Kala itu, Sepanjang Luengputu-Banda Aceh

Juni 2016 saya dimutasikan ke kantor Cabang Banda Aceh. Kembali ke rumah orang tua. Meninggalkan sebuah desa yang membuat saya selalu merasa sepi di desa yang memang sepi. Meninggalkan semua hal yang tidak pernah saya sukai. Meninggalkan luka hati sendirian. Meninggalkan sebuah kamar kos berukuran 3×4 yang merekam jejak pilu kesepian saya, tangis amarah saya akibat dipermainkan oleh orang, menangkap aroma keringat sepulang kantor, kamar yang memeluk saya dengan suasana hening menyengsarakan.

Saat itu saya tengan tiduran, sambil megang hape. Suatu aktivitas yang kerap saya lakukan sepulang kantor. Ponsel saya berdering dan menampilkan nama Bos saya. Saya angkat. Lalu beliau mengabari kalau saya mutasi ke cabang Banda Aceh. Dan mulai bekerja di sana pada tanggal 1 Juni.

Masih tak percaya awalnya karena si Bos yang suka becanda. Namun akhirnya saya girang bukan kepalang. Itu artinya, bulan puasa tahun 2016 gak berulang dua kali saya habiskan di Luengputu sendirian. Itu akhirnya bulan puasa tahun 2016 saya kembali ke keluarga saya. Itu artinya hidup ditemani dispenser dan kipas angin berakhir sudah.

Demi meluapkan kebahagian. Saya peluk kipas angin. Saya kabarkan kalau kami bakalan meninggkan desa ini untuk tinggal di rumah Ibu saya. Dia (kipas angin) ikut bahagia. Hal itu dibuktikan dengan masih berputarnya kipas dengan kencang untuk menghilangkan keringat bau saya di kamar kos pengap itu.

Lalu saya kabari adik dan ibu saya. Mereka senang. Tentu saja.

Lalu saya meragu untuk mengabari seseorang lagi. Seseorang yang sebulanan itu tengah dekat dengan saya.

Akhirnya saya telponlah beliau itu. Rupanya ia sama senangnya dengan keluarga saya. Lalu ia menawarkan diri untuk menjemput saya ketika saya pindahan.

 

Saya iyakan saja walaupun ini suatu hal yang aneh bagi saya. Selama hidup saya jarang bergantung pada orang lain selain keluarga inti. Jadi ketika ada yang repot repot mau ngejmeput saya pindah dari Luengputu ke Banda Aceh yang berjarak 3 jam perjalanan merupakan hal baru bagi saya. Saya anti bergantung pada orang lain yang bukan keluarga.

 

Ibu saya aja, saking cuek dan mandirinya saya gak lagi bertanya apakah saya butuh bantuan beliau dan ayah saya untuk pindahan. Karena ibu saya tahu, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri. Toh ini bukan kali pertama saya pindahan antarkabupaten. Selama 3 tahun kerja di perusahaan sekarang. Saya udah pindah kosan 3 kali. Dan selalu pindahnya jauh jauh. Saya kemas barang barang saya sendiri, saya angkut sendiri dan kadang dengan bantuan security kantor saya. Saya cara angkutan untuk pindahan sendiri. Dan cari kosan sendiri. Semua sendiri sudah biasa. Maka ketika dibantu saya justru tak biasa.

 

Singkat cerita hari kepindahan saya tiba. Sesuai yang dijanjikan lelaki itu datang menjemput saya. untuk pertama kalinya saya pindahan dengan bantuan orang lain. Barang barang saya diangkatin. Saya tak perlu berlelah-lelah. Semuanya lelaki ini yang angkut.

Siang itu Luengputu panas sekali. Ditambah dengan aktivitas mengangkat-angkat tersebut peluh bercucuran dari pelipisnya. Membasahi wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, hati saya tersentuh. Tangan saya tergerak untuk mengusap peluhnya. Sudah setengah jalan mendekati wajahnya lalu saya urung. Saya turunkan tangan saya. Dia menyadari hal itu, dia hanya tersenyum dan mengusap peluh yang tidak jadi saya lakukan.

