Kepatahhatian (1)

Saya tipikal perempuan sensitif nan perasa. Iya. Boleh gak percaya. Boleh terbahak. Bebas. Muka jutek, nada bicara judes dan gaya serampangan gak cocok emang kalau mau mengaku hatinya ini sensitif dan mudah tersakiti.

 

Namun nyatanya, untuk beberapa hal saya bisa menangis haru. Meski menurut adik saya bahkan pilem india yang tingkat sedihnya level juarapun tak mampu membuat saya menitikkan air mata.

Saya orang yang tidak bisa dikecewakan. Tidak boleh ditinggalkan. Tidak suka dilupakan. Bila hati saya telah saya percayakan pada satu orang, lalu bilang orang tersebut mengkhianati saya. Hancurlah perasaan saya.

Ini tidak hanya soal asmara pada lawan jenis. Namun ini juga berlaku kasih sayang pada keluarga. Romantisme persahabatan. Dan hormat dan menghargai pada rekan kerja atau bos.

 

Saya ingin bercerita…

Tentang bagaimana sakit hati saya ketika saya mengetahui bos saya pernah lain di depan saya lain di belakang saya. Tentang bagaimana ia manis di depan saya namun menjelekkan di belakang saya. Dia adalah sosok yang saya hormati. Saya banggakan pada teman-teman sekantor yang lain. Amat sering saya memuja kelebihan, kehebatan, kepintaran dan kebaikan bos saya. Tentu saja untuk dibandingkan pada bos mereka. Intinya, pada bos itu saya jatuh hati. Jatuh hatinya seorang bawahan pada atasan. Sebuah kisah jatuh hati dalam sebuah keprofesional.

Untuk memastikan tidak ada pembaca yang menafsirkan metamofa saya dengan pikiran pendek lebih baik saya jelaskan. Maskud kata-kata “jatuh hati” di atas tidak sama seperti perasaan jatuh hati sama lawan jenis ya. Maksdunya hanya perasaan hormat dan kagum pada atasan.

Lanjut…

Lalu pada suatu ketika saya mengetahui suatu hal. Bahwa kejelekan saya sebagai anak buahnya pernah ia sebarluaskan pada semua orang. Semua orang kecuali saya. Disitu terhenyak kecewa saya. Pikir saya ia sosok bijaksana. Yang akan mengevaluasi kesalahan anak buahnya hanya demi kebaikan anak buahnya. Akan menegur langsung anak buahnya bukan membicarakan anak buahnya di belakang. Yang paling membuat saya menjadi seperti orang bodoh adalah saya tidak pernah benar-benar tahu kesalahan saya apa karena tidak pernah ditegur. Namun semua rekan sekantor mengetahui apa salah saya. Yang paling membuat saya terlihat konyol adalah tentang saya yang terus bertingkah semua baik-baik saja yang padahal tidak. Semua karena tidak pernah ada teguran atau peringatan atas apa yang saya lakukan. Yang lalu hanya saya terima adalah hukuman. Hukuman tanpa tahu salah saya apa.

Kecewa iya. Terluka sangat. Dan jangan tanya kepatahhatian apa yang saya rasakan. Rasa kepercayaan saya pada seseoang terus makin kikis makin tipis. Semuanya terasa sadis.

 

Sejak itu saya memandang curiga pada semua orang sekantor. Pindah ke kantor baru membuat saya seperti harus memasang tembok pertahanan untuk diri sendiri. Untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang. Tidak terlalu kagum pada orang. Dan tidak usah terlalu dekat dengan atasan. Awalnya… saya jalani kehidupan di kantor dengan kepribadian robot. Diam bila tak perlu bicara. Menghindari keramaian dan manusia. Dan saya menatap mata-mata yang seolah memojokkan dan menyalahkan saya.

 

Butuh berbulan kemudian untuk move on dari patah hati. Untuk bisa menerima kekecewaan atas kepercayaan pada mantan bos. Hingga pada suatu pertemuan kantor ketika saya bertemu dia (si bos), saya bisa menjabat tangannya, menanyakan kabar, dan lalu mencandai satu sama lain seperti biasa. Seperti dulu. Kalau kata temen saya. saya udah baikan sama bos saya. Ya meskipun mantan bos saya gak tau saya marah padanya, seperti saya tidak tahu bahwa ia tak suka cara kerja saya. Tapi setidaknya saya sudah memaafkan. Memaafkan sakit hati yang ia ciptakan. Runtuhnya kagum saya padanya tak bisa saya bangun lagi.

 

Begitulah perasaan saya. begitulah sakit hatinya saya ketika dikecewakan seseorang ketika sosoknya telah saya pigura rapi di hati saya.

 

 

Kesunyian Beda Kelas

Tahun lalu saya masih ngekos di sebuah desa di Kabupaten yang berjarak 3 jam dari kota Banda Aceh. Di sana demi bisa mengumpulkan receh untuk mejeng di bandara dalam maupun luar negeri. Di sana untuk melangsungkan hidup. Di sana untuk tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesendirian dan kesepian.

 

Mundur ke beberapa tahun silam. Tepat ketika saya masih berkutat dengan segala keruwetan dan keidealisan seorang mahasiswi, saya pernah memiliki suatu cita-cita. Kelak, bila telah menjadi dewasa saya ingin menjadi perempuan mandiri. Bekerja di suatu perusahaan, hidup mandiri jauh dari orang tua, dan menjalani serta bertanggung jawab dengan diri sendiri.

