Perkara Nama

Kala itu, saya dan sahabat-sahabat perempuan saya semasa SMA berkumpul. Nongkrong-nongkrong cantik. Dari anggota yang 5 orang. Yang ikut 4 orang. Ketiganya bawa anak. Satu sisanya bawa adek. Yang bawa adek itu saya 😑
Setelah gosip mengudara, perut kenyang, dan stress sedikit hilang karena udah ghibah (jangan ditiru), tibalah saatnya kami pulang.

Seorang teman menelpon suaminya buat minta dijemput. Pada layar ponselnya tertangkap nama lengkap suaminya. Dalam hati saya terbersit, ternyata sudah menikahpun masih pakai nama lengkap buat nama panggilan di kontak hape. Saya mengira pasangan yang telah menikah pastinya punya panggilan sayang atau khusus, semisal: suamiku, my husband, my hubby, my sweetheart, dan my my lainnya. Nyatanya si temen saya gak juga.

Teringat saya sama nama yang saya tulis di nomor kontak untuk semua lelaki yang hadir dalam hidup saya. Mereka semua saya perlakukan sama seperti teman lainnya. Saya tulis nama lengkapnya. Seperti lazimnya nama di kontak hape saya.

Untuk yang sekarang, nama lelaki yang tengah dekat dengan saya ini memiliki nama yang (kalau boleh dibilang dan mohon tidak tersinggung) pasaran. Dan ada 3 teman saya yang bernama sama persis.  6 orang hanya sama nama depannya. Dan kasus salah telepon atau salam nge-bbm kerap terjadi sama saya untuk ngehubungi beliau.

Sampai suatu hari dia komplen. Meminta saya untuk membuat nama khusus buat dia.

Saya tanya, “nama apa?”

“Apa, kek. ‘Sayang, bisa. Calon suami, bisa juga”.

“Gak usah pake calon calon. Nanti aja kalau udah suami beneran. Intan bikin kontak abang jadi ‘suami'”.

Ketika saya memikirkan hal ini, teman saya yang satunya yang duduk di sebelah kirinya yang juga dapat melihat layar hape si temen, berujar, “buset…. Nama lengkap ya kamu buat di kontak?”

Si temen yang ini langsung nyaut dengan nada emosi, “Iya. Aku kesal. Masak dia buat nama aku, ya nama lengkap aku di hapenya dia. Aku ganti jugalah. Biar sama”

Saya tertawa. Keras sekali 

Ternyata oh ternyata…

Lalu kami membahas soal keharusan mengganti panggilan sayang di kontak hape. 

Selain si temen yang lagi kesel tadi. Semuanya membuat nama panggilan khusus di hapenya untuk pasangan mereka. Ya… Seharusnya memang begitu menurut mereka. 

Panggilan khusus wajib ada.

Panggilan khusus yang terus dituntut lelaki itu untuk dibuat di hapenya. Selayaknya dia membuat panggilan khusus untuk saya di hapenya.

Namun bagi saya itu belumlah menjadi keharusan. Dia masih berupa calon. Calon yang akan mengisi hati saya selamanya. Nanti. Belum tau iya atau tidak. Makanya saya katakan, ketika sudah menikahlah baru akan saya ganti namanya.

Jadi kalian, apa nama kontak kekasih hati kalian yang tertera di ponsel?

Memilih Suami (part 6): Sesederhana Tas Kantor Saya

Pada satu bentuk persahabatan saya yang diisi dengan 3 perempuan cantik lainnya, kami memunyai ritual tahunan yang sudah berjalan sejak kami saling mengenal 2006 lalu. Itu artinya tahun ini sudah 11 tahun kami temenan. Alhamdulillah.

Ritual tahunan itu adalah memberikan kado ulang tahun. Jadi dalam setahun ada 4 kali kami melakukan ritual ini 
Seiring dengan bertambahnya usia. Kekurangannya waktu. Dan sudah terlalu banyak kado yang diberikan hingga kami terjebak pada satu pertanyaan pada setiap salah satu ulang tahun kami: “mau kasih kado apa lagi?”
Hingga akhirnya pada beberapa tahun terakhir, saya memberikan solusi. Solusi ini membuat kami memunyai satu tema ketika memberikan kado.

