Salah Tingkah

“Semalam aku kepikiran kamu.”

“Kangen?” tebakku frontal.

“Mungkin.”

Di sini aku tersenyum. Sepagi ini mendapatkan panggilan telepon darimu membuatku sumringah. Mendapatkan fakta kamu mengakui kangen aku. Bagaimana aku mampu menyembunyikan senyumku?

“Jadi apa?”  aku bertanya secuek mungkin.

“Kata orang, kalau kangen itu harus ketemu. Bukan Cuma diungkapkan.”

Aku tertawa.

“Jangan tertawa, Intan.”

“Aku ingin.”

“Apanya?”

“Aku juga ingin. Ketemu kamu.”

“Baiklah. Sore ini?” tanyamu antusias.

“Iya.”

“Sip.” Terdengar suara gembira di ujung telepon.

“Nanti aku akan datang dengan suamiku. Pastikan kamu membawa istrimu.”

“Pasti.”

 

Telepon terputus. Cuma ingin ketemu, tidak ada yang salah. Pernikahan kami masing-masing-pun tak salah. Cuma rasa kangen itu saja yang manja. Bener-bener bikin salah….

 

tingkah.

 

 

Bidadari Ke-Empat

Aku merutuk perjumpaan kita yang tak sengaja ini, yang menyebabkan dentum jantungku bersuara ‘deg…deg…deg’. Ingin kutahan lajunya dengan menekan tanganku ke dadaku namun kutahu itu ketersiaan. Aku merutuk. Tidak juga. sebenarnya tidak sepenuhnya merutuk. Aku tahu pasti kini ada gejolak di dadaku yang bergemuruh melonjak kegirangan karena aku dapat mendengar suaramu lagi sejak terakhir kali kita bertemu 9 tahun lalu.

Wajah, suaramu, masih membuatku mendesir. Wajahmu bahkan kini terlihat lebih matang, lebih dewasa. Rahangmu yang tegas, sungging senyummu yang menawan masih kuharap bisa kutemui meski 9 tahun telah berlalu. Berlalu sejak kamu menikah dan aku tak sempat mengucapkan aku mencintaimu sejak kita masih berseragam abu-abu.

Masih berdentum deg..deg jantungku, masih tersipu malu wajahku kala kamu berbincang sambil sesekali tersenyum padaku. Masih aku merasa rasaku masih seperti dahulu. Masih ingin aku merekam semua senyum dan binar matamu hari ini tepat ketika 3 orang perempuan berkerudung menghampirimu.

Ayah, Bunda udah selesai nih” ucap perempuan cantik berkerudung biru sambil menenteng belanjaan dan disampingnya berdiri seorang gadis berusia 7 tahun, satunya lagi yang kira-kira berusia 3 tahun sudah berhambur ke atas pangkuan Haris.

Eh Bunda… Bun, kenalin, ini temen SMA Ayah, Intan namanya” aku berdiri dan menyambut uluran tangan wanita cantik itu.

Tan, kenalkan 3 bidadariku. Isha, Bundanya anak-anak, ini si Kakak namanya Raihan, adiknya Jihan.

Aku menyalami istrinya Haris. Dua bidadari kecil Haris menyalamiku penuh hormat. Aku memandang mereka tersenyum sekaligus iri memuncak kepada Isha.

Tan, aku pamit dulu ya. Oh iya, ini kartu namaku. Hubungi aku kapan aja kalau kamu butuh bantuanku atau ada perlu sesuatu.” Haris menyerahkan selembar kartu namanya padaku. Sejurus kemudian, Haris bersama tiga bidadarinya berlalu dari hadapanku.

Aku masih berdiri, angin sore memainkan jilbab hijauku dengan liar. Aku memandang kartu nama Haris.

Aku butuh bantuanmu. Maukah kamu menjadikanku bidadari keempatmu?

Deringan ponsel menghentikan lamunanku akan Haris dan ketiga bidadarinya. Dari Adam. Calon suamiku.

Minggu Mendung

Lepas hujan semalam, meninggalkan banyak bekas air di teras. Dua kucing berbagi keset kaki di depan pintu rumah. Tetangga sebelah bangun lebih dulu, dengan teriakan dan rentetan makian memaksaku untuk bangun.

