Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Senyumlah Untuk Semua Orang Tapi Hatimu Jangan

Dia mungkin bukan caper. Tapi karena kamu kelewat laper. Jadinya baper.

Di dunia ini ada manusia berjenis kelamin lelaki. Nah dalam jenis ini ada beberapa yang masuk ke dalam kategori lelaki yang baik hati.

Baik hati, ramah, gemar menabung, rajin sholat dan berbakti pada ibu-bapak.

Pada suatu moment lelaki jenis ini berkenalan dengan perempuan. Perhatian, baik, suka ngasih donat, kadang dompet, kadang iphone 6s+. Ya tergantung tingkat ekonomi ya. Tergantung juga kerja di mana dan berpenghasilan dengan mata uang apa.

Perhatian, baik, suka tanya udah makan apa belum, suka menolong. Mungkin dengan itu semua kamu bakal jatuh hati. Mungkin awalnya senang. Lalu respek, kemudian jatuh hati.

Jangan buru-buru.

Yakin cuma kamu yang dikasihnya dompet?
Yakin donatnya cuma buat kamu?
Yakin buku mewarnai yang dikirimnya buat kamu itu emang buat kamu?
Yakin iphone yang ditawarkan bukan basa-basi?

Yakin?

Gimana kalau dia tanya kamu udah makan apa belum lewat sms tapi lalu lewat telepon dia ngomong manja ama cewek lain.

Gimana kalau dia lagi video call sama kamu tapi lalu setelah kamu tidur dia malah skype-an sama perempuan lain. Yaah.. terpisah zona waktu ya bisa jadi lain cerita ya.

Gimana kalau dia antarin kamu dompet. Tapi lah lalu dia juga nganterin baju buat perempuan lain. Lalu dia ngantarin jilbab buat perempuan di kecamatan lain. Kamu harus mulai curiga gebetan kamu mungkin profesinya sebagai kurir je-en-e.

Lalu yang ngasih donat. Ini yang paling lemah modusnya. Donat doang sih ya. Saya juga pernah tuh dapet donat mulai dari temen sekantor yang emang terkenal baik hati, dari kasir kantor dan dari nasabah. Mereka juga nganterin langsung sih ke saya. Tapi gak satupun dari mereka yang nganterin tapi nitip hatinya sekalian. Cuma nganterin. Udah.

Jadi kalau ada yang ngasih donat ya, ya udah terima aja. Dia gak caper kamu jangan baper. Kalau laper makan aja donatnya. Baper jangan. Pun dia ternyata caper jangan juga baper. Saya tanya sekali lagi, yakin cuma kamu yang dikasih donat olehnya?

Jadi gini. Memang ada beberapa lelaki di dunia ini yang dianugerahi sifat baik hati yang berlebih. Kadang malah punya penyakit gak bisa nolak dan gak tegaan juga bila ada yang minta tolong. Nah.. bila lelaki itu memang pada dasarnya baik yang artinya dia baik ke semua orang ya jangan buru-buru baper. Terima aja kebaikannya. Udah. Gak usah pake hati. Kolesterol entar.

Jangan karena baper kamu yang kelewatan lalu pada suatu ketika kamu malah nuduh lelaki itu PHP. Lelaki modus. Atau berkata “omongan lelaki emang gak ada yang bisa dipegang”. Atas alasan suatu hari dia berlaku tidak sesuai harapan kamu.
Karena padahal kamu saja yang pengkhayal kelas wahid. Baper karena laper. Dan berekspektasi terlalu tinggi.

Jadi.. menyukai lelaki yang baik ke semua orang?

Tunggu dulu.
Jangan buru-buru.

