Percaya (di) Cinta

Beberapa saat setelah pertunangan. Di hari long weekend. Di sela sela kesibukan mempersiapkan pernikahan. Saat itu saya dan sang tunangan memutuskan untuk pergi jalan jalan bareng. Bukan cuma sekedar nongkrong di cafe atau resto seperti biasa. Tapi ke tempat wisata yang lumayan jauh dari pusat kota.

Refreshing.

Medan yang ditempuh penuh lika-liku. Hingga pada satu likuan yang sudab agak jauh. Perjalanan kami tersendat. Ada truk yanh terbalik kira kira 3 mobil di depan kami. Membuat macet. Membuat saya deg-degan.

Bertahun-tahun silam. Ada seorang lelaki yang dekat sama saya. Dia pernah mengatakan kalau saya sebegitu ragunya memutuskan seorang suami, lakukanlah perjalanan yg agak jauh dengan lelaki yang menjadi alternatif. Lalu simaklah. Pada perjalanan itu, adakah kendala atau kalian baik baik saja dari pergi hingga kembali ke rumah.

Metode itu pernah lelaki itu terapkan bersama saya. Namun saya tolak. Umur saya ketika itu terlalu takut diajak jalan terlalu jauh oleh lelaki.

Saat itu saya bertanya, kendala apa contohnya.

Dia menjawab, ya bisa jadi ban mobil bocor, atau kalian malah berantem di tengah perjalanan.

Kali ini. Di tengah macetnya perjalanan saya dengan sang tunangan. Membuat benak saya kembali ke masa lalu. Ke kata-kata lelaki masa lalu itu.

Deg

Apakah ini pertanda kalau jalan hidup kami selanjutnya terkendala. Apakah ini artinya perjalanan kami menuju pernikahan akan macet.

Terlalu banyak tanya saat itu. Hingga akhirnya agak lama kemudian jalan bisa diusahakan untuk dilalui kendaraan lagi hingga mobil kami kembali melaju.

Terlalu banyak tanya di benak saya akibat kejadian itu. Muncul banyak keraguan.

Lalu akhirnya saya bertanya padanya,

“Menurut abang, Intan cinta gak sama abang?”

“Iya.”

“Ish.. PD.”

“Iya. Emang harus PD sama Intan. Lagian abang percaya Intan cinta sama abang.”

Mendengar jawaban itu, pandangan kembali saya layangkan pada jejeran pepohonan rimbun menjelma hutan di luar jendela mobil.

Dari sekian lelaki yang dekat. Dari semuanya. Mungkin ini memang yang menjadi akhir.

Lelaki yang tidak pernah mempertanyakan cintakah saya padanya. Lelaki yang gak pernah meragukan perasaan saya padanya.

Meski tak terucap. Meski tak saya tunjukkan tegas. Namun dia percaya saya mencintainya. Mencintainya dengan cara saya.

Saat itu saya merasa senang dan menang. Senang karena akhirnya ada orang yang memercayai saya. Ada yang tak mempermasalahkan hati saya bekerja. Dia hanya terima dan percaya. Dia tak meragukan sesuatu yang susah saya ucapkan.

Menang karena akhirnya saya menemukannya. Tersedia tanpa keraguan untuk saya. Tersedia nyata.

Sekejap saya lupakan kejadian kecelakan truk tadi.

Mungkin kelak, perjalanan hidup kami akan penuh lika liku seperti medan yang kami tempuh. Mungkin kelak akan ada macet dan kendala. Tapi saya yakin, bersamanya saya bisa melewatinya. Seseorang yang memercayai saya.

 

Dari sekian hal, saya hanya butuh dipercaya. Dipercaya kalau saya punya cinta dan bisa mencintai. Dipercaya kalau pasangan saya tak akan pernah mencintai sendirian. Kami akan saling mencintai.

Itu.

Satu Cincin Belah Rotan ditaksirmas 23 Karat Berat 10 gram

Setelah cincin terpasang di jari manis saya, maka itu adalah ketika dengan waras saya menentukan seorang lelaki untuk menjadi calon suami saya.

Cincin tunangan. Yang seolah mengatakan saya miliknya dia milik saya. Cincin tunangan belah rotan pasir ditaksirmas 23 karat berat 10 gram.

Begitu cincin dipasang di jari kontan saya ingin bilang ke calon ibu mertua saya, “Ini bisa pinjem 4.500.000, bu. Mau ambil semua?”