Udara masih dingin. Mungkin di luar rerintik kecil hujan masih bertaburan. Jengkel terbangun tanpa arti. Mata kembali kupejam selimut kembali kutarik. Makian tetangga belum berhenti. Seharusnya si suami yang dipanggil Bang Amad itu berhenti saja merokok dan uangnya dipakai beli beras. Atau bila tidak, bekerjalah lebih keras. Jangan lebih sering berleha-leha di pos ronda dengan alasan menunggu langganan ojeknya menghampiri.

Aku tidak ingin bangun pagi ini. Hujan dan Minggu dua kolaborasi masygul yang kokoh mempertahankan argumen untuk tidak melepas bantal guling berbekas iler.

Mata kututup, rapat, telinga apalagi. Polusi suara pagi hari berisi makian dan hujatan lebih buruk dari polusi udara karena asap knalpot becak mesin tua.

Namun selain dua panca indera yang kututup, ada satu hal lagi yang kututup. Tidak termasuk dari 5 panca indera memang, namun ini organ vital pengendali ruh. Aku menutup hati.

Minggu mendung. Tepat jam 9 nanti Bayu akan mengucapkan ijab kabul. Sungguh sial perempuan yang dinikahinya bukan aku. Sungguh beruntung perempuan tersebut yang hidungnya bahkan tak lebih mancung dari punyaku. Aku sungguh tidak mengatakan perempuan tersebut jelek. Namun sesiapapun perempuan yang menikah dengan lelaki pujaan hati kita pasti otomatis akan menjadi jelek di mata kita, kan?

Iya, kan?

Atau cuma aku saja yang berpikiran demikian?

Terserah.

Minggu mendung. Dengan mata terpejam, aku berdoa dalam hati. Semoga Tuhan berbaik hati mendengarkan doa perempuan patah hati ini agar membuat hujan kian menderas, ditambahi petir yang bikin getir bila perlu. Petir yang langsung mengirimkan energi listriknya ke hiasan sanggul perempuan itu dan membuatnya gosong seketika.

Lamunan konyol dari perempuan berpikiran liar masih berbau iler cukup membuat sedikit senyum tersungging.

Ah sudahlah. Pagi ini sungguh dingin sekali, berbanding lurus dengan hatiku yang beku akibat patah hati. Aku masih ingin tidur. Dengan bantal berbekas iler, dengan selimut bermotif Pooh usangku. Aku masih ingin tidur. Tetangga sebelah sudah berhenti dari makian rutinnya kepada suaminya. Kedua kucing yang berbagi keset kaki bertuliskan welcome juga tak ada tanda-tanda akan bangun. Nasib kucing itu lebih baik dariku. Ia masih mampu tertidur nyenyak meski tetangga bising sekali. Ia masih tidur nyenyak dan tidak patah hati.

 

Hujan bulan Desember. Terima kasih untuk rerintikan pengantar tidur pengobat luka patah hati.

Bayu, kamu brengsek.

Panas

Saya hampir basah kuyup. di luar hujan. Dengan keras kepalanya saya lewati saja derasnya, sejak turun dari angkot di seberang jalan gedung ini hingga memasuki area gedung. Sesampainya di tempat tujuan, ruangan besar full ac ini sukses menambah gigil pada tubuh saya. Langkah kaki cepat saya arahkan ke toilet terdekat. Ingin mengelap sedikit tubuh ini agar tidak terlalu terlihat seperti tikus got di pertemuan reuni nanti.

Setelah merasa penampilan agak lumayan saya keluar toilet dan melangkahkan kaki ke café yang dituju. Dalam benak Cuma satu, memesan raspberry tea panas. Duduk di dekat perapian di belakang bagian tengah ruangan.

Dalam café sudah ada beberapa yang hadir, tentu saja penampilan saya ditertawakan. Apa boleh buat. Terlalu banyak kejadian demi hanya bisa sampai di pertemuan reuni angkatan ini.

Setelah memesan hot raspberry tea berikut dengan seporsi apple pie saya duduk santai di tempat duduk yang memang saya inginkan. Berlembar-lembar tissue saya gunakan mengelap baju saya yang memang tak ampuh. Membuang tissue lebih banyak dengan percuma.