Hati itu cuma satu, jangan biarkan ia hancur dengan mudah, dengan tingkahmu yang jatuh hati dengan gampang.
Dan jemari itu ada sepuluh. Jadikan saja mereka gebetan tanpa pake hati. Modusin mereka menggunakan jarimu.
Yang satu ladeni di BBM, yang satu di wasap, yang satu di Path, yang satu di FB, yang lainnya di Line. Sebanyak media sosialmu, sebanyak itulah gebetanmu. Karena untuk dijadikan satu kamu harus teliti.

Singkat kata, senyumlah untuk semua orang…. tapi hatimu jangan.

Karena bila ia memang yang paling pantas, tak usah menghadiahi dompet. Cukup ia yang selalu membuatmu ingin lengket.
Karena bila ia memang yang paling cocok, tak perlu meng-imingi mahar seratus unta. Dioleh-olehi tempelan kulkas aja kamu udah bahagia.
Karena bila dialah yang ditakdirkan bersama, tanpa dikasih buku mewarnai, hidupmu dan dia insyaallah akan penuh warna.

 

Sebuah petuah panjang (sedikit ngawur) dari seseorang yang hatinya terus patah berkali-kali namun tetap optimis mendapatkan lelaki tampan, mapan dan dermawan.

Muasal Kata Mandasyeh

Banyak pemuda-pemudi Aceh yang nyasar di Pulau Jawa sedang mencari rejeki dan mungkin juga belahan hati mempertanyakan fenomena yang sering terjadi di kampung halamannya ini.

Berdasarkan FAQ:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?
  2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?
  3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

Awalnya saya mendengar kata tersebut dari Carina. Perjalanan ke Korea Selatan di akhir tahun 2014 mempertemukan saya dengan gadis cantik ini. Dari dia pertama kalinya saya mendengar sebutan Mandasyeh. Entah memang dari dia sebutan itu saya dengar pertama kali. Entah pula dari dialah saya sadar akan penyebutan kota Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh. Penyebabnya tentu saja karena ia kerap menggunakan kata tersebut di sela-sela obrolan kami.

Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh entahlah sudah diketahui oleh Bunda Illiza atau belum. Bila Bunda sudah mendengar lalu membiarkannya bisa jadi kata tersebut tidak layak dijadikan issue untuk ia berantaskan. Maka para anak gaul kota Banda Aceh yang menjadi pengguna mayoritas kosa kata baru tersebut dapatlah berlega hati.

Tinggal di kampung selama 3 tahun dan pengalaman berbicara atau mendengar orang-orang menggunakan bahasa Aceh. Cukup membuat saya PD melakukan tulisan ini.

Sebagai warga Banda Aceh yang kampung Ayah saya di Aceh Besar. Maka saya tahu logat Aceh Banda Aceh dan Aceh Besar yang berbeda. Logat bahasa Aceh-nya Banda Aceh termasuk logat yang paling biasa saja. Tidak ada khasnya. Ibu saya yang besar di Kota Sabang dan baru bisa bahasa Aceh setelah menikah dengan Ayah saya, menggunakan Bahasa Aceh-nya Banda Aceh. Ayah saya menggunakan Bahasa Acehnya Aceh Besar meskipun setelah saya perhatikan bahasa acehnya sudah berbaur menjadi bahasa aceh biasa tanpa penebalan di huruf R. Akibat terlalu lama hidup di kota Banda Aceh dan berbicara dengan Ibu saya mungkin bisa dijadikan alasan.

Tapi bila saya pulang ke kampung ayah saya. Barulah khas Aceh Besar kelihatan. Saya sampai bersumpah gak mau bikin nama anak saya yang terdapat huruf R di dalamnya. Karena saya gak mau nasib anak saya berakhit tragis seperti keponakan saya di kampung.

Namanya Arif. Namun semua memanggilnya Aghih…onion-emoticons-set-5-49

Pernah tinggal di Bireuen selama beberapa bulan saya akhirnya dapatkan aksen Aceh lainnya. Beberapa kata dengan arti yang sama diucapkan dengan kata yang berbeda bagi warga Bireuen dan Aceh Utara sekitarnya. Ini dikenal dengan aksen Aceh Utara.

