Tidur Siang di Pantai

Menikah itu bagi saya tidak mudah. Memutuskan untuk menikah sukses membuat saya uring-uringan. Setengah gila. Seperempat waras. Seperempatnya lagi pura-pura amnesia.

Saya ingin sekali mengatakan “iya” dengan mudah untuk sebuah lamaran. Tapi ada hati kecil saya yang seakan menolak itu. Yang seolah berkata, “serius, Tan? Gak takut nyesel?”

Saya pergi liburan kala itu. Trip singkat nan dekat. Pergi untuk menghilang sejenak dari lelaki itu. Dari suaranya dan dari hadirnya. Menghilang dari keluarga yang melulu bertanya. Menghindar dari rutinitas harian.

Kala itu saya pergi berdua dengan teman saya. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu hingga dia tidak tahu menahu kondisi terkini saya. Seorang teman yang saya yakin tidak akan bertanya apapun perihal kalutnya pikiran saya.

Paling ketika ditanya tujuan liburan saya apa, saya hanya menjawab, “ingin tidur siang di pantai”

Angin syahdu, suara debur ombak saya rasa itu suatu terapi alami yang menenangkan. Saya butuh tenang.

Memejamkan mata di bawah sinar mentari yang iseng masuk di balik teduhnya dedaunan batang pohon. Membaringkan tubuh di atas pasir putih yang adem. Disenandungkan suara ombak. Saya terbuai. Terbuai dengan ketenangan ini. Ini yang saya cari.

Hari kedua liburan saya masih mencari pantai. Ingin menghirup aroma pantai di pagi hari. Dalam sesekali berkejaran dengan riak kecil ombak, saya ikut berharap keraguan saya pergi jauh dibawa ombak ke tengah lautan. Agar ragu itu menghilang. Lenyap dari jangkauan saya.


Karena… Pada ketenangan dari pantai ini. Dari alpanya pertemuan kami. Dari tiadanya suara kami yang menyapa. Saya merasa, saya menginginkannya.

Teman saya di depan saya, asyik masyuk berpoto-poto. Syukurlah ia tidak pernah bertanya apapun dan tidak tahu tujuan saya melarikan diri ini.

Saya menyusulnya. Memintanya bergantian saling poto.

Namun sebelumnya, saya ingin menjawab.

Advertisements

Prolog: Trip Singkat Ke Pulau Breuh

Awal Januari 2016 saya berikrar: Bulan Mei 2016 saya menikah. Salah satu kesongongan lainnya tentang saya. Tentang saya yang PD menaklukan apapun. Menyangka semua obsesi tentu akan dapat saya taklukan asal saya bekerja keras, asal saya berusaha.

Namun seperti mimpi-mimpi tahun lalu. Cita-cita tentang menikah selalu tak pernah kecapaian hingga sekarang. Kesongongan saya menargetkan kapan saya menikah tak pernah (atau belum) menjadi nyata. Lagi dan lagi. Bulan Mei tidak merupakan bulan di mana saya memakai baju pengantin.

Di akhir bulan Maret saya menyadari. Rencana saya kembali gagal. Dan libur panjang di minggu pertama bulan Mei yang saya ancang-ancang menjadi hari pernikahan saya lekas saya ganti jadwal menjadi libur untuk travelling.

Suatu malam, saya japri temen SMA saya yang hobi keliling Aceh. Saya tanyakan rencananya di long weekend (tanggal 5 Mei-8 Mei). Seperti dugaan saya dia punya rencana. Saya minta diikutsertakan. Dia sih bilang yes.

April dia ngasih kabar kalau trip yang bakal dilakukan adalah ke Pulau Breuh. Mengetahui bakal ke pulau rasa excited saya kembali buncah. Tentang patah hati dan patah semangat gagal menikah terabaikan sudah. Tergantikan khayalan tentang trip seru di salah satu tempat indah di Aceh.

Beberapa hari kemudian si temen ngasih tau lagi kalau trip yang bakal dijalankan bakalan diselingin dengan aksi donasi ke anak-anak di Pulau Breuh. Nah, ini bukan tentang aksi sosial yang disempetin buat liburan. Ini kebalikan, liburan yang diselingi dengan aksi donasi. Temen saya keren. Idenya dan beberapa temannya yang merencakan trip ini keren menurut saya. Jadilah nama trip kami menjadi: Gerakan 1000 Buku Tulis Untuk Anak Pulau Breuh.

