Kuserahkan Padamu

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

Namun tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Coba ingat ingat lagi. Siapa yang lebih dulu memulai. Meskipun kamu yang duluan mendapatkan kontakku dan memulai sapaan hi juga pertanyaan penuh basa basi. Namun akulah yang memulai memercikkan sebuah letupan, agar hatimu berdetak bila muncul namaku dalam notifikasi ponselmu.

 

Coba kamu resapi. Meskipun kamu yang mengutarakan perasaan dan memanggilku sayang berkali-kali tanpa balasan serupa dariku. Namun akulah yang mati-matian memohon agar tak pergi kamu dariku. Agar tak jauh kamu di mataku.

 

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

 

Namun aku sadari. Pengorbanan yang lebih itu ada pada tangguhnya hatimu. Kesabaran tiada habis itu ada pada luasnya hatimu. Pemaafan tiada henti itu ada pada bijaknya pribadimu.

Pada aku yang plin-plan. Suasana hatiku yang berwarna warni. Baik burukku. Pada cinta yang bertahan sampai akhir. Semua kuserahkan padamu. Kupasrahkan padamu.

 

Bertahanlan sampai akhir. Sampai akhirnya kita memulai kehidupan baru kita. Hari setelah ijab Kabul kamu lantangkan mantap.

Bertahanlan sampai akhir. Sampai lelah mulutku mengomel padamu karena karena sebagai suami kamu masih terus saja lupa. Dan sebagai istri aku masih terus tak puas.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai anak-anak kita tak hanya menjadi sumber kebahagiaan kita namun juga sumber sakit kepalanya kita.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai rambutku memutih, kulitku kisut dan mataku tak mampu lagi melihat jelas senyum malu-malumu.

Bertahanlah sampai akhir. Dari kita memulainya berdua. Mengakhirinya berdua. Lalu hingga salah satu dari kita lebih dulu menghadap-Nya. Untuk yang pertama mengucapkan terima kasih pada-Nya, atas diberikannya jodoh terbaik. Atas skenario indah yang Ia buat. Atas pertemuan kita yang dijembatani dari kepatahhati-kepatahhatian.

 

Tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Kepatahhatian (1)

Saya tipikal perempuan sensitif nan perasa. Iya. Boleh gak percaya. Boleh terbahak. Bebas. Muka jutek, nada bicara judes dan gaya serampangan gak cocok emang kalau mau mengaku hatinya ini sensitif dan mudah tersakiti.

 

Namun nyatanya, untuk beberapa hal saya bisa menangis haru. Meski menurut adik saya bahkan pilem india yang tingkat sedihnya level juarapun tak mampu membuat saya menitikkan air mata.

Saya orang yang tidak bisa dikecewakan. Tidak boleh ditinggalkan. Tidak suka dilupakan. Bila hati saya telah saya percayakan pada satu orang, lalu bilang orang tersebut mengkhianati saya. Hancurlah perasaan saya.

Ini tidak hanya soal asmara pada lawan jenis. Namun ini juga berlaku kasih sayang pada keluarga. Romantisme persahabatan. Dan hormat dan menghargai pada rekan kerja atau bos.

 

Saya ingin bercerita…

Tentang bagaimana sakit hati saya ketika saya mengetahui bos saya pernah lain di depan saya lain di belakang saya. Tentang bagaimana ia manis di depan saya namun menjelekkan di belakang saya. Dia adalah sosok yang saya hormati. Saya banggakan pada teman-teman sekantor yang lain. Amat sering saya memuja kelebihan, kehebatan, kepintaran dan kebaikan bos saya. Tentu saja untuk dibandingkan pada bos mereka. Intinya, pada bos itu saya jatuh hati. Jatuh hatinya seorang bawahan pada atasan. Sebuah kisah jatuh hati dalam sebuah keprofesional.

Untuk memastikan tidak ada pembaca yang menafsirkan metamofa saya dengan pikiran pendek lebih baik saya jelaskan. Maskud kata-kata “jatuh hati” di atas tidak sama seperti perasaan jatuh hati sama lawan jenis ya. Maksdunya hanya perasaan hormat dan kagum pada atasan.