Maka ketika saya berbicara dengan nasabah menggunakan Bahasa Aceh, si nasabah bisa tebak dengan jitu kalau saya dari Banda Aceh. Bahasa Aceh yang standar banget.

Pindah ke Ulee Glee lalu sekarang hidup di Lueng Putu membuat saya mendengar Bahasa Aceh dengan aksen lainnya lagi. Ini Kabupaten Pidie Jaya yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Pidie. Bahasa Aceh di sini dikenal dengan sebutan Aceh Pidie. Tutur kata yang lebih halus dalam berbahasa juga gemarnya mereka dalam menganalogikan sesuatu dengan perumpaan ketika ngobrol sehari-hari merupakan sesuatu yang kerap saya tangkap di sini. Dan ya, jangan coba-coba saya gunakan Bahasa Aceh saya di sini kalau gak mau ditertawakan. Mereka akan tahu dari mana saya berasal. Terlebih lagi, mereka tahu kalau saya tidak terbiasa menggunakan Bahasa Aceh yang dengan frontal mereka anggap, tidak bisa berbahasa aceh. Padahal hanya tidak lancar, bukan tidak bisa. Untuk memahami saya sih bisa. Untuk mengucapkan agak-agak keseleo lidah kalau udah harus ngomong lebih dari tiga kalimat.

Kembali ke kata Banda Aceh yang bermetamorfosis menjadi Mandasyeh.

Kerap saya dengar baik di Bireuen maupun di Pidie Jaya masyarakat yang mengatakan,

“Lon keuemueng jak u Manda”

artinya: Saya akan pergi ke Banda (Banda Aceh)

nah.. ini dia. Masyarakat di sini sering menyebutkan Manda alih-alih Banda. Huruf B yang lafalnya diubah menjadi M.

bahkan saya pernah mendapati ada satu kata (yang saya lupa apa) yang bunyi huruf B-nya berada di antara B dan M.

Maka dari itu saya menyimpulkan ini hanyalah soal aksen. Di sini mereka menggunakan awalan M untuk kata Banda hingga menjadi Manda. Sedangkah akhiran ‘syeh’ pada kata Mandasyeh ini mungkin akibat morfologi yang asal-asal diucapkan. Aceh langsung dipelesetkan menjadi “Syeh” biar ringkas. Biar cepat sampai. Aish..

Berbeda dengan kata Jakarta yang diubah bunyinya menjadi Jekardah akibat meniru suara bule dan bisa jadi pelopornya Cwintha Lhaurah. Mandasyeh tercipta akibat meniru suara masyarakat kampung yang memang aceh banget. Di bawa ke kota oleh Mahasiswa dari kabupaten yang kuliah di kota Banda Aceh. Lalu dijadikan populer oleh anak-anak gahul Banda Aceh yang kini gemar ngopi di warung kopi fancy yang harga segelas minumannya 20k ke atas. Anak Gahul ini sendiri gak murni juga penduduk Banda Aceh. Banyak diantaranya adalah anak kabupaten yang berkuliah di Kota Banda Aceh lalu bahkan tingkat kepopuleran dan kegaulannya melebihi warga asli.

Jadi bila ingin menjawab secara singkat daftar FAQ maka:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?

– Akibat perubahan morfologi demi meniru warga Kabupaten dalam mengucap Banda menjadi Manda. Huruf B berubah bunyi menjadi M. namun tidak serta merta semua kata menggunakan huruf B menjadi M

2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?

-Populer sejak 2014 mungkin

3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

-Para Mahasiswa kabupaten yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi ternama di Banda Aceh

Lalu apakah tulisan saya ini layak dijadikan jurnal ilmiah atau bahkan referensi Skripsi Jurusan Bahasa Indonesia atau apapunlah itu?