Setelah itu saya hanya memberinya sebotol air minum dan tissue. Untuk ia tuntaskan mengelap peluhnya. Kala itu, di melelehnya keringatnya, hati saya meleleh.

 

Sudahkan saya merasa jatuh cinta?

Saya terus bertanya pada diri saya sepanjang perjalanan kami dari kosan saya di Luengputu hingga ke rumah di Banda Aceh.

Ataukah mungkin hanya karena ini suatu hal yang baru bagi saya? Menerima kebaikan hati seorang lelaki untuk membantu saya.

Mungkin ini hal sepele bagi orang lain. Sepele bagi seseorang yang memang selalu tersedia lelaki untuk memecahkan masalahnya dan meringankan bebannya. Namun bagi saya, ini suatu hal baru yang tidak biasa. Amat janggal.

 

Mutasi ini sendiri menurut saya sebuah hal yang seperti berkaitan dengan dirinya. Sebulan mengenalnya saya langsung dimutasikan. Feeling saya ketika itu adalah, sepertinya Tuhan ingin mencetak jejak langkah baru menuju jodoh buat saya. Didekatkan-Nya, dimudahkan-Nya.

Langkah awalnya adalah diletakkannya kami di satu kota. Kota tempat kami tinggal. Agar terhindar dari LDR.

 

Lalu, hati saya ketika itu mencelos lugu.

 

Iyakah, saya akan berjodoh dengan lelaki ini? Iyakah, mutasi ini salah satu cara Tuhan membuat langkah saya menuju jodoh saya menjadi dekat?

 

Pertanyaan yang terus saya ulang-ulang sepanjang perjalanan dari Luengputu ke Banda Aceh. Kala itu.

 

 

to be cont…

Hai… :)

Pengantin baru muncul. Eciyeh… yang belom ucapin selamat mana suaranya? Bagi yang baca blog saya dan gak berteman di media sosial mungkin gak tau kabar terbaru saya. Iya. Bulan Februari lalu saya akhirnya mengentaskan dua orang jomblo di bumi ini. Saya dan suami.

 

Awalnya niatnya saya adalah ingin bercerita secara runut tentang bagaimana saya akhirnya memutuskan menikah yang telah coba saya lakukan dalam postingan dengan judul Memilih Suami Part bla bla bla. Lalu juga saya ingin menceritakan kenapa lelaki inilah yang saya pilih sebagai suami. Lalu dengan surprise (belagu) pada hari dan jam akad nikah saya bakal launching postingan yang telah di schedule sebelumnya untuk ngasih tau hari itu saya nikah. Rencananya sih gitu. Namun rencana tinggal rencana. Setelah lamaran yang diadakan akhir tahun lalu, semuanya berada di luar kendali. Masih beberapa kali saya mencoba menulis, namun makin dekat hari H rencana tinggal rencana.

Perkara ngurusin baju nikah, milih make up artist, booking gedung yang akhirnya keduluan sama orang yang otomatis bikin emosi saya bertambah kacau disamping mental yang terus saya coba asah agar siap menjadi seorang istri.

Kalut. Ribet. Belum lagi saya harus kerja. Lalu belum lagi melihat arus kas saldo saya terjun bebas. Dan masih juga diselingi pertanyaan dan pernyataan saya baik kepada diri saya sendiri maupun kepada pasangan, “haruskah kita menikah?”

 

Akhirnya… kisah yang ingin saya ceritakan berlalu begitu saja. Dan sekarang sudah sebulan setengah saya menjadi seorang istri. Baru kali ini saya sempat ngetik ngetik lagi untuk update blog.

 

Di kesempatan sedang ditinggal dinas keluar daerah oleh suami kali ini. Saya menyempatkan diri untuk menulis postingan blog ini. Postingan pertama setelah bergantu status. Eheeeey…

 

Namun… rencana yang tertunda insyaallah akan saya laksanakan mulai sekarang. Jadi seperti rikues yang masuk ke BBM yang meminta saya mengisahkan kehidupan pengantin baru harus ditunda dulu. Karena saya harus menceritakan kisah bagaimana saya akhirnya memutuskan menikah. Suatu keputusan besar nan absurd namun harus dilakukan.