Temanya adalah: Gift by Request.

Jadi. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun kami akan menanyakan pada yang ulang tahun mau kado apa.

Cara ini berhasil menyingkat waktu pencarian kado. Yang kalau dulu bisa seharian bahkan dua harian. Kali ini cukup beberapa jam aja. 

Dengan begini pun kami merasa bahagia. Karena mendapatkan kado berupa barang yang kami sedang butuhkan atau inginkan. Sampai sampai saya dan salah satu teman saya yang belum menikah tergoda untuk meminta kado berupa jodoh saja. Karena itulah hal yang paling kami inginkan dan butuhkan.

Dengan sistem seperti ini semua pihak senang. Meskipun euforia menebak isi kado ketika membuka bungkusnya telah hilang. Tapi masih ada sih sedikit.

Si ulang tahun juga bebas mau memberikan spesifikasi seperti apa. Semisal temen saya pernah meminta tas, ukuran 15-20 cm, warna kuning. 

Atau ketika giliran ulamg tahun saya tiba. Saya yang memang banyak maunya langsung request kado berupa tas warna coklat, ukurannya besar tapi tidak terlalu besar, yang bisa dipake ke kantor dan mampu menampung dompet, mukena dan botol minum, bertali panjang, tidak mengkilat, tidak ada mainan, tidak ada motif atau gambar, tidak ada gembok.

Intinya. Tas berwarna coklat, berukuran sedang dan sederhana.
Meski detil yang saya sebutkan banyak namun kadonya hanya menginginkan tas sederhana. Detil itu saya sebutkan agar definisi sederhana saya tertangkap.

Sederhana.

Lama saya renungkan. Saya menginginkan lelaki sesederhana tas kantor saya untuk dijadikan suami.

Tidak banyak corak. Tidak banyak gaya.

Tidak bermotif. Tidak memakai modus lain hati lain bicara dan penuh rayuan semata.

Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Pas masuk ke hati saya. 

Lelaki yang sederhana. Biasa. Tidak heboh. Tidak terlalu banyak memakai printilan.

Sederhana namun tetap mampu menunjukkan ketampanannya dengan cara yang sederhana. 

Sederhana sikapnya. Sederhana perilakunya.
Ah… Tak tahu kapan teman teman saya bakal mengiyakan jodoh sebagai kado ulang tahun yang bisa di –request


*Baru kali ini nulis pake android. Gak tau gimana penampakannya. Apakah bagus atau ndak.

Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.

Recehan yang Menjadi Emas

Hari itu seperti hari kerja lainnya. Nasabah datang silih berganti. Rata-rata ibu-ibu seperti biasanya. Hingga seorang Ibu yang wajahnya familiar bagi saya datang dan berkata, “Dek anak saya mau nabung emas.”

Saya berjinjit sedikit dan melongo ke bawah untuk melihat anak yang dimaksud ibu tersebut dengan gestur tubuhnya. Konter kerja saya tinggi hingga agak menyulitkan saya melihatnya meskipun akhirnya terlihat juga seorang anak perempuan berseragam merah putih.

Criing….criiiing….

Bunyi uang receh nyaring di lantai. Si Ibu mesem-mesem malu.

Dek, kalau uang receh bisa, kan? Ini uang celengannya dia. Dipindahin ke sini aja duit celengnya.

Wah… boleh, bu. Boleh banget. Saya juga malah perlu uang recehan. Rada sulit nyari recehan sekarang, Bu.

Si Adek berseragam SD tersebut lalu dengan kedua tangannya menaruh pundi-pundi hartanya ke atas konter untuk ia berikan ke saya. Saya sambut dengan sumringah. Sumringah karena ini kali pertama mendapati anak SD yang punya kesadaran menabung emas. Sumringah melihat recehan yang bisa dijadikan stok kasir buat kembalian ke nasabah. Sumringah kejadian ini bisa jadi bahan tulisan buat kontes Sahabat Pegadaian.

