
Seiring dengan bertambahnya usia. Kekurangannya waktu. Dan sudah terlalu banyak kado yang diberikan hingga kami terjebak pada satu pertanyaan pada setiap salah satu ulang tahun kami: “mau kasih kado apa lagi?”
Hingga akhirnya pada beberapa tahun terakhir, saya memberikan solusi. Solusi ini membuat kami memunyai satu tema ketika memberikan kado.

Temanya adalah: Gift by Request.

Jadi. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun kami akan menanyakan pada yang ulang tahun mau kado apa.

Cara ini berhasil menyingkat waktu pencarian kado. Yang kalau dulu bisa seharian bahkan dua harian. Kali ini cukup beberapa jam aja. 

Dengan begini pun kami merasa bahagia. Karena mendapatkan kado berupa barang yang kami sedang butuhkan atau inginkan. Sampai sampai saya dan salah satu teman saya yang belum menikah tergoda untuk meminta kado berupa jodoh saja. Karena itulah hal yang paling kami inginkan dan butuhkan.

Dengan sistem seperti ini semua pihak senang. Meskipun euforia menebak isi kado ketika membuka bungkusnya telah hilang. Tapi masih ada sih sedikit.

Si ulang tahun juga bebas mau memberikan spesifikasi seperti apa. Semisal temen saya pernah meminta tas, ukuran 15-20 cm, warna kuning. 

Atau ketika giliran ulamg tahun saya tiba. Saya yang memang banyak maunya langsung request kado berupa tas warna coklat, ukurannya besar tapi tidak terlalu besar, yang bisa dipake ke kantor dan mampu menampung dompet, mukena dan botol minum, bertali panjang, tidak mengkilat, tidak ada mainan, tidak ada motif atau gambar, tidak ada gembok.

Intinya. Tas berwarna coklat, berukuran sedang dan sederhana.
Meski detil yang saya sebutkan banyak namun kadonya hanya menginginkan tas sederhana. Detil itu saya sebutkan agar definisi sederhana saya tertangkap.

Sederhana.

Lama saya renungkan. Saya menginginkan lelaki sesederhana tas kantor saya untuk dijadikan suami.

Tidak banyak corak. Tidak banyak gaya.

Tidak bermotif. Tidak memakai modus lain hati lain bicara dan penuh rayuan semata.

Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Pas masuk ke hati saya. 

Lelaki yang sederhana. Biasa. Tidak heboh. Tidak terlalu banyak memakai printilan.

Sederhana namun tetap mampu menunjukkan ketampanannya dengan cara yang sederhana. 

Sederhana sikapnya. Sederhana perilakunya.
Ah… Tak tahu kapan teman teman saya bakal mengiyakan jodoh sebagai kado ulang tahun yang bisa di –request


*Baru kali ini nulis pake android. Gak tau gimana penampakannya. Apakah bagus atau ndak.

Memilih Suami (Part 1): Lelaki Bukan Lipstik

Saya tidak habis pikir bagaimana seorang perempuan bisa begitu mudah memilih lelaki yang kemudian dia tentukan dengan pasti menjadi suaminya. Pendamping hidupnya. Selamanya (niatnya).

Lalu… dalam sekali anniversary mereka bercerai…

Setiap kali melihatnya berwara-wiri di recent update BBM, setiap kali pula saya teringat akan bagaimana ia berpacaran dengan begitu heboh umbar kemesraan. Lalu tentang bagaimana dia bermuram durja di status perihal perceraiannya.

Pengen saya tanya, waras, mbak?

Oke. Saya memang tidak tahu dan tidak mau tahu kenapa dua insan dimabuk cinta pamer mesra bisa bercerai. Alasan dibalik perceraian bukan urusan saya. Hanya saja, saya yang sepertinya masih punya RAM otak tersisa untuk dipake berpikir berulang kali bertanya dalam hati.

