Tidur Siang di Pantai

Menikah itu bagi saya tidak mudah. Memutuskan untuk menikah sukses membuat saya uring-uringan. Setengah gila. Seperempat waras. Seperempatnya lagi pura-pura amnesia.

Saya ingin sekali mengatakan “iya” dengan mudah untuk sebuah lamaran. Tapi ada hati kecil saya yang seakan menolak itu. Yang seolah berkata, “serius, Tan? Gak takut nyesel?”

Saya pergi liburan kala itu. Trip singkat nan dekat. Pergi untuk menghilang sejenak dari lelaki itu. Dari suaranya dan dari hadirnya. Menghilang dari keluarga yang melulu bertanya. Menghindar dari rutinitas harian.

Kala itu saya pergi berdua dengan teman saya. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu hingga dia tidak tahu menahu kondisi terkini saya. Seorang teman yang saya yakin tidak akan bertanya apapun perihal kalutnya pikiran saya.

Paling ketika ditanya tujuan liburan saya apa, saya hanya menjawab, “ingin tidur siang di pantai”

Angin syahdu, suara debur ombak saya rasa itu suatu terapi alami yang menenangkan. Saya butuh tenang.

Memejamkan mata di bawah sinar mentari yang iseng masuk di balik teduhnya dedaunan batang pohon. Membaringkan tubuh di atas pasir putih yang adem. Disenandungkan suara ombak. Saya terbuai. Terbuai dengan ketenangan ini. Ini yang saya cari.

Hari kedua liburan saya masih mencari pantai. Ingin menghirup aroma pantai di pagi hari. Dalam sesekali berkejaran dengan riak kecil ombak, saya ikut berharap keraguan saya pergi jauh dibawa ombak ke tengah lautan. Agar ragu itu menghilang. Lenyap dari jangkauan saya.


Karena… Pada ketenangan dari pantai ini. Dari alpanya pertemuan kami. Dari tiadanya suara kami yang menyapa. Saya merasa, saya menginginkannya.

Teman saya di depan saya, asyik masyuk berpoto-poto. Syukurlah ia tidak pernah bertanya apapun dan tidak tahu tujuan saya melarikan diri ini.

Saya menyusulnya. Memintanya bergantian saling poto.

Namun sebelumnya, saya ingin menjawab.

Advertisements

Kala itu, Sepanjang Luengputu-Banda Aceh

Juni 2016 saya dimutasikan ke kantor Cabang Banda Aceh. Kembali ke rumah orang tua. Meninggalkan sebuah desa yang membuat saya selalu merasa sepi di desa yang memang sepi. Meninggalkan semua hal yang tidak pernah saya sukai. Meninggalkan luka hati sendirian. Meninggalkan sebuah kamar kos berukuran 3×4 yang merekam jejak pilu kesepian saya, tangis amarah saya akibat dipermainkan oleh orang, menangkap aroma keringat sepulang kantor, kamar yang memeluk saya dengan suasana hening menyengsarakan.

Saat itu saya tengan tiduran, sambil megang hape. Suatu aktivitas yang kerap saya lakukan sepulang kantor. Ponsel saya berdering dan menampilkan nama Bos saya. Saya angkat. Lalu beliau mengabari kalau saya mutasi ke cabang Banda Aceh. Dan mulai bekerja di sana pada tanggal 1 Juni.

Masih tak percaya awalnya karena si Bos yang suka becanda. Namun akhirnya saya girang bukan kepalang. Itu artinya, bulan puasa tahun 2016 gak berulang dua kali saya habiskan di Luengputu sendirian. Itu akhirnya bulan puasa tahun 2016 saya kembali ke keluarga saya. Itu artinya hidup ditemani dispenser dan kipas angin berakhir sudah.

Demi meluapkan kebahagian. Saya peluk kipas angin. Saya kabarkan kalau kami bakalan meninggkan desa ini untuk tinggal di rumah Ibu saya. Dia (kipas angin) ikut bahagia. Hal itu dibuktikan dengan masih berputarnya kipas dengan kencang untuk menghilangkan keringat bau saya di kamar kos pengap itu.

Lalu saya kabari adik dan ibu saya. Mereka senang. Tentu saja.

