Saingan Soong Joong Ki

Siang itu. Peluh bercucuran. Dahaga kering. Kaki terasa begitu kaku diajak mendaki selama setengah jam lamanya. Itu adalah perjalanan di Pulau Breuh tahun lalu. Perjalanan dari desa tempat kami menginap menuju ke mercusuar yang kalau tidak salah saya harus ditempuh selama 30 menit atau lebih.

Siang itu kami selonjoran ngasal di bawah mercusuar melepas lelah. Berharap angin berhembus kencang untuk menghilangkan keringat.

Siang itu, sekelompok traveler yang berasal dari bermacam latar belakang ini melepas lelah. Ada yang dengan cara tiduran hingga tidur beneran. Ada yang ngobrol bergosip. Ada yang sibuk berfoto-foto. Ada yang main domino. Dan ada seorang anak perempuan bandel yang iseng banget pengen cobain motor trail. Iya, saya bilangnya bandel. Soalnya ini anak emang kayaknya penokohannya bandel dan usil. Tapi orangnya asyik dan baik.

Si perempuan yang kita sebut saja bernama Mona ini emang tomboy. Tomboy namun suka pakai rok bunga bunga. Katanya sih, pencitraan. Ayahnya udah lelah melihat ia berwatak dan berpenampilan seperti lelaki. Jadinya ia mengubah citra agar terlihat sedikit perempuan. Berhasil sih. Menurut saya, tapi bandelnya gak ilang.

Mona nyobain motor trail dari penjaga mercusuar. Kami hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja melihat aksinya. Namun, baru beberapa saat motor melaju, motor itu tersendat pada jalanan menanjak yang tak rata. Mona sepertinya kehilang kendali dan jatuhlah Mona.

Detik-detik sebelum Mona jatuh kami terus mengawasi dari kejauhan. Antara was-was namun berharap ia berhasil. Namun nyatanya, ia gagal. Ia jatuh. Dan tepat saat itu seorang lelaki berdiri sigap dan berseru “Mona lon!” (Mona-ku). Lalu ia bergegas lari menuju ke arah Mona tanpa menggunakan alas kaki. Di siang terik. Pasti tanahnya panas. Dan diluar area mercusuar ini tanahnya tak rata. Bebatuan tajam pasti siap menghujam kaki si lelaki itu.

 

Suasana lalu riuh. Ada yang tertawa. Ada yang takjub. Ada yang berseru, “Bang Li udah kayak descendant of the sun (sebuah judul film Korea).”

Saat itu saya belum menonton Descendant of The Sun jadi saya gak tau miripnya di mana. Namun sekarang saat saya udah nonton pun saya gak tau juga adegan itu mirip di mananya. Mungkin secara umum aja ya. Ada seorang lelaki yang sigap banget menolong wanita yang disukainya.

Disukainya…

Selama berada di Pulau Breuh itu, saya menganggap kisah romansa Mona dan lelaki yang berlari itu adalah sebuah lelucon saja. Lelakinya iseng. Perempuan juga becanda. Tim hore-horenya banyak tapi. Belakangan saya malah jadi tim hore-hore juga.

Tapi saat saya melihat lelaki itu berlari sigap cepat seperti itu saya tercenung. Dalam hati saya berkata, “Dia beneran suka sama Mona.”

Semua anggota trip makin heboh, terus heboh melihat aksi lelaki itu. Saya Cuma diam, melihat, menikmati dan meresapi. Pikiran saya Cuma satu saat itu ketika menyadari lelaki itu beneran suka dengan Mona.

“Cerita ini wajib masuk dalam blog”

Namun ketika saya pulang kembali ke Banda Aceh urung saya lakukan.  Para anggota trip yang meng-add akun facebook saya kian banyak. Dan beberapa mereka rutin baca blog saya. ntar ketahuan dong kalau saya ghibah di blog sendiri. Huahahaha.

Tapi beneran kisah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Makanya saya tuliskan juga. Nanti saya tinggal purapura gila aja kalau anak-anak yang ngetrip ke Pulau Breuh kmarin itu komentarin.

Kisah ini seperti perwujudan pengorbanan lelaki yang siap sedia. Bagi penyuka film korea pasti bakal ngefans sama lelaki itu. Saya aja, kalau udah gak tau diri mungkin bakal ikutan ngefans sama lelaki itu. Ya gak tau diri soal umur, ya gak tau diri kalau di Banda Aceh sana ada tiga lelaki sedang saya pehape-in.