Pesanan saya sampai. Buru-buru saya raih cangkir berwarna putih gading tersebut dan berusaha menyesapnya terburu. Tepat pada saat itu juga saya melihat dia masuk. Peraduan bibir dan cangkir teh harus tertunda. Demi melihatnya, cangkir raspberry tea saya tergantung di udara. Bibir saya tersenyum. Namun senyum itu cuma bertahan beberapa detik. Detik selanjutnya wajah saya melongo pias melihat dia masuk ke café ternyata tidak sendirian. Ada wanita bertubuh mungil menggandeng tangannya. Raspberry tea dalam cangkir putih gading tumpah ke baju saya yang memang sudah basah.

aaww…” teriak saya spontan kepanasan. Perut saya panas akibat ketumpahan teh panas. Namun, ada yang lebih parah. Hati saya jadi jauh lebih panas. Panas melihat Nasir membawa seorang perempuan turut serta ke acara ini. Dengan tangan saling menggengam.

Di luar hujan masih menderas. Mataku malah ikutan ingin membuat curahan air lainnya.

Duh.. Tan, kepanasan banget ya?” tanya Riri khawatir melihat mukaku memerah dan mata mulai berkaca-kaca.

Iya. Panas banget.”

Panas akibat terbakar api cemburu, sambungku dalam hati.

 

 

Lima Huruf

Beberapa hari ini entah mengapa saya selalu membayangi wajahmu. Entah di kantor, entah di rumah, bahkan kadang ketika di pasar ketika membeli sayur kangkung dua ikat dan tak lupa sesisir pisang. Entah kenapa belakangan saya mencandui pisang. Seperti entah kenapa belakangan benak saya penuh kamu.

Saya mencari pola kegelisahan. Menemukan akar permasalahan. Mengumpulkan bukti demi bukti. Menganalasis kasus per kasus. Menentukan rumus. Menyusun skema. Dan akhirnya satu kata mampu saya rangkai.

Rindu.

 

Lima huruf. Membayangi 24 jam. Beberapa hari. Jangan dikonversi dengan detik. Itu akan banyak. Banyak sekali. Bila detik rindu itu menghasilkan uang, maka saya sudah kaya mendadak. Tak perlu lagi saya bekerja dari pagi hingga sore dengan resiko menemui nasabah ngeselin setiap harinya. Hanya dengan rindu saya mendapatkan uang. Gotcha! Sungguh spektakuler arti dirimu untuk saya.

 

Padahal hanya rindu. Bukan cinta.

 

Menilik semua yang saya alami belakangan. Memori saya teringat akan kebersamaan kita dulu. Dulu sekali. Ketika kita masih sering bercengkerama. Ketika kita masih suka membuat lelucon garing. Ketika kita suka menghujat orang yang menganggu kita. Ketika kita merangkai mimpi konyol kita. Ketika kita tertawa satu sama lain. Ketika bibir tersenyum dan mata saling menatap hangat. Untuk semua itu saya rindu.

Beberapa saat lalu saya timang-timang ponsel berukuran 5 inch milik saya. Sudah saya tetapkan sebuah nama dari daftar kontak. Hanya tinggal menyentuh layar tempat icon berbentuk telepon berwarna hijau, maka sudah pastilah sambungan telepon tertuju padamu. Menuju suaramu. Hal yang saya rindui.

Namun sebelumnya sejenak ragu menyergap. Akankah kamu merindui saya juga. Atau paling tidak, bila saya mengucap rindu akankah kamu merindui saya. Atau minimal sekali, bila saya katakan saya merinduimu, akankah kamu menanggapi meski hanya sebuah senyuman.

Rey… aku rindu. Rindu setengah mati.

 

Setelah satu helaan nafas meyakinkan. Icon telepon berwarna hijau itu saya sentuh dengan jemari gemetaran. Gemetar yang sama seperti ketika saya memutar kenop pintu ruang sidang skripsi saya beberapa tahun lalu. Perasaan yang sama. Kepanikan yang sama.

Nada sambung terhubung. Suara nada sambung ya selaras dengan suara detak jantung. Berpacu. Berpadu. Bersorak-sorai, entah merayakan atau malah mengejek aksi saya.