Lalu saya meragu untuk mengabari seseorang lagi. Seseorang yang sebulanan itu tengah dekat dengan saya.

Akhirnya saya telponlah beliau itu. Rupanya ia sama senangnya dengan keluarga saya. Lalu ia menawarkan diri untuk menjemput saya ketika saya pindahan.

 

Saya iyakan saja walaupun ini suatu hal yang aneh bagi saya. Selama hidup saya jarang bergantung pada orang lain selain keluarga inti. Jadi ketika ada yang repot repot mau ngejmeput saya pindah dari Luengputu ke Banda Aceh yang berjarak 3 jam perjalanan merupakan hal baru bagi saya. Saya anti bergantung pada orang lain yang bukan keluarga.

 

Ibu saya aja, saking cuek dan mandirinya saya gak lagi bertanya apakah saya butuh bantuan beliau dan ayah saya untuk pindahan. Karena ibu saya tahu, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri. Toh ini bukan kali pertama saya pindahan antarkabupaten. Selama 3 tahun kerja di perusahaan sekarang. Saya udah pindah kosan 3 kali. Dan selalu pindahnya jauh jauh. Saya kemas barang barang saya sendiri, saya angkut sendiri dan kadang dengan bantuan security kantor saya. Saya cara angkutan untuk pindahan sendiri. Dan cari kosan sendiri. Semua sendiri sudah biasa. Maka ketika dibantu saya justru tak biasa.

 

Singkat cerita hari kepindahan saya tiba. Sesuai yang dijanjikan lelaki itu datang menjemput saya. untuk pertama kalinya saya pindahan dengan bantuan orang lain. Barang barang saya diangkatin. Saya tak perlu berlelah-lelah. Semuanya lelaki ini yang angkut.

Siang itu Luengputu panas sekali. Ditambah dengan aktivitas mengangkat-angkat tersebut peluh bercucuran dari pelipisnya. Membasahi wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, hati saya tersentuh. Tangan saya tergerak untuk mengusap peluhnya. Sudah setengah jalan mendekati wajahnya lalu saya urung. Saya turunkan tangan saya. Dia menyadari hal itu, dia hanya tersenyum dan mengusap peluh yang tidak jadi saya lakukan.

Setelah itu saya hanya memberinya sebotol air minum dan tissue. Untuk ia tuntaskan mengelap peluhnya. Kala itu, di melelehnya keringatnya, hati saya meleleh.

 

Sudahkan saya merasa jatuh cinta?

Saya terus bertanya pada diri saya sepanjang perjalanan kami dari kosan saya di Luengputu hingga ke rumah di Banda Aceh.

Ataukah mungkin hanya karena ini suatu hal yang baru bagi saya? Menerima kebaikan hati seorang lelaki untuk membantu saya.

Mungkin ini hal sepele bagi orang lain. Sepele bagi seseorang yang memang selalu tersedia lelaki untuk memecahkan masalahnya dan meringankan bebannya. Namun bagi saya, ini suatu hal baru yang tidak biasa. Amat janggal.

 

Mutasi ini sendiri menurut saya sebuah hal yang seperti berkaitan dengan dirinya. Sebulan mengenalnya saya langsung dimutasikan. Feeling saya ketika itu adalah, sepertinya Tuhan ingin mencetak jejak langkah baru menuju jodoh buat saya. Didekatkan-Nya, dimudahkan-Nya.

Langkah awalnya adalah diletakkannya kami di satu kota. Kota tempat kami tinggal. Agar terhindar dari LDR.

 

Lalu, hati saya ketika itu mencelos lugu.

 

Iyakah, saya akan berjodoh dengan lelaki ini? Iyakah, mutasi ini salah satu cara Tuhan membuat langkah saya menuju jodoh saya menjadi dekat?

 

Pertanyaan yang terus saya ulang-ulang sepanjang perjalanan dari Luengputu ke Banda Aceh. Kala itu.

 

 

to be cont…

Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Kuserahkan Padamu

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

Namun tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Coba ingat ingat lagi. Siapa yang lebih dulu memulai. Meskipun kamu yang duluan mendapatkan kontakku dan memulai sapaan hi juga pertanyaan penuh basa basi. Namun akulah yang memulai memercikkan sebuah letupan, agar hatimu berdetak bila muncul namaku dalam notifikasi ponselmu.