Tapi untuk pemuja keromantisan, percayalah. Jangan jauh-jauh berharap lelaki korea untuk menjadi pendampingmu. Lelaki Aceh-pun mampu melakukan hal serupa. Mampu bergerak cepat menjadi superhero untuk pujaan hatinya. Mampu melakukan apa saja untuk kekasihnya. Mau berkorban. Mau menderita asal pasangannya selamat dan bahagia.

Karena sebenarnya pemicu itu bukan tentang Korea atau suku. Bukan tentang kulit putih mulus ala lelaki Korea. Namun yang mampu menggugah hati lelaki mau berbuat apa saja demi perempuan itu adalah satu kata yang selama ini kita kenal dengan sebutan: cinta.

Sepulang dari Pulau Breuh saya tidak tahu kelanjutan kisah mereka. Namun sejak itu saya jadi tim pendukung cinta lelaki superhero itu. Yang mana, kalau mereka jadian saya turut senang. Kalau tidak ya tidak mengapa.

Karena siang itu. Saya melihat bukti cinta. Cinta yang bukan becanda. Karena bagi mata saya siang itu aksinya bukanlah becanda. Ia memang terlihat khawatir.

Kalaupun siang itu mata saya salah. Sungguh itu acting yang sangat luar biasa sekali. Dan kalau itu acting, sungguh Song Joong Ki punya saingan dari Aceh sekarang.

 

Memilih Suami (Part 5): Dengan Kriteria Sbb

 

  1. Pria berusia maksimal 30 tahun.
  2. Diutamakan S1
  3. Ipk minimal 2.75
  4. Bisa bahasa Inggris pasif
  5. Memiliki SIM A dan SIM C
  6. Memiliki kendaraan pribadi
  7. Bersedia bekerja sama dengan tim
  8. Suka tantangan

 

 

Kira-kira begitulah bunyi status yang pernah saya tulis di FB beberaapa tahun lalu. Sekiranya pas saya baru lulus kuliah dan hanya lowongan kerja aja yang menjadi minat saya saat itu. Status itu seperti syarat-syarat seorang yang ingin melamar sebuah kerjaan. Namun di status yang saya buat itu saya membuat tajuk, “Dibutuhkan seseorang untuk dijadikan suami dengan syarat,”

Alhasil, status saya itu mengundang komentar. Lagi dan lagi kewarasan saya dipertanyakan. Banyak yang mencibir saya. namun sejatinya, di dalam hati saya mlah bertanya-tanya, apa yang salah dari mengkriteriakan seseorang seperti kriteria seorang pelamar kerja?

Usia tentunya menjadi tolak ukur meski mungkin masih bsa diatur ulang. Tapi bagi saya saat itu usia 30 tahun adalah usia maksimal bagi saya yang dulunya berumur 22 tahun.

Pendidikan sih boleh lulusan apa aja, diutamakan sih yang minimal s1. Kalau s2 mau banget. Kalau s3 udah mulai ogah. D3 masih boleh. SMA? Kalau ada s1 mending ya S1 aja.

IPK minimal 2,75 ya karena saya gak mau punya suami bodoh. Padahal ya untuk sarjana IPK segitu udah IPK paling minim lah kayaknya.

Bisa berbahasa inggris ini pernah jadi syarat saya yang membuat ibu saya gemas. Pernah saya anteng nolak orang karena gak bisa bahasa inggris. Ibu saya murka. Padahal saya punya alasan. Saya ingin kelak dari kecil anak-anak saya minimal bisa berbahasa Indonesia, inggris dan Aceh. Lagian saya bermimpi travelling keliling dunia. Jadi minimal bisa bahasa inggris pasif adalah syarat yang saya ajukan.

Soal kendaraan sih gak mesti mobil. Motor pun jadi. Asal punya. Karena tanpa kendaraan melakukan aktivitas itu sulit. Namun meskipun tak punya, bisa membawa mobil dan memiliki surat izin mengemudinya adalah penting.