Iya. Saking cintanya ama pekerjaan, lagi prosesi tunangan saya sempat-sempatnya menaksir dulu harga gadai cincin tersebut.

Prosesi tunangan.

Selangkah lagi menuju ikatan halal. Selangkah lagi untuk menjadi seorang istri.

img-20161223-wa0010.jpg

Tidur Siang di Pantai

Menikah itu bagi saya tidak mudah. Memutuskan untuk menikah sukses membuat saya uring-uringan. Setengah gila. Seperempat waras. Seperempatnya lagi pura-pura amnesia.

Saya ingin sekali mengatakan “iya” dengan mudah untuk sebuah lamaran. Tapi ada hati kecil saya yang seakan menolak itu. Yang seolah berkata, “serius, Tan? Gak takut nyesel?”

Saya pergi liburan kala itu. Trip singkat nan dekat. Pergi untuk menghilang sejenak dari lelaki itu. Dari suaranya dan dari hadirnya. Menghilang dari keluarga yang melulu bertanya. Menghindar dari rutinitas harian.

Kala itu saya pergi berdua dengan teman saya. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu hingga dia tidak tahu menahu kondisi terkini saya. Seorang teman yang saya yakin tidak akan bertanya apapun perihal kalutnya pikiran saya.

Paling ketika ditanya tujuan liburan saya apa, saya hanya menjawab, “ingin tidur siang di pantai”

Angin syahdu, suara debur ombak saya rasa itu suatu terapi alami yang menenangkan. Saya butuh tenang.

Memejamkan mata di bawah sinar mentari yang iseng masuk di balik teduhnya dedaunan batang pohon. Membaringkan tubuh di atas pasir putih yang adem. Disenandungkan suara ombak. Saya terbuai. Terbuai dengan ketenangan ini. Ini yang saya cari.

Hari kedua liburan saya masih mencari pantai. Ingin menghirup aroma pantai di pagi hari. Dalam sesekali berkejaran dengan riak kecil ombak, saya ikut berharap keraguan saya pergi jauh dibawa ombak ke tengah lautan. Agar ragu itu menghilang. Lenyap dari jangkauan saya.


Karena… Pada ketenangan dari pantai ini. Dari alpanya pertemuan kami. Dari tiadanya suara kami yang menyapa. Saya merasa, saya menginginkannya.

Teman saya di depan saya, asyik masyuk berpoto-poto. Syukurlah ia tidak pernah bertanya apapun dan tidak tahu tujuan saya melarikan diri ini.

Saya menyusulnya. Memintanya bergantian saling poto.

Namun sebelumnya, saya ingin menjawab.

Jadi?

“Kita ini sedang apa sih, Bang?” Tanya saya pada suatu waktu ketika kami membuat janji bertemu sore itu. Sepulang dia dari kuliahnya di hari weekend. 

Adik saya di sebelah sibuk dengan minuman pesanannya dan ponsel di tangannya. Dia selalu menemani saya ketika bertemu dengan lelaki ini.

“Pacaran.” Jawabnya gampang.

Kontan adik saya mendongak.

“Emang kita pacaran?” Tanya saya.

“Emang kalian pacaran?” Ikut adik saya hampir berbarengan.

Lelaki yang ditanya hanya nyengir. Kami dua perempun bersaudara menuntut jawaban dari intensnya mata kami memandangnya.

Iya hanya mampu berhehehehe.

Lalu fokus adik saya kembali ke ponselnya. Saya masih menatapnya tajam.
“Iya… Gak. Kita ini sedang proses kenalan. Kenal supaya jadi lebih tau sifat dan karakter masing-masing.” Jelasnya 

“Gunanya buat apa?” Pancing saya.

“Menikah”

“Harus berapa lama kita kenalan seperti ini?”

“Ya sampai kita saling menemukan kecocokan.”

“Sekarang apa belum cocok?”

“Sudah”

“Ya udah kalau gitu”

“Apanya?”

“Kalau abang ngerasa cocok. Lamar saya. Kalau tidak. Silahkan pergi. Saya tidak mau waktu saya terbuang percuma hanya utk sekedar mengetes kadar kecocokan.”

“Oke. Boleh.”