Saya rasa jawabannya tidak. Karena ini murni penilaian subjektif saya hasil analisis sederhana saya. Berdasarkan pengalaman hidup di kampung yang lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Yang semoga cukup bermanfaat bagi teman-teman yang sering bertanya kenapa kota Banda Aceh tercintanya kini berganti nama,

Daster Penghalang Jodoh

Saya kerap mendengar perempuan mengucapkan kalimat, “Jodoh itu bisa ketemu di mana aja, jadi setiap keluar rumah itu wajib tampil cantik,”

Bahkan ada yang pergi ke pasar pun mesti dandan karena alasan tersebut di atas.

Saya sendiri sih sebenarnya menyetujui argumen para perempuan itu. Tapi sayangnya, gak setiap momen saya suka berdandan atau tampil cantik. Kalau perginya deket apalagi cuma belanja doang saya lebih suka tampil kayak emak-emak punya anak dua dan ditinggal suami. Mungkin inilah kenapa sampai sekarang saya masih single and available but not incar-able oleh lelaki tampan, mapan dan rupawan.

Pada suatu hal lain. Adik saya sibuk mengomentari saya yang tidak suka pakai daster di rumah. Bagi saya, saya lebih suka tampil dengan celana pendek dan tanktop kalau bisa. Sayangnya gak bisa. Kalau saya tetep nekad berkeliaran di rumah pake tanktop, siap-siap aja dibacok sama abang saya. Jadinya, tampilan rumahan saya hanya celana pendek dan kaos oblong. Celananya pun harus punya batasan pendeknya.

Nah.. adik perempuan saya gemar pakai daster. Katanya perempuan pakai daster itu jiwa keibuannya udah muncul. Lalu tidak cukup itu, ia menambahkan, “Kakak tu gak suka pakai daster, makanya gak nikah-nikah. Secara naluriah belum siap jadi ibu-ibu,”

Saya biarkan adik saya dengan hipotesis suka-sukanya.

Ketika kami tengah berbicara soal daster-dasteran itu saya menyuruh adik saya membeli deterjen. Awalnya ia menolak dengan alasan malas berganti baju. Namun akhirnya ia mau, dengan syarat ia boleh pergi dengan daster yang tengah ia pakai dan tinggal menambahkan jaket saja untuk menutupi lengannya.

Saya tidak setuju. ‘Tampilan emak-emak punya empat anak dan lagi nagih utang’ itu sungguh gak pantas untuk ia lakukan di usianya. Namun dia keukeh pengen ngerasa jadi mamah-mamah rempong yang gak sempet dandan. Mungkin terinsiprasi dari kakak sepupu kami yang kerap pakai daster ke mana-mana tapi tetep jilbaban. Saya heran dengan cita-citanya pengen jadi mamah-mamah muda tapi pake daster. Akhirnya demi terbelinya deterjen saya ikhlaskan ia pergi dengan daster. Melepas kepergiannya saya risau. Saya menatapnya dengan rasa kekhawatiran.

Hingga….

10 menit berlalu. Suara motornya memasuki garasi rumah. Tanpa mengucapkan assalmualaikum dia langsung mencecar saya dengan, “Kakak tau apa?”

“Apa?”

“Tadi lia jumpa Bang Mamad (bukan nama sebenarnya), terus dia bilang ‘Dek Lia belum mandi ya?’. Dia bilang gitu dengan muka sangak ngeliat penampilan Lia,”

Saya langsung ketawa serius mendengarnya bercerita tentang apa yang dialaminya.

“Lia malu, Kak. Pasti ini gegara Lia pake daster. Pasti maksudnya mau bilang Lia jelek kali tapi dialihkan dengan belum mandi.”

Saya tahu persis lelaki yang dimaksudkannya adalah lelaki gebetannya yang tinggal beberapa lorong dari rumah kami. Demi melihat lelaki ini kadang ia rela menarik tunai, setor tunai, transfer di teller bank kantor Cabang tempat elaki itu bekerja menjadi teller, alih-alih menggunakan mesin ATM. Demi lelaki ini ia bahkan suka senyum-senyum bego sendiri saat di sapa. Nah kali ini ia kena sialnya bertemu lelaki tersebut.