Lanjut…

Lalu pada suatu ketika saya mengetahui suatu hal. Bahwa kejelekan saya sebagai anak buahnya pernah ia sebarluaskan pada semua orang. Semua orang kecuali saya. Disitu terhenyak kecewa saya. Pikir saya ia sosok bijaksana. Yang akan mengevaluasi kesalahan anak buahnya hanya demi kebaikan anak buahnya. Akan menegur langsung anak buahnya bukan membicarakan anak buahnya di belakang. Yang paling membuat saya menjadi seperti orang bodoh adalah saya tidak pernah benar-benar tahu kesalahan saya apa karena tidak pernah ditegur. Namun semua rekan sekantor mengetahui apa salah saya. Yang paling membuat saya terlihat konyol adalah tentang saya yang terus bertingkah semua baik-baik saja yang padahal tidak. Semua karena tidak pernah ada teguran atau peringatan atas apa yang saya lakukan. Yang lalu hanya saya terima adalah hukuman. Hukuman tanpa tahu salah saya apa.

Kecewa iya. Terluka sangat. Dan jangan tanya kepatahhatian apa yang saya rasakan. Rasa kepercayaan saya pada seseoang terus makin kikis makin tipis. Semuanya terasa sadis.

 

Sejak itu saya memandang curiga pada semua orang sekantor. Pindah ke kantor baru membuat saya seperti harus memasang tembok pertahanan untuk diri sendiri. Untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang. Tidak terlalu kagum pada orang. Dan tidak usah terlalu dekat dengan atasan. Awalnya… saya jalani kehidupan di kantor dengan kepribadian robot. Diam bila tak perlu bicara. Menghindari keramaian dan manusia. Dan saya menatap mata-mata yang seolah memojokkan dan menyalahkan saya.

 

Butuh berbulan kemudian untuk move on dari patah hati. Untuk bisa menerima kekecewaan atas kepercayaan pada mantan bos. Hingga pada suatu pertemuan kantor ketika saya bertemu dia (si bos), saya bisa menjabat tangannya, menanyakan kabar, dan lalu mencandai satu sama lain seperti biasa. Seperti dulu. Kalau kata temen saya. saya udah baikan sama bos saya. Ya meskipun mantan bos saya gak tau saya marah padanya, seperti saya tidak tahu bahwa ia tak suka cara kerja saya. Tapi setidaknya saya sudah memaafkan. Memaafkan sakit hati yang ia ciptakan. Runtuhnya kagum saya padanya tak bisa saya bangun lagi.

 

Begitulah perasaan saya. begitulah sakit hatinya saya ketika dikecewakan seseorang ketika sosoknya telah saya pigura rapi di hati saya.

 

 

Kesunyian Beda Kelas

Tahun lalu saya masih ngekos di sebuah desa di Kabupaten yang berjarak 3 jam dari kota Banda Aceh. Di sana demi bisa mengumpulkan receh untuk mejeng di bandara dalam maupun luar negeri. Di sana untuk melangsungkan hidup. Di sana untuk tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesendirian dan kesepian.

 

Mundur ke beberapa tahun silam. Tepat ketika saya masih berkutat dengan segala keruwetan dan keidealisan seorang mahasiswi, saya pernah memiliki suatu cita-cita. Kelak, bila telah menjadi dewasa saya ingin menjadi perempuan mandiri. Bekerja di suatu perusahaan, hidup mandiri jauh dari orang tua, dan menjalani serta bertanggung jawab dengan diri sendiri.

 

Bayangan kala itu merujuk ke penokohan suatu karakter di film holiwud. Seorang perempuan muda dewasa, cantik, pintar dengan karir cemerlang. Hidup single namun jumawa di kota besar dan tinggal sendiri di apartemen yang tidak terlalu besar namun tidak kumuh. Memunyai cukup uang untuk kesenangan sendiri. Berkutat dengan segala kesibukan kerja hingga lupa asmara. Pulang kerja ketika membuka pintu apartement yang didapati hanya sebuah kegelapan namun kesunyian yang dirindukan setelah seharian penat dengan tumpukan kerjaan dan klien. Menyiapkan makan malam ditemani suara TV yang menyiarkan entah itu siaran komedi atau berita yang isinya entah apa. Hanya diperlukan kebisingan untuk menemani proses memasak spageti instan lalu segera memakannya. Setelah itu, mandi dan mengakhiri hari dengan tidur tenang nyaman seorang diri.