Sebuah keluarga itu layaknya tim. Suatu tim pasti punya goal-nya sendiri. Mungkin bagi tim keluarga saya kelak, mati masuk surga dan hidup nyaman tanpa hutang di dunia adalah sebuah goal yang ingin saya capai. Maka itu dibutuhkan lelaki yang se-visi-misi dalam hal ini dengan saya.

Menjalin hubungan dengan wanita adalah sebuah hal. Menjalin hubungan dengan wanita seperti saya adalah masalah. Makanya, berkeluarga dengan perempuan seperti saya adalah sebuah tantangan. Siap menghadapi tingkah aneh angin-anginan saya adalah sebuah tekanan yang harus dimiliki seorang pribadi tangguh. Sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan.

Memenuhi semua kriteria di atas. Lamar saya. Berapapun maharmu.

 

Bertahun kemudian. Usia hanya tinggal beberapa tahun lagi memasuki kepala tiga. Sebuah siang ceria habis gajian. Saya dan seorang teman duduk di sebuah restoran. Bersikap hedonis khas lajang baru gajian. Dengan tentengan belanjaan diletakkan di sebelah kursi empuk. Mata kami mengitari daftar menu makanan. Harga menjadi tak masalah kala itu. Setelah memesan kami mengobrol.

Lajang… topic pasti tentang pernikahan yang tak juga menghampiri kami. Padahal undangan bisa saja dipesan besok. Namun nama mempelai lelaki belumlah kami dapatkan.

 

“Tapi menikah itu gak mudah. Kita gak bisa asal-asalan milih. Memilih lelaki untuk dijadikan suami. Berumah tangga itu sendiri mengerikan. Bagaimana bila kita salah pilih.”

Saya langsung menyetuji pernyataannya. Hal paling mengerikan dalam hidup adalah salah memilih lelaki sebagai suami lalu terjebak di dalam pernikahan itu sampai tua. Tanpa kebahagian.

Ide tentang pernikahan menjadi amat buruk. Menyeramkan.

Bau lembaran rupiah dan digit saldo rekening yang masih apik kala baru gajian memang mampu mencuci otak perempuan lajang untuk terus membenarkan kesendiriannya.

Makanan pesanan datang. Mulut kami mengunyah. Tak lupa mengkritik rasa makanan yang tidak pas di lidah.

Saya lupa redaksi kalimat temen saya selanjutnya. Yang jelas dia mengaitkan pernikahan dengan sebuah perusahaan. Menjalani pernikahan sama halnya dengan menjalani sebuah perusahaan. Harus memiliki visi dan misi yang jelas dan seirama. Harus berjalan terus. Harus bekerjasama.

Hampir tersedak saya mengiyakan senang. Saya pernah memikirkan konsep yang serupa. Bahwa membina sebuah keluarga tak jauh beda seperti mengelola perusahaan. Meskipun saya tidak punya perusahaan yang saya kelola, namun sedikitnya saya tau teorinya ketika berkuliah dulu.

Intinya. Kita ingin perusahaan kita berkelanjutan. Rumah tangga juga begitu. Ada terus hingga maut memisahkan. Kita ingin perusahaan kita untung. Begitu juga keluarga. Mengalami kehidupan yang baik baik saja tanpa drama yang bisa menhancurkan sebuah rumah tangga adalah sebuah keuntungan yang dicari. Mengindari rugi dan bersikap transparan antara suami istri.

Nah.. guna mendapatkan partner untuk mengelola rumah tangga yang diimpikan sudah pasti ada kriterianya, kan? Mungkin criteria yang saya ajukan beberapa tahun lalu masihlah relevan.

 

Namun ya begitu. Lelaki manapun mungkin malas meladeni perempuan lajang dengan pikiran pelik seperti kami.

 

Makanan telah tandas. Uang belum kandas. Namun hati kami masihlah cemas. Tentang memilih lelaki yang mungkin akan membuat naas.

Karena memutuskan hidup berdua dalam sebuah pernikahan adalah suatu keputusan maha sulit. Keputusan sekali namun mengubah segalanya. Entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Pada yang berani saya salut. Pada yang takut saya pun turut.

Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Cincin

Siang itu saya mengunjungi toko emas langganan terkait urusan kerjaan. Pembicaraan kami random. Dari urusan kerjaan hingga bercanda. Dari tanya harga emas, tanya usia. Dari nego harga hingga ke pembicaraan soal cincin.