Dua puluh lima ribu ya, Kak. Sepuluh ribunya sama Mamak.” Ucapnya malu-malu.

Iya. Kakak hitung dulu ya.” Saya meraup recehan tersebut. Si ibu langsung memberikan lembaran sepuluh ribuan yang dia keluarkan dari dompetnya.

Untuk beramah tamah saya bertanya, “Si Adek udah tau kalau uang jajannya dimasukin ke Tabungan Emas gini, Bu?

Udah. Udah saya bilang kemarin itu.

Dianya gak keberatan?

Gak. Dia suka. Ada bukunya. Ada namanya dia.”

Saya terharu. Saya ingin meneteskan air mata. Namun ingat eye liner yang saya pakai gak waterpoof jadinya terharu doang tanpa pake air mata.

Setelah uang kelar dihitung dan jumlahnya sesuai yang disebutkan si adek SD, saya input transaksinya. Si Ibu juga gak mau kalah. Beliau juga ikutan nabung. 300 rebu.

 

Setelah mereka selesai bertransaksi masih dengan senyum sumringah karena mendapati anak SD datang ke Pegadaian bawa recehan beli emas, saya berkata, “Rajin-rajin ya, dek nabungnya. Entar kalau gede emasnya udah banyak, deh.

Si Adek senyum malu-malu. Menggenggam tangan ibunya. Dan berlalu dari kantor saya.

 

Segera setelahnya saya berpikir. Betapa anak SD aja mampu menabung emas, lalu di belahan bumi Nusantara yang lain ada temen saya yang masih meragukan kejumawaan Tabungan Emas. Atau bahkan yang lebih memprihatinkan, belum tau apa itu Tabungan Emas.

 

Saya flashback lagi deh. Meskipun tulisan Tabungan Emas udah berkali-kali saya bahas di blog saya.

Pegadaian kini hadir dengan inovasi yang memudahkan nasabah memiliki emas hanya bermodalkan duit 5 ribuan aja. Produk itu lalu dikenal dan melegenda dengan nama Tabungan Emas.

Tabungan Emas memiliki mekanisme transaksi serupa dengan tabungan biasa pada bank umumnya. Namun yang membuatnya kece dan berbeda adalah saldonya yang langsung dikonversikan ke dalam gram emas.

Kebayang?

Ilustrasi gampangnya gini.

Harga emas hari ini setelah saya cek di Aplikasi Sahabat pegadaian adalah Rp5.480 per 0.01 gram. Jadi bila kamu minimal bawa duit segitu kamu udah bisa nabung emas senilai 0.01 gram. Murah, kan?

Kalau kamu mau bawa duit lebih sih bisa juga. Coba lihat mungkin di dompet kamu ada recehan seribuan atau limaratusan yang berat-beratin dompet. Sinih, tukerin ke emas. ada berapa? 7.000? 10.000? 100.000? terserah kamu deh mau nabung berapa. Berapapun rupiah yang kamu kasih akan Tabungan Emas konversi langsung ke gram emas yang setara. Tapi inget, minimal penyetoran ya harus seharga 0.01 gram yang harganya berubah-ubah setiap harinya.

 

Untuk mengetahui harga emas kamu sih gak perlu repot-repot datang ke Pegadaian dulu. Tinggal gunakan hape, kamu donlod aplikasi sahabat pegadaian. Di sana bakal update harga emas harian per 0.01 gramnya. Atau kamu bisa juga main ke pegadaian.co.id

screenshot_2016-11-30-19-07-48_com-arukasi-pegadaian

Syarat pembukaan rekening Tabungan Emas ini gampang aja. Segampang kita diputusin sama kekasih pas lagi sayang-sayangnya. Eh maap. Keceplosan.