Yang saya narasikan di atas adalah sebuah kehidupan yang sempat saya cita-citakan. Sebuah pencapaian hidup menurut saya. Namun, memang Tuhan maha baik. Ia berikan kehidupan yang saya inginkan tersebut untuk saya jalani. Sama namun beda kelas.

Nyatanya….

Menjadi perempuan dewasa iya. Cantik ya dipaksain dengan fitur kamera hp dan perawatan wajah menguras dompet. Pintar, ya gak bisa dibilang bodoh juga. Karir cemerlang? Ya udah syukur dapat kerjaan. Tinggal mandiri jauh dari keluarga, iya banget. Namun bukan di apartement bagus, melainkan kos-kosan tanpa ventilasi yang baik di sebuah desa yang tidak ada keriuhan dan kepikukan sama sekali. Hidup single, iya banget. Memunyai cukup uang iya sih. Namun yang berbeda adalah sensasi pulang kantor. saya pikir, ketika membuka pintu dan mencumbu kegelapans aya akan merasakan kebebasan dan kenyamanan. Nyatanya, ketika pintu kosan saya buka setiap saya pulang kerja, yang saya temui adalah kehampaan dan kesepian yang memilukan. Yang bila diresapi membuat saya jatuh nelangsa dan terus bertanya, “ngapain saya harus membuang waktu saya di desa ini? Sedangkan orang-orang desa ini malah merantau ke kota tempat tinggal saya atau bahkan luar kota dan luar negeri?”

Iya. Pulang ke kosan setiap harinya itu menjadi hal terburuk. Sepi dan sunyi bukan sebuah kemewahan yang seperti selama ini saya pikirkan. Pulang ke kosan bukannya masak, malah menyurutkan nafsu makan saya. terlalu banyak malam saya lewati tanpa makan malam. Terlalu banyak malam saya merasa menyesal pernah ingin hidup sendiri jauh dari rumah. Terlalu banyak malam saya pikirkan dalam sepi kalau Tuhan memang mewujdukan doa saya. namun saya lupa mengatakan kalau maksudnya saya itu ingin tinggalnya di kota bukan di desa.

3 tahun hidup sendiri makan ditemani kipas angin dan ngobrol dengan dispenser cukup merusak otak saya hingga akhirnya sebelum otak saya rusak parah saya memutuskan:

 

NIKAH ENAK KALI YAK.

 

 

To be cont…

Hari tentang doa yang masih sama

Tiga bulan yang lalu usia saya telah sampai ke angka dua yang di belakangnya sudah banyak. Ke umur duapuluh yang ampir dekat ke angka tiga puluh. Di mana krim anti aging makin rutin saya pakai. Di mana kehilangan tabir surya lebih bikin saya sewot ketimbang kehilangan pacar.

Ulang tahun kemarin berlalu  biasa. Penambahan umur seperti seharusnya. Ucapan-ucapan yang biasa disertai iringan doa yang masih sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi.

Klasik.

Semoga jodoh saya disegerakan.

Dan sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi, balasan aamiin dengan khidmat saya lantunkan. Agar semesta mendengarkan meski suara saya terlalu sayup.

Tulisan tematik mengenai ulang tahun say,a memang berniat saya tuliskan. Karena entah sejak usia berapa, tulisan mengenai penambahan umur rutin saya tulis meskipun terkadang telat. Bahkan telat sebulan. Ini telat 3 bulan malah.

Ya… mengenai jarang nulis ini, bukan saya aja kok yang ngalamin. Bloger-bloger kece favorite saya juga blognya lama yang hiatus. Setahun posting Cuma 3 tulisan. Atau malah ada yang memang sudah menutup blognya. Entah karena ngeblog tidak seheboh dulu lagi. Entah para blogger yang semakin banyak urusan dunia yang mesti dibenahi.

 

Untuk saya, males dan lebih suka nonton streaming drama korea.

 

Minggu lalu, seluruh pegawai di kantor saya nongkrong cantik di sebuah kafe nge-hits di Banda Aceh. Ngobrol ngalor ngidul. Begosip ini itu. Sesekali bahas OSL dan target. Sesekali adu-aduan NPL. Entahlah…

Hingga ke percakapan tentang bunga. Tentang rangkaian bunga super besar yang diberikan rekan kerja saya ke kekasihnya yang wisuda. Lalu ditimpali dengan rangkaian bunga tak kalah aduhai dari seseorang untuk rekan satu kantor kami. Buket bunga ulang tahun. Yang jumlah mawarnya setara dengan usia dia. 22 tangkai untuk ulang tahun ke 22.