 

Bayangan kala itu merujuk ke penokohan suatu karakter di film holiwud. Seorang perempuan muda dewasa, cantik, pintar dengan karir cemerlang. Hidup single namun jumawa di kota besar dan tinggal sendiri di apartemen yang tidak terlalu besar namun tidak kumuh. Memunyai cukup uang untuk kesenangan sendiri. Berkutat dengan segala kesibukan kerja hingga lupa asmara. Pulang kerja ketika membuka pintu apartement yang didapati hanya sebuah kegelapan namun kesunyian yang dirindukan setelah seharian penat dengan tumpukan kerjaan dan klien. Menyiapkan makan malam ditemani suara TV yang menyiarkan entah itu siaran komedi atau berita yang isinya entah apa. Hanya diperlukan kebisingan untuk menemani proses memasak spageti instan lalu segera memakannya. Setelah itu, mandi dan mengakhiri hari dengan tidur tenang nyaman seorang diri.

Yang saya narasikan di atas adalah sebuah kehidupan yang sempat saya cita-citakan. Sebuah pencapaian hidup menurut saya. Namun, memang Tuhan maha baik. Ia berikan kehidupan yang saya inginkan tersebut untuk saya jalani. Sama namun beda kelas.

Nyatanya….

Menjadi perempuan dewasa iya. Cantik ya dipaksain dengan fitur kamera hp dan perawatan wajah menguras dompet. Pintar, ya gak bisa dibilang bodoh juga. Karir cemerlang? Ya udah syukur dapat kerjaan. Tinggal mandiri jauh dari keluarga, iya banget. Namun bukan di apartement bagus, melainkan kos-kosan tanpa ventilasi yang baik di sebuah desa yang tidak ada keriuhan dan kepikukan sama sekali. Hidup single, iya banget. Memunyai cukup uang iya sih. Namun yang berbeda adalah sensasi pulang kantor. saya pikir, ketika membuka pintu dan mencumbu kegelapans aya akan merasakan kebebasan dan kenyamanan. Nyatanya, ketika pintu kosan saya buka setiap saya pulang kerja, yang saya temui adalah kehampaan dan kesepian yang memilukan. Yang bila diresapi membuat saya jatuh nelangsa dan terus bertanya, “ngapain saya harus membuang waktu saya di desa ini? Sedangkan orang-orang desa ini malah merantau ke kota tempat tinggal saya atau bahkan luar kota dan luar negeri?”

Iya. Pulang ke kosan setiap harinya itu menjadi hal terburuk. Sepi dan sunyi bukan sebuah kemewahan yang seperti selama ini saya pikirkan. Pulang ke kosan bukannya masak, malah menyurutkan nafsu makan saya. terlalu banyak malam saya lewati tanpa makan malam. Terlalu banyak malam saya merasa menyesal pernah ingin hidup sendiri jauh dari rumah. Terlalu banyak malam saya pikirkan dalam sepi kalau Tuhan memang mewujdukan doa saya. namun saya lupa mengatakan kalau maksudnya saya itu ingin tinggalnya di kota bukan di desa.

3 tahun hidup sendiri makan ditemani kipas angin dan ngobrol dengan dispenser cukup merusak otak saya hingga akhirnya sebelum otak saya rusak parah saya memutuskan:

 

NIKAH ENAK KALI YAK.

 

 

To be cont…

Recehan yang Menjadi Emas

Hari itu seperti hari kerja lainnya. Nasabah datang silih berganti. Rata-rata ibu-ibu seperti biasanya. Hingga seorang Ibu yang wajahnya familiar bagi saya datang dan berkata, “Dek anak saya mau nabung emas.”

Saya berjinjit sedikit dan melongo ke bawah untuk melihat anak yang dimaksud ibu tersebut dengan gestur tubuhnya. Konter kerja saya tinggi hingga agak menyulitkan saya melihatnya meskipun akhirnya terlihat juga seorang anak perempuan berseragam merah putih.

Criing….criiiing….

Bunyi uang receh nyaring di lantai. Si Ibu mesem-mesem malu.

Dek, kalau uang receh bisa, kan? Ini uang celengannya dia. Dipindahin ke sini aja duit celengnya.

Wah… boleh, bu. Boleh banget. Saya juga malah perlu uang recehan. Rada sulit nyari recehan sekarang, Bu.

Si Adek berseragam SD tersebut lalu dengan kedua tangannya menaruh pundi-pundi hartanya ke atas konter untuk ia berikan ke saya. Saya sambut dengan sumringah. Sumringah karena ini kali pertama mendapati anak SD yang punya kesadaran menabung emas. Sumringah melihat recehan yang bisa dijadikan stok kasir buat kembalian ke nasabah. Sumringah kejadian ini bisa jadi bahan tulisan buat kontes Sahabat Pegadaian.

Dua puluh lima ribu ya, Kak. Sepuluh ribunya sama Mamak.” Ucapnya malu-malu.

Iya. Kakak hitung dulu ya.” Saya meraup recehan tersebut. Si ibu langsung memberikan lembaran sepuluh ribuan yang dia keluarkan dari dompetnya.

Untuk beramah tamah saya bertanya, “Si Adek udah tau kalau uang jajannya dimasukin ke Tabungan Emas gini, Bu?

Udah. Udah saya bilang kemarin itu.

Dianya gak keberatan?

Gak. Dia suka. Ada bukunya. Ada namanya dia.”

Saya terharu. Saya ingin meneteskan air mata. Namun ingat eye liner yang saya pakai gak waterpoof jadinya terharu doang tanpa pake air mata.

Setelah uang kelar dihitung dan jumlahnya sesuai yang disebutkan si adek SD, saya input transaksinya. Si Ibu juga gak mau kalah. Beliau juga ikutan nabung. 300 rebu.

 

Setelah mereka selesai bertransaksi masih dengan senyum sumringah karena mendapati anak SD datang ke Pegadaian bawa recehan beli emas, saya berkata, “Rajin-rajin ya, dek nabungnya. Entar kalau gede emasnya udah banyak, deh.

Si Adek senyum malu-malu. Menggenggam tangan ibunya. Dan berlalu dari kantor saya.

