Kepatahhatian (2)

Menyambung tentang kepatahhatian cerita sebelumnya. Jalinan hubungan lain yang mampu membuat saya patah hati dan menangis pilu adalah ketika dihadapkan pada kelutnya romansa persahabatan.

Air mata saya pernah bercucuran berkali-kali tentang memercayai teman. Teman saya sedikit. Itu-itu saja. Namun yang itu-itu sajalah yang sudah mampu membuat saya cukup dan bahagia. Bila ada yang menyakiti, melupakan, dan meninggalkan saya yang saya rasakan adalah gedebam rasa sakit patah hati.

 

Belum lama ini. Saya pernah dikecewakan lagi oleh seseorang yang sangat saya percaya, sangat saya bela, sangat saya sayangi, sangat saya perlukan. Saya berpikir selama ini saya juga seperti itu di hatinya. Meskipun mungkin perasaan kami tidak sama banyak, namun entah kenapa saya yakin kalau dia menganggap saya sebagai salah satu temannya yang ia sayangi. Yang ia pedulikan dan ia ingat.

 

Namun.. layaknya cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin rasa perteman yang saya alami juga bertepuk sebelah tangan. Tangannya tak pernah menggenggam tangan saya sebagai salah satu temannya. Sahabatnya. Atau mungkin tidak lagi. pernah tapi itu dulu. Tahun lalu. Atau entah kapan berhentinya. Hanya dia yang tahu.

 

Saya malas menggangapnya hanya sebuah kesalahpahaman saja. Sebagai seorang yang hrausnya merasa teman harusnya kesalahpahaman itu tidak terjadi. Namun karena terjadi, saya menyadari satu hal.

Posisi saya tidak sehebat itu di dalam laman hati bertajuk “teman” miliknya.

Mungkin saya hanya tipikal teman yang biasa saja. Teman sekedar kenal. Tahu nama dan pernah beberapa kali nongkrong bareng. Sekedar itu saja. Cukup kita ketahui saja.

 

Dipatahhatikan oleh seorang teman seperti dia membuat surut rasa percaya saya. kikis rasa sayang saya. membludak amarah saya. Namun mengingat umur yang tidak lagi di era main engklek makan es goreng, maka saya memutuskan dan dengan pasti mengucapkan kalimat ini dari bibir saya kepadanya, “Saya gak bisa maksa kamu untuk menyukai dan berteman dengan saya. Saya akan mencoba untuk tahu diri. Mulai sekarang kita hanya akan menjadi teman biasa saja. Saya tidak mengatakan tidak akan bicara lagi pada kamu atau memutuskan hubungan. Namun, saya hanya akan berbicara padamu bila itu perlu saja.” Saya mengucapkan kalimat itu dengan kepalan tangan yang tergenggam. Kepalan tangan yang tergenggam guna menahan agar air mata tak jatuh. Kepalan tangan sekuat tenaga.

Meskipun melankolis untuk hal beginian, namun saya masih ingin terlihat kuat. Entah terlalu malu dengan usia masih merengek durja karena urusan pertemanan. Entah karena terlalu gengsi padanya dan seolah menunjukkan. Antara saya dia. Sayalah yang jatuh hati lebih dalam dalam hubungan pertemanan yang kami jalani selama beberapa tahun ini.

 

Akhirnya… siang itu. Setelah berbicara dalam atmosfir tak mengenakkan, saya pergi lebih dulu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan dia. Meninggalkan apa-apa yang selama ini pernah kami jalani. Dalam suka, dalam duka. Dalam tawa, banyak canda. Dalam sulit dalam mudah.

 

Siang itu, dalam lirih, saya meminta Tuhan menghapus rasa sayang saya padanya. Meskipun sulit menghapus kenangan yang yang telah kami cetak dalam banyak poto-poto yang memenuhi memory, tapi saya ingin rasa kecewa saya cukup besar untuk menghapus rasa sayang, rasa peduli dan rasa kagum saya padanya.

 

Demi mengalihkan kepatahhatian, saya menghibur diri. Bahwa, tidaklah mengapa kehilangan seorang teman karena toh kelak hidup saya akan lebih ribet dan masalah akan lebih ruwet daripada dilupakan oleh seorang teman.

 

Iya… untuk hal hati yang telah saya percayakan pada suatu sosok. Untuk sosok yang telah saya patri dalam hati, saya memang lebay. Saya bisa merasakan patah hati dan terpuruk parah akibat dikecewakan.

Padahal ini hanya untuk urusan hubungan atasan-bawahan dan teman. Bagaimana lagi bila hati saya dipatahkan oleh pasangan saya. mungkin efeknya, akan-jauh—lebih-besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s