Lebih Baik Tidak Ada AADC2

Saya belum menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2, namun dengan PD saya ingin mengutarakan pendapat saya kenapa lebih baik film AADC2 tidak pernah ada. Bila nanti saya telah menonton dan saya berubah pikiran maka akan saya tulis lagi. Tapi ini murni pendapat saya doang yang bukan pengamat industri film. Dan ini pendapat sebelum menonton.

AADC2 tercipta mungkin karena ada film pendek yang dipergunakan untuk ngiklanin sebuah aplikasi chating. Melihat antusias para penggemar Cinta dan Rangga yang membludak akhirnya menghasilkan sebuah film AADC2.

Saat saya menonton film pendek Rangga dan Cinta itu ketika saya tengah liburan ke Korea tahun 2014 lalu. Diantara temen seperjalanan, saya mungkin yang kurang maruk dan gak penasaran banget ama film pendek yang saya lebih suka nyebutnya iklan tersebut. Ketika kami balik ke hostel dan mendapatkan jaringan internet, temen-temen seperjalanan saya menceritakan kesannya dengan heboh setelah menontonnya. Setelah mereka selesai, dan puas mendengarkan mereka berkomentar, barulah saya ambil ponsel saya dan menonton film pendek tersebut setelah terlebih dahulu meminta link-nya pada salah satu temen saya.

Saya tonton. Lalu reaksi saya adalah:

Harusnya film ini tidak pernah ada.

Seorang teman seperjalanan berkomentar, “Ya ampun, akhirnya filmnya ada lanjutannya. 14 tahun aku tunggu akhirnya dibikin lanjutannya,”

Saya mendengarkan namun tidak berkomentar. Ingin balas berpendapat namun urung.

Ending sebuah cerita itu ada 3. happy ending, sad ending dan question ending. Begitu yang saya pelajari ketika di bangku SMP. Kalau sekarang ada perubahan silahkan dikoreksi. Nah, untuk AADC itu termasuk question ending menurut saya. Sebuah akhir yang sebenarnya udah indah tapi dibuat gantung karena Rangganya pergi dan nyuruh Cinta nunggu satu purnama. Kalau mau dikatakan Happy ending sih boleh aja. Tapi bagi saya ini termasuk kategori question ending di mana penonton bebas berimajinasi mau gimana akhirnya kisah Rangga dan Cinta.

Apakah Rangga kembali setelah satu purnama.

Apakah setelah satu purnama dan menemui Cinta, Rangga balik lagi ke Amerika lalu mereka LDR.

Apakah akhirnya malah Rangga tidak kembali.

Tebakan sotoy saya mengatakan, saat menonton film tersebut semuanya pasti mengira itu sudahlah sebuah akhir. Dan percaya Rangga akan kembali setelah satu purnama.

Namun apa yang terjadi?

Akibat adanya film singkat tersebut dunia jadi tau Rangga tukang PHP dan sekali lagi membuktikan kebenaran perkataan sewot saya tentang “Lakik tuh omongannya emang gak ada yang bisa dipercaya”.

Dan ya, tidak seperti teman saya yang kesenangan akibat adanya sambungan film AADC dan telah menunggu selama 14 tahun. Saya justru patah hati mengetahui sang pujangga Rangga tak mampu menepati janjinya pada Cinta. Karena bagi saya, ketika menyelesaikan AADC saya beranggapan kisah mereka berakhir bahagia. Rangga akan menemui Cinta setelah satu purnama.

Namun nyatanya, kisah dibuat berbeda. Seperti Sinetron yang memunculkan kembali tokoh yang telah mati, dengan alasan selama ini sang tokoh cuma amnesia saja. Begitu pula Rangga. Kisah cinta Rangga dan Cinta dihidupkan kembali dengan menampilkan sosok Rangga yang tukang PHP dan Cinta yang gagal move on.

