Saingan Soong Joong Ki

Siang itu. Peluh bercucuran. Dahaga kering. Kaki terasa begitu kaku diajak mendaki selama setengah jam lamanya. Itu adalah perjalanan di Pulau Breuh tahun lalu. Perjalanan dari desa tempat kami menginap menuju ke mercusuar yang kalau tidak salah saya harus ditempuh selama 30 menit atau lebih.

Siang itu kami selonjoran ngasal di bawah mercusuar melepas lelah. Berharap angin berhembus kencang untuk menghilangkan keringat.

Siang itu, sekelompok traveler yang berasal dari bermacam latar belakang ini melepas lelah. Ada yang dengan cara tiduran hingga tidur beneran. Ada yang ngobrol bergosip. Ada yang sibuk berfoto-foto. Ada yang main domino. Dan ada seorang anak perempuan bandel yang iseng banget pengen cobain motor trail. Iya, saya bilangnya bandel. Soalnya ini anak emang kayaknya penokohannya bandel dan usil. Tapi orangnya asyik dan baik.

Si perempuan yang kita sebut saja bernama Mona ini emang tomboy. Tomboy namun suka pakai rok bunga bunga. Katanya sih, pencitraan. Ayahnya udah lelah melihat ia berwatak dan berpenampilan seperti lelaki. Jadinya ia mengubah citra agar terlihat sedikit perempuan. Berhasil sih. Menurut saya, tapi bandelnya gak ilang.

Mona nyobain motor trail dari penjaga mercusuar. Kami hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja melihat aksinya. Namun, baru beberapa saat motor melaju, motor itu tersendat pada jalanan menanjak yang tak rata. Mona sepertinya kehilang kendali dan jatuhlah Mona.

Detik-detik sebelum Mona jatuh kami terus mengawasi dari kejauhan. Antara was-was namun berharap ia berhasil. Namun nyatanya, ia gagal. Ia jatuh. Dan tepat saat itu seorang lelaki berdiri sigap dan berseru “Mona lon!” (Mona-ku). Lalu ia bergegas lari menuju ke arah Mona tanpa menggunakan alas kaki. Di siang terik. Pasti tanahnya panas. Dan diluar area mercusuar ini tanahnya tak rata. Bebatuan tajam pasti siap menghujam kaki si lelaki itu.

 

Suasana lalu riuh. Ada yang tertawa. Ada yang takjub. Ada yang berseru, “Bang Li udah kayak descendant of the sun (sebuah judul film Korea).”

Saat itu saya belum menonton Descendant of The Sun jadi saya gak tau miripnya di mana. Namun sekarang saat saya udah nonton pun saya gak tau juga adegan itu mirip di mananya. Mungkin secara umum aja ya. Ada seorang lelaki yang sigap banget menolong wanita yang disukainya.

Disukainya…

Selama berada di Pulau Breuh itu, saya menganggap kisah romansa Mona dan lelaki yang berlari itu adalah sebuah lelucon saja. Lelakinya iseng. Perempuan juga becanda. Tim hore-horenya banyak tapi. Belakangan saya malah jadi tim hore-hore juga.

Tapi saat saya melihat lelaki itu berlari sigap cepat seperti itu saya tercenung. Dalam hati saya berkata, “Dia beneran suka sama Mona.”

Semua anggota trip makin heboh, terus heboh melihat aksi lelaki itu. Saya Cuma diam, melihat, menikmati dan meresapi. Pikiran saya Cuma satu saat itu ketika menyadari lelaki itu beneran suka dengan Mona.

“Cerita ini wajib masuk dalam blog”

Namun ketika saya pulang kembali ke Banda Aceh urung saya lakukan.  Para anggota trip yang meng-add akun facebook saya kian banyak. Dan beberapa mereka rutin baca blog saya. ntar ketahuan dong kalau saya ghibah di blog sendiri. Huahahaha.

Tapi beneran kisah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Makanya saya tuliskan juga. Nanti saya tinggal purapura gila aja kalau anak-anak yang ngetrip ke Pulau Breuh kmarin itu komentarin.