Bagaimana bisa mereka yang berpacaran bertahun-tahun. Pamer mesra sana-sini. Lalu bercerai dalam setahun perayaan pernikahan?

Kemana perasaan cinta menggebu menguap? Ke mana terbangnya keyakinan ketika memilih suami untuk dijadikan pendamping sepenuh hati, setiap hari, sampai mati? Kenapa cuma sementara?

Kenapa tidak dipertahankan? Kenapa tidak diusahakan?

Sungguh pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya menjadi momok yang kemudian menghantui saya dalam memilih suami sekali seumur hidup bagi saya.

Ketika orang yang memilih jalan berpacaran lalu dalam sekali kibasan emosi bisa-bisanya bercerai, bagaimana saya yang memutuskan memilih suami tanpa melalui proses pacaran?

Selama ini metode saya menjadikan seseorang sebagai calon suami ya melalui proses perjodohan keluarga, dikenalin temen, temen lama yang tetiba naksir. Dari mereka semua tidak saya kesankan keinginan saya berpacaran. Pun mereka cukup tahu diri, mereka menawarkan lamaran.

Namun.. dalam sejuta pikiran dan pertanyaan berkelebatan dan belum menemukan jawaban, tidak satupun lamaran yang saya iyakan lagi setelah gagal bertunangan melalui metode perjodohan.

Saya bohong ketika saya mengatakan akan menerima sesiapun yang datang duluan melamar.

Nyatanya, setiap kali lelaki menawarkan diri hendak melamar ketika itu juga saya lebih pengen disuruh jawab soal persamaan reaksi kimia ketimbang menjawab lamarannya.

Saya bohong ketika mengatakan saya tidak mementingkan status ekonomi, pekerjaan, fisik. Nyatanya, datang yang tampan rupawan namun gendut tidak mampu membuat saya terpesona.

Saya bohong ketika siap menikah pada lelaki yang berani datang melamar. Nyatanya, kedatangannya bersama orangtuanya selalu saya cari seribu alasan untuk tidak ke rumah.

(Mungkin) saya bohong ketika berkata saya sudah siap menikah. Nyatanya saya hanya males menjawab pertanyaan basi, “kapan nikah” dari handai tolan.

Mungkin saya hanya sulit memilih suami tuk dijadikan pendamping sehidup semati. Satu sampai tua. Berdua tanpa ada pihak ketiga. Setia dalam suka dan duka. Kemudian bersatu di surga.

Karena meski saya dikatakan cerdas, saya bodoh soal menilai lelaki. Meski saya mudah menentukan pilihan, namun tidak soal jodoh.

Karena lelaki bukan lipstik. Yang bisa saya pilih dengan sekali pandang. Saya pastikan cocok dengan sekali pulas. Saya yakin dengan sekali pembayaran.

Karena lelaki bukan lipstik yang hanya mampu mencerahkan bibir dan mengupgrade pesona saya. Namun lelaki yang menjadi suami adalah dia yang nantinya mencerahkan hari saya. Yang karenanya saya terpesona setiap hari, tanpa henti.

Karena lelaki bukan lipstik. Ketika saya memilih lipstik yang salah. Tidak enak tersentuh di bibir, bisa saya buang atau ngasih ke teman.

Karena memilih lelaki. Memilih suami, gak pernah mudah. Gak semudah kamu bertanya, “Kapan nikah?”

jadi.. mengertilah. Saya sudah ruwet untuk memilih. Jangan lagi usil dengan kepo bertanya, “Kapan nikah?”

Karena bila lelaki serupa lipstik, yakinlah, lelaki yang baik yang akan menjadi suami panutan tidak akan bisa dihargai hanya senilai 500k.

Sistem Kerja Jodoh

Dengar-dengar pernikahan Fedi Nuril ditasbihkan sebagai Hari Patah Hati Nasional ya? Kamu salah satunya gak sih? Saya sih gak. Saya patah hati hebat hingga ogah kerja ketika hari pernikahan Dude Harlino. Pernikahannya membuat saya tak ada alasan lagi untuk terus sendiri. Namun hampir dua tahun dia menikah, saya belum bisa menggantikan sosok Dude Harlino di hati saya. Efeknya, saya masih makan malam sendirian di kosan hanya ditemani dispenser.