 

Segera setelahnya saya berpikir. Betapa anak SD aja mampu menabung emas, lalu di belahan bumi Nusantara yang lain ada temen saya yang masih meragukan kejumawaan Tabungan Emas. Atau bahkan yang lebih memprihatinkan, belum tau apa itu Tabungan Emas.

 

Saya flashback lagi deh. Meskipun tulisan Tabungan Emas udah berkali-kali saya bahas di blog saya.

Pegadaian kini hadir dengan inovasi yang memudahkan nasabah memiliki emas hanya bermodalkan duit 5 ribuan aja. Produk itu lalu dikenal dan melegenda dengan nama Tabungan Emas.

Tabungan Emas memiliki mekanisme transaksi serupa dengan tabungan biasa pada bank umumnya. Namun yang membuatnya kece dan berbeda adalah saldonya yang langsung dikonversikan ke dalam gram emas.

Kebayang?

Ilustrasi gampangnya gini.

Harga emas hari ini setelah saya cek di Aplikasi Sahabat pegadaian adalah Rp5.480 per 0.01 gram. Jadi bila kamu minimal bawa duit segitu kamu udah bisa nabung emas senilai 0.01 gram. Murah, kan?

Kalau kamu mau bawa duit lebih sih bisa juga. Coba lihat mungkin di dompet kamu ada recehan seribuan atau limaratusan yang berat-beratin dompet. Sinih, tukerin ke emas. ada berapa? 7.000? 10.000? 100.000? terserah kamu deh mau nabung berapa. Berapapun rupiah yang kamu kasih akan Tabungan Emas konversi langsung ke gram emas yang setara. Tapi inget, minimal penyetoran ya harus seharga 0.01 gram yang harganya berubah-ubah setiap harinya.

 

Untuk mengetahui harga emas kamu sih gak perlu repot-repot datang ke Pegadaian dulu. Tinggal gunakan hape, kamu donlod aplikasi sahabat pegadaian. Di sana bakal update harga emas harian per 0.01 gramnya. Atau kamu bisa juga main ke pegadaian.co.id

screenshot_2016-11-30-19-07-48_com-arukasi-pegadaian

Syarat pembukaan rekening Tabungan Emas ini gampang aja. Segampang kita diputusin sama kekasih pas lagi sayang-sayangnya. Eh maap. Keceplosan.

Syaratnya KTP dan uang Adm sebesar Rp10.000 lalu saldo awal per 0.01 gram. dengan ketiga hal itu kamu udah berhasil memunyai rekening Tabungan Emas Pegadaian.

 

Nah, kalau kamu mau tanya kenapa dedek gemesh yang masih SD pun bisa punya rekening Tabungan Emas padahal dia belum punya KTP?

Itu dia nebeng pake rekening emaknya. Jadi dibuatkan qq untuk rekeningnya dia.

14925551_10206173892220801_4970519693940212890_n

Awalnya emaknya harus bikin rekening Tabungan Emas dulu sebagai rekening induk. Lalu untuk membuat buku rekening tabungan si anak secara terpisah tinggal dibuat rekening tambahan dari rekening emaknya. Jadinya buku rekening emak dan anak terpisah. Si anak seneng. Emaknya bangga karena anak kecil udah punya kepedulian untuk menabung. Terlebih menabung emas yang memang udah dipercaya sejak nenek moyang dulu ampuh buat menjaga nilai uang kita.

 

Saya ngebayangin  Si Adek SD itu bila ia rutin menabung setiap minggu atau bulannya dari recehan sisa uang jajannya. Maka kelak, ketika ia dewasa ia sudah memiliki emas yang berlimpah. Yang bisa ia gunakan buat biaya pendidikannya kelak atau modal ia berwirausaha. Apapun itu. Yang jelas, anak sekecil itu sudah berinvestasi sejak belia. Investasi emas pula.

 

Jadi kamu, yang duitnya berwarna merah bergambar mantan presiden masih mikir-mikir buat berinvestasi emas? masih mikir  buat nabung emas? malu ih. Anak SD aja, yang duit recehan bisa nabung emas.Berinvestasi emas. Untuk membeli masa depan dengan harga sekarang.

 

Dan ada yang baruuuuu nih…

Sekarang untuk bertransaksi emas sudah bisa melalui ATM bagi pemegang kartu ATM BNI atau BRI. Jadi entar kalau kamu mau transfer duit buat emak di kampung, istri atau bayar hutang, bisa disekaliankan buat membeli emas via ATM.

 

Ayoooo… menabung emas bersama Pegadaian. Mengatasi masalah tanpa masalah.

IMG-20160404-WA0000.jpg

#AyoMenabungEmas

Anaknya Dua

Mata saya beradu pandang pada sesosok wanita cantik dengan alis tercetak sempurna. Pada detik pandangan kami bertemu ia sunggingkan sebuah senyum. Di tengah kesibukan melayani nasabah batin saya membenak, bahwa saya seperti mengenal senyum tersebut. Namun alih-alih mencoba mengingat saya hanya mampu membalas senyumnya dengan senyum dadakan yang tak sempurna.

 

Tiba giliran wanita tadi maju ke loket. Setelah cincinnya saya terima untuk saya taksir jumlah pinjamannya saya melihat kartu identitasnya. Namanya. Ah iya. Dia adalah sesosok wanita yang pernah saya kenal di masa lampau. Saya tidak ingat namanya. Saya juga agak sedikit meragukan tadi mengingat wajahnya. Namun bila wajah itu dipadukan dengan nama yang saya baca di KTP-nya maka saya tahu bahwa dia adalah adik kelas saya ketika SMP.

 

Jumlah uang pinjaman yang bisa diberikan telah ditentukan. Namanya saya panggil. Ia bangkit dari ruang tunggu dan berdiri di depan loket dengan penuh percaya diri dan lagi-lagi dengan senyum yang masih sama sejak bertahun-tahun lalu.