Kisah ini seperti perwujudan pengorbanan lelaki yang siap sedia. Bagi penyuka film korea pasti bakal ngefans sama lelaki itu. Saya aja, kalau udah gak tau diri mungkin bakal ikutan ngefans sama lelaki itu. Ya gak tau diri soal umur, ya gak tau diri kalau di Banda Aceh sana ada tiga lelaki sedang saya pehape-in.

Tapi untuk pemuja keromantisan, percayalah. Jangan jauh-jauh berharap lelaki korea untuk menjadi pendampingmu. Lelaki Aceh-pun mampu melakukan hal serupa. Mampu bergerak cepat menjadi superhero untuk pujaan hatinya. Mampu melakukan apa saja untuk kekasihnya. Mau berkorban. Mau menderita asal pasangannya selamat dan bahagia.

Karena sebenarnya pemicu itu bukan tentang Korea atau suku. Bukan tentang kulit putih mulus ala lelaki Korea. Namun yang mampu menggugah hati lelaki mau berbuat apa saja demi perempuan itu adalah satu kata yang selama ini kita kenal dengan sebutan: cinta.

Sepulang dari Pulau Breuh saya tidak tahu kelanjutan kisah mereka. Namun sejak itu saya jadi tim pendukung cinta lelaki superhero itu. Yang mana, kalau mereka jadian saya turut senang. Kalau tidak ya tidak mengapa.

Karena siang itu. Saya melihat bukti cinta. Cinta yang bukan becanda. Karena bagi mata saya siang itu aksinya bukanlah becanda. Ia memang terlihat khawatir.

Kalaupun siang itu mata saya salah. Sungguh itu acting yang sangat luar biasa sekali. Dan kalau itu acting, sungguh Song Joong Ki punya saingan dari Aceh sekarang.

 

Advertisements

Ciptakanlah Kesempatan

Apa efek samping dari keracunan karbon monoksida? Tiba-tiba dijemput di Luengputu oleh Ibu saya untuk dibawa pulang ke rumah. Lalu mendekam lemas di rumah gak bisa ke mana-mana. Selagi nunggu kondisi badan fit atau malah terus melemah hingga diwacanakan akan opname, saya menghabiskan waktu menonton televisi. Suatu hal yang langka saya lakukan. Nonton televisi itu langka, nonton televisi selagi di Banda Aceh? Wah.. emang pernah kah?

Dengan kondisi langka inilah saya menemukan suatu tontonan menarik di layar kaca. Sebuah film dengan judul Hitch. Karena saya menontonnya di setengah bagian akhir dan merasa film ini seru dan layak ditonton ulang saya memutuskan untuk mendownloadnya saja. Lumayan, selagi di rumah ada wifi. Eh lalu adik saya mengatakan kalau film barusan itu bisa saya tonton ulang di TV tanpa perlu mendownloadnya?

Abaikan mulut saya yang menganga lebar. Baru tau kalau TV Ibu saya bisa secanggih itu. Oke. Bukan TV-nya yang canggih tapi layanan TV berbayar yang disewa Ibu saya yang canggih. Selama ini sungguh saya gak menyadari keluarbiasaan ini akibat saya gak pernah keracunan karbon monoksida. Eh bukan, gak pernah nonton TV ding.

 

Sebenarnya saya mau mengisahkan sedikit gambaran soal film yang baru saya nonton.

Sebuah film yang dimainkan oleh Will Smith yang berperan sebagai Alex Hitchens yang berprofesi sebagai Dokter Cinta. Job desk-nya adalah membantu pria-pria yang tidak memunyai kesempatan mendekati wanita pujaan hati mereka agar dapat berkencan dan menjalin hubungan. Pria yang dibantunya dibatasi hanya para pria yang hanya benar-benar mencintai perempuan yang selama ini diincar. Bukan para pria yang mengincar demi rasa penasaran lalu mencampakkan.