 

Jadi… wahai pembaca. Terima kasih masih mau ngelirik blog ini meski pemiliknya suka angin-anginan moodnya.

 

Cacingan

“Tan, kamu coba minum obat cacing, deh.” Sergap bos saya tiba-tiba ketika saya tengah menghitung uang. Saat itu saya masih karyawan OJT. Ditugaskan menjadi kasir minggu itu.

Spontan saya melihat perut saya. dalam hati bergumam, “Apa peurt buncitku keliatan banget ya? Ini si bos mikirnya saya pasti cacingan karena buncit.”

“Saya gitu, Tan. Rutin minum obat cacing, setahun sekali.”

Penasaran saya bertanya juga, “Karena perut saya buncit ya, Pak? Keliatan ya?”

“Ah enggak… minum aja, Tan. Bapak juga minum.”

 

Setelah itu hari saya dihantui MINUM OBAT CACING.

Setiap kali ngelihat perut, saya teringat obat cacing. Setiap kali liat Pak Bos, saya teringat obat cacing. Dan tetiba iklan lawas membayangi saya, “Anak Ibu cacingan? Tentu tidak. Kan sudah saya kasih kombatrin.”

Yang tau iklan itu berarti kamu TUA.

Lalu kepikiranlah saya pengen beli obat cacing. Mana tau saya beneran cacingan. Mana tau masalah perut saya ini bisa diatasi dengan obat cacing. Perut rata ala Agnes Monica bukan lagi khayalan. Gak perlu push up atau sit up. Cukup minum obat cacing.

 

Ketika saya mengutarakan maksud saya meminum obat cacing di sela obrolan santai dengan adik saya. Si adik merespon.

“Ih… ngeri tu, Kak. Nanti cacingnya bisa keluar dari mulut.”

“Whaaaaaat.”

Wacana minum obat cacing menguap seketika. Perut buncit sudahlah.

Tiga tahun berganti. Penempatan saya sudah ke mana-mana dengan status kini pegawai tetap. Bos saya itu sudah mutasi promosi. Semua berubah.

Buncit saya masih ada. Makin besar. Nafsu makan saya besar. Badan saya kurus. Orang-orang selalu berkomentar kalau saya cacingan. Karena gak mungkin dengan porsi makan besar badan saya tidak melar.

Saya juga mudah kelaparan. Baru makan perut udah bunyi.

Apa iya saya cacingan?

 

 

Wacana meminum obat cacing kembali muncul. Setelah pergolakan batin berbulan bulan dan  membulatkan tekad sebulat-bulatnya. Saya membeli obat cacing.

 

Lalu obat itu tergeletak berminggu-minggu tak saya sentuh setelah saya beli.

Bagaimana tidak. Setiap saya ingin meminumnya, cerita horror adik saya menjadi backsound. Kadang hanya berupa ingatan saya aja, kadang emang si adik nakut-nakutin langsung.

 

Ceritanya pun kian seram. Dari yang keluar dari mulut, hingga bisa keluar dari mata dan telinga?

 

“Whaaaaaat?”

Ini cacing kok heboh bener sih?

Saya ngadu sama Ibu saya. layaknya seorang Ibu bersertifikat nasional, sudah swajarnya belaiu mengucapkan kalimat-kalimat penenang. Bahwa ini bahwa itu yang saya takutkan tidak ada.

Tapi menilik Ibu saya yang memang jago kasih kalimat penenang walaupun sendirinya takut, saya gak percaya dong sama ibu saya. akhirnya obat cacing gak saya minum.

Perut buncit. Saya mudah lapar.

Jadinya saya googling. Nyari tau cirri-ciri cacingan dan efek minum obat cacing.

Ternyata yang diceritakan adik saya bener. Memang ada itu tentag cacing yang keluar lewat hidung dan mulut. Malah cerita cacing keluar lewat mulut memang pengalaman pribadi adik saya sendiri.

Saya makin takut.