 

Setelah menyepakati jumlah pinjaman dan saya tau ia seperti mengenali saya, saya bertanya.

“Kita kenal kayaknya ya?”

“Iya kayaknya. Kakak SMP 3, bukan?”

“Iya. Ah.. berarti kita satu SMP,” jelas saya.

“Iya,”

 

Beginilah serunya bekerja di bagian layanan. Setiap hari kita ketemu dengan orang berbeda dengan banyak ragam maunya. Serunya lagi kali ini saya bekerja di bagian layanan dan di kota tempat saya tinggal. Bukan lagi merantau. Di mana sering saya jumpai orang-orang yang saya kenal sejak kecil. Seperti momen ketika saya bertemu dan melayani temen SMA saya yang dulunya tukang teriak-teriak di kelas kini sudah bersorban dan berjanggut. Saya temui guru Matematika saya ketika SMP. Saya temui teman masa kecil saya. Saya temui adek kelas saya.

Beberapa membuat saya takjub, betapa waktu mampu mengubah tidak hanya penampilan namun juga karakter. Beberapa tetap setia dengan gaya dulunya. Seperti wanita yang tengah saya layani tadi. Si adek kelas.

Posisi kami yang sama-sama berdiri membuat saya ciut. Seingat saya dulu tinggi kami tidak berbeda. Namun kini ia tampak begitu tinggi. Saya mencoba tidak minder saat itu juga karena berpikir mungkin dia pakai heels sementara saya pakai sepatu flat.

 

Oh.. .. Gosh.. ini sesuatu yang tidak bisa saya hindari untuk lihat. Dadanya. Dengan posisi berdiri berhadapan ukuran dadanya sungguh sangat mengintimidasi milik saya. Begitu aduhai.

Jadi selain wajah dengan cetakan alis sempurna, senyum bibir basah yang sejak SMP sudah ia miliki bahkan tanpa perlu menggunakan lipgloss, tubuh tinggi semampai, berdada besar, berpinggang ramping lenggak-lenggok, si adek kelas saya itu sungguh telah tumbuh sempurna. Menjadi wanita cantik yang ummmm…. sungguh menggoda iman lelaki.

 

“Berapa udah anggota, Kak?” pertanyaannya mengalihkan pandangan mata saya dari dadanya.

“Haaa?” saya kikuk.

“Berapa anggota, kakak?”

“Di sini?” tanya saya bego. Saya ngertinya dia sedang bertanya di kantor saya berapa orang anggotanya. Walaupun saya bingung juga ngapain dia tanya gituan.

“Anak kakak. Udah berapa?” dia bertanya sambil kembali tersenyum. Mungkin kali ini senyumnya sambil ngejek saya yang jadi bego

“Oh… dua,”

Makjleb. Saya jawab spontan tanpa mikir. Biasanya saya jawab gituan kalau ada nasabah iseng tanya saya udah berkeluarga apa belum. Atau tanya status saya atau tanya anak berapa. Saya jawab aja singkat. Daripada saya jawab sebenarnya terus saya diceramahi -oleh nasabah yang gak kenal-kenal amat- soal usia perempuan dan karir yang jangan terlalu dikejar.

Nasabah kurang tau. Hari-hari, selain mengejar nasabah jatuh tempo saya nyambi ngejar jodoh.

“Sama. Saya juga udah dua, Kak,”

Wow… tetiba saya bersyukur menjawab kalau anak saya udah dua. Jadi setidaknya tanggapannnya kemudian yang entah apapun itu kalau tahu saya belum menikah tidak membuat saya minder. Biarlah dia kena saya bohongi. Saya berharap tidak ada kelak hingga ia tahu saya berbohong ternyata.

Iseng, saya perhatikan KTP-nya. Berharap saya bisa melihat dengan siapa dia menikah. Penasaran lelaki seperti apa yang berhasil mendapatkan nona cantik walau otaknya biasa-biasa saja ini.

Namun, KTP mana sih yang menjelaskan kita menikah dengan siapa? Tok hanya tertulis status: KAWIN sebagai penanda statusnya. Lalu mata saya melihat ke informasi tanggal lahirnya. Ebuset.. ternyata dia lebih tua 3 bulan dari saya dengan tahun kelahiran sama. Dan dia manggil saya kakak?

Oke.. gak bisa disalahkan sih. Toh ketika sekolah dia memang di kelas yang di bawah saya setingkat. Wajar aja dia manggil saya kakak.

“Kegiatannya apa sekarang?”

“Di rumah aja, Kak. Jadi ibu dan istri yang baik aja,” dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum bibir basahnya lagi.

Saya memberikan sebuah senyuman. Gimanapun setelah berhasil tumbuh menjadi sesosok wanita cantik sempurna, punya anak dua, menjadi ibu rumah tangga adalah poin ketiga yang saya iri dari wanita ini.

“Sebenarnya ada jualan online juga sih, Kak,”

“Ohya? Jualan apa?”

“Tas”

Reflek saya melihat tas yang ia tenteng. Sebuah tas hitam metalik. Dandanan dia jauh dari kata ibu rumah tangga biasa memang. Bahkan ia lebih modis ketimbang pegawai bank. Polesan wajahnya lebih cantik ketimbang SPG kosmetik. Tubuhnya setara pramugari.

 

Setelah uang pinjaman ia terima, ia berlalu. Nasabah mengantri masih banyak. Pikiran saya tentangnya tak boleh menyita waktu saya. Namun, di akhir benak, saya ingat.

 

Tadi siang, setelah pintu kantor saya dia tutup. Ketika ia pergi melanggak-lenggok di atas heelsnya hinggal membuat potongan baju peplumnya menari-nari. Bukan tubuh moleknya yang saya irikan.