Saya membaca beberapa ulasan tentang film AADC2, dengan membaca itu semua saya semakin yakin. AADC2 tidak sepatutnya muncul. Seperti mantan saya yang tidak sepatutnya muncul menawarkan kembali sepotong cinta yang telah saya buang ke Timbuktu.

Karena menurut saya AADC2 hanya merusak khayalan. Baiklah mungkin bukan khayalan kamu. Tapi khayalan saya sendiri. Karena apa-apa yang telah berakhir biarlah berakhir.

Dan ya, saya menulis pendapat ini tanpa menonton dan terlebih lagi tanpa tau ending AADC2 gimana. Saya sengaja, hanya ingin mengetahui apakah pikiran saya sebelum dan sesudah menonton sama atau berbeda.

Ini murni pendapat atas perasaan saya, bila berbeda dengan kamu (yang membaca), tak perlu membully. Karena semua orang berhak merasakan sesuatu.

Dongeng

Karena setiap perempuan memunyai dongeng rekaan milik mereka sendiri. Terutama dongen tentang cinta.

 

Demi melihat alasan kenapa sesosok Fedi Nuril mampu mematahhatikan perempuan se-Indonesia yang katanya Raya, maka saya menonton film Surga yang Tak Dirindukan. Pemerannya selain abang Fedi Nuril juga ada Laudya Cinthia Bella dan Raline Shah.

Agak seperti film ayat-ayat cinta di mana abang Fedi Nuril punya istri 2. Film Surga yang Tak Dirindukan juga mengisahkan Bang Fedi Nuril punya istri 2. Satu karena cinta, satu karena terpaksa demi menolong orang lain.

Saya sih setuju ama argumen Arini (Bella) yang menyatakan, kalau mau nolong kenapa juga mesti dinikahin? Iya, kan. Nolong sih nolong aja. Gak usah pake ada janji-janji nikah deh.

Takutnya nih, sekarang akibat nonton itu pilem banyak perempuan baper Indonesia yang nekad terjun dari lantai gedung tinggi demi ngarep ada yang bujuk-bujuk untuk jangan lompat dengan iming-iming dinikahin.

Oh itu gak mungkin yak? Palingan Cuma saya aja ya yang ujug-ujug pengen belagak bunuh diri supaya ada yang ngelamar.

Wuih.. sadar, Tan. Itu mah Cuma pilem. Pilem doang. Jangan ngarep ada sosok KW-an fedi Nuril yang bakalan baik hati nikahin orang yang mau bunuh diri.

Ada pernyataan yang saya suka dari Arini ketika marah-marah sambil nangis menghujat Meirose (Raline Shah)

“Kamu telah berhasil menghancurkan dongeng saya, untuk menghidupkan dongeng kamu.”

 

Pada kalimat itu saya takjub. Pertama, takjubnya saya melihat ada dua perempuan berparas cantik dalam satu scene. Mungkin kalau cowok yang nonton bakal bingung ngebela siapa. Arini atau Meirose.

Kedua, tetiba waktu terasa membeku. Otak saya berkejaran ke belakang. Memory saya menangkap suatu masa di mana ketika…

 

Dongeng milik saya hancur.

 

 

Seorang gadis dari keluarga sederhana. Berparas biasa. Berstatus sosial rata-rata dengan tingkat ekonomi standar. Ditemukan oleh keluarga terpandang. Dipinang oleh lelaki tampan, mapan dan matang. Didoakan agar menjadi sepasang dengan lelaki tampan. Menjadi perempuan beruntung ala ala Cinderella.

 

Seperti itu dongeng saya. Dongeng yang bukan saya khayalkan. Namun dongeng nyata yang tercipta tiba-tiba untuk saya.

 

Lalu…

 

Petaka muncul. Pinangan dibatalkan. Kegusaran hati menghancurkan doa dan harapan. Menjadi sepasang tinggal kenangan.

Dongeng saya dihancurkan oleh orang lain. Dengan sengaja.