Mengetahui hal itu saya langsung merasa keren. Apalagi ngebayangin saya bakalan terlibat dalam aksi sosial itu. Ini pengalaman pertama bagi saya. Pengalaman pertama ngetrip di kampung sendiri dan pengalaman pertama menjadi salah satu kontributor dalam donasi tersebut. Tetiba saya ngerasa mirip Mbak Nadine Chandrawinata.

Saat rapat pertama saya ikutan dan dikasih tau kalau yang bakal ikutan ngetrip berjumlah sekitar 30 orang. Rame banget pikir saya. Mereka dari berbagai kalangan, latar belakang dan komunitas. Semakin seru nih kayaknya. Saya selalu senang melakukan perjalanan dengan orang yang tak saya kenal sebelumnya. Semacam mendapatkan kejutan. Mendapatkan teman baru. Yang kalau cocok maka bakal jadi teman sesungguhnya. Yang bila tidak terlalu cocok, lumayanlah dapat kenalan baru yang entar kalau ketemu di lampu merah bisa kita tegur atau klakson.

Pada akhirnya yang ikut serta berjumlah 25 orang. Campuran lelaki dan perempuan. Campuran berbagai usia. Campuran komunitas. Campuran latar belakang. Campuran style. Yang kesemuanya punya kisah masing-masing.

Berbagai kisah dalam benak yang tetap membuat semuanya tetap kuat dan ceria. Berbagai kisah yang tetap membuat masing-masing orang merasa, melakukan perjalanan ini adalah sesuatu yang tepat. Sesuatu yang benar.

Tentang kisah cinta yang tak berbalas. Tentang mencintai dalam diam. Tentang rela berkorban demi perempuan yang dicintai. Tentang kangen suami yang tidak ikut serta. Tentang menunggu sebuah kepastian. Tentang lari dari kebisingan untuk menenangkan hati dan pikiran guna menetapkan pilihan kepada siapa hati harus dilabuhkan. Tentang memaksa hati agar tidak jatuh cinta sembarangan. Tentang kisah pahit yang terlarang untuk jatuh cinta. Tentang membagi hati. Tentang tidak mampu menerima cinta. Tentang terus menanti tanpa kehilangan asa bahwa seseorang yang bakal menjaga hati itu pasti akan datang. Tentang menikmati kesendirian. Tentang berjuang melawan segala keterbatasan. Tentang berbagi. Tentang 25 kisah orang yang melatarbelakangi sebuah senyuman yang tercipta kala menikmati sunset dan debur ombak di Pulau Breuh.

Saya tidak sehebat 24 orang lainnya. Saya tidak punya pengalaman traveling sebanyak mereka. Saya tidak melakukan aksi sehebat mereka. Saya hanyalah seorang karyawati biasa yang mencoba melihat mereka satu persatu. Melihat sisi melankolis sekaligus humoris dari setiap orang. Untuk saya rekam dalam ingatan. Menjadikan cerita. Lalu saya ambil pelajarannya. Bahwa bila kita berduka, duka itu bukan hanya milik kita. Bila kita tertawa, ajaklah orang lain untuk tertawa bersama. Karena dunia itu indah. Karena pun kadang dunia sedang tidak adil, tapi kita selalu punya harapan bahwa duka tak pernah abadi.

Perjalanan ke Pulau Breuh pada rentang waktu 5 hingga 8 Mei kemarin adalah salah satu pengalaman hebat lainnya dalam hidup saya. Meski pulang dengan wajah gosong dan kulit yang perih akibat tak tahan sinar matahari, tapi saya merasa pain yang saya dapat setara dengan gain yang saya genggam.

Awalnya saya sempat ragu untuk ke Pulau Breuh. Bagaimana tidak, awalnya saya traveling hanya ingin melarikan diri dari kenyataan kalau saya lagi-lagi batal kawin. Persis seperti traveling saya ke Korea akhir 2014 lalu. Lalu hanya beberapa minggu sebelum saya berangkat saya punya harapan baru. Jadi ya saya semacam kasian long weekend dipake buat traveling. Mending kencan pikir saya. Soalnya saya dan dia tinggal di kota berbeda karena faktor kerjaan. Sempat galau. Namun akhirnya saya putuskan pergi juga.