 

Coba kamu resapi. Meskipun kamu yang mengutarakan perasaan dan memanggilku sayang berkali-kali tanpa balasan serupa dariku. Namun akulah yang mati-matian memohon agar tak pergi kamu dariku. Agar tak jauh kamu di mataku.

 

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

 

Namun aku sadari. Pengorbanan yang lebih itu ada pada tangguhnya hatimu. Kesabaran tiada habis itu ada pada luasnya hatimu. Pemaafan tiada henti itu ada pada bijaknya pribadimu.

Pada aku yang plin-plan. Suasana hatiku yang berwarna warni. Baik burukku. Pada cinta yang bertahan sampai akhir. Semua kuserahkan padamu. Kupasrahkan padamu.

 

Bertahanlan sampai akhir. Sampai akhirnya kita memulai kehidupan baru kita. Hari setelah ijab Kabul kamu lantangkan mantap.

Bertahanlan sampai akhir. Sampai lelah mulutku mengomel padamu karena karena sebagai suami kamu masih terus saja lupa. Dan sebagai istri aku masih terus tak puas.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai anak-anak kita tak hanya menjadi sumber kebahagiaan kita namun juga sumber sakit kepalanya kita.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai rambutku memutih, kulitku kisut dan mataku tak mampu lagi melihat jelas senyum malu-malumu.

Bertahanlah sampai akhir. Dari kita memulainya berdua. Mengakhirinya berdua. Lalu hingga salah satu dari kita lebih dulu menghadap-Nya. Untuk yang pertama mengucapkan terima kasih pada-Nya, atas diberikannya jodoh terbaik. Atas skenario indah yang Ia buat. Atas pertemuan kita yang dijembatani dari kepatahhati-kepatahhatian.

 

Tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Hari tentang doa yang masih sama

Tiga bulan yang lalu usia saya telah sampai ke angka dua yang di belakangnya sudah banyak. Ke umur duapuluh yang ampir dekat ke angka tiga puluh. Di mana krim anti aging makin rutin saya pakai. Di mana kehilangan tabir surya lebih bikin saya sewot ketimbang kehilangan pacar.

Ulang tahun kemarin berlalu  biasa. Penambahan umur seperti seharusnya. Ucapan-ucapan yang biasa disertai iringan doa yang masih sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi.

Klasik.

Semoga jodoh saya disegerakan.

Dan sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi, balasan aamiin dengan khidmat saya lantunkan. Agar semesta mendengarkan meski suara saya terlalu sayup.

Tulisan tematik mengenai ulang tahun say,a memang berniat saya tuliskan. Karena entah sejak usia berapa, tulisan mengenai penambahan umur rutin saya tulis meskipun terkadang telat. Bahkan telat sebulan. Ini telat 3 bulan malah.

Ya… mengenai jarang nulis ini, bukan saya aja kok yang ngalamin. Bloger-bloger kece favorite saya juga blognya lama yang hiatus. Setahun posting Cuma 3 tulisan. Atau malah ada yang memang sudah menutup blognya. Entah karena ngeblog tidak seheboh dulu lagi. Entah para blogger yang semakin banyak urusan dunia yang mesti dibenahi.

 

Untuk saya, males dan lebih suka nonton streaming drama korea.

 

Minggu lalu, seluruh pegawai di kantor saya nongkrong cantik di sebuah kafe nge-hits di Banda Aceh. Ngobrol ngalor ngidul. Begosip ini itu. Sesekali bahas OSL dan target. Sesekali adu-aduan NPL. Entahlah…

Hingga ke percakapan tentang bunga. Tentang rangkaian bunga super besar yang diberikan rekan kerja saya ke kekasihnya yang wisuda. Lalu ditimpali dengan rangkaian bunga tak kalah aduhai dari seseorang untuk rekan satu kantor kami. Buket bunga ulang tahun. Yang jumlah mawarnya setara dengan usia dia. 22 tangkai untuk ulang tahun ke 22.