 

Saya jadi berpikir. Apa memang mungkin dunia isinya begini. Dongeng milik kita akan menindih dongeng milik yang lain. Agar suatu dongeng milik kita berakhir bahagia kita harus menghancurkan dongen rekaan perempuan lain. Iyakah benar seperti itu?

 

Ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam. Ketika dongeng saya belum tercipta. Kala itu saya diberikan kesempatan untuk memasuki dongeng indah yang seseorang ciptakan buat saya. Konsekuensinya ada dongeng perempuan lain yang hancur bila dongeng saya ingin tercipta.

Mungkin karena sang pangeran bukanlah pangeran impian. Maka dongeng itu saya abaikan. Tak tertarik rasanya menghacurkan dongeng milik orang lain hanya demi pangeran yang tak memikat hati.

Dengan demikian. Iyakah sebuah dongeng tercipta dengan menghancurkan dongeng orang lain?

 

Hidup sih memang begitu. Ada benang merah setiap kisah dari setiap manusia di dunia. Saya yakin itu. Keputusan A yang kita ambil bakal membuat hidup orang lain terjadi dengan cara berbeda. Keputusan orang lain juga akan berdampak pada jalan hidup kita. Karena kita terkait dengan benang merah takdir kehidupan.

 

Dongeng…

Mungkin ada perempuan beruntung yang dongengnya tercipta indah tanpa membuat dongeng perempuan lain hancur. Mungkin ada dongeng yang memang ditakdirkan sejati miliknya. Dan saya kebagian yang tidak. Dongeng saya hancur untuk menghidupkan dongeng perempuan lain.  Mungkin.

 

Namun demikian. Dongeng perempuan tetaplah abadi. Tetap hidup selama perempuan tersebut bernafas. Abadi dalam setiap harapan dan doanya setiap memulai hari. Maka itu, saya juga ingin optimis. Kelak, dongeng saya akan tercipta. Dongeng yang sejati hanya untuk saya. Dongeng yang tidak akan dihancurkan atau malah menghancurkan dongeng milik orang lain. Dongeng yang hanya akan melengkapi dongeng kisah hidup sang pangeran agar membuat akhir yang bahagia.

 

Karena meski bukan putri berparas jelita, setiap perempuan mengkhayalkan dongeng cintanya yang indah, yang megah.

Ciptakanlah Kesempatan

Apa efek samping dari keracunan karbon monoksida? Tiba-tiba dijemput di Luengputu oleh Ibu saya untuk dibawa pulang ke rumah. Lalu mendekam lemas di rumah gak bisa ke mana-mana. Selagi nunggu kondisi badan fit atau malah terus melemah hingga diwacanakan akan opname, saya menghabiskan waktu menonton televisi. Suatu hal yang langka saya lakukan. Nonton televisi itu langka, nonton televisi selagi di Banda Aceh? Wah.. emang pernah kah?

Dengan kondisi langka inilah saya menemukan suatu tontonan menarik di layar kaca. Sebuah film dengan judul Hitch. Karena saya menontonnya di setengah bagian akhir dan merasa film ini seru dan layak ditonton ulang saya memutuskan untuk mendownloadnya saja. Lumayan, selagi di rumah ada wifi. Eh lalu adik saya mengatakan kalau film barusan itu bisa saya tonton ulang di TV tanpa perlu mendownloadnya?

Abaikan mulut saya yang menganga lebar. Baru tau kalau TV Ibu saya bisa secanggih itu. Oke. Bukan TV-nya yang canggih tapi layanan TV berbayar yang disewa Ibu saya yang canggih. Selama ini sungguh saya gak menyadari keluarbiasaan ini akibat saya gak pernah keracunan karbon monoksida. Eh bukan, gak pernah nonton TV ding.

 

Sebenarnya saya mau mengisahkan sedikit gambaran soal film yang baru saya nonton.