 

Hal yang membuat saya tertarik di sini adalah betapa benarnya Alex. Bahwa memang sebenarnya banyak pria di dunia ini tak berani mendekati wanita pujaannya karena merasa wanita pujaannya berada di kelas yang berbeda dengannya. Menganggap wanita cantik, kaya dan cerdas tak layak untuk dirinya dan berakhir hanya dengan mencintai dalam diam, mengamati dengan kelam, hingga akhirnya larut dalam penyesalan ketika wanita itu jatuh ke cinta lelaki yang salah.

Menurut saya, tak ada aturan siapa berhak mencintai siapa di dunia ini. Asal tulus, lelaki manapun bisa mencintai wanita seluarbiasa apapun. Namun kenyataan malu dan minder jadi ego yang lebih dipegang lelaki ketimbang menunculkan suatu keajaiban menciptakan momen yang membuat impian menjadi nyata.

Alex, bertugas menciptkan moment tersebut. Moment tidak sengaja yang sengaja dibuat agar si pria dapat dekat dengan wanita yang dikaguminya.

Pria sebenarnya gak bisa hanya mengagumi dalam diam dan akhirnya merelakan wanita impian ke pria lain. Pria haruslah menciptakan kesempatan bila memang kesempatan itu tidak tercipta alami. Kesempatan untuk menarik perhatian wanita.

Karena apa?

Karena tidak semua perempuan, atau tidak.

Mmmm… Begini. Perempuan pada dasarnya menyadari kalau dia tidak akan berakhir dengan lelaki super sempurna dengan tampan, kekayaan, matang, pribadi yang bagus, baik hati dan segala titel kesempurnaan dalam satu wujud lelaki. Perempuan sadar, seperti tidak semua lipstik murah akan berakhir jelek di bibir mereka, begitu juga dengan lelaki, tidak semua lelaki yang tidak memunyai segala kesempurnaan akan berakhir jelek di pelaminan bersama mereka.

Karena kami* para perempuan sadar. Tidak ada lelaki sempurna dalam satu paket di dunia ini. Maka itu, meskipun setangguh dan sekeras apapun kami, sehebat dan secerdas apapun kami, kami hanya tengah menanti. Ada seseorang lelaki berani yang mencoba menciptakan kesempatan untuk memulai hubungan. Lelaki yang sebenarnya tulus. Lelaki yang mungkin tidak kaya, mungkin tidak tampan, mungkin tidak gagah, namun lelaki berani yang membuat kami tersenyum, merasa nyaman hingga kami berkata: he is the right.

 

*iya deh. Saya deh saya. Bukan kami. Saya deh.

 

Karena saya tahu sekali bagaimana hati saya mencelos kecewa ketika tahu bagaimana seorang lelaki yang saya kagumi dan saya yakini pantas menjadi imam saya beranjak mundur. Hanya karena ia merasa penghasilan bulanannya kalah jauh dibandingkan penghasilan bulanan saya.

Oke. Mungkin saya tidak perlu kecewa. Mungkin ia memang tidak pantas menjadi imam saya. Imam macam apa yang pengecut bukan?

Jadi para lelaki yang membaca blog ini entah karena kamu memang pembaca tetap Kura-kura Hitam atau hanya selingan saja, pahamilah dua hal:

  1. Bahwa tidak semua perempuan itu mengharapkan kekayaan atau ketampanan. Namun yang mereka inginkan hanyalah keberanian dan ketulusan. Maka, ciptakanlah kesempatan.
  2. Nonton aja filmnya mungkin kamu akan sadar. Judulnya Hitch. Pemerannya Will Smith dengan Eva Mendez sebagai lawan mainnya. Maka, belajarlah menciptakan kesempatan.

Sebuah Film: The Proposal

Hasil dari menonton ulang film The Proposal adalah saya jadi semakin menyadari kalau menikah benar-benar akan mengubah hidup seseorang. Baik mengubah menjadi lebih bahagia, atau mengubah menjadi suram bak neraka. Maka itu, tak heranlah ada sebuah gambar sepasang pengantin menikah dengan latar belakang pantai suram berikut kata-katanya, “Game Over”, yang teman saya temukan di google.

