Percaya (di) Cinta

Beberapa saat setelah pertunangan. Di hari long weekend. Di sela sela kesibukan mempersiapkan pernikahan. Saat itu saya dan sang tunangan memutuskan untuk pergi jalan jalan bareng. Bukan cuma sekedar nongkrong di cafe atau resto seperti biasa. Tapi ke tempat wisata yang lumayan jauh dari pusat kota.

Refreshing.

Medan yang ditempuh penuh lika-liku. Hingga pada satu likuan yang sudab agak jauh. Perjalanan kami tersendat. Ada truk yanh terbalik kira kira 3 mobil di depan kami. Membuat macet. Membuat saya deg-degan.

Bertahun-tahun silam. Ada seorang lelaki yang dekat sama saya. Dia pernah mengatakan kalau saya sebegitu ragunya memutuskan seorang suami, lakukanlah perjalanan yg agak jauh dengan lelaki yang menjadi alternatif. Lalu simaklah. Pada perjalanan itu, adakah kendala atau kalian baik baik saja dari pergi hingga kembali ke rumah.

Metode itu pernah lelaki itu terapkan bersama saya. Namun saya tolak. Umur saya ketika itu terlalu takut diajak jalan terlalu jauh oleh lelaki.

Saat itu saya bertanya, kendala apa contohnya.

Dia menjawab, ya bisa jadi ban mobil bocor, atau kalian malah berantem di tengah perjalanan.

Kali ini. Di tengah macetnya perjalanan saya dengan sang tunangan. Membuat benak saya kembali ke masa lalu. Ke kata-kata lelaki masa lalu itu.

Deg

Apakah ini pertanda kalau jalan hidup kami selanjutnya terkendala. Apakah ini artinya perjalanan kami menuju pernikahan akan macet.

Terlalu banyak tanya saat itu. Hingga akhirnya agak lama kemudian jalan bisa diusahakan untuk dilalui kendaraan lagi hingga mobil kami kembali melaju.

Terlalu banyak tanya di benak saya akibat kejadian itu. Muncul banyak keraguan.

Lalu akhirnya saya bertanya padanya,

“Menurut abang, Intan cinta gak sama abang?”

“Iya.”

“Ish.. PD.”

“Iya. Emang harus PD sama Intan. Lagian abang percaya Intan cinta sama abang.”

Mendengar jawaban itu, pandangan kembali saya layangkan pada jejeran pepohonan rimbun menjelma hutan di luar jendela mobil.

Dari sekian lelaki yang dekat. Dari semuanya. Mungkin ini memang yang menjadi akhir.

Lelaki yang tidak pernah mempertanyakan cintakah saya padanya. Lelaki yang gak pernah meragukan perasaan saya padanya.

Meski tak terucap. Meski tak saya tunjukkan tegas. Namun dia percaya saya mencintainya. Mencintainya dengan cara saya.

Saat itu saya merasa senang dan menang. Senang karena akhirnya ada orang yang memercayai saya. Ada yang tak mempermasalahkan hati saya bekerja. Dia hanya terima dan percaya. Dia tak meragukan sesuatu yang susah saya ucapkan.

Menang karena akhirnya saya menemukannya. Tersedia tanpa keraguan untuk saya. Tersedia nyata.

Sekejap saya lupakan kejadian kecelakan truk tadi.

Mungkin kelak, perjalanan hidup kami akan penuh lika liku seperti medan yang kami tempuh. Mungkin kelak akan ada macet dan kendala. Tapi saya yakin, bersamanya saya bisa melewatinya. Seseorang yang memercayai saya.

 

Dari sekian hal, saya hanya butuh dipercaya. Dipercaya kalau saya punya cinta dan bisa mencintai. Dipercaya kalau pasangan saya tak akan pernah mencintai sendirian. Kami akan saling mencintai.

Itu.

Advertisements

Satu Cincin Belah Rotan ditaksirmas 23 Karat Berat 10 gram

Setelah cincin terpasang di jari manis saya, maka itu adalah ketika dengan waras saya menentukan seorang lelaki untuk menjadi calon suami saya.

Cincin tunangan. Yang seolah mengatakan saya miliknya dia milik saya. Cincin tunangan belah rotan pasir ditaksirmas 23 karat berat 10 gram.

Begitu cincin dipasang di jari kontan saya ingin bilang ke calon ibu mertua saya, “Ini bisa pinjem 4.500.000, bu. Mau ambil semua?”

Iya. Saking cintanya ama pekerjaan, lagi prosesi tunangan saya sempat-sempatnya menaksir dulu harga gadai cincin tersebut.

Prosesi tunangan.

Selangkah lagi menuju ikatan halal. Selangkah lagi untuk menjadi seorang istri.

img-20161223-wa0010.jpg