Sebuah film yang dimainkan oleh Will Smith yang berperan sebagai Alex Hitchens yang berprofesi sebagai Dokter Cinta. Job desk-nya adalah membantu pria-pria yang tidak memunyai kesempatan mendekati wanita pujaan hati mereka agar dapat berkencan dan menjalin hubungan. Pria yang dibantunya dibatasi hanya para pria yang hanya benar-benar mencintai perempuan yang selama ini diincar. Bukan para pria yang mengincar demi rasa penasaran lalu mencampakkan.

 

Hal yang membuat saya tertarik di sini adalah betapa benarnya Alex. Bahwa memang sebenarnya banyak pria di dunia ini tak berani mendekati wanita pujaannya karena merasa wanita pujaannya berada di kelas yang berbeda dengannya. Menganggap wanita cantik, kaya dan cerdas tak layak untuk dirinya dan berakhir hanya dengan mencintai dalam diam, mengamati dengan kelam, hingga akhirnya larut dalam penyesalan ketika wanita itu jatuh ke cinta lelaki yang salah.

Menurut saya, tak ada aturan siapa berhak mencintai siapa di dunia ini. Asal tulus, lelaki manapun bisa mencintai wanita seluarbiasa apapun. Namun kenyataan malu dan minder jadi ego yang lebih dipegang lelaki ketimbang menunculkan suatu keajaiban menciptakan momen yang membuat impian menjadi nyata.

Alex, bertugas menciptkan moment tersebut. Moment tidak sengaja yang sengaja dibuat agar si pria dapat dekat dengan wanita yang dikaguminya.

Pria sebenarnya gak bisa hanya mengagumi dalam diam dan akhirnya merelakan wanita impian ke pria lain. Pria haruslah menciptakan kesempatan bila memang kesempatan itu tidak tercipta alami. Kesempatan untuk menarik perhatian wanita.

Karena apa?

Karena tidak semua perempuan, atau tidak.

Mmmm… Begini. Perempuan pada dasarnya menyadari kalau dia tidak akan berakhir dengan lelaki super sempurna dengan tampan, kekayaan, matang, pribadi yang bagus, baik hati dan segala titel kesempurnaan dalam satu wujud lelaki. Perempuan sadar, seperti tidak semua lipstik murah akan berakhir jelek di bibir mereka, begitu juga dengan lelaki, tidak semua lelaki yang tidak memunyai segala kesempurnaan akan berakhir jelek di pelaminan bersama mereka.

Karena kami* para perempuan sadar. Tidak ada lelaki sempurna dalam satu paket di dunia ini. Maka itu, meskipun setangguh dan sekeras apapun kami, sehebat dan secerdas apapun kami, kami hanya tengah menanti. Ada seseorang lelaki berani yang mencoba menciptakan kesempatan untuk memulai hubungan. Lelaki yang sebenarnya tulus. Lelaki yang mungkin tidak kaya, mungkin tidak tampan, mungkin tidak gagah, namun lelaki berani yang membuat kami tersenyum, merasa nyaman hingga kami berkata: he is the right.

 

*iya deh. Saya deh saya. Bukan kami. Saya deh.

 

Karena saya tahu sekali bagaimana hati saya mencelos kecewa ketika tahu bagaimana seorang lelaki yang saya kagumi dan saya yakini pantas menjadi imam saya beranjak mundur. Hanya karena ia merasa penghasilan bulanannya kalah jauh dibandingkan penghasilan bulanan saya.

Oke. Mungkin saya tidak perlu kecewa. Mungkin ia memang tidak pantas menjadi imam saya. Imam macam apa yang pengecut bukan?

