Cerita Ibu yang Resah dan Anak yang Galau

Pagi tadi di ruang brangkas, saya menyapa sekaligus menyindir iri rekan sekantor saya yang sukses ijin ngantor kemarinnya. Bukan apa-apa sih, cuti di Cabang ini level sulitnya setara seperti saya nemu jodoh. Udah ajukan, belum tentu bisa cuti. Udah tunangan, eh gak jadi nikah. Itu maksudnya dari kata setara.

Tapi si Kakak yang diragukan umurnya setua KTP-nya ini eh, bisa-bisanya aja tuh cuti dadakan sehari. Alasannya karena ingin temenin anak sulungnya yang ikutan pawai di kota yang lain.

Iya sejak ia dimutasikan ke Banda Aceh, anak sulungnya masih berada di kota tempat tinggalnya dulu.

Awalnya saya merasa menghadiri acara pawai anak itu hal sepele. Yah.. Cuma pawai. Entahlah kalau wisuda, pembagian rapot, atau menemani si anak untuk mengambil piala kemenangan.

Namun setelah mendengar jawaban si Kakak rekan sekantor saya itu, saya jadi bungkam, merinding dan berubah pikiran.

Awalnya si Kakak gak berencana pulang dan memang udah katakan pada anaknya gak pulang. Anaknya ngambek dong, dan mulai menilai betapa dirinya sungguh malang karena temen-temennya bakalan ditemani sama Ibunya sementara dia tidak. Sementara dia harus pawai tanpa ditemani dan dilihat oleh Mamanya.

Mungkin akhirnya rekan kerja saya ini kepikiran oleh kata-kata si anak, gak tega dan galau hingga membuat dia memberanikan diri mengajukan cuti dadakan dengan langsung bicara ke atasannya atasan.

Singkat cerita si Kakak cuti dan pulang ke kota tempat anak sulungnya beserta suaminya tinggal. Menurut cerita si Kakak, betapa anak sulungnya begitu senang ketika ia pulang. Berlarian, memeluk, bersuka cita senang sekali. Kepulangan Mamanya layaknya sebuah hadiah paling istimewa dan dinanti olehnya.

 

Sambil mengubek-ubek isi brangkas dan belagak cuek mendengar ceritanya, saya diam-diam terenyuh. Cerita itu membuat saya merinding.

Saya sudah terlalu banyak menonton film, video klip, atau iklan tentang anak yang tengah ikut pertunjukan namun orangtuanya terlalu sibuk hingga gak bisa menyaksikan pertunjukan tersebut. Namun, di detik terakhir, di asa terakhir dalam batin si anak datanglah sosok orang tua yang dia tunggu secara ajaib dan drama hingga membuat si anak bersuka cita dan bersemangat mengisi pertunjukan.

Selama hidup, saya tak pernah mengalami hal serupa cerita di atas. Saya bukan anak yang mesti didampingi orangtua, terlalu sering kegiatan saya semasa kecil tanpa didampingi. Bahkan, saat wisuda sarjana saya gak menyerahkan undangan orang tua kepada ayah atau ibu saya. Menurut hemat saya, gak ada istimewanya saya ketika wisuda, tidak cum laude. Jadi saya hanya akan jadi wisudawati yang biasa saja di antara ribuan peserta lainnya.

Orang tua saya pun tipikal simpel. Anaknya gak minta datang ya gak datang. Saya hanya minta dijemput usai prosesi wisuda, lalu kami lanjut dengan acara keluarga untuk syukuran kelulusan saya. Saya lebih suka begitu.

Makanya, saya gak dapat feel galaunya si anak dan resah nya si orangtua yang biasanya dimunculkan dalam film atau iklan itu. Saya baru ngeh ama hal begituan ya karena cerita rekan kerja saya. Dalam hati saya terbersit kalau ternyata hal kayak gituan nyata adanya. Bukan rekaan cerita melankolis di drama doang ternyata.

 

Mungkin benar kata “Si Abang”, gak semua hal dalam hidup bisa kita lakukan secara simpel dan main gampang aja. Gak semua kejadian bisa kita anggap sepele. Kalau itu saya anggap sepele bukan berarti bagi orang lain sepele. Dan mungkin karena saya kurang peka dan belum punya naluri keibuan.

Menilik kisah si rekan kerja saya juga jadi berpikir serius. Bila kelak saya jadi seorang Ibu, mungkin saya harus lebih peka. Untuk hal-hal sederhana kadang anak ingin kita sebagai Ibu atau orangtuanya mendampinginya. Dan saya mungkin kelak, bila bekerjanya harus pindah-pindah terus dan terpaksa pisah sama anak, harus juga bisa akrobat atau salto untuk bisa ke sana ke mari supaya punya waktu di hari penting si anak.

 

Ya… kalau mau lebih mudahnya sih, jalankan aja niat yang menjadi tagline hidupnya saya selama setahunan terakhir ini.

Resign, menikah lalu jadi ibu rumah tangga.

 

One thought on “Cerita Ibu yang Resah dan Anak yang Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s