Beberapa waktu setelah itu…
Malam itu saya pergi berdua saja dengan lelaki berwajah sedikit hitam ini. Tanpa adik saya. 

Ketika kami sudah mendapatkan tempat makan favorit kami. Saya memulai pembicaraan bahkan sebelum pelayan memberikan daftar menu makanan pada kami.

“Kita bicara serius ya” pinta saya 

“Silahkan”

Setelah itu saya diam. Menunggu pelayan yang datang dan mencatatkan pesanan makan malam kami.

Sesudahnya, “lebih baik pikir-pikir dulu”

“Apanya?” Tanyanya.

“Keinginan untuk menikahi saya.”

Jeda beberapa saat. Mata kami seperti berusaha saling melihat isi hati dan pikiran kami yang terdalam. Dan terumit.

“Kita sebaiknya sama-sama berpikir. Iyakah abang mau menikahi saya? Dan iyakah saya mau menikahi abang?” Saya menyambung.

Karena ia masih diam saya kembali menjelaskan.

“Besok intan mau liburan. Ke pulau. Untuk 3 hari ke depan kita gak usah komunikasi. Renungi aja. Apakah dengan terputusnya komunikasi dan kebersamaan masih membuat kita masih mau menikah.”

“Ok.” Akhirnya ia bersuara. Dari gegap suaranya saya menebak, galaunya dia sama dengan saya. Keputusan besar ini menggalaukan kami.

Saya dan dia juga. Ternyata. Sikap tenangnya hanya di luar semata rupanya.

Akhirnya kami menyantap makan malam kami. 

“Setelah nanti saya kembali. Akan saya beritahu. Lalu nanti kita akan memberi jawaban masing-masing.”

“Setuju.” Katanya gampang.
Ya… Kami membuat keputusan yang keputusannya baru akan diberitahukan nanti.

Nanti… Beberapa hari kemudian.
“Ehya… Kalau nanti intan gak kembali. Dan gak menghubungi abang lagi lewat dari 3 hari. Bisa jadi intan tenggelam ya. Entah di perjalanan pergi atau pulang.”

“Jangan becanda!!!” Hardiknya. Rautnya beneran kesal dengan candaan murahan saya.

Saya hanya tertawa. Dia makin sebal.

To be cont…

Memilih Suami (part 6): Sesederhana Tas Kantor Saya

Pada satu bentuk persahabatan saya yang diisi dengan 3 perempuan cantik lainnya, kami memunyai ritual tahunan yang sudah berjalan sejak kami saling mengenal 2006 lalu. Itu artinya tahun ini sudah 11 tahun kami temenan. Alhamdulillah.

Ritual tahunan itu adalah memberikan kado ulang tahun. Jadi dalam setahun ada 4 kali kami melakukan ritual ini 
Seiring dengan bertambahnya usia. Kekurangannya waktu. Dan sudah terlalu banyak kado yang diberikan hingga kami terjebak pada satu pertanyaan pada setiap salah satu ulang tahun kami: “mau kasih kado apa lagi?”
Hingga akhirnya pada beberapa tahun terakhir, saya memberikan solusi. Solusi ini membuat kami memunyai satu tema ketika memberikan kado.

Temanya adalah: Gift by Request.

Jadi. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun kami akan menanyakan pada yang ulang tahun mau kado apa.

Cara ini berhasil menyingkat waktu pencarian kado. Yang kalau dulu bisa seharian bahkan dua harian. Kali ini cukup beberapa jam aja. 

Dengan begini pun kami merasa bahagia. Karena mendapatkan kado berupa barang yang kami sedang butuhkan atau inginkan. Sampai sampai saya dan salah satu teman saya yang belum menikah tergoda untuk meminta kado berupa jodoh saja. Karena itulah hal yang paling kami inginkan dan butuhkan.

Dengan sistem seperti ini semua pihak senang. Meskipun euforia menebak isi kado ketika membuka bungkusnya telah hilang. Tapi masih ada sih sedikit.

Si ulang tahun juga bebas mau memberikan spesifikasi seperti apa. Semisal temen saya pernah meminta tas, ukuran 15-20 cm, warna kuning. 

Atau ketika giliran ulamg tahun saya tiba. Saya yang memang banyak maunya langsung request kado berupa tas warna coklat, ukurannya besar tapi tidak terlalu besar, yang bisa dipake ke kantor dan mampu menampung dompet, mukena dan botol minum, bertali panjang, tidak mengkilat, tidak ada mainan, tidak ada motif atau gambar, tidak ada gembok.