Lalu tetiba saya ingat. Ulang tahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu saya juga diberikan rangkaian bunga mawar oleh seseorang.  Namun jumlah tangkai mawar segar berwarna merah seperti warna kesukaan saya itu tidak menunjukkan jumlah usia saya.

Jumlah tangkai mawar itu hanya 4. Sedangkan usia saya  7  kali lipatnya.

Namun meskipun hanya berjumlah 4 tangkai, tidak membuat saya sirik dengan rekan saya yang berjumlah 22 tangkai. Saya malah senyum geli sendiri dengan bunga tersebut. Hingga sore itu ingatan saya melayang ke hari saya menerima bunga mawar ulang tahun saya.

 

Itu kali pertama saya diberikan bunga. Oleh lelaki pula. Di ulang tahun saya pula.

Apa masih harus saya tidak bersyukur?

Meskipun saya bukan tipikal pecinta bunga. Dan bukan tim perempuan sumringah dikasih bunga saat ulang tahun. Namun, hari itu saya senang. Saya bahagia.

Sesuatu yang pertama memang mampu menjadikan suatu hal spesial. Mendapatkan bunga untuk pertama kalinya memang sukses membuat saya merasa itu ulang tahun yang spesial. Ulang tahun yang saya anggap biasa namun berbeda.

Rangkaian bunga mawar saya yang sederhana membuat senyum saya terkembang hari itu. Diberikan oleh seorang lelaki spesial. Lelaki yang sungguh saya tak menyangka mampu memberikan saya bunga.

Karena awalnya saya udah pasrah dia bakal biasa aja di hari ulang tahun saya. Kalau dia lupapun saya gak bisa marah. Karena memang tipikal lelaki yang seperti itu. Bukan lelaki romantis namun dia klimis.

 

Saya memang gak menganggap bunga sebagai salah satu hadiah yang cocok buat saya. Saya lebih memilih diberikan sepasang sepatu, buku, atau tiket pesawat PP ke Turki. Atau dikasih combo ketiganya malah saya gak mampu nolak. Namun bunga ulang tahun kemarin cukup mampu membuat saya merasa kalau saya ini ternyata perempuan juga. Dan bersyukur lelaki klimis ini mengganggap saya perempuan dan layak mendapatkan bunga mawar berwarna merah.

 

Yah.. meskipun setelah puas saya menimang bunga tersebut saya sibuk mencari-cari apakah ada bingkisan lainnya sebagai kado ulang tahun saya. Syukurnya ada. Karena kalau tidak, apalah arti ulang tahun tanpa kado yang menyenangkan hati. Yang berharga, bernilai dan bisa dipakai. Bukan Cuma bunga yang dipajang beberapa hari lalu layu terbuang.

Hahaha… iya. Itulah kenapa saya kurang sreg ama bunga. Nilai ekonomisnya terlalu cepat menyusut. Hilang lalu dibuang.

 

 

Jadi, ulangtahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu. Di doa-doa yang dipanjatkan rekan, sahabat, dan keluarga yang mengharapkan agar jodoh saya mendekat dan ijab terucap cepat demi acara pernikahan yang akan dihelat. Saya berharap, doa itu mampu menembus langit. Diijabah oleh-Nya. Menjadikan saya dan lelaki klimis itu sepasang. Sepasang di dunia dan akhirat. Agar kelak, doa soal jodoh terhenti tahun ini. Agar rekan, sahabat, dan kerabat mampu mengimajinasikan untaian doa lainnya lagi untuk saya tahun depan.

 

Ketik Aamiin atau Like di kolom komentar, tapi gak menjamin kamu masuk surga sih.

 

Recehan yang Menjadi Emas

Hari itu seperti hari kerja lainnya. Nasabah datang silih berganti. Rata-rata ibu-ibu seperti biasanya. Hingga seorang Ibu yang wajahnya familiar bagi saya datang dan berkata, “Dek anak saya mau nabung emas.”