Lalu tetiba saya ingat. Ulang tahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu saya juga diberikan rangkaian bunga mawar oleh seseorang.  Namun jumlah tangkai mawar segar berwarna merah seperti warna kesukaan saya itu tidak menunjukkan jumlah usia saya.

Jumlah tangkai mawar itu hanya 4. Sedangkan usia saya  7  kali lipatnya.

Namun meskipun hanya berjumlah 4 tangkai, tidak membuat saya sirik dengan rekan saya yang berjumlah 22 tangkai. Saya malah senyum geli sendiri dengan bunga tersebut. Hingga sore itu ingatan saya melayang ke hari saya menerima bunga mawar ulang tahun saya.

 

Itu kali pertama saya diberikan bunga. Oleh lelaki pula. Di ulang tahun saya pula.

Apa masih harus saya tidak bersyukur?

Meskipun saya bukan tipikal pecinta bunga. Dan bukan tim perempuan sumringah dikasih bunga saat ulang tahun. Namun, hari itu saya senang. Saya bahagia.

Sesuatu yang pertama memang mampu menjadikan suatu hal spesial. Mendapatkan bunga untuk pertama kalinya memang sukses membuat saya merasa itu ulang tahun yang spesial. Ulang tahun yang saya anggap biasa namun berbeda.

Rangkaian bunga mawar saya yang sederhana membuat senyum saya terkembang hari itu. Diberikan oleh seorang lelaki spesial. Lelaki yang sungguh saya tak menyangka mampu memberikan saya bunga.

Karena awalnya saya udah pasrah dia bakal biasa aja di hari ulang tahun saya. Kalau dia lupapun saya gak bisa marah. Karena memang tipikal lelaki yang seperti itu. Bukan lelaki romantis namun dia klimis.

 

Saya memang gak menganggap bunga sebagai salah satu hadiah yang cocok buat saya. Saya lebih memilih diberikan sepasang sepatu, buku, atau tiket pesawat PP ke Turki. Atau dikasih combo ketiganya malah saya gak mampu nolak. Namun bunga ulang tahun kemarin cukup mampu membuat saya merasa kalau saya ini ternyata perempuan juga. Dan bersyukur lelaki klimis ini mengganggap saya perempuan dan layak mendapatkan bunga mawar berwarna merah.

 

Yah.. meskipun setelah puas saya menimang bunga tersebut saya sibuk mencari-cari apakah ada bingkisan lainnya sebagai kado ulang tahun saya. Syukurnya ada. Karena kalau tidak, apalah arti ulang tahun tanpa kado yang menyenangkan hati. Yang berharga, bernilai dan bisa dipakai. Bukan Cuma bunga yang dipajang beberapa hari lalu layu terbuang.

Hahaha… iya. Itulah kenapa saya kurang sreg ama bunga. Nilai ekonomisnya terlalu cepat menyusut. Hilang lalu dibuang.

 

 

Jadi, ulangtahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu. Di doa-doa yang dipanjatkan rekan, sahabat, dan keluarga yang mengharapkan agar jodoh saya mendekat dan ijab terucap cepat demi acara pernikahan yang akan dihelat. Saya berharap, doa itu mampu menembus langit. Diijabah oleh-Nya. Menjadikan saya dan lelaki klimis itu sepasang. Sepasang di dunia dan akhirat. Agar kelak, doa soal jodoh terhenti tahun ini. Agar rekan, sahabat, dan kerabat mampu mengimajinasikan untaian doa lainnya lagi untuk saya tahun depan.

 

Ketik Aamiin atau Like di kolom komentar, tapi gak menjamin kamu masuk surga sih.

 

Adalah

Adalah suatu kebodohan menyatakan perasaan ketika dalam hitungan jam status kamu akan berubah. Mendapatkan gelar baru yang begitu didamba. Menjadi seorang suami.

Adalah sebuah kemustahilan pernyataan perasaanku mampu menggoyahkan yakinmu berijab kabul. Hidup terlalu ribet untuk dianggap seumpama adegan sinetron. Biaya yang keluar demi sebuah prosesi dan resepsi akad nikah bukan perkara sederhana.

Adalah aku yang patah hati.