 

“Anak dua,”

Itu yang terus terngiang. Betapa saya iri ketika ia dengan senang mengatakan anaknya sudah dua dan menjadi ibu rumah tangga. Sementara saya hanya membual dan terus masih harus menghadapi nasabah setiap harinya.

 

Membicarakan Bos

Sesi ngobrol cantik bersama dengan teman yang cantik-cantik dan saya yang juga tak kalah cantik *tsah* diwarnai banyak topik. Banyak topik yang menyita waktu yang tak sedikit. Dari makan siang hingga berpindah tempat ke sebuah restoran menikmati lelehan eskrim.

Tetiba saya menyimpulkan sesuatu dari obrolan ke obrolan. Dari satu sesi nongkrong ke sesi nongkrong lainnya. Dari tahun ke tahun. Dari pekerjaan pertama ke pekerjaan ke dua. Dari kantor pertama ke kantor kedua, ketiga dan entah hingga kapan.

Kesimpulan saya adalah, seringnya kami menggosipkan bos kami ditengah-tengah pembicaraan soal nostalgia semasa kuliah, rumah tangga (bagi yang sudah menikah), jodoh, teman. Persoalan karir yang paling sering dibahas. Mungkin frekuensinya sebelas dua belas dengan persoalan jodoh. Tapi membahas karir dengan segala lika liku lucu namun juga kadang bikin menggerutu adalah sebuah hal seru.

Membicarakan bos salah satu subtopik dibalik pembahasan karir.

Saya sudah bekerja di tiga tempat. Dua orang teman di dua tempat. Seorang lagi setia di satu kantor dari semenjak lulus hingga sekarang. Dari kantor pertama hingga kantor sekarang kami selalu membicarakan bos kami.

Saling beradu bos mana yang paling reseh. Bos mana yang paling aneh. Atau bos mana yang paling juara sifat baiknya hingga disayang karyawan.

Dibalik itu pasti ada cerita ketika si bos yang reseh kadang bisa jadi super lucu. Si bos yang baik hati bisa jadi super nyebelin. Si bos yang pendiam bisa juga ngakak ternyata. Bos perempuan. Bos laki. Kami punya. Kami punya semua cerita.

Nasib menjadi bawahan. Kita memang tidak bisa memilih siapa bos kita. Tapi kita bisa menghibur diri kita akan tingkah bos kita dengan menceritakan bos kita kepada teman. Lalu teman lainnya mendengarkan, menimpali atau malah menambahkan cerita tentang bosnya.

Teringat saya akan sebuah novel My Stupid Boss yang pernah saya baca ketika semasih kuliah. Ketika membaca itu saya geleng-geleng kepala sembari ngakak hebat membaca tingkah bos yang diceritakan di novel tersebut. Kadang ngerasa gak habis pikir dan gak masuk di akal ada seorang bos dengan tingkah luar biasa demikian. Namun akhirnya saya alami juga.

Iya. Ketika saya bekerja barulah saya temui kalau bos pada ada sifat dan sikap anehnya. Tapi memang bos-bosnya saya gak sampe luar biasa sikapnya kayak si bos di novel tersebut. Namun kalau saya kumpulkan bos saya dan bos teman-teman saya, pasti ada 3-4 tingkahnya mereka masing-masing yang mirip kelakukan si Pak Bos di novel My Stupid Boss.

Jadi ya begitulah sejatinya menjadi Bos ya. Dibicarakan anak buah.

 

 

 

 

Bersedia Ditempatkan Di Mana Saja

Tulisan ini dikhususkan buat dek-adek yang tengah “menjual” ijazah ke sana ke mari mencari perusahaan yang bersedia menampung. Bila mana di salah satu perusahaan yang kalian incer memunyai persayaratan ‘Bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia’ sebagai salah satu dari sekian banyak syaratnya. Ada baiknya dek-adek baca tulisan kakak cantik ini sampe ke titik penutup tulisan ini.

Sediakan cemilan bila perlu, mungkin bakal panjang. Siapkan air bila perlu supaya gak kesedak. Boleh baca bareng pacar tapi jangan bareng sekaligus dua pacar. Cih.. kerjaan belum punya pacar lebih dari satu. Gak tau apa kalian rekan kerja saya masih banyak yang jomblo?

*ditempeleng rekan seangkatan*

Dek-adek, kakak serius nih ya. Iyah. Panggil kakak aja, jangan Mbak atau Teteh atau Uni, kakak orang Aceh. Gimana, orang Aceh cantik juga kan yak?

Eh mau ke mana? Jangan pergi dong? Iya, iya, kakak serius nih sekarang. Gituh aja ngambek pake mau close window segala. Cih.

Dek-adek, bila kalian membaca syarat bersedia ditempatkan di mana saja, itu sebenarnya artinya memang bermakna yang sebenar-benarnya ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. Kamu bisa terdampar di Aceh. Bukan hanya di kota Banda Aceh-nya. Kamu mungkin akan ditempatkan di pulau Simeulue-nya. Mungkin di Ternate. Mungkin di Sumatera Utara tapi di Labuhan Bilik. Mungkin di Porong. Mungkin di Bima. Mungkin di Natuna. Atau mungkin enak di di Provinsi NTB meskipun jauh dan terpencil tapi memiliki wisata alam yang ciamik.

Iya. Bukalah imajinasi kalian bahwa ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia itu ya seperti itu. Ingat ya, Indonesia Negara kepulauan jadi mungkin kalian akan nyasar di pulau-pulaunya.

Jangan berpikiran picik kalau ditempatkan di seluruh Indonesia itu artinya, bila kamu orang Sumut akan ditempatkan di Bandung. Bila Orang Bandung akan ditempatkan di Manado. Orang Manado akan ke Padang. Iya sih, bisa jadi bisa jadi. Tapi kemungkinan ditempatkan di kota-nya itu kesyil banget. Apalagi pegawai baru.