Namun hasil googling terakhir menenangkan. Katanya, obat cacing zaman dulu memang hanya mampu mengeluarkan cacing tapi tidak membunuhnya. Zat dalam obat cacing membuat cacing tidak nyaman di tubuh kita, jadinya cacing berusaha keluar secepatnya. Kadang lewat dubur. Kadang lewat mulut. Kadang hidung. Semampunya saja. Dan keluarnya hidup hidup.

Ya salam…

Kuatkan hamba, Ya Allah..

Lebih baik dia hidup di perut hamba ketimbang harus ngeliatnya keluar hidup-hidup.

Namun kabar baiknya adala, berkat kecanggihan teknologi, obat cacing sekarang telah mampu membunuh cacing di dalam perut lalu ketika keluar lewat kotoran kita ia telah menjadi hancur lebur. Jadi kita tidak bisa lagi mengidentifikasikan cacing tersebut.

 

Tekad meminum obat cacing kembali ada. Dengan harapan bahwa kecanggihan teknologi tidak mengkhianati saya. didukung oleh ibu saya dan disemangati adik saya yang tetep masih cerita soal keluar dari telinga.

Bismillahirrahmannirrahim…

Obat cacing saya minum. Malam hari.

 

Lalu tidur saya tidak nyenyak. Khawatir cacing akan keluar lewat hidung kala saya tidur. Saya katakan kegelisahan saya pada adik saya. Dia malah enggan tidur sama saya. malam itu saya mimpi buruk.

Mimpi tentang cacing.

 

Paginya. Ketika buang hajat saya berdoa semoga cacingnya sudah kelar hancur lebur. Lalu saya dapat melanjutka hidup saya dengan bahagia. Dengan perut rata ala agnes monica.

 

Dua hari berlalu. Saya sulit menelan makanan selama dua hari. Khawatir kalau perut saya penuh saya bakal muntah dan keluar cacing. Masih takut cacing kelaur lewat mulut. Dan entah karena khawatir berlebih, saya terus merasa mual. Mual diserati takut memuntahkan cacing.

 

Suatu malam saya ke dokter. Minta rujukan ke dokter mata. Saya mau mengganti kacamata saya. di kesempatan itu saya bertanya sama dokter. Kalau minum obat cacing apa yang bagus? Dan ketika minum cacingnya bakal ke mana?

Dokter sungguh memberikan jawaban menenangkan. Katanya obay yang saya minum sudah benar, dan cacing sudah mati dan hancur keluar bersama feses.

Lalu saya bertanya, kalau perut buncit itu apa artinya saya cacingan?

Itu tidak dibenarkan oleh dokter tersebut. Katanya buncit itu bisa disebabkan oleh kulit perut yang tebal.

 

Pantesan buncit saya tidak hilang meskipun obat cacing sudah saya konsumsi.

Namun malam itu saya bahagia. Entah saya cacingan atau tidak. Namun karena saya udah minum obat pastinya sekarang saya sudah terlepas dari yang namanya cacingan. Dan saya siap menjalani kehidupan yang damai dan bahagia tanpa khawatir cacingan. Namun kabar buruknya, saya tetap harus rajin workout kalau mau perut rata kaya AgnezMo.

 

Adopsi Bayi atau Kucing?

Sebelumnya di: Kesunyian Beda Kelas

3 tahun hidup sendiri makan ditemani kipas angin dan ngobrol dengan dispenser cukup merusak otak saya hingga akhirnya sebelum otak saya rusak parah saya memutuskan:

 

NIKAH ENAK KALI YAK

 

Hidup makin datar. Begitu begitu saja. Bangun pagi pergi kerja. Pulang kerja pergi tidur. Senin sampe sabtu. Minggu. Besoknya senin lagi. selasa. Rabu. Kamis. Jumat. Sabtu. Bulan berganti. Tahun ganti juga. Hidup masih gini-gini aja. Gak ada tantangan.

Mau lanjutin kuliah tapi malas. Lagian otak saya udah tumpul kayaknya. 8X7 aja saya jawabnya mikir. Kalau ditambah sambil kunyah bakwan ngejawabnya bisa sampe menitan.

Kerja udah pas lah. Pas untuk liburan setahun sekali. Pas untuk beli lipstick 500k tapi kembalian 375k.

