Namun, Sayang…

Di suatu sore kita bertemu yang tanpa gebu. Tanpa tahu apa yang semesta mau. Namun itu menjadi sore yang mengubah segalanya. Mengubah lara menjadi ceria. Mengubah sendu menjadi senyum malu-malu. Dan yang paling hebat adalah, menjadi sehebat-hebatnya penyembuh luka yang muak menganga di hati kita.

Guliran waktu menjadi saksi tahap demi tahap bagaimana perasaan kita mengubah tujuan kita yang masing-masing menjadi tujuan yang sama dan bersama.

Hari-hari yang kita lalui. Senyum yang terkembang. Tawa yang melebar. Pertikaian dan argumen yang egois. Emosi dan segala arogansi. Sudah menjadi makanan sehari-hari.

 

Hingga lalu kita merasa jenuh. Jenuh akan senyum yang esoknya berubah menjadi amarah. Jenuh akan tawa yang esoknya menjadi teriakan. Tanpa tahu apa yang semesta mau terhadap kita.

Namun, Sayang. Ketahuilah ini. Meski tak sekalipun panggilan ‘Sayang’ aku lantunkan dari bibirku untukmu. Pun melalui jemari di pesan text. Namun, Sayang, padamulah aku ingin semua ini berakhir. Berakhir kehidupan sendiriku. Untuk kujalani berdua denganmu.

Meski kelu lidahku tuk berucap langsung. Namun hatiku tahu. Aku cinta kamu. Dan kamu harus tau.

 

Meskipun kita masih tak tahu bagaimana semesta merangkai cerita esok bagi kita. Namun biarlah kita terus berharap, agar semesta mau berbaik hati. Membuat mimpi kita menjadi nyata. Membuat dunia ikut tertawa pada kita. Lalu saat kita berpandangan, kita tahu, kenapa masa lalu mempermainkan kita begitu kejam. Semua karena agar kita bertemu lalu hati kita tergenggam. Pada perasaan yang dalam. Di siang dan malam.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s