Jadi?

“Kita ini sedang apa sih, Bang?” Tanya saya pada suatu waktu ketika kami membuat janji bertemu sore itu. Sepulang dia dari kuliahnya di hari weekend. 

Adik saya di sebelah sibuk dengan minuman pesanannya dan ponsel di tangannya. Dia selalu menemani saya ketika bertemu dengan lelaki ini.

“Pacaran.” Jawabnya gampang.

Kontan adik saya mendongak.

“Emang kita pacaran?” Tanya saya.

“Emang kalian pacaran?” Ikut adik saya hampir berbarengan.

Lelaki yang ditanya hanya nyengir. Kami dua perempun bersaudara menuntut jawaban dari intensnya mata kami memandangnya.

Iya hanya mampu berhehehehe.

Lalu fokus adik saya kembali ke ponselnya. Saya masih menatapnya tajam.
“Iya… Gak. Kita ini sedang proses kenalan. Kenal supaya jadi lebih tau sifat dan karakter masing-masing.” Jelasnya 

“Gunanya buat apa?” Pancing saya.

“Menikah”

“Harus berapa lama kita kenalan seperti ini?”

“Ya sampai kita saling menemukan kecocokan.”

“Sekarang apa belum cocok?”

“Sudah”

“Ya udah kalau gitu”

“Apanya?”

“Kalau abang ngerasa cocok. Lamar saya. Kalau tidak. Silahkan pergi. Saya tidak mau waktu saya terbuang percuma hanya utk sekedar mengetes kadar kecocokan.”

“Oke. Boleh.”

Beberapa waktu setelah itu…
Malam itu saya pergi berdua saja dengan lelaki berwajah sedikit hitam ini. Tanpa adik saya. 

Ketika kami sudah mendapatkan tempat makan favorit kami. Saya memulai pembicaraan bahkan sebelum pelayan memberikan daftar menu makanan pada kami.

“Kita bicara serius ya” pinta saya 

“Silahkan”

Setelah itu saya diam. Menunggu pelayan yang datang dan mencatatkan pesanan makan malam kami.

Sesudahnya, “lebih baik pikir-pikir dulu”

“Apanya?” Tanyanya.

“Keinginan untuk menikahi saya.”

Jeda beberapa saat. Mata kami seperti berusaha saling melihat isi hati dan pikiran kami yang terdalam. Dan terumit.

“Kita sebaiknya sama-sama berpikir. Iyakah abang mau menikahi saya? Dan iyakah saya mau menikahi abang?” Saya menyambung.

Karena ia masih diam saya kembali menjelaskan.

“Besok intan mau liburan. Ke pulau. Untuk 3 hari ke depan kita gak usah komunikasi. Renungi aja. Apakah dengan terputusnya komunikasi dan kebersamaan masih membuat kita masih mau menikah.”

“Ok.” Akhirnya ia bersuara. Dari gegap suaranya saya menebak, galaunya dia sama dengan saya. Keputusan besar ini menggalaukan kami.

Saya dan dia juga. Ternyata. Sikap tenangnya hanya di luar semata rupanya.

Akhirnya kami menyantap makan malam kami. 

“Setelah nanti saya kembali. Akan saya beritahu. Lalu nanti kita akan memberi jawaban masing-masing.”

“Setuju.” Katanya gampang.
Ya… Kami membuat keputusan yang keputusannya baru akan diberitahukan nanti.

Nanti… Beberapa hari kemudian.
“Ehya… Kalau nanti intan gak kembali. Dan gak menghubungi abang lagi lewat dari 3 hari. Bisa jadi intan tenggelam ya. Entah di perjalanan pergi atau pulang.”

“Jangan becanda!!!” Hardiknya. Rautnya beneran kesal dengan candaan murahan saya.

Saya hanya tertawa. Dia makin sebal.

To be cont…