Tak Mau Lagi Mendengar

Dalam sebuah drama Korea yang saya tonton, ada percakapan antara ibu dan anak perempuannya. Si anak perempuan bertanya, sejak kapan hubungan ibu dan ayahnya merenggang? Sejak kapan mereka berhenti berbicara satu sama lain?

Dalam drama tersebut dikisahkan si ibu dan si ayah perempuan tersebut tidak berbicara sejak bertahun-tahun lamanya. Mereka belum bercerai. Masih hidup di bawah atap yang sama. Mereka tidak bercerai hanya karena alasan anak perempuannya. Sementara cinta tidak ada lagi. Sementara komunikasi telah bisu. Mereka hidup dalam diam.

Menanggapi pertanyaan tersebut, si ibu menjawab, “Entahlah. Itu terjadi begitu saja. Mungkin sejak kami tidak saling mendengarkan lagi. Kau tahu? Cinta bisa hilang karena kita tidak mau lagi mendengarkan. Jadi bila pasanganmu berhenti mendengar. Saat itu cinta sudah tiada”

Saya lupa bagaimana persis redaksi kalimatnya. Semampu yang saya ingat begitulah maksud dari jawaban si Ibu.

Saya melihat ke pengalaman saya. Mengapa akhirnya hubungan saya dan dia yang kini disebut mantan berakhir. Ternyata itu dimulai pada saat yang tidak saya sadari sebelumnya. Sejak ia tidak mau lagi mendengarkan saya.

dalam diamku berbagi

dalam riuh ku sendiri

ini bukanlah sesuatu yg salah

dalam harapku abadi

dalam rinduku tak lagi

bertanya cinta yang telah kau tinggalkan

suara tentangmu bayangan tentangmu

jarak dan waktu membunuh aku*

*Saat itu saya pikir saya pantas mengusik harinya dengan kehadiran saya melalui suara. Jarak terbentang antara kami harusnya bisa diperpendek dengan seringnya komunikasi yang kami bagi setiap hari. Tapi nyatanya, kebiasaan hari-hari lalu menjadi berubah. Ada masa ketika semuanya berhenti. Terutama adalah, ketika dia berhenti mendengarkan saya.

tak kau dengarkah?

telephone ku memanggilmu

saat kau tak lagi, peduli cinta ini

menggigil aku mengiba, telephone ku memanggilmu

berharap cinta yg lalu, saat kau tak mau lagi mendengarku


jawablah aku menanti ini

bukanlah sesuatu yang salah

*Bodohnya saya abai tanda-tanda. Entahlah saya terlalu naif mengira ia terlalu sibuk. Nyatanya, kata om Mario Teguh sesibuk apapun seseorang ia pasti akan mengabari kita bila ia memang cinta. Ia tidak akan pernah tega membuat kita mengemis kabar, mengiba perhatian.

Saya telat menyadari. Bahwa cinta telah menguap. Lama-lama raib. Semua sejak

ketika ia tak mau lagi mendengarku.

*Lirik lagu Ribas ft Nindi, Telepon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s