Saya bosan membaca status temen seangkatan saya di medis sosial menyoal keluhannya ditempatkan di Pulau terpencil yang minim air bersih. Saya pun mengomentari “Emang dulu saat tanda tangan kontrak bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia mikirnya ditempatkan di mana?”

Jawabnya, “Setidaknya di kotanya,”

Saya hanya menyungingkan seulas senyum sinis. Dalam hati berujar lagi, “ini pasti kemarin pas ngelamar di perusahaan ini masih fresh graduate bau toga banget,”.

Jadi gini dek-adek, kakak Cuma ngasih pencerahan dan wawasan aja pada kalian agar kalian bisa menimbang-nimbang sebelum kalian memutuskan menandatangani kontrak bersedia ditempatkan di mana saja.

Berikut hal-hal yang harus kalian cermati:

  1. Periksa apakah instansi atau perusahaan itu memiliki cabang dan unit yang letaknya di pelosok desa. Untuk di bidang jasa keuangan gak semuanya memang. Karena masih banyak perbankan yang hanya berada di Ibu kota Propinsi atau juga di kabupaten yang telah maju.
  2. Bila intansi Negara, coba lihat apakah dia memunyai kantornya di pelosok juga atau hanya bertempatkan di tingkat provinsi saja.
  3. Ketika ditanya saat wawancara apakah bersedia ditempatkan di mana saja, tolong ya dek-adek jangan mempehape pewawancara dengan berkata mantap dan siap tapi dalam hati berkata. “Iyain aja dulu yang penting lulus.”
  4. Jangan juga asal tanda tangan kontrak tanpa mikir konsekuensi dari ancaman ditempatkan di mana saja. Ini bukan main-main. Kamu memang akan ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. Termasuk ke desa yang listriknya sering padam. Atau tidak ada sinyal. Atau tidak ada air bersih.

Iya. Kamu harus berpikir matang dan merasa mampu menghadapi konsekuensinya. Jangan setelah dinyatakan lulus dan ditempatkan jauh dari kampung halaman dan pergi ke kampung lain yang gak ada Indom*r*t-nya lalu kami pasang status di medsos dan nyinyirin perusahaan di status BBM. Berkata kalau Perusahaan kejam dan gak punya perasaan.

Ada juga beberapa teman saya yang gak sanggup lalu memilih keluar alih-alih Cuma membuat status yang pasti gak kebaca oleh pihak SDM. Memang sih itu hak dia, Cuma ya agak kasian. Bila saat seleksi peserta yang lolos berdasarkan kuota sungguh ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin lebih berharga dan dihargai orang lain selain dirinya. Semua itu karena dia menyepelekan syarat bersedia ditempatkan di mana saja. Padahal mungkin ada beberapa orang yang rela ditempatkan di mana saja agar bisa meraih beberapa lembar rupiah demi kelanjutan hidup dan keluarga. Miris, kan?

Beberapa ada juga yang terus mengeluh karena dipisahkan dengan istrri dan anak akibat penempatan berbeda dari daerah asal. Entah saya harus bilang apa sama golongan ini. Sebagian mereka benar memang, siapa sih yang mau kepisah ama keluarga? Saya sih juga ogah. Tapi bukankah sebelum menikah hal ini memang sudah membayangi kehidupan rumah tangga? Ketimbang ngedumel ama perusahaan kenapa gak suruh aja istrinya ngikut dia? Bukankah suami berhak meminta istri ikut suami ke manapun suami pergi. Dan istri wajib nurut. Kalau punya kerja ya itu sih pilihan kalian. Lebih milih kerja atau suami? Itu kembali ke pribadi masing-masing.

Perusahaan juga punya hak menempatkan kamu di manapun setelah kontrak kamu tandatangi dan setelah rupiah mengalir ke rekeningmu. Dan sebagai karyawan kamu harus nurut kalau ingin dapur terus mengebul dan berlian mejeng di jari manis istrimu. Kalau mau ngeluh di sosmed sih ya itu terserah juga yak. Hak kamu. Sosmed kamu jugak.

Lalu saya nulis ginian apa saya gak ngeluh?

Yeeee…

Kagaklah. Saya ngeluh juga kok. Sempat nangis malah di awal-awal penempatan karena sulitnya menjalani hidup sendiri jauh dari keluarga di kabupaten yang sepi dibandingkan kota tempat selama ini saya tumbuh dan besar. Saya ngeluh juga kok ketika dipindah-pindah ke sana ke mari tanpa hati tanpa mikir susahnya dan capeknya mindah-mindahin barang setahun sekali.

Tapi, semua itu gak saya keluhkan juga di sosmed dan menghujat perusahaan. Saya paling Cuma curhat sama sahabat. Kelar curhat beberapa hari kemudian mood kembali stabil kok. Dan kembali bisa menerima kenyataan juga kewajiban. Mengingat akan janji saya saat wawancara dan kontrak yang saya tandatangani.

Saya tahu jelas apa yang saya lakukan. Saat wawancara di perusahaan yang sekarang saya jalani rutinitas saya, ketika ditanya bersedia atau tidak ditempatkan di mana saja, saya dengan yakin dan bertanggungjawab akan konsekuensinya menjawab iya. Karena saya memang telah yakin akan mampu. Mengigat rupiah yang dibayarkan juga sesuai.

Hal tersebut berbeda ketika saya diwawancarai oleh sebuah Bank ternama. Tahap demi tahap saya lewati hingga berakhir menyisakan 5 peserta untuk diwawancara tahap akhir. Ketika ditanya bersediakah saya ditempatkan di salah satu kabupaten yang jalannya berkelok-kelok lewati gunung , dengan tegas saya katakan “tidak bersedia”. Tentu saja pewawancara terkesima dan kaget. Dia berkata, kalau saya menjawab seperti itu maka kemungkinan saya tidak akan diluluskan. Lalu kembali menjawab:

Saya hanya tidak ingin berbohong dengan mengatakan mampu tapi lalu tak mau. Nantinya saya hanya akan bekerja dengan ngedumel.”