Saya berjinjit sedikit dan melongo ke bawah untuk melihat anak yang dimaksud ibu tersebut dengan gestur tubuhnya. Konter kerja saya tinggi hingga agak menyulitkan saya melihatnya meskipun akhirnya terlihat juga seorang anak perempuan berseragam merah putih.

Criing….criiiing….

Bunyi uang receh nyaring di lantai. Si Ibu mesem-mesem malu.

Dek, kalau uang receh bisa, kan? Ini uang celengannya dia. Dipindahin ke sini aja duit celengnya.

Wah… boleh, bu. Boleh banget. Saya juga malah perlu uang recehan. Rada sulit nyari recehan sekarang, Bu.

Si Adek berseragam SD tersebut lalu dengan kedua tangannya menaruh pundi-pundi hartanya ke atas konter untuk ia berikan ke saya. Saya sambut dengan sumringah. Sumringah karena ini kali pertama mendapati anak SD yang punya kesadaran menabung emas. Sumringah melihat recehan yang bisa dijadikan stok kasir buat kembalian ke nasabah. Sumringah kejadian ini bisa jadi bahan tulisan buat kontes Sahabat Pegadaian.

Dua puluh lima ribu ya, Kak. Sepuluh ribunya sama Mamak.” Ucapnya malu-malu.

Iya. Kakak hitung dulu ya.” Saya meraup recehan tersebut. Si ibu langsung memberikan lembaran sepuluh ribuan yang dia keluarkan dari dompetnya.

Untuk beramah tamah saya bertanya, “Si Adek udah tau kalau uang jajannya dimasukin ke Tabungan Emas gini, Bu?

Udah. Udah saya bilang kemarin itu.

Dianya gak keberatan?

Gak. Dia suka. Ada bukunya. Ada namanya dia.”

Saya terharu. Saya ingin meneteskan air mata. Namun ingat eye liner yang saya pakai gak waterpoof jadinya terharu doang tanpa pake air mata.

Setelah uang kelar dihitung dan jumlahnya sesuai yang disebutkan si adek SD, saya input transaksinya. Si Ibu juga gak mau kalah. Beliau juga ikutan nabung. 300 rebu.

 

Setelah mereka selesai bertransaksi masih dengan senyum sumringah karena mendapati anak SD datang ke Pegadaian bawa recehan beli emas, saya berkata, “Rajin-rajin ya, dek nabungnya. Entar kalau gede emasnya udah banyak, deh.

Si Adek senyum malu-malu. Menggenggam tangan ibunya. Dan berlalu dari kantor saya.

 

Segera setelahnya saya berpikir. Betapa anak SD aja mampu menabung emas, lalu di belahan bumi Nusantara yang lain ada temen saya yang masih meragukan kejumawaan Tabungan Emas. Atau bahkan yang lebih memprihatinkan, belum tau apa itu Tabungan Emas.

 

Saya flashback lagi deh. Meskipun tulisan Tabungan Emas udah berkali-kali saya bahas di blog saya.

Pegadaian kini hadir dengan inovasi yang memudahkan nasabah memiliki emas hanya bermodalkan duit 5 ribuan aja. Produk itu lalu dikenal dan melegenda dengan nama Tabungan Emas.

Tabungan Emas memiliki mekanisme transaksi serupa dengan tabungan biasa pada bank umumnya. Namun yang membuatnya kece dan berbeda adalah saldonya yang langsung dikonversikan ke dalam gram emas.

Kebayang?

Ilustrasi gampangnya gini.

Harga emas hari ini setelah saya cek di Aplikasi Sahabat pegadaian adalah Rp5.480 per 0.01 gram. Jadi bila kamu minimal bawa duit segitu kamu udah bisa nabung emas senilai 0.01 gram. Murah, kan?

Kalau kamu mau bawa duit lebih sih bisa juga. Coba lihat mungkin di dompet kamu ada recehan seribuan atau limaratusan yang berat-beratin dompet. Sinih, tukerin ke emas. ada berapa? 7.000? 10.000? 100.000? terserah kamu deh mau nabung berapa. Berapapun rupiah yang kamu kasih akan Tabungan Emas konversi langsung ke gram emas yang setara. Tapi inget, minimal penyetoran ya harus seharga 0.01 gram yang harganya berubah-ubah setiap harinya.