Syukurlah saya pergi. Terbebas dari sinyal hingga membuat saya lost contact dengan peradaban membuat saya benar-benar menikmati perjalanan dengan segala keindahan alamnya. Dan dari keheningan tanpa sinyal juga, saya jadi benar-benar berpikir dan menentukan pada siapa saya harus memberikan kepercayaan, hati dan harapan saya. Meyakini bahwa dia yang saya pilih insyaallah menjadi orang yang tepat. Memastikan hati saya tak lagi maju mundur cantik untuk berkomitmen.

Dan ya, meski saya tak jadi kencan namun saya pulang dengan membuat sebuah keputusan mantap. Dan semoga ini keputusan terakhir.

13214952_10205066630539951_492596024_o(1)

Muasal Kata Mandasyeh

Banyak pemuda-pemudi Aceh yang nyasar di Pulau Jawa sedang mencari rejeki dan mungkin juga belahan hati mempertanyakan fenomena yang sering terjadi di kampung halamannya ini.

Berdasarkan FAQ:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?
  2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?
  3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

Awalnya saya mendengar kata tersebut dari Carina. Perjalanan ke Korea Selatan di akhir tahun 2014 mempertemukan saya dengan gadis cantik ini. Dari dia pertama kalinya saya mendengar sebutan Mandasyeh. Entah memang dari dia sebutan itu saya dengar pertama kali. Entah pula dari dialah saya sadar akan penyebutan kota Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh. Penyebabnya tentu saja karena ia kerap menggunakan kata tersebut di sela-sela obrolan kami.

Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh entahlah sudah diketahui oleh Bunda Illiza atau belum. Bila Bunda sudah mendengar lalu membiarkannya bisa jadi kata tersebut tidak layak dijadikan issue untuk ia berantaskan. Maka para anak gaul kota Banda Aceh yang menjadi pengguna mayoritas kosa kata baru tersebut dapatlah berlega hati.

Tinggal di kampung selama 3 tahun dan pengalaman berbicara atau mendengar orang-orang menggunakan bahasa Aceh. Cukup membuat saya PD melakukan tulisan ini.

Sebagai warga Banda Aceh yang kampung Ayah saya di Aceh Besar. Maka saya tahu logat Aceh Banda Aceh dan Aceh Besar yang berbeda. Logat bahasa Aceh-nya Banda Aceh termasuk logat yang paling biasa saja. Tidak ada khasnya. Ibu saya yang besar di Kota Sabang dan baru bisa bahasa Aceh setelah menikah dengan Ayah saya, menggunakan Bahasa Aceh-nya Banda Aceh. Ayah saya menggunakan Bahasa Acehnya Aceh Besar meskipun setelah saya perhatikan bahasa acehnya sudah berbaur menjadi bahasa aceh biasa tanpa penebalan di huruf R. Akibat terlalu lama hidup di kota Banda Aceh dan berbicara dengan Ibu saya mungkin bisa dijadikan alasan.

Tapi bila saya pulang ke kampung ayah saya. Barulah khas Aceh Besar kelihatan. Saya sampai bersumpah gak mau bikin nama anak saya yang terdapat huruf R di dalamnya. Karena saya gak mau nasib anak saya berakhit tragis seperti keponakan saya di kampung.

Namanya Arif. Namun semua memanggilnya Aghih…onion-emoticons-set-5-49

Pernah tinggal di Bireuen selama beberapa bulan saya akhirnya dapatkan aksen Aceh lainnya. Beberapa kata dengan arti yang sama diucapkan dengan kata yang berbeda bagi warga Bireuen dan Aceh Utara sekitarnya. Ini dikenal dengan aksen Aceh Utara.

Maka ketika saya berbicara dengan nasabah menggunakan Bahasa Aceh, si nasabah bisa tebak dengan jitu kalau saya dari Banda Aceh. Bahasa Aceh yang standar banget.