 

Apa yang salah dari menyukai kamu hingga kamu bertanya letak alasan aku menyukaimu. Apa yang aneh dari rasa suka pada lawan jenis hingga kamu meragukan perasaan sukaku.

Apa yang begitu mewah dari sebuah rasa cinta diam-diam hingga aku ngerasa begitu berharga perasaan ini untuk diumbar percuma.

Akhirnya yang ada hanya…

Seorang perempuan tengah patah hati. Di antara tumpukan daftar nasabah jatuh tempo.

 

 

 

 

 

Coba Tanyakan Lagi Besok

“Saya sedang tidak ingin menikah”.

Wajahmu tercengang. Tak bisa kutebak apa artinya. Entah kamu bersyukur lega atau menganggap saya aneh. Baru kemarin saya begitu marah ketika kamu katakan hubungan kita dihentikan saja sebab restu tak berpihak pada kita. Pada saya lebih tepatnya. Dari ayahmu.

“Itu pikiran hari ini”, lanjut saya.

Sebab hari ini saya begitu lelah. Badan saya lelah menyangga hati saya yang terus terluka. Telinga saya lelah mendengar cemoohan. Mata saya lelah melihat masa lalu pahit saya.

 

“Tapi gak tau kalau besok”.

Kamu melongomu makin menjadi. Sudah tidak dianugerahi garis wajah cerdas tambah lagi ekspresi konyolmu. Tapi justru membuatku tertawa. Tawaku semakin membuatmu bingung. Tapi yakinlah, saya sedang tidak keracunan minuman chocolate mint yang baru saja saya minum.

“Coba aja besok tanya lagi, ya?”

“Kenapa?” akhirnya kamu bisa bersuara. Suara menggemakan pertanyaan.

“Sebab saat ini pikiran saya penuh dengan indomie telur rawit. Pikiran tentang menikah tak bisa saya sisipkan di kepala kecil saya ini.”

 

 

Gak Nafsu Makan

Terjadi percakapan ringan menjelang keberangkatan pulang saya dan teman-teman dari Pulau Breuh. Seorang perempuan muda mengatakan betapa dia heran melihat perempuan lain kalau stress malah kurus. Sedangkan dia, kalau stress malah banyak makannya yang menyebabkan dia gemuk.

Sontak saja, seorang lelaki menunjuk saya. Dia berkata, “kalau mau kurus tanya resepnya ama Intan,”

Saya langsung memalingkan wajah saya ke yang ngomong. Dan ya, saya jadi dituduh sedang stress sama yang lain.

Sebenarnya iya juga sih. Kalau stress saya cenderung gak bisa makan dan kurus. Tapi kemarin itu saya gak tengah stress juga. Emang baru pulih dari sakit dan nafsu makan belum membaik. Hingga berat badan 48 kilo yang saya banggakan tempo hari harus turun dan puas berada di angka 45 saja.

Pulang dari trip ke Pulau Breuh minggu lalu, nafsu makan saya berkurang. Sehari makan sekali saja. Itupun makan karena badan udah lemes dan hoyong banget. Tentu saja ini akibat dari stress.

Stress menyebabkan nafsu makan saya terbang ke Macedonia.

Penyebabnya apa?

Ini bukan perkara patah hati, beban kerja atau bahkan keuangan. Ini harusnya bila terjadi pada orang normal adalah suatu hal yang membahagiakan. Namun bagi saya, menakutkan.

Sepulang dari liburan, seorang lelaki yang tengah PDKT sama saya mengatakan, bila saya telah yakin mau sama dia dan menjalani hubungan hingga semoga berjodoh, maka saya diminta untuk melepaskan lelaki lain yang tengah dekat dengan saya juga. Saya diminta untuk tidak memberikan harapan palsu kepada yang lain. Fokus ke dia.

Mendengar pintanya saya terdiam. Sejak putus tunangan setahun lalu, saya perhitungan soal hati. Saya tidak mau menyerahkan perasaan saya utuh ke satu orang tanpa jaminan orang tersebut gak bakal membuat hati saya kecewa lagi. Jadinya, setiap kali ada lelaki yang dekat dengan saya, ya saya persilahkan. Di lain sisi saya juga mempersilahkan lelaki lain untuk mengenal saya. Saya sendiri tidak mau terikat hubungan dengan mereka. Selalu saya katakan, kenali aja saya dulu. Kalau cocok ya lamar saya.