Syaratnya KTP dan uang Adm sebesar Rp10.000 lalu saldo awal per 0.01 gram. dengan ketiga hal itu kamu udah berhasil memunyai rekening Tabungan Emas Pegadaian.

 

Nah, kalau kamu mau tanya kenapa dedek gemesh yang masih SD pun bisa punya rekening Tabungan Emas padahal dia belum punya KTP?

Itu dia nebeng pake rekening emaknya. Jadi dibuatkan qq untuk rekeningnya dia.

14925551_10206173892220801_4970519693940212890_n

Awalnya emaknya harus bikin rekening Tabungan Emas dulu sebagai rekening induk. Lalu untuk membuat buku rekening tabungan si anak secara terpisah tinggal dibuat rekening tambahan dari rekening emaknya. Jadinya buku rekening emak dan anak terpisah. Si anak seneng. Emaknya bangga karena anak kecil udah punya kepedulian untuk menabung. Terlebih menabung emas yang memang udah dipercaya sejak nenek moyang dulu ampuh buat menjaga nilai uang kita.

 

Saya ngebayangin  Si Adek SD itu bila ia rutin menabung setiap minggu atau bulannya dari recehan sisa uang jajannya. Maka kelak, ketika ia dewasa ia sudah memiliki emas yang berlimpah. Yang bisa ia gunakan buat biaya pendidikannya kelak atau modal ia berwirausaha. Apapun itu. Yang jelas, anak sekecil itu sudah berinvestasi sejak belia. Investasi emas pula.

 

Jadi kamu, yang duitnya berwarna merah bergambar mantan presiden masih mikir-mikir buat berinvestasi emas? masih mikir  buat nabung emas? malu ih. Anak SD aja, yang duit recehan bisa nabung emas.Berinvestasi emas. Untuk membeli masa depan dengan harga sekarang.

 

Dan ada yang baruuuuu nih…

Sekarang untuk bertransaksi emas sudah bisa melalui ATM bagi pemegang kartu ATM BNI atau BRI. Jadi entar kalau kamu mau transfer duit buat emak di kampung, istri atau bayar hutang, bisa disekaliankan buat membeli emas via ATM.

 

Ayoooo… menabung emas bersama Pegadaian. Mengatasi masalah tanpa masalah.

IMG-20160404-WA0000.jpg

#AyoMenabungEmas

Lebih Baik Tidak Ada AADC2

Saya belum menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2, namun dengan PD saya ingin mengutarakan pendapat saya kenapa lebih baik film AADC2 tidak pernah ada. Bila nanti saya telah menonton dan saya berubah pikiran maka akan saya tulis lagi. Tapi ini murni pendapat saya doang yang bukan pengamat industri film. Dan ini pendapat sebelum menonton.

AADC2 tercipta mungkin karena ada film pendek yang dipergunakan untuk ngiklanin sebuah aplikasi chating. Melihat antusias para penggemar Cinta dan Rangga yang membludak akhirnya menghasilkan sebuah film AADC2.

Saat saya menonton film pendek Rangga dan Cinta itu ketika saya tengah liburan ke Korea tahun 2014 lalu. Diantara temen seperjalanan, saya mungkin yang kurang maruk dan gak penasaran banget ama film pendek yang saya lebih suka nyebutnya iklan tersebut. Ketika kami balik ke hostel dan mendapatkan jaringan internet, temen-temen seperjalanan saya menceritakan kesannya dengan heboh setelah menontonnya. Setelah mereka selesai, dan puas mendengarkan mereka berkomentar, barulah saya ambil ponsel saya dan menonton film pendek tersebut setelah terlebih dahulu meminta link-nya pada salah satu temen saya.

Saya tonton. Lalu reaksi saya adalah:

Harusnya film ini tidak pernah ada.

Seorang teman seperjalanan berkomentar, “Ya ampun, akhirnya filmnya ada lanjutannya. 14 tahun aku tunggu akhirnya dibikin lanjutannya,”

Saya mendengarkan namun tidak berkomentar. Ingin balas berpendapat namun urung.