Pindah ke Ulee Glee lalu sekarang hidup di Lueng Putu membuat saya mendengar Bahasa Aceh dengan aksen lainnya lagi. Ini Kabupaten Pidie Jaya yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Pidie. Bahasa Aceh di sini dikenal dengan sebutan Aceh Pidie. Tutur kata yang lebih halus dalam berbahasa juga gemarnya mereka dalam menganalogikan sesuatu dengan perumpaan ketika ngobrol sehari-hari merupakan sesuatu yang kerap saya tangkap di sini. Dan ya, jangan coba-coba saya gunakan Bahasa Aceh saya di sini kalau gak mau ditertawakan. Mereka akan tahu dari mana saya berasal. Terlebih lagi, mereka tahu kalau saya tidak terbiasa menggunakan Bahasa Aceh yang dengan frontal mereka anggap, tidak bisa berbahasa aceh. Padahal hanya tidak lancar, bukan tidak bisa. Untuk memahami saya sih bisa. Untuk mengucapkan agak-agak keseleo lidah kalau udah harus ngomong lebih dari tiga kalimat.

Kembali ke kata Banda Aceh yang bermetamorfosis menjadi Mandasyeh.

Kerap saya dengar baik di Bireuen maupun di Pidie Jaya masyarakat yang mengatakan,

“Lon keuemueng jak u Manda”

artinya: Saya akan pergi ke Banda (Banda Aceh)

nah.. ini dia. Masyarakat di sini sering menyebutkan Manda alih-alih Banda. Huruf B yang lafalnya diubah menjadi M.

bahkan saya pernah mendapati ada satu kata (yang saya lupa apa) yang bunyi huruf B-nya berada di antara B dan M.

Maka dari itu saya menyimpulkan ini hanyalah soal aksen. Di sini mereka menggunakan awalan M untuk kata Banda hingga menjadi Manda. Sedangkah akhiran ‘syeh’ pada kata Mandasyeh ini mungkin akibat morfologi yang asal-asal diucapkan. Aceh langsung dipelesetkan menjadi “Syeh” biar ringkas. Biar cepat sampai. Aish..

Berbeda dengan kata Jakarta yang diubah bunyinya menjadi Jekardah akibat meniru suara bule dan bisa jadi pelopornya Cwintha Lhaurah. Mandasyeh tercipta akibat meniru suara masyarakat kampung yang memang aceh banget. Di bawa ke kota oleh Mahasiswa dari kabupaten yang kuliah di kota Banda Aceh. Lalu dijadikan populer oleh anak-anak gahul Banda Aceh yang kini gemar ngopi di warung kopi fancy yang harga segelas minumannya 20k ke atas. Anak Gahul ini sendiri gak murni juga penduduk Banda Aceh. Banyak diantaranya adalah anak kabupaten yang berkuliah di Kota Banda Aceh lalu bahkan tingkat kepopuleran dan kegaulannya melebihi warga asli.

Jadi bila ingin menjawab secara singkat daftar FAQ maka:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?

– Akibat perubahan morfologi demi meniru warga Kabupaten dalam mengucap Banda menjadi Manda. Huruf B berubah bunyi menjadi M. namun tidak serta merta semua kata menggunakan huruf B menjadi M

2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?

-Populer sejak 2014 mungkin

3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

-Para Mahasiswa kabupaten yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi ternama di Banda Aceh

Lalu apakah tulisan saya ini layak dijadikan jurnal ilmiah atau bahkan referensi Skripsi Jurusan Bahasa Indonesia atau apapunlah itu?

Saya rasa jawabannya tidak. Karena ini murni penilaian subjektif saya hasil analisis sederhana saya. Berdasarkan pengalaman hidup di kampung yang lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Yang semoga cukup bermanfaat bagi teman-teman yang sering bertanya kenapa kota Banda Aceh tercintanya kini berganti nama,

Sabang dan Takengon

 

Suatu ketika di tengah-tengah obrolan tentang jejak-jejak liburan saya yang dibahas oleh beberapa teman, terdengar sebuah celetukan, “Tan, liburan ke Lombok, yuk?”

Untuk sesaat saya terdiam. Bingung harus berucap apa dan ngerasa ini seperti deja vu.

Kenapa harus bingung diajakin ke Lombok ya, kan?

Namun saya dan Lombok punya rencana sendiri. Dan ketika rencana itu disinggung oleh orang lain terutama lelaki, otomatis banyak kelebatan pikiran berdansa di kepala saya.