“Ya.. Tan?”

Napasku tercekat begitu saja begitu saya mendengar suaramu menjawab telepon saya.

“Haloo… Tan? Tan? Intan?”

Jawab sesuatu, Tan. Ayo.. pikirkan sebuah kata. Apapun selain rindu. Cepet. Atau kamu mau menangung malu di sisa usiamu.

Sambungan terputus. Saya yang memutuskan. Kalau tidak ingat belum punya cukup uang untuk membeli ponsel baru dengan tingkat RAM yang lebih tinggi agar mampu menggantikan kinerja RAM otak saya yang lambat dan terlalu bodoh ini, tentunya sudah saya banting ponsel berwarna putih itu.

Nada pesan masuk dari Whatsapp berbunyi. Pesan tersebut tidak saya buka. Melalui tampilan layar depannya dapat saya baca isi pesanmu.

Intan.. tadi salah tekan ya? Kamu ngigo lagi sambil main hape? Dasar.

Tuhan.. kata orang, saya perempuan pintar. Tapi kenapa untuk urusan mengucap lima huruf saja system kerja saraf somatik saya menjadi lumpuh seketika?

12272571_10204121577674220_70701788_n

 

Alter Ego

Mulanya saya tak ingin blog saya ini dibaca oleh rekan-rekan sekantor. Termasuk Facebook saya. Namun ada beberapa kondisi akhirnya saya terpaksa menerima permintaan pertemanan di facebook oleh rekan kantor saya yang dulu. Lalu setelah diterima saya atur privasi-nya agar segala status dan postingan blog yang otomatis ter-update ke lini masa facebook, gak dapat terlihat oleh mereka, teman sekantor saya.

Kantor kedua saya lakukan hal serupa tapi lalu terkaget-kaget ketika mendapat Manajer Auditor saya malah menemukan blog saya bahkan tanpa berteman di FB. Sungguh jiwa auditor-nya benar-benar sangat kompeten. Tak usah diragukan. Dibaca. Ya sudahlah.. terkuaklah siapa saya sebenarnya.

Karena blog ini senyata-nyatanya saya. sebenar-benarnya pikiran saya, dari mulai pikiran aneh, serius, kadang nyebelin atau bahkan sisi vulgar saya terungkap semua di blog. Bagaimana keadaan saya, sedihkah, senangkah, bahagiakah, semua terpatri nyata di blog ini. Maka itu saya ingin sembunyikan ke komunitas professional saya. Yaitu lingkungan kerja.

Di kantor ketiga, saya berteman di facebook dengan teman sekantor. Namun hanya yang seangkatan saja. Belakangan karena ngerasa tidak enak oleh permintaan teman satu perusahaan yang kian banyak bahkan dari kalangan bos, maka saya terimalah mereka di FB. Kali ini mengingat saya sudah banyak insyaf-nya dengan tidak menulis status aneh-aneh maka saya biarkan tanpa settingan privasi.

Hal itulah yang membuat akhirnya blog Kura kura Hitam menjadi diketahui oleh beberapa rekan kerja. Awalnya seperti biasa, saya tak menduga mereka akan membacanya namun akhirnya saya tahu mereka membacanya. Dan sudahlah… saya biarkan saja pun ini blog untuk khalayak umum. Lagian pembaca lama juga udah jarang nongol. Kan saya sedih kalau jumlah visitor blog saya menurun. Ini aja udah menurun setengahnya dari jumlah visitor 2-3 tahun lalu loh.

Ada alasan kenapa saya tak ingin berteman dengan rekan kantor di FB atau pun rekan kantor membaca blog saya. karena FB dan blog saya menjadi Intan yang suka ngasal, cekakakan, tak elegan namun banyak fans-nya. Hahaha..

Alasannya adalah saya ingin menciptakan wujud Intan yang lain di dunia kerja. Ya, saya membuat alter ego ketika di dunia kerja. Alter ego yang saya ciptakan dengan karakter seorang Intan yang elegan, pendiam, tegas, keras, tangguh, professional, berkelas, cerdas, dinamis, dan segala hal yang membuat image wanita karir melekat erat di wajah saya.

Gagal? Sepertinya.

Hahahah..