Kamu yakin dengan jawaban kamu, Saudari Intan?”

Yakin. Bila Bapak memang menginginkan saya bergabung di perusahaan ini maka luluskanlah saya tapi jangan tempatkan saya di kabupaten tersebut. Tempatkan saja di sini (Banda Aceh)”

Tapi kami membutuhkan beberapa karyawan di kabupaten tersebut karena akan dibuka cabang baru.”

Kalau begitu saya terpaksa mengatakan tidak bersedia dan saya dan perusahaan ini tidak berjodoh,”

Baiklah, Saudari Intan.”

Seminggu kemudian pengumuman seleksi diumumkan. Saya seorang yang tak lulus. Saya hanya tertawa.

Kejadian serupa terjadi di Bank ternama yang cabang dan unitnya tersebar ke hampir seluruh pelosok Indonesia. Saya inget banget, saya sampai ditelepon hanya untuk meyakinkan saya untuk mengubah jawaban saya pada wawancara akhir. Tapi dasar saya keras kepala, lagi saya tak diluluskan.

Benar memang, perusahaan tidak perlu karyawan sombong dan membangkang seperti saya. tapi saya juga gak perlu perusahaan yang menyusahkan saya.

Namun, ketika akhirnya saya memilih perusahaan ini dengan segala konsekuensi ditempatkan di pelosok itu ya karena akhirnya saya memang merasa mau dan mampu. Mungkin karena status perusahaannya, mungkin karena gajinya, atau mungkin karena langsung menjadi karyawan tetap. Memang sih, ada di mana saya mellow swallow dan bertingkah drama queen dengan kondisi sekarang ini, tapi saya dengan sadar memilih ini makanya berusaha untuk tegar.

Sering denger, “kayaknya betah kali ya di Luengputu?”

Bukan betah. Tapi dipaksa betah,” jawab saya sambil nyengir.

Jadi ya dek-adek. Pahami konsekuensi akan pilihanmu. Sadarlah saat tengah wawancara. Bila tekad telah kamu bulatkan. Berdoa saja semoga penempatanmu baik atau malah di kotanya. Namun bila tidak, tegarlah dan jangan menyalahkan perusahaan. Semua karena pilihanmu.

Lalu kalau masih anak baru jangan buru-buru bikin surat mutasi. Sabar saja. Apalagi kalau masih single, nikmati waktumu. Kelak akan ada masanya juga kok kamu dapat merasakan ditempatkan di lokasi yang bagus. Entah dengan permintaan sendiri, karena sudah lama mengabdi, entah karena situasi, entah karena promosi. Intinya bergabung di perusahaan yang cabangnya seantero Indonesia itu ya harus banyak sabar.

Inget. Jangan asal jawab hanya supaya diluluskan. Perusahaan gak sebercanda itu ketika menentukan syarat. Hidupmu juga gak sebercanda itu dipertaruhkan hanya agar “yang penting lulus aja dulu”.

Oke, dek-adek. Inget ya. Indonesia luas. Pulaunya banyak. Liat peta deh. Terus tandatangani atau tidak tandatangani adalah pilihanmu. Kalau udah tanda tangan lalu tetep ngerasa gak sanggup setelah dijalani ya udah resign aja. Cari kerjaan lain jangan Cuma ngeluh. Karena apa? Ngeluh tanda kamu tak mampu mencari kerjaan lain. Double ngenes kan nasibmu? Udahlah ditempatkan di pelosok eh tak mampu mencari kerjaan lain. Jadi apa? Lebih baik disyukuri dan dinikmati kan? Karena nikmat Tuhan berserakan di seluruh penjuru bumi. Termasuk bahagian bumi yang tengah kamu pijak meski listrik sering padam.

Mengeluhlah sewajarnya. Jangan sebentar-sebentar ngeluh. Karena mengeluh manusiawi bila dilakukan sesuai porsinya.

Sip?

Kakak tahun depan mau dipindahin lagi nih. Koper udah rusak karena kerap diseret ke sana ke mari. Air mata juga udah gak mau keluar lagi, tapi tetep sengeluh-ngeluhnya kakak ama perusahaan kakak tahu pasti perusahaan gak salah. Yang salah itu Indonesia. Kenapa jugak luas banget. Iya kan, yak?

 

*Tulisan ini didekasikan buat adik kandung saya yang sedang mencari kerja. Untuk dek-adek orang lain yang sedang mencari kerja. Juga untuk saya pribadi sebagai catatan agar terus tegar dan mandiri meski diterus dipindahkan ke sana ke mari.

Pindah ke sana ke mari bukan mencari alamat palsu. Tapi untuk mencari berlembar rupiah, tiket liburan, berlian di jari, juga jodoh yang masih belum ketemu.

 

Pegadaian: Semua Bisa, Serba Bisa

Mengatasi masalah tanpa masalah. Itulah tagline dari Pegadaian yang sudah mendarah daging hingga 114 tahun lamanya. Tua ya? Banget.

Mungkin masih banyak orang di Bumi Indonesia ini yang berpikir, Pegadaian hanya terima gadai saja. Gadai emas. well… itu tidak salah. Spesialisasi Pegadaian memang gadai namun kini Pegadaian sudah merambah bisnis lainnya.

Jadi apa dong?

Gadai hati?

Oh..guys. Do you know something? Make “Gadai Hati Bisa Gak?” as a joke is so yesterday. Too old.

Jadi Pegadaian selain bisa menggadai Emas (perhiasan emas dan berlian), Kendaraan, Barang Elektronik dan Barang Elektrik lainnya, Pegadaian juga bisa:

  1. Melayani Mama Minta Pulsa.

Seringkan masuk sms Mama Minta Pulsa? Kalau saya sih dapet sms gituan langsung saya kirim pulsanya. Saya mah gitu orangnya.