Saya yakin, si temen yang ngajakin ke Lombok itu bercanda. Karena dia memang tukang bercanda. 95% isi omongannya hanya candaan semata. Tapi hati saya tergetar juga. Semua karena Lombok dan cerita lalu.

Lombok saya tasbihkan sebagai destinasi liburan sekaligus bulan madu saya. Saya hanya akan ke Lombok dengan seorang lelaki beruntung yang akan menjadi suami saya nanti. Jadi, kalau kamu perempuan jangan ajak saya ke Lombok. Karena saya simpan tempat itu untuk tujuan khusus dan juga saya bukan pelaku LGBT.onion-emoticons-set-6-118

Juga, terlebih kalau kamu lelaki. JANGAN SUKA ASAL NGAJAK SAYA KE LOMBOK KALAU GAK MAU BIKIN SAYA BAPER.onion-emoticons-set-6-107

Mengajak saya ke Lombok saya anggap sebuah modus ngajakin saya ke KUA. Iya gitu. Saya mau ke Lombok hanya dengan suami saya nanti. Jadi kalau kamu ngajakin saya ke Lombok kamu mesti jadi suami saya dulu.onion-emoticons-set-6-140

Becandaan temen saya itu membuat memori saya terlempar ke ingatan beberapa waktu lalu. Ketika seseorang menyetujui ikut ke Lombok bersama saya. Ketika kami selesai membahas segala perintilan sketsa masa depan. Ketika saya hampir aja yakin dialah lelaki yang menemani saya ke Lombok.

Becandaan temen saya itu entah hanya kebetulan entah karena dia memang kerap membaca blog saya dan mengingat detil apa yang saya tulis. Saya gak menganggapnya kebetulan. Saya lebih menganggapnya iseng mempermainkan saya mengingat dia suka becanda. Jadi dia sengaja. Sengaja membuat beberapa kelebatan memori kembali tayang dalam pikiran saya.

Nah, kalau keinginan tujuan bulan madu saya adalah Lombok. Lain halnya dengan sahabat saya yang baru menikah.

Tujuannya ialah Sabang. Namun suaminya malah ingin ke Takengon. Lah.. ini gimana? Apa mereka pergi solo aja ke masing-masing tempat yang mereka inginkan?

Inilah susahnya kalau punya destinasi bulan madu yang berbeda dengan pasangan. Maka itu, saya menjadikan bulan madu ke Lombok sebagai syarat dan pertimbangan maunya saya menikah dengan seorang lelaki. Semua semata agar keinginan saya tercapai.

Ohya.. buat kamu pembaca blog ini dan berasal dari luar Aceh yang gak tau di mana itu Sabang dan Takengon. Berikut saya kasih tau sedikit info.

Dua tempat itu masuk dalam wilayah Aceh. Sabang yang lebih terkenal berada di ujung Aceh. Sabang sendiri merupakan pulau yang gampang dituju dengan menggunakan kapal. Sabang terkenal dengan keindahan lautnya dan biota alamnya. Cocok buat yang pengen leha-leha menikmati romantisme angin sepoi pantai bersama pasangan sah. Bisa snorkeling dan diving juga.

Takengon terletak di bagian tengahnya Aceh. Takengon ini suasananya pegunungan. Sejuk dan enak buat pasangan baru menikah yang mau pelukan mulu. Ada Danau Laut Tawar merupakan destinasi wisata yang layak dikunjugi. Ada Sungai Alas yang menyaingi Sungai Amazon.

Berikut akan saya bagikan poto-poto Sabang dan Takengon agar kamu menjadikan Aceh sebagai destinasi liburan kamu.

Pulau Weh (Sabang)
Pulau Weh (Sabang)
Pulau Rubiah (Sabang)
Pulau Rubiah (Sabang)
Takengon
Takengon
Danau Laiut Tawar (Takengon)
Danau Laiut Tawar (Takengon)
Sungai Alas Taman Gunung Leuser (Takengon)
Sungai Alas Taman Gunung Leuser (Takengon)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar dicomot dari FB Page: Piknik Yuk yang tersebar di timeline FB

 

Melihat perpaduan gambar Sabang dan Takengon saya rasa wajar sahabat saya dan suaminya rebutan mau ke salah satu tempat. Sabang menyajikan pantai yang romantis, Takengon menyajikan perpaduan alam yang indah dengan udara yang sejuk.

