Anaknya Dua

Mata saya beradu pandang pada sesosok wanita cantik dengan alis tercetak sempurna. Pada detik pandangan kami bertemu ia sunggingkan sebuah senyum. Di tengah kesibukan melayani nasabah batin saya membenak, bahwa saya seperti mengenal senyum tersebut. Namun alih-alih mencoba mengingat saya hanya mampu membalas senyumnya dengan senyum dadakan yang tak sempurna.

 

Tiba giliran wanita tadi maju ke loket. Setelah cincinnya saya terima untuk saya taksir jumlah pinjamannya saya melihat kartu identitasnya. Namanya. Ah iya. Dia adalah sesosok wanita yang pernah saya kenal di masa lampau. Saya tidak ingat namanya. Saya juga agak sedikit meragukan tadi mengingat wajahnya. Namun bila wajah itu dipadukan dengan nama yang saya baca di KTP-nya maka saya tahu bahwa dia adalah adik kelas saya ketika SMP.

 

Jumlah uang pinjaman yang bisa diberikan telah ditentukan. Namanya saya panggil. Ia bangkit dari ruang tunggu dan berdiri di depan loket dengan penuh percaya diri dan lagi-lagi dengan senyum yang masih sama sejak bertahun-tahun lalu.

 

Setelah menyepakati jumlah pinjaman dan saya tau ia seperti mengenali saya, saya bertanya.

“Kita kenal kayaknya ya?”

“Iya kayaknya. Kakak SMP 3, bukan?”

“Iya. Ah.. berarti kita satu SMP,” jelas saya.

“Iya,”

 

Beginilah serunya bekerja di bagian layanan. Setiap hari kita ketemu dengan orang berbeda dengan banyak ragam maunya. Serunya lagi kali ini saya bekerja di bagian layanan dan di kota tempat saya tinggal. Bukan lagi merantau. Di mana sering saya jumpai orang-orang yang saya kenal sejak kecil. Seperti momen ketika saya bertemu dan melayani temen SMA saya yang dulunya tukang teriak-teriak di kelas kini sudah bersorban dan berjanggut. Saya temui guru Matematika saya ketika SMP. Saya temui teman masa kecil saya. Saya temui adek kelas saya.

Beberapa membuat saya takjub, betapa waktu mampu mengubah tidak hanya penampilan namun juga karakter. Beberapa tetap setia dengan gaya dulunya. Seperti wanita yang tengah saya layani tadi. Si adek kelas.

Posisi kami yang sama-sama berdiri membuat saya ciut. Seingat saya dulu tinggi kami tidak berbeda. Namun kini ia tampak begitu tinggi. Saya mencoba tidak minder saat itu juga karena berpikir mungkin dia pakai heels sementara saya pakai sepatu flat.

 

Oh.. .. Gosh.. ini sesuatu yang tidak bisa saya hindari untuk lihat. Dadanya. Dengan posisi berdiri berhadapan ukuran dadanya sungguh sangat mengintimidasi milik saya. Begitu aduhai.

Jadi selain wajah dengan cetakan alis sempurna, senyum bibir basah yang sejak SMP sudah ia miliki bahkan tanpa perlu menggunakan lipgloss, tubuh tinggi semampai, berdada besar, berpinggang ramping lenggak-lenggok, si adek kelas saya itu sungguh telah tumbuh sempurna. Menjadi wanita cantik yang ummmm…. sungguh menggoda iman lelaki.

 

“Berapa udah anggota, Kak?” pertanyaannya mengalihkan pandangan mata saya dari dadanya.

“Haaa?” saya kikuk.

“Berapa anggota, kakak?”

“Di sini?” tanya saya bego. Saya ngertinya dia sedang bertanya di kantor saya berapa orang anggotanya. Walaupun saya bingung juga ngapain dia tanya gituan.

“Anak kakak. Udah berapa?” dia bertanya sambil kembali tersenyum. Mungkin kali ini senyumnya sambil ngejek saya yang jadi bego

“Oh… dua,”

Makjleb. Saya jawab spontan tanpa mikir. Biasanya saya jawab gituan kalau ada nasabah iseng tanya saya udah berkeluarga apa belum. Atau tanya status saya atau tanya anak berapa. Saya jawab aja singkat. Daripada saya jawab sebenarnya terus saya diceramahi -oleh nasabah yang gak kenal-kenal amat- soal usia perempuan dan karir yang jangan terlalu dikejar.

Nasabah kurang tau. Hari-hari, selain mengejar nasabah jatuh tempo saya nyambi ngejar jodoh.

“Sama. Saya juga udah dua, Kak,”

Wow… tetiba saya bersyukur menjawab kalau anak saya udah dua. Jadi setidaknya tanggapannnya kemudian yang entah apapun itu kalau tahu saya belum menikah tidak membuat saya minder. Biarlah dia kena saya bohongi. Saya berharap tidak ada kelak hingga ia tahu saya berbohong ternyata.

Iseng, saya perhatikan KTP-nya. Berharap saya bisa melihat dengan siapa dia menikah. Penasaran lelaki seperti apa yang berhasil mendapatkan nona cantik walau otaknya biasa-biasa saja ini.

Namun, KTP mana sih yang menjelaskan kita menikah dengan siapa? Tok hanya tertulis status: KAWIN sebagai penanda statusnya. Lalu mata saya melihat ke informasi tanggal lahirnya. Ebuset.. ternyata dia lebih tua 3 bulan dari saya dengan tahun kelahiran sama. Dan dia manggil saya kakak?

Oke.. gak bisa disalahkan sih. Toh ketika sekolah dia memang di kelas yang di bawah saya setingkat. Wajar aja dia manggil saya kakak.

“Kegiatannya apa sekarang?”

“Di rumah aja, Kak. Jadi ibu dan istri yang baik aja,” dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum bibir basahnya lagi.

Saya memberikan sebuah senyuman. Gimanapun setelah berhasil tumbuh menjadi sesosok wanita cantik sempurna, punya anak dua, menjadi ibu rumah tangga adalah poin ketiga yang saya iri dari wanita ini.

“Sebenarnya ada jualan online juga sih, Kak,”

“Ohya? Jualan apa?”

“Tas”

Reflek saya melihat tas yang ia tenteng. Sebuah tas hitam metalik. Dandanan dia jauh dari kata ibu rumah tangga biasa memang. Bahkan ia lebih modis ketimbang pegawai bank. Polesan wajahnya lebih cantik ketimbang SPG kosmetik. Tubuhnya setara pramugari.

 

Setelah uang pinjaman ia terima, ia berlalu. Nasabah mengantri masih banyak. Pikiran saya tentangnya tak boleh menyita waktu saya. Namun, di akhir benak, saya ingat.

 

Tadi siang, setelah pintu kantor saya dia tutup. Ketika ia pergi melanggak-lenggok di atas heelsnya hinggal membuat potongan baju peplumnya menari-nari. Bukan tubuh moleknya yang saya irikan.

 

“Anak dua,”

Itu yang terus terngiang. Betapa saya iri ketika ia dengan senang mengatakan anaknya sudah dua dan menjadi ibu rumah tangga. Sementara saya hanya membual dan terus masih harus menghadapi nasabah setiap harinya.

 

Advertisements

One thought on “Anaknya Dua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s