Jadi para lelaki yang membaca blog ini entah karena kamu memang pembaca tetap Kura-kura Hitam atau hanya selingan saja, pahamilah dua hal:

  1. Bahwa tidak semua perempuan itu mengharapkan kekayaan atau ketampanan. Namun yang mereka inginkan hanyalah keberanian dan ketulusan. Maka, ciptakanlah kesempatan.
  2. Nonton aja filmnya mungkin kamu akan sadar. Judulnya Hitch. Pemerannya Will Smith dengan Eva Mendez sebagai lawan mainnya. Maka, belajarlah menciptakan kesempatan.

Sensasi Tembak-menembak

Saya penyuka film action. Aktor favorit saya Jason Statham dan Jackie Chan. Impian paling jumawa milik saya adalah duduk di sebelah Abang Jason Statham yang lagi fokus nyetir mobil kece lalu ngebut-ngebutan ngejar penjahat. Gak heran, setiap kali selesai menonton filmya, malamnya pasti saya ngimpian beliau. Iya. Saya sekonyol itu memang. onion-emoticons-set-6-74

Hal nyata yang bisa saya lakukan demi memuaskan nafsu khayalan saya diboncengi Abang Jason Statham dalam mobil berkecepatan tinggi adalah naik wahana di taman bermain yang bergerak maju dan berkecepatan tinggi. Kecuali Roaller Coaster. Why? Awalnya saya memang pengen naik Roaller Coaster. Namun ketika ngelihat roaller coaster di Lotte World Korea yag panjangnya seperti tak berujung saya jadi ngeri sendiri dan cuma bisa duduk termenung dengan muka pias menahan dingin angin musim gugur ngedenger jejeritan para pengunjung. Serem.onion-emoticons-set-6-85

Hal lain dari film action yang tak luput dari perhatian saya adalah adegan tembak-menembak. Nah, coba sekarang saya mau tanya, apakah kamu juga berpikiran seperti saya mengenai keanehan dalam adegan tembak-menembak di film action? Yaitu kenapa musuh selalu kena tembak dalam sekali shoot namun anak mudanya sering luput dari tembakan setiap kali keluar dari persembunyian dan berlari ke tempat lain?

Gimana? Apakah cuma saya yang mikir gituan?

Beberapa waktu lalu, demi rasa kangen ngeliat muka Abang Theo James di film Divergent dan juga ini gegara Putri Utama yang selalu ngebahas Abang Theo James di facebooknya, saya nonton ulang film Divergent.

Ada adegan di mana Ibunya si Beatrice ‘Tris’ Prior melakukan adegan tembak menembak. Ibunya luar biasa, ditembak gak kena-kena tapi begitu beliau yang tembak kena semua tuh musuh. Tapi akhirnya ada juga sih dia kena tembak lalu mati. Ya mau gimana, Ibunya Tris bukan tokoh utama. Coba tokoh utama pasti di-set gak matik. Keluar dari satu tempat ke tempat lain dan dihujani peluru anteng aja. Nyawa ada 9 kali kayak kucing.onion-emoticons-set-6-118

Nah… demi merasakan sensasi tembak-menembak ala ala Black Widow di The Avanger, saya main Paintball. Dengan bayangan terlihat keren dan ingin menyelamatkan dunia maka saya ikutan bermain paintball bersama rekan kerja saya yang kesemuanya lelaki. Yah.. awalnya sih, mereka itu akan berkencan dengan pasangan masing-masing, namun apa daya kekasih hati belum kelar dandan dan mereka disuruh menunggu selama ‘5 menit’. Itu artinya para lelaki itu bisa menggunakan waktu tersebut untuk masak indomie rebus, cuci motor/mobil juga menyelamatkan dunia. Maka itu, saya ajak aja mereka menyelamatkan dunia.

Udah gagah kali saya menenteng senapan paintball yang beratnya kayak setengah berat saya. Memakai google dan rompi anti peluru. Tapi begitu dengar letupan senjatanya…

kaki adek lemas, bang. Papah adek, bang. Papah ke KUA juga boleh.onion-emoticons-set-6-60

Hampir pengen mengundurkan diri dari tim dan berniat poto doang. Tapi lalu instruktur Paintballnya memotivasi saya kalau inilah momen saya bisa ‘nembak’ lelaki tanpa baper. Jadilah dengan lutut gemetaran saya ikut masuk ke lapangan.