Namun tidak 100% gagal. Alter ego yang saya ciptakan berhasil setidaknya setengahnya menurut saya. Karena beberapa orang masih tidak tahu seberapa amburadulnya isi otak saya yang saya tuangkan di sini. Segimana parahnya saya, dan segimana vulgarnya kadang saya berpikir. Karena masih saja tuh saya di cap, “Intan tuh rada pendiam ya orangnya?”

Pendiam? Are u sure?

Saya bahkan bisa menari hula-hula kalau pikiran saya stress dan bisa salto-salto kalau gelisah. Namun ya itu, saya berusaha tidak terlalu grasak grusuk.

 

Di awal bergabung dengan perusahaan sekarang ini saya ingat saya pernah menjadi orang pendiam dan hanya fokus sama diri sendiri. Karena saya tidak ingin berbaur. Tidak ingin mereka tahu betapa tidak elegannya saya. Namun apa daya, diklat selama hampir 3 bulan di Surabaya dan bersama satu atap dari bangun tidur hingga tidur lagi membuat siapa saya sesungguhnya terlihat. Tak bisa ditutupi. Ya sudahlah. Alter ego kembali gagal saya kembangkan.

 

Kenapa saya terlalu kepengen menciptakan alter ego yang elegan dan bla bla bla seperti yang saya sebutkan di atas. Mungkin karena saya jengah disepelekan. Dengan tingkah saya ini, banyak teman yang seakan tak rela dan tak percaya ketika saya mendapatkan prestasi di kelas semasa sekolah ataupun masuk ke dalam peringkat 10 besar di kelas inti pula.

Dengan tingkah saya ini yang agak serampangan saya pernah sakit hati ketika seorang abang angkatan semasa kuliah berkata, “Sama Intan untuk apa sopan-sopan dan jaim. Intan-nya aja kek gitu,” oh.. sungguh mematahkan hati saya. Entah kenapa saat itu saya sirik dengan sahabat saya yang gak pernah dirayu atau digoda lelaki karena sifatnya yang cool hingga membuat lelaki segan mendekatinya. Kalau mau dekati dia, saya dulu yang diincer ama orang untuk mengorek tentang sahabat saya itu. Sementara bila ada lelaki yang naksir saya, mereka akan maju tanpa babibu tanpa perantara. Entah kenapa saya tidak suka.

Bentar ya, saya mau ketawa dulu. Inget tentang masa kuliah dulu banyak hal yang bisa ditertawakan emang. Apalagi piciknya pikiran saya ketika itu.

 

Sekarang ini keinginan saya membuat alter ego di dunia kerja hanya semata ingin dianggap sebagai seorang wanita karir. Wanita karir sesungguhnya yang tangguh. Yang bisa bekerja. Yang cerdas, cantik dan berkualitas.

Tapi ya sudahlah… alter ego buatan memang tak bakal menjadi sempurna. alter ego sedemikian rupa biarkanlah hanya dalam angan saya. Dalam angan yang mungkin bisa saya hidupkan menjadi karakter cerita fiksi saya. Makanya, kalau membaca fiksi saya kebanyakan saya memakai nama sendiri untuk nama tokohnya. Hal yang membuat beberapa orang kepo dan mengira itu adalah cerita nyata saya.

Dan inilah, bagi teman-teman yang telah membaca blog saya dan melihat bagaimana gaya saya menulis. Kenalilah saya seperti ini. Seorang Intan yang selalu mengaku cantik, cerdas, berkualitas, hobi menulis namun tak kunjung menjadi penulis, masih terus berusaha untuk gemuk dan tetap memimpikan bisa menjejakkan kaki di Belanda sebelum usia saya usai.

Namun bila kamu mengenali saya dengan cara yang lain, dengan cara yang berbeda. Seperti judes, egois, pemarah, blak-blakan, itulah sesungguhnya saya, Intan yang sesungguhnya.

Tapi bila kamu punya deskripsi lain selain hal-hal di atas. Ya sudah. Suka-suka kamu ajalah.

Terima kasih atas kunjungannya. Rajin-rajin ke mari ya. Supaya total kunjungan perharinya banyak.

 

Sabtu Bersamamu

Bahkan bila kau tak mencintaiku lagi.

Tak mengapa.