Intinya. Tas berwarna coklat, berukuran sedang dan sederhana.
Meski detil yang saya sebutkan banyak namun kadonya hanya menginginkan tas sederhana. Detil itu saya sebutkan agar definisi sederhana saya tertangkap.

Sederhana.

Lama saya renungkan. Saya menginginkan lelaki sesederhana tas kantor saya untuk dijadikan suami.

Tidak banyak corak. Tidak banyak gaya.

Tidak bermotif. Tidak memakai modus lain hati lain bicara dan penuh rayuan semata.

Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Pas masuk ke hati saya. 

Lelaki yang sederhana. Biasa. Tidak heboh. Tidak terlalu banyak memakai printilan.

Sederhana namun tetap mampu menunjukkan ketampanannya dengan cara yang sederhana. 

Sederhana sikapnya. Sederhana perilakunya.
Ah… Tak tahu kapan teman teman saya bakal mengiyakan jodoh sebagai kado ulang tahun yang bisa di –request


*Baru kali ini nulis pake android. Gak tau gimana penampakannya. Apakah bagus atau ndak.

Sama

Kembali ke Banda Aceh. Bekerja di Banda Aceh tempat di mana saya besar dan menjalani kehidupan sebelum merantau untuk mengais rupiah demi tiket pesawat buat liburan adalah suatu hal menyenangkan. Bertemu dengan teman-teman dulu. Teman TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah. Bertemu dan melihat mereka menjadi kesenangan tersendiri. Melihat perubahan mereka keasyikan lainnya. Namun ketika menyadari suatu hal menjadi kepahitan berbeda.

 

Menyadari suatu hal ketika orang-orang berubah namun saya tetaplah menjadi Intan yang sama. Intan yang seolah waktu terhenti dalam hidup saya. Tak mengalami perubahan apa-apa. Dalam fisik, terutma dalam status.

 

Berbadan kurus menjadi suatu hal yang membuat saya muak ketika harus berhadapan dengan teman-teman masa dulu. Selalu saja mereka berkomentar kalau saya tidak berubah. Tetap kurus seperti dulu.

 

Mereka tidak tahu. Saya sejatinya bertambah gemuk juga sama seperti mereka. Padahal ketika mereka melihat saya sekarang itu jauh berbeda dengan saat itu. Ketika kuliah berat badan saya tak pernah lebih dari 42 kilo. Sekarang bisa melewati angka 45 itu suatu hal berharga buat saya. Namun ketika dikatakan tidak mengalami perubahan dan tetap kerempeng itu suatu hal yang mampu membuat saya murka.

 

Menghadiri reuni menjadi jemu kala para anggotan reuni yang sudah menggendong anak dan menggandeng suami tak cukup hanya memamerkan kehidupan barunya, namun juga merasa perlu membully saya yang belum menikah.

 

Seakan belum menikah adalah hal ternista.

 

Iya. Saya intan yang stagnan. Tetap seperti dulu. Seolah waktu berhenti berputar untuk dunia saya. Dunia saya yang membuat saya tetap kurus dan single.

 

Namun ada yang mereka- para komentator itu- tidak tahu. Saya tetaplah hidup. Saya tetaplah berkembang. Mungkin cara dan polanya berbeda hingga menghasilkan hal berbeda.

 

Saya juga punya impian. Saya juga punya tujuan. Menggandeng suami dan menggendong anak masuk dalam bucket list saya, namun waktunya masihlah belum. Akan datang kelak masa itu. Ketika saya merasa sudah cukup. Sudah mampu. Sudah mau.

 

Dan saya sudah meminta pada Tuhan tentang keinginan itu. Entah Tuhan kabulkan atau tunda itu menjadi kuasa-Nya. Saya sudah meminta.

Dan saya juga minta, selama masa itu belum tiba saya meminta Tuhan untuk membuat saya tumbuh dan berkembang dalam hal lainnya. Mungkin bukan di berat badan tapi di kapasitas otak saya. Mungkin bukan berkembang biak mempunyai keturunan, tapi berkembang baik. Menjadi apa-apa yang saya cita-citakan.

 

Selama itu belum terjadi, iya, saya memang masihlah Intan yang sama. Yang hanya kalian ketahui luarnya saja.

