Sama

Kembali ke Banda Aceh. Bekerja di Banda Aceh tempat di mana saya besar dan menjalani kehidupan sebelum merantau untuk mengais rupiah demi tiket pesawat buat liburan adalah suatu hal menyenangkan. Bertemu dengan teman-teman dulu. Teman TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah. Bertemu dan melihat mereka menjadi kesenangan tersendiri. Melihat perubahan mereka keasyikan lainnya. Namun ketika menyadari suatu hal menjadi kepahitan berbeda.

 

Menyadari suatu hal ketika orang-orang berubah namun saya tetaplah menjadi Intan yang sama. Intan yang seolah waktu terhenti dalam hidup saya. Tak mengalami perubahan apa-apa. Dalam fisik, terutma dalam status.

 

Berbadan kurus menjadi suatu hal yang membuat saya muak ketika harus berhadapan dengan teman-teman masa dulu. Selalu saja mereka berkomentar kalau saya tidak berubah. Tetap kurus seperti dulu.

 

Mereka tidak tahu. Saya sejatinya bertambah gemuk juga sama seperti mereka. Padahal ketika mereka melihat saya sekarang itu jauh berbeda dengan saat itu. Ketika kuliah berat badan saya tak pernah lebih dari 42 kilo. Sekarang bisa melewati angka 45 itu suatu hal berharga buat saya. Namun ketika dikatakan tidak mengalami perubahan dan tetap kerempeng itu suatu hal yang mampu membuat saya murka.

 

Menghadiri reuni menjadi jemu kala para anggotan reuni yang sudah menggendong anak dan menggandeng suami tak cukup hanya memamerkan kehidupan barunya, namun juga merasa perlu membully saya yang belum menikah.

 

Seakan belum menikah adalah hal ternista.

 

Iya. Saya intan yang stagnan. Tetap seperti dulu. Seolah waktu berhenti berputar untuk dunia saya. Dunia saya yang membuat saya tetap kurus dan single.

 

Namun ada yang mereka- para komentator itu- tidak tahu. Saya tetaplah hidup. Saya tetaplah berkembang. Mungkin cara dan polanya berbeda hingga menghasilkan hal berbeda.

 

Saya juga punya impian. Saya juga punya tujuan. Menggandeng suami dan menggendong anak masuk dalam bucket list saya, namun waktunya masihlah belum. Akan datang kelak masa itu. Ketika saya merasa sudah cukup. Sudah mampu. Sudah mau.

 

Dan saya sudah meminta pada Tuhan tentang keinginan itu. Entah Tuhan kabulkan atau tunda itu menjadi kuasa-Nya. Saya sudah meminta.

Dan saya juga minta, selama masa itu belum tiba saya meminta Tuhan untuk membuat saya tumbuh dan berkembang dalam hal lainnya. Mungkin bukan di berat badan tapi di kapasitas otak saya. Mungkin bukan berkembang biak mempunyai keturunan, tapi berkembang baik. Menjadi apa-apa yang saya cita-citakan.

 

Selama itu belum terjadi, iya, saya memang masihlah Intan yang sama. Yang hanya kalian ketahui luarnya saja.

 

Namun tenang, kemuakan saya harus segera saya akhiri. Karena hidup tak bisa begini begini saja (soal kesendirian)

 

Note: tulisan dengan kondisi, situasi, dan perasaan ketika masih single.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s