Mengikuti cerita alur cinta Fedi Nuril dengan sang istri  dari kenalan hingga ke pelaminan yang saya kepoin akibat judul berita yang sangat menggoda penasaran, diketahui bahwa Fedi Nuril melakukan proses ta’aruf dengan seorang perempuan yang dia kenal hanya karena sebuah broadcast.

Fakta tersebut membuat adik saya tak habis pikir dan dia merasa penting untuk membahasnya dengan saya. Si adik gak ngerasa seorang Fedi Nuril yang artis kece itu bisa-bisanya menambahkan pin seorang perempuan yang disebarkan melalui broadcast. Dan bisa-bisanya ia (Fedi Nuril) melakukan proses kenalan seperti lelaki pada umumnya: bbm-kopi darat-lanjut berhubungan. Dalam pikiran si adik hal tersebut terlalu sepele untuk dilakukan lelaki sekelas Fedi Nuril.

Saya tak yakin, apakah si adik ikut menjadi korban patah hati atau tidak. Tapi satu yang saya yakin. Begitulah cara kerja jodoh yang Tuhan tetapkan buat Fedi Nuril dan Istri.

Sistem kerja jodoh bagi setiap orang berbeda-beda. Gak melulu dramatis harus ketabrak dan mungut buku bareng atau sebaheula zaman Siti Nurbaya yang dijodohkan. Kadang ya gitu, seumum dan selazimnya yang lagi ngetrend berapa tahun belakangan ini. Melalui media sosial. Tanpa pandang bulu, bahkan sistem kerja jodoh yang dianggap sepele atau mungkin gak berkelas (bagi sebagaian orang) ini pun bisa terjadi pada artis. Pada sang Fedi Nuril yang tetep masih kalah kece dibanding Abang Dude Harlino.

Menurut pengakuan Fedi Nuril, ia biasanya tak menghiraukan broadcast sebar nomor kontak tersebut. Namun entah kenapa, untuk nama satu tersebut hatinya merasa ingin menjadikannya sebagai salah satu teman di daftar kontaknya yang kemudian berujung menjadi teman seumur hidup (insyaallah.. allahumma aamiin).

Ya begitulah jodoh. Begitulah skenario yang Allah reka untuk mereka. Sesederhana dan seumum itu. Dan bila memang sudah ditakdirkan bersama, tak mesti sebuah pertemuan hebat menjadi awal mula hati membuahkan cinta. Bila memang sudah ditakdirkan, sebuah broadcast-pun mampu mendesirkan hati yang menuntut kepada sebenar-benarnya jodoh.

Adik sepupu saya menambahkan kalau mulai sekarang ia tak akan lagi mengabaikan sms dari nomer tak dikenal atau permintaan pertemanan di jalur BBM. Yah.. mana tahu selanjutnya giliran Adipati Dolken yang lagi nyari jodoh.

Lalu bagaimana dengan kamu?

Masih mengharapkan akan ada lelaki yang menawarkan jaketnya padamu di halte saat kamu tengah berteduh kedinginan sebagai langkah awal penentu jalan jodoh?

Karena mungkin sistem kerja jodohmu bukan seperti itu. Tidak seromantis itu. Tapi satu hal, apapun sistem kerja jodoh yang tengah/akan/sudah Allah berikan kepada kita, pastinya itu akan menjadi satu moment indah tak terlupakan seumur hidup. Apapun temanya. Romantis. Komedi. Horor. Drama. Atau mungkin thriller.

Persiapkan dirimu.

 

 

 

 

Kalau Gaji Saya Terancam Turun Barulah Saya

Ada kan orang yang khawatir kalau mantannya lebih dulu menikah, dan yang lebih ngenes lagi kalau mantan menikah eh dianya belum juga punya pasangan baru. Ngenes combo kalau belum move-on.