 

Namun tenang, kemuakan saya harus segera saya akhiri. Karena hidup tak bisa begini begini saja (soal kesendirian)

 

Note: tulisan dengan kondisi, situasi, dan perasaan ketika masih single.

Hidup sendiri itu menyenangkan

Mencontek salah satu iklan provider telepon selular.

Hidup sendiri itu menyenangkan namun susah dijalanin.

 

Saya memang masih menikmati kesendirian saya. Menjalani hidup sendiri. Memutuskan suatu hal sendiri. Memilih apapun yang saya mau sendiri. Menghabiskan waktu sendiri. Dan bertanggung jawab hanya untuk diri sendiri.

Kebebasan. Itu adalah anugrah yang saya dapatkan di usia saya yang sudah 27 tahun. Bahagia. Menyenangkan.

 

Namun….

 

Terkadang susah buat dijalanin.

Susah kala air di galon habis dan saya mesti tawaf mengitari dispenser hanya untuk mendudukan galon tersebut di atas dispenser. Setelah mampu air membanjiri sekitar.

Susah tanpa bantuan lelaki.

 

Susah, kala lampu di kamar mati. Harus diganti yang baru, namun tidak bisa menggunakan alat pengganti bola lampu karena model penyangga lampunya lain. Saya harus manjat-manjat naik kursi yang telah dilapisi meja untuk mengganti bola lampu kamar kosan.

Susah tanpa bantuan lelaki.

 

Susah, kalau mau tidur punggung saya gatal minta digaruk. Punya suami di sebelah kayaknya enak ni. Sebelum ena ena bisa minta digarukin sampe terlena hingga ketiduran.

 

Well, hidup sendirian itu menyenangkan. Beneran. Namun susah buat dijalanin.

 

Jadi, nikah enak kali yak?

 

To be cont…

 

*Note: Tulisan dengan kondisi, situasi dan perasaan sebelum menikah.

 

 

 

 

 

Kala itu, Sepanjang Luengputu-Banda Aceh

Juni 2016 saya dimutasikan ke kantor Cabang Banda Aceh. Kembali ke rumah orang tua. Meninggalkan sebuah desa yang membuat saya selalu merasa sepi di desa yang memang sepi. Meninggalkan semua hal yang tidak pernah saya sukai. Meninggalkan luka hati sendirian. Meninggalkan sebuah kamar kos berukuran 3×4 yang merekam jejak pilu kesepian saya, tangis amarah saya akibat dipermainkan oleh orang, menangkap aroma keringat sepulang kantor, kamar yang memeluk saya dengan suasana hening menyengsarakan.

Saat itu saya tengan tiduran, sambil megang hape. Suatu aktivitas yang kerap saya lakukan sepulang kantor. Ponsel saya berdering dan menampilkan nama Bos saya. Saya angkat. Lalu beliau mengabari kalau saya mutasi ke cabang Banda Aceh. Dan mulai bekerja di sana pada tanggal 1 Juni.

Masih tak percaya awalnya karena si Bos yang suka becanda. Namun akhirnya saya girang bukan kepalang. Itu artinya, bulan puasa tahun 2016 gak berulang dua kali saya habiskan di Luengputu sendirian. Itu akhirnya bulan puasa tahun 2016 saya kembali ke keluarga saya. Itu artinya hidup ditemani dispenser dan kipas angin berakhir sudah.

Demi meluapkan kebahagian. Saya peluk kipas angin. Saya kabarkan kalau kami bakalan meninggkan desa ini untuk tinggal di rumah Ibu saya. Dia (kipas angin) ikut bahagia. Hal itu dibuktikan dengan masih berputarnya kipas dengan kencang untuk menghilangkan keringat bau saya di kamar kos pengap itu.

Lalu saya kabari adik dan ibu saya. Mereka senang. Tentu saja.

Lalu saya meragu untuk mengabari seseorang lagi. Seseorang yang sebulanan itu tengah dekat dengan saya.

Akhirnya saya telponlah beliau itu. Rupanya ia sama senangnya dengan keluarga saya. Lalu ia menawarkan diri untuk menjemput saya ketika saya pindahan.