“Cincinnya kok gak dipake, Tan?”

Sontak saya melihat ke jari manis saya tempat sebuah cincin bernaung beberapa bulan ini. Cincin belah rotan pasir ditaksir perhiasan emas 23 karat berat 10 gram. Yang kalau bahasa pasarnya. Cincin 3 mayam mas murni. Cincin tersebut saya pesan di toko tersebut. Cincin yang digunakan pada acara pertunangan saya dengan seorang lelaki. Cincin yang mengikat saya, hati saya, pikiran saya hanya untuk satu lelaki saja. Dalam cincin itu bahkan terukir nama saya dan nama lelaki yang memberikan cincin itu.

“Oh.. iya.. Lupa, bang.”
“Emang dilepas-lepas ya?”

“Iya. Kalau di rumah gak pake. Lepas jam tangan ya lepas juga cincinnya. Jadi kadang lupa.”

“Gak nyaman ya?” tanya lelaki pemilik toko emas itu lagi.

“Iya.” Jawab saya simpel.

Berat cincin itu lumayan. Bagi perempuan yang tidak gemar memakai perhiasan seperti saya. cincin dengan berat 3 mayam (10 gram) itu lumayan bikin berat dan tidak nyaman. Selama ini paling berat saya pakai 2 mayam (6.6 gram). Bentuk cincin tersebut yang belah rotan padat juga cukup membuat keberadaan cincin tersebut amat terasa. Dan juga karena saya sedikit tahu tentang emas, makanya saya jarang memakai cincin tersebut, singkat kata cincin itu meski special namun kegunaannya sama seperti aksesoris saya lainnya.

“Ya udah, kalau gak nyaman balikin aja.”

“Balikin gimana, bang? Diganti bentuknya gitu sama abang?” saya bertanya polos.

“Balikin aja sama orangnya. Nanti abang kasih lain. Biar pake cincin yang abang kasih aja.”

“Haaa? Kok gitu?”

“Tadi katanya gak nyaman. Ya udah sama abang aja.”

“Bukaaaaaan… maksud Intan tu cincinnya yang bikin gak nyaman. Karena berat. Bukan sama orangnya.”

“Biasa, kalau lepas pake gitu tanda gak nyaman sama orangnya. Kalau lepas pakai gitu nantinya juga bakal terlepas. Cincinnya. Orangnya.”

Kalimat itu berhasil membuat “deg” di hati saya. gedebam “deg” itu membuat saya henyak seketika.

Nanti saya kisahkan kenapa kalimat tersebut membuat “deg” keras di hati saya. Di lain kisah. Lain hari.

“Oh… baiklah… mulai besok bakal Intan pake setiap hari cincinnya.”

“Ya gitu lah. Karena kalau intan gak mau cincin itu. Abang siap kasih cincin yang lain”

“Gak usah, bang. Gak usah repot-repot. Cincin dari abang lebih bikin gak nyaman.”

“Kenapa?”

“Cincin jadi istri ketiga. Mana mau Intan.” Jawab saya ketus.

Lalu kami tertawa.

Pulang dari sana. Pikiran banyak memenuhi kepala saya. Kalimat si toke emas itu. Kenyataan. Kekhawatiran.

Pulang ke rumah saya langsung menuju kotak perhiasan saya. Mengambil cincin itu. Memasangnya di jari manis saya. Lalu meski tidak nyaman, saya memakainya ketika mandi, ketika mencuci dan ketika apapun itu di rumah. Bahkan sampai ketika cuci muka dan muka saya terasa banget tergaret-garetnya. Saat pakai krim malam juga kulit wajah saya harus mengalami kebrutalan aksi cincin itu. Karena bertekstur pasir jadi lumayan bin wajah saya terasa terbaret-baret. Hingga saya bawa tidur.

 

Tidur saya yang nyenyak harus terhentikan ketika tangan saya dengan tidak sengaja menampar wajah saya sendiri. Cincin tersebut sukses membuat wajah saya terbaret dan jidat saya sakit karena hantaman dari tangan saya. Saya juga heran kenapa saya tidurnya bisa seaktif itu. Tapi dengan cincin tersebut membuat keaktifan tangan saya melukai wajah saya.

Demi esok pagi yang cerah. Saya terpaksa melepaskan cincin tersebut dan meletakannya di bawah bantal. Sebelum melanjutkan tidur. Saya bergumam.

