Ketahuilah

Ketahuilah, ketika aku bersamamu, kubulatkan tekad untuk bertahan. Kutahan godaan dari rayuan. Kuyakinkan hati bahwa padamu lah tempatku bersemayam.

Pada ratusan hari yang berlalu, ribuan mimpi kita utarakan, jutaan doa aku rapalkan itu semua bukti bahwa kamu telah menjadi poros hidupku. Lintasan orbit hidupku mengitarimu.

Saat tenggelam pada galaksi penantian, harapanku tak sedikitpun tertutup gerhana. Sebab aku merasa, kelak jembatan doaku membentuk pelangi di sudut mimpi.

Lalu, bila akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan bumi. Menghilang dari lintasan orbitmu. Itu karena aku berharap keikhlasanku membawamu bebas mengangkasa bersama apa yang kamu mau.

Ketahuilah, saat aku kembali. Memecah dan bertaburan terjatuh berkeping-keping bersama bintang yang mencium bumi. Hatiku tak pernah terbentuk utuh sama lagi.

Jadi bila kamu datang sekarang. Mencoba mencari tahu. Jangan pernah bersinggungan denganku. Hilangkan keinginan berpapasan denganku. Enyahkan keingintahuan akan kabarku.

Sebab aku telah menerbangkan engkau bersama abu-abu harapan yang pernah kita bangun yang telah kubakar. Kamu, bersama abu-abu tersebut, terbanglah. Mengangkasalah. Enyahlah.

Bila kita harus hidup dalam semesta dan dimensi dunia yang sama, teruslah hidup dengan baik. Namun….

pada galaksi yang berbeda.

Ratap

Kenapa saya? Apa Bumi telah kekurangan manusia sehingga sayalah yang menjadi sararannya? Apa Tuhan begitu iseng menetapkan target kepada saya di antara milyaran manusia lain yang bisa juga diberi kesialan serupa?

Ke mana doa-doa saya bermuara? Ke parit penuh kotoran manusia dari tinja-tinja haram?

Ke mana jejak-jejak sujud saya tercetak? Sekedar menjadi kubangan-kubangan kotorkah?

Lalu ke mana perginya rasa percaya saya pada yang Esa? Serupa jejeritan jangkrik semata?

Apa saya tak diperhitungkan Tuhan?

Apa Tuhan lupa telah pernah menciptakan saya?

Ataukah timbangan dosa saya terlalu berat hinggat cobaan yang saya terima tak kalah hebat?

Kenapa saya?

Kenapa tidak manusia lainnya?

Apakah amal mereka begitu banyak, hingga anugerah yang mereka dapatkan layak?

Lalu kenapa saya?

Harus bersembunyi ke belahan dunia mana lagi saya agar terbebas dari kutukan kesialan cobaan bertubi-tubi? Padahal dunia dan seisinya adalah milik-Mu. Kemana saya bisa lari dan sembunyi?

Ataukah haruskah saya mati?

Bahkan kematianpun kepunyaanmu. Bukan malah terbebas tapi semakin terikat akan penderitaan.

Lalu bila, tak ada tempat untuk melarikan diri, kenapa harus saya? Kenapa harus saya yang lemah.

Kenapa bukan yang perkasa saja? Kenapa bukan yang memunyai singgasana saja? Atau yang memiliki kecantikan sejuta tiara? Kenapa saya?

Tuhan…. kenapa saya?

Dan manusia hanya mampu menghujat tanpa ingat taubat. Bukankah hidup terlalu singkat hanya diisi dengan banyak ratap?

Tuhan bukan untuk digugat. Jadilah kuat.

Hening

Karena dunia telah terlalu bising, ingin aku beri engkau hening.

Dalam diam aku mencintaimu, dengan diam-diam aku merinduimu.

Tanpa suara, tanpa aksara.

Karena dunia telah terlalu bising, ingin aku beri engkau hening.