 

Saya iyakan saja walaupun ini suatu hal yang aneh bagi saya. Selama hidup saya jarang bergantung pada orang lain selain keluarga inti. Jadi ketika ada yang repot repot mau ngejmeput saya pindah dari Luengputu ke Banda Aceh yang berjarak 3 jam perjalanan merupakan hal baru bagi saya. Saya anti bergantung pada orang lain yang bukan keluarga.

 

Ibu saya aja, saking cuek dan mandirinya saya gak lagi bertanya apakah saya butuh bantuan beliau dan ayah saya untuk pindahan. Karena ibu saya tahu, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri. Toh ini bukan kali pertama saya pindahan antarkabupaten. Selama 3 tahun kerja di perusahaan sekarang. Saya udah pindah kosan 3 kali. Dan selalu pindahnya jauh jauh. Saya kemas barang barang saya sendiri, saya angkut sendiri dan kadang dengan bantuan security kantor saya. Saya cara angkutan untuk pindahan sendiri. Dan cari kosan sendiri. Semua sendiri sudah biasa. Maka ketika dibantu saya justru tak biasa.

 

Singkat cerita hari kepindahan saya tiba. Sesuai yang dijanjikan lelaki itu datang menjemput saya. untuk pertama kalinya saya pindahan dengan bantuan orang lain. Barang barang saya diangkatin. Saya tak perlu berlelah-lelah. Semuanya lelaki ini yang angkut.

Siang itu Luengputu panas sekali. Ditambah dengan aktivitas mengangkat-angkat tersebut peluh bercucuran dari pelipisnya. Membasahi wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, hati saya tersentuh. Tangan saya tergerak untuk mengusap peluhnya. Sudah setengah jalan mendekati wajahnya lalu saya urung. Saya turunkan tangan saya. Dia menyadari hal itu, dia hanya tersenyum dan mengusap peluh yang tidak jadi saya lakukan.

Setelah itu saya hanya memberinya sebotol air minum dan tissue. Untuk ia tuntaskan mengelap peluhnya. Kala itu, di melelehnya keringatnya, hati saya meleleh.

 

Sudahkan saya merasa jatuh cinta?

Saya terus bertanya pada diri saya sepanjang perjalanan kami dari kosan saya di Luengputu hingga ke rumah di Banda Aceh.

Ataukah mungkin hanya karena ini suatu hal yang baru bagi saya? Menerima kebaikan hati seorang lelaki untuk membantu saya.

Mungkin ini hal sepele bagi orang lain. Sepele bagi seseorang yang memang selalu tersedia lelaki untuk memecahkan masalahnya dan meringankan bebannya. Namun bagi saya, ini suatu hal baru yang tidak biasa. Amat janggal.

 

Mutasi ini sendiri menurut saya sebuah hal yang seperti berkaitan dengan dirinya. Sebulan mengenalnya saya langsung dimutasikan. Feeling saya ketika itu adalah, sepertinya Tuhan ingin mencetak jejak langkah baru menuju jodoh buat saya. Didekatkan-Nya, dimudahkan-Nya.

Langkah awalnya adalah diletakkannya kami di satu kota. Kota tempat kami tinggal. Agar terhindar dari LDR.

 

Lalu, hati saya ketika itu mencelos lugu.

 

Iyakah, saya akan berjodoh dengan lelaki ini? Iyakah, mutasi ini salah satu cara Tuhan membuat langkah saya menuju jodoh saya menjadi dekat?

 

Pertanyaan yang terus saya ulang-ulang sepanjang perjalanan dari Luengputu ke Banda Aceh. Kala itu.

 

 

to be cont…

Hai… :)

Pengantin baru muncul. Eciyeh… yang belom ucapin selamat mana suaranya? Bagi yang baca blog saya dan gak berteman di media sosial mungkin gak tau kabar terbaru saya. Iya. Bulan Februari lalu saya akhirnya mengentaskan dua orang jomblo di bumi ini. Saya dan suami.

 

Awalnya niatnya saya adalah ingin bercerita secara runut tentang bagaimana saya akhirnya memutuskan menikah yang telah coba saya lakukan dalam postingan dengan judul Memilih Suami Part bla bla bla. Lalu juga saya ingin menceritakan kenapa lelaki inilah yang saya pilih sebagai suami. Lalu dengan surprise (belagu) pada hari dan jam akad nikah saya bakal launching postingan yang telah di schedule sebelumnya untuk ngasih tau hari itu saya nikah. Rencananya sih gitu. Namun rencana tinggal rencana. Setelah lamaran yang diadakan akhir tahun lalu, semuanya berada di luar kendali. Masih beberapa kali saya mencoba menulis, namun makin dekat hari H rencana tinggal rencana.