Mari kita bahas Film yang diperankan oleh Sandra Bullock berpadu dengan Ryan Gosling.

Oh no. Ryan Reynolds rupanya. Saya sering kebalik sih ama nama mereka berdua. Kalau soal cakepan mana, saya sih akan menunjuk Ryan Gosling. Menurut mata saya ya.

Jadi film ini mengisahkan seorang wanita karir bernama Margareth Tate yang sangat ambisius dalam bekerja dan tipikal workaholic, independen, single, kaya, cantik, berkuasa, sukses dan ya pokoknya fantastic yang membuat saya berandai-andai agar saya bisa jadi setengahnya aja dari karakter Margareth Tate ini. Tapi mungkin sudah setengahnya sih kalau patokannya adalah status singlenya.

Margareth Tate harus berurusan dengan pihak imigrasi mengenai perpanjangan visanya yang tak ia lakukan hingga telat, lalu pihak imigrasinya memutuskan mendeportasi Margareth.

Demi tidak ingin didepak kembali ke negara asalnya di Kanada  dan kehilangan karir sebagai Kepala Editor di sebuah penerbit buku, sekonyong-konyong ia menjadikan asistennya yang bernama Andrew Paxton (Ryan Reynolds) sebagai tunangannya dan calon suaminya. Secara sepihak Margareth memutuskan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Tentu saja pernikahan ini palsu dan sebuah trik agar Margareth tetap bisa tinggal di Amerika dengan alasan ikut warga negara suami.

Menjelang pernikahan, Margareth menjadi tak tega melanjutkan pernikahan kontrak dengan Andrew. Ia merasa iba dan tak sampai hati harus merusak hidup Andrew yang bahagia dan damai serta dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai Andrew (keluarga, teman dan mantan pacar). Ia merasa, membuat Andrew menikahinya hanya untuk kepentingan pribadinya akan merusak masa depan Andrew. Dan ia tak tega. Tentu saja ia tak tega karena akhirnya perlahan ia mulai mencintai Andrew.

 

Nah.. kalimat perpisah Margareth untuk Andrew –lah yang membuat saya melek (lagi) soal pernikahan.

“…menghancurkan kehidupan seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi ketika kau tahu betapa bahagianya kehidupan orang tersebut.”

Begitulah penggalan kalimat Margareth di depan altar ketika hendak mengucapkan janji nikah. Tentu saja kalimat menghancurkan kehidupan itu berkaitan dengan pernikahan.

Bila mengingat-ingat lagi. Pernikahan memang bisa saja menjadi penghancur masa depan orang. Bila salah satunya menjalani tidak siap, ikhlas, atau tidak cinta. Atau bila siap di awal tapi melupakan tanggung jawab setelah dijalani.

Pernikahan gak melulu membawa kebahagian, itu yang saya amati dari kisah hidup orang. Maka dari itu, alangkah bijaknya, sebelum menikah pastikan dulu satu hal, lamaranmu akan menghancurkan hidup seseorang atau malah membahagiakan seseorang?

Sebaliknya, jawaban “Iya”-mu pada pelamar akan melengkapi hidupnya atau akan membuat suram masa depannya.

 

Pastikan itu. Setelah pasti maka jalanilah sesuai tekad. Karena hidup seseorang bukanlah bahan becandaan karena kita kurang piknik. *note to my self*

Akhirnya tentu saja film The Proposal yang rilis di tahun 2009 ini berakhir Happy Ending. Margareth dan Andrew menyadari kalau mereka saling cinta. Dan pernikahan mereka akhirnya terjadi dengan tanpa paksaan atau kepentingan salah satu pihak. Tidak menghancurkan hidup satu sama lain.

Saya suka film ini. Makanya ini mungkin kali ketiga saya nonton ulang. Saya menyukai karakter Margareth dan saya suka kisah yang memunyai unsur keluarganya. Di mana dalam film ini keluarga hangat dan lucu yang dimunculkan adalah keluarga Andrew.

 

Oke. Silahkan nonton kalau berminat. Kalau gak suka ya bukan salah saya. Beda selera aja sih kita.