Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Saya Lamar!

Saya sedang jatuh cinta. Namun ini bukan jatuh cinta yang mudah. Lelaki yang saya jatuhi cinta mencintai perempuan lain. Tidak hanya itu, lelaki ini usianya terpaut jauh dari saya. Ketika dia tengah menikmati bandel-bandelnya masa SMA saya malah baru lahir.

Lelaki ini kocak nan aneh. Romantis yang ekslusif. Puitis dan unik. Lelaki ini mampu membuat saya tertawa dan senyum-senyum memikirkannya. Dan juga membuat perasaan saya begitu cemburu pada kekasihnya. Sungguh beruntung perempuan itu. Sial, dia bisa mendapatkan lelaki hebat begitu pikir saya.

Sudah saya katakan saya jartuh cinta. Namun ini bukan jatuh cinta yang mudah.

Sekali lagi. Tidak. Mudah. Tidak mudah.

Bukan hanya karena lelaki itu mencintai perempuan lain. Bukan hanya karena usia kami yang terpaut jauh. Namun lebih karena lelaki itu memang tidak bisa saya jangkau. Dia berada di luar batas jangkauan saya. Dia berada dalam ruang imajinasi. Dia hidup bernapaskan khayalan orang lain. Dia terpatri dalam kata-kata. Dia begitu ilusi.

Dia adalah Dilan.

 

Iya, dia bernama Dilan. Salah satu karakter fiksi karangan Pidi Baiq dalam sebuah novel berjudul: Dilan. Dia adalan Dilanku tahun 1990.

13084232_10204967266095902_432162233_n

Novel ini saya dapatkan hasil memeras seorang teman untuk dijadikan kado ulang tahun saya di tahun lalu. Novel keren yang sayang untuk dilewatkan. Dengan tutur bahasa ala-ala curhat karena memang begitulah sudut pandang yang ingin ditampilan, novel ini penuh dengan bahasa yang ringan.

Tokoh Dilan yang dilukiskan Pidi Baiq di novel ini dibuat dari sudut pandang Milea. Milea-lah yang dalam novel ini menceritakan bagaimana Dilan. Bagaimana Dilan menyukainya. Bagaimana cara Dilan PDKT dengannya. Bagaimana Dilan memberinya hadiah-hadiah.

Percakapan rayuan Dilan ke Milea sungguh lucu. Romantisnya kena, lucunya dapet. Romantis dan lucu dijadikan satu. Rasanya kayak makan oreo dicelupin ke susu.

Saya tidak bisa berhenti ketawa ketika Dilan menghadiahi Milea TTS yang sudah diisi semua sebagai kado ulang tahun buat Milea. Katanya, TTS-nya diisi supaya Milea gak usah susah lagi capek-capek ngisinya. Mungkin maksud Dilan, ini namanya pengorbanan.

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti besoknya, orang itu akan hilang.”

Tidak hanya itu kelucuan Dilan kepada Milea. Banyak. Milea saja tidak habis pikir dan tidak berhenti ketawa. Lah, saya apalagi. Seru. Dilan itu seru. Begitu kata Milea yang juga saya aminkan.

Dilan adalah sesesok lelaki perhatian, penghibur, lucu dan romantis yang juga jago bikin puisi. Tidak jatuh cinta kepada Dilan? Bagaimana bisa?

Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja. (Dilan 1990)

Ya… tentu saja Milea yang dengan mudahnya jatuh cinta pada semua aksinya Dilan juga membuat saya jatuh cinta pada Dilan. Jatuh cinta pada Dilan adalah sebuah keniscayaan. Lelaki seperti itu langka. Jarang.

Dan bila saya ketemu lelaki seperti Dilan di dunia nyata. Tahukah kamu apa yang saya lakukan?

Akan saya lamar!

Seperti komentar salah seorang Pak-Bapak yang pernah menjabat sebagai Pimpinan Cabang saya. Beliau bilang, dari cara saya berperilaku dan menulis maka dibutuhkan lelaki spesial yang mampu menangani saya.

Well, saya rasa orang itu mungkin haruslah seperti Dilan. Dilan kw ori bisa jugak.

Gak Cuma Minjem

Saya hobi sekali baca buku. Beragam macam saya embat kecuali buku pelajaran/kuliah. Membaca novel adalah hobi saya, tapi sekalipun saya gak pernah mau membelinya. Semua apa yang pernah saya baca berupa: novel pinjaman dari teman, dari pustaka atau nyewa di rental komik dan novel (pasti. Gak mungkin di rental mobil).

Suatu sore, kedua teman saya datang ke rumah. Kami memang janjian mau berbuka puasa bersama, jadi janjian ngumpulnya di rumah saya. Menunggu kedatangan mereka, saya membaca buku Kicau-Kacau yang udah lama banget gak selesai-selesai saya baca. Ketika teman saya datang, saya memegang buku tersebut. Entah bagaimana kisah mulanya saya akhirnya berucap.

“Gak siap-siap aku baca buku ni padahal udah lama aku beli”
“Ha? Gak salah ngomong ni?” tanya seorang teman saya dengan nada kaget yang super lebay.

“Apa?” saya tanya.

“Beli buku, Tan? Gak salah nih?” ulangnya tanya masih lebay.

“Ya..ya..ya.. sekarang aku udah BELI buku, gak cuman tau-nya MINJEM doank. Lagian sekarang kan aku udah bisa nyari uang sendiri gak ada salahnya dong aku memanjakan diri” Jelas saya berikut justifikasi.

“Alhamdulillah..” ucap teman saya.

 

Ya.. begitulah adanya, dulu saya ogah banget kalau mau beli buku. Yaa.. gimana mau beli, uang jajan aja seadanya. Jadi cara saya memuaskan nafsu membaca saya ya dengan minjem atau nyewa yang gak terlalu banyak keluar uangnya.

Sekarang kan beda, setiap bulan saya udah menghasilkan uang, jadi selain belanja baju dan apapun kebutuhan pribadi lainnya saya juga beli buku pake duit sendiri. Dan.. rasa-rasanya, saya lebih suka ketika saya berada di toko buku ngeliat tumpukan buku beragam judul ketimbang berada di toko baju ngeliat baju beragam model dan warna.

 

Pasti ada bedanya baca buku dengan duit sendiri ketimbang buku hasil minjem. Ternyata kalau buku tersebut punya sendiri bacanya jadi lamaaaaa banget. Gak kelar-kelar sampai hampir 2 bulan hanya untuk satu buku. Bandingkan dengan buku setebal Harry Potter hasil minjem yang bisa saya babat paling lama 1 minggu. Aaah… mungkin karena buku sendiri akan bersama selamanya tanpa tenggang waktu makanya bacanya pun jadi lebih santai. Eeh.. atau emang kemampuan saya membaca cepat udah menurun, yak?

Entahlah…

 

Aaaah… ada penerbit yang lagi ngasih diskon nih. Rp100.000 untuk 6 judul buku. Sayang, saya lagi gak punya duit kecuali untuk makan siang sampai gajian bulan depan.