Nah, saya hanya menerapkan sistem siapa duluan dia dapat. Jadi siapa kira-kira dari sekian lelaki yang saya ladeni yang duluan memikat hati saya lalu ngelamar dan kemudian direstui orangtua maka pada dialah saya menasbihkan diri sebagai istri.

Dan dari semua yang dekat dengan saya, tidak satupun meminta saya hanya fokus kepada mereka. Entah mereka yang PD banget saya cuma meladeni salah satu dari mereka, entah mereka memang membebaskan.

Hingga lelaki satu ini muncul dan minta diprioritaskan bila saya mau sama dia. Bila saya tidak yakin saya boleh pergi.

Permintaan yang sulit. Semacam, ini orang high quality manner, namun bila saya diminta fokus sama dia saya semacam disuruh bertaruh lagi akan kebahagian hidup saya.

Untuk bahagia kita kadang butuh rasa sakit. Tapi saya terlalu takut untuk merasakan sakit lagi pada apa yang disebut kebahagian semu.

Berhari-hari saya memikirkan permintaannya sehingga saya stress dan tidak nafsu makan. Hingga di suatu sore saya memutuskan untuk tidak mengiyakan permintaannya. Kami berjanji ketemu sore itu. Di situ akan saya katakan saya tidak mampu mempertaruhkan lagi fisik saya untuk menderita.

Sebelumnya, saya sedang chating dengan temen. Saya curcol dong.

Di sesi curhat itu saya serasa ditampar oleh temen saya. Dikatakan, mau sampai kapan sih saya gak pernah bisa meyakini sesuatu. Mau sampai kapan saya curiga sama lelaki. Mau sampai kapan saya gak mau memberi kesempatan kepada lelaki. Mau sampai kapan saya kepengen berjodoh dengan seseorang tapi membuka hati tidak mau.

Lantas… saya berubah pikiran.

Sore itu hujan. Kami tidak jadi bertemu. Pikir saya ini baik, saya punya waktu untuk berpikir. Mengikuti ego saya. Atau melakukan apa yang dinasehati sahabat saya.

Akhirnya malam sebelum berangkat ke perantauan saya bertemu dengannya.

Saya menguak cerita masa lalu saya. Suatu cerita yang gak pernah saya ceritakan kepada gebetan manapun. Karena saya gak mau siapapun kelak yang menjadi suami saya tahu kalau saya pernah bertunangan dan pertunangan itu kandas dengan penuh drama. Itu semacam aib bagi saya. Toh di antara mereka banyak yang gak tau saya suka nulis cecurhatan hingga gak tau keberadaan blog ini.

Namun dengan tenang, ia mengelus kepala saya lembut. Ia jadi paham kenapa selama ini saya tampak begitu keras. Kenapa selama ini seperti ada yang saya tahan-tahan.

Lalu akhirnya, malam itu saya memutuskan.

Insyaallah. Saya mau dengan lelaki ini.

Insyaallah. Saya hanya akan fokus ke dia.

Insyaallah. Semoga yang ini bukan orang yang salah.

Aku Malu

Malam itu kamu mengusap kepalaku lembut. Namun efeknya dadaku bergemuruh hebat. Segera kusingkap jemari tanganku ke bawah meja. Agar gemetarannya tak kamu lihat. Agar saat kamu iseng menyentuh tanganku dinginnya tak kamu rasa.

Tatapan matamu yang syahdu mendebarkan. Membuat aku bertanya, tentang apa yang kamu lihat pada diriku. Malam itu cuma sepulas lipstik bertengger di bibirku. Lainnya tiada. Masihkah aku terlihat cantik?

Bila kamu menemukan rona merah di kedua pipiku, kamu beruntung. Itu berarti aku tengah malu-malu. Malu-malu bertemu kamu untuk pertama kali hanya berdua.