Tapi bosan.

Saya memulai percakapan di sebuah chat grup sama temen kerja saya.

“Kasih saran dong. Ngapain enaknya biar gak bosan di kosan? Pengen ngadopsi anak bayi deh”

Sambutan lumayan bagus. Mereka menolak keras mengadopsi bayi. Karena untuk pelihara kucing saja saya diragukan.

Ada yang menyarankan pelihara ikan. Ada yang menyarankan merawat tanaman aja karena gak ribet sama kotorannya. Tapi entah kenapa hati saya lebih ke milih merawat kucing.

Konon kucing binatang yang mau mendengarkan. Memelihara binatang bagus untuk orang kesepian. Dan saya pernah ngebaca tweet Raditya Dika tentang hubungannya sama kucingnya. Intinya, kucing binatang yang bisa dijadikan sahabat dan mendengarkan curhat kita.

 

Udah ngerasa aura ngenesnya hidup saya belum sih?

Well… hidup saya memang ngenes. Ngenes akibat hidup sendirian di sebuah desa yang gak ada bakso enaknya.

Suatu malam, saya memulai percakapan dengan seorang teman. Ia yang saya tahu memelihar kucing. Jadinya saya tanya di mana saya pet shop di Banda Aceh, karena saya mau beli kucing. Gak mau kucing kampung. harus kucing cantik supaya bisa masuk instagram buat gaya-gayaan.

Lalu niat saya ditolak keras oleh si temen. Katanya saya gak boleh pelihara kucing. Kasian kucingnya. Nanti pasti saya telantarkan. Kasian kucingnya nanti pasti ngenes hidup sama saya yang gak sayang binatang. Gak sayang kucing. Kasian kucingnya nanti gak dikasih makan sama saya. ya… begitulah komentar pecinta kucing.

Lagi. Saya diragukan tentang kemampuan memberikan kasih sayang dan merawat sesuatu yang hidup.

Tapi kali ini saya gak ngeyel. Saya juga meragukan saya bisa hidup akur sama kucing. Apalagi kalau nanti harus ngajarin kucingnya toilet training. Saya kan judes orangnya. Melihara kucing saya urungkan.

 

Lalu apa?

Pelihara bunga?

Hmmm… adopsi anak?

Aaah… punya anak aja kali yak. Kan lucu.

Tapi…

Nikah dulu kali yak.

 

To be cont…

 

Saingan Soong Joong Ki

Siang itu. Peluh bercucuran. Dahaga kering. Kaki terasa begitu kaku diajak mendaki selama setengah jam lamanya. Itu adalah perjalanan di Pulau Breuh tahun lalu. Perjalanan dari desa tempat kami menginap menuju ke mercusuar yang kalau tidak salah saya harus ditempuh selama 30 menit atau lebih.

Siang itu kami selonjoran ngasal di bawah mercusuar melepas lelah. Berharap angin berhembus kencang untuk menghilangkan keringat.

Siang itu, sekelompok traveler yang berasal dari bermacam latar belakang ini melepas lelah. Ada yang dengan cara tiduran hingga tidur beneran. Ada yang ngobrol bergosip. Ada yang sibuk berfoto-foto. Ada yang main domino. Dan ada seorang anak perempuan bandel yang iseng banget pengen cobain motor trail. Iya, saya bilangnya bandel. Soalnya ini anak emang kayaknya penokohannya bandel dan usil. Tapi orangnya asyik dan baik.

Si perempuan yang kita sebut saja bernama Mona ini emang tomboy. Tomboy namun suka pakai rok bunga bunga. Katanya sih, pencitraan. Ayahnya udah lelah melihat ia berwatak dan berpenampilan seperti lelaki. Jadinya ia mengubah citra agar terlihat sedikit perempuan. Berhasil sih. Menurut saya, tapi bandelnya gak ilang.

Mona nyobain motor trail dari penjaga mercusuar. Kami hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja melihat aksinya. Namun, baru beberapa saat motor melaju, motor itu tersendat pada jalanan menanjak yang tak rata. Mona sepertinya kehilang kendali dan jatuhlah Mona.

