Kaleng Minuman

Suatu sore di 2009

“Abang haus kali nih, kita mampir bentar beli minum ya?” ucapnya.

“Boleh.”

Tak lama kemudian mobil ia tepikan di pinggir jalan di depan sebuah toko serba ada.

“Intan mau minum apa?”

“Intan ikut turun aja deh,”

“Ok.”

Lalu kami berjalan menuju ke toko tersebut dan langsung mengarahkan tujuan ke sebuah lemari pendingin berisikan aneka macam minuman ringan.

Dia mengambil sebuah minuman ringan bersoda dengan kaleng berwarna merah. Minuman yang saya incar tidak ada. Ada, tapi dalam kemasan berbeda. Dan saya tidak suka.

Saya menutup kembali kulkas tersebut tanpa mengambil apapun.

“Intan gak ngambil apa-apa?”

“Gak, bang. Gak ada minuman yang intan mau.”

“Maunya apa?”

Saya menyebutkan sebuah merek dari minuman isotonik yang dapat menambahkan ion tubuh. Matanya mencari-cari ke dalam lemari es di depan kami. Lalu ketika ia membuka kulkasnya, ia mengambil sebuah minuman.

“Ini kan ada, Tan?” ia menunjukkan sebuah minuman yang memang saya maksudkan namun dalam kemasan kaleng. Yang saya mau dalam kemasan botol.

“Iya. Tapi ini dalam kaleng. Intan maunya dalam botol,”

“Kenapa?” ia merasa aneh.

“Intan gak bisa buka kemasan kaleng gitu.” Jawab saya sambil nyengir malu. Saya memang tidak pernah berhasil membuka minuman ringan dalam kemasan kaleng. Selalu saja cantelan pembukanya berakhir patah di tangan saya.

“Ya ela.. itu aja. Biar abang bukain.” Lalu ia mengambil minuman itu. Pergi ke kasir dan membayar apa-apa yang dibelinya. Setelah itu kami kembali ke mobil.

Sebelum memulai kembali berkendara dia mengambil kaleng minuman saya dalam kantung plastik dan membukanya. Setelah dibuka ia menyerahkannya pada saya.

“Mulai sekarang, apapun yang Intan inginkan namun gak bisa Intan lakukan serahkan aja sama Abang. Biar abang yang ngelakuinnya untuk Intan. Seperti kaleng minuman ini. Mulai sekarang sampai seterusnya, biar abang yang ngebukainnya untuk Intan.”

Saya menerima kaleng minuman tersebut. Tanpa menjawab apapun kecuali memberinya sebuah senyum, saya teguk minuman isotonik tersebut. Dia pun meminum minuman bersodanya. Perjalanan dilanjutkan.

Namun, tidak dengan perjalanan kami.

 

Suatu malam di 2016

“Jadi kenapa Abang menghilang 7 tahun lalu?”

“Abang? Intan kan yang ngilang?”

“Kayaknya Abang deh. Apakah ada kata-kata Intan yang salah atau apa hingga Abang pergi?’

Dia tidak menjawab. Saya menatapnya lekat. Mungkin dalam hatinya tengah menyumpaserapahi saya. Sedangkan saya ingat betul kenapa ia pergi dan menghilang. Memang itu karena saya. Saya yang masih terlalu muda saat itu. Belum mampu memegang komitmen apapun. Hanya seorang gadis yang baru berulang tahun ke 20.

Suatu sore di 2016

Di depan kami telah tersaji minuman pesanan kami masing-masing. Saya dengan Ice Chocolate Mint kesukaan saya, dia dengan Lemon Tea hangat pilihannya. 7 tahun memang mampu mengubah kebiasaan dan karakter seseorang. Kini ia tidak lagi melulu memesan kopi sebagai minuman pilihannya. Rokok yang selalu ia hisap juga telah lama ia tinggalkan. Katanya telah 5 tahun ia berhenti merokok.

“Kebiasaan boleh berubah. Tapi wajah abang kayaknya gitu-gitu aja, ya?”

“Yang bener? Kayaknya abang keliatan makin tua.”

“Well, iya. Sudah ada kerutan di mata. Tapi secara keseluruhan masih sama. Style abang pun masih selalu rapi seperti dulu.”

“Intan makin cantik.”

“Intan tau.” saya langsung memotong pujiannya hingga di situ. Dia terkekeh dengan kepedean saya.

“Intan akan menikah.” saya mengatakan itu tepat ketika ia berhenti terkekeh. Cangkir teh yang hendak ia pegang ia lepaskan. Ia tatap saya lekat.

“Dengan?”

“Lelaki tentu saja. Abang juga gak kenal.”

“Lelaki beruntung.” katanya.

“Semoga dia berpikiran yang sama seperti abang.”