Karena kita tak pernah menjadi apa-apa.

Sabtu selalu menjadi hari yang indah. Pun hujan mengguyur bumi dengan deras. Pun matahari menghunjam terik. Pun angin berhembus sepoi. Sabtu menjadi indah bukan tentang cuacanya. Aku mempersetankan ramalan cuaca, namun mendewakan penanggalan.

Dalam sebulan umumnya Sabtu terjadi 4 kali. Kadang 5 kali. Tergantung tanggal 1 dimulai kapan. Sebanyak Sabtu yang terjadi, sebanyak itu pula aku bahagia.

Aku bertemu kamu. Itu artinya.

Tak pernah jadi peraturan baik tertulis maupun lisan. Satu yang pasti. Kita selalu bertemu.

Sabtu kali ini matahari agak terik. Daripada berpanas-panas di luar lebih baik duduk ngadem di café katamu. Lalu inilah kita. Duduk berhadapan. Sesekali beradu pandang. Seringnya aku mencuri pandang. Banyak pasangan sejauh mata memandang.

Pasangan. Lalu kita apa sebenarnya? Bisakah disebut sepasang? Atau hanya aku saja yang menganggap sepasang.

Dry Capuccino satu, Raspberry tea satu”.

Pelayan perempuan muda dengan tahi lalat di pipi kanannya berlalu segera setelah pesanan kamu sebutkan.

Dalam hati aku tersenyum. Aku tak perlu mengatakan ingin minum apa, karena kamu selalu tahu apa yang aku mau.

Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?”

Hmm… A.. lancar,” aku terbata. Aku tak siap dengan pertanyaanmu. Bagaimana mungkin bisa fokus. Aku tengah fokus menatap mata hitammu.

Ini akan menjadi Sabtu terakhir kita bersama ya?”

Aku diam. Diam seribu.. tidak. Bahkan sejuta bahasa. Tak tahu harus menjawabmu pakai bahasa apa. Ingin memakai bahasa Makedonia dan mengatakan “Meskipun apa yang terjadi aku mencintaimu,”. Boro-boro pakai bahasa aneh tersebut. Bahasa Inggrisku saja omong kosong.

Jangan khawatir. Meski tanpa aku Sabtu-mu pasti tak akan kalah menyenangkannya,” tak kamu hiraukan diamku. Malah kamu berusaha menghiburku.

Namun beda, Bayu,”

Jelas beda. Karena cinta seorang Bayu gak akan pernah ada lagi untuk Kirana.”

Rasa-rasanya ingin menangis. Kenapa terlalu ringan baginya mengatakan kalimat itu. Namun apalah daya. Tak mungkin juga bagi kami berdua terjebak dalam hubungan yang tak jelas. Hubungan yang seperti asap tebal. Asap tebal yang aku ciptakan sendiri demi sebuah martabat dan kedudukan sosial.

Maka itu aku memilih menikahi Rian sang Pengusaha ketimbang menikahi Bayu yang cuma guru olahraga.

Hanya helaan nafas yang mampu kukeluarkan. Sebanyak apapun kata-kata tetap saja dikalahkan oleh egoku.

Aku harus ikhlas. Ketika cintamu berakhir.

Seperti aku harus ikhlas kala kamu menikahi janda kaya itu bulan lalu.

Tak Mencintai Dua Kali

Nyatanya seperti yang kamu lihat. Aku masihlah menjadi orang yang sama. Masih bertubuh kurus yang sudah mati-matian aku usahakan agar gemuk. Masih senang menulis walau tak kunjung menjadi penulis. Masih mendambakan Belanda. Masih tak minum kopi.

Kamu gak berubah ya, Intan?”

Kamu berubah terlalu banyak. Menjadi gendut. Agak membotak sepertinya,”

Kamu tahu? Itu kasar.”

Seperti yang kamu sebutkan. Aku tidak berubah”

Kamu terkekeh. Aku menyesap hot chocolate dalam cangkir berwarna merah dengan motif polkadot. Cangkir yang lucu.

Bila aku tetap sama. Tetap memiliki bentuk tubuh yang bagus dan rambutku masih selebat dulu. Mungkin kamu akan mencintaiku lagi, Intan”

Aku menutup mulutku dengan tangan. Berusaha keras menahan ledakan tawa.