 

Untuk mengetahui harga emas kamu sih gak perlu repot-repot datang ke Pegadaian dulu. Tinggal gunakan hape, kamu donlod aplikasi sahabat pegadaian. Di sana bakal update harga emas harian per 0.01 gramnya. Atau kamu bisa juga main ke pegadaian.co.id

screenshot_2016-11-30-19-07-48_com-arukasi-pegadaian

Syarat pembukaan rekening Tabungan Emas ini gampang aja. Segampang kita diputusin sama kekasih pas lagi sayang-sayangnya. Eh maap. Keceplosan.

Syaratnya KTP dan uang Adm sebesar Rp10.000 lalu saldo awal per 0.01 gram. dengan ketiga hal itu kamu udah berhasil memunyai rekening Tabungan Emas Pegadaian.

 

Nah, kalau kamu mau tanya kenapa dedek gemesh yang masih SD pun bisa punya rekening Tabungan Emas padahal dia belum punya KTP?

Itu dia nebeng pake rekening emaknya. Jadi dibuatkan qq untuk rekeningnya dia.

14925551_10206173892220801_4970519693940212890_n

Awalnya emaknya harus bikin rekening Tabungan Emas dulu sebagai rekening induk. Lalu untuk membuat buku rekening tabungan si anak secara terpisah tinggal dibuat rekening tambahan dari rekening emaknya. Jadinya buku rekening emak dan anak terpisah. Si anak seneng. Emaknya bangga karena anak kecil udah punya kepedulian untuk menabung. Terlebih menabung emas yang memang udah dipercaya sejak nenek moyang dulu ampuh buat menjaga nilai uang kita.

 

Saya ngebayangin  Si Adek SD itu bila ia rutin menabung setiap minggu atau bulannya dari recehan sisa uang jajannya. Maka kelak, ketika ia dewasa ia sudah memiliki emas yang berlimpah. Yang bisa ia gunakan buat biaya pendidikannya kelak atau modal ia berwirausaha. Apapun itu. Yang jelas, anak sekecil itu sudah berinvestasi sejak belia. Investasi emas pula.

 

Jadi kamu, yang duitnya berwarna merah bergambar mantan presiden masih mikir-mikir buat berinvestasi emas? masih mikir  buat nabung emas? malu ih. Anak SD aja, yang duit recehan bisa nabung emas.Berinvestasi emas. Untuk membeli masa depan dengan harga sekarang.

 

Dan ada yang baruuuuu nih…

Sekarang untuk bertransaksi emas sudah bisa melalui ATM bagi pemegang kartu ATM BNI atau BRI. Jadi entar kalau kamu mau transfer duit buat emak di kampung, istri atau bayar hutang, bisa disekaliankan buat membeli emas via ATM.

 

Ayoooo… menabung emas bersama Pegadaian. Mengatasi masalah tanpa masalah.

IMG-20160404-WA0000.jpg

#AyoMenabungEmas

Cerita-cerita…

Sejak pindah ke Banda Aceh saya udah jarang update blog. Update media sosial juga gak sesering dulu. Semua karena saya udah gak kesepian lagi dan internet tanpa batas di rumah yang gak bikin kita fakir kuota, membuat saya lebih suka streaming daripada nulis.

 

Gak ada lagi pulang kantor Cuma disambut kipas angin. Makan ditemani dispenser dan curhat didengerin angin berhembus. Masa-masa kelam sendirian di desa tanpa ada yang jual empek-empek sudah terlewati.

Yang ada kini pulang ke rumah yang ada penghuninya. Mulai dicereweti lagi untuk makan. Rebutan kamar mandi dengan adek-adek. Dan kalau laper gak perlu pura-pura tidur biar lupa.

 

Suasana di kantor pun beda jauh. Di kantor sekarang ada manusianya. Dulu ya di kantor, ya di rumah, saya sendirian. Kini ada banyak manusia lainnya. Ada obrolan khas karyawan dan perempuan. Dari bahas si bos, nasabah, hingga mantannya rekan kerja. Dari bahas tas, pamer lipstik baru, hingga rebutan cane rasa coklat. Lebih hidup. Namun juga dengan beban kerja yang gak sesantai dulu. Dengan target yang bikin kening berkerut. Dan dengan jadwal kerja yang menjadikan hari Minggu tinggal legenda.

