Saingan Soong Joong Ki

Siang itu. Peluh bercucuran. Dahaga kering. Kaki terasa begitu kaku diajak mendaki selama setengah jam lamanya. Itu adalah perjalanan di Pulau Breuh tahun lalu. Perjalanan dari desa tempat kami menginap menuju ke mercusuar yang kalau tidak salah saya harus ditempuh selama 30 menit atau lebih.

Siang itu kami selonjoran ngasal di bawah mercusuar melepas lelah. Berharap angin berhembus kencang untuk menghilangkan keringat.

Siang itu, sekelompok traveler yang berasal dari bermacam latar belakang ini melepas lelah. Ada yang dengan cara tiduran hingga tidur beneran. Ada yang ngobrol bergosip. Ada yang sibuk berfoto-foto. Ada yang main domino. Dan ada seorang anak perempuan bandel yang iseng banget pengen cobain motor trail. Iya, saya bilangnya bandel. Soalnya ini anak emang kayaknya penokohannya bandel dan usil. Tapi orangnya asyik dan baik.

Si perempuan yang kita sebut saja bernama Mona ini emang tomboy. Tomboy namun suka pakai rok bunga bunga. Katanya sih, pencitraan. Ayahnya udah lelah melihat ia berwatak dan berpenampilan seperti lelaki. Jadinya ia mengubah citra agar terlihat sedikit perempuan. Berhasil sih. Menurut saya, tapi bandelnya gak ilang.

Mona nyobain motor trail dari penjaga mercusuar. Kami hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja melihat aksinya. Namun, baru beberapa saat motor melaju, motor itu tersendat pada jalanan menanjak yang tak rata. Mona sepertinya kehilang kendali dan jatuhlah Mona.

Detik-detik sebelum Mona jatuh kami terus mengawasi dari kejauhan. Antara was-was namun berharap ia berhasil. Namun nyatanya, ia gagal. Ia jatuh. Dan tepat saat itu seorang lelaki berdiri sigap dan berseru “Mona lon!” (Mona-ku). Lalu ia bergegas lari menuju ke arah Mona tanpa menggunakan alas kaki. Di siang terik. Pasti tanahnya panas. Dan diluar area mercusuar ini tanahnya tak rata. Bebatuan tajam pasti siap menghujam kaki si lelaki itu.

 

Suasana lalu riuh. Ada yang tertawa. Ada yang takjub. Ada yang berseru, “Bang Li udah kayak descendant of the sun (sebuah judul film Korea).”

Saat itu saya belum menonton Descendant of The Sun jadi saya gak tau miripnya di mana. Namun sekarang saat saya udah nonton pun saya gak tau juga adegan itu mirip di mananya. Mungkin secara umum aja ya. Ada seorang lelaki yang sigap banget menolong wanita yang disukainya.

Disukainya…

Selama berada di Pulau Breuh itu, saya menganggap kisah romansa Mona dan lelaki yang berlari itu adalah sebuah lelucon saja. Lelakinya iseng. Perempuan juga becanda. Tim hore-horenya banyak tapi. Belakangan saya malah jadi tim hore-hore juga.

Tapi saat saya melihat lelaki itu berlari sigap cepat seperti itu saya tercenung. Dalam hati saya berkata, “Dia beneran suka sama Mona.”

Semua anggota trip makin heboh, terus heboh melihat aksi lelaki itu. Saya Cuma diam, melihat, menikmati dan meresapi. Pikiran saya Cuma satu saat itu ketika menyadari lelaki itu beneran suka dengan Mona.

“Cerita ini wajib masuk dalam blog”

Namun ketika saya pulang kembali ke Banda Aceh urung saya lakukan.  Para anggota trip yang meng-add akun facebook saya kian banyak. Dan beberapa mereka rutin baca blog saya. ntar ketahuan dong kalau saya ghibah di blog sendiri. Huahahaha.

Tapi beneran kisah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Makanya saya tuliskan juga. Nanti saya tinggal purapura gila aja kalau anak-anak yang ngetrip ke Pulau Breuh kmarin itu komentarin.