Setelah aba-aba perang dimulai saya langsung bersembunyi. Takut-takut mengarahkan senjata ke arah lawan. Alih-alih ingin terlihat keren bak kakak Scarlet Johanson atau ala ala Tris saya malah lebih kayak Peter Pettigrew si pengkhianat di Serial Harry Potter yang selalu mencicit ketakutan setiap kali bahaya menyerangnya.

Cuma sembunyi di balik tumpukan ban.

Tetiba suatu benak muncul, dalam adegan film yang saya tonton, para anak mudanya selalu berhasil terhindar dari tembakan. Entah karena musuhnya abal-abal entah karena ia gesit sekali. Demi ingatan demikian dan yakin lawan di pertarungan Paintball ini amatir semua maka saya memberanikan memunculkan diri saya bergerak maju untuk berpindah posisi.

Baru juga keluar sebentar paha saya kena tembak. Sial.onion-emoticons-set-6-117

Saya jadi makin gak percaya deh ama adegan tembak di film action. Palsu semua. Rekayasa semata. Gak mungkin deh yang namanya lolos dari serbuan peluru dari lebih dari lima orang bersenjata. Saya aja yang diserang satu orang langsung tewas.

Paha saya sakit banget.

Di sesi kedua. Si penembak belum puas. Mungkin dia dendam pada saya. Karena kalau naksir gak mungkin sesakit ini efek ‘tembakannya’. Kali kedua sasarannya kepala saya. Saya tewas lagi oleh penembak yang sama.

Pulang ke rumah, selain dengan baju yang kotor (berani kotor itu baik) saya juga membawa oleh-oleh memar pada paha dan benjol di kepala. onion-emoticons-set-6-124Serta hilangnya moment saya untuk modus ‘nembak’ seseorang.

Ya… sensasi menembak yang saya rasakan gak seseru imajinasi saya naik wahana sambil ngebayangin muka Abang Jason Statham. Namun bolehlah karena saya berhasil membuat tewas satu orang dengan tembakan saya. Tembakan beneran tanpa modus.

12483352_10204316284261763_1259948080_n
udah macho belum?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iya, saya tahu. Dengan main paintball imej feminin saya yang memang muncul sesekali sirna gak berbekas. Apalagi menginformasikannya di blog ini, hilang sudah karakter lemah, lembut, wanita gemulai yang coba saya bangun. Aaah.. sudahlah. Apa bisa dikata.

Sebuah Film: The Proposal

Hasil dari menonton ulang film The Proposal adalah saya jadi semakin menyadari kalau menikah benar-benar akan mengubah hidup seseorang. Baik mengubah menjadi lebih bahagia, atau mengubah menjadi suram bak neraka. Maka itu, tak heranlah ada sebuah gambar sepasang pengantin menikah dengan latar belakang pantai suram berikut kata-katanya, “Game Over”, yang teman saya temukan di google.

Mari kita bahas Film yang diperankan oleh Sandra Bullock berpadu dengan Ryan Gosling.

Oh no. Ryan Reynolds rupanya. Saya sering kebalik sih ama nama mereka berdua. Kalau soal cakepan mana, saya sih akan menunjuk Ryan Gosling. Menurut mata saya ya.

Jadi film ini mengisahkan seorang wanita karir bernama Margareth Tate yang sangat ambisius dalam bekerja dan tipikal workaholic, independen, single, kaya, cantik, berkuasa, sukses dan ya pokoknya fantastic yang membuat saya berandai-andai agar saya bisa jadi setengahnya aja dari karakter Margareth Tate ini. Tapi mungkin sudah setengahnya sih kalau patokannya adalah status singlenya.