Saya masih tertawa. Adik saya masih ngedumel, “Kenapa harus jumpa dia tadi sih, Kak? Kalau Lia lagi dandan keren dan wara-wiri cakep kenapa juga kami gak ketemu? Kenapa harus saat pakai daster?”

Ata.. sok lom daster. Ata.. bah meu-ri mamah-mamah muda rempong (artinya: Pakai lagi daster. Pakai lagi biar mirip mamah-mamah muda rempong),” jawab saya cuek sambil masih ketawa.

“Mungkin bener apa kata orang ya, Kak. Kita harus tampil cantik setiap saat. Setiap keluar rumah. Karena jodoh bisa ada di mana aja. Karena kita gak pernah tau kapan bakal ketemu jodoh kita.” ucapnya dengan nada sedih.

“Iya, dek. Iya.”

Sejak itu kayaknya adik saya nyerah untuk pengen tampil layaknya mamah-mamah muda rempong. Berkeliaran dengan daster di luar rumah.

Kejadian ini makin memperkuat alasan-alasan perempuan untuk harus tampil cantik setiap saat. Agar kelak, gak malu untuk ketemu gebetan secara dadakan dan tak terduga. Atau agar tidak membuat ilfeel sang gebetan. Karena gebetan juga merupakan calon jodoh yang mesti kita usahakan.

Balada Diajak Kenalan

“Lia, ada yang mau kenalan ama kakak nih?” Ucap saya membuka curhatan pada adik saya.

“Ya udah kenalan aja, gih.”

“Males. Males kali udah kakak kenalan ama orang. Membahas hal-hal yang itu-itu aja. Pasti dia tanyanya: soal kerjaan, asal aslinya dari mana, orangtua asli mana, anak keberapa, kuliah di mana, leting berapa. Bosan kakak jawab yang sama.”

“Kan kenalan emang gitu, Kak.”

“Itu dia masalahnya. Kenalan emang gitu. Dan selama hidup udah gak tau berapa ratus orang yang kakak hadapi soal berkenalan. Udah berkali-kali kakak menjawab hal yang sama untuk pertanyaan mereka. Kakak bosan.”

Adik saya tertawa, “Tapi kan orangnya beda-beda, kak?”

“Tapi pertanyaan mereka sama. Jawaban kakak juga sama. Yang bosan kan Kakak, Coba mereka ngasih pertanyaan yang lebih kreatif dikit. Semisal “Planet ketiga dari Bumi itu apa? Atau Rumah kakak berada di garis lintang dan bujur berapa? Atau kakak lahir saat era pemerintahan apa? Orde baru atau Gotong Royong? Kan seru. Gak monoton.” saya semacam frustrasi.

Usai ketawa adik saya melanjutkan, “Ya udah gini aja, ntar kakak buat jawaban-jawaban atas pertanyaan itu di memo. Jadi ntar pas ada yang ngasih pertanyaan dengan jawaban yang sama kakak tinggal copy paste aja.”

Saya mulai tersenyum mendengar ide briliant adik saya.

“Gimana?” tanyanya lagi atas pendapatnya.

“Bisa tuh, Lia. Ide bagus tuh.”

“Oke. Fine. Masalah kelar.”

“Etapi, gimana kalau setelah tulis kakak screenshoot aja? Ntar pas ada yang kenalan dan ngasih pertanyaan langsung kakak kasih semua list jawaban itu. Ini kan jadi lebih praktis. Kakak gak bosan dan dia gak capek lagi harus bertanya pertanyaan standar yang umum, kan?”

“Lebih bagus lagi tu, Kak.”

“Sip.”