 

Namun bila ditanya, enakan mana, di tempat dulu atau di Banda? Rasa-rasanya gak perlu bibir saya menjawab. Tempat Dulu adalah desa yang tak kurindukan.

Bila ditanya, apakah saya senang kembali ke kota dan rumah sendiri? Rasa-rasanya gak perlu ditanya lagi. Meski lebih capek namun dengan kembali ke rumah semua terasa lebih mudah. Tidak ada lagi perjuangan sendiri dan susah-susah sendiri. Tidak ada lagi sakit sendu sendiri. Dan tidak ada lagi nangis Cuma peluk guling kalau lagi ada masalah.

Meski awal-awal mutasi ke kantor baru semua terasa lebih kejam daripada ospek mahasiswa baru. Dengan bos-bos yang begitu banyak. Dengan daftar target yang begitu jumawa. Dengan rekan kerja yang belum bisa saya ngerti. Bahkan saya sempat nangis di brangkas. Sempat nangis di depan Pak Bos. Sempat tersisih dan tersudut. Sempat dianggap Cuma seperti pot bunga di sudut ruangan saat rapat. Sempat dikucilkan. Dan sempat stress hingga jerawat membabi buta tumbuh di wajah.

Namun akhirnya semua terlewati juga. Sedikit demi sedikit semua membaik. Dan yang terpenting, saya mulai terbiasa. Terbiasa akan aturan yang lebih keras. Dengan target yang lebih banyak.

Yang dulunya nangis di brangkas, kini bisa ketawa ngakak dan gosip heboh di brangkas. Yang tadinya jadi pot bunga di sudut ruangan, sekarang jadi AC. Kalau mati pasti dihidupin supaya gak kepanasan. Tapi kalau hidup yang dicuekin. Haha… lumayanlah. Setidaknya udah gak dikucilkan lagi.

 

Sebentar lagi akhir tahun. Target- target harus tercapai. Meskipun dari sekarang udah tau berada di posisi aman. Tapi semua pasti bisa berubah di bulan Desember. Namun, apapun itu soal kerjaan yang mulai terkendalikan, saya berharap soal asmara juga mulai terkendalikan dan terprediksi. Jadi bukan soal target kerjaan aja yang berhasil namun target pribadi juga.

 

Meski masih November, saya sudah kadung berharap Desember tahun ini menjadi Desember yang lebih indah dari tahun sebelumnya.

Namun, Sayang…

Di suatu sore kita bertemu yang tanpa gebu. Tanpa tahu apa yang semesta mau. Namun itu menjadi sore yang mengubah segalanya. Mengubah lara menjadi ceria. Mengubah sendu menjadi senyum malu-malu. Dan yang paling hebat adalah, menjadi sehebat-hebatnya penyembuh luka yang muak menganga di hati kita.

Guliran waktu menjadi saksi tahap demi tahap bagaimana perasaan kita mengubah tujuan kita yang masing-masing menjadi tujuan yang sama dan bersama.

Hari-hari yang kita lalui. Senyum yang terkembang. Tawa yang melebar. Pertikaian dan argumen yang egois. Emosi dan segala arogansi. Sudah menjadi makanan sehari-hari.

 

Hingga lalu kita merasa jenuh. Jenuh akan senyum yang esoknya berubah menjadi amarah. Jenuh akan tawa yang esoknya menjadi teriakan. Tanpa tahu apa yang semesta mau terhadap kita.

Namun, Sayang. Ketahuilah ini. Meski tak sekalipun panggilan ‘Sayang’ aku lantunkan dari bibirku untukmu. Pun melalui jemari di pesan text. Namun, Sayang, padamulah aku ingin semua ini berakhir. Berakhir kehidupan sendiriku. Untuk kujalani berdua denganmu.

Meski kelu lidahku tuk berucap langsung. Namun hatiku tahu. Aku cinta kamu. Dan kamu harus tau.

 

Meskipun kita masih tak tahu bagaimana semesta merangkai cerita esok bagi kita. Namun biarlah kita terus berharap, agar semesta mau berbaik hati. Membuat mimpi kita menjadi nyata. Membuat dunia ikut tertawa pada kita. Lalu saat kita berpandangan, kita tahu, kenapa masa lalu mempermainkan kita begitu kejam. Semua karena agar kita bertemu lalu hati kita tergenggam. Pada perasaan yang dalam. Di siang dan malam.