“Bukan karena Intan gak nyaman sama abang, Intan lepasin cincinnya. Tapi karena cincinnya yang bikin gak nyaman.”

Padahal cincin itu dibuat sesuai model yang saya inginkan. Hanya saja, pas saya memesan cincin itu saya memang gak berniat untuk memakainya setiap saat setiap hari. 24 jam. Maka itu saya memilih bentuk itu. Kalau tau cincin tunangan itu meski dipakai setiap hari konon saya akan memilih cincin belah papan dengan berat 2 mayam saja.

 

Setelah itu setiap harinya ketika saya melihat nasabah saya memakai cincin bermayam-mayam di lebih dari 3 jarinya saya suka bergumam sendiri, “gak berat apa ya tangannya?”

Untungnya si abang tunangan bukan tipikal lelaki yang menuntut agar saya memakai cincin pemberiannya setiap hari. Memang saya usahakan untuk selalu ingat memakai cincin tersebut ketika bertemu dengannya. Namun bila saya terlupa ia tak bertanya apa-apa.

Cincin tersebut. Saya memang cepat menyerah untuk mempertahankannya dipakai setiap hari. Namun untuk yang memberikannya, semoga pikiran dan hati saya tetap teguh untuk tak pernah menyerah mempertahankannya.

img-20161223-wa0006.jpg

Kepatahhatian (2)

Menyambung tentang kepatahhatian cerita sebelumnya. Jalinan hubungan lain yang mampu membuat saya patah hati dan menangis pilu adalah ketika dihadapkan pada kelutnya romansa persahabatan.

Air mata saya pernah bercucuran berkali-kali tentang memercayai teman. Teman saya sedikit. Itu-itu saja. Namun yang itu-itu sajalah yang sudah mampu membuat saya cukup dan bahagia. Bila ada yang menyakiti, melupakan, dan meninggalkan saya yang saya rasakan adalah gedebam rasa sakit patah hati.

 

Belum lama ini. Saya pernah dikecewakan lagi oleh seseorang yang sangat saya percaya, sangat saya bela, sangat saya sayangi, sangat saya perlukan. Saya berpikir selama ini saya juga seperti itu di hatinya. Meskipun mungkin perasaan kami tidak sama banyak, namun entah kenapa saya yakin kalau dia menganggap saya sebagai salah satu temannya yang ia sayangi. Yang ia pedulikan dan ia ingat.

 

Namun.. layaknya cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin rasa perteman yang saya alami juga bertepuk sebelah tangan. Tangannya tak pernah menggenggam tangan saya sebagai salah satu temannya. Sahabatnya. Atau mungkin tidak lagi. pernah tapi itu dulu. Tahun lalu. Atau entah kapan berhentinya. Hanya dia yang tahu.

 

Saya malas menggangapnya hanya sebuah kesalahpahaman saja. Sebagai seorang yang hrausnya merasa teman harusnya kesalahpahaman itu tidak terjadi. Namun karena terjadi, saya menyadari satu hal.

Posisi saya tidak sehebat itu di dalam laman hati bertajuk “teman” miliknya.

Mungkin saya hanya tipikal teman yang biasa saja. Teman sekedar kenal. Tahu nama dan pernah beberapa kali nongkrong bareng. Sekedar itu saja. Cukup kita ketahui saja.

 

Dipatahhatikan oleh seorang teman seperti dia membuat surut rasa percaya saya. kikis rasa sayang saya. membludak amarah saya. Namun mengingat umur yang tidak lagi di era main engklek makan es goreng, maka saya memutuskan dan dengan pasti mengucapkan kalimat ini dari bibir saya kepadanya, “Saya gak bisa maksa kamu untuk menyukai dan berteman dengan saya. Saya akan mencoba untuk tahu diri. Mulai sekarang kita hanya akan menjadi teman biasa saja. Saya tidak mengatakan tidak akan bicara lagi pada kamu atau memutuskan hubungan. Namun, saya hanya akan berbicara padamu bila itu perlu saja.” Saya mengucapkan kalimat itu dengan kepalan tangan yang tergenggam. Kepalan tangan yang tergenggam guna menahan agar air mata tak jatuh. Kepalan tangan sekuat tenaga.

