Kepatahhatian (1)

Saya tipikal perempuan sensitif nan perasa. Iya. Boleh gak percaya. Boleh terbahak. Bebas. Muka jutek, nada bicara judes dan gaya serampangan gak cocok emang kalau mau mengaku hatinya ini sensitif dan mudah tersakiti.

 

Namun nyatanya, untuk beberapa hal saya bisa menangis haru. Meski menurut adik saya bahkan pilem india yang tingkat sedihnya level juarapun tak mampu membuat saya menitikkan air mata.

Saya orang yang tidak bisa dikecewakan. Tidak boleh ditinggalkan. Tidak suka dilupakan. Bila hati saya telah saya percayakan pada satu orang, lalu bilang orang tersebut mengkhianati saya. Hancurlah perasaan saya.

Ini tidak hanya soal asmara pada lawan jenis. Namun ini juga berlaku kasih sayang pada keluarga. Romantisme persahabatan. Dan hormat dan menghargai pada rekan kerja atau bos.

 

Saya ingin bercerita…

Tentang bagaimana sakit hati saya ketika saya mengetahui bos saya pernah lain di depan saya lain di belakang saya. Tentang bagaimana ia manis di depan saya namun menjelekkan di belakang saya. Dia adalah sosok yang saya hormati. Saya banggakan pada teman-teman sekantor yang lain. Amat sering saya memuja kelebihan, kehebatan, kepintaran dan kebaikan bos saya. Tentu saja untuk dibandingkan pada bos mereka. Intinya, pada bos itu saya jatuh hati. Jatuh hatinya seorang bawahan pada atasan. Sebuah kisah jatuh hati dalam sebuah keprofesional.

Untuk memastikan tidak ada pembaca yang menafsirkan metamofa saya dengan pikiran pendek lebih baik saya jelaskan. Maskud kata-kata “jatuh hati” di atas tidak sama seperti perasaan jatuh hati sama lawan jenis ya. Maksdunya hanya perasaan hormat dan kagum pada atasan.

Lanjut…

Lalu pada suatu ketika saya mengetahui suatu hal. Bahwa kejelekan saya sebagai anak buahnya pernah ia sebarluaskan pada semua orang. Semua orang kecuali saya. Disitu terhenyak kecewa saya. Pikir saya ia sosok bijaksana. Yang akan mengevaluasi kesalahan anak buahnya hanya demi kebaikan anak buahnya. Akan menegur langsung anak buahnya bukan membicarakan anak buahnya di belakang. Yang paling membuat saya menjadi seperti orang bodoh adalah saya tidak pernah benar-benar tahu kesalahan saya apa karena tidak pernah ditegur. Namun semua rekan sekantor mengetahui apa salah saya. Yang paling membuat saya terlihat konyol adalah tentang saya yang terus bertingkah semua baik-baik saja yang padahal tidak. Semua karena tidak pernah ada teguran atau peringatan atas apa yang saya lakukan. Yang lalu hanya saya terima adalah hukuman. Hukuman tanpa tahu salah saya apa.

Kecewa iya. Terluka sangat. Dan jangan tanya kepatahhatian apa yang saya rasakan. Rasa kepercayaan saya pada seseoang terus makin kikis makin tipis. Semuanya terasa sadis.

 

Sejak itu saya memandang curiga pada semua orang sekantor. Pindah ke kantor baru membuat saya seperti harus memasang tembok pertahanan untuk diri sendiri. Untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang. Tidak terlalu kagum pada orang. Dan tidak usah terlalu dekat dengan atasan. Awalnya… saya jalani kehidupan di kantor dengan kepribadian robot. Diam bila tak perlu bicara. Menghindari keramaian dan manusia. Dan saya menatap mata-mata yang seolah memojokkan dan menyalahkan saya.

 

Butuh berbulan kemudian untuk move on dari patah hati. Untuk bisa menerima kekecewaan atas kepercayaan pada mantan bos. Hingga pada suatu pertemuan kantor ketika saya bertemu dia (si bos), saya bisa menjabat tangannya, menanyakan kabar, dan lalu mencandai satu sama lain seperti biasa. Seperti dulu. Kalau kata temen saya. saya udah baikan sama bos saya. Ya meskipun mantan bos saya gak tau saya marah padanya, seperti saya tidak tahu bahwa ia tak suka cara kerja saya. Tapi setidaknya saya sudah memaafkan. Memaafkan sakit hati yang ia ciptakan. Runtuhnya kagum saya padanya tak bisa saya bangun lagi.

 

Begitulah perasaan saya. begitulah sakit hatinya saya ketika dikecewakan seseorang ketika sosoknya telah saya pigura rapi di hati saya.

 

 

Advertisements

One thought on “Kepatahhatian (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s