Saya Lamar!

Saya sedang jatuh cinta. Namun ini bukan jatuh cinta yang mudah. Lelaki yang saya jatuhi cinta mencintai perempuan lain. Tidak hanya itu, lelaki ini usianya terpaut jauh dari saya. Ketika dia tengah menikmati bandel-bandelnya masa SMA saya malah baru lahir.

Lelaki ini kocak nan aneh. Romantis yang ekslusif. Puitis dan unik. Lelaki ini mampu membuat saya tertawa dan senyum-senyum memikirkannya. Dan juga membuat perasaan saya begitu cemburu pada kekasihnya. Sungguh beruntung perempuan itu. Sial, dia bisa mendapatkan lelaki hebat begitu pikir saya.

Sudah saya katakan saya jartuh cinta. Namun ini bukan jatuh cinta yang mudah.

Sekali lagi. Tidak. Mudah. Tidak mudah.

Bukan hanya karena lelaki itu mencintai perempuan lain. Bukan hanya karena usia kami yang terpaut jauh. Namun lebih karena lelaki itu memang tidak bisa saya jangkau. Dia berada di luar batas jangkauan saya. Dia berada dalam ruang imajinasi. Dia hidup bernapaskan khayalan orang lain. Dia terpatri dalam kata-kata. Dia begitu ilusi.

Dia adalah Dilan.

 

Iya, dia bernama Dilan. Salah satu karakter fiksi karangan Pidi Baiq dalam sebuah novel berjudul: Dilan. Dia adalan Dilanku tahun 1990.

13084232_10204967266095902_432162233_n

Novel ini saya dapatkan hasil memeras seorang teman untuk dijadikan kado ulang tahun saya di tahun lalu. Novel keren yang sayang untuk dilewatkan. Dengan tutur bahasa ala-ala curhat karena memang begitulah sudut pandang yang ingin ditampilan, novel ini penuh dengan bahasa yang ringan.

Tokoh Dilan yang dilukiskan Pidi Baiq di novel ini dibuat dari sudut pandang Milea. Milea-lah yang dalam novel ini menceritakan bagaimana Dilan. Bagaimana Dilan menyukainya. Bagaimana cara Dilan PDKT dengannya. Bagaimana Dilan memberinya hadiah-hadiah.

Percakapan rayuan Dilan ke Milea sungguh lucu. Romantisnya kena, lucunya dapet. Romantis dan lucu dijadikan satu. Rasanya kayak makan oreo dicelupin ke susu.

Saya tidak bisa berhenti ketawa ketika Dilan menghadiahi Milea TTS yang sudah diisi semua sebagai kado ulang tahun buat Milea. Katanya, TTS-nya diisi supaya Milea gak usah susah lagi capek-capek ngisinya. Mungkin maksud Dilan, ini namanya pengorbanan.

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti besoknya, orang itu akan hilang.”

Tidak hanya itu kelucuan Dilan kepada Milea. Banyak. Milea saja tidak habis pikir dan tidak berhenti ketawa. Lah, saya apalagi. Seru. Dilan itu seru. Begitu kata Milea yang juga saya aminkan.

Dilan adalah sesesok lelaki perhatian, penghibur, lucu dan romantis yang juga jago bikin puisi. Tidak jatuh cinta kepada Dilan? Bagaimana bisa?

Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja. (Dilan 1990)

Ya… tentu saja Milea yang dengan mudahnya jatuh cinta pada semua aksinya Dilan juga membuat saya jatuh cinta pada Dilan. Jatuh cinta pada Dilan adalah sebuah keniscayaan. Lelaki seperti itu langka. Jarang.

Dan bila saya ketemu lelaki seperti Dilan di dunia nyata. Tahukah kamu apa yang saya lakukan?

Akan saya lamar!

Seperti komentar salah seorang Pak-Bapak yang pernah menjabat sebagai Pimpinan Cabang saya. Beliau bilang, dari cara saya berperilaku dan menulis maka dibutuhkan lelaki spesial yang mampu menangani saya.

Well, saya rasa orang itu mungkin haruslah seperti Dilan. Dilan kw ori bisa jugak.

2 thoughts on “Saya Lamar!

  1. ebuset…hasil memeras. jangan2 dr sekian deret buku yang pernah difoto, cuma sebiji yang hasil keringetan sendiri? huehehehe. becanda kak. :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s