Pernah hal seperti itu saya singgung di tulisan saya, tentang temen saya yang gengsi karena mantannya menikah terlebih. Demi mendengar pernyataan tersebut, senyum simpul saya layangkan, namun pikiran panjang yang gak pro sama si temen hanya saya tuangkan melalui postingan.

Mantan menikah bukan urusan saya. Mantan lebih dahulu menikah ya itu juga bukan urusan saya. Karena kalau saya sirik dia nikah duluan, entar kalau dia mati duluan terus apakah saya harus sirik juga?

Karena kan jodoh, rezeki dan maut itu sederajat. Dalam artian segala ketetapannya unruk setiap orang sudah diatur Allah swt.

Pada suatu siang yang panas. Di akhir pekan yang kere, sambil makan bakso goreng dan minum teh pucuk. Ibu saya berkata, “adek nikah terus makanya, jangan sampe diduluan sama dia (red: mantan)”

Masih fokus dengan bakso goreng saya menjawab santai.

Tergantung sih. Kalau dia menikah duluan terus gaji adek (red: saya)jadi turun ya, akan diusahakan menikah sebelum dia. Tapi kalau siapapun di antara kami yang menikah duluan dan itu gak berefek ke naik/turunnya gaji adek sih, adek gak mau maksa kehendak Tuhan.”

Adik perempuan saya ngakak.

Ohiya. Saya money oriented emang.

Iya. Saya gak pernah terlalu gabuk galau mantan menikah duluan. Bukan urusan saya. Jodohnya adalah jodohnya. Jodoh saya ya jodoh saya. Ketika Tuhan memutuskan kami tidak berjodoh dunia maupun surga maka saya putuskan urusan jodohnya dari benak saya. Bukan urusan saya.onion-emoticons-set-6-118

Seperti yang saya pernah ucapkan. Jodoh di tangan Tuhan, bukan di omongan orang. Kali ini akan saya tambahkan. Jodoh di tangan Tuhan, bukan di omongan orang, apalagi ngurusin nikahnya mantan.

Saya gak pernah merasa kalah bila mantan menikah duluan. Saya juga gak merasa menang ketika saya menikah duluan. Menikah bukan perlombaan siapa yang lebih dulu. Namun menikah, tentang berlomba-lomba siapa yang mampu bertahan selama-lamanya usia.

Ketika Belum Mampu Melamar

Saya tahu sih beberapa lelaki ada yang ingin memperbaiki diri, mempersiapkan mental, fisik, jiwa, raga, bahkan keuangan hingga akhirnya ia berani melamar seorang gadis untuk menjadi istrinya. Itu sungguh hal yang mulia menurut saya ketimbang lelaki itu dengan mental abege cuma berani ngajak pacaran.

Lelaki yang seperti itu menurut saya lelaki yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga terhadap calon istrinya siapapun itu. dan lelaki seperti ini tentu saja digilai perempuan kan? Okeh deh. Saya deh saya. kalau saya pasti tergila-gila dengan lelaki seperti ini.

Kebanyakan dari mereka sebenernya tengah naksir dengan perempuan idaman. Dengan perempuan yang untuk dirinyalah segela persiapan menuju kematangan dan kemapanan diri ia persiapkan agar kelak pantas untuk meminang gadis itu. Sementara gadis itu pun juga tahu kalau sang lelaki menaruh hati padanya hanya saja tak juga berani diutarakan.

Lelaki tak berani mnegutarakan karena faktor dirinya yang belum matang dan mapan baik secara batin maupun keuangan.

Menurut saya nih ya, kenapa lelaki itu tak meminta sang gadis untuk menunggu?

Saat belum mampu berkata, maukah kau menikah denganku?, kenapa tidak bertanya, maukah kau menungguku?