Margareth Tate harus berurusan dengan pihak imigrasi mengenai perpanjangan visanya yang tak ia lakukan hingga telat, lalu pihak imigrasinya memutuskan mendeportasi Margareth.

Demi tidak ingin didepak kembali ke negara asalnya di Kanada  dan kehilangan karir sebagai Kepala Editor di sebuah penerbit buku, sekonyong-konyong ia menjadikan asistennya yang bernama Andrew Paxton (Ryan Reynolds) sebagai tunangannya dan calon suaminya. Secara sepihak Margareth memutuskan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Tentu saja pernikahan ini palsu dan sebuah trik agar Margareth tetap bisa tinggal di Amerika dengan alasan ikut warga negara suami.

Menjelang pernikahan, Margareth menjadi tak tega melanjutkan pernikahan kontrak dengan Andrew. Ia merasa iba dan tak sampai hati harus merusak hidup Andrew yang bahagia dan damai serta dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai Andrew (keluarga, teman dan mantan pacar). Ia merasa, membuat Andrew menikahinya hanya untuk kepentingan pribadinya akan merusak masa depan Andrew. Dan ia tak tega. Tentu saja ia tak tega karena akhirnya perlahan ia mulai mencintai Andrew.

 

Nah.. kalimat perpisah Margareth untuk Andrew –lah yang membuat saya melek (lagi) soal pernikahan.

“…menghancurkan kehidupan seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi ketika kau tahu betapa bahagianya kehidupan orang tersebut.”

Begitulah penggalan kalimat Margareth di depan altar ketika hendak mengucapkan janji nikah. Tentu saja kalimat menghancurkan kehidupan itu berkaitan dengan pernikahan.

Bila mengingat-ingat lagi. Pernikahan memang bisa saja menjadi penghancur masa depan orang. Bila salah satunya menjalani tidak siap, ikhlas, atau tidak cinta. Atau bila siap di awal tapi melupakan tanggung jawab setelah dijalani.

Pernikahan gak melulu membawa kebahagian, itu yang saya amati dari kisah hidup orang. Maka dari itu, alangkah bijaknya, sebelum menikah pastikan dulu satu hal, lamaranmu akan menghancurkan hidup seseorang atau malah membahagiakan seseorang?

Sebaliknya, jawaban “Iya”-mu pada pelamar akan melengkapi hidupnya atau akan membuat suram masa depannya.

 

Pastikan itu. Setelah pasti maka jalanilah sesuai tekad. Karena hidup seseorang bukanlah bahan becandaan karena kita kurang piknik. *note to my self*

Akhirnya tentu saja film The Proposal yang rilis di tahun 2009 ini berakhir Happy Ending. Margareth dan Andrew menyadari kalau mereka saling cinta. Dan pernikahan mereka akhirnya terjadi dengan tanpa paksaan atau kepentingan salah satu pihak. Tidak menghancurkan hidup satu sama lain.

Saya suka film ini. Makanya ini mungkin kali ketiga saya nonton ulang. Saya menyukai karakter Margareth dan saya suka kisah yang memunyai unsur keluarganya. Di mana dalam film ini keluarga hangat dan lucu yang dimunculkan adalah keluarga Andrew.

 

Oke. Silahkan nonton kalau berminat. Kalau gak suka ya bukan salah saya. Beda selera aja sih kita.

Pekalah Terhadap yang Hati Rasakan

Tulisan yang akan saya tulis berikut ini sebenarnya sudah sejak lama ingin saya tulis. Namun alasan klise berupa letihnya kerjaan kantor hingga begitu malas membuka laptop menjadi alasan juara.

Nah.. demi demi ingin kembali membuat rumah Kurakura Hitam kembali riuh, maka saya membuka memo untuk mencari topik-topik yang pernah saya siapkan.