Boleh juga. Tingkat kepercayaan dirinya meningkat.

Ketika jatuh cinta, aku akan jatuh begitu dalam. Membawa perasaanku begitu kuat. Tapi..” aku berhenti sejenak untuk memutar cangkirku. Kulihat matamu menjadi liar. Mencari-cari jawaban apa yang akan keluar dari mulutku.

Masih ada yang sama dari kamu. Ketika tidak sabaran kamu selalu mengetukkan telunjukmu ke meja. Gusar. Masih seperti 8 tahun yang lalu.

Tapi aku tak pernah mencintai dua kali,” ucapku menatapmu lekat. Tajam.

Setajam omonganmu dulu memutuskan hubungan kita. Mengingkari janji. Memilih pergi.

12188611_10204037901822376_2028694569_n

Dan mungkin bila nanti, kita akan bertemu lagi.

Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali.

Rasa yang kutinggal mati

(Peterpan, Mungkin Nanti)

Entah

Di salah satu pagi di bulan Desember, hujan turun dengan derasnya, dengan suara yang berdebur kerasnya. Semua itu cukup membuatku merasa gigil meskipun tempatku berdiri masihlah di dalam kamarku.

Sudah sekian menit yang entah aku berdiri di jendela yang kacanya tak kubuka. Menatap curahan hujan yang berkejar-kejaran satu sama lain menggenang jalan. Aku sendiri sudah rapi. Dengan setelan ke kantor aku siap pergi sebenarnya. Sebenarnya bila tak hujan.

Mungkin hujan mengejek atau malah merayakan, itu yang jadi pikirku sejak aku mulai berdiri di jendela kamarku untuk sekian menit yang entah. Mengejek tentang kesialan yang baru aku alami atau malah merayakan kesialan itu.

Hujan masih deras. Aku semakin malas. Adakah bisa aku memakai jatah cuti karena alasan penting untuk hal ini? Tentu tidak, kantor manapun aku rasa tidak mengenal cuti tidak masuk kantor karena alasan hujan. Apalagi dibalik itu. Hujan hanya dijadikan alasan.

Hati yang patah. Cita-cita yang hancur. Jiwa yang hilang semangat itulah sebenarnya alasan dibalik enggannya aku pergi bekerja. Aku jadi berpikir, adakah kantor yang mau memberikan cuti patah hati pada karyawannya?

Hujan masih deras. Aku masih berdiri yang sudah makin banyak saja waktu kuhabiskan dengan sia-sia. Jariku memainkan sebuah cincin yang telah bersemayam di jari manis kiriku selama setahun ini. Harus kuapakan cincin ini? Membuangnya? Menjualnya? Mengembalikannya? Atau menyimpannya?

Jelas cincin ini tak perlu lagi kupakai, karena lelaki yang memberikannya dengan jelas dan tegas telah mengatakan bahwa semuanya telah berakhir. Iya. Kemarin di Minggu sore ia memutuskan hubungan dengan sepihak. Lalu belum habis air mata yang kukeluarkan akibat patah hati, deringan teleponku malah memberitahu, kabar tak kalah buruk.

Semalam Rendi ditemukan tewas akibat kecelakaan ketika ia tengah menyetir di jalan lintas Propinsi. Ia tewas bersama seorang wanita yang pergi bersamanya di mobil itu. Mungkin dialah wanita yang membuat Rendi memuuskanku. Mungkin. Entahlah.

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Aku menghentikan aktivitasku di pinggir jendela. Kuambil jaketku dan payung yang terletak di sebelah rak sepatu di kamarku. Aku akan pergi bekerja. Iya. Sudah terlambat memang. Tapi biar saja aku beralasan apa yang entah. Aku sama sekali tak berniat pergi ke pemakaman Rendi. Aku tak mengantarnya. Untuk apa? Toh iya pergi dengan seorang teman. Jadi aku tak perlu mengantarnya. Biar mereka pergi dengan tenang melalui perjalanan berikutnya.

Hujan hari ini entah mengejekku entah merayakan kesialanku. Apapun alasannya yang entah, aku yakin hujan ini akan berhenti, meskipun pada waktu yang entah.