Detik-detik sebelum Mona jatuh kami terus mengawasi dari kejauhan. Antara was-was namun berharap ia berhasil. Namun nyatanya, ia gagal. Ia jatuh. Dan tepat saat itu seorang lelaki berdiri sigap dan berseru “Mona lon!” (Mona-ku). Lalu ia bergegas lari menuju ke arah Mona tanpa menggunakan alas kaki. Di siang terik. Pasti tanahnya panas. Dan diluar area mercusuar ini tanahnya tak rata. Bebatuan tajam pasti siap menghujam kaki si lelaki itu.

 

Suasana lalu riuh. Ada yang tertawa. Ada yang takjub. Ada yang berseru, “Bang Li udah kayak descendant of the sun (sebuah judul film Korea).”

Saat itu saya belum menonton Descendant of The Sun jadi saya gak tau miripnya di mana. Namun sekarang saat saya udah nonton pun saya gak tau juga adegan itu mirip di mananya. Mungkin secara umum aja ya. Ada seorang lelaki yang sigap banget menolong wanita yang disukainya.

Disukainya…

Selama berada di Pulau Breuh itu, saya menganggap kisah romansa Mona dan lelaki yang berlari itu adalah sebuah lelucon saja. Lelakinya iseng. Perempuan juga becanda. Tim hore-horenya banyak tapi. Belakangan saya malah jadi tim hore-hore juga.

Tapi saat saya melihat lelaki itu berlari sigap cepat seperti itu saya tercenung. Dalam hati saya berkata, “Dia beneran suka sama Mona.”

Semua anggota trip makin heboh, terus heboh melihat aksi lelaki itu. Saya Cuma diam, melihat, menikmati dan meresapi. Pikiran saya Cuma satu saat itu ketika menyadari lelaki itu beneran suka dengan Mona.

“Cerita ini wajib masuk dalam blog”

Namun ketika saya pulang kembali ke Banda Aceh urung saya lakukan.  Para anggota trip yang meng-add akun facebook saya kian banyak. Dan beberapa mereka rutin baca blog saya. ntar ketahuan dong kalau saya ghibah di blog sendiri. Huahahaha.

Tapi beneran kisah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Makanya saya tuliskan juga. Nanti saya tinggal purapura gila aja kalau anak-anak yang ngetrip ke Pulau Breuh kmarin itu komentarin.

Kisah ini seperti perwujudan pengorbanan lelaki yang siap sedia. Bagi penyuka film korea pasti bakal ngefans sama lelaki itu. Saya aja, kalau udah gak tau diri mungkin bakal ikutan ngefans sama lelaki itu. Ya gak tau diri soal umur, ya gak tau diri kalau di Banda Aceh sana ada tiga lelaki sedang saya pehape-in.

Tapi untuk pemuja keromantisan, percayalah. Jangan jauh-jauh berharap lelaki korea untuk menjadi pendampingmu. Lelaki Aceh-pun mampu melakukan hal serupa. Mampu bergerak cepat menjadi superhero untuk pujaan hatinya. Mampu melakukan apa saja untuk kekasihnya. Mau berkorban. Mau menderita asal pasangannya selamat dan bahagia.

Karena sebenarnya pemicu itu bukan tentang Korea atau suku. Bukan tentang kulit putih mulus ala lelaki Korea. Namun yang mampu menggugah hati lelaki mau berbuat apa saja demi perempuan itu adalah satu kata yang selama ini kita kenal dengan sebutan: cinta.

Sepulang dari Pulau Breuh saya tidak tahu kelanjutan kisah mereka. Namun sejak itu saya jadi tim pendukung cinta lelaki superhero itu. Yang mana, kalau mereka jadian saya turut senang. Kalau tidak ya tidak mengapa.

Karena siang itu. Saya melihat bukti cinta. Cinta yang bukan becanda. Karena bagi mata saya siang itu aksinya bukanlah becanda. Ia memang terlihat khawatir.

Kalaupun siang itu mata saya salah. Sungguh itu acting yang sangat luar biasa sekali. Dan kalau itu acting, sungguh Song Joong Ki punya saingan dari Aceh sekarang.

 

Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.

Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.