Prolog: Trip Singkat Ke Pulau Breuh

Awal Januari 2016 saya berikrar: Bulan Mei 2016 saya menikah. Salah satu kesongongan lainnya tentang saya. Tentang saya yang PD menaklukan apapun. Menyangka semua obsesi tentu akan dapat saya taklukan asal saya bekerja keras, asal saya berusaha.

Namun seperti mimpi-mimpi tahun lalu. Cita-cita tentang menikah selalu tak pernah kecapaian hingga sekarang. Kesongongan saya menargetkan kapan saya menikah tak pernah (atau belum) menjadi nyata. Lagi dan lagi. Bulan Mei tidak merupakan bulan di mana saya memakai baju pengantin.

Di akhir bulan Maret saya menyadari. Rencana saya kembali gagal. Dan libur panjang di minggu pertama bulan Mei yang saya ancang-ancang menjadi hari pernikahan saya lekas saya ganti jadwal menjadi libur untuk travelling.

Suatu malam, saya japri temen SMA saya yang hobi keliling Aceh. Saya tanyakan rencananya di long weekend (tanggal 5 Mei-8 Mei). Seperti dugaan saya dia punya rencana. Saya minta diikutsertakan. Dia sih bilang yes.

April dia ngasih kabar kalau trip yang bakal dilakukan adalah ke Pulau Breuh. Mengetahui bakal ke pulau rasa excited saya kembali buncah. Tentang patah hati dan patah semangat gagal menikah terabaikan sudah. Tergantikan khayalan tentang trip seru di salah satu tempat indah di Aceh.

Beberapa hari kemudian si temen ngasih tau lagi kalau trip yang bakal dijalankan bakalan diselingin dengan aksi donasi ke anak-anak di Pulau Breuh. Nah, ini bukan tentang aksi sosial yang disempetin buat liburan. Ini kebalikan, liburan yang diselingi dengan aksi donasi. Temen saya keren. Idenya dan beberapa temannya yang merencakan trip ini keren menurut saya. Jadilah nama trip kami menjadi: Gerakan 1000 Buku Tulis Untuk Anak Pulau Breuh.

Mengetahui hal itu saya langsung merasa keren. Apalagi ngebayangin saya bakalan terlibat dalam aksi sosial itu. Ini pengalaman pertama bagi saya. Pengalaman pertama ngetrip di kampung sendiri dan pengalaman pertama menjadi salah satu kontributor dalam donasi tersebut. Tetiba saya ngerasa mirip Mbak Nadine Chandrawinata.

Saat rapat pertama saya ikutan dan dikasih tau kalau yang bakal ikutan ngetrip berjumlah sekitar 30 orang. Rame banget pikir saya. Mereka dari berbagai kalangan, latar belakang dan komunitas. Semakin seru nih kayaknya. Saya selalu senang melakukan perjalanan dengan orang yang tak saya kenal sebelumnya. Semacam mendapatkan kejutan. Mendapatkan teman baru. Yang kalau cocok maka bakal jadi teman sesungguhnya. Yang bila tidak terlalu cocok, lumayanlah dapat kenalan baru yang entar kalau ketemu di lampu merah bisa kita tegur atau klakson.

Pada akhirnya yang ikut serta berjumlah 25 orang. Campuran lelaki dan perempuan. Campuran berbagai usia. Campuran komunitas. Campuran latar belakang. Campuran style. Yang kesemuanya punya kisah masing-masing.

Berbagai kisah dalam benak yang tetap membuat semuanya tetap kuat dan ceria. Berbagai kisah yang tetap membuat masing-masing orang merasa, melakukan perjalanan ini adalah sesuatu yang tepat. Sesuatu yang benar.

Tentang kisah cinta yang tak berbalas. Tentang mencintai dalam diam. Tentang rela berkorban demi perempuan yang dicintai. Tentang kangen suami yang tidak ikut serta. Tentang menunggu sebuah kepastian. Tentang lari dari kebisingan untuk menenangkan hati dan pikiran guna menetapkan pilihan kepada siapa hati harus dilabuhkan. Tentang memaksa hati agar tidak jatuh cinta sembarangan. Tentang kisah pahit yang terlarang untuk jatuh cinta. Tentang membagi hati. Tentang tidak mampu menerima cinta. Tentang terus menanti tanpa kehilangan asa bahwa seseorang yang bakal menjaga hati itu pasti akan datang. Tentang menikmati kesendirian. Tentang berjuang melawan segala keterbatasan. Tentang berbagi. Tentang 25 kisah orang yang melatarbelakangi sebuah senyuman yang tercipta kala menikmati sunset dan debur ombak di Pulau Breuh.

Saya tidak sehebat 24 orang lainnya. Saya tidak punya pengalaman traveling sebanyak mereka. Saya tidak melakukan aksi sehebat mereka. Saya hanyalah seorang karyawati biasa yang mencoba melihat mereka satu persatu. Melihat sisi melankolis sekaligus humoris dari setiap orang. Untuk saya rekam dalam ingatan. Menjadikan cerita. Lalu saya ambil pelajarannya. Bahwa bila kita berduka, duka itu bukan hanya milik kita. Bila kita tertawa, ajaklah orang lain untuk tertawa bersama. Karena dunia itu indah. Karena pun kadang dunia sedang tidak adil, tapi kita selalu punya harapan bahwa duka tak pernah abadi.

Perjalanan ke Pulau Breuh pada rentang waktu 5 hingga 8 Mei kemarin adalah salah satu pengalaman hebat lainnya dalam hidup saya. Meski pulang dengan wajah gosong dan kulit yang perih akibat tak tahan sinar matahari, tapi saya merasa pain yang saya dapat setara dengan gain yang saya genggam.

Awalnya saya sempat ragu untuk ke Pulau Breuh. Bagaimana tidak, awalnya saya traveling hanya ingin melarikan diri dari kenyataan kalau saya lagi-lagi batal kawin. Persis seperti traveling saya ke Korea akhir 2014 lalu. Lalu hanya beberapa minggu sebelum saya berangkat saya punya harapan baru. Jadi ya saya semacam kasian long weekend dipake buat traveling. Mending kencan pikir saya. Soalnya saya dan dia tinggal di kota berbeda karena faktor kerjaan. Sempat galau. Namun akhirnya saya putuskan pergi juga.

Syukurlah saya pergi. Terbebas dari sinyal hingga membuat saya lost contact dengan peradaban membuat saya benar-benar menikmati perjalanan dengan segala keindahan alamnya. Dan dari keheningan tanpa sinyal juga, saya jadi benar-benar berpikir dan menentukan pada siapa saya harus memberikan kepercayaan, hati dan harapan saya. Meyakini bahwa dia yang saya pilih insyaallah menjadi orang yang tepat. Memastikan hati saya tak lagi maju mundur cantik untuk berkomitmen.

Dan ya, meski saya tak jadi kencan namun saya pulang dengan membuat sebuah keputusan mantap. Dan semoga ini keputusan terakhir.

13214952_10205066630539951_492596024_o(1)

4 thoughts on “Prolog: Trip Singkat Ke Pulau Breuh

  1. travelling itu membebaskan. Bebas dari segala penat. Bebas dari segala rusuh di hati. Apalagi kalau sampe telpon gak dapet sinyal…beuuuhh….bebas dari kejaran mantan *ehh 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s