Kisah ini seperti perwujudan pengorbanan lelaki yang siap sedia. Bagi penyuka film korea pasti bakal ngefans sama lelaki itu. Saya aja, kalau udah gak tau diri mungkin bakal ikutan ngefans sama lelaki itu. Ya gak tau diri soal umur, ya gak tau diri kalau di Banda Aceh sana ada tiga lelaki sedang saya pehape-in.

Tapi untuk pemuja keromantisan, percayalah. Jangan jauh-jauh berharap lelaki korea untuk menjadi pendampingmu. Lelaki Aceh-pun mampu melakukan hal serupa. Mampu bergerak cepat menjadi superhero untuk pujaan hatinya. Mampu melakukan apa saja untuk kekasihnya. Mau berkorban. Mau menderita asal pasangannya selamat dan bahagia.

Karena sebenarnya pemicu itu bukan tentang Korea atau suku. Bukan tentang kulit putih mulus ala lelaki Korea. Namun yang mampu menggugah hati lelaki mau berbuat apa saja demi perempuan itu adalah satu kata yang selama ini kita kenal dengan sebutan: cinta.

Sepulang dari Pulau Breuh saya tidak tahu kelanjutan kisah mereka. Namun sejak itu saya jadi tim pendukung cinta lelaki superhero itu. Yang mana, kalau mereka jadian saya turut senang. Kalau tidak ya tidak mengapa.

Karena siang itu. Saya melihat bukti cinta. Cinta yang bukan becanda. Karena bagi mata saya siang itu aksinya bukanlah becanda. Ia memang terlihat khawatir.

Kalaupun siang itu mata saya salah. Sungguh itu acting yang sangat luar biasa sekali. Dan kalau itu acting, sungguh Song Joong Ki punya saingan dari Aceh sekarang.

 

Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Hari tentang doa yang masih sama

Tiga bulan yang lalu usia saya telah sampai ke angka dua yang di belakangnya sudah banyak. Ke umur duapuluh yang ampir dekat ke angka tiga puluh. Di mana krim anti aging makin rutin saya pakai. Di mana kehilangan tabir surya lebih bikin saya sewot ketimbang kehilangan pacar.

Ulang tahun kemarin berlalu  biasa. Penambahan umur seperti seharusnya. Ucapan-ucapan yang biasa disertai iringan doa yang masih sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi.

Klasik.

Semoga jodoh saya disegerakan.

Dan sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi, balasan aamiin dengan khidmat saya lantunkan. Agar semesta mendengarkan meski suara saya terlalu sayup.

Tulisan tematik mengenai ulang tahun say,a memang berniat saya tuliskan. Karena entah sejak usia berapa, tulisan mengenai penambahan umur rutin saya tulis meskipun terkadang telat. Bahkan telat sebulan. Ini telat 3 bulan malah.

Ya… mengenai jarang nulis ini, bukan saya aja kok yang ngalamin. Bloger-bloger kece favorite saya juga blognya lama yang hiatus. Setahun posting Cuma 3 tulisan. Atau malah ada yang memang sudah menutup blognya. Entah karena ngeblog tidak seheboh dulu lagi. Entah para blogger yang semakin banyak urusan dunia yang mesti dibenahi.

 

Untuk saya, males dan lebih suka nonton streaming drama korea.

 

Minggu lalu, seluruh pegawai di kantor saya nongkrong cantik di sebuah kafe nge-hits di Banda Aceh. Ngobrol ngalor ngidul. Begosip ini itu. Sesekali bahas OSL dan target. Sesekali adu-aduan NPL. Entahlah…

Hingga ke percakapan tentang bunga. Tentang rangkaian bunga super besar yang diberikan rekan kerja saya ke kekasihnya yang wisuda. Lalu ditimpali dengan rangkaian bunga tak kalah aduhai dari seseorang untuk rekan satu kantor kami. Buket bunga ulang tahun. Yang jumlah mawarnya setara dengan usia dia. 22 tangkai untuk ulang tahun ke 22.

