Memilih Suami (Part 4): 1/3

Saya pernah ditawari menikah dengan seorang lelaki. Iyalah. Lelaki. Namun tidak seperti kebanyakan lelaki yang mampir di hidup saya. Lelaki ini agak sedikit kurang beruntung secara finansial. Di saat sekarang saya dan teman-teman saya dilimpahkan rejeki finansial yang cukup. Saya agak merasa miris akan hidupnya. Ke mana ia buang usianya hingga masih berada pada posisi selevel fresh graduate?

Namun, ia lelaki baik. Agamis namun tidak humoris. Calon imam yang cocok untuk membimbing saya ke surga. Pikir saya. Jadilah saya mempertimbangkan tawarannya untuk menjadikan saya istrinya.

Dasar perempuan. Dasar juga saya yang perhitungan. Saya lalu ngambil kalkulator dan itung-itungan.

Gaji saya+ gaji dia       = aaah… masih terbilang cukup untuk hidup di aceh.

2

 

 

Bahkan pendapatan kami setelah dijumlahi dan dibagi dua itu sama hasilnya dengan kebanyakan penghasilan lelaki rata-rata yang bekerja di aceh dengan istrinya tidak bekerja. Bila mereka saja masih bisa hidup ya berarti saya juga.

Saya mantapkan hati saya untuk mengatakan iya. Atau mempertimbangkan mengatakan iya. Karena selain materi tentu saja saya harus lebih mengenalnya secara jauh. Kepribadiannya terutama. Karena saya gak mau terjebak dengan muka aja yang innocent tapi kelakuan bajingan.

Di tengah-tengah pertimbangan. Benak saya kembali ke perihal gajinya yang (maaf) hanya sepertiga dari penghasilan bulanan saya.

Lalu dengan jumawanya tetiba otak saya membuat suatu pertanyaan,

Entar kalau kami menikah apakah aku masih bisa beli lipstik tiap bulan ya? Atau apakah belanja lipstik harus dikurangi?”

Beberapa menit kemudian saya sontak kaget dengan pikiran saya sendiri. Bagaimana bisa saya membandingkan suatu pernikahan dengan lipstik. Kayaknya saya kebanyakan makan micin nih. Udah gak bener otak saya.

Cepat saya gelengkan kepala saya. Membuang pikiran itu jauh ke Tapak Tuan.

Tapi lalu…

Apakah iya, saya harus cukup punya lipstik satu sampai habis?”

4 thoughts on “Memilih Suami (Part 4): 1/3

  1. Dih mbak kok sama?!

    Sempet juga dilamar sama seorang pria yang usianya matang tapi tabungannya ga ada, kukasih kesempatan 1 tahun untuk memperbaiki keadaan finansialnya sambil mengenal kepribadiannya (dari pihakku), tapi ternyata dari dia ga bisa aku pun juga ga sreg (setelah itung2an di atas kertas). Bubar langsung weis. Maafkeun aku maz😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s