Kamu bilang kita semestinya sering bertemu. Aku jawab tidak. Tidak usah terlalu sering. Bukan tidak rindu. Namun biarkan rinduku hanya Tuhan yang tahu.

Anggap saja setiap pagi aku mengucapkan selamat pagi untukmu selepas bangun dari tidur. Meski tidak kamu dengar namun begitulah adanya.

Anggap saja setiap malam aku mengucap rindu padamu. Meski tidak terkatakan namun itu nyata.

Anggap saja, ketika kamu memanggil sayang, kubalas juga dengan panggilan sayang. Meski aku bungkam, aku juga ingin.

Biarkan diamku menjadi tanda aku malu. Biarkan aku merasa malu dengan jilbab yang kukenakan. Biarkan aku menjaga lisan dan perbuatanku demi terjaganya marwahku. Biarkan aku simpan buncahnya perasaanku hingga nanti telah tiba waktunya.

Malam itu. Kamu minta kita untuk sering bertemu. Lain kali, biarkan kubawa adikku ikut serta. Seperti biasanya bila kita bertemu. Agar terjaga lisan dan tanganku.

Ingatlah, meskipun aku kaku, namun nyatanya ingin kugenggam tanganmu.

Tak Mau Lagi Mendengar

Dalam sebuah drama Korea yang saya tonton, ada percakapan antara ibu dan anak perempuannya. Si anak perempuan bertanya, sejak kapan hubungan ibu dan ayahnya merenggang? Sejak kapan mereka berhenti berbicara satu sama lain?

Dalam drama tersebut dikisahkan si ibu dan si ayah perempuan tersebut tidak berbicara sejak bertahun-tahun lamanya. Mereka belum bercerai. Masih hidup di bawah atap yang sama. Mereka tidak bercerai hanya karena alasan anak perempuannya. Sementara cinta tidak ada lagi. Sementara komunikasi telah bisu. Mereka hidup dalam diam.

Menanggapi pertanyaan tersebut, si ibu menjawab, “Entahlah. Itu terjadi begitu saja. Mungkin sejak kami tidak saling mendengarkan lagi. Kau tahu? Cinta bisa hilang karena kita tidak mau lagi mendengarkan. Jadi bila pasanganmu berhenti mendengar. Saat itu cinta sudah tiada”

Saya lupa bagaimana persis redaksi kalimatnya. Semampu yang saya ingat begitulah maksud dari jawaban si Ibu.

Saya melihat ke pengalaman saya. Mengapa akhirnya hubungan saya dan dia yang kini disebut mantan berakhir. Ternyata itu dimulai pada saat yang tidak saya sadari sebelumnya. Sejak ia tidak mau lagi mendengarkan saya.

dalam diamku berbagi

dalam riuh ku sendiri

ini bukanlah sesuatu yg salah

dalam harapku abadi

dalam rinduku tak lagi

bertanya cinta yang telah kau tinggalkan

suara tentangmu bayangan tentangmu

jarak dan waktu membunuh aku*

*Saat itu saya pikir saya pantas mengusik harinya dengan kehadiran saya melalui suara. Jarak terbentang antara kami harusnya bisa diperpendek dengan seringnya komunikasi yang kami bagi setiap hari. Tapi nyatanya, kebiasaan hari-hari lalu menjadi berubah. Ada masa ketika semuanya berhenti. Terutama adalah, ketika dia berhenti mendengarkan saya.

tak kau dengarkah?

telephone ku memanggilmu

saat kau tak lagi, peduli cinta ini

menggigil aku mengiba, telephone ku memanggilmu

berharap cinta yg lalu, saat kau tak mau lagi mendengarku


jawablah aku menanti ini

bukanlah sesuatu yang salah

*Bodohnya saya abai tanda-tanda. Entahlah saya terlalu naif mengira ia terlalu sibuk. Nyatanya, kata om Mario Teguh sesibuk apapun seseorang ia pasti akan mengabari kita bila ia memang cinta. Ia tidak akan pernah tega membuat kita mengemis kabar, mengiba perhatian.

Saya telat menyadari. Bahwa cinta telah menguap. Lama-lama raib. Semua sejak

ketika ia tak mau lagi mendengarku.

*Lirik lagu Ribas ft Nindi, Telepon