Perkara ngurusin baju nikah, milih make up artist, booking gedung yang akhirnya keduluan sama orang yang otomatis bikin emosi saya bertambah kacau disamping mental yang terus saya coba asah agar siap menjadi seorang istri.

Kalut. Ribet. Belum lagi saya harus kerja. Lalu belum lagi melihat arus kas saldo saya terjun bebas. Dan masih juga diselingi pertanyaan dan pernyataan saya baik kepada diri saya sendiri maupun kepada pasangan, “haruskah kita menikah?”

 

Akhirnya… kisah yang ingin saya ceritakan berlalu begitu saja. Dan sekarang sudah sebulan setengah saya menjadi seorang istri. Baru kali ini saya sempat ngetik ngetik lagi untuk update blog.

 

Di kesempatan sedang ditinggal dinas keluar daerah oleh suami kali ini. Saya menyempatkan diri untuk menulis postingan blog ini. Postingan pertama setelah bergantu status. Eheeeey…

 

Namun… rencana yang tertunda insyaallah akan saya laksanakan mulai sekarang. Jadi seperti rikues yang masuk ke BBM yang meminta saya mengisahkan kehidupan pengantin baru harus ditunda dulu. Karena saya harus menceritakan kisah bagaimana saya akhirnya memutuskan menikah. Suatu keputusan besar nan absurd namun harus dilakukan.

 

Jadi… wahai pembaca. Terima kasih masih mau ngelirik blog ini meski pemiliknya suka angin-anginan moodnya.

 

Cacingan

“Tan, kamu coba minum obat cacing, deh.” Sergap bos saya tiba-tiba ketika saya tengah menghitung uang. Saat itu saya masih karyawan OJT. Ditugaskan menjadi kasir minggu itu.

Spontan saya melihat perut saya. dalam hati bergumam, “Apa peurt buncitku keliatan banget ya? Ini si bos mikirnya saya pasti cacingan karena buncit.”

“Saya gitu, Tan. Rutin minum obat cacing, setahun sekali.”

Penasaran saya bertanya juga, “Karena perut saya buncit ya, Pak? Keliatan ya?”

“Ah enggak… minum aja, Tan. Bapak juga minum.”

 

Setelah itu hari saya dihantui MINUM OBAT CACING.

Setiap kali ngelihat perut, saya teringat obat cacing. Setiap kali liat Pak Bos, saya teringat obat cacing. Dan tetiba iklan lawas membayangi saya, “Anak Ibu cacingan? Tentu tidak. Kan sudah saya kasih kombatrin.”

Yang tau iklan itu berarti kamu TUA.

Lalu kepikiranlah saya pengen beli obat cacing. Mana tau saya beneran cacingan. Mana tau masalah perut saya ini bisa diatasi dengan obat cacing. Perut rata ala Agnes Monica bukan lagi khayalan. Gak perlu push up atau sit up. Cukup minum obat cacing.

 

Ketika saya mengutarakan maksud saya meminum obat cacing di sela obrolan santai dengan adik saya. Si adik merespon.

“Ih… ngeri tu, Kak. Nanti cacingnya bisa keluar dari mulut.”

“Whaaaaaat.”

Wacana minum obat cacing menguap seketika. Perut buncit sudahlah.

Tiga tahun berganti. Penempatan saya sudah ke mana-mana dengan status kini pegawai tetap. Bos saya itu sudah mutasi promosi. Semua berubah.

Buncit saya masih ada. Makin besar. Nafsu makan saya besar. Badan saya kurus. Orang-orang selalu berkomentar kalau saya cacingan. Karena gak mungkin dengan porsi makan besar badan saya tidak melar.

Saya juga mudah kelaparan. Baru makan perut udah bunyi.

Apa iya saya cacingan?

 

 

Wacana meminum obat cacing kembali muncul. Setelah pergolakan batin berbulan bulan dan  membulatkan tekad sebulat-bulatnya. Saya membeli obat cacing.

 

Lalu obat itu tergeletak berminggu-minggu tak saya sentuh setelah saya beli.