Resikonya sama saja kan? Bakal diterima atau ditolak. Bakal diiyakan atau ditidakacuhkan.

Sama.

Tapi akhirnya dengan bertanya bersediakan perempuan itu menunggunya maka si perempuan tahu kalau ia tak bertepuk sebelah tangan. Bahwa ia tak sedang digantung. Meskipun belum pasti tapi bukankah ini salah satu bentuk kepastian ditengah-tengah ketidakpastian?

Perempuan manapun menginginkan kepastian. Diminta untuk menunggu menurut saya juga sebuah kepastian. Maka dari situ kita bisa tahu kalau sang lelaki begitu menginginkan si gadis dan tak ingin si gadis bersama yang lain. karena dirinya belum siap maka ia meminta diberi waktu.

Nah, tinggal hati si gadis saja. Kalau ia memang menyukai dan juga menginginkan si lelaki pasti ia mau menunggu.

Saya deh saya.

Kalau ada lelaki yang dengan sungguh ingin menjadikan saya istrinya namun masih ada hal yang harus ia lakukan sebelum ia bisa melamar saya, saya mau kok menunggunya. Tentu saja bila ia meminta.

Karena menikah kan gak bisa asal-asalan kan yak. Butuh persiapan. Kalau emang hati udah cucok dan hanya diminta menunggu ya kenapa tidak?

Tapi kebanyakan dari lelaki yang mendekati saya sih gak pernah menyuruh saya demikian. Cuma selalu bilang sama saya, ‘andai aku udah punya kerjaan bagus, pasti berani deh lamar kamu, Tan,’ dengan nada pesimis.

Padahal nih ya, kalau ia berani membuat suatu janji sama saya lalu meminta saya menunggu ada kemungkinan loh saya mau menunggu.

Kemungkinan loh yak. Hehehehe..

Karena menurut saya permintaan itu juga merupakan sebuah keputusan akan kepastian. Supaya kelak gak ada yang menyesal. Supaya kelak gak ada yang namanya terlambat datang. Supaya semuanya menjadi jelas bahwa posisi kita ada di mana pada hati satu sama lain.

Istikharah: Gak Melulu Soal Menikah Saja

Meski saya pernah berasumsi kalau shalat istikharah itu shalat yang kita lakukan kala kita bingung memilih di antara dua pilihan seperti cerita saya di sini. Namun, saya tahu pasti shalat istikharah gak melulu soal galau karena mau menikah. Meski shalat istikharah identik banget ama shalat akibat galaunya orang yang bakal menikah.

Seorang teman, pernah curhat sama saya tentang bingungnya ia memilih berkarir atau berbisnis. Penyakit temen saya ini plin-plan. Plin plan level parah malah. Sekalinya ia pengen berbisnis etapi lalu dia malah masih jadi job seeker. Pas udah dapet kerjaan eh dianya galau lagi pengen fokus di bisnisnya yang memang belum membuahkan hasil karena baru dirintis.

Sebagai seorang teman yang bersedia mendengar keluh kesahnya saya lalu menyarankan ia agar beristikharah. Namun dari tanggapan dia atas ucapan saya, saya menangkapnya ia malah mengabaikan saran saya. yaaah. Mungkin menurutnya istikharah gak cocok menjadi solusinya kali ini. Ya gak apa juga siy. Kalau gak mau istikharah, tahajud juga bisa. Sama-sama shalat sunah untuk berserah pada Allah toh?

Banyak banget yang nganggep shalat istikharah hanya semata untuk perihal menikah. Padahal keputusan yang kita ambil dalam hidup gak cuma menikah, kan? Ada keputusan tentang berkarir atau keputusan tentang suatu hal yang berhubungan dengan pilihan yang beragam yang akhirnya memengaruhi hidup. Pokoknya keputusan berat, lah. Jangan juga mau mutusin makan siang di mana pake istikharah segala.