Lalu tetiba saya ingat. Ulang tahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu saya juga diberikan rangkaian bunga mawar oleh seseorang.  Namun jumlah tangkai mawar segar berwarna merah seperti warna kesukaan saya itu tidak menunjukkan jumlah usia saya.

Jumlah tangkai mawar itu hanya 4. Sedangkan usia saya  7  kali lipatnya.

Namun meskipun hanya berjumlah 4 tangkai, tidak membuat saya sirik dengan rekan saya yang berjumlah 22 tangkai. Saya malah senyum geli sendiri dengan bunga tersebut. Hingga sore itu ingatan saya melayang ke hari saya menerima bunga mawar ulang tahun saya.

 

Itu kali pertama saya diberikan bunga. Oleh lelaki pula. Di ulang tahun saya pula.

Apa masih harus saya tidak bersyukur?

Meskipun saya bukan tipikal pecinta bunga. Dan bukan tim perempuan sumringah dikasih bunga saat ulang tahun. Namun, hari itu saya senang. Saya bahagia.

Sesuatu yang pertama memang mampu menjadikan suatu hal spesial. Mendapatkan bunga untuk pertama kalinya memang sukses membuat saya merasa itu ulang tahun yang spesial. Ulang tahun yang saya anggap biasa namun berbeda.

Rangkaian bunga mawar saya yang sederhana membuat senyum saya terkembang hari itu. Diberikan oleh seorang lelaki spesial. Lelaki yang sungguh saya tak menyangka mampu memberikan saya bunga.

Karena awalnya saya udah pasrah dia bakal biasa aja di hari ulang tahun saya. Kalau dia lupapun saya gak bisa marah. Karena memang tipikal lelaki yang seperti itu. Bukan lelaki romantis namun dia klimis.

 

Saya memang gak menganggap bunga sebagai salah satu hadiah yang cocok buat saya. Saya lebih memilih diberikan sepasang sepatu, buku, atau tiket pesawat PP ke Turki. Atau dikasih combo ketiganya malah saya gak mampu nolak. Namun bunga ulang tahun kemarin cukup mampu membuat saya merasa kalau saya ini ternyata perempuan juga. Dan bersyukur lelaki klimis ini mengganggap saya perempuan dan layak mendapatkan bunga mawar berwarna merah.

 

Yah.. meskipun setelah puas saya menimang bunga tersebut saya sibuk mencari-cari apakah ada bingkisan lainnya sebagai kado ulang tahun saya. Syukurnya ada. Karena kalau tidak, apalah arti ulang tahun tanpa kado yang menyenangkan hati. Yang berharga, bernilai dan bisa dipakai. Bukan Cuma bunga yang dipajang beberapa hari lalu layu terbuang.

Hahaha… iya. Itulah kenapa saya kurang sreg ama bunga. Nilai ekonomisnya terlalu cepat menyusut. Hilang lalu dibuang.

 

 

Jadi, ulangtahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu. Di doa-doa yang dipanjatkan rekan, sahabat, dan keluarga yang mengharapkan agar jodoh saya mendekat dan ijab terucap cepat demi acara pernikahan yang akan dihelat. Saya berharap, doa itu mampu menembus langit. Diijabah oleh-Nya. Menjadikan saya dan lelaki klimis itu sepasang. Sepasang di dunia dan akhirat. Agar kelak, doa soal jodoh terhenti tahun ini. Agar rekan, sahabat, dan kerabat mampu mengimajinasikan untaian doa lainnya lagi untuk saya tahun depan.

 

Ketik Aamiin atau Like di kolom komentar, tapi gak menjamin kamu masuk surga sih.

 

Gak Nafsu Makan

Terjadi percakapan ringan menjelang keberangkatan pulang saya dan teman-teman dari Pulau Breuh. Seorang perempuan muda mengatakan betapa dia heran melihat perempuan lain kalau stress malah kurus. Sedangkan dia, kalau stress malah banyak makannya yang menyebabkan dia gemuk.

Sontak saja, seorang lelaki menunjuk saya. Dia berkata, “kalau mau kurus tanya resepnya ama Intan,”

Saya langsung memalingkan wajah saya ke yang ngomong. Dan ya, saya jadi dituduh sedang stress sama yang lain.

Sebenarnya iya juga sih. Kalau stress saya cenderung gak bisa makan dan kurus. Tapi kemarin itu saya gak tengah stress juga. Emang baru pulih dari sakit dan nafsu makan belum membaik. Hingga berat badan 48 kilo yang saya banggakan tempo hari harus turun dan puas berada di angka 45 saja.

Pulang dari trip ke Pulau Breuh minggu lalu, nafsu makan saya berkurang. Sehari makan sekali saja. Itupun makan karena badan udah lemes dan hoyong banget. Tentu saja ini akibat dari stress.

Stress menyebabkan nafsu makan saya terbang ke Macedonia.

Penyebabnya apa?

Ini bukan perkara patah hati, beban kerja atau bahkan keuangan. Ini harusnya bila terjadi pada orang normal adalah suatu hal yang membahagiakan. Namun bagi saya, menakutkan.

Sepulang dari liburan, seorang lelaki yang tengah PDKT sama saya mengatakan, bila saya telah yakin mau sama dia dan menjalani hubungan hingga semoga berjodoh, maka saya diminta untuk melepaskan lelaki lain yang tengah dekat dengan saya juga. Saya diminta untuk tidak memberikan harapan palsu kepada yang lain. Fokus ke dia.

Mendengar pintanya saya terdiam. Sejak putus tunangan setahun lalu, saya perhitungan soal hati. Saya tidak mau menyerahkan perasaan saya utuh ke satu orang tanpa jaminan orang tersebut gak bakal membuat hati saya kecewa lagi. Jadinya, setiap kali ada lelaki yang dekat dengan saya, ya saya persilahkan. Di lain sisi saya juga mempersilahkan lelaki lain untuk mengenal saya. Saya sendiri tidak mau terikat hubungan dengan mereka. Selalu saya katakan, kenali aja saya dulu. Kalau cocok ya lamar saya.

Nah, saya hanya menerapkan sistem siapa duluan dia dapat. Jadi siapa kira-kira dari sekian lelaki yang saya ladeni yang duluan memikat hati saya lalu ngelamar dan kemudian direstui orangtua maka pada dialah saya menasbihkan diri sebagai istri.

Dan dari semua yang dekat dengan saya, tidak satupun meminta saya hanya fokus kepada mereka. Entah mereka yang PD banget saya cuma meladeni salah satu dari mereka, entah mereka memang membebaskan.

Hingga lelaki satu ini muncul dan minta diprioritaskan bila saya mau sama dia. Bila saya tidak yakin saya boleh pergi.

Permintaan yang sulit. Semacam, ini orang high quality manner, namun bila saya diminta fokus sama dia saya semacam disuruh bertaruh lagi akan kebahagian hidup saya.

Untuk bahagia kita kadang butuh rasa sakit. Tapi saya terlalu takut untuk merasakan sakit lagi pada apa yang disebut kebahagian semu.

Berhari-hari saya memikirkan permintaannya sehingga saya stress dan tidak nafsu makan. Hingga di suatu sore saya memutuskan untuk tidak mengiyakan permintaannya. Kami berjanji ketemu sore itu. Di situ akan saya katakan saya tidak mampu mempertaruhkan lagi fisik saya untuk menderita.

Sebelumnya, saya sedang chating dengan temen. Saya curcol dong.

Di sesi curhat itu saya serasa ditampar oleh temen saya. Dikatakan, mau sampai kapan sih saya gak pernah bisa meyakini sesuatu. Mau sampai kapan saya curiga sama lelaki. Mau sampai kapan saya gak mau memberi kesempatan kepada lelaki. Mau sampai kapan saya kepengen berjodoh dengan seseorang tapi membuka hati tidak mau.

Lantas… saya berubah pikiran.

Sore itu hujan. Kami tidak jadi bertemu. Pikir saya ini baik, saya punya waktu untuk berpikir. Mengikuti ego saya. Atau melakukan apa yang dinasehati sahabat saya.

Akhirnya malam sebelum berangkat ke perantauan saya bertemu dengannya.

Saya menguak cerita masa lalu saya. Suatu cerita yang gak pernah saya ceritakan kepada gebetan manapun. Karena saya gak mau siapapun kelak yang menjadi suami saya tahu kalau saya pernah bertunangan dan pertunangan itu kandas dengan penuh drama. Itu semacam aib bagi saya. Toh di antara mereka banyak yang gak tau saya suka nulis cecurhatan hingga gak tau keberadaan blog ini.

Namun dengan tenang, ia mengelus kepala saya lembut. Ia jadi paham kenapa selama ini saya tampak begitu keras. Kenapa selama ini seperti ada yang saya tahan-tahan.

Lalu akhirnya, malam itu saya memutuskan.

Insyaallah. Saya mau dengan lelaki ini.

Insyaallah. Saya hanya akan fokus ke dia.

Insyaallah. Semoga yang ini bukan orang yang salah.

Aku Malu

Malam itu kamu mengusap kepalaku lembut. Namun efeknya dadaku bergemuruh hebat. Segera kusingkap jemari tanganku ke bawah meja. Agar gemetarannya tak kamu lihat. Agar saat kamu iseng menyentuh tanganku dinginnya tak kamu rasa.

Tatapan matamu yang syahdu mendebarkan. Membuat aku bertanya, tentang apa yang kamu lihat pada diriku. Malam itu cuma sepulas lipstik bertengger di bibirku. Lainnya tiada. Masihkah aku terlihat cantik?

Bila kamu menemukan rona merah di kedua pipiku, kamu beruntung. Itu berarti aku tengah malu-malu. Malu-malu bertemu kamu untuk pertama kali hanya berdua.

Kamu bilang kita semestinya sering bertemu. Aku jawab tidak. Tidak usah terlalu sering. Bukan tidak rindu. Namun biarkan rinduku hanya Tuhan yang tahu.

Anggap saja setiap pagi aku mengucapkan selamat pagi untukmu selepas bangun dari tidur. Meski tidak kamu dengar namun begitulah adanya.

Anggap saja setiap malam aku mengucap rindu padamu. Meski tidak terkatakan namun itu nyata.

Anggap saja, ketika kamu memanggil sayang, kubalas juga dengan panggilan sayang. Meski aku bungkam, aku juga ingin.

Biarkan diamku menjadi tanda aku malu. Biarkan aku merasa malu dengan jilbab yang kukenakan. Biarkan aku menjaga lisan dan perbuatanku demi terjaganya marwahku. Biarkan aku simpan buncahnya perasaanku hingga nanti telah tiba waktunya.

Malam itu. Kamu minta kita untuk sering bertemu. Lain kali, biarkan kubawa adikku ikut serta. Seperti biasanya bila kita bertemu. Agar terjaga lisan dan tanganku.

Ingatlah, meskipun aku kaku, namun nyatanya ingin kugenggam tanganmu.

Tak Mau Lagi Mendengar

Dalam sebuah drama Korea yang saya tonton, ada percakapan antara ibu dan anak perempuannya. Si anak perempuan bertanya, sejak kapan hubungan ibu dan ayahnya merenggang? Sejak kapan mereka berhenti berbicara satu sama lain?

Dalam drama tersebut dikisahkan si ibu dan si ayah perempuan tersebut tidak berbicara sejak bertahun-tahun lamanya. Mereka belum bercerai. Masih hidup di bawah atap yang sama. Mereka tidak bercerai hanya karena alasan anak perempuannya. Sementara cinta tidak ada lagi. Sementara komunikasi telah bisu. Mereka hidup dalam diam.

Menanggapi pertanyaan tersebut, si ibu menjawab, “Entahlah. Itu terjadi begitu saja. Mungkin sejak kami tidak saling mendengarkan lagi. Kau tahu? Cinta bisa hilang karena kita tidak mau lagi mendengarkan. Jadi bila pasanganmu berhenti mendengar. Saat itu cinta sudah tiada”

Saya lupa bagaimana persis redaksi kalimatnya. Semampu yang saya ingat begitulah maksud dari jawaban si Ibu.

Saya melihat ke pengalaman saya. Mengapa akhirnya hubungan saya dan dia yang kini disebut mantan berakhir. Ternyata itu dimulai pada saat yang tidak saya sadari sebelumnya. Sejak ia tidak mau lagi mendengarkan saya.

dalam diamku berbagi

dalam riuh ku sendiri

ini bukanlah sesuatu yg salah

dalam harapku abadi

dalam rinduku tak lagi

bertanya cinta yang telah kau tinggalkan

suara tentangmu bayangan tentangmu

jarak dan waktu membunuh aku*

*Saat itu saya pikir saya pantas mengusik harinya dengan kehadiran saya melalui suara. Jarak terbentang antara kami harusnya bisa diperpendek dengan seringnya komunikasi yang kami bagi setiap hari. Tapi nyatanya, kebiasaan hari-hari lalu menjadi berubah. Ada masa ketika semuanya berhenti. Terutama adalah, ketika dia berhenti mendengarkan saya.

tak kau dengarkah?

telephone ku memanggilmu

saat kau tak lagi, peduli cinta ini

menggigil aku mengiba, telephone ku memanggilmu

berharap cinta yg lalu, saat kau tak mau lagi mendengarku


jawablah aku menanti ini

bukanlah sesuatu yang salah

*Bodohnya saya abai tanda-tanda. Entahlah saya terlalu naif mengira ia terlalu sibuk. Nyatanya, kata om Mario Teguh sesibuk apapun seseorang ia pasti akan mengabari kita bila ia memang cinta. Ia tidak akan pernah tega membuat kita mengemis kabar, mengiba perhatian.

Saya telat menyadari. Bahwa cinta telah menguap. Lama-lama raib. Semua sejak

ketika ia tak mau lagi mendengarku.

*Lirik lagu Ribas ft Nindi, Telepon

Kaleng Minuman

Suatu sore di 2009

“Abang haus kali nih, kita mampir bentar beli minum ya?” ucapnya.

“Boleh.”

Tak lama kemudian mobil ia tepikan di pinggir jalan di depan sebuah toko serba ada.

“Intan mau minum apa?”

“Intan ikut turun aja deh,”

“Ok.”

Lalu kami berjalan menuju ke toko tersebut dan langsung mengarahkan tujuan ke sebuah lemari pendingin berisikan aneka macam minuman ringan.

Dia mengambil sebuah minuman ringan bersoda dengan kaleng berwarna merah. Minuman yang saya incar tidak ada. Ada, tapi dalam kemasan berbeda. Dan saya tidak suka.

Saya menutup kembali kulkas tersebut tanpa mengambil apapun.

“Intan gak ngambil apa-apa?”

“Gak, bang. Gak ada minuman yang intan mau.”

“Maunya apa?”

Saya menyebutkan sebuah merek dari minuman isotonik yang dapat menambahkan ion tubuh. Matanya mencari-cari ke dalam lemari es di depan kami. Lalu ketika ia membuka kulkasnya, ia mengambil sebuah minuman.

“Ini kan ada, Tan?” ia menunjukkan sebuah minuman yang memang saya maksudkan namun dalam kemasan kaleng. Yang saya mau dalam kemasan botol.

“Iya. Tapi ini dalam kaleng. Intan maunya dalam botol,”

“Kenapa?” ia merasa aneh.

“Intan gak bisa buka kemasan kaleng gitu.” Jawab saya sambil nyengir malu. Saya memang tidak pernah berhasil membuka minuman ringan dalam kemasan kaleng. Selalu saja cantelan pembukanya berakhir patah di tangan saya.

“Ya ela.. itu aja. Biar abang bukain.” Lalu ia mengambil minuman itu. Pergi ke kasir dan membayar apa-apa yang dibelinya. Setelah itu kami kembali ke mobil.

Sebelum memulai kembali berkendara dia mengambil kaleng minuman saya dalam kantung plastik dan membukanya. Setelah dibuka ia menyerahkannya pada saya.

“Mulai sekarang, apapun yang Intan inginkan namun gak bisa Intan lakukan serahkan aja sama Abang. Biar abang yang ngelakuinnya untuk Intan. Seperti kaleng minuman ini. Mulai sekarang sampai seterusnya, biar abang yang ngebukainnya untuk Intan.”

Saya menerima kaleng minuman tersebut. Tanpa menjawab apapun kecuali memberinya sebuah senyum, saya teguk minuman isotonik tersebut. Dia pun meminum minuman bersodanya. Perjalanan dilanjutkan.

Namun, tidak dengan perjalanan kami.

 

Suatu malam di 2016

“Jadi kenapa Abang menghilang 7 tahun lalu?”

“Abang? Intan kan yang ngilang?”

“Kayaknya Abang deh. Apakah ada kata-kata Intan yang salah atau apa hingga Abang pergi?’

Dia tidak menjawab. Saya menatapnya lekat. Mungkin dalam hatinya tengah menyumpaserapahi saya. Sedangkan saya ingat betul kenapa ia pergi dan menghilang. Memang itu karena saya. Saya yang masih terlalu muda saat itu. Belum mampu memegang komitmen apapun. Hanya seorang gadis yang baru berulang tahun ke 20.

Suatu sore di 2016

Di depan kami telah tersaji minuman pesanan kami masing-masing. Saya dengan Ice Chocolate Mint kesukaan saya, dia dengan Lemon Tea hangat pilihannya. 7 tahun memang mampu mengubah kebiasaan dan karakter seseorang. Kini ia tidak lagi melulu memesan kopi sebagai minuman pilihannya. Rokok yang selalu ia hisap juga telah lama ia tinggalkan. Katanya telah 5 tahun ia berhenti merokok.

“Kebiasaan boleh berubah. Tapi wajah abang kayaknya gitu-gitu aja, ya?”

“Yang bener? Kayaknya abang keliatan makin tua.”

“Well, iya. Sudah ada kerutan di mata. Tapi secara keseluruhan masih sama. Style abang pun masih selalu rapi seperti dulu.”

“Intan makin cantik.”

“Intan tau.” saya langsung memotong pujiannya hingga di situ. Dia terkekeh dengan kepedean saya.

“Intan akan menikah.” saya mengatakan itu tepat ketika ia berhenti terkekeh. Cangkir teh yang hendak ia pegang ia lepaskan. Ia tatap saya lekat.

“Dengan?”

“Lelaki tentu saja. Abang juga gak kenal.”

“Lelaki beruntung.” katanya.

“Semoga dia berpikiran yang sama seperti abang.”

Lalu hening tercipta. Mata kami beradu lekat. Seperti terlalu banyak hal ingin dikatakan namun tahu semua hanya sebuah kesia-siaan belaka. Tak mengubah apapun.

Setelah itu kami hanya melanjutkan basa-basi yang lain. Hingga ia berkata, “Yuk, abang anterin pulang.”

Tak lama kemudian kami sudah di mobilnya. Ia menyetir tenang sambil berbicara ini itu dengan saya. Lalu tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di sebuah mini market.

“Kita beli minum sebentar.”

“Bukannya tadi kita minum?”

Tanpa menjawab ia hanya senyum saja. Lalu ketika ia turun dari mobilnya saya mengikutinya. Kami masuk ke mini market tersebut dan langkah langsung ia arahkan ke sebuah lemari pendingin berisi beragam minuman.

Ia mengambil dua kaleng minuman. Yang satu minuman bersoda dengan kaleng berwarna merah. Satunya lagi minuman isotonik. Deja vu pikir saya. Saya memandangnya tapi ia hanya lempeng berjalan menuju kasir dan membayar dua kaleng minuman yang ia ambil.

Setelah itu kami kembali ke mobil. Minuman dalam kantung plastik hanya ia letakkan begitu saja dia atas dashboard. Perjalanan ia lanjutkan hingga tibalah di depan pagar rumah saya.

Saya ucapkan terima kasih atas waktunya untuk pergi dengan saya sekaligus mengantar jemput saya. Lalu sebelum saya turun ia memanggil nama saya lembut.

“Intan.”

“Ya?”

Tangannya meraih kaleng minuman isotonik. Ia buka kaleng tersebut dan menyerahkannya pada saya.

“Dulu abang pernah katakan. Apa yang gak bisa Intan lakukan serahkan sama abang. Dulu Abang juga pernah berjanji, untuk selalu ngebukain kaleng minuman yang gak bisa Intan buka. Maafin abang. Abang harus tarik kata-kata abang. Maafkan abang juga pernah menghilang. Selama kurun waktu 7 tahun, tentunya banyak orang lain yang bersedia membuka kaleng minuman Intan. Ini kaleng terakhir yang abang bukain untuk Intan. Selanjutnya hal ini akan menjadi tugas lelaki lain.”

Saya hanya diam melihatnya berbicara sepanjang itu. Mendengarkan dengan dada berdebar. Bergemuruh. Luluh dan luruh.

Saya meraih kaleng minuman yang telah ia buka. Mengucapkan terima kasih sekali lagi. Pamit. Membuka pintu mobil. Turun dan melambaikan tangan padanya ketika mobil ia lajukan menjauh dari pagar rumah saya.

Saya tidak langsung masuk ke dalam rumah. Di teras, dengan masih menggenggam kaleng minuman isotonik tersebut hatinya berbicara sendiri.

Menyoal jodoh, Bang. Bukan hanya ketika orang itu kita rasa tepat. Cinta kita hebat. Namun kita juga membutuhkan semesta yang sepakat. Hingga menyempurnakan di waktu yang tepat.

Menyoal kita, Bang. Kita hanya dipermainkan oleh waktu. Waktu yang membuat kita bertemu. Menghilang. Bertemu lagi yang hanya tidak untuk menjadi apa-apa.

Andai saja Abang tidak muncul ketika usia saya masih 20 tahun melainkan ketika umur saya sedikit lebih banyak. Mungkin saat itu saya bisa menerima abang dengan gampang.

Atau, andai saja ketika 7 tahun kemudian kita bertemu kembali dan abang lebih cepat 5 menit saja. Mungkin ini bukan kaleng minuman terakhir yang abang bukain buat Intan.

5 menit mampu mengubah takdir kita. Jalan kita dan hati kita. 5 menit sebelum abang mengirimi saya sebuah pesan berisikan ‘Hi’ yang terkandung perasaan rindu di dalamnya, saya baru saja mengiyakan perasaan seseorang.

Dan ketika saya sudah mengatakan iya. Saya tidak bisa mundur. Akhirnya 5 menit itulah yang menentukan kepada siapa saya meyakinkan hati saya untuk saya sandarkan sepanjang sisa hidup saya.

Saya teguk minuman itu. Sebuah pesan BBM muncul. Sebuah pesan dari kekasih hati. Saya senyum membaca pesannya. Kepada dia saya telah jatuh cinta. Kepada ia saya siap membagi dunia saya. Kepada dia yang tidak tahu sama sekali bahwa saya tidak bisa membuka kaleng minuman. Karena yang ia tahu saya tidak menyukai minuman kemasan apapun.

7 tahun mengubah kebiasaan seseorang. Abang yang tidak lagi banyak minum kopi dan merokok. Saya yang tidak lagi minum minuman kemasan terlalu berlebihan.