Kini saya akan membahas sebuah quote yang saya kutip dari drama korea yang berjudul Master’s Sun. Sebuah drama Korea yang menceritakan tentang seorang perempuan yang bisa melihat hantu. Nah, karena saya gak pinter me-review sebuah film maka saya gak akan lakukan hal tersebut. Silahkan googling bila kamu penasaran dengan drama korea tersebut.

Ketika aku tidak jujur terhadap perasaanku, rasa sakit yang kurasakan akan memberiku jawaban (Kang Woo, Master’s Sun)”

Salah satu alasan perempuan menyukai salah satu quote dan menyimpannya ya karena mungkin mereka mengalaminya. Saya salah satu dari mereka. Perempuan yang menyimpan quote karena cocok dengan pengalaman atau perasaannya.

Kurang lebih setahun lamanya saya pernah terperangkap dalam sebuah hubungan semu, perasaan palsu. Kenapa dipertahankan? Demi sebuah gengsi. Demi harga diri. Demi tenangnya hati orangtua.

Bagaimana hati saya?

Sekarang saya akan jujur.

Tawa saya itu palsu. Ada malam-malam di mana saya menangis tersedu tak mampu berbuat apa.

Keriaan saya itu palsu. Karena nyatanya saya hanya bermuram durja.

Debar pada dada saya? Jangan pernah harap itu ada. Tak pernah ada.

Saya tak pernah mencintai lelaki tersebut. Saya menghormatinya, iya. Dia sosok yang pantas dihormati (saat itu). Dengan segala yang ia miliki sangat bagus untuk menaikkan prestise saya di mata temen-temen saya. Prestise yang bukan saya buat sebenarnya. Prestise yang tiba-tiba muncul sejak lelaki ini hadir di hidup saya.

Mulailah orang-orang berkomentar kalau saya begitu serasi dengannya. Kalau saya cocok dengannya. Kalau saya begitu beruntung mendapatkannya. Hingga membuat saya terlena.

Terlena hingga menyingkirkan hati saya, dan membela ego saya. Biarkan hati saya mati rasa. Mati semati-matinya demi sebuah yang namanya ‘martabat’ (mungkin).

Tapi airmatalah yang menjadi saksi bisu betapa ini begitu berat. Namun saya memang keras kepala. Berusaha mengatakan ini akan baik-baik saja. Bahwa ini tidak sulit.

Nyatanya apa?

Perasaan itu bukan sesuatu yang bisa diatur. Ia bisa dikelola namun tidak bisa diperintah sesuai ego.

Akhirnya sama saja. Tak menjadi apapun. Karena sesuatu yang dipaksa gak pernah berjalan baik.

Menyesal?

Iya. Karena sudah tau menahan sakit hati selama setahun tapi masih juga maksa.

Menyesal?

Banget. Harusnya airmata-airmata itu jangan disepelekan. Hubungan itu bukan untuk menghasilkan pilu setiap malam. Hidup yang kita jalani sudah sangat ribet. Sudah sangat lelah kita bekerja seharian di kantor. Jangan lagi membuat hati menjadi lelah karena hubungan yang salah pada orang yang memang bukan ditakdirkan untuk kita.

Akhirnya… setelah lambaian tangan terjadi. Sekali ini saya bertekad. Saya akan lebih peka terhadap perasaan saya. Saya tidak mau lagi membohongi hati. Buktinya setelah perpisahan berat badan saya naik. Itu artinya. Selama kurang lebih setahun saya tersiksa hati dan batinnya.

Ke depannya. Saya tidak ingin berdebat dengan hati saya. Kelak saya ingin pasangan yang mendamaikan hati saya, yang membuat senyum saya tersungging, yang menghapus airmata saya, yang memang dtitakdirkan Tuhan buat saya. Kepadanya, saya meminta Tuhan, agar menjatuhkan hati saya sejatuh-jatuhnya, berkali-kalinya, kepada dia lelaki yang memang namanya telah ditetapkan menjadi suami saya.