Bagaimana tidak. Setiap saya ingin meminumnya, cerita horror adik saya menjadi backsound. Kadang hanya berupa ingatan saya aja, kadang emang si adik nakut-nakutin langsung.

 

Ceritanya pun kian seram. Dari yang keluar dari mulut, hingga bisa keluar dari mata dan telinga?

 

“Whaaaaaat?”

Ini cacing kok heboh bener sih?

Saya ngadu sama Ibu saya. layaknya seorang Ibu bersertifikat nasional, sudah swajarnya belaiu mengucapkan kalimat-kalimat penenang. Bahwa ini bahwa itu yang saya takutkan tidak ada.

Tapi menilik Ibu saya yang memang jago kasih kalimat penenang walaupun sendirinya takut, saya gak percaya dong sama ibu saya. akhirnya obat cacing gak saya minum.

Perut buncit. Saya mudah lapar.

Jadinya saya googling. Nyari tau cirri-ciri cacingan dan efek minum obat cacing.

Ternyata yang diceritakan adik saya bener. Memang ada itu tentag cacing yang keluar lewat hidung dan mulut. Malah cerita cacing keluar lewat mulut memang pengalaman pribadi adik saya sendiri.

Saya makin takut.

Namun hasil googling terakhir menenangkan. Katanya, obat cacing zaman dulu memang hanya mampu mengeluarkan cacing tapi tidak membunuhnya. Zat dalam obat cacing membuat cacing tidak nyaman di tubuh kita, jadinya cacing berusaha keluar secepatnya. Kadang lewat dubur. Kadang lewat mulut. Kadang hidung. Semampunya saja. Dan keluarnya hidup hidup.

Ya salam…

Kuatkan hamba, Ya Allah..

Lebih baik dia hidup di perut hamba ketimbang harus ngeliatnya keluar hidup-hidup.

Namun kabar baiknya adala, berkat kecanggihan teknologi, obat cacing sekarang telah mampu membunuh cacing di dalam perut lalu ketika keluar lewat kotoran kita ia telah menjadi hancur lebur. Jadi kita tidak bisa lagi mengidentifikasikan cacing tersebut.

 

Tekad meminum obat cacing kembali ada. Dengan harapan bahwa kecanggihan teknologi tidak mengkhianati saya. didukung oleh ibu saya dan disemangati adik saya yang tetep masih cerita soal keluar dari telinga.

Bismillahirrahmannirrahim…

Obat cacing saya minum. Malam hari.

 

Lalu tidur saya tidak nyenyak. Khawatir cacing akan keluar lewat hidung kala saya tidur. Saya katakan kegelisahan saya pada adik saya. Dia malah enggan tidur sama saya. malam itu saya mimpi buruk.

Mimpi tentang cacing.

 

Paginya. Ketika buang hajat saya berdoa semoga cacingnya sudah kelar hancur lebur. Lalu saya dapat melanjutka hidup saya dengan bahagia. Dengan perut rata ala agnes monica.

 

Dua hari berlalu. Saya sulit menelan makanan selama dua hari. Khawatir kalau perut saya penuh saya bakal muntah dan keluar cacing. Masih takut cacing kelaur lewat mulut. Dan entah karena khawatir berlebih, saya terus merasa mual. Mual diserati takut memuntahkan cacing.

 

Suatu malam saya ke dokter. Minta rujukan ke dokter mata. Saya mau mengganti kacamata saya. di kesempatan itu saya bertanya sama dokter. Kalau minum obat cacing apa yang bagus? Dan ketika minum cacingnya bakal ke mana?

Dokter sungguh memberikan jawaban menenangkan. Katanya obay yang saya minum sudah benar, dan cacing sudah mati dan hancur keluar bersama feses.

Lalu saya bertanya, kalau perut buncit itu apa artinya saya cacingan?

Itu tidak dibenarkan oleh dokter tersebut. Katanya buncit itu bisa disebabkan oleh kulit perut yang tebal.

 

Pantesan buncit saya tidak hilang meskipun obat cacing sudah saya konsumsi.

Namun malam itu saya bahagia. Entah saya cacingan atau tidak. Namun karena saya udah minum obat pastinya sekarang saya sudah terlepas dari yang namanya cacingan. Dan saya siap menjalani kehidupan yang damai dan bahagia tanpa khawatir cacingan. Namun kabar buruknya, saya tetap harus rajin workout kalau mau perut rata kaya AgnezMo.