 

Lah terus kalau dua-duanya masih ngotot ke salah satu tempat kenapa mereka gak langsung aja naik L300 pergi ke kedua tempat tersebut kan? Istri senang. Suami bahagia.

 

 

 

Hilang Sinyal, Seorang Gadis Diduga Bunuh Diri

Sedang berasyik-masyuknya teleponan tetiba sambungan mati begitu saja. Secara sepihak. Tanpa aba-aba.

Sekali dua kali saya masih bingungonion-emoticons-set-6-123. Entah kali keberapa akhirnya saya paham akan pola-nya.

Ketika Mati lampu maka hilang sinyal. Jangankan sinyal internet. Sinyal teleponpun lenyap. Ajaib.

Kurang ngenes? Di desa ini mati lampu sering. Seminggu 3 kali? Bukan. Sehari 3 kali? Masih kurang.

Jadi berapa?

MINIMAL sehari 5 kali.onion-emoticons-set-6-117

Serius.

Emang sih matinya gak lama. Misal dalam 5 kali mati lampu. Ada yang matinya Cuma 5 menit bahkan ada yang semenit doang. Lalu entar ada tuh yang lama kayak sejam atau bahkan 8 jam.

Hari Minggu atau hari libur jadi jatah mati lampu paling jumawa. Bisa mati dari pagi dan baru nyala lagi pas sore. Maka dari itu, setiap weekend tiba saya pasti pulang ke rumah orangtua di Banda Aceh. Gak betah saya jadi pepes di kosan onion-emoticons-set-6-132

Fenomena mati lampu hilang sinyal ini sering kali membuat bingung semua teman yang saya konfirmasi perihal terputusnya sambungan telepon. Namun lebih seringnya mereka tertawa nista merayakan kengenesan hidup sayaonion-emoticons-set-6-46 .

Saya pindah ke desa Luengputu ini sejak April. Sebelumnya saya juga dari desa yang tak lebih modern juga, namun setidaknya jarang mati lampu. Dulu pas di desa sebelumnya yang masih satu kabupaten sama desa ini saya bisa sering ledekin orang yang tinggal di Banda Aceh. Dengan berujar, “Makanya, main-main ke Ulee Glee. Jarang mati lampunya.”

Jarang bukan berarti tidak ada. Lebih sering Banda Aceh-lah.

Ohya. Buat kamu yang baca postingan ini dan bertempat tinggal di Pulau Jawa gak usah heran gak usah kaget ya. Sumatera ya gini. Bahkan jauh sebelum Negara api menyerang kami udah terbiasa dengan listrik yang suka padam. Istilah sederhananya bagi orang aceh adalah Mati Lampu. Meskipun ketika itu bukan Cuma lampu yang mati tapi juga kipas angin, tv, kulkas, dan segala hal yang menggunakan listrik.

Saat pindah, pas banget moment-nya ketika saya tengah berada pada situasi paling down onion-emoticons-set-6-18 sepanjang hidup saya. Situasi yang sangat memprihatinkan keluarga saya. Karena mereka mengkhawatirkan saya yang jauh dari keluarga, Ibu dan adik saya kerap menelepon saya. Lalu hilang sinyal menjadi masalah. Seringnya mati lampu membuat masalahnya kian menjadi.

Makanya saya pernah berujar apabila saya tidak bisa dihubungi. Nomer saya tak aktif. Dan saya bagai hilang ditelan bumi. Relax…

Saya Cuma tenggelam dalam kenelangsaan akibat ditelan oleh kenyataan hilangnya sinyal onion-emoticons-set-6-106.

Jadi. Saya bukan menghilang apalagi bunuh diri akibat stress.

 

Ya buat jaga-jaga aja kan ya. Soalnya ibu saya itu drama banget. Apalagi dengan hobinya yang suka nonton Manusia-manusia Harimau. Entar panik karena handphone saya sedang tidak mendapat jaringan bisa-bisa diduga saya mati tepar bunuh diri karena minum teh campur sunlight biar berasa jadi lemon tea onion-emoticons-set-6-151.