Cincin

Siang itu saya mengunjungi toko emas langganan terkait urusan kerjaan. Pembicaraan kami random. Dari urusan kerjaan hingga bercanda. Dari tanya harga emas, tanya usia. Dari nego harga hingga ke pembicaraan soal cincin.

“Cincinnya kok gak dipake, Tan?”

Sontak saya melihat ke jari manis saya tempat sebuah cincin bernaung beberapa bulan ini. Cincin belah rotan pasir ditaksir perhiasan emas 23 karat berat 10 gram. Yang kalau bahasa pasarnya. Cincin 3 mayam mas murni. Cincin tersebut saya pesan di toko tersebut. Cincin yang digunakan pada acara pertunangan saya dengan seorang lelaki. Cincin yang mengikat saya, hati saya, pikiran saya hanya untuk satu lelaki saja. Dalam cincin itu bahkan terukir nama saya dan nama lelaki yang memberikan cincin itu.

“Oh.. iya.. Lupa, bang.”
“Emang dilepas-lepas ya?”

“Iya. Kalau di rumah gak pake. Lepas jam tangan ya lepas juga cincinnya. Jadi kadang lupa.”

“Gak nyaman ya?” tanya lelaki pemilik toko emas itu lagi.

“Iya.” Jawab saya simpel.

Berat cincin itu lumayan. Bagi perempuan yang tidak gemar memakai perhiasan seperti saya. cincin dengan berat 3 mayam (10 gram) itu lumayan bikin berat dan tidak nyaman. Selama ini paling berat saya pakai 2 mayam (6.6 gram). Bentuk cincin tersebut yang belah rotan padat juga cukup membuat keberadaan cincin tersebut amat terasa. Dan juga karena saya sedikit tahu tentang emas, makanya saya jarang memakai cincin tersebut, singkat kata cincin itu meski special namun kegunaannya sama seperti aksesoris saya lainnya.

“Ya udah, kalau gak nyaman balikin aja.”

“Balikin gimana, bang? Diganti bentuknya gitu sama abang?” saya bertanya polos.

“Balikin aja sama orangnya. Nanti abang kasih lain. Biar pake cincin yang abang kasih aja.”

“Haaa? Kok gitu?”

“Tadi katanya gak nyaman. Ya udah sama abang aja.”

“Bukaaaaaan… maksud Intan tu cincinnya yang bikin gak nyaman. Karena berat. Bukan sama orangnya.”

“Biasa, kalau lepas pake gitu tanda gak nyaman sama orangnya. Kalau lepas pakai gitu nantinya juga bakal terlepas. Cincinnya. Orangnya.”

Kalimat itu berhasil membuat “deg” di hati saya. gedebam “deg” itu membuat saya henyak seketika.

Nanti saya kisahkan kenapa kalimat tersebut membuat “deg” keras di hati saya. Di lain kisah. Lain hari.

“Oh… baiklah… mulai besok bakal Intan pake setiap hari cincinnya.”

“Ya gitu lah. Karena kalau intan gak mau cincin itu. Abang siap kasih cincin yang lain”

“Gak usah, bang. Gak usah repot-repot. Cincin dari abang lebih bikin gak nyaman.”

“Kenapa?”

“Cincin jadi istri ketiga. Mana mau Intan.” Jawab saya ketus.

Lalu kami tertawa.

Pulang dari sana. Pikiran banyak memenuhi kepala saya. Kalimat si toke emas itu. Kenyataan. Kekhawatiran.

Pulang ke rumah saya langsung menuju kotak perhiasan saya. Mengambil cincin itu. Memasangnya di jari manis saya. Lalu meski tidak nyaman, saya memakainya ketika mandi, ketika mencuci dan ketika apapun itu di rumah. Bahkan sampai ketika cuci muka dan muka saya terasa banget tergaret-garetnya. Saat pakai krim malam juga kulit wajah saya harus mengalami kebrutalan aksi cincin itu. Karena bertekstur pasir jadi lumayan bin wajah saya terasa terbaret-baret. Hingga saya bawa tidur.

 

Tidur saya yang nyenyak harus terhentikan ketika tangan saya dengan tidak sengaja menampar wajah saya sendiri. Cincin tersebut sukses membuat wajah saya terbaret dan jidat saya sakit karena hantaman dari tangan saya. Saya juga heran kenapa saya tidurnya bisa seaktif itu. Tapi dengan cincin tersebut membuat keaktifan tangan saya melukai wajah saya.

Demi esok pagi yang cerah. Saya terpaksa melepaskan cincin tersebut dan meletakannya di bawah bantal. Sebelum melanjutkan tidur. Saya bergumam.

“Bukan karena Intan gak nyaman sama abang, Intan lepasin cincinnya. Tapi karena cincinnya yang bikin gak nyaman.”

Padahal cincin itu dibuat sesuai model yang saya inginkan. Hanya saja, pas saya memesan cincin itu saya memang gak berniat untuk memakainya setiap saat setiap hari. 24 jam. Maka itu saya memilih bentuk itu. Kalau tau cincin tunangan itu meski dipakai setiap hari konon saya akan memilih cincin belah papan dengan berat 2 mayam saja.

 

Setelah itu setiap harinya ketika saya melihat nasabah saya memakai cincin bermayam-mayam di lebih dari 3 jarinya saya suka bergumam sendiri, “gak berat apa ya tangannya?”

Untungnya si abang tunangan bukan tipikal lelaki yang menuntut agar saya memakai cincin pemberiannya setiap hari. Memang saya usahakan untuk selalu ingat memakai cincin tersebut ketika bertemu dengannya. Namun bila saya terlupa ia tak bertanya apa-apa.

Cincin tersebut. Saya memang cepat menyerah untuk mempertahankannya dipakai setiap hari. Namun untuk yang memberikannya, semoga pikiran dan hati saya tetap teguh untuk tak pernah menyerah mempertahankannya.

img-20161223-wa0006.jpg

Advertisements

5 thoughts on “Cincin

  1. Cincin pas aku tunangan waktu itu jg kebesaran. Tp sm yg punya jari sering dipaksa pake sampe sering kelepas. Padahal laki2 ga masalah utk dipake tiap hari. Apa bgt lah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s