Episode 1 Trip KL-Spore

Memunyai gebetan itu baik. Punya gebetan yang mau nganterin ke bandara lebih baik. Tapi memunyai gebetan yang gak datang telat untuk ngejemput di rumah plus nyetirnya ngebut pas udah telat jauh jauh lebih mulia di mata sang kakak gebetan.

Adalah hari keberangkatan kami ke KL siang itu. Gebetan adik saya menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke bandara. Tentu aja ketika adik saya mengatakan hal ini saya gak mikir dua kali. Langsung saya iyakan.

Si gebetan datang ngejemput telat. Dua teman kami di bandara udah was-was menunggu kami. Saya lebih was-was menunggu si gebetan adik saya.

Tapi akhirnya dia muncul. Lalu nyetirnya lambat. Mulailah saya keluarkan tanda ‘awas, kakak gebetan galak’ kepada lelaki muda tersebut. Tentu kesan pertama kami tidak bagus. Saya dicap galak. Dia saya cap lambat tak mutu.

Singkat cerita dengan adegan drama berlarian di bandara kami nyampe di Bandara kebanggaan warga Aceh yang kesyil bangeeet. Kerasa banget kecil kalau kita abis dari Kuala Namu atau Kuala Lumpur airport. Turun pesawat. Turun eskalator langsung nemu pintu keluar. Cocok sih buat orang yang gak kuat sendinya buat jalan jauh kayak saya. Jadi gak capek.

Setelah mengudara tibalah kami di bandara KLIA2. Menurut hasil baca-baca saya, bagusnya kami naik shuttle bus menuju hotel di Bukit Bintang. Setelah membeli tiket di loket shuttle bus yang terletak di pintu keluar kami langsung berganti armada dari pesawat ke bus. Harga tiket bus ini kalau saya gak salah inget sih 15 RM.

Setelah macet yang cukup lama dan perut yang sudah berdendang nyaring tiba-tiba bus berhenti di pinggir jalan. Penumpang yang menuju Bukit Bintang di turunkan di situ. Di sebuah lokasi yang tanpa Bukit dan Bintang yang tak terlalu keliatan. Ternyata, kami disuruh naik bus mini semacam travel untuk melanjutkan perjalanan. Bus inilah yang akan mengantarkan kami tepat di depan hotel kami. Sebelum mengantarkan kami, si sopir nganterin penumpang lainnya yang menginap di hotel berbeda. Mirip-mirip ama angkutan L300 yang ngehits di Aceh.

Kami diturunkan di sebuah hotel yang berwarna keemasan dari luar. Terlihat mewah dan classy. Saya mendongakkan leher hingga ke lantai paling tinggi hotel tersebut hingga si sopir berkata, kalau hotel yang saya booking berada di belakang hotel yang mewah di depan kami.

oh.. pantes namanya beda.

Setelah menyeret koper ke dalam lorong kebingungan dimulai. Manakah hotelnya? Lalu karena muka kami yang keliatan bingung dan disadari oleh beberapa penjualan makanan di sekitar situ, mereka mengatakan kalau hotel berada di lantai atas.

Lantai atas mana?

Lalu kami ditunjukkan ke sebuah tangga kecil menuju lantai atas.

Agak horor hotelnya.

Ya namanya juga hotel budget ya. Jadi ya seadanya.

Sampai di atas kami ketemu resepsionis bertampang bule. Kepaksa deh saya ngomong sanglish. Iya. Sableng english. English acakadut versi saya. Mau gimana si resepsionis cuma bisa berbahasa inggris dan berbahasa arab-arab gitu deh kayaknya. Diajak melayu dia gak mau.

Setelah masuk kamar dan menempatkan barang bawaan kami pergi mencari makan. Tentu aja tempat yang dituju adalah Alor Street. Setiap kita baca itinerary orang lain pasti mereka makannya di sini. Apalagi ini lokasinya deket ama hotel kami menginap.

Setelah berjalan sedikit, tibalah kami di sebuah jalanan yang penuh dengan lampion menyala. Pedagang yang berjualan di sisi kanan kiri jalan. Warung tenda sepanjang mata. Bau makanan menyebar membuat dendangan perut semakin kencang.

Nyatanya, jarang ada pedagang makanan yang memanggil-manggil kami menawarkan makanan.

Ah, pantas saja. Kami berempat mengenakan jilbab dan kebanyakan makanan di situ tidak halal. Kami pun agak kesusahan mencari makanan halal. Selain meragukan juga sih pedagang di situ. Takutnya katanya aja halal.

Cara cepat adalah melihat perempuan yang berjilbab yang makan di suatu warung tenda, jadi kemungkinan besar makanan itu halal. Maka kami temukan perempuan di suatu warung, setelah didekati benar ternyata di spanduknya ada tertera logo halal.

Kami memesan tomyam dan es teh tarik. Sebenarnya saya gak suka minuman yang mengandung susu. Namun, seorang teman pernah berkata teh tarik di Malaysia itu enak. Maka saya pengen coba. Dan ternyata benar. Rasa tehnya lebih mendominasi rasa susunya hingga lidah saya nurut. Namun perut? Sebagai orang yang alergi laktosa, dapat dipastikan, setelah minum susu saya sakit perut.

Setelah makanan datang kami menyerbu rakus tomyam dan nasi hangat yang tersaji. Lapar sangat mendominasi. Namun karena malam itu adalah malam ketibaan, kami masih tertawa lepas walaupun rasa capek dan ngantuk melanda.

Puas makan kami berkeliling sebentar dan mengambil beberapa poto. Tapi anehnya, ketika saya cari kok poto di Alor Street malah gak ada. Mungkin kehapus. Jadi ya sudah, saya gak nampilin poto saya dengan latar belakang Alor Street. Toh ngegugel juga ketemu kok gimana penampakannya.

Selesai makan, keliling dan poto-poto kami pulang ke hotel murah meriah di kawasan bukit bintang yang sungguh tanpa bukit namun alpa saya ingat kehadiran bintang. Kami kembali ke hotel untuk mandi dan tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s