Saya pernah menggoda seorang teman saya yang bingung atas keputusannya. Keputusan sederhana memang, tentang perihal baju apa yang akan dia kenakan untuk suatu acara. Saya mencandainya dengan mengatakan, “Ya udah. Kamu shalat istikharah aja dulu. Biar tau mau pake baju apa,”

Saya bercanda ya. Gak maksud juga agar dia beneran istikharah hanya karena perkara kecil milih baju. Tapi lalu dia menjawab, “Ya ampun. Udah kayak aku mau nikah aja lah sarannya.”

See? Lagi-lagi istikharah dikaitkan dengan menikah, kan?

 

 

Etapi… mungkin dia juga sedang bercanda kan, ya?

Tanda-tanda…

Pertengahan tahun 2013 ini semesta tengah berkonspirasi seolah menyuruh saya segera melepas masa lajang.

Diawali dengan lulusnya saya di sebuah BUMN sebagai pegawai tetap, membuat orangtua saya bernafas lega karena akhirnya saya bisa mampu berdiri sendiri dan menghidupi diri sendiri. Lalu tentu saja, fokus mereka menjadi tentang siapakah lelaki beruntung yang akan menikahi putri tertuanya ini. Saya hanya meminta didoakan semoga jodoh saya dekat dan kalau bisa ya menikah di tahun 2014 ketika ikatan dinas yang mengatur saya baru boleh menikah setelah setahun bekerja selesai.

Lalu tetiba saya aneh mendapati seorang teman bertanya, “kamu mau nikah ya, Tan?”

Well, iya sih emang mau nikah. Tapi belum tahu kapan dan dengan siapa. Nah, saya masih bingung tapi dia enteng aja bertanya seperti itu seolah-olah pernah mendengar selentingan kabar kalau saya udah nyebar undangan.

Teman lain lagi bergosip kalau dia pernah melihat saya di suatu tempat yang katanya, hem…. Apa ya? Saya lupa. Entah sedang melakukan poto prewed entah apa. Tentu saja kabar ini membuat saya bertanya-tanya, perempuan cantik mana tuh yang mukanya mirip saya?

Lain lagi. Ketika tengah bekerja saya mendapati sebuah pesan masuk ke ponsel saya.

Semalam mimpi kawanin kak intan cari minyak wangi untuk asoe talam. Udah ada tanda2 kawin?

 

Begitu isi pesannya. Pertama saya artikan dulu kata ‘asoe talam’. Artinya adalah isi talam. Maksudnya adalah isian seserahan. Meski bingung sedikit sih ama pesan tersebut. Bukankah yang menjadi pihak perempuan saya? bukankah yang mendapatkan seserahan saya? kenapa juga saya yang mencari isi talam? Tapi lalu akhirnya pertanyaan ini terjawab beberapa bulan kemudian ketika seorang teman menikah. Dia mencari sendiri apa-apa perlengkapan seserahan untuk dirinya sendiri yang menjadi seserahan dari lelaki untuk dirinya. Jadi pihak lelaki hanya memberikan uang, lalu si perempuan yang nyari perlengkapan isi talam yang sesuai selera dan kebutuhan dia.

hooo…. Begitu pikir saya. itulah maksud teman saya itu ternyata. Dia temanin saya beli isi talam untuk diri saya sendiri.

Yah, walaupun ketika menerima pesan itu saya bingung saya membalas singkat penuh optimis

Aamiin. Didoakan saja kakakmu ini bisa menikah tahun depan.

Benak saya lalu berpikir. Inikah yang namanya tanda-tanda? Iyakah ini berupa sinyal agar saya mulai berpikir serius untuk menikah?

Jawaban atas pertanyaan tengah tahun 2013 ini terjawab menjelang akhir tahun 2013. Ketika seseorang lelaki datang lalu kami berencana menikah tahun 2014.

Ya.. saya anggap semua itu pertanda. Pertanda Tuhan ingin saya menikah di tahun 2014. Dan semoga kali ini rencana saya dan rencana Tuhan sejalan. Aamiin.