Lalu hening tercipta. Mata kami beradu lekat. Seperti terlalu banyak hal ingin dikatakan namun tahu semua hanya sebuah kesia-siaan belaka. Tak mengubah apapun.

Setelah itu kami hanya melanjutkan basa-basi yang lain. Hingga ia berkata, “Yuk, abang anterin pulang.”

Tak lama kemudian kami sudah di mobilnya. Ia menyetir tenang sambil berbicara ini itu dengan saya. Lalu tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di sebuah mini market.

“Kita beli minum sebentar.”

“Bukannya tadi kita minum?”

Tanpa menjawab ia hanya senyum saja. Lalu ketika ia turun dari mobilnya saya mengikutinya. Kami masuk ke mini market tersebut dan langkah langsung ia arahkan ke sebuah lemari pendingin berisi beragam minuman.

Ia mengambil dua kaleng minuman. Yang satu minuman bersoda dengan kaleng berwarna merah. Satunya lagi minuman isotonik. Deja vu pikir saya. Saya memandangnya tapi ia hanya lempeng berjalan menuju kasir dan membayar dua kaleng minuman yang ia ambil.

Setelah itu kami kembali ke mobil. Minuman dalam kantung plastik hanya ia letakkan begitu saja dia atas dashboard. Perjalanan ia lanjutkan hingga tibalah di depan pagar rumah saya.

Saya ucapkan terima kasih atas waktunya untuk pergi dengan saya sekaligus mengantar jemput saya. Lalu sebelum saya turun ia memanggil nama saya lembut.

“Intan.”

“Ya?”

Tangannya meraih kaleng minuman isotonik. Ia buka kaleng tersebut dan menyerahkannya pada saya.

“Dulu abang pernah katakan. Apa yang gak bisa Intan lakukan serahkan sama abang. Dulu Abang juga pernah berjanji, untuk selalu ngebukain kaleng minuman yang gak bisa Intan buka. Maafin abang. Abang harus tarik kata-kata abang. Maafkan abang juga pernah menghilang. Selama kurun waktu 7 tahun, tentunya banyak orang lain yang bersedia membuka kaleng minuman Intan. Ini kaleng terakhir yang abang bukain untuk Intan. Selanjutnya hal ini akan menjadi tugas lelaki lain.”

Saya hanya diam melihatnya berbicara sepanjang itu. Mendengarkan dengan dada berdebar. Bergemuruh. Luluh dan luruh.

Saya meraih kaleng minuman yang telah ia buka. Mengucapkan terima kasih sekali lagi. Pamit. Membuka pintu mobil. Turun dan melambaikan tangan padanya ketika mobil ia lajukan menjauh dari pagar rumah saya.

Saya tidak langsung masuk ke dalam rumah. Di teras, dengan masih menggenggam kaleng minuman isotonik tersebut hatinya berbicara sendiri.

Menyoal jodoh, Bang. Bukan hanya ketika orang itu kita rasa tepat. Cinta kita hebat. Namun kita juga membutuhkan semesta yang sepakat. Hingga menyempurnakan di waktu yang tepat.

Menyoal kita, Bang. Kita hanya dipermainkan oleh waktu. Waktu yang membuat kita bertemu. Menghilang. Bertemu lagi yang hanya tidak untuk menjadi apa-apa.

Andai saja Abang tidak muncul ketika usia saya masih 20 tahun melainkan ketika umur saya sedikit lebih banyak. Mungkin saat itu saya bisa menerima abang dengan gampang.

Atau, andai saja ketika 7 tahun kemudian kita bertemu kembali dan abang lebih cepat 5 menit saja. Mungkin ini bukan kaleng minuman terakhir yang abang bukain buat Intan.

5 menit mampu mengubah takdir kita. Jalan kita dan hati kita. 5 menit sebelum abang mengirimi saya sebuah pesan berisikan ‘Hi’ yang terkandung perasaan rindu di dalamnya, saya baru saja mengiyakan perasaan seseorang.

Dan ketika saya sudah mengatakan iya. Saya tidak bisa mundur. Akhirnya 5 menit itulah yang menentukan kepada siapa saya meyakinkan hati saya untuk saya sandarkan sepanjang sisa hidup saya.

Saya teguk minuman itu. Sebuah pesan BBM muncul. Sebuah pesan dari kekasih hati. Saya senyum membaca pesannya. Kepada dia saya telah jatuh cinta. Kepada ia saya siap membagi dunia saya. Kepada dia yang tidak tahu sama sekali bahwa saya tidak bisa membuka kaleng minuman. Karena yang ia tahu saya tidak menyukai minuman kemasan apapun.

7 tahun mengubah kebiasaan seseorang. Abang yang tidak lagi banyak minum kopi dan merokok. Saya yang tidak lagi minum minuman kemasan terlalu berlebihan.

Advertisements

6 thoughts on “Kaleng Minuman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s