Ending sebuah cerita itu ada 3. happy ending, sad ending dan question ending. Begitu yang saya pelajari ketika di bangku SMP. Kalau sekarang ada perubahan silahkan dikoreksi. Nah, untuk AADC itu termasuk question ending menurut saya. Sebuah akhir yang sebenarnya udah indah tapi dibuat gantung karena Rangganya pergi dan nyuruh Cinta nunggu satu purnama. Kalau mau dikatakan Happy ending sih boleh aja. Tapi bagi saya ini termasuk kategori question ending di mana penonton bebas berimajinasi mau gimana akhirnya kisah Rangga dan Cinta.

Apakah Rangga kembali setelah satu purnama.

Apakah setelah satu purnama dan menemui Cinta, Rangga balik lagi ke Amerika lalu mereka LDR.

Apakah akhirnya malah Rangga tidak kembali.

Tebakan sotoy saya mengatakan, saat menonton film tersebut semuanya pasti mengira itu sudahlah sebuah akhir. Dan percaya Rangga akan kembali setelah satu purnama.

Namun apa yang terjadi?

Akibat adanya film singkat tersebut dunia jadi tau Rangga tukang PHP dan sekali lagi membuktikan kebenaran perkataan sewot saya tentang “Lakik tuh omongannya emang gak ada yang bisa dipercaya”.

Dan ya, tidak seperti teman saya yang kesenangan akibat adanya sambungan film AADC dan telah menunggu selama 14 tahun. Saya justru patah hati mengetahui sang pujangga Rangga tak mampu menepati janjinya pada Cinta. Karena bagi saya, ketika menyelesaikan AADC saya beranggapan kisah mereka berakhir bahagia. Rangga akan menemui Cinta setelah satu purnama.

Namun nyatanya, kisah dibuat berbeda. Seperti Sinetron yang memunculkan kembali tokoh yang telah mati, dengan alasan selama ini sang tokoh cuma amnesia saja. Begitu pula Rangga. Kisah cinta Rangga dan Cinta dihidupkan kembali dengan menampilkan sosok Rangga yang tukang PHP dan Cinta yang gagal move on.

Saya membaca beberapa ulasan tentang film AADC2, dengan membaca itu semua saya semakin yakin. AADC2 tidak sepatutnya muncul. Seperti mantan saya yang tidak sepatutnya muncul menawarkan kembali sepotong cinta yang telah saya buang ke Timbuktu.

Karena menurut saya AADC2 hanya merusak khayalan. Baiklah mungkin bukan khayalan kamu. Tapi khayalan saya sendiri. Karena apa-apa yang telah berakhir biarlah berakhir.

Dan ya, saya menulis pendapat ini tanpa menonton dan terlebih lagi tanpa tau ending AADC2 gimana. Saya sengaja, hanya ingin mengetahui apakah pikiran saya sebelum dan sesudah menonton sama atau berbeda.

Ini murni pendapat atas perasaan saya, bila berbeda dengan kamu (yang membaca), tak perlu membully. Karena semua orang berhak merasakan sesuatu.

Muasal Kata Mandasyeh

Banyak pemuda-pemudi Aceh yang nyasar di Pulau Jawa sedang mencari rejeki dan mungkin juga belahan hati mempertanyakan fenomena yang sering terjadi di kampung halamannya ini.

Berdasarkan FAQ:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?
  2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?
  3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

Awalnya saya mendengar kata tersebut dari Carina. Perjalanan ke Korea Selatan di akhir tahun 2014 mempertemukan saya dengan gadis cantik ini. Dari dia pertama kalinya saya mendengar sebutan Mandasyeh. Entah memang dari dia sebutan itu saya dengar pertama kali. Entah pula dari dialah saya sadar akan penyebutan kota Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh. Penyebabnya tentu saja karena ia kerap menggunakan kata tersebut di sela-sela obrolan kami.

Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh entahlah sudah diketahui oleh Bunda Illiza atau belum. Bila Bunda sudah mendengar lalu membiarkannya bisa jadi kata tersebut tidak layak dijadikan issue untuk ia berantaskan. Maka para anak gaul kota Banda Aceh yang menjadi pengguna mayoritas kosa kata baru tersebut dapatlah berlega hati.

Tinggal di kampung selama 3 tahun dan pengalaman berbicara atau mendengar orang-orang menggunakan bahasa Aceh. Cukup membuat saya PD melakukan tulisan ini.

Sebagai warga Banda Aceh yang kampung Ayah saya di Aceh Besar. Maka saya tahu logat Aceh Banda Aceh dan Aceh Besar yang berbeda. Logat bahasa Aceh-nya Banda Aceh termasuk logat yang paling biasa saja. Tidak ada khasnya. Ibu saya yang besar di Kota Sabang dan baru bisa bahasa Aceh setelah menikah dengan Ayah saya, menggunakan Bahasa Aceh-nya Banda Aceh. Ayah saya menggunakan Bahasa Acehnya Aceh Besar meskipun setelah saya perhatikan bahasa acehnya sudah berbaur menjadi bahasa aceh biasa tanpa penebalan di huruf R. Akibat terlalu lama hidup di kota Banda Aceh dan berbicara dengan Ibu saya mungkin bisa dijadikan alasan.

Tapi bila saya pulang ke kampung ayah saya. Barulah khas Aceh Besar kelihatan. Saya sampai bersumpah gak mau bikin nama anak saya yang terdapat huruf R di dalamnya. Karena saya gak mau nasib anak saya berakhit tragis seperti keponakan saya di kampung.

Namanya Arif. Namun semua memanggilnya Aghih…onion-emoticons-set-5-49

Pernah tinggal di Bireuen selama beberapa bulan saya akhirnya dapatkan aksen Aceh lainnya. Beberapa kata dengan arti yang sama diucapkan dengan kata yang berbeda bagi warga Bireuen dan Aceh Utara sekitarnya. Ini dikenal dengan aksen Aceh Utara.

Maka ketika saya berbicara dengan nasabah menggunakan Bahasa Aceh, si nasabah bisa tebak dengan jitu kalau saya dari Banda Aceh. Bahasa Aceh yang standar banget.

Pindah ke Ulee Glee lalu sekarang hidup di Lueng Putu membuat saya mendengar Bahasa Aceh dengan aksen lainnya lagi. Ini Kabupaten Pidie Jaya yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Pidie. Bahasa Aceh di sini dikenal dengan sebutan Aceh Pidie. Tutur kata yang lebih halus dalam berbahasa juga gemarnya mereka dalam menganalogikan sesuatu dengan perumpaan ketika ngobrol sehari-hari merupakan sesuatu yang kerap saya tangkap di sini. Dan ya, jangan coba-coba saya gunakan Bahasa Aceh saya di sini kalau gak mau ditertawakan. Mereka akan tahu dari mana saya berasal. Terlebih lagi, mereka tahu kalau saya tidak terbiasa menggunakan Bahasa Aceh yang dengan frontal mereka anggap, tidak bisa berbahasa aceh. Padahal hanya tidak lancar, bukan tidak bisa. Untuk memahami saya sih bisa. Untuk mengucapkan agak-agak keseleo lidah kalau udah harus ngomong lebih dari tiga kalimat.

Kembali ke kata Banda Aceh yang bermetamorfosis menjadi Mandasyeh.

Kerap saya dengar baik di Bireuen maupun di Pidie Jaya masyarakat yang mengatakan,

“Lon keuemueng jak u Manda”

artinya: Saya akan pergi ke Banda (Banda Aceh)

nah.. ini dia. Masyarakat di sini sering menyebutkan Manda alih-alih Banda. Huruf B yang lafalnya diubah menjadi M.

bahkan saya pernah mendapati ada satu kata (yang saya lupa apa) yang bunyi huruf B-nya berada di antara B dan M.