Antara Menyusui dan Kinerja di Perusahaan

Kemarin siang yang terik dan lapar seorang rekan kerja yang baru bangkit dari masa hibernasi melakukan aksi curhat di sebuah grup chat. Latar belakang terjadinya curhat karena si rekan dihimbau oleh atasan agar melakukan promosi lebih gencar. Dengan alasan menjadi pelaku ASI Ekslusif bagi anaknya yang baru berusia 2 bulan lebih, si rekan mengatakan kalau hal itu agak sulit ia lakukan sekarang ini. Sulit untuk bepergian ke mana-mana melakukan promosi. Dengan kata lain ia hanya ingin melakukan promosi yang tidak mengharuskannya pergi terlalu jauh, pulang kantor lebih lama, dan meninggalkan anak lebih lama.Atas dalih sebagai seorang karyawan si atasan mengatakan meski tengah menyusui kinerja tak boleh turun.

Perdebatan semacam itu saya rasa sulit mencari titik temu. Kedua belah pihak, baik si rekan atau sang atasan pastilah merasa argumen mereka paling benar. Sang atasan akan menuntut kinerja optimal dari rekan atas dasar dia sebagai karyawati perusahaan. Si rekan akan menuntut hak untuk menyusui karena itu ada dalam Pasal 128 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) yang berbunyi: “Selama pemberian Asi, Keluaraga, Pemerintah dan masyarakat harus mendukung penuh penyediaan waktu dan fasilitas khusus di tempat kerja dan sarana umum.”

Saya gak tahu persis detail kata-kata yang mereka keluarkan, namun di sini saya merasa tertantang untuk memberikan solusi bagi seluruh ibu menyusui di Indonesia yang berprofesi sebagai wanita karir. Solusi agar menyusui tetap terlaksana namun kinerja tidak menurun.

Nah.. semalam saya berpikir keras langkah apakah yang mesti dilakukan oleh seorang Ibu menyusui. Namun…

 

 

namun…

Namun, saya tidak berhasil menemukan solusinya. Harusnya sekarang ini saya bukannya sibuk mencari solusi bagi ibu menyusui, namun lebih kepada sibuk mencari calon suami untuk diri sendiri.

Agar kelak, saya bisa juga merasakan punya anak dan menyusui juga problematika yang harus saya hadapi antara memberikan asi ekslusif namun kinerja tidak terganggu.

Jadi Buibu, yang udah terlanjur baca postingan “hana meupeu cap” (artinya: tidak ada arti/manfaat) ini ada baiknya tunggu saya aja dulu berada di posisi yang sama dengan Buibu sekalian agar saya bisa menuliskan postingan cara agar kinerja stabil menyusui lancar. Karena kalau saya udah berada di posisi yang sama mungkin saya akan lebih menjiwai dan mendalami perasaan Buibu sekalian.

Sembari menunggu ada baiknya Buibu berdoa agar jodoh didekatkan pada saya. Agar lelaki yang masih ragu namun sukak sama saya itu terketuk hatinya untuk menetapkan pilihan. Atau agar lelaki mapan tampan dan rupawan yang sekarang lagi jadi pacar orang memutuskan pacarnya dan memilih saya. Ya Buibu?

Namun Buibu, sejak saya menginginkan sebuah pernikahan. Sejak saya pernah membayangkan saya akan segera menjadi pengantin dan itu artinya kelak menjadi seorang Ibu. Saya selalu punya pikiran ingin resign dari kerjaan dan menjadi Ibu rumah tangga yang setia setiap saat untuk anak dan suaminya. Karena mendidik anak di jaman penuh hal-hal nyeleneh ini saya rasa berkali-kali lipat lebih sulit dibandingankan era ibu saya mengasuh saya. Juga, membantu suami tetap menjaga hati dan imannya terasa sulit juga sekarang ini. Jadi ya, mungkin menjadi Ibu rumah tangga adalah solusi bagi saya kelak. Karena saya punya kekurangan fatal sebagai perempuan. Saya tidak bisa multitasking layaknya bakat normal yang ada pada setiap perempuan. Saya tidak mampu fokus pada banyak hal. Maka itu, sekarang saat saya masih single cantik dan berkualitas ini saya sedang memanfaatkan waktu saya sebaik mungkin menjadi wanita karir sembari mempersiapkan diri suatu kelak akan menjadi ibu rumah tangga bergelar Hot Mamaonion-emoticons-set-6-7.

