Pemilik blog ini belum mati

Hai, pembaca. Belakangan ngecek terus blog ini ada update atau gak ya?

Alhamdulillah.. saya seneng masih dicari dan ditunggu dan ditanya-tanya juga.

Tapi intinya saya masih hidup kok. Gak posting bukan karena gak ada ide. Tapi saya males. Bukan pula karena sibuk. Sesibuk apapun kalau gak malas ya tetep aja bisa nulis.

 

Saya mau cerita sedikit.

Akhir Mei lalu, saya dapat SK mutasi. Saya dimutasikan kembali ke kampung halaman saya. Ke kota tempat keluarga saya tinggal. Seneng? Ada seneng ada gak. Ya tetep aja segala sesuatu ada plus minusnya.

Kepindahan saya yang dadakan dan tanpa perencanaan matang ini langsung membuat beberapa orang menarik kesimpulan kalau saya bakal nikah.

Isu kepindahan saya dikaitkan dengan pernikahan saya. Padahal isu pernikahan saya adalah isu paling basi yang terus berusaha saya panas-panasin setiap bulannya.

Gak usah kelamaanlah saya bahas soal pernikahan bohongan saya itu. Asli mulut saya asal ucap aja kalau orang tanya kapan nikah.

Semisal nih ya. “Kapan nikah, Tan?”

Dengan lancang saya jawab, “bulan sembilan”. Padahal calonnya aja mungkin masih berupa embrio.

Hal yang gak saya sangka adalah ketika beberapa orang menganggap ucapan saya bener adanya. Nah, saya sekarang bulan delapan, saya mulai diserang dengan pertanyaan dan pernyataan kejelasan pernikahan saya. Menanggapi hal ini saya lari dari kenyataan aja. Daripada entar divonis batal nikah lagi. Padahal mah bukan batal. Emang gak pernah ada perencanaan aja, yang ada hanya wacana dan harapan dan rasa ngarep yang begitu besar.

 

Sejak Juni saya udah menghirup atmosfer Banda Aceh lagi. Kota tempat saya tinggal. Ritme kerja yang jauh berbeda dengan kantor terdahulu membuat saya harus fokus beradaptasi di sini. 2 bulan di sini baru saya sedikit merasa tahu bagaimana bergerak dan berpijak di kantor yang baru ini. Segala hal yang begitu banyak bedanya dengan kantor terdahulu. Dan terutama rapat yang terlalu sering.

 

Berada di dekat keluarga. Bisa sering ngumpul sama teman-teman dekat lagi. Kerjaannya yang santai banget lagi membuat saya sedikit terlena hingga melupakan keinginan saya menikah. Mmm… atau lebih tepatnya, merasa sedang tidak butuh menikah sekarang, saat ini, hari ini. Gak tau kalau minggu depan. Bisa ditanyakan lagi kalau mau.

 

Tetiba saya tersadar. Mungkin merantau di desa yang sepi membuat hati dan otak saya ikut sepi. Merasa kesepian hingga membuat angan-angan tentang menikah menjadi begitu terasa menggebu.  Ya suntuk aja kali ya saya.

Lalu sampai kapan status saya akan berubah. Saya tidak tahu. Tapi mungkin di tahun depan kita akan sama-sama tahu jawabannya.

 

Jadi buat kamu, pembaca setia blog ini, saya cuman ingin ngasih tau kalau pemilik blog ini belum mati.

Tunggu aja postingan bermanfaat dan tidak bermanfaat selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s