Maka dari itu saya menyimpulkan ini hanyalah soal aksen. Di sini mereka menggunakan awalan M untuk kata Banda hingga menjadi Manda. Sedangkah akhiran ‘syeh’ pada kata Mandasyeh ini mungkin akibat morfologi yang asal-asal diucapkan. Aceh langsung dipelesetkan menjadi “Syeh” biar ringkas. Biar cepat sampai. Aish..

Berbeda dengan kata Jakarta yang diubah bunyinya menjadi Jekardah akibat meniru suara bule dan bisa jadi pelopornya Cwintha Lhaurah. Mandasyeh tercipta akibat meniru suara masyarakat kampung yang memang aceh banget. Di bawa ke kota oleh Mahasiswa dari kabupaten yang kuliah di kota Banda Aceh. Lalu dijadikan populer oleh anak-anak gahul Banda Aceh yang kini gemar ngopi di warung kopi fancy yang harga segelas minumannya 20k ke atas. Anak Gahul ini sendiri gak murni juga penduduk Banda Aceh. Banyak diantaranya adalah anak kabupaten yang berkuliah di Kota Banda Aceh lalu bahkan tingkat kepopuleran dan kegaulannya melebihi warga asli.

Jadi bila ingin menjawab secara singkat daftar FAQ maka:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?

– Akibat perubahan morfologi demi meniru warga Kabupaten dalam mengucap Banda menjadi Manda. Huruf B berubah bunyi menjadi M. namun tidak serta merta semua kata menggunakan huruf B menjadi M

2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?

-Populer sejak 2014 mungkin

3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

-Para Mahasiswa kabupaten yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi ternama di Banda Aceh

Lalu apakah tulisan saya ini layak dijadikan jurnal ilmiah atau bahkan referensi Skripsi Jurusan Bahasa Indonesia atau apapunlah itu?

Saya rasa jawabannya tidak. Karena ini murni penilaian subjektif saya hasil analisis sederhana saya. Berdasarkan pengalaman hidup di kampung yang lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Yang semoga cukup bermanfaat bagi teman-teman yang sering bertanya kenapa kota Banda Aceh tercintanya kini berganti nama,

Memilih Suami (Part 2): Hedonis vs yang Penting Bukan Pengemis

Saya ini tipikal perempuan yang diajak hidup hedonis gampang banget. Diajak hidup sederhana ayo-ayo aja. Saya bisa berada di dua gaya hidup tersebut. Yakin.

Hidup sederhana adalah hidup yang diberikan oleh orang tua saya. Dari kecil kehidupan kami pas-pasan meski jauh dari kata melarat. Hidup serba ada dan tetap irit bisa saya lakoni. Belum lagi pengalaman bekerja di Jakarta yang bergaji sungguh bikin prihatin. Berbulan-bulan di sana saya tetap survive dengan gaji apa adanya kok. Bisa tidur dengan fasilitas seadanya. Ngeluh sih. Tapi tetap bisa saya jalani.

Hidup mewah. Laah.. siapa juga yang gak mau, kan? Untuk perempuan apa lagi. Dikasih uang yang digitnya banyak gak perlu pusing gimana habisinnya. Mall banyak. Gak ada mall, online shop juga banyak, seperti: Lazada, Zalora, Hijup, Berrybenka, Sephora tersedia di gadget. Abisin duit mah lebih gampang ketimbang abisin krim malam.

Lalu di antara dua gaya hidup itu manakah yang saya ingini?

Mungkin akan dikatakan munafik, tapi saya lebih memilih kehidupan sederhana. Bukan berarti melarat dan makan sekali cuma dua kali tanpa lauk pula. Bukan juga berarti hidup jauh dari peradaban. Hidup berkecukupan. Cukup buat makan sehari tiga kali. Cukup buat jajan. Cukup buat hangout cantik di weekend. Cukup buat jalan-jalan ke luar kota setahun sekali dan luar negeri setahun sekali.

