Kala itu, Sepanjang Luengputu-Banda Aceh

Juni 2016 saya dimutasikan ke kantor Cabang Banda Aceh. Kembali ke rumah orang tua. Meninggalkan sebuah desa yang membuat saya selalu merasa sepi di desa yang memang sepi. Meninggalkan semua hal yang tidak pernah saya sukai. Meninggalkan luka hati sendirian. Meninggalkan sebuah kamar kos berukuran 3×4 yang merekam jejak pilu kesepian saya, tangis amarah saya akibat dipermainkan oleh orang, menangkap aroma keringat sepulang kantor, kamar yang memeluk saya dengan suasana hening menyengsarakan.

Saat itu saya tengan tiduran, sambil megang hape. Suatu aktivitas yang kerap saya lakukan sepulang kantor. Ponsel saya berdering dan menampilkan nama Bos saya. Saya angkat. Lalu beliau mengabari kalau saya mutasi ke cabang Banda Aceh. Dan mulai bekerja di sana pada tanggal 1 Juni.

Masih tak percaya awalnya karena si Bos yang suka becanda. Namun akhirnya saya girang bukan kepalang. Itu artinya, bulan puasa tahun 2016 gak berulang dua kali saya habiskan di Luengputu sendirian. Itu akhirnya bulan puasa tahun 2016 saya kembali ke keluarga saya. Itu artinya hidup ditemani dispenser dan kipas angin berakhir sudah.

Demi meluapkan kebahagian. Saya peluk kipas angin. Saya kabarkan kalau kami bakalan meninggkan desa ini untuk tinggal di rumah Ibu saya. Dia (kipas angin) ikut bahagia. Hal itu dibuktikan dengan masih berputarnya kipas dengan kencang untuk menghilangkan keringat bau saya di kamar kos pengap itu.

Lalu saya kabari adik dan ibu saya. Mereka senang. Tentu saja.

Lalu saya meragu untuk mengabari seseorang lagi. Seseorang yang sebulanan itu tengah dekat dengan saya.

Akhirnya saya telponlah beliau itu. Rupanya ia sama senangnya dengan keluarga saya. Lalu ia menawarkan diri untuk menjemput saya ketika saya pindahan.

 

Saya iyakan saja walaupun ini suatu hal yang aneh bagi saya. Selama hidup saya jarang bergantung pada orang lain selain keluarga inti. Jadi ketika ada yang repot repot mau ngejmeput saya pindah dari Luengputu ke Banda Aceh yang berjarak 3 jam perjalanan merupakan hal baru bagi saya. Saya anti bergantung pada orang lain yang bukan keluarga.

 

Ibu saya aja, saking cuek dan mandirinya saya gak lagi bertanya apakah saya butuh bantuan beliau dan ayah saya untuk pindahan. Karena ibu saya tahu, saya bisa mengatasi masalah saya sendiri. Toh ini bukan kali pertama saya pindahan antarkabupaten. Selama 3 tahun kerja di perusahaan sekarang. Saya udah pindah kosan 3 kali. Dan selalu pindahnya jauh jauh. Saya kemas barang barang saya sendiri, saya angkut sendiri dan kadang dengan bantuan security kantor saya. Saya cara angkutan untuk pindahan sendiri. Dan cari kosan sendiri. Semua sendiri sudah biasa. Maka ketika dibantu saya justru tak biasa.

 

Singkat cerita hari kepindahan saya tiba. Sesuai yang dijanjikan lelaki itu datang menjemput saya. untuk pertama kalinya saya pindahan dengan bantuan orang lain. Barang barang saya diangkatin. Saya tak perlu berlelah-lelah. Semuanya lelaki ini yang angkut.

Siang itu Luengputu panas sekali. Ditambah dengan aktivitas mengangkat-angkat tersebut peluh bercucuran dari pelipisnya. Membasahi wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, hati saya tersentuh. Tangan saya tergerak untuk mengusap peluhnya. Sudah setengah jalan mendekati wajahnya lalu saya urung. Saya turunkan tangan saya. Dia menyadari hal itu, dia hanya tersenyum dan mengusap peluh yang tidak jadi saya lakukan.

Setelah itu saya hanya memberinya sebotol air minum dan tissue. Untuk ia tuntaskan mengelap peluhnya. Kala itu, di melelehnya keringatnya, hati saya meleleh.

 

Sudahkan saya merasa jatuh cinta?

Saya terus bertanya pada diri saya sepanjang perjalanan kami dari kosan saya di Luengputu hingga ke rumah di Banda Aceh.

Ataukah mungkin hanya karena ini suatu hal yang baru bagi saya? Menerima kebaikan hati seorang lelaki untuk membantu saya.

Mungkin ini hal sepele bagi orang lain. Sepele bagi seseorang yang memang selalu tersedia lelaki untuk memecahkan masalahnya dan meringankan bebannya. Namun bagi saya, ini suatu hal baru yang tidak biasa. Amat janggal.

 

Mutasi ini sendiri menurut saya sebuah hal yang seperti berkaitan dengan dirinya. Sebulan mengenalnya saya langsung dimutasikan. Feeling saya ketika itu adalah, sepertinya Tuhan ingin mencetak jejak langkah baru menuju jodoh buat saya. Didekatkan-Nya, dimudahkan-Nya.

Langkah awalnya adalah diletakkannya kami di satu kota. Kota tempat kami tinggal. Agar terhindar dari LDR.

 

Lalu, hati saya ketika itu mencelos lugu.

 

Iyakah, saya akan berjodoh dengan lelaki ini? Iyakah, mutasi ini salah satu cara Tuhan membuat langkah saya menuju jodoh saya menjadi dekat?

 

Pertanyaan yang terus saya ulang-ulang sepanjang perjalanan dari Luengputu ke Banda Aceh. Kala itu.

 

 

to be cont…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s