Yakali… yang minta juga mamah kandung saya sendiri.

 

Jadi nih ya, semisal kamu lagi datang ke Pegadaian perlu dana buat kirim ke kampung. Tapi pas mau kasih kabar dulu ke orangtua di kampung ternyata sisa pulsa di kartu prabayar anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Relax… jangan gundah gulana. Sok atuh… isi pulsa aja dulu di Pegadaian. Isi token listrik juga bisa. Atau mau sekalian bayarin listrik rumah di kampung? Atau bayar rekening telpon? Wuih.. bisa. Di pegadaian semua bisa. Bayar tiket kereta api aja bisa. Bayar togel aja yang gak bisa.

 

Dari hasil gadaian yang cuma diproses 15 menit cair, duitnya mau langsung dikirim ke kampung. Orangtua di kampung gak punya rekening tabungan. Manfaatkan jasa pengiriman duit di Pegadaian.

 

  1. Remittance Pegadaian

Pegadaian juga memfasilitasi jasa pengiriman uang.

images

 

 

 

  1. Setiap bulan duit kok sisa banyak ya. Perasaan gaji bulan lalu belum abis eh udah gajian aja lagi. Susah emang kalau kelebihan duit. Nah gimana kalau duitnya dikonversi aja ke emas? Berinvestasi selagi muda agar tua kaya raya.

Pegadaian menyediakan 4 fasilitas untuk “membuang” duit kamu ke bentuk emas. Pertama, bisa beli emas batangan bersertifikat internasional (ANTAM) secara tunai.

Kedua, bisa beli emas secara angsuran.

Ketiga, main arisan emas. Karena main arisan taperwer is so yesterday sedangkan main arisan brondong itu dosa!

Keempat, tabungan emas. it’s new and it’s so damn cool. Cuma dengan 5000 kamu bisa nabung emas. Emejing gak sih?

 

Masih belum terpana jugak dengan produk-produk Pegadaian?

 

  1. Saya kasih tau lagi nih. Di Pegadaian kamu bisa beli mobil atau motor secara kredit dengan jasa sewa/ijarah cuma 1%/ bulan. Muraaah kan? Murah gilaaa.

 

Udah beli motor tapi jangan suka ugal-ugalan ya. Nanti kecelakaan baru tau rasa. Meskipun kamu bisa beli Paket Asuransi di Pegadaian, tapi nyawamu lebih berharga loh.

Wait… Jadi pegadaian juga ada Asuransi?

Bentar.. ini kok Pegadaian udah kayak toserba yak?

Semua ada. Semua bisa. So emejing.

 

  1. Si Pintar merupakan salah satu produk Pegadaian yang masih lucu-lucunya. Si Pintar merupakan paket cicilan emas+asuransi atau cicilan emas+tabungan. Nyicil emas dapet asuransi. Nyicil emas dapet tabungan. Silahkan pilih. Karena hidup adalah pilihan.

 

Buat pengusaha mikro jangan gundah gulana kalau gak bisa gadaikan kendaraannya di Pegadaian dengan alasan kendaraannya dipakai tuk memperlancar usaha sekalian jemput anak-istri. Jangan jemput selingkuhan ya. Gak berkah hidupmu, vroh.

 

  1. Simpan BPKB kendaraanmu di Pegadaian dengan syarat kamu punya usaha yang sudah berjalan, lalu dapatkan pinjaman dari Pegadaian untuk mengembangkan usahamu. Dengan jasa sewa/ijarah yang murah, mudah, insyaallah usaha berkah. Inget aja, jangan selingkuh.

*Kenapa saya jadi mamah dedeh gini?*

 

Kalau setelah baca ini ada rasa penasaranmu di hatimu, jangan ragu dan datang saja ke Pegadaian terdekat di kota anda. Gak usah repot-repot ke Pegadaian terdekat di kota mantan. Kalau belum move on yakin mau ketemu dia? Mending ketemu ama Penaksir di Pegadaian yang Ganteng dan Cantik. Naksir emas aja bisa, apalagi naksir hati kamu.

 

Masih berkembang stigma kalau yang datang ke Pegadaian adalah orang gak berduit atau orang susah. Terserah apa kata orang ya, yang jelas sesusah apapun kita, kita punya emas yang bisa digadaikan untuk dijadikan duit. Karena kita menggadai emas bukan harga diri.

 

Lagian dewasa ini, Pegadaian berkembang sebagai sumber pendanaan cepat dan murah yang mulai digandrungi. Syaratnya Cuma poto kopi KTP doang dan gak harus buka buku rekening menjadi salah satu kelebihan bertransaksi di Pegadaian.

Untuk remaja atau mahasiswa jangan sungkan datang ke Pegadaian karena Pegadaian bukan hanya mengatasi masalah tanpa masalah-nya orang yang sudah dewasa. Meski Pegadaian gak bisa mengatasi masalah cintamu yang ditolak atau tingkat kebaperanmu yang tinggi hingga rentan di-pehape-in, namun Pegadaian hadir membuka pintu selebar-lebarnya untuk membantumu mengatasi masalah keuanganmu.

 

Semisal, nunggu kiriman uang dari orang tua, sementara kamu bisa gadai laptopmu seminggu-dua minggu. Atau kamu yang cerdas yang mengalihkan kegalauan patah hatimu dengan menabung emas di Pegadaian. Karena tabungan emas di Pegadaian terjangkau bagi siapa saja. Cuma 5000 perak udah bisa nabung.

 

Jangan ragu dengan Pegadaian. Mengatasi Masalah Tanpa Masalah. Sekali datang semua urusan teratasi.

 

Jangan sungkan untuk klik di sini.