Meskipun melankolis untuk hal beginian, namun saya masih ingin terlihat kuat. Entah terlalu malu dengan usia masih merengek durja karena urusan pertemanan. Entah karena terlalu gengsi padanya dan seolah menunjukkan. Antara saya dia. Sayalah yang jatuh hati lebih dalam dalam hubungan pertemanan yang kami jalani selama beberapa tahun ini.

 

Akhirnya… siang itu. Setelah berbicara dalam atmosfir tak mengenakkan, saya pergi lebih dulu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan dia. Meninggalkan apa-apa yang selama ini pernah kami jalani. Dalam suka, dalam duka. Dalam tawa, banyak canda. Dalam sulit dalam mudah.

 

Siang itu, dalam lirih, saya meminta Tuhan menghapus rasa sayang saya padanya. Meskipun sulit menghapus kenangan yang yang telah kami cetak dalam banyak poto-poto yang memenuhi memory, tapi saya ingin rasa kecewa saya cukup besar untuk menghapus rasa sayang, rasa peduli dan rasa kagum saya padanya.

 

Demi mengalihkan kepatahhatian, saya menghibur diri. Bahwa, tidaklah mengapa kehilangan seorang teman karena toh kelak hidup saya akan lebih ribet dan masalah akan lebih ruwet daripada dilupakan oleh seorang teman.

 

Iya… untuk hal hati yang telah saya percayakan pada suatu sosok. Untuk sosok yang telah saya patri dalam hati, saya memang lebay. Saya bisa merasakan patah hati dan terpuruk parah akibat dikecewakan.

Padahal ini hanya untuk urusan hubungan atasan-bawahan dan teman. Bagaimana lagi bila hati saya dipatahkan oleh pasangan saya. mungkin efeknya, akan-jauh—lebih-besar.

Kuserahkan Padamu

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

Namun tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Coba ingat ingat lagi. Siapa yang lebih dulu memulai. Meskipun kamu yang duluan mendapatkan kontakku dan memulai sapaan hi juga pertanyaan penuh basa basi. Namun akulah yang memulai memercikkan sebuah letupan, agar hatimu berdetak bila muncul namaku dalam notifikasi ponselmu.

 

Coba kamu resapi. Meskipun kamu yang mengutarakan perasaan dan memanggilku sayang berkali-kali tanpa balasan serupa dariku. Namun akulah yang mati-matian memohon agar tak pergi kamu dariku. Agar tak jauh kamu di mataku.

 

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

 

Namun aku sadari. Pengorbanan yang lebih itu ada pada tangguhnya hatimu. Kesabaran tiada habis itu ada pada luasnya hatimu. Pemaafan tiada henti itu ada pada bijaknya pribadimu.

Pada aku yang plin-plan. Suasana hatiku yang berwarna warni. Baik burukku. Pada cinta yang bertahan sampai akhir. Semua kuserahkan padamu. Kupasrahkan padamu.

 

Bertahanlan sampai akhir. Sampai akhirnya kita memulai kehidupan baru kita. Hari setelah ijab Kabul kamu lantangkan mantap.

Bertahanlan sampai akhir. Sampai lelah mulutku mengomel padamu karena karena sebagai suami kamu masih terus saja lupa. Dan sebagai istri aku masih terus tak puas.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai anak-anak kita tak hanya menjadi sumber kebahagiaan kita namun juga sumber sakit kepalanya kita.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai rambutku memutih, kulitku kisut dan mataku tak mampu lagi melihat jelas senyum malu-malumu.

Bertahanlah sampai akhir. Dari kita memulainya berdua. Mengakhirinya berdua. Lalu hingga salah satu dari kita lebih dulu menghadap-Nya. Untuk yang pertama mengucapkan terima kasih pada-Nya, atas diberikannya jodoh terbaik. Atas skenario indah yang Ia buat. Atas pertemuan kita yang dijembatani dari kepatahhati-kepatahhatian.

 

Tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Kepatahhatian (1)

Saya tipikal perempuan sensitif nan perasa. Iya. Boleh gak percaya. Boleh terbahak. Bebas. Muka jutek, nada bicara judes dan gaya serampangan gak cocok emang kalau mau mengaku hatinya ini sensitif dan mudah tersakiti.

 

Namun nyatanya, untuk beberapa hal saya bisa menangis haru. Meski menurut adik saya bahkan pilem india yang tingkat sedihnya level juarapun tak mampu membuat saya menitikkan air mata.

Saya orang yang tidak bisa dikecewakan. Tidak boleh ditinggalkan. Tidak suka dilupakan. Bila hati saya telah saya percayakan pada satu orang, lalu bilang orang tersebut mengkhianati saya. Hancurlah perasaan saya.

Ini tidak hanya soal asmara pada lawan jenis. Namun ini juga berlaku kasih sayang pada keluarga. Romantisme persahabatan. Dan hormat dan menghargai pada rekan kerja atau bos.

 

Saya ingin bercerita…

Tentang bagaimana sakit hati saya ketika saya mengetahui bos saya pernah lain di depan saya lain di belakang saya. Tentang bagaimana ia manis di depan saya namun menjelekkan di belakang saya. Dia adalah sosok yang saya hormati. Saya banggakan pada teman-teman sekantor yang lain. Amat sering saya memuja kelebihan, kehebatan, kepintaran dan kebaikan bos saya. Tentu saja untuk dibandingkan pada bos mereka. Intinya, pada bos itu saya jatuh hati. Jatuh hatinya seorang bawahan pada atasan. Sebuah kisah jatuh hati dalam sebuah keprofesional.

Untuk memastikan tidak ada pembaca yang menafsirkan metamofa saya dengan pikiran pendek lebih baik saya jelaskan. Maskud kata-kata “jatuh hati” di atas tidak sama seperti perasaan jatuh hati sama lawan jenis ya. Maksdunya hanya perasaan hormat dan kagum pada atasan.

Lanjut…

Lalu pada suatu ketika saya mengetahui suatu hal. Bahwa kejelekan saya sebagai anak buahnya pernah ia sebarluaskan pada semua orang. Semua orang kecuali saya. Disitu terhenyak kecewa saya. Pikir saya ia sosok bijaksana. Yang akan mengevaluasi kesalahan anak buahnya hanya demi kebaikan anak buahnya. Akan menegur langsung anak buahnya bukan membicarakan anak buahnya di belakang. Yang paling membuat saya menjadi seperti orang bodoh adalah saya tidak pernah benar-benar tahu kesalahan saya apa karena tidak pernah ditegur. Namun semua rekan sekantor mengetahui apa salah saya. Yang paling membuat saya terlihat konyol adalah tentang saya yang terus bertingkah semua baik-baik saja yang padahal tidak. Semua karena tidak pernah ada teguran atau peringatan atas apa yang saya lakukan. Yang lalu hanya saya terima adalah hukuman. Hukuman tanpa tahu salah saya apa.

Kecewa iya. Terluka sangat. Dan jangan tanya kepatahhatian apa yang saya rasakan. Rasa kepercayaan saya pada seseoang terus makin kikis makin tipis. Semuanya terasa sadis.

 

Sejak itu saya memandang curiga pada semua orang sekantor. Pindah ke kantor baru membuat saya seperti harus memasang tembok pertahanan untuk diri sendiri. Untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang. Tidak terlalu kagum pada orang. Dan tidak usah terlalu dekat dengan atasan. Awalnya… saya jalani kehidupan di kantor dengan kepribadian robot. Diam bila tak perlu bicara. Menghindari keramaian dan manusia. Dan saya menatap mata-mata yang seolah memojokkan dan menyalahkan saya.

 

Butuh berbulan kemudian untuk move on dari patah hati. Untuk bisa menerima kekecewaan atas kepercayaan pada mantan bos. Hingga pada suatu pertemuan kantor ketika saya bertemu dia (si bos), saya bisa menjabat tangannya, menanyakan kabar, dan lalu mencandai satu sama lain seperti biasa. Seperti dulu. Kalau kata temen saya. saya udah baikan sama bos saya. Ya meskipun mantan bos saya gak tau saya marah padanya, seperti saya tidak tahu bahwa ia tak suka cara kerja saya. Tapi setidaknya saya sudah memaafkan. Memaafkan sakit hati yang ia ciptakan. Runtuhnya kagum saya padanya tak bisa saya bangun lagi.

 

Begitulah perasaan saya. begitulah sakit hatinya saya ketika dikecewakan seseorang ketika sosoknya telah saya pigura rapi di hati saya.