Eh bukan ya? Itu bukan sederhana ya?

Hahahaha…

Maaf.. jiwa foya-foya saya emang suka keluar tanpa logika.

Nah.. itu dia masalahnya. Foya-foya semacam bakat tersembunyi. Entah juga ini ambisi terpendam. Sekarang setelah punya penghasilan sendiri doyannya belanja tanpa mikir. Sukanya jalan-jalan. Di sinilah letak masalah diri saya.

Karena saya punya masalah seperti ini, itulah kenapa saya enggan bersanding dengan lelaki mapan luar biasa. Penghasilan berkali-kali lipat dari saya. Karena saya takut. Jiwa hedonis saya gak bakal bisa kebendung. Nah.. lumayan kalau punya suami kaya tapi orangnya sederhana. Ini suami kaya hidupnya hedonis pula. Klop kali lah sama saya. Bakal terperangkap kehidupan duniawi yang melenakan. Kehidupan yang senang hanya untuk berlomba-lomba menghabiskan. Kehidupan yang dipayungi naungan godaan setan.

Jujur, saya enggan.

Bilamana saya bersuamikan lelaki kaya namun bersikap bijak dan mampu mengeram sifat boros saya sih oke aja. Tapi bila tidak, saya akan lebih memilih suami yang tak mengapa tak mapan. Tak mengapa tak rupawan. Asal dirinya mampu memenjarakan jiwa hedonis saya. Asal dirinya mampu menuntun saya menjadi perempuan yang lebih sholehah.

Makanya, bila ada yang mempertanyakan kewarasan saya menolak lelaki mapan, itu semua bukan karena saya tak suka menjadi kaya, namun karena saya tahu. Gaya hidup ‘abang itu’ gak cocok ama saya. Gak cocok ama cita-cita saya.

Karena bila ingin foya-foya, saya hanya ingin melakukannya selagi single. Selagi memakan uang keringat sendiri.

Ini bukan munafik. Ini sebenarnya perencanaan. Perencaan untuk anak-anak saya kelak.

Saya gak ingin menjadi sepasang orangtua yang mengajarkan kehidupan serba ada serba gampang untuk anak-anak saya. Saya tidak ingin anak-anak saya kelak menjadi manja. Menjadi manusia tanpa usaha tanpa derita. Bukannya saya ingin membuat anak saya susah. Namun saya hanya ingin mengajarkan bahwa hidup itu sulit dan kita harus terbiasa. Mendidik mental baja bagi anak harus dilakukan sejak dini. Harus dicontohkan orangtuanya. Nah… bila saya terlihat terlalu foya-foya bagi anak saya. Bisa jadi entar tingkah anak saya melebihi saya. Kalau saya dulu ngambek sama orangtua, merajuk dan mengurung diri di kamar. Anak saya mungkin bakal lebih ekstrem. Merajuk, ngurung diri dan gunting-guntingin uang jajannya. Whoaaaaaaah….

Hiduplah sederhana. Hidup berkecukupan tanpa kekurangan. Ada tanpa berhutang. Hidup dengan usaha dan kerja keras. Agar kita lebih menghargai hasil. Agar kita tahu dunia tak bisa dilakoni dengan sikap manja. Karena tak selamanya hidup selalu di atas. Karena dunia berputar. Entah pada rotasi ke berapa, kita mungkin berada di bawah. Bersiaplah…

Jadi sebelum saya cuap-cuap soal anak dan ngedidik anak tapi anaknya belum ada. Saya kini tengah fokus memilih ayah dari anak-anak saya kelak. Seorang lelaki yang dalam sekali bertandang (baca: lamaran) mampu menggugurkan segala ragu di hati. Segala ketidaksiapan diri.

Dan, ya.. memilih itu sulit. Saya lebih suka jawab soal Fisika yang meskipun pas SMA saya selalu remedial.

Jadi, jangan tambah-tambahin dengan pertanyaan, “Kapan nikah?”