Cerita-cerita…

Sejak pindah ke Banda Aceh saya udah jarang update blog. Update media sosial juga gak sesering dulu. Semua karena saya udah gak kesepian lagi dan internet tanpa batas di rumah yang gak bikin kita fakir kuota, membuat saya lebih suka streaming daripada nulis.

 

Gak ada lagi pulang kantor Cuma disambut kipas angin. Makan ditemani dispenser dan curhat didengerin angin berhembus. Masa-masa kelam sendirian di desa tanpa ada yang jual empek-empek sudah terlewati.

Yang ada kini pulang ke rumah yang ada penghuninya. Mulai dicereweti lagi untuk makan. Rebutan kamar mandi dengan adek-adek. Dan kalau laper gak perlu pura-pura tidur biar lupa.

 

Suasana di kantor pun beda jauh. Di kantor sekarang ada manusianya. Dulu ya di kantor, ya di rumah, saya sendirian. Kini ada banyak manusia lainnya. Ada obrolan khas karyawan dan perempuan. Dari bahas si bos, nasabah, hingga mantannya rekan kerja. Dari bahas tas, pamer lipstik baru, hingga rebutan cane rasa coklat. Lebih hidup. Namun juga dengan beban kerja yang gak sesantai dulu. Dengan target yang bikin kening berkerut. Dan dengan jadwal kerja yang menjadikan hari Minggu tinggal legenda.

 

Namun bila ditanya, enakan mana, di tempat dulu atau di Banda? Rasa-rasanya gak perlu bibir saya menjawab. Tempat Dulu adalah desa yang tak kurindukan.

Bila ditanya, apakah saya senang kembali ke kota dan rumah sendiri? Rasa-rasanya gak perlu ditanya lagi. Meski lebih capek namun dengan kembali ke rumah semua terasa lebih mudah. Tidak ada lagi perjuangan sendiri dan susah-susah sendiri. Tidak ada lagi sakit sendu sendiri. Dan tidak ada lagi nangis Cuma peluk guling kalau lagi ada masalah.

Meski awal-awal mutasi ke kantor baru semua terasa lebih kejam daripada ospek mahasiswa baru. Dengan bos-bos yang begitu banyak. Dengan daftar target yang begitu jumawa. Dengan rekan kerja yang belum bisa saya ngerti. Bahkan saya sempat nangis di brangkas. Sempat nangis di depan Pak Bos. Sempat tersisih dan tersudut. Sempat dianggap Cuma seperti pot bunga di sudut ruangan saat rapat. Sempat dikucilkan. Dan sempat stress hingga jerawat membabi buta tumbuh di wajah.

Namun akhirnya semua terlewati juga. Sedikit demi sedikit semua membaik. Dan yang terpenting, saya mulai terbiasa. Terbiasa akan aturan yang lebih keras. Dengan target yang lebih banyak.

Yang dulunya nangis di brangkas, kini bisa ketawa ngakak dan gosip heboh di brangkas. Yang tadinya jadi pot bunga di sudut ruangan, sekarang jadi AC. Kalau mati pasti dihidupin supaya gak kepanasan. Tapi kalau hidup yang dicuekin. Haha… lumayanlah. Setidaknya udah gak dikucilkan lagi.

 

Sebentar lagi akhir tahun. Target- target harus tercapai. Meskipun dari sekarang udah tau berada di posisi aman. Tapi semua pasti bisa berubah di bulan Desember. Namun, apapun itu soal kerjaan yang mulai terkendalikan, saya berharap soal asmara juga mulai terkendalikan dan terprediksi. Jadi bukan soal target kerjaan aja yang berhasil namun target pribadi juga.

 

Meski masih November, saya sudah kadung berharap Desember tahun ini menjadi Desember yang lebih indah dari tahun sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s