Semoga rejeki suami saya bagus, jadinya saya gak perlu ikutan nimbrung nyari uang jadi buruh 8-4 saban hari.

Oke. Postingan sampai di sini aja dulu. Ketimbang ngoceh, saya lebih baik fokus nyari orang yang bersedia menjadikan saya Ibu dari anak-anaknya.

Uhhuuuuy…onion-emoticons-set-6-48

Dibetah-betahin

Banyak yang komentar sok tau dengan mengatakan, “Betah kali kayaknya di Pidie Jaya ya?”. Komentar sok tau itu juga pernah keluar dari mulut orang tua saya. Yang lalu saya jawab, “Kalau betah gak tiap wiken adek pulang, Mi.”

Kalau temen yang sesekali jumpa lalu ngasal komentar gitu sih saya kasih senyum pepsoden aja. Malas jelasin.

Bukan betah. Yang ada hanyalah bertahan hidup. Demi berlian di jari, tiket pesawat buat liburan, lipstick 500 k, dan dompet Charles & Keith. *edisi sombong*

Sebenarnya saya suntuk di lokasi penempatan saya kerja. Sebuah kampung yang sering mati lampu. Hari-hari yang saya lalui hanyalah menghitung kapan Sabtu tiba. Senin menjadi pengawal Minggu yang malas tapi kerjaan pasti sibuk banget untuk perusahaan jasa keuangan yang saya geluti. Selasa menunggu Rabu. Rabu terasa lama. Kamis juga lama. Jumat senyum mulai terkembang dan Sabtu senyum lebar karena bisa pulang ke rumah orang tua.

Di Pidie Jaya saya Cuma menghitung hari. Kalau di kantor saya ngeliatin jam dinding, berharap jarum jam berlari cepat ke arah jam 3. Sepulang kantor rutinitas standar dan gitu-gitu aja dimulai.

Pulang kantor.

Mandi.

Shalat.

Tidur/nonton/main game/masak

Kalau tidur bangun pas adzan margib.

Kadang kalau datang sisi alimnya: bisa ngaji, zikir, doa minta jodoh yang panjaaaaaang banget doanya sambil tunggu isya.

Kalau lagi datang setan malas: Doa alakadarnya. Lipet mukena.

Dan nonton sambil makan malam.

Baca novel/main game. Belakangan sering main game duel otak. Ya mumpung punya otak ya di pake ya. Sebelum dijual ama adek saya ke OXL.

Shalat Isya.

Lanjut nonton. Sambil chating di grup angkatan sesama pegawai Perusahaan satu angkatan. Belakangan grup ini sering rame. Obrolannya cukup menghibur kami-kami yang penempatan di rantau jauh dari keluarga dan minim fasilitas hiburan karena di pelosok desa.

Terkadang saya juga chating sambil curhat sama sahabat-sahabat.

Terkadang ya gini, bikin tulisan buat blog sambil dengerin musik.

Jam 11 paling cepat saya tidur. Paling telat jam 12. Lewat dari itu jerawatan.

Bangun tidur pergi kantor. Dan hari terulang kembali begitu-begitu saja.

 

Saya betah banget di Pidie Jaya?

Dibetah-betahin iya. Yaaa.. selama masih hidup dan gaji rutin masuk ke rekening sih ya gitu, dibetah-betahin.

Dibetah-betahin.

Sekali lagi, dibetah-betahin.

Oke. Saya udah ngantuk. Bye.