Cacingan

“Tan, kamu coba minum obat cacing, deh.” Sergap bos saya tiba-tiba ketika saya tengah menghitung uang. Saat itu saya masih karyawan OJT. Ditugaskan menjadi kasir minggu itu.

Spontan saya melihat perut saya. dalam hati bergumam, “Apa peurt buncitku keliatan banget ya? Ini si bos mikirnya saya pasti cacingan karena buncit.”

“Saya gitu, Tan. Rutin minum obat cacing, setahun sekali.”

Penasaran saya bertanya juga, “Karena perut saya buncit ya, Pak? Keliatan ya?”

“Ah enggak… minum aja, Tan. Bapak juga minum.”

 

Setelah itu hari saya dihantui MINUM OBAT CACING.

Setiap kali ngelihat perut, saya teringat obat cacing. Setiap kali liat Pak Bos, saya teringat obat cacing. Dan tetiba iklan lawas membayangi saya, “Anak Ibu cacingan? Tentu tidak. Kan sudah saya kasih kombatrin.”

Yang tau iklan itu berarti kamu TUA.

Lalu kepikiranlah saya pengen beli obat cacing. Mana tau saya beneran cacingan. Mana tau masalah perut saya ini bisa diatasi dengan obat cacing. Perut rata ala Agnes Monica bukan lagi khayalan. Gak perlu push up atau sit up. Cukup minum obat cacing.

 

Ketika saya mengutarakan maksud saya meminum obat cacing di sela obrolan santai dengan adik saya. Si adik merespon.

“Ih… ngeri tu, Kak. Nanti cacingnya bisa keluar dari mulut.”

“Whaaaaaat.”

Wacana minum obat cacing menguap seketika. Perut buncit sudahlah.

Tiga tahun berganti. Penempatan saya sudah ke mana-mana dengan status kini pegawai tetap. Bos saya itu sudah mutasi promosi. Semua berubah.

Buncit saya masih ada. Makin besar. Nafsu makan saya besar. Badan saya kurus. Orang-orang selalu berkomentar kalau saya cacingan. Karena gak mungkin dengan porsi makan besar badan saya tidak melar.

Saya juga mudah kelaparan. Baru makan perut udah bunyi.

Apa iya saya cacingan?

 

 

Wacana meminum obat cacing kembali muncul. Setelah pergolakan batin berbulan bulan dan  membulatkan tekad sebulat-bulatnya. Saya membeli obat cacing.

 

Lalu obat itu tergeletak berminggu-minggu tak saya sentuh setelah saya beli.

Bagaimana tidak. Setiap saya ingin meminumnya, cerita horror adik saya menjadi backsound. Kadang hanya berupa ingatan saya aja, kadang emang si adik nakut-nakutin langsung.

 

Ceritanya pun kian seram. Dari yang keluar dari mulut, hingga bisa keluar dari mata dan telinga?

 

“Whaaaaaat?”

Ini cacing kok heboh bener sih?

Saya ngadu sama Ibu saya. layaknya seorang Ibu bersertifikat nasional, sudah swajarnya belaiu mengucapkan kalimat-kalimat penenang. Bahwa ini bahwa itu yang saya takutkan tidak ada.

Tapi menilik Ibu saya yang memang jago kasih kalimat penenang walaupun sendirinya takut, saya gak percaya dong sama ibu saya. akhirnya obat cacing gak saya minum.

Perut buncit. Saya mudah lapar.

Jadinya saya googling. Nyari tau cirri-ciri cacingan dan efek minum obat cacing.

Ternyata yang diceritakan adik saya bener. Memang ada itu tentag cacing yang keluar lewat hidung dan mulut. Malah cerita cacing keluar lewat mulut memang pengalaman pribadi adik saya sendiri.

Saya makin takut.

Namun hasil googling terakhir menenangkan. Katanya, obat cacing zaman dulu memang hanya mampu mengeluarkan cacing tapi tidak membunuhnya. Zat dalam obat cacing membuat cacing tidak nyaman di tubuh kita, jadinya cacing berusaha keluar secepatnya. Kadang lewat dubur. Kadang lewat mulut. Kadang hidung. Semampunya saja. Dan keluarnya hidup hidup.

Ya salam…

Kuatkan hamba, Ya Allah..

Lebih baik dia hidup di perut hamba ketimbang harus ngeliatnya keluar hidup-hidup.

Namun kabar baiknya adala, berkat kecanggihan teknologi, obat cacing sekarang telah mampu membunuh cacing di dalam perut lalu ketika keluar lewat kotoran kita ia telah menjadi hancur lebur. Jadi kita tidak bisa lagi mengidentifikasikan cacing tersebut.

 

Tekad meminum obat cacing kembali ada. Dengan harapan bahwa kecanggihan teknologi tidak mengkhianati saya. didukung oleh ibu saya dan disemangati adik saya yang tetep masih cerita soal keluar dari telinga.

Bismillahirrahmannirrahim…

Obat cacing saya minum. Malam hari.

 

Lalu tidur saya tidak nyenyak. Khawatir cacing akan keluar lewat hidung kala saya tidur. Saya katakan kegelisahan saya pada adik saya. Dia malah enggan tidur sama saya. malam itu saya mimpi buruk.

Mimpi tentang cacing.

 

Paginya. Ketika buang hajat saya berdoa semoga cacingnya sudah kelar hancur lebur. Lalu saya dapat melanjutka hidup saya dengan bahagia. Dengan perut rata ala agnes monica.

 

Dua hari berlalu. Saya sulit menelan makanan selama dua hari. Khawatir kalau perut saya penuh saya bakal muntah dan keluar cacing. Masih takut cacing kelaur lewat mulut. Dan entah karena khawatir berlebih, saya terus merasa mual. Mual diserati takut memuntahkan cacing.

 

Suatu malam saya ke dokter. Minta rujukan ke dokter mata. Saya mau mengganti kacamata saya. di kesempatan itu saya bertanya sama dokter. Kalau minum obat cacing apa yang bagus? Dan ketika minum cacingnya bakal ke mana?

Dokter sungguh memberikan jawaban menenangkan. Katanya obay yang saya minum sudah benar, dan cacing sudah mati dan hancur keluar bersama feses.

Lalu saya bertanya, kalau perut buncit itu apa artinya saya cacingan?

Itu tidak dibenarkan oleh dokter tersebut. Katanya buncit itu bisa disebabkan oleh kulit perut yang tebal.

 

Pantesan buncit saya tidak hilang meskipun obat cacing sudah saya konsumsi.

Namun malam itu saya bahagia. Entah saya cacingan atau tidak. Namun karena saya udah minum obat pastinya sekarang saya sudah terlepas dari yang namanya cacingan. Dan saya siap menjalani kehidupan yang damai dan bahagia tanpa khawatir cacingan. Namun kabar buruknya, saya tetap harus rajin workout kalau